Jalan Di Aceh Sedang Dibangun Dengan Emas

Jalan jalan di Aceh sedang dibangun dengan emas, bangunan dibangun dengan marmer buatan luar negeri, rumah rumah di aceh tidak ada lagi yang mereng akibat pondasi kayu yang mulai lapuh, pengangguran di Aceh hanya para pendatang, lapangan kerja di Aceh melimpah, karena Aceh telah dipimpin oleh "AWAK TANYO" sebagaimana kata kata yang paling terdengar ditelingaku ketika Aceh masih dilanda konflik antara GAM dan TNI, juga sebelum adanya penandatangan MoU Helsinky di Firlandia itu datang "ACEH NYOE NAH MENYO KALAMJARO DROE TEUH JALAN JALAN TABANGUN NGOEN IE MEUH (emas)". tapi sayang ternyata itu hanyalah mimpi ku ketika sedang tidur siang.

Semangat untuk memberikan Aceh ini untuk dipimpin oleh orang orang yang punya nilai perjuangan didalam didirinya (GAM) memang tersemat dan melekat pada benak hati masyarakat, terutama masyarakat yang dulunya ketika konflik berbaur dengan para prajurit GAM di perdalaman Aceh, masyarakat menaruh harapan besar pada tokoh tokoh GAM untuk menjadi nahkodanya Aceh. Pemilihan umum yang dilaksanakan pada tahun 2009 terbukti bahwa rakyat Aceh menginginkan tokoh GAM untuk memimpin Aceh sehingga Partai Aceh yang tempatnya bernaung tokoh tokoh GAM menguasai dominan parlemen legislator Aceh.

Sebelum pemilihan legislatif, pemilihan Eksekutif atau Gubernur pada tahun 2007 juga dikuasai oleh tokoh GAM meski sekarang mereka telah pecah kongsi (mungken hana sabe bagi) yang kemudian Partai didalamnya di isi oleh dominan tokoh tokoh GAM di Aceh menjadi dua partai yaitu Partai Aceh (PA) dan Partai Nasional Aceh (PNA).

Tahun 2007 sampai saat ini yang merupakan pemimpin pemimpin di Aceh di dominasi oleh tokoh tokoh GAM mulai dari Provinsi, Kabupaten, Kecamatan bahkan gampong di kuasai oleh tokoh tokoh GAM belum juga satu meter pun terbangun sebuah jalan sebagaimana yang pernah di ucap ucapkan  sebagai penyemangat perjuangan rakyat Aceh ketika konflik “ACEH NYOE NAH MENYO KALAMJARO DROE TEUH JALAN JALAN TABANGUN NGOEN IE MEUH (emas)".

Yang ada selama ini di Aceh di dominasi oleh kekerasan, nepotisme, primodialisme dan korupsi yang semakin merajalela tumbuh liar bagaikan jamur dimusim hujan. Proyek lelang gedung gedung dibangun se adanya, jalan jalan dibangun dengan kualitas rendah yang kemudian tidak membutuhkan waktu lama antara 1-2 tahun lagi lagi harus di anggarkan kembali untuk perbaikan.

Belum lagi anggaran pendidikan yang melimpah tapi kualitas pendidikan di Aceh masuk dalam kategori terburuk di indonesia, dana otsus yang trilyunan tidak kita ketahui entah kemana, yang kaya semakin kaya, yang melarat semakin melarat, janda janda miskin harus sabar dengan linangan air mata, dulu memang kita satu perjuangan “Hudep Beu Sare Mate Syahid” tapi sekarang “Neu Pileh Awak Kamoe, Menyo Na Kamoe, Di Droe Neuh Keupu Loem” 
Share: