Rakyat Makin Melarat, Elit GAM Kaya Mendadak

Aceh setelah adanya MOU perdamaian antara GAM dan RI pada tahun 2005 di Helsinki Firlandia telah  memasuki angka 8 tahundua periode telah dipimpin oleh sosok yang mengaku pejuang Aceh, pejuang yang secara gamblang meneriak memperjuangkan harkat dan martabat rakyat Aceh dari perampasan dan ketidak adilan pemberlakuan oleh pemerintah pusat dijakarta.

Kepemimpinan pemerintahan eksekutif, periode pertama dan kedua berasal dari mantan para pejuang aceh merdeka. Kata “sibak rukok teuk aceh merdeka” mungkin selama ini sudah tidak terdengar lagi, namun di era konflik kata-kata tersebut menjadi makna semangat perjuangan para pejuang aceh merdeka.

Memaknai kata merdeka bukan berarti bebas dari suara dentuman senjata dan tidak adanya korban berjatuhan, namun makna merdeka juga bagian dari kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat di Negara tersebut. Semangat era konflik dan era perdamaian para tokoh pejuang aceh merdeka sudah mulai dipertanyakan, di era konflik para pejuang aceh merdeka memperjuangkan keadilan bagi rakyat aceh, tapi di era perdamaian para GAM telah sibuk memperjuangkan kekuasaan dan kekayaan bagi dirinya masing masing. Ada GAM yang saat ini masih hidup dibawah kemiskinan karena masih memperjuangkan idealismenya dan tetap konsisten pada maksud dan tujuan kehadiran GAM, sedangkan banyak GAM yang kaya mendadak karena rakus dengan uang dan jabatan sehingga melupakan dasar perjuangan dan maksud keberadaan GAM sebenarnya.

Selama dua dekade para pejuang aceh merdeka memimpin pemerintahan aceh, apa yang sudah diterima oleh rakyat aceh terhadap perubahan pembangunan kesejahteraan rakyat aceh, toh pada kenyataannya masih banyak terlihat rakyat aceh sampai saat ini yang hidup terpuruk dibawah kemiskinan, tidak sebanding dengan kenyataan ketika kita melihat banyak para mantan pejuang aceh merdeka yang hidup dalam kemewahan serba mendadak.

Eforia kemewahan yang diperlihatkan oleh para mantan pejuang aceh merdeka telah melukai rakyat Aceh yang telah mempercayakan mereka sebagai wakil dan pemimpin rakyat. disaat aceh dilanda krisis lapangan kerja, disaat aceh dilanda korupsi berjamaah dikalangan pemerintah sehingga membuat aceh menjadi peringkat pertama terkorup di Indonesia tapi disaat aceh pula menerima dana otsus yang berjumlah trilyunan. Mantan pejuang aceh merdeka malah memperlihatkan kemewahannya didepan rakyat aceh yang masih hidup dibawah kemiskinan.

Ditahun 2012 dan 2013 dibawah kepemimpinan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf kondisi Aceh semakin parah. Kondisi perekonomian rakyat Aceh seperti mati, pengangguran semakin meningkat. Konflik antar rakyat Aceh semakin terbuka lebar dan rasanya dibiarkan begitu saja. Penolakan dan pengecaman terhadap pemimpin terjadi dimana mana. Perubahan terhadap kesejahteraan rakyat Aceh sepertinya lagi lagi hanya menjadi mimpi mimpi manis bagi rakyat Aceh. Korban korban konflik seperti janda, anak yatim terlantar begitu saja. Tapi disisi lain banyak para tokoh GAM yang menjadi orang kaya mendadak. Rumah rumah mewah dan mobil mobil mewah didapatkan secara mendadak ibarat pemenang lontre dan ada pula yang kembali menjadi miskin mendadak. Miskin mendadak biasanya dari kelompok kelompok yang tidak sepaham dengan penguasa saat ini.

Kita akan menyaksikan pada siapa rakyat Aceh menaruh harapan besar setelah April 2014. Jika para mantan pejuang aceh merdeka yang pada umumnya bergabung dalam Partai Aceh tidak lagi menjadi harapan rakyat aceh. Lalu partai politik makanakah yang akan menjadi idaman rakyat aceh pada tahun 2014 atau kembali menaruh harapan pada partai politik yang sama dengan niat semoga periode mendatang mereka taubat.
Share: