Korupsi Dan Artis Dadakan

Korupsi di Indonesia telah menjadi trending topics sebagai pembahasan dan diskusi dimana mana, baik itu ketika masyarakat sedang berkumpul maupun di media online, cetak dan social. Sepertinya isu seputar korupsi tidak akan habis habisnya dibahas di Nusantara ini. Belum habis hebohnya kasus hambalang dengan artis dadakannya Nazaruddin sang Bendahara Umum Demokrat terjadi lagi kasus korupsi suap impor daging dengan actor terbarunya Ketua Umum PKS Luthfi Hasan Ishaq. Kasus suap impor daging mengalahkan isu Nazaruddin sehingga membuat Nazaruddin ditinggalkan oleh penggemarnya seketika. Tidak ada lagi pembahasan tentang Nazaruddin di media media. Padahal pemulangan Nazaruddin dari luar negeri menghabiskan anggaran milyaran rupiah, dengan penyewaan sebuah jet. Nazaruddin pulang ibarat artis dunia yang segera melakukan konser di Indonesia.

Meredamnya isu kasus daging impor kini tampil lagi artis baru yang melibatkan seorang professor. Professor Rudi Rubiandini ini dikenal sebagai orang yang idealis, idealis tentu merupakan kata kata yang sempurna bagi seorang intelektual. Apalagi seorang yang sudah bertitle professor. Dia akan di anggap sebagai orang yang akan memberikan dedikasinya kepada bangsa dan Negara tanpa akan melakukan hal hal yang merugikan Negara. Apalagi korupsi, karena korupsi bagi orang idealis adalah hina.

Tidak ada yang menyangka seorang professor yang dikenal idealis tersebut akhirnya harus juga berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi karena licinnya minyak sehingga membuat dia terpleset korupsi. Ada juga yang mengatakan jika sang professor yang idealis saja dapat terpleset dengan kasus korupsi apalagi yang lainnya.

Begitulah ternyata, idealis atau tidak seseorang. Dia akan dapat berubah haluan dalam sekejap jika sudah berurusan dengan nilai rupiah. Nilai rupiah (milyaran) dapat membuat orang lupa akan kepercayaan yang diberikan kepadanya oleh rakyat maupun atasannya.

Hebohnya isu SKK migas yang melipatkan Prof. Rudi Rubiandini lagi lagi mengalahkan isu Luthfi Hasan Ishaq, kasus korupsi daging impor itu kini lagi lagi ditinggalkan oleh penggemarnya seketika. Bahkan media tidak lagi menarik untuk membahas sejauh mana perkembangan proses hokum yang dilakukan kepada Nazaruddin dan Luthfi Hasan Ishaq.

Jikapun media mengeluarkan pemberitaan mengenai Nazaruddin dan Luthfi Hasan Ishaq, pemberitaan tersebut tidak lagi menjadi trending topic pembaca, bahkan isinya minim orang yang berkomentar bahkan minim pula orang orang membaca. Tentu berbeda dengan ketika kasus Nazaruddin dan Luthfi Hasan Ishaq baru muncul, semua orang yang membaca panas, rasanya ingin segera di adili oleh penegak hokum bahkan, orang orang tidak sabar dan tidak ingin menunggu hari esok terhadap pemberitaan yang melibatkan mereka.

Lalu bagaimana dengan kasus korupsi yang melibatkan Professor Rudi ini, pasti akan bernasib sama dengan kasus korupsi yang melibatkan Nazaruddin dan Luthfi Hasan Ishaq, jika nanti muncul artis baru yang menghebohkan, maka kasus Profesor Rudi juga akan segera ditinggalkan oleh penggemarnya. Bahkan juga sepi pembaca dan komentator terhadap pemberitaan Prof. Rudi.

Banyak kasus kasus korupsi besar yang terjadi di Indonesia tidak diselesaikan secara tuntas. Bagi actor koruptor sebenarnya akan merasa menang jika dirinya nanti tidak lagi menjadi pembahasan public. Memanasnya isu koruptor di masyarakat tentu mempersulit actor koruptor dalam bergerak untuk melawan hokum melalui kekuasannya, baik kekuasaan materi maupun kekuasaan jabatan yang dimiliki oleh orang orang disekelilingnnya.

Ketika koruptor tersebut tidak lagi menjadi perbicangan di publik tentu sang koruptor tersebut dapat maju selangkah dalam melakukan penyelewengan terhadap penegakan hokum. Karena rakyat sebagai komentator tidak lagi memusatkan perhatiannya pada actor tersebut.

Rasanya menjadi koruptor itu tidak jauh berbeda dengan menjadi artis dadakan yang sering muncul melalui youtube, akan di idolakan seketika dan ditinggalkan juga seketika. Briptu Norman yang menjadi artis dadakan melalui youtube setelah di unggah videonya sedang memperagakan nyanyian salah satu lagu hindia membuat Briptu Norman diidolakan secara seketika oleh masyarakat Indonesia. Namun tidak lama setelah meninggalkan profesi nya sebagai Polisi Briptu Norman harus menerima kenyataan bahwa dia ditinggalkan oleh penggemarnya seketika. Bahkan pembahasan seputar Briptu Norman tidak lagi menjadi menarik bagi rakyat Indonesia.

Lalu apakah rakyat Indonesia harus terus bersikap seperti ini dalam melihat seputar permasalahan korupsi yang menjerat pejabat Negara. Begitu mudah rakyat Indonesia melupakan kejadian kejadian besar yang merugikan Negara dan berdampak terhadap pertumbuhan serta perkembangan Indonesia. Sikap cepat lupa rakyat Indonesia terhadap koruptor salah satu penyebab actor actor koruptor tidak jera. Sebab mereka dengan mudah setelah keluar dari masa tahanan kembali menjalani kehidupan normal layaknya bukan koruptor.

Bahkan mantan mantan koruptor dapat pula hidup berkembang kembali dan dengan mudah menjalani kehidupan sebagai orang yang tidak pernah terlibat dalam kasus kasus memalukan. Berbeda dengan orang orang yang tersandung kasus curi ayam dan pencurian kecil lainnya. Mereka yang paling sulit dilupakan oleh masyarakat, masyarakat akan terus melebelkal dirinya sebagai mantan pencuri.
Share: