Mahasiswa Kotak Kotakan


DALAM psikologi, hati digerakkan oleh jiwa. Sedang dalam antropologi, perilaku digerakkan atau diremotkan oleh kebudayaan. Demikian surah Pak Dosen pada mahasiswanya. “Sehingga,” lanjut peneliti masalah sosial itu, “nantinya seseorang akan mengalami culture shock (gegar budaya) ketika tinggal di lingkungan baru.” Misal, “ada orang kampung datang ke kota. Tinggal di kota barang dua hari. Pulang dari kota sudah bawa embel-embel kota: Alah, male teuh. Malas tat lon. Wo dari Lok. ih.., jorok….

Kita Ia langsung teringat pada banyak mahasiswa dari pelosok-pelosok Aceh yang kuliah ke Banda Aceh. weueh hate (terenyuh) melihat mahasiswa Aceh ketika sesama Aceh pun ngomong bahasa Indonesia dengan lebay di luar lingkungan formal. Atau berbicara dalam bahasa Aceh dengan membawa embel-embel kota. Ya seperti Pak Dosen contohkan.

“Tak perlu jauh-jauh,” pada saat ini kita melihat mahasiswa yang merantau ke Banda Aceh dan kuliah  dibanda aceh, lihatlah ketika ia ngomong.Pakai bahasa indonesia’ itu diucapkan terbata-bata. Meubalok-balok itubiet logat aceh. Hahahhahahahhahaha. Sok pakek bahasa Indones.”

Maka wajar ketika ada orang Aceh yang sudah berpuluhan tahun tinggal di luar Aceh, lalu ia pulang ke Aceh dan ia merasa kasihan pada generasi Aceh, seperti terpublis pada SMS salah satu media. Berikut cuplikannya.

Meuploh thon lon dilua. Yang paleeng teukeujot bin lucu that ate lon woe u Aceh, teristimewa Banda Aceh, taeu ureung sabee Aceh meututo ngen bahasa Indonesia. Tuha muda sa sit. Hana daerah laen latah lagee nyan. Alah hai syeedara lon meutuah bahagia, peukeuh maleei neuh jeut bansa Aceh? Pakon, pakon, pakon?

Bila diindonesiakan, kira-kira begini: Puluhan tahun saya di luar. Yang paling terkejut bin lucu sekali ketika saya pulang ke Aceh, teristimewa Banda Aceh, kita lihat orang Aceh sesama Aceh bertutur dengan bahasa Indonesia. Tua muda sama juga. Tak ada daerah lain latah seperti itu. Alah hai saudara saya yang bertuah bahagia, apakah malu Anda jadi orang (bangsa) Aceh? Kenapa, kenapa, kenapa?

Jelas sekali kekecewaan yang dirasakan si pengirim sms ini. Dari kalimat “Hana daerah laen latah lagee nyan”, itu menunjukkan betapa lebaynya generasi Aceh. Ini bisa ditarik kesimpulan, generasi Aceh yang datang dari kampung ke kota dan lalu hidup di kota, bahwa mudah sekali mengalami latah budaya (culture shock).


Lalu maksud dari tulisan ini akankah suatu saat nantinya para generasi aceh akan melupakan bahasa daerahnya dan beralih kepada bahasa indonesia. Suatu bahasa nenek moyang yang akan kita bayar mahal apabila kita meninggalkannya dan kehilangan indetitas bahasa daerah akan semakin didepan mata.


Share: