• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Sosok dan Fakta Tentang Raja Salman

Kunjugan Raja Arab ke Indonesia membuat masyarakat Indonesia heboh dan antusias untuk membicarakan tentangnya, bukan hanya itu, berbagai persiapan ditempat tempat yang akan ia kunjungi sedang dipersiapkan dan direnovasi, bahkan Bandara yang akan mendarat pesawat kedatangannya disebut-sebut akan ditutup sementara, begitu pula sekitar lokasi liburannya di Bali.  Tentu saja persiapan yang dilakukan oleh Pemerintah sangat matang terhadap penyambutan Raja Arab tersebut, karena kunjungan ini sangat bersejarah bagi Indonesia. Sebab, terakhir kali Raja Arab berkunjung ke Indonesia pada 1970 atau 47 tahun lalu. Kala itu yang menjadi raja Arab adalah Faisal bin Abdulaziz.

Raja Salman merupakan raja Arab Saudi ketujuh. Ia lahir pada 31 Desember 1935 di Riyadh. Ayahnya adalah Raja Abdulaziz bin Abdulrahman al- Saud dan ibunya adalah Hassa binti Ahmad al-Sudairi. Sebelum menjadi raja menggantikan saudara tirinya, Raja Abdullah bin Abdulaziz al-Saud yang wafat pada 23 Januari 2015, penerus gelar penjaga dua kota suci ini sempat menjabat sebagai Gubernur di Riyadh era 1955-1960 dan era 1963-2011. Kemudian pada November 2011, ia diangkat menjadi Menteri Pertahanan. Setelah itu ia ditetapkan sebagai Putra Mahkota pada 18 Juni 2012 dan, naik takhta pada 23 Januari 2015.

Ada beberapa fakta-fakta yang heboh dan menarik dari sosok Raja Salman tersebut pasca diangkatnya ia menjadi Raja diantaranya adalah; Raja Salman hidup di lingkungan keluarga yang disipiln dan dia sudah hafal Alquran di usia 10 tahun; Raja Salman mengumumkan bahwa tidak ada perlakuan khusus yang akan diberikan kepada Pangeran dan keluarganya, dimata hukum semua itu sama. Ia juga dikenal gencar memerangi korupsi; Pada 27 Januari 2015, Presiden AS Barack Obama dan sang istri, Michelle Obama menemui Raja Salman di istana kerajaan. Kunjungan Obama dan Michelle saat itu juga jadi pemberitaan utama media-media internasional. Sebab, Obama dan Ibu Negara AS itu tiba-tiba ditinggalkan Raja Salman setelah suara azan terdengar. Raja Salman “permisi” untuk menjalankan salat; Menurut laporan di tahun 2016, jumlah aset Raja yang berumur 81 tahun ini adalah 18 milyar dollar atau setara dengan Rp240 triliun; Sesuai tradisi, raja baru diwajibkan membagikan sebagian hartanya ke seluruh penduduk Arab Saudi. Setiap penduduk mendapatkan uang tunai sebesar Rp. 62 juta.

Salman bin Abdul Aziz menikah sebanyak tiga kali. Istri pertama, Sulthanah binti Turki al-Sudairi meninggal 2011 di usia 71 tahun.  Dari pernikahan ini, Salman dikaruniai 5 orang putra dan satu orang putrid; Pangeran Fahd, Pangeran Ahmed, Pangeran Sultan, Pangeran Abdul Aziz, Pangeran Faisal, dan Putri Hussa.

Anaknya dari pernikahan keduanya dengan Sarah binti Faisal al-Subai’ai adalah Pangeran Saud. Anak-anaknya dari pernikahan ketiganya dengan Fahdah binti Falah bin Sultan al-Hithalayn adalah Pangeran Muhammad, Pangeran Turki, Pangeran Khalid, Pangeran Nayif, Pangeran Bandar, dan Pangeran Rakan.

Pangeran Fahd dan Ahmad telah meninggal karena serangan jantung. Sedang anak keduanya, Sultan bin Salman menjadi orang Arab dan anggota kerajaan pertama yang terbang ke luar angkasa, Discovery pada bulan Juni 1985.

Sultan bin Salman merupakan Ketua Saudi Commission for Tourism and Antiques (SCTA). Abdul Aziz bin Salman menjadi wakil menteri perminyakan sejak tahun 1995. Faisal bin Salman adalah gubernur provinsi Madinah. Muhammad, adalah penasehat pribadinya di kementerian pertahanan dan di Crown Prince Court. Turki bin Salman menjadi ketua Penelitian dan Marketing Group Arab Saudi sejak Februari 2013, menggantikan kakaknya Faisal bin Salman.

Diawal pengangkatannya sebagai Raja, banyak yang meragukan kemampuan Raja Salman memegang tampuk tertinggi pemerintahan Arab Saudi. Pasalnya, ia sendiri dikabarkan sakit-sakitan. Ia dikabarkan menderita penyakit alkzheimer. Inilah pula yang membuat para pengamat mengkhawatirkan timbulnya gejolak politik di Arab Saudi. Keberadaan orang yang sedang sakit parah sebagai pemimpin negera jelas bukan berita yang baik buat stabilitas politik, ekonomi, dan keamanan negara tersebut.
Share:

Jepang, Kepribadian dan Kebudayaannya

Jepang adalah sebuah negara yang terletak di Asia Timur, yang berpenduduk lebih kurang 170 juta. Terdiri dari pulau, suku suku, dan bermacam bahasa daerah, Luasnya kira kira 1/5 dari Indonesia, Sistem pemerintahannya Perlementer. Raja adalah Simbul dari Negara Japan. ”Emperor.” Makanan utama nya adalah beras.

Semenjak negerinya kalah perang, negerinya hancur dan miskin, mereka mencoba membangun kembali negerinya  dari puing-puing perang, dengan semangat yang tinggi, disiplin yang tinggi, mereka bekerja keras dalam segala bidang.

Hanya dalam waktu 58 tahun, mereka kembali menjadi suatu negara yang dihormati di dunia. Ekonomi nya salah satu terkuat di dunia. Barang-barang industrinya di export ke suluruh dunia, termasuk Indonesia. Ribuan macam produk  yang kita gunakan mayoritas kwalitasnya sangat baik.

Ada beberapa  “filsafat, atau motto “ orang Jepang  yang menyentuh hati kita, terutama hati orang Asia yang agamais. Diantaranya  adalah; (1) Bagi orang Jepangbekerja itu adalah  juga berarti Ibadah; (2) Bekerja dan berkarya adalah pengabdian  untuk kebaikan manusia dan hidup yang diberikan oleh Tuhan adalah untuk beramal baik semata mata; (3) Motto  perusahaan Jepang adalah ”tujuan perusahaan adalah mensejahterakan karyawannya semaksimal mungkin dan masarakat lainnya“; (4) Bagi orang Jepang, Alam adalah sumber imaginasi dan pelajaran untuk Hidup yang harmonis; (5) Hidup orang Jepang seperti kehidupan masyarakat-Semut.

Sedangkan soal kepribadian dan karakter moral rakyat Jepang dibentuk sedari mereka kecil. Prinsip moral yang mereka anut berasal dari kebudayaan samurai Jepang yang terdiri dari empat elemen moral, yaitu On, Gimu, Giri dan Ninjo.

Menurut Hashimoto Ayumi Japan Foundation Indonesia, keempat unsur ini tidak diajarkan di bangku sekolah. Namun, secara otomatis didapat dari orang tua maupun masyarakat sekitar,

On, berarti rasa hutang budi. Dengan prinsip ini, seseorang akan merasa berutang setiap kali orang lain berbuat baik padanya. "Jika seseorang berbuat baik kepada kita, maka kita merasa harus membalas kebaikannya tersebut.

Gimu, berarti kewajiban. Jika seseorang berhutang budi, maka kita akan berkewajiban untuk membayarnya.

Giri, adalah kebaikan. Dengan prinsip ini, seseorang akan membantu temannya atau keluarganya semampunya. "Jika kita mempunya teman dekat dan dia butuh pertolongan, maka kita akan membantunya dengan cara apapun.

Ninjo, adalah rasa kasih sayang. Prinsip ini mengajarkan rasa empati terhadap sesama. Dengan prinsip ini, seseorang akan merasa semua manusia adalah satu dan sama, di bawah perbedaan yang telah diatur oleh karma.

Kemudian terkait soal budaya kejujuran masyarakat jepang, tidak dapat diragukan lagi kebenarannya, bahkan sudah banyak pula literature dan eksprimen yang dilakukan untuk membuktikan kebenaran terhadap budaya kejujuran masyarakat jepang, bahkan mereka rela berkorban hanya untuk mengembalikan barang-barang orang lain yang ditemukan oleh mereka, seperti berkorban waktu, mengantarkannya, menelpon, dan lain sebagainya, dan terdapat pula pasar-pasar yang tidak dijaga oleh pemiliknya dijepang, jika di Indonesia istilahnya disebut dengan “keudai/kantin kejujuran”. Dan budaya seperti ini sangat sulit ditemukan dan diterapkan di Negara Negara lain termasuk Indonesia.

Jepang adalah sebuah contoh Negara yang patut diteladani kehidupan berbudayanya oleh Indonesia, meski mereka bukan masyarakat agamais, tapi kebudayaannya dan kepribadiannya jauh lebih unggul dari pada masyarakat Indonesia yang ber agamais. Kejujuran yang mereka tunjukkan kepada dunia adalah seharusnya memberikan kita sebagai bangsa Indonesia menaruh malu terhadap hal itu, dimana Indonesia sebagai Negara mayoritas Islam, yang didalam ajaran Agamanya ditekankan nilai nilai kedisiplinan, kejujuran, penghormatan, kebersihan, keharmonisan, dsb. Tapi pada aplikasinya malah ditunjukkan oleh masyarakat Jepang yang tidak memiliki unsur Agamais.
Share:

Strategi Tingkat Dewa Irwandi Yusuf

Akhirnya kita menemukan jawaban dari pertanyaan masyarakat Aceh selama beberapa bulan ini tentang siapa yang akan memimpin Aceh menggantikan posisi pasangan Zaini Abdullah – Muzakir Manaf, Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2012-2017. Sukses pula perhelatan pilkada kali ini, patut kita syukuri gejolak pilkada di Aceh tidaklah separah apa yang pernah kita alami di tahun 2012, jika pun ada memakan korban tentu tidak separah dialami periode sebelumnya yang telah membuat Aceh menjadi isu nasional hingga memakan banyak korban, artinya perkembangan demokrasi politik semakin mencair di Aceh dan ini sangat baik dampaknya terhadap perkembangan dan kemajuan Aceh kedepan.

Terlepas dari siapa yang akan terpilih sebagai Gubernur Aceh periode kedepan, tapi dari enam pasangan calon Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf merupakan calon Gubernur yang paling menarik untuk dibahas mengenai strateginya dalam memenangkan Pilkada, selain banyak propaganda yang ia munculkan ditengah-tengah pilkada melalui statement-statmentnya, juga terkait strategi tingkat dewa sebagai istilah yang pernah ia utarakan ketika mengeluarkan lelucon kepada Zakaria Saman (Apa Karya), mengenai Apa Karya tidak bisa buat anak dan Irwandi Yusuf menyebutnya itu sebagai lelucon tingkat dewa.

Irwandi Yusuf dalam jumpa pers usai pembukaan rapat pimpinan PNA di Gedung BKOW Banda Aceh 2 tahun lalu, pernah menyebutkan bahwa  Sofyan Dawood, Ayah Merin, dan lima orang lainnya memang sengaja ditugaskan oleh PNA untuk mendekati partai dan beberapa calon kandidat. Mereka diberi tugas antara lain menjalin persahabatan dan menciptakan perdamaian antarpartai sehingga tidak terjadi pertikaian seperti Pilkada 2014. Pernyataan Irwandi Yusuf ini kemudian menimbulkan kontroversi ditengah publik, yang kemudian juga dibantah oleh Sofyan Dawood.

Tapi jarang public yang mencoba berasumsi bahwa itu merupakan pernyataan benar yang dikeluarkan oleh Irwandi Yusuf untuk sengaja membuat public dan para calon Gubernur tidak curiga kepada orang orang yang disebutkan olehnya dan pernyataan Irwadi Yusuf membuat orang-orang tersebut tidak perlu panjang lebar menjelaskan kepada setiap orang atas alasannya mendukung kandidat selain Irwandi Yusuf, karena perhatian public sudah beralih kepada statement Irwandi Yusuf. Jadi pertanyaannya bukan lagi “mengapa” tapi “benar atau tidak”.

Namun public jangan pernah lupa mengenai kedekatan Irwandi Yusuf dengan Sofyan Dawood yang sudah ia jalin sejak lama, bahkan Sofyan Dawood orang yang paling membela Irwandi Yusuf ketika pilkada 2012, bahkan pengikut Sofyan Dawood mayoritas yang memiliki pengaruh tetap bertahan dalam kubu Irwandi Yusuf saat Sofyan Dawood sudah menyatakan komitmentnya mendukung Tarmizi Karim.

Jika kemudian akhirnya, kita mencermati fakta-fakta yang terjadi menjelang hari pencoblosan, saya berpendapat apa yang pernah disampaikan oleh Irwandi Yusuf beberapa tahun lalu dan juga beberapa bulan lalu merupakan sebuah kebenaran yang tujuannya untuk mengelabui pihak lawan.

Pertama, soal posisi Sofyan Dawood yang melakukan penjajakan intensif kepada Tarmizi Karim dan jauh-jauh hari sudah memberikan isyarat bahwa akan mendukung Tarmizi Karim untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh. Kenapa harus Tarmizi Karim?, ia adalah dikenal sebagai tokoh Aceh Utara yang pernah menjabat Bupati didaerah tersebut, kemudian Aceh Utara adalah pemilik suara terbanyak di Aceh dengan jumlah mencapai 420.480 pemilih tetap dari total 3.337.545 pemilih tetap se Aceh, kemudian lagi Muzakir Manaf adalah tokoh asal Aceh Utara yang dipastikan diusung oleh Partai Aceh kala itu, sehingga Irwandi Yusuf harus memasang strategi untuk memecah belah suara di Aceh Utara agar ia mampu mengejar ketertinggalan basis suaranya dan itu adalah ada pada Tarmizi Karim, strategi itu pernah ia lakukan ketika Pilkada 2012 yaitu dengan meminta Abi Lampisang untuk mencalonkan diri, tapi kali ini benar-benar ekstrim dan tingkat dewa, bukan hanya itu Irwandi Yusuf juga mendorong Zakaria Saman untuk ikut maju dalam Pilkada kali ini, tentu dengan pertimbangan basis dan kalkulasi suara.  Menjelang hari pencoblosan, Sofyan Dawood banting setir dan kembali mendukung sahabatnya itu Irwandi Yusuf, dukungan Sofyan Dawood detik-detik pencoblosan pastinya membuat rivalnya Muzakir Manaf ketar-ketir, karena menambah panjangnya amunisi Irwandi Yusuf untuk memenangkan pertarungan kali ini. Pertanyaannya “mengapa Sofyan Dawood banting setir detik-detik terakhir”, padahal ia paham betul karakter Tarmizi Karim jauh sebelum memutuskan mendukungnya, bukannya baru baru ini yang kemudian membuat ia banting setir. Maka tak salah jika ini kemudian saya sebut sebagai strategi tingkat dewa.

Kedua terkait isu pergantian T.A Khalid, isu tersebut berhembus kencang setelah Irwandi Yusuf menulis informasi itu di akun facebooknya, dan Irwandi Yusuf tentu punya kepentingan untuk tetap mempertahankan posisi T.A Khalid sebagai posisi Calon Wakil Gubernur dari Muzakir Manaf. Public juga menyadari betul bahwa posisi T.A Khalid mendampingi Muzakir Manaf tidak akan memberikan pengaruh signifikan terhadap peluang kemenangan bagi mereka, begitu pula di internal Partai Aceh terjadi gesekan besar setelah Muzakir Manaf memutuskan memilih T.A Khalid, ini merupakan peluang dan keuntungan yang akan diraih oleh Irwandi Yusuf jika pendamping Muzakir Manaf tetap T.A Khalid, sekaligus kelemahan Muzakir Manaf untuk memenangkan pilkada. Siapa yang menyangka jika itu merupakan kebenaran yang disampaikan oleh Irwandi Yusuf, meski kemudian Jubir Partai Aceh membantah isu yang dihembuskan oleh Irwandi Yusuf.

Ketiga adalah, detik-detik pencoblosan kita melihat berbagai fakta terutama di media online dan media social, fakta tersebut adalah tim Irwandi Yusuf banyak membongkar praktek-praktek curang yang dilakukan oleh tim Muzakir Manaf, yaitu seperti pembagian uang dalam amplop, bermasalahnya panitia pelaksana, pembagian berbagai sembako dan kain sarung, juga soal ribuan hologram yang diduga hilang. Sedangkan tim Muzakir Manaf tidak mampu menemukan praktek curang yang dilakukan oleh tim Irwandi Yusuf. Hal ini terjadi tentunya karena tim Muzakir Manaf tidak dapat lagi membedakan mana yang sebenarnya orang-orang dipihak mereka atau di pihak Irwandi Yusuf yang menyusup kedalam tim Muzakir Manaf.

Selamat kepada Calon Gubernur Aceh periode 2017-2022 yang terpilih…
Share:

Paradigma Bioskop di Banda Aceh

Saya hobi nonton, diwaktu senggang aktifitas saya habiskan untuk menonton film online baik di youtube maupun website yang menyediakan film film terbaru, sayang nya baru baru ini webiste film tersebut banyak yang sudah di blokir oleh pemerintah mungkin atas alasan hak cipta dan komersial, dengan demikian saya mulai beralih ke youtube untuk melihat film film berkualitas yang sudah dilauching beberapa tahun lalu, jangan harap ada film terbaru di youtube, karena tentunya film terbaru hanya dimiliki oleh bioskop dan saat ini Banda Aceh masih dilarang adanya bioskop.

Perasaan kesal kadang kadang menyelimuti pikiran saya, karena sampai saat ini jika ingin nonton film terbaru maka tempat paling dekatnya adalah Medan yang jarak tempuh berkisar 600km dan menghabiskan banyak anggaran serta waktu yang kita sita tidak sedikit pula. Bagi masyarakat mapan ini tidak menjadi persoalan, bisa setiap bulannya menghabiskan uang dan liburannya ke Medan sambil menonton atau apalah itu, begitulah budaya baru masyarakat Aceh, setiap akhir pekan terpaksa berlibur ke provinsi tetangga karena pemerintah yang tak mampu menyediakan tempat liburan bagi warganya, apalagi bagi yang hoby menonton, tentu untuk menikmati film film terbaru harus ke Medan atau tempat lainnya.

Sebagian masyarakat seperti warga Banda Aceh, bioskop di anggap sebagai tempat maksiat, maka saya juga menganggap betapa mesum nya pemikiran orang tersebut karena telah menganggap bioskop sebagai tempat maksiat, karena jelas fungsi keberadaan bioskop adalah sebagai sarana penayangan film atau unit usaha hiburan yang didalamnya terdapat seni kreatifitas atas karya orang. Jadi jika ada yang merubah fungsi bioskop sebagai tempat maksiat, maka tak seharusnya pemerintah menghukum semua warga untuk tak memiliki hak menonton bioskop di Banda Aceh.

Jika kemudian pemerintah menganggap bahwa benar bioskop sebagai tempat maksiat, maka pemerintah telah gagal paham terhadap fungsi dari sesuatu hal. Pemerintahan yang benar adalah pemerintah yang memahami dan tidak menghilangkan sesuatu hal atas fungsi dasarnya. Seharusnya pemerintah hadir untuk memastikan terpenuhi nya hak hak warga dan juga memastikan segala sesuatu, warga menggunakan sesuai fungsinya, jika kemudian ada oknum yang memanfaatkan bioskop sebagai tempat maksiat, maka disinilah kehadiran pemerintah untuk menerapkan peraturan agar warga terhindar dari perilaku maksiat, bukan malah meniadakan bioskop dan membenarkan bahwa bioskop adalah tempat maksiat.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiwa Unsyiah berjudul "Perkembangan Bioskop di Banda Aceh (1930-2004). Dijelaskan, Aceh sendiri pada tahun 1900-1936 tercatat ada beberapa bioskop yang cukup berkembang seperti Bioscoop di Bireuen, kemudian ada Bioscoop di Langsa, Tiong Wha Bioscoop di Lhokseumawe, dan Sabang Bioscoop di Sabang, Gemeente Bioscoop di Sigli. Di kota Banda Aceh sendiri, bioskop kala itu cukup banyak yaitu sekitar 9 bioskop yang telah berdiri sejak tahun 1930 sampai tahun 2004.

Dicermati dalam perkembangan bioskop masa lalu dan saat ini, dapat disebutkan bahwa terjadinya kemunduran kita sebagai masyarakat dalam etika berpikir. Era sekarang, segala sesuatu hal dikait-kaitkan dengan maksiat, padahal maksiat dapat terjadi dimana saja, sekalipun ditempat paling suci dan hal ini nyata terjadi termasuk di Banda Aceh. Pemerintah juga menjadikan alasan maksiat untuk menghambat hak-hak warga, padahal fungsi kehadiran pemerintah adalah memastikan terjaminnya fasilitas dan memastikan hal tersebut digunakan sebagaimana fungsi dasarnya.

Penegakan syariat Islam juga tidak seharusnya dijadikan dasar tidak boleh nya berkembang sebuah peradaban modern manusia, karena masyarakat bersyariat pada dasarnya memahami betul makna dan fungsi segala sesuatunya, seperti mesjid adalah tempat ibadah, bioskop adalah tempat menonton, pantai adalah tempat liburan, hotel adalah tempat menginap, bukan menyalahkan fungsi dasarnya dan memanfaatkan itu untuk perbuatan maksiat.

Mudah-mudahan siapapun Walikota Banda Aceh terpilih kedepan, tidak melarang hadirnya bioskop di Banda Aceh atas dasar tempat maksiat, karena pastinya Pemimpin Kota Banda Aceh tidak se mesum itu cara berpikir.
Share:

Apa Karya Kian Berbahaya

Sumber Foto : Habadaily.com
Pada saat mendaftarkan diri sebagai calon gubernur Aceh, Apa Karya menjadi bahan tertawaan orang orang, bahkan ia di anggap tidak serius mencalonkan dirinya. Pasca pendaftaran, foto foto Apa Karya menjadi meme yang ditulis kata kata lelucon dan menggambarkan betapa orang orang tidak serius menganggap dirinya sebagai calon gubernur.

Bahkan saya meyakini, Apa Karya merupakan calob gubernur yang tak diperhitungkan oleh calon gubernur lainnya dalam pemetaan strategi. Namun seiring berjalannya waktu, Apa Karya semakin menarik untuk dicermati, apalagi dengan berbagai statmentnya yang di anggap "Lagena Laju", dan sangat original sehingga mengundang banyak kontroversial, bahkan para lawan tak mampu berkutik atas berbagai statmentnya.

Saat debat kandidat pertama bahkan sampai ke tiga, Apa Karya adalah orang yang paling ditunggu tunggu oleh masyarakat, setiap ucapannya mengundang gelak tawa, bahkan pernyataan Apa Karya selalu menjadi trending topics setiap kali selesai debat, ada saja yang diperbincangkan tentang Apa Karya dan ucapannya yang kontroversial, muncul pula guyonan seperti "debat tanpa Apa Karya bagai kuah pliek u tanpa sira.

Jika ada calon Gubernur yang ingin memanfaatkan atau melawan pernyataan Apa Karya, maka siap siaplah serangan itu kembali pada dirinya, hal tersebut sudah pernah terjadi dan dialami oleh Muzakir Manaf, Tarmizi A Karim dan pasca debat kandidat ke tiga, Irwandi Yusuf menjadi orang yang kemudian di bully pengguna media sosial karena mencoba menyerang Apa Karya dengan kata kata "Hanjeut Peugot Aneuk".

Tentu, jika dicermati respon publik terhadap Apa Karya semakin hari semakin besar, Apa Karya bahkan menjadi idola baru dalam pentas politik Aceh dalam istilah lainnya "Apa Karya Effek", tak sedikit yang kemudian bersimpati pada dirinya, masyarakat pula tak segan mengatakan lebih memilih Apa Karya dibanding calon lainnya yang disebut sebut terlalu banyak janji, sedangkan Apa Karya hadir dengan mengklaim dirinya tanpa janji.

Dengan kondisi saat ini dan melihat besarnya respon publik terhadap Apa Karya, maka saya menilai Apa Karya menjadi calon gubernur yang memiliki potensi terpilih dalam tiga besar, yaitu kehadiran Apa Karya sangat berbahaya pula diantara pertarungan Muzakir Manaf vs Irwandi Yusuf. 

Sial nya, Apa Karya tak memiliki tim kerja yang mumpuni, berbeda dengan calon Gubernur Zaini Abdullah yang memiliki tim kerja lebih baik, meski kemudian mulai sedikit menurun gerakannya pasca non aktif sebagai Gubernur Aceh, tentu memiliki tim kerja yang baik dan mumpuni akan sangat berpengaruh besar terhadap potensi kemenangan. Zaini Abdullah dianggap calon gubernur yang paling stabil pergerakannya, elektabilitasnya tidak menaik tidak pula menurun.

Kasus berbeda di alami oleh Tarmizi A Karim, yang awal nya memiliki elektabilitas baik dan termasuk dalam tiga kandidat berpotensi untuk menduduki kursi Aceh satu, namun semakin hari bukannya malah naik tapi malah menurun, akibat simpul-simpul partai dan relawan banyak meninggalkannya sebelum hari pemilihan. 

Bisa saja, Apa Karya tanpa hambatan dan diam diam menjadi pemilik kursi yang sedang menjadi rebutan kedua kandidat terkuat tersebut. siapa sangka...?
Share:

Tarmizi A Karim Overly Confident

Dari 6 pasangan calon Gubernur Aceh, Tarmizi A Karim adalah calon gubernur yang memiliki wawasan paling mapan, ia juga menjadi calon gubernur yang paling paham soal agama, jika dibanding calon lainnya. Bahkan jika soal retorika ia layak disanding dalam debat kandidat para Gubernur DKI Jakarta.

Ada pula yang menarik dicermati dalam penampilan Tarmizi A Karim disetiap ia berorasi, yaitu gaya nya yang terkesan tidak original dan ikut ikutan. Perihal tersebut sering di utarakan oleh warga media sosial facebook dalam setiap usai debat kandidat. Cara ia berbicara dan juga gerakan tangan Tarmizi A Karim disebut sebut mengikuti gaya Surya Paloh, tokoh politik yang dikenal dengan ciri khasnya dalam berorasi.

Hal lain adalah, pogram pogram yang disampaikan adalah kesan nya copy paste dari pogram politikus Jakarta, seperti menunjukkan berbagai jenis kartu pada saat debat kandidat pertama, pogram dengan berbagai kartu merupakan pogram yang lagi di trend di Jakarta. 

Kemudian ia juga menjadi calon gubernur yang paling mudah dicerna bahasanya dan tutur kata nya yang teratur. Hal itu memang tidak aneh mengingat ia adalah lulusan doktor (S3) Ilmu Tafsir Al Quran pula lagi, yang tentunya orang Aceh lulusan tersebut masih bisa dihitung jari.

Tapi, akibat dari terlalu percaya diri itu, maka ia terlihat sombong dalam menyampaikan argument nya, dalam 3 kali debat, aura percakapannya menunjukkan bahwa ia meremehkan kemampuan calon gubernur lainnya. 

Dan gagasan gagasan yang ia miliki juga terlalu beretorika, tapi ia tak mampu menjelaskan teknis teknis tentang pogram nya tersebut, hal itu terlihat jelas dalam debat kandidat ke 3, ketika ia ditanya oleh Abdullah Puteh. Dengan demikian maka adanya timbul keraguan terhadap kemampuam ia meng implementasikan pogram tersebut, sama seperti janji gubernur sebelumnya ketika berkampanye.

Kemudian, jika dalam birokrasi ia bisa saja sangat berpengalaman, tapi dalam komunikasi politik menurut saya ia sangat buruk, hal tersebut sangat jelas terlihat ketika ia tidak mampu menjaga hubungan nya dengan para parpol yang telah mendukung nya, sehingga para parpol memilih meninggalkannya sebelum hari pemilihan. 

Atau bisa jadi akibat percaya diri yang terlalu berlebihan dan merasa tak membutuhkan kader parpol, tak membutuhkan pemikiran pemikiran parpol yang akhirnya membuat kader kader parpol enggan untuk ikut memenangkan dirinya.

Sumber foto : statusaceh.net
Share:

Soal Selangkangan di Pilkada Banda Aceh

Ada perbedaan mencolok dalam Pilkada 2017 untuk Walikota Banda Aceh kali ini, hal ini sangat berbeda dengan kabupaten/kota lainnya di Aceh. Perbedaan tersebut adalah perang jenis kelamin yang menjadi tagline dalam kampanye di Banda Aceh, ada calon yang membangun stigma bahwa "Walikota harus Laki Laki" ada pula satunya lagi meyakinkan warga kota Banda Aceh bahwa "Walikota boleh Perempuan", tentu kedua calon tersebut punya argumentasi dan referensi masing masing dalam membenarkan pernyataannya.  

Perang isu tersebut sangat menarik perhatian khalayak publik dibandingkan isu isu lainnya seperti pogram dan gagasan yang dilaksanakan oleh para calon jika nantinya terpilih, para calon Walikota tak lupa menyelipkan soal kelamin disetiap ajang kampanye yang tentunya untuk meyakinkan pemilih.

Soal perang jenis selangkangan ini memang memberi pengaruh besar di Banda Aceh, faktor tersebut karena besarnya pengaruh nilai nilai syariat Islam dalam setiap tindakan dan keputusan masyarakat Kota Banda Aceh. Sampai sekarang, terjadi banyak perbedaan pendapat terhadap kepemimpinan perempuan, terutama dalam pemerintahan, maka hal tersebut lah yang dimanfaatkan oleh kedua calon Walikota tersebut dalam berkampanye.

Namun disini saya tak ingin terjebak dalam tulisan soal jenis kelamin para calon Walikota, karena isu tersebut telah menguras pikiran kita yang kemudian melupakan soal kelayakan dan kemampuan para calon Walikota dalam mengimplementasikan visi misi nya dan juga soal gagasan dan rencana rencana yang akan dilaksanakannya ketika terpilih. 

Isu soal jenis selangkangan sebenarnya tak akan habis jika dikupas dalam isu politik, apalagi ketika momen-momen pilkada seperti ini, karena tentunya setiap orang punya pandangan berbeda beda dan kita juga seharusnya tak bisa memaksa orang lain untuk sama dengan kita, jika demikian maka kita juga melawan kehendak pencipta yang menciptakan kita atas dasar perbedaan bukan persamaan.

Banda Aceh sebagai ibu kota Provinsi Aceh yang dihuni oleh warga warga pendatang dari berbagai kabupaten/kota lainnya di Aceh dan memiliki keanekaragaman kebiasaan dan juga perbedaan budaya, seharusnya menjadi contoh pendidikan politik terhadap bagaimana seharusnya masyarakat Aceh melaksanakan pilkada yaitu dengan adu gagasan melalui cara cara berintilektual, adu pogram, problem solving para calon terhadap kota dan bagaimana menjadi the character of leadership untuk meyakinkan pemilih.

Jika kita sebagai masyarakat masih sibuk dalam isu paling mendasar dan kemudian melupakan visi misi para calon walikota serta melupakan pula kemampuan leadership nya,  maka tak ada bentuk pendidikan politik yang kita dapatkan dalam pilkada di Banda Aceh, kita sebagai masyarakat tak lebih dari pada domba-domba yang diarahkan sesuai tujuan, tak ada pula pemikiran pembanding dari kita soal kualitas para calon.

Begitu pula para calon walikota, jika dirinya masih disibukkan terhadap jenis selangkangan, maka disitu menunjukkan bahwa ia merupakan calon walikota yang tak memiliki kualitas dan tak juga memiliki kemampuan leadership didalam dirinya, dengan begitu ia sibuk membahas soal selangkangan untuk meyakinkan pemilih, sehingga pemilih melupakan soal kualitas dan pogram pogram nya.

Sebagai warga berintelektual, menghargai setiap perbedaan adalah keharusan yang juga dibenarkan oleh sang pencipta, tidak ada persamaan yang menciptakan kedamaian, akan tetapi sikap saling menghargai pula lah yang menciptakan perdamaian, seharusnya semakin berpendidikan manusia, semakin ia paham hal ini. Jadi atas dasar itu pula, seharusnya timses dan calon walikota Banda Aceh tak lagi menjadikan jenis selangkangan sebagai lokomotif politik, biarkan setiap warga memilih sesuai dengan keyakinannya.

Tugas para calon walikota adalah memberikan pendidikan politik yang cerdas kepada masyarakat agar adanya perubahan untuk kota Banda Aceh, yaitu dengan adu pogram dan gagasan, bukan malah mengajak masyarakat untuk tak bisa menghargai perbedaan pendapat soal jenis kelamin mana yang layak dan tak melanggar nilai nilai islam untuk jadi walikota.


Jika setelah membaca tulisan ini kemudian anda tak sependapat dengan saya, maka saya cukup bersyukur bahwa benar Allah menciptakan manusia atas perbedaan dan saya cukup menghargai perbedaan anda.

sumber foto : harapanpalsu.com
Share:

Primadona Muzakir Manaf

Dalam Pilkada kali ini Sosok Muzakir Manaf (Mualem) patut kita apresiasi atas kemampuannya membangun komunikasi politik lintas parpol. Disaat calon lain seperti Irwandi Yusuf yang mengejar koalisi parpol dan kemudian hanya mampu menemukan koalisi pas-pasan dengan sodoran posisi Wakil. Muzakir Manaf malah bebas melenggang lenggang dan menjadi primadona para partai politik nasional dan bahkan bebas menentukan siapa Wakilnya. Padahal sedari awal dari berbagai lintas partai Survei dimenangkan oleh Irwandi Yusuf, namun lirikan mereka tetap jatuh pada Muzakir Manaf, mungkin juga alasan nya pragmatis yaitu kekuasaan mayoritas, tapi jika para parnas mampu berkolaborasi dalam satu tujuan maka parnas lebih unggul dibandingkan parlok.

Belum sampai disitu, disaat Tarmizi A Karim menjadi harapan parnas untuk membangun Aceh, tak pula bertahan sampai hari pemilihan, para parnas tersebut malah pada pisah ranjang dan melirik Muzakir Manaf sebagai dambaan hati dengan meninggalkan Tarmizi A Karim sebagai jomblowers yang tak direstui sepenuh hati.

Tentu kemampuan Muzakir Manaf dalam membangun komunikasi politik ini menjadi sebuah nilai yang dipertimbangkan dan ditakuti lawan lawan nya. Tetapi, Muzakir Manaf punya kesalahan dalam menentukan Wakil yang mendampinginya, sehingga ia harus bekerja lebih keras lagi untuk memenangkan pertarungan Pilkada kali ini. Karena potensi Wakil yang tidak mampu mengimbangi basis basis suara, tak memiliki kemampuan intelektual lebih dan tak juga memperpendek langkah langkah lawan untuk memenangkan pertarungan.

Pertarungan Muzakir Manaf dengan Irwandi Yusuf seperti pertarungan Rossi vs Marquez, yang berbahaya adalah Apa Karya yang ibarat Lorenzo bisa menyelip kapan saja, meski diremehkan oleh lawan namun mendapat perhatian banyak dari pemilih di Aceh atas berbagai statmentnya yang di anggap original. Bahkan Apa Karya menjadi atitesis dari kejenuhan masyarakat terhadap sikap dan formalitas politikus dalam berargument dan janji janji politik yang tak kesampaian.

Sedangkan calon lain seperti Tarmizi A Karim lebih terlihat seperti seorang birokrat yang penuh dengan teoristik, tapi tak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan sederhana seperti membangun hubungan baik dengan parpol yang telah mendukungnya, sehingga para parpol lebih memilih meninggalkannya ditengah jalan. Lain pula dengan Abdullah Puteh yang terlihat sebagai ureung intat linto (antar pengantin), keseriusannya dalam mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh tak tampak dilapangan, sehingga atribut dan tim suksesnya pun tidak terlihat sama sekali.

Beda lagi dengan Zaini Abdullah, sebagai incumbent janji politik nya banyak yang sudah basi, ia tak mampu mengimplementasikan janji besarnya dalam pemerintahannya saat ini sehingga masyarakat sulit untuk percaya ia akan memenuhi janjinya untuk periode kedua, tapi ia punya pilihan Wakil yang perfek dibandingkan pasangan calon lainnya, Wakil nya merupakan Bupati yang tergolong sukses dalam memimpin daerahnya. Namun factor banyaknya kekecewaan para mantan kombatan terhadap dirinya membuat ia kurang mendapat simpati didaerah daerah basis-basis mantan GAM, belum lagi faktor umur yang tergolong tidak lagi tua untuk seorang Zaini Abdullah yang membuat enggan masyarakat untuk kembali memberikannya kesempatan kedua.

Pokok e lage na laju, de facto, de jure

Sumber foto : Serambi Indonesia
Share: