• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Inkonsistensi Tarmizi Karim dan Reaksioner Kader NasDem

Sebagai seorang Pemimpin, konsistensi harus menjadi landasan utama dalam bersikap, kemudian diikuti oleh kesetiaan. Modal utamanya adalah dua hal itu, tanpanya, maka mustahil orang tersebut akan menjadi pemimpin yang adil dan mensejahterakan rakyatnya. Sedangkan sebagai seorang politisi, penghianatan memang sudah menjadi makanan yang sering ditelan, dari sejarah itu pula lahirnya para politisi ulung, seperti kata D Farhan Aulawi “Tidak ada pelaut ulung yang dilahirkan dari samudera yang tenang, tapi ia akan dilahirkan dari samudera yang penuh terpaan badai, gelombang dan topan”.

Dalam kondisi buah penghianatan menurut kacamata grassroots level kader-kader NasDem di Aceh, Tarmizi Karim telah memperlihatkan wujud aslinya terutama kepada kader NasDem yang semula sudah bekerja mensosialisasikan pasangan yang sudah dilakukan konferensi pers dikantor DPW NasDem Aceh beberapa waktu lalu. Konferensi pers yang semula membangkitkan kader-kader NasDem untuk memenangkan Tarmizi Karim kini kandas ditengah jalan, harapan itu tak akan mampu didapatkan lagi oleh Tarmizi Karim pasca partai-partai koalisi di tingkat pusat mewacanakan pergantian posisi wakil yang kini diisukan diisi oleh kader Golkar.

Efek dari pergantian tersebut tentu menuai reaksi pro dan kontra, terutama kader-kader NasDem yang merasakan kekecewaannya amat dalam terhadap Tarmizi Karim dan Surya Paloh karena tidak mempertahankan posisi Zaini Djalil yang sudah ditetapkan sebagai Calon Wakil Gubernur dan sudah diketahui public. Pergantian tersebut menimbulkan beban yang berat bagi Zaini Djalil maupun kader NasDem, beban moral dan kehormatan dipertaruhkan pada posisi NasDem saat ini. Dalam posisi seperti ini pula, tak banyak politisi-politisi yang mampu menerimanya dengan bijak dan iklas, hanya sedikit politisi yang kemudian mampu menerimanya dengan keiklasan, selebihnya memilih menunjukkan kekuatannya, baik dengan isu propaganda, pengerahan masa maupun aksi aksi lainnya yang dilakukan akibat dari tidak mampu menerima sebuah penghianatan ataupun keputusan yang mengecewakannya.

Dalam konstelasi politik saat ini, Zaini Djalil Ketua Partai NasDem Aceh bisa dikatakan sebagai “korban” dari ganasnya strategi koalisi partai politik, yang mulanya juga digagas oleh dirinya, ia dipanah dari kejauhan mata memandang yang kemudian menusuk tepat dijantung hatinya, ia bukan saja dikorbankan dari ketidaksetiaan orang yang pernah ia perjuangkan, tapi juga ikut menikam dirinya saat panah sudah menancap jantungnya. Apalagi, sejak isu perombakan posisi wakil, dalam setiap kalimat yang ia utarakan pada media, tidak ada sedikitpun pembelaan atau harapannya untuk tetap berpasangan dengan Zaini Djalil, tentu ini sangat mengecewakan bagi kader maupun pendukung Zaini Djalil dan NasDem.

Sejak isu tersebut berhembus pula, media social dipenuhi dengan beragam macam komentar, ada yang sedih, simpati, ada pujian, ada yang tertawa, senang, mengejek dan berbagai ekspresi yang ditunjukkan oleh public dalam mengomentari realita politik yang sedang terjadi pada partai NasDem. Bahkan kader-kader partai NasDem ikut mengomentari isu tersebut yang sedang berhembus kencang, salah satunya Wiratmadinata yang juga Wakil Ketua DPW Partai NasDem Aceh, yang sedari awal sudah berjuang membantu Tarmizi Karim "Jika saya Calon Gubernur dan wakilnya Zaini Djalil - Maka saat ini saya akan mengatakan; Saya tidak akan ikut Pilkada, jika Pak Zaini Djalil diganti. Karena beliaulah yang Pertama sekali mendukung saya sebagai Calon Gubernur dari Nasdem sejak awal. Tanpa usahanya, saya tak memiliki apa-apa untuk pencalonan ini".

Jika kemudian ini adalah berbicara tentang keterwakilan wilayah geografis kedua sosok tersebut, bukankah dari dulu baik Tarmizi Karim maupun Surya Paloh sudah mengetahui perihal ini lalu kenapa dulu dipaketkan lalu kemudian dipermasalahkan. Nyoe keuh politek, lam anggok na asek, seperti komentar kawan kawan media social yang sering saya temui
Share:

Saya Seorang Introvert

Introvert adalah sebuah sifat dan karakter yang cenderung menyendiri. Mereka adalah pribadi yang tertutup dan mengesampingkan kehidupan sosial yang terlalu acak. Antonim dari sifat Introvert adalah Ekstrovert. Sifat Ekstrovert lebih membutuhkan sosial, cahaya, kebisingan, ruang lingkup yang luas dan sebagainya. Introvert membenci basa-basi, oleh sebab itu mereka senang dengan perbincangan yang padat dan bersifat informatif. 

Beberapa penelitian tentang otak menemukan bahwa tipe introvert lebih banyak melakukan dialog dalam diri jika dibandingkan dengan tipe yang sebaliknya, yaitu ekstrovert. Orang introvert lebih suka memikirkan tentang  gagasan atau memori di dalam benak mereka sendiri. Sehingga, kegiatan seperti meneliti, membaca, atau menulis dapat lebih menarik perhatian seseorang dengan sifat introvert. Sementara itu, orang ekstrovert merasa perlu berdiskusi dengan orang lain untuk menemukan gagasan.

Dalam berinteraksi, orang-orang dengan tipe introvert cenderung lebih nyaman untuk mengobrol secara empat mata dibandingkan berbicara bersama sekelompok besar orang. Mereka juga merasa bahwa interaksi dengan sedikit orang, tetapi memiliki makna yang dalam, dapat lebih bermanfaat. Mereka tidak menyukai interaksi bersama banyak orang, tetapi hanya untuk sekadarnya saja.

Menurut pakar psikologi Carl Jung, intovert adalah tipe kepribadian yang berpusat pada pikiran diri sendiri. Mengurung diri, pasif menjadi perilaku umum bagi pribadi introvert, namun bukan berarti kami alien yang terasing dengan dunia luar. Di kamar tidur ataupun kamar mandi dapat menjadi ‘sarang’ kami, tercipta banyak ide dan imajinasi.

Saya sendiri banyak mendapat ide saat dikamar mandi, apalagi tentang tema yang harus saya tulis diblog, kebanyak muncul ide saat saya mandi. Bahasa tulis memang menjadi sarana kaum introvert untuk bersosialisasi, bahkan ajang debat virtual sering dimenangkan dengan data yang tak bisa disangkal validitasnya. Jadi, kami tak pernah menjadi alien, namun dalam hal menyalurkan kebutuhan bersosialisasi, kami memenuhinya dengan langkah berbeda.

Saya pribadi, walaupun berkarakteristik kalem dan cuek, kerap kali terharu saat melihat berita film film kesedihan, melihat pengemis yang kondisi memprihatinkan, melihat orang yang sekarat, mendengar lagu sedikit melankolik, menonton iklan tentang orang tua, atau membaca novel romantis, air mata saya dapat dipastikan akan jatuh beruraian, cengeng bukan? Ha ha, tapi itulah pribadi introvert. Semua sisi hidup dipikirkan dan dirasakan terlalu mendalam, hingga ada istilah "Tiap jengkal tubuh terpahat dari hati." 

Introvert dikenal sebagai individu yang tak bisa berkelompok, ataupun menghabiskan waktu lama dengan lebih dari satu atau dua orang. Hal itu kerap saya alami saat berada di lingkungan kegiatan maupun pergaulan. Hal ini karena pribadi introvert lebih suka fokus dalam pembicaraan secara personal. Begitu juga dalam hubungan percintaan, fokus kepada satu pribadi menjadi hal yang wajar bagi pribadi introvert. 

Energi kaum introvert sudah cukup tersita untuk dirinya sendiri dan pasangannya. Untuk berfokus pada individu ke tiga, rasanya terlalu menguras tenaga dan pikiran. Maka, setia adalah opsi utama bagi introvert, tentu juga karena faktor perasaan. Bukan berarti pribadi extrovert ataupun ambievert tidak setia loh.


Pribadi intovert dikenal sebagai penghemat bahasa lisan, sehingga sekali bersuara biasanya mempunyai arti yang dalam. Demikian juga saat memakai bahasa tulis, bisa dipastikan mempunyai makna berlapis dan dalam.
Share:

Nektu Untuk Aceh Timur

​Nektu, nama lain dari Ridwan Abu Bakar, nama lainnya tersebut lebih dikenal oleh masyarakat Aceh Timur dibanding dengan nama pemberian orang tuanya. Bagi orang yang tidak tau dan mengenal Nektu, ketika orang mendengar dan disebut namanya pasti beranggapan orang tua atau orang dituakan, karena memang panggilan Nektu adalah orang yang dituakan dan biasanya adalah lansia. Sesungguhnya Nektu ini bukanlah orang tua, ia masih lumayan muda, nama Nektu adalah panggilan ketika ia menjadi GAM dulunya, yang semua mantan GAM ketika itu punya nama sandi atau samaran dan melekat hingga sekarang.

Nektu, ia telah dua kali dipercayakan mewakili masyarakat Aceh Timur di DPR Aceh, kemudian ia saat ini mencalonkan diri sebagai Bupati melalui jalur Independent, mantan GAM dan Mantan kader Partai Aceh ini memilih jalur independent karena tak diberikan kesempatan oleh partainya untuk maju dipilkada setelah sebelumnya juga gagal menjadi Ketua DPR Aceh yang sempat membuat heboh publik karena aksinya yang menentang keputusan partai Aceh itu diruang paripurna DPR Aceh. Pasca kejadian tersebut, hubungannya dengan partai Aceh memang terlihat lebih renggang, bahkan dalam pilkada kali ini ia akan menentang calon incumbent dari partai Aceh dan diprediksi hanya punya 2 petarung yaitu Nektu (Independent) dan Rocky (Partai Aceh) yang memiliki nama resmi Hasballah M Thaib. Meski ia Nektu terdaftar sebagai calon independent, namun ada juga partai politik yang memilih mendukung dirinya yaitu seperti partai NasDem yang kini telah memantapkan dukungannya untuk Nektu. (Baca : Potensi Aceh Timur & Kemakmuran Rakyat)

Lebaran Idul Fitri 1437H beberapa bulan lalu, saya ikut mudik kekampung nenek, yang memang aslinya adalah orang Aceh Timur dan saya pun pernah menghabiskan masa kecil sekitar 13tahun di Aceh Timur. Nama Nektu dikampung saya lebih familiar dibandingkan nama Rocky, nama Nektu bukan saja dikenal dikalangan anak muda, tapi orang tua bahkan anak anak kecil sudah sangat mengenal nama Nektu. Nektu dikenal sebagai orang yang punya kepedulian besar terhadap orang disekitarnya, ia dikenal sebagai pria dermawan, sehingga orang orang disekelilingnya tetap setia dan berpihak kepadanya.

Meski Nektu tidak lahir dikampung nenek saya, tapi ia pernah tinggal dan besar dikampung tersebut dan tepatnya disamping rumah nenek saya, sehingga namanya sangat familiar dikampung itu. Saya sendiri tidak mengenal Nektu, bahkan tidak pernah sekalipun berbicara dan bertatap muka dengannya, tapi ketika saya pulang kekampung nenek, nama Nektu selalu saja dibicarakan, bahkan para orang-orang tua acap kali menanyakan informasinya kepada saya, apalagi pasca kejadian ia mengamuk di DPR, yang dimana banyak masyarakat Aceh Timur mendukung sikap dia kala itu.

Nektu memang menjadi lawan menaktukan bagi Rocky, selain Nektu yang punya pasukan setia, militan dan siap bekerja keras memenangkan Nektu, ia juga cukup dikenal luas di Aceh Timur, mulai dari anak muda, orang tua, hingga anak anak dan sepertinya era kekuasaan Rocky sudah hilang and welcome to new Aceh Timur.
Share:

Belajar Pada Cerita Film Van Der Wijk

Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk merupakan film yang diadaptasi dari novel berjudul yang sama, karangan Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau dikenal dengan nama Buya Hamka, Novel yang sudah dirilis sejak tahun 1938 tersebut baru kemudian di film kan pada tahun 2013 dengan disutradai oleh Sunil Soraya. Film maupun novel yang mengisahkan tentang perbedaan latar belakang social yang menyebabkan kemudian menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih hingga kematian menjemput Hayati dengan tenggelamnya kapal Van Der Wijk yang sedang berlayar dari Surabaya menuju Padang tanah kelahiran Hayati. Film yang dibintangi oleh Pevita (Hayati), Herjunot Ali (Zainuddin), Reza Rahadian (Azis) dan Randy Danistha (Muluk) merupakan karya termahal yang pernah diproduksi oleh Soraya Intercine Films, apalagi properti-properti yang digunakan merupakan produksi lama dan proses penciptaan film ini menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun, tentu saja ini merupakan karya brilliant yang membuat penonton terlarut dalam cerita haru dalam film ini.

Film yang dialog dan penuturan kata logat minang dan Makassar membuat film ini sangat dinikmati oleh para penonton, apalagi budaya minang yang dianggap dikenal sebagai budaya yang suka melantukan kata-kata pantun dan gurindam. Meskipun kisah yang ada dalam film tersebut merupakan karya fiksi, tapi ternyata cerita kapal Van Der Wijk yang diceritakan dalam kisah film tersebut merupakan kenyataan, kapal tersebut memang benar tenggelam ditahun 1936 dipesisir perairan Lamongan Jawa Timur, bahkan di Desa Brondong, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, ada sebuah monumen bersejarah bernama Monumen Van Der Wijck.  Monumen tersebut dibangun pada tahun 1936 sebagai tanda terima kasih masyarakat Belanda kepada para nelayan yang telah banyak membantu saat kapal yang namanya diambil dari nama Gurbenur Jenderal Hidia–Belanda itu tenggelam, tapi tenggelamnya kapal tersebut bukan seperti dalam cerita film tersebut yang perjalanan Surabaya menuju Padang, tapi tenggelamnya kapal tersebut saat dari Bali menuju ke Semarang.

Zainuddin adalah pria kelahiran Makassar yang bapaknya berasal dari Padang Panjang sedangkan ibunya berasal dari Bugis Makassar, perkawinan beda suku inilah yang menjadi masalah utamanya sehingga ia di Makassar dianggap orang Minang karena disana bernasabkan garis keturunan Bapak, sedangkan di Minang malah kebalikannya ia dianggap orang Bugis, karena di Minang bernasabkan garis keturunan Ibu, oleh sebab itu para pemuka adat menganggapnya ia tidak lagi memiliki pertalian darah dengan minang. Oleh sebab itu, dua kebudayaan berbeda yang membuat ia terhempas asal usulnya. Kepulangannya kekampung Bapaknya menjadi cikal bakal pertemuannya dengan Hayati, seorang gadis yatim piatu berketurunan bangsawan yang di asuh oleh pamannya, kedekatan Hayati dan Zainuddin lama kelamaan tercium oleh keluarga Hayati, bahkan orang orang kampung mulai membicarakan kedekatan dua remaja ini, Zainuddin yang dikenal sebagai pria baik dan ramah ini akhirnya terpaksa meninggalkan kampung tersebut dan pergi untuk kembali menimba ilmu agama ditempat lain.

Sesudah itu, Hayati yang dulunya pernah bersumpah kepada Zainuddin bahwa tidak akan pernah meninggalkannya meski dalam keadaan apapun, bahkan selembar selendang menjadi buah tangan yang diberikan oleh Hayati kepada Zainuddin atas permintaannya, akhirnya pada waktu tiba, datanglah dua buah lamaran untuk Hayati, yang pertama datang dari Zainuddin dan yang kedua datang dari Azis. Sebagaimana adat minang, yang memusyawarah untuk menghasilkan mufakat, keputusan yang diambil adalah menolak lamaran Zainuddin karena dianggap tidak berbudaya dan tidak pantas untuk Hayati dan menerima lamaran Azis, laki laki kaya dan terpandang serta berketurunan asli minang.

Mendengar kabar bahwa Hayati akan segera menikah dengan Azis dan menghianati janjinya, ia putus asa dan mengalami depresi berat, teman sekamarnya Muluk yang melihat kondisi Zainuddin berbulan bulan seperti itu memberikannya semangat, bahkan Muluk menawarkan Zainuddin untuk merantau ketanah Jawa, agar bisa berkarir dan melawan keterpurukan cintanya. Sampai ditanah Jawa, Zainuddin bekerja keras membuka lembaran baru hidupnya yang terus dan selalu ditemani sahabatnya Muluk. Sampai pada kemudian ia menjadi penulis terkenal dengan menerbitkan novel dengan karya termansyur dan diterima oleh seluruh komponen masyarakat, dengan begitu ia menjadi pria yang sukses dan kaya raya, bahkan mampu membeli rumah bagai istana luasnya. Sedangkan Hayati, masih berkutik dalam kehidupan yang sengsara, memiliki suami Azis yang berwatak jahat dan suka memukul, main judi dan pembohong, bahkan ia kerap kali menyebutkan Hayati sebagai perempuan kampungan.

Tetapi suatu peristiwa yang kemudian mempertemukan mereka kembali. Zainuddin yang berpindah ke Surabaya dengan kehidupan mewah dan megahnya, sedangkan Azis dan Hayati juga berpindah ke Surabaya dengan alasan pekerjaannya. Suatu acara yang dibuat oleh Zainuddin di istananya dengan mengundang seluruh perantau keturunan Sumatera, disanalah Azis mendapatkan undangan tersebut yang kemudian membawa Hayati ikut serta bersamanya menghadiri undangan tersebut. Pertemuan Zainuddin, Hayati dan Azis telah dalam kondisi yang berbeda, saat itu suami Hayati mulai bermasalah dengan perekonomiannya yang kemudian meminta bantuan kepada Zainuddin, meskipun Azis pernah memperlakukan Zainuddin dengan jahat, Zainuddin tetap dengan kedermawanannya rela membantu perekonomian Azis yang bahkan sampai harus tinggal dirumah Zainuddin berbulan bulan.

Setelah sekian lama Azis dan Hayati menetap dirumah Zainuddin, akhirnya Azis memutuskan merantau kekota lain untuk mencari pekerjaan, tapi dengan meminta izin bahwa Hayati untuk tetap diberikan tinggal dirumah Zainudin untuk sementara waktu sebelum ia mendapatkan pekerjaan. Ternyata kepergian Azis saat itu adalah pertemuan terakhir kali antara mereka bertiga, kemudian Azis mengirim surat kepada Zainuddin  dan Hayati, kepada Zainuddin surat tersebut berisikan dengan meminta menjaga Hayati dan mengembalikan kepadanya, sedangkan surat kepada Hayati berisikan pemutusan hubungan suami istri atau talak kepada Hayati dan setelah itu Azis memutuskan bunuh diri.

Berbulan bulan usai kematian suaminya, Hayati mencoba berbicara kepada Zainuddin tentang perasaannya, lalu Zainuddin yang sudah lama dalam penderitaan batinnya menolak untuk kembali menerima Hayati, bahkan ia berujar “jangan mau ditumpang hidup saya yang tak berketurunan, tanah minangkabau beradat” dan yang lebih perih ungkapan yang diterima oleh Hayati adalah “Tidak, pantang pisang berbuah dua kali, lelaki takkan sentuh sisa orang”. Dengan perasaan dan hati yang sakit keduanya kemudian berpisah, lalu kemudian Hayati berangkat ke Padang dengan kapal Van Der Wijk, namun sebelum itu Hayati sempat memberikan surat kepada Zainuddin yang ia titipkan kepada Muluk sebelum berangkat ke Padang. Surat yang berisikan perasaan Hayati, cintanya yang tak pernah berubah sejak 3 tahun yang lalu, penyesalan Zainuddin pun akhirnya terlambat, Hayati telah berangkat dengan kapal yang kemudian menyebabkan kapal tersebut karam.
Share:

Potensi Aceh Timur dan Kemakmuran Rakyat

Kabupaten Aceh Timur Memiliki Luas wilayah sebesar 6.040,60 Km², secara administratif Kabupaten Aceh Timur terdiri dari 24 Kecamatan, 54 Mukim, 513 Gampong dan 1596 Dusun, menurut data 2010 penduduk Aceh Timur berjumlah 360.475 jiwa. Secara umum Kabupaten Aceh Timur merupakan dataran rendah, perbukitan, sebagian berawa-rawa dan hutan mangrove, dengan ketinggian berada 0–308 m di atas permukaan laut. Sebagai penunjang kegiatan perekonomian, di Kabupaten ini Tersedia 1 Pelabuhan Industri, yaitu Pelabuhan Idi. Sebelumnya ibukota Kabupaten Aceh Timur adalah Kota Langsa tetapi dengan disetujui UU No. 3 Tahun 2001, ibukota Kabupaten Aceh Timur dipindahkan ke Idi. 

Terkait dengan pembangunan ekonomi, ada banyak potensi yang dimiliki oleh Aceh Timur yang jika digarap dan dikelola dengan baik dan benar maka akan mendatangkan kesejahteraan bagi penduduknya, ada banyak sector yang sangat layak dan menggiurkan para investor, diantaranya adalah terkait potensi pertanian, diantaranya lahan sawah mencapai 35.065 Ha, kedelai sekitar 15.000 Ha, jagung sekitar 15.000 Ha, dan ada juga tanaman jenis lainnya seperti kacang, ubi dan lainnya. Kemudian terkait dengan sector perkebunan, sector ini juga layak dilirik oleh berbagai Investor di Aceh timur. Secara keseluruhan luas perkebunan Aceh Timur mencapai 151.298,49 Ha, lahan tersebut sekarang dikelola oleh Perusahaan Nasional dan BUMN seluas 80. 715,91 Ha.  Hasil perkebunan di Aceh Timur dalam skala besar yaitu Kelapa Sawit, karet, kakao, kelapa, dan pinang, untuk perkebunan kelapa sawit yang di kelola masyarakat 24.297,50 Ha, untuk perkebunan karet dengan luas 22.019,50 Ha, sedangkan perkebunan Kakao atau Coklat luas lahan 12.725,50 Ha.

Setelah itu, potensi yang tak kalah menariknya Perikanan dan Kelautan, dibidang perikanan Aceh Timur memiliki tambak seluas 17.837 Ha, selain itu, terdapat usaha garam rakyat atau yang sering di kenal dengan petani garam di tahun 2015 jumlah petani garam di Aceh Timur mencapai 242 Orang yang memiliki luas lahan 18.134 Ha. Selanjutnya Aceh Timur berbatasan langsung dengan Selat Malaka, sehingga kaya akan hasil lautnya. Pelabuhan perikanan pantai Kuala Idi yang merupakan penghasil ikan terbesar di seluruh Aceh ini menjadi pusatnya aktifitas bagi para nelayan di Aceh Timur. Berdasarkan data yang di himpun dari Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh Timur pada tahun 2014 lalu jumlah nelayan mencapai 13.216 orang, sementara jumlah Armada tangkap ikan mencapai 2.700 Unit dan hasil tangkapan laut mencapai 21.807,66 Ton/Tahun.

Sector yang paling menggiurkan adalah Minyak dan Gas, potensi Alam ini menjadi primadona dibelahan dunia manapun, para kolongmerat biasanya akan mengincar dimanapun letak dan posisi sumber daya alam ini, selain menjanjikan dan jangka panjang, juga menggiurkan dalam hal keuntungannya. Aceh Timur saat ini memiliki banyak potensi Minyak dan Gas yang sebagian mulai digarap salah satunya adalah oleh PT. Medco E&P Malaka.

Terlepas dari berbagai kekayaan sumber daya alam yang dimiliki oleh Aceh Timur, kesejahteraan rakyat harus menjadi dasar dan tujuan yang harus di prioritaskan dalam menggarap kekayaan tersebut. Dalam konteks pemanfaatan sumber daya alam tersebut, Aceh harus belajar pada sejarah dan pengalaman PT. Arun, dimana kekayaannya dan julukan petro dolar yang pernah dialamatkan kepada Aceh Utara hanya mengisakan kemiskinan bagi wilayah sekitar perusahaan raksasa tersebut, bahkan disaat sumber kekayaan tersebut habis digarap, Aceh Utara hanya dikenal sebagai daerah termiskin se Aceh.

Dari data BPS tahun 2014, penduduk miskin di Aceh Timur mencapai 63.000 jiwa, dengan segala potensi sumber daya alam yang dimiliki oleh kabupaten ini tak juga mampu mensejahterakan rakyatnya, jika pun kita berkunjung kekabupaten ini maka pemandangan infrastuktur seperti jalan yang tak layak, pantai yang abrasi, rumah tak layak huni sudah menjadi pemandangan biasa, bahkan perihal perguruan tinggi Universitas pun tak dimiliki oleh kabupaten ini hingga sekarang, miris memang.
Share:

Membaca Kemampuan Tarmizi A Karim

Tarmizi A Karim, calon Gubernur Aceh yang saat ini tidak terdaftar sebagai kader partai politik manapun, tapi ia memiliki kedekatan dengan berbagai tokoh sentral partai politik besar di Indonesia, namanya tidak asing lagi bagi masyarakat Aceh, ia pernah menjadi Bupati Aceh Utara dan Pejabat Gubernur Aceh, kualitas intelektualnya tidak diragukan lagi, dari kemampuannya tersebutlah ia dipercayakan menduduki berbagai jabatan strategi di Jakarta dan bahkan putra Aceh Utara ini termasuk dalam kategori birokrat andalan pemerintah pusat, terbukti ia berulang kali mendapat tugas menjadi pejabat Gubernur diberbagai daerah yang merupakan jabatan paling jarang didapat oleh orang lain, sehingga kepulangannya ke Aceh untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh telah meresahkan calon Gubernur lain.

Maka tak aneh jika kita melihat lawan politiknya mencoba membangun isu negatif terhadap Tarmizi A Karim, salah satunya membangun image bahwa Tarmizi A Karim tidak akan didukung oleh partai politik dan kemudian jika didukung maka tidak sepenuhnya dukungan itu diberikan, sehingga jadi pertanyaan kita, adakah partai politik, terutama partai nasional yang didalamnya berisikan orang-orang ahli dalam bidang tersebut hanya memberikan dukungan tanpa pertimbangan matang, baik tentang kualitas maupun peluang seorang Tarmizi A Karim untuk meraih kursi Gubernur.

Awal mula kepulangannya, ia bahkan dengan percaya diri mengatakan bahwa akan diusung oleh berbagai partai nasional nantinya dalam pilkada 2017. Akibat dari klaim tersebut orang-orang menyindirnya, bahkan ada yang mengatakan tidak tahu malu serta berbagai tuduhan-tuduhan lainnya yang orang alamatkan kepada Tarmizi A Karim, tapi meski begitu ia tetap tidak peduli apa yang orang katakan terhadap dia, bahkan ia berulang kali menyebutkan bahwa ia pasti naik dengan partai politik dan pasti didukung, berkat kepercayaan dirinya itu pula, tim suksesnya semakin semangat dan percaya diri dalam bekerja. Faktanya, klaim-klaim Tarmizi A Karim tersebut akhirnya membuahkan hasil, kini ia diusung oleh Partai NasDem, PPP, PKPI dan Partai Golkar yang semuanya berjumlah 24 kursi Legislatif Aceh dan itu diperkirakan akan terus bertambah dukungannya seperti Partai Hanura dan PAN, jumlah tersebut adalah koalisi kedua terbesar setelah pasangan Muzakir Manaf - TA Khalid, yang mayoritas kursi dari Partai Aceh.

Siapa yang menyangka bahwa seorang Tarmizi A Karim bakal mendapatkan dukungan partai politik sebesar itu, sedangkan ia tidak terikat sebagai kader partai politik manapun hingga saat ini. Bukankah mulanya banyak orang yang pesimis terhadap kemampuan ia mendapatkan dukungan dari berbagai partai politik, disitulah tahap pertama dalam Pilkada ini seorang Tarmizi A Karim membuktikan kemampuan dirinya, bahkan ia mampu menunjukkan kemampuan politiknya kepada rakyat dan lawannya sebelum ia bertarung, kemampuan yang ia tunjukkan tersebut adalah untuk membuktikan bahwa ia layak dipilih dan layak memimpin Aceh, meski ia seorang birokrat, ia lihai dalam berpolitik, yang nantinya sangat dibutuhkan ketika ia sudah menjabat sebagai Gubernur Aceh.

Jika kemampuan intelektualnya tidak diragukan lagi oleh masyarakat, kemudian kemampuan politiknya mampu ia buktikan dengan merangkul banyak partai politik bahkan menjadi koalisi kedua terbesar, Pengalaman dan karirnya sangat gemilang, lalu kemampuan apalagi yang ia tidak miliki ?, Tarmizi A Karim memiliki segalanya, ia adalah calon Gubernur Aceh yang dianggap paling perfek untuk memimpin Aceh 5 tahun kedepan dibanding calon-calon lainnya yang muncul saat ini, apalagi masa-masa Aceh seperti ini yang sangat membutuhkan sosok pemimpin berkualitas untuk menahkodai rakyat Aceh, agar bisa keluar dari jeratan kemiskinan, pengangguran, kebodohan dan patologi sosial seperti yang ia sebutkan dalam sebuah kesempatan beberapa bulan lalu.

Jika itu dianggap tidak cukup bagi rakyat Aceh untuk menjadi seorang pemimpin, karena sebagai daerah Syariat Islam dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan seharusnya seorang pemimpin harus mengerti dan sangat memahami Agama. Seorang Tarmizi A Karim adalah merupakan kandidat doktor (S3) Ilmu Tafsir Al Quran yang mungkin menjadi putra Aceh pertama yang menyandang gelar tersebut. Gelar tersebut membuktikan bahwa ia sangat paham tentang Agamanya dan memiliki pengetahuan akal hal itu.

Sebenarnya, saat inilah waktu untuk Aceh mengembalikan marwahnya, sebagai negeri bermartabat, yang pemimpinnya seorang berpengetahuan, paham Agama serta kaya dengan pengalaman. Pantaskah kita menyia-nyiakan kesempatan ini?.
Share: