• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Negara Surga Perokok

Merokok telah menjadi aktivitas wajib yang dilakukan oleh penduduk Indonesia. Menurut Kementrian Kesehatan, tahun 2016 jumlah perokok aktif di Indonesia berkisar 90juta jiwa, namun saya meyakini jumlah perokok di Indonesia melebihi dari angka yang disebutkan oleh Kementrian Kesehatan. Fakta lain yang mencengangkan adalah bahwa hasil penelitian The Tobacco Atlas tahun 2015, Indonesia dinobatkan sebagai peringkat pertama didunia dan sebanyak 66% Pria di Indonesia adalah perokok aktif. Meski berbagai kebijakan dikeluarkan oleh Pemerintah, kenyataannya tidak mampu memaksimalkan penurunan jumlah angka perokok di Indonesia, belum lagi tidak adanya ketegasan dalam penerapan aturan oleh pemerintah, semakin membuat perokok berada dalam kondisi yang sangat nyaman. 

Padahal perihal tersebut sangat bertolak belakang yang dilakukan oleh Negeri tetangga seperti Malaysia dan Singapore yang menerapkan aturan dan kebijakan yang tegas terhadap larangan merokok dan hanya dapat merokok ditempat tempat tertentu, sehingga merepotkan perokok. Seorang Peneliti dari UGM Yayi Suryo Prabandari menyebutkan, tahun 2013 jumlah perokok di Malaysia hanya 2,90% sedangkan di Singapura 0,39%, Brunai Darussalam 0,04%, hal tersebut berbanding terbalik dengan Indonesia, yang berada diatas 50% dari jumlah penduduknya, maka wajar saja jika Indonesia disebutkan sebagai Surga Perokok.

Di Aceh, juga tidak jauh berbeda dengan kondisi Provinsi lainnya yang ada di Indonesia, meski Majelis Ulama Indonesia melalui Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI ke III, 24-26 Januari 2009 di Sumatera Barat memutuskan fatwa haram merokok. Fatwa tersebut tidaklah berpengaruh bagi masyarakat Aceh, sebuah provinsi yang menerapkan syariat Islam, bukan hanya itu, fatwa tersebut bahkan tidak didukung oleh beberapa organisasi Islam yang ada di Indonesia dan juga dipertentangkan.

Dalam ilmu kesehatan, semua penduduk Indonesia menyadari bahwa merokok adalah berbahaya bagi kesehatan, kandungan tar pada rokok akan menempel pada paru-paru, serta menimbulkan warna cokelat pada gigi dan kuku. Bahaya merokok bagi tubuh selanjutnya adalah dapat menyebabkan penyakit jantung dan serangan jantung. Karena kandungan karbon monoksida pada asap rokok yang dihirup masuk ke aliran darah. Namun pengetahuan tersebut tidak memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagi masyarakat untuk mengindari rokok. Kenyataanya yang terjadi adalah setiap tahun jumlah perokok di Indonesia terus bertambah dan mengkhawatirkan.

Di Banda Aceh contohnya, larangan merokok telah dikeluarkan melalui Peraturan Walikota Banda Aceh No. 47 Tahun 2011 tentang kawasan dilarang merokok, meski sebelumnya juga sudah keluar Undang Undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009 pada pasal 115 dijelaskan tentang kawasan dilarang merokok, tapi meski hal tersebut telah diatur sedemikian rupa, tidak juga berjalan sebagaimana mestinya. Dikawasan terlarang tersebut masih banyak ditemukan perokok yang semena-mena dan sampai sekarang tidak ada satupun perokok yang mendapat hukuman akibat telah melanggar peraturan tersebut. Parahnya lagi, orang yang tidak merokok seperti tidak mendapatkan tempat yang nyaman untuk hidup seperti di Banda Aceh ini, begitu pula dengan kota-kota lain yang ada di Indonesia, karena hampir disemua tempat keramaian dan publik dipenuhi dengan asap rokok, seperti warung kopi, pantai, taman, jalan, dan banyak tempat lainnya yang selalu dipenuhi asap rokok.
Share:

Inkonsistensi Tarmizi Karim dan Reaksioner Kader NasDem

Sebagai seorang Pemimpin, konsistensi harus menjadi landasan utama dalam bersikap, kemudian diikuti oleh kesetiaan. Modal utamanya adalah dua hal itu, tanpanya, maka mustahil orang tersebut akan menjadi pemimpin yang adil dan mensejahterakan rakyatnya. Sedangkan sebagai seorang politisi, penghianatan memang sudah menjadi makanan yang sering ditelan, dari sejarah itu pula lahirnya para politisi ulung, seperti kata D Farhan Aulawi “Tidak ada pelaut ulung yang dilahirkan dari samudera yang tenang, tapi ia akan dilahirkan dari samudera yang penuh terpaan badai, gelombang dan topan”.

Dalam kondisi buah penghianatan menurut kacamata grassroots level kader-kader NasDem di Aceh, Tarmizi Karim telah memperlihatkan wujud aslinya terutama kepada kader NasDem yang semula sudah bekerja mensosialisasikan pasangan yang sudah dilakukan konferensi pers dikantor DPW NasDem Aceh beberapa waktu lalu. Konferensi pers yang semula membangkitkan kader-kader NasDem untuk memenangkan Tarmizi Karim kini kandas ditengah jalan, harapan itu tak akan mampu didapatkan lagi oleh Tarmizi Karim pasca partai-partai koalisi di tingkat pusat mewacanakan pergantian posisi wakil yang kini diisukan diisi oleh kader Golkar.

Efek dari pergantian tersebut tentu menuai reaksi pro dan kontra, terutama kader-kader NasDem yang merasakan kekecewaannya amat dalam terhadap Tarmizi Karim dan Surya Paloh karena tidak mempertahankan posisi Zaini Djalil yang sudah ditetapkan sebagai Calon Wakil Gubernur dan sudah diketahui public. Pergantian tersebut menimbulkan beban yang berat bagi Zaini Djalil maupun kader NasDem, beban moral dan kehormatan dipertaruhkan pada posisi NasDem saat ini. Dalam posisi seperti ini pula, tak banyak politisi-politisi yang mampu menerimanya dengan bijak dan iklas, hanya sedikit politisi yang kemudian mampu menerimanya dengan keiklasan, selebihnya memilih menunjukkan kekuatannya, baik dengan isu propaganda, pengerahan masa maupun aksi aksi lainnya yang dilakukan akibat dari tidak mampu menerima sebuah penghianatan ataupun keputusan yang mengecewakannya.

Dalam konstelasi politik saat ini, Zaini Djalil Ketua Partai NasDem Aceh bisa dikatakan sebagai “korban” dari ganasnya strategi koalisi partai politik, yang mulanya juga digagas oleh dirinya, ia dipanah dari kejauhan mata memandang yang kemudian menusuk tepat dijantung hatinya, ia bukan saja dikorbankan dari ketidaksetiaan orang yang pernah ia perjuangkan, tapi juga ikut menikam dirinya saat panah sudah menancap jantungnya. Apalagi, sejak isu perombakan posisi wakil, dalam setiap kalimat yang ia utarakan pada media, tidak ada sedikitpun pembelaan atau harapannya untuk tetap berpasangan dengan Zaini Djalil, tentu ini sangat mengecewakan bagi kader maupun pendukung Zaini Djalil dan NasDem.

Sejak isu tersebut berhembus pula, media social dipenuhi dengan beragam macam komentar, ada yang sedih, simpati, ada pujian, ada yang tertawa, senang, mengejek dan berbagai ekspresi yang ditunjukkan oleh public dalam mengomentari realita politik yang sedang terjadi pada partai NasDem. Bahkan kader-kader partai NasDem ikut mengomentari isu tersebut yang sedang berhembus kencang, salah satunya Wiratmadinata yang juga Wakil Ketua DPW Partai NasDem Aceh, yang sedari awal sudah berjuang membantu Tarmizi Karim "Jika saya Calon Gubernur dan wakilnya Zaini Djalil - Maka saat ini saya akan mengatakan; Saya tidak akan ikut Pilkada, jika Pak Zaini Djalil diganti. Karena beliaulah yang Pertama sekali mendukung saya sebagai Calon Gubernur dari Nasdem sejak awal. Tanpa usahanya, saya tak memiliki apa-apa untuk pencalonan ini".

Jika kemudian ini adalah berbicara tentang keterwakilan wilayah geografis kedua sosok tersebut, bukankah dari dulu baik Tarmizi Karim maupun Surya Paloh sudah mengetahui perihal ini lalu kenapa dulu dipaketkan lalu kemudian dipermasalahkan. Nyoe keuh politek, lam anggok na asek, seperti komentar kawan kawan media social yang sering saya temui
Share:

Saya Seorang Introvert

Introvert adalah sebuah sifat dan karakter yang cenderung menyendiri. Mereka adalah pribadi yang tertutup dan mengesampingkan kehidupan sosial yang terlalu acak. Antonim dari sifat Introvert adalah Ekstrovert. Sifat Ekstrovert lebih membutuhkan sosial, cahaya, kebisingan, ruang lingkup yang luas dan sebagainya. Introvert membenci basa-basi, oleh sebab itu mereka senang dengan perbincangan yang padat dan bersifat informatif. 

Beberapa penelitian tentang otak menemukan bahwa tipe introvert lebih banyak melakukan dialog dalam diri jika dibandingkan dengan tipe yang sebaliknya, yaitu ekstrovert. Orang introvert lebih suka memikirkan tentang  gagasan atau memori di dalam benak mereka sendiri. Sehingga, kegiatan seperti meneliti, membaca, atau menulis dapat lebih menarik perhatian seseorang dengan sifat introvert. Sementara itu, orang ekstrovert merasa perlu berdiskusi dengan orang lain untuk menemukan gagasan.

Dalam berinteraksi, orang-orang dengan tipe introvert cenderung lebih nyaman untuk mengobrol secara empat mata dibandingkan berbicara bersama sekelompok besar orang. Mereka juga merasa bahwa interaksi dengan sedikit orang, tetapi memiliki makna yang dalam, dapat lebih bermanfaat. Mereka tidak menyukai interaksi bersama banyak orang, tetapi hanya untuk sekadarnya saja.

Menurut pakar psikologi Carl Jung, intovert adalah tipe kepribadian yang berpusat pada pikiran diri sendiri. Mengurung diri, pasif menjadi perilaku umum bagi pribadi introvert, namun bukan berarti kami alien yang terasing dengan dunia luar. Di kamar tidur ataupun kamar mandi dapat menjadi ‘sarang’ kami, tercipta banyak ide dan imajinasi.

Saya sendiri banyak mendapat ide saat dikamar mandi, apalagi tentang tema yang harus saya tulis diblog, kebanyak muncul ide saat saya mandi. Bahasa tulis memang menjadi sarana kaum introvert untuk bersosialisasi, bahkan ajang debat virtual sering dimenangkan dengan data yang tak bisa disangkal validitasnya. Jadi, kami tak pernah menjadi alien, namun dalam hal menyalurkan kebutuhan bersosialisasi, kami memenuhinya dengan langkah berbeda.

Saya pribadi, walaupun berkarakteristik kalem dan cuek, kerap kali terharu saat melihat berita film film kesedihan, melihat pengemis yang kondisi memprihatinkan, melihat orang yang sekarat, mendengar lagu sedikit melankolik, menonton iklan tentang orang tua, atau membaca novel romantis, air mata saya dapat dipastikan akan jatuh beruraian, cengeng bukan? Ha ha, tapi itulah pribadi introvert. Semua sisi hidup dipikirkan dan dirasakan terlalu mendalam, hingga ada istilah "Tiap jengkal tubuh terpahat dari hati." 

Introvert dikenal sebagai individu yang tak bisa berkelompok, ataupun menghabiskan waktu lama dengan lebih dari satu atau dua orang. Hal itu kerap saya alami saat berada di lingkungan kegiatan maupun pergaulan. Hal ini karena pribadi introvert lebih suka fokus dalam pembicaraan secara personal. Begitu juga dalam hubungan percintaan, fokus kepada satu pribadi menjadi hal yang wajar bagi pribadi introvert. 

Energi kaum introvert sudah cukup tersita untuk dirinya sendiri dan pasangannya. Untuk berfokus pada individu ke tiga, rasanya terlalu menguras tenaga dan pikiran. Maka, setia adalah opsi utama bagi introvert, tentu juga karena faktor perasaan. Bukan berarti pribadi extrovert ataupun ambievert tidak setia loh.


Pribadi intovert dikenal sebagai penghemat bahasa lisan, sehingga sekali bersuara biasanya mempunyai arti yang dalam. Demikian juga saat memakai bahasa tulis, bisa dipastikan mempunyai makna berlapis dan dalam.
Share:

Nektu Untuk Aceh Timur

​Nektu, nama lain dari Ridwan Abu Bakar, nama lainnya tersebut lebih dikenal oleh masyarakat Aceh Timur dibanding dengan nama pemberian orang tuanya. Bagi orang yang tidak tau dan mengenal Nektu, ketika orang mendengar dan disebut namanya pasti beranggapan orang tua atau orang dituakan, karena memang panggilan Nektu adalah orang yang dituakan dan biasanya adalah lansia. Sesungguhnya Nektu ini bukanlah orang tua, ia masih lumayan muda, nama Nektu adalah panggilan ketika ia menjadi GAM dulunya, yang semua mantan GAM ketika itu punya nama sandi atau samaran dan melekat hingga sekarang.

Nektu, ia telah dua kali dipercayakan mewakili masyarakat Aceh Timur di DPR Aceh, kemudian ia saat ini mencalonkan diri sebagai Bupati melalui jalur Independent, mantan GAM dan Mantan kader Partai Aceh ini memilih jalur independent karena tak diberikan kesempatan oleh partainya untuk maju dipilkada setelah sebelumnya juga gagal menjadi Ketua DPR Aceh yang sempat membuat heboh publik karena aksinya yang menentang keputusan partai Aceh itu diruang paripurna DPR Aceh. Pasca kejadian tersebut, hubungannya dengan partai Aceh memang terlihat lebih renggang, bahkan dalam pilkada kali ini ia akan menentang calon incumbent dari partai Aceh dan diprediksi hanya punya 2 petarung yaitu Nektu (Independent) dan Rocky (Partai Aceh) yang memiliki nama resmi Hasballah M Thaib. Meski ia Nektu terdaftar sebagai calon independent, namun ada juga partai politik yang memilih mendukung dirinya yaitu seperti partai NasDem yang kini telah memantapkan dukungannya untuk Nektu. (Baca : Potensi Aceh Timur & Kemakmuran Rakyat)

Lebaran Idul Fitri 1437H beberapa bulan lalu, saya ikut mudik kekampung nenek, yang memang aslinya adalah orang Aceh Timur dan saya pun pernah menghabiskan masa kecil sekitar 13tahun di Aceh Timur. Nama Nektu dikampung saya lebih familiar dibandingkan nama Rocky, nama Nektu bukan saja dikenal dikalangan anak muda, tapi orang tua bahkan anak anak kecil sudah sangat mengenal nama Nektu. Nektu dikenal sebagai orang yang punya kepedulian besar terhadap orang disekitarnya, ia dikenal sebagai pria dermawan, sehingga orang orang disekelilingnya tetap setia dan berpihak kepadanya.

Meski Nektu tidak lahir dikampung nenek saya, tapi ia pernah tinggal dan besar dikampung tersebut dan tepatnya disamping rumah nenek saya, sehingga namanya sangat familiar dikampung itu. Saya sendiri tidak mengenal Nektu, bahkan tidak pernah sekalipun berbicara dan bertatap muka dengannya, tapi ketika saya pulang kekampung nenek, nama Nektu selalu saja dibicarakan, bahkan para orang-orang tua acap kali menanyakan informasinya kepada saya, apalagi pasca kejadian ia mengamuk di DPR, yang dimana banyak masyarakat Aceh Timur mendukung sikap dia kala itu.

Nektu memang menjadi lawan menaktukan bagi Rocky, selain Nektu yang punya pasukan setia, militan dan siap bekerja keras memenangkan Nektu, ia juga cukup dikenal luas di Aceh Timur, mulai dari anak muda, orang tua, hingga anak anak dan sepertinya era kekuasaan Rocky sudah hilang and welcome to new Aceh Timur.
Share:

Belajar Pada Cerita Film Van Der Wijk

Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk merupakan film yang diadaptasi dari novel berjudul yang sama, karangan Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau dikenal dengan nama Buya Hamka, Novel yang sudah dirilis sejak tahun 1938 tersebut baru kemudian di film kan pada tahun 2013 dengan disutradai oleh Sunil Soraya. Film maupun novel yang mengisahkan tentang perbedaan latar belakang social yang menyebabkan kemudian menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih hingga kematian menjemput Hayati dengan tenggelamnya kapal Van Der Wijk yang sedang berlayar dari Surabaya menuju Padang tanah kelahiran Hayati. Film yang dibintangi oleh Pevita (Hayati), Herjunot Ali (Zainuddin), Reza Rahadian (Azis) dan Randy Danistha (Muluk) merupakan karya termahal yang pernah diproduksi oleh Soraya Intercine Films, apalagi properti-properti yang digunakan merupakan produksi lama dan proses penciptaan film ini menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun, tentu saja ini merupakan karya brilliant yang membuat penonton terlarut dalam cerita haru dalam film ini.

Film yang dialog dan penuturan kata logat minang dan Makassar membuat film ini sangat dinikmati oleh para penonton, apalagi budaya minang yang dianggap dikenal sebagai budaya yang suka melantukan kata-kata pantun dan gurindam. Meskipun kisah yang ada dalam film tersebut merupakan karya fiksi, tapi ternyata cerita kapal Van Der Wijk yang diceritakan dalam kisah film tersebut merupakan kenyataan, kapal tersebut memang benar tenggelam ditahun 1936 dipesisir perairan Lamongan Jawa Timur, bahkan di Desa Brondong, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, ada sebuah monumen bersejarah bernama Monumen Van Der Wijck.  Monumen tersebut dibangun pada tahun 1936 sebagai tanda terima kasih masyarakat Belanda kepada para nelayan yang telah banyak membantu saat kapal yang namanya diambil dari nama Gurbenur Jenderal Hidia–Belanda itu tenggelam, tapi tenggelamnya kapal tersebut bukan seperti dalam cerita film tersebut yang perjalanan Surabaya menuju Padang, tapi tenggelamnya kapal tersebut saat dari Bali menuju ke Semarang.

Zainuddin adalah pria kelahiran Makassar yang bapaknya berasal dari Padang Panjang sedangkan ibunya berasal dari Bugis Makassar, perkawinan beda suku inilah yang menjadi masalah utamanya sehingga ia di Makassar dianggap orang Minang karena disana bernasabkan garis keturunan Bapak, sedangkan di Minang malah kebalikannya ia dianggap orang Bugis, karena di Minang bernasabkan garis keturunan Ibu, oleh sebab itu para pemuka adat menganggapnya ia tidak lagi memiliki pertalian darah dengan minang. Oleh sebab itu, dua kebudayaan berbeda yang membuat ia terhempas asal usulnya. Kepulangannya kekampung Bapaknya menjadi cikal bakal pertemuannya dengan Hayati, seorang gadis yatim piatu berketurunan bangsawan yang di asuh oleh pamannya, kedekatan Hayati dan Zainuddin lama kelamaan tercium oleh keluarga Hayati, bahkan orang orang kampung mulai membicarakan kedekatan dua remaja ini, Zainuddin yang dikenal sebagai pria baik dan ramah ini akhirnya terpaksa meninggalkan kampung tersebut dan pergi untuk kembali menimba ilmu agama ditempat lain.

Sesudah itu, Hayati yang dulunya pernah bersumpah kepada Zainuddin bahwa tidak akan pernah meninggalkannya meski dalam keadaan apapun, bahkan selembar selendang menjadi buah tangan yang diberikan oleh Hayati kepada Zainuddin atas permintaannya, akhirnya pada waktu tiba, datanglah dua buah lamaran untuk Hayati, yang pertama datang dari Zainuddin dan yang kedua datang dari Azis. Sebagaimana adat minang, yang memusyawarah untuk menghasilkan mufakat, keputusan yang diambil adalah menolak lamaran Zainuddin karena dianggap tidak berbudaya dan tidak pantas untuk Hayati dan menerima lamaran Azis, laki laki kaya dan terpandang serta berketurunan asli minang.

Mendengar kabar bahwa Hayati akan segera menikah dengan Azis dan menghianati janjinya, ia putus asa dan mengalami depresi berat, teman sekamarnya Muluk yang melihat kondisi Zainuddin berbulan bulan seperti itu memberikannya semangat, bahkan Muluk menawarkan Zainuddin untuk merantau ketanah Jawa, agar bisa berkarir dan melawan keterpurukan cintanya. Sampai ditanah Jawa, Zainuddin bekerja keras membuka lembaran baru hidupnya yang terus dan selalu ditemani sahabatnya Muluk. Sampai pada kemudian ia menjadi penulis terkenal dengan menerbitkan novel dengan karya termansyur dan diterima oleh seluruh komponen masyarakat, dengan begitu ia menjadi pria yang sukses dan kaya raya, bahkan mampu membeli rumah bagai istana luasnya. Sedangkan Hayati, masih berkutik dalam kehidupan yang sengsara, memiliki suami Azis yang berwatak jahat dan suka memukul, main judi dan pembohong, bahkan ia kerap kali menyebutkan Hayati sebagai perempuan kampungan.

Tetapi suatu peristiwa yang kemudian mempertemukan mereka kembali. Zainuddin yang berpindah ke Surabaya dengan kehidupan mewah dan megahnya, sedangkan Azis dan Hayati juga berpindah ke Surabaya dengan alasan pekerjaannya. Suatu acara yang dibuat oleh Zainuddin di istananya dengan mengundang seluruh perantau keturunan Sumatera, disanalah Azis mendapatkan undangan tersebut yang kemudian membawa Hayati ikut serta bersamanya menghadiri undangan tersebut. Pertemuan Zainuddin, Hayati dan Azis telah dalam kondisi yang berbeda, saat itu suami Hayati mulai bermasalah dengan perekonomiannya yang kemudian meminta bantuan kepada Zainuddin, meskipun Azis pernah memperlakukan Zainuddin dengan jahat, Zainuddin tetap dengan kedermawanannya rela membantu perekonomian Azis yang bahkan sampai harus tinggal dirumah Zainuddin berbulan bulan.

Setelah sekian lama Azis dan Hayati menetap dirumah Zainuddin, akhirnya Azis memutuskan merantau kekota lain untuk mencari pekerjaan, tapi dengan meminta izin bahwa Hayati untuk tetap diberikan tinggal dirumah Zainudin untuk sementara waktu sebelum ia mendapatkan pekerjaan. Ternyata kepergian Azis saat itu adalah pertemuan terakhir kali antara mereka bertiga, kemudian Azis mengirim surat kepada Zainuddin  dan Hayati, kepada Zainuddin surat tersebut berisikan dengan meminta menjaga Hayati dan mengembalikan kepadanya, sedangkan surat kepada Hayati berisikan pemutusan hubungan suami istri atau talak kepada Hayati dan setelah itu Azis memutuskan bunuh diri.

Berbulan bulan usai kematian suaminya, Hayati mencoba berbicara kepada Zainuddin tentang perasaannya, lalu Zainuddin yang sudah lama dalam penderitaan batinnya menolak untuk kembali menerima Hayati, bahkan ia berujar “jangan mau ditumpang hidup saya yang tak berketurunan, tanah minangkabau beradat” dan yang lebih perih ungkapan yang diterima oleh Hayati adalah “Tidak, pantang pisang berbuah dua kali, lelaki takkan sentuh sisa orang”. Dengan perasaan dan hati yang sakit keduanya kemudian berpisah, lalu kemudian Hayati berangkat ke Padang dengan kapal Van Der Wijk, namun sebelum itu Hayati sempat memberikan surat kepada Zainuddin yang ia titipkan kepada Muluk sebelum berangkat ke Padang. Surat yang berisikan perasaan Hayati, cintanya yang tak pernah berubah sejak 3 tahun yang lalu, penyesalan Zainuddin pun akhirnya terlambat, Hayati telah berangkat dengan kapal yang kemudian menyebabkan kapal tersebut karam.
Share:

Potensi Aceh Timur dan Kemakmuran Rakyat

Kabupaten Aceh Timur Memiliki Luas wilayah sebesar 6.040,60 Km², secara administratif Kabupaten Aceh Timur terdiri dari 24 Kecamatan, 54 Mukim, 513 Gampong dan 1596 Dusun, menurut data 2010 penduduk Aceh Timur berjumlah 360.475 jiwa. Secara umum Kabupaten Aceh Timur merupakan dataran rendah, perbukitan, sebagian berawa-rawa dan hutan mangrove, dengan ketinggian berada 0–308 m di atas permukaan laut. Sebagai penunjang kegiatan perekonomian, di Kabupaten ini Tersedia 1 Pelabuhan Industri, yaitu Pelabuhan Idi. Sebelumnya ibukota Kabupaten Aceh Timur adalah Kota Langsa tetapi dengan disetujui UU No. 3 Tahun 2001, ibukota Kabupaten Aceh Timur dipindahkan ke Idi. 

Terkait dengan pembangunan ekonomi, ada banyak potensi yang dimiliki oleh Aceh Timur yang jika digarap dan dikelola dengan baik dan benar maka akan mendatangkan kesejahteraan bagi penduduknya, ada banyak sector yang sangat layak dan menggiurkan para investor, diantaranya adalah terkait potensi pertanian, diantaranya lahan sawah mencapai 35.065 Ha, kedelai sekitar 15.000 Ha, jagung sekitar 15.000 Ha, dan ada juga tanaman jenis lainnya seperti kacang, ubi dan lainnya. Kemudian terkait dengan sector perkebunan, sector ini juga layak dilirik oleh berbagai Investor di Aceh timur. Secara keseluruhan luas perkebunan Aceh Timur mencapai 151.298,49 Ha, lahan tersebut sekarang dikelola oleh Perusahaan Nasional dan BUMN seluas 80. 715,91 Ha.  Hasil perkebunan di Aceh Timur dalam skala besar yaitu Kelapa Sawit, karet, kakao, kelapa, dan pinang, untuk perkebunan kelapa sawit yang di kelola masyarakat 24.297,50 Ha, untuk perkebunan karet dengan luas 22.019,50 Ha, sedangkan perkebunan Kakao atau Coklat luas lahan 12.725,50 Ha.

Setelah itu, potensi yang tak kalah menariknya Perikanan dan Kelautan, dibidang perikanan Aceh Timur memiliki tambak seluas 17.837 Ha, selain itu, terdapat usaha garam rakyat atau yang sering di kenal dengan petani garam di tahun 2015 jumlah petani garam di Aceh Timur mencapai 242 Orang yang memiliki luas lahan 18.134 Ha. Selanjutnya Aceh Timur berbatasan langsung dengan Selat Malaka, sehingga kaya akan hasil lautnya. Pelabuhan perikanan pantai Kuala Idi yang merupakan penghasil ikan terbesar di seluruh Aceh ini menjadi pusatnya aktifitas bagi para nelayan di Aceh Timur. Berdasarkan data yang di himpun dari Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh Timur pada tahun 2014 lalu jumlah nelayan mencapai 13.216 orang, sementara jumlah Armada tangkap ikan mencapai 2.700 Unit dan hasil tangkapan laut mencapai 21.807,66 Ton/Tahun.

Sector yang paling menggiurkan adalah Minyak dan Gas, potensi Alam ini menjadi primadona dibelahan dunia manapun, para kolongmerat biasanya akan mengincar dimanapun letak dan posisi sumber daya alam ini, selain menjanjikan dan jangka panjang, juga menggiurkan dalam hal keuntungannya. Aceh Timur saat ini memiliki banyak potensi Minyak dan Gas yang sebagian mulai digarap salah satunya adalah oleh PT. Medco E&P Malaka.

Terlepas dari berbagai kekayaan sumber daya alam yang dimiliki oleh Aceh Timur, kesejahteraan rakyat harus menjadi dasar dan tujuan yang harus di prioritaskan dalam menggarap kekayaan tersebut. Dalam konteks pemanfaatan sumber daya alam tersebut, Aceh harus belajar pada sejarah dan pengalaman PT. Arun, dimana kekayaannya dan julukan petro dolar yang pernah dialamatkan kepada Aceh Utara hanya mengisakan kemiskinan bagi wilayah sekitar perusahaan raksasa tersebut, bahkan disaat sumber kekayaan tersebut habis digarap, Aceh Utara hanya dikenal sebagai daerah termiskin se Aceh.

Dari data BPS tahun 2014, penduduk miskin di Aceh Timur mencapai 63.000 jiwa, dengan segala potensi sumber daya alam yang dimiliki oleh kabupaten ini tak juga mampu mensejahterakan rakyatnya, jika pun kita berkunjung kekabupaten ini maka pemandangan infrastuktur seperti jalan yang tak layak, pantai yang abrasi, rumah tak layak huni sudah menjadi pemandangan biasa, bahkan perihal perguruan tinggi Universitas pun tak dimiliki oleh kabupaten ini hingga sekarang, miris memang.
Share:

Membaca Kemampuan Tarmizi A Karim

Tarmizi A Karim, calon Gubernur Aceh yang saat ini tidak terdaftar sebagai kader partai politik manapun, tapi ia memiliki kedekatan dengan berbagai tokoh sentral partai politik besar di Indonesia, namanya tidak asing lagi bagi masyarakat Aceh, ia pernah menjadi Bupati Aceh Utara dan Pejabat Gubernur Aceh, kualitas intelektualnya tidak diragukan lagi, dari kemampuannya tersebutlah ia dipercayakan menduduki berbagai jabatan strategi di Jakarta dan bahkan putra Aceh Utara ini termasuk dalam kategori birokrat andalan pemerintah pusat, terbukti ia berulang kali mendapat tugas menjadi pejabat Gubernur diberbagai daerah yang merupakan jabatan paling jarang didapat oleh orang lain, sehingga kepulangannya ke Aceh untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh telah meresahkan calon Gubernur lain.

Maka tak aneh jika kita melihat lawan politiknya mencoba membangun isu negatif terhadap Tarmizi A Karim, salah satunya membangun image bahwa Tarmizi A Karim tidak akan didukung oleh partai politik dan kemudian jika didukung maka tidak sepenuhnya dukungan itu diberikan, sehingga jadi pertanyaan kita, adakah partai politik, terutama partai nasional yang didalamnya berisikan orang-orang ahli dalam bidang tersebut hanya memberikan dukungan tanpa pertimbangan matang, baik tentang kualitas maupun peluang seorang Tarmizi A Karim untuk meraih kursi Gubernur.

Awal mula kepulangannya, ia bahkan dengan percaya diri mengatakan bahwa akan diusung oleh berbagai partai nasional nantinya dalam pilkada 2017. Akibat dari klaim tersebut orang-orang menyindirnya, bahkan ada yang mengatakan tidak tahu malu serta berbagai tuduhan-tuduhan lainnya yang orang alamatkan kepada Tarmizi A Karim, tapi meski begitu ia tetap tidak peduli apa yang orang katakan terhadap dia, bahkan ia berulang kali menyebutkan bahwa ia pasti naik dengan partai politik dan pasti didukung, berkat kepercayaan dirinya itu pula, tim suksesnya semakin semangat dan percaya diri dalam bekerja. Faktanya, klaim-klaim Tarmizi A Karim tersebut akhirnya membuahkan hasil, kini ia diusung oleh Partai NasDem, PPP, PKPI dan Partai Golkar yang semuanya berjumlah 24 kursi Legislatif Aceh dan itu diperkirakan akan terus bertambah dukungannya seperti Partai Hanura dan PAN, jumlah tersebut adalah koalisi kedua terbesar setelah pasangan Muzakir Manaf - TA Khalid, yang mayoritas kursi dari Partai Aceh.

Siapa yang menyangka bahwa seorang Tarmizi A Karim bakal mendapatkan dukungan partai politik sebesar itu, sedangkan ia tidak terikat sebagai kader partai politik manapun hingga saat ini. Bukankah mulanya banyak orang yang pesimis terhadap kemampuan ia mendapatkan dukungan dari berbagai partai politik, disitulah tahap pertama dalam Pilkada ini seorang Tarmizi A Karim membuktikan kemampuan dirinya, bahkan ia mampu menunjukkan kemampuan politiknya kepada rakyat dan lawannya sebelum ia bertarung, kemampuan yang ia tunjukkan tersebut adalah untuk membuktikan bahwa ia layak dipilih dan layak memimpin Aceh, meski ia seorang birokrat, ia lihai dalam berpolitik, yang nantinya sangat dibutuhkan ketika ia sudah menjabat sebagai Gubernur Aceh.

Jika kemampuan intelektualnya tidak diragukan lagi oleh masyarakat, kemudian kemampuan politiknya mampu ia buktikan dengan merangkul banyak partai politik bahkan menjadi koalisi kedua terbesar, Pengalaman dan karirnya sangat gemilang, lalu kemampuan apalagi yang ia tidak miliki ?, Tarmizi A Karim memiliki segalanya, ia adalah calon Gubernur Aceh yang dianggap paling perfek untuk memimpin Aceh 5 tahun kedepan dibanding calon-calon lainnya yang muncul saat ini, apalagi masa-masa Aceh seperti ini yang sangat membutuhkan sosok pemimpin berkualitas untuk menahkodai rakyat Aceh, agar bisa keluar dari jeratan kemiskinan, pengangguran, kebodohan dan patologi sosial seperti yang ia sebutkan dalam sebuah kesempatan beberapa bulan lalu.

Jika itu dianggap tidak cukup bagi rakyat Aceh untuk menjadi seorang pemimpin, karena sebagai daerah Syariat Islam dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan seharusnya seorang pemimpin harus mengerti dan sangat memahami Agama. Seorang Tarmizi A Karim adalah merupakan kandidat doktor (S3) Ilmu Tafsir Al Quran yang mungkin menjadi putra Aceh pertama yang menyandang gelar tersebut. Gelar tersebut membuktikan bahwa ia sangat paham tentang Agamanya dan memiliki pengetahuan akal hal itu.

Sebenarnya, saat inilah waktu untuk Aceh mengembalikan marwahnya, sebagai negeri bermartabat, yang pemimpinnya seorang berpengetahuan, paham Agama serta kaya dengan pengalaman. Pantaskah kita menyia-nyiakan kesempatan ini?.
Share:

Perlukah Cuti 6 Bulan PNS Melahirkan ?

Baru baru ini Gubernur Aceh mengeluarkan Peraturan Gubernur Aceh Nomor 49 Tahun 2016 Tentang Pemberian ASI Ekslusif yang cukup mengejutkan sebagian kalangan, tapi juga disambut gembira oleh kalangan yang berdampak langsung atas keluarnya Pergub tersebut, bagi para perempuan ASN, Pergub tersebut tentu sangat menguntungkan karena salah satu isinya adalah dapat cuti 1 bulan sebelum melahirkan dan 6 bulan setelah melahirkan, tapi perlukan ASN melahirkan dapat cuti 6 bulan sebagaimana yang tertuang dalam Pergub tersebut, ini yang kemudian ditanggapi pro dan kontra oleh publik.

Pakar Hukum Unsyiah Mawardi Ismail menyebutkan bahwa urusan libur PNS bukanlah kewenangan Gubernur. Karena, regulasi ini bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi yaitu, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24 Tahun 1976 Tentang Cuti bagi PNS, dan Pasal 118 Undang-Undang Pemerintah Aceh (UUPA) Nomor 11 Tahun 2006.  Selain itu Mawardi Ismail menyatakan Pergub tentang cuti bersalin selain bertentangan dengan regulasi yang lebih tinggi juga bertentangan dengan Pasal 118 UU Pemerintahan Aceh, di sana dijelaskan PNS adalah satu kesatuan manajemen pegawai negeri sipil secara nasional, yang manajemennya meliputi, menetapkan formasi pengadaan, penganggkatan, pemberhentian, pemindahan, penetapan pensiun, gaji tunjangan, hak dan kewajiban PNS. 

Sedangkan Akademisi Hukum Tata Negara Universitas Abulyatama  Wiradmadinata mengatakan bahwa pergub tersebut batal demi hukum. Karena, regulasi tersebut melanggarkan kewenangan hukum yang lebih tinggi yaitu Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24 Tahun 1976 Tentang Cuti PNS. Menurutnya, meski Aceh diberikan kekhususan oleh Pemerintah Pusat, namun Aceh tidak boleh semena-mena, harus dilihat sampai sejauh mana otoritas atau kewenangan Aceh dalam masalah kepegawaian. Lebih lanjut ia menjelaskan dalam konteks otonomi khusus, yang bisa diatur dengan qanun dalam masalah kepegawaian apabila itu menyangkut pegawai Aceh dan anggaran APBA.

Sedangkan publik lainnya banyak pula yang menilai bahwa keluarnya Pergub tersebut berhubungan dengan semakin mendekatnya Pilkada yang dimana sang Gubernur juga kembali mencalonkan diri kembali. Gubernur Aceh sedang mencari simpati (cari muka) para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang jumlah PNS nya mencapai 167.073 orang yang terdiri dari 75.060 Laki-Laki dan 92.013 Perempuan.

Jika dilihat dari beban kerja para ASN selama ini yang masih tergolong sangat rendah dan dengan ditambahnya lagi libur-libur, membuat kualitas pelayanan publik semakin memburuk. Menurut catatan Ombudsman, pelayanan publik di Aceh masih belum baik, hal ini didasarkan pada banyaknya pengaduan yang masuk ke Ombudsman RI Perwakilan Aceh dan untuk jenis maladministrasi (perilaku buruk) yang dilaporkan, dugaan penyimpangan prosedur berada pada peringkat teratas. Hal tersebut menegaskan wajah pelayanan birokrasi di Aceh belum baik. Masih banyak yang suka menyimpang dan menunda-nunda urusan, serta tidak melayani dengan baik dan prosedural.

Gubernur Aceh merasa bahwa pemberian ASI eksklusif selama ini belum optimal, termasuk bagi PNS. Karena kesibukannya, masih ada masyarakat yang mengganti ASI dengan susu formula untuk diberikan kepada bayinya. Itulah sebabnya, di dalam salah satu pasal Pergub yang diteken pada 12 Agustus 2016 itu, ditegaskan, “Cuti melahirkan bagi pekerja perempuan diberikan selama 180 hari (6 bulan) setelah waktu melahirkan.” Sang suami pun dapat jatah cuti, yakni selama sepekan sebelum sang istri melahirkan dan sepekan sesudahnya.

Jika Gubernur Aceh mengeluarkan Pergub tersebut semata-mata untuk menyelamatkan generasi Aceh, lalu apa kebijakannya terhadap wanita hamil non PNS, karena mereka jelas lebih layak dikhawatirkan mengingat persentase prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balita di Aceh mencapai 26,3 persen dan mendapatkan predikat tertinggi di Pulau Sumatera dan masih jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 19,6 persen, sedangkan kasus tersebut paling banyak dialami oleh masyarakat miskin yang perekonomiannya tidak normal, berbeda dengan para ASN yang perekonomiannya jauh lebih mapan.

Padahal jika hanya untuk memaksimalkan pemberian ASI kepada bayi, banyak cara lain yang dapat dilakukan tanpa harus libur penuh selama 6 bulan bagi ASN, seperti mengatur jam kerja bagi wanita baru melahirkan, atau dengan menyediakan fasilitas layak bayi di kantor-kantor pemerintahan. karena libur panjang tersebut bukan hanya merugikan masyarakat, tapi juga merugikan keuangan Negara.
Share:

Irwan Djohan Tidak Maju, Siapa Bermain ?

​Kalangan muda Banda Aceh sangat mendorong nama Irwan Djohan masuk dalam bursa pencalonan untuk Walikota di Pilkada kali ini, tapi harapan besar para pendukungnya kandas usai Partai NasDem tempat ia selama ini bernaung memutuskan mengusung pasangan Aminullah Usman-Zainal Arifin untuk Pilkada Banda Aceh kali ini. Setelah media Modusaceh.co memberitakan tentang tidak diusungnya Irwan Djohan dalam Pilkada, terjadi respon pro kontra baik internal maupun eksternal, isu yang berkembang juga dua arah, yang pertama tidak siapnya Irwan Djohan maju karena dengan kemungkinan-kemungkinan resiko, kedua adalah isu dijegal dari internal partai.

Kedua isu tersebut pernah hangat dibicarakan publik pasca Irwan Djohan tidak mendaftar dalam bursa calon Walikota di partainya yang beberapa bulan lalu pernah menerima pendaftaran terbuka bagi para masyarakat yang ingin mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Namun kabar itu dibantah keras oleh Irwan Djohan melalui akun facebook resminya tanggal 30 Juni 2016, "Jika ada pengamat politik manapun yang menduga bahwa Partai NasDem tidak merestuinya maju dalam Pilkada Walikota, itu dugaan yang salah besar, apalagi jika ada yang menuding bahwa Partai NasDem menjegal saya, itu sungguh jauh panggang dari api". Lebih lanjut bahkan Irwan Djohan menyebutkan bahwa Saat ini, semua keputusan berada ditangannya sendiri. Baca : (Ragu Ragu Irwan Djohan Merebut Kursi Walikota)

Pernyataan yang akhirnya keluarnya keputusuan akhir tersebut tentu tidak akan memuaskan para pihak yang memang benar-benar mengharapkan Irwan Djohan ikut dalam bursa Pilkada ditahun ini, akhirnya dua isu tersebut kembali terhembus dan akan terus berkembang dinamikanya.

Jika dilihat dari perspektif isu pertama adalah tentang tidak siapnya Irwan Djohan maju, lalu apa yang membuat ia tidak siap, padahal mesin Partai NasDem yang ia andalkan untuk Kota Banda Aceh sangat baik elektabilitasnya di mata publik warga Banda Aceh, kemudian elektabilitas personal Irwan Djohan yang juga sangat baik bahkan didorong oleh publik untuk maju sebagai alternatif terhadap kejenuhan pemimpin saat ini, apalagi ide-ide baru yang ditawarkan oleh lulusan Arsitek itu direspon sangat baik oleh warga Banda Aceh dan dianggap sebagai sosok yang mampu menggantikan kemampuan Almarhum Mawardy Nurdin dalam membangun Banda Aceh, tentang kapasitas yang tak diragukan lagi oleh publik. Ia padahal memiliki segalanya untuk maju, bahkan pasca pasangan Illiza Saaduddin Djamal - Farid Nyak Umar mendeklarasikan diri, maka pasangan yang paling ditunggu oleh warga Banda Aceh untuk mendeklarasikan diri adalah Teuku Irwan Djohan. Baca : (Menariknya Pilkada Banda Aceh, Wakil Jadi Penentu)

Kemudian jika disinggung dari perspektif dijegal oleh partai yang juga menjadi isu hangat saat ini, maka dari segi apanya yang membuat Partai NasDem menguntungkan karena telah menjegal kader potensialnya untuk maju dalam Pilkada, bukankah semua partai pasti mempersiapkan kader-kadernya untuk mau bertarung dalam setiap ajang politik. Lalu dari perspektif mana publik menilai Irwan Djohan dijegal, padahal NasDem juga mempersiapkan karir Irwan Djohan termasuk memberinya Jabatan Wakil Ketua DPR. Bahkan dalam banyak kesempatan Ketua Partai NasDem Aceh Zaini Djalil menyatakan sangat mendukung dan mendorong Irwan Djohan untuk maju, karena memang faktanya Irwan Djohan merupakan salah satu kader terbaik yang dimiliki oleh Partai NasDem dengan disiapkannya jauh-jauh hari untuk bertarung dalam Pilkada 2017. Bahkan lagi, baru beberapa hari yang lalu Ketua NasDem Aceh memastikan bahwa Irwan Djohan akan maju dalam pilkada ini.

Faktanya, keputusan terakhir yang di ambil oleh Partai NasDem adalah mengusung pasangan Aminullah Usman - Zainal Arifin yang kemudian Irwan Djohan mengingtruksikan kader kader NasDem untuk memenangkan pasangan tersebut, artinya jika dilihat dari fakta-fakta sebelumnya memang terjadi gejolak politik dalam waktu yang relatif singkat atas keputusan itu.

Namun saya berpendapat, tidak majunya Irwan Djohan dalam pilkada kali ini adalah buah dari pertimbangan politiknya bersama Aminullah Usman yaitu "Melawan Illiza". Selama ini publik paham betul bahwa calon terkuat yang mampu merebut kursi Walikota adalah Illiza Saaduddin Djamal, Aminullah Usman dan Teuku Irwan Djohan, tapi dalam berbagai survei nama sang incumbent Illiza Saaduddin Djamal masih mengisi posisi teratas. Jika Aminullah dan Irwan Djohan sama sama maju maka Illiza dapat dengan mudah memenangkan pertarungan tersebut, bahkan saya meyakini Illiza sangat menginginkan Irwan Djohan untuk maju, apalagi calon wakilnya Illiza yang memiliki elektabilitas juga tinggi, tentu menambah kepercayaan diri Illiza untuk memenangkan pertarungan tersebut. Baca : (Bunda Illiza dan Irwan Djohan)

Jika Irwan Djohan ingin memenangkan pertarungan tersebut, ia harus berpasangan atau memilih Wakilnya dengan Aminullah Usman atau Darwati A Gani, karena sosok kedua tersebutlah yang kini mampu menyaingi elektabilitas Illiza dan Wakilnya. Namun seperti Darwati A Gani sudah menyatakan ketidaksediaannya karena Irwandi Yusuf sang suaminya maju dalam Pilkada Gubernur Aceh, sedangkan Aminullah Usman sudah menyatakan komitmentnya dengan PAN dan Zainal Arifin, komitment tersebut bahkan sudah dinyatakan sejak Aminullah belum memiliki partai pengusung, bahkan juga sudah lebih siap bekerja dibanding Irwan Djohan yang belum mempersiapkan apa apa jelang pilkada yang hanya beberapa bulan lagi.

Dari pertimbangan-pertimbangan tersebutlah yang akhirnya membuat Irwan Djohan mengalah dan mendukung komitment Aminullah Usman untuk tetap berpasangan dengan Zainal Arifin. Irwan Djohan meyakini ketidak ikut sertaan dirinya dan berada dipihak Aminullah membuat pertarungan ini jadi seimbang dibanding dirinya dan Aminullah maju secara terpisah.

Tapi publik boleh saja berasumsi, tentu para pihak yang sangat mengharapkan Irwan Djohan maju boleh saja kecewa atas keputusan akhir tersebut, termasuk saya yang mengharapkan adanya calon alternatif yang mampu memberikan warna baru untuk Kota Banda Aceh, namun yang mengetahui kepastiannya tentu hanya pejabat teras Partai NasDem dan Irwan Djohan, tapi jika dilihat dari dinamika yang berkembang saat ini, bila Irwan Djohan dan NasDem tidak mengelola isu ini dengan baik maka akan menjadi kerugian bagi Partai NasDem, yang berdampak terhadap kepercayaan publik terhadap partai ini. Baca : (Irwan Djohan dan Kegelisahan Pendukungnya)
Share:

Mengenal Tarmizi Karim Dan Zaini Djalil

Tarmizi Abdul Karim atau sering disebut Tarmizi Karim, Putra Aceh kelahiran Lhoksukon pada 24 Oktober 1956 ini bisa dikatakan 1 dari sekian banyak putra Aceh yang sukses di Ibu Kota Jakarta. Berbicara tentang pengalaman dan karirnya tidak dapat disepelekan, ia telah banyak mendapatkan posisi penting mulai dari Bupati Aceh Utara, Kepala Bappeda Provinsi Aceh, Wakil Ketua BKPMD, Staf Ahli Mendagri bidang Ekonomi dan Keuangan, Pejabat Gubernur Kalimantan Timur, Kepala Bagian Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Dalam Negeri, Pejabat Gubernur Aceh, Irjen Kemendagri RI, dan Pejabat Gubernur Kalimantan Selatan. Mungkin ia juga satu-satunya Putra terbaik Aceh yang pernah menjadi Pejabat Gubernur sebanyak 3 kali, atau bahkan mungkin satu-satunya di Indonesia, bahkan ia juga satu-satunya Calon Gubernur Aceh yang sedang melanjutkan kuliah pogram doctor (S3).

Segudang pengalaman birokrasi pemerintahan yang ia miliki tentu menjadi bekal untuk sebuah keinginannya yaitu “Kerja Membangun Aceh”. Keinginannya untuk pulang ke Aceh dan mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh menjadi pertanyaan penting yang selama ini timbul di masyarakat, apalagi melihat karirnya di Ibu Kota Jakarta saat ini terbilang cukup gemilang, bahkan bukankah selama ini kita orang Aceh berlomba-lomba untuk berkarir di Ibu Kota, tapi mengapa se orang Tarmizi malah memutuskan kembali ke Aceh ?.

Bisa jadi, itulah keinginan terakhir seorang Tarmizi yaitu “Kerja Membangun Aceh”. Baginya mungkin betapapun gemilangnya karir dirinya ia tetap merasa tak cukup jika dirinya belum bekerja membangun Aceh, atas tujuan itulah mungkin ia memutuskan untuk kembali ketanah kelahirannya dan menggunakan segenap kemampuan dan pengalamannya untuk membangun negeri yang ia cintai yaitu Aceh.

Jika ia mengejar kekuasaan, jika ia mengejar karir, jika ia mengejar kenyamanan, maka Ibu Kota Jakarta telah menyediakan tempat untuknya. Kita mengetahui betul bahwa posisi Tarmizi Karim di Ibu Kota Jakarta memiliki apa yang dia inginkan, tapi yang diputuskan oleh seorang Tarmizi Karim hari ini adalah pulang ke Aceh untuk mencalonkan dirinya sebagai Gubernur Aceh demi sebuah keinginannya dan pengabdiannya untuk Aceh.

Se orang Tarmizi, dengan segudang pengalamannya paham betul tentang kondisi Aceh pasca MoU Helsinky, apalagi pengalamannya di Kemendagri yang selalu berurusan dengan daerah. Trilyunan rupiah anggaran setiap tahunnya tapi tidak mampu mensejahterakan Aceh, bahkan APBA kita lebih besar dari pada Sumatera Utara, tapi indeks kemiskinan malah berada paling bawah sesumatera, 11 tahun perdamaian, trilyunan rupiah dihabiskan tiap tahun dengan bantuan pusat tapi tak mampu membawa masyarakat Aceh bangkit dan mencapai kesejahteraan,  inilah yang menjadi alasan kuat ia Tarmizi sudah saatnya menggunakan kemampuan dan pengalamannya untuk Aceh agar tidak mengalami keterpurukan yang lebih parah lagi.

**
Lalu kemudian Zaini Djalil, ia adalah Ketua Partai NasDem Aceh dan juga sekaligus Advokat senior di Aceh. Pria kelahiran 3 Agustus 1968 ini bukanlah pendatang baru di perpolitikan Aceh dan pernah juga menjadi anggota DPR Aceh, pria murah senyum ini dikenal sebagai orang yang sangat ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja.  Kesuksesan NasDem di Aceh yang ia nahkodai menjadi sebuah bukti bagi dirinya bahwa ia adalah sosok yang mampu dan memiliki kapasitas untuk memimpin Aceh, atas dasar itu pula Surya Paloh Ketua Umum Partai NasDem mengutuskan Zaini Djalil untuk mendampingi Tarmizi Karim sebagai Calon Wakil Gubernur Aceh.

Pengalamannya tentang hukum dipandang akan mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang belum terlaksana dengan baik di Aceh seperti penjanjian MoU Helsinky dan UUPA. Kemudian kedekatannya dengan Surya Paloh juga menjadi modal untuk membangun hubungan baik dengan pemerintah pusat, karena Surya Paloh selama ini dikenal sebagai politisi yang sangat dekat dengan pemerintah pusat dan begitu pula dengan Tarmizi Karim.

Aceh butuh pemimpin yang cerdas agar mampu mengambil keputusan yang benar dan pembangunan yang tepat sasaran, Aceh butuh pemimpin yang mengerti hukum agar persoalan-persoalan aturan-aturan hukum di Aceh terselesaikan secepatnya di Aceh, mengingat perjanjian MoU Helsinky sudah 11 tahun lamanya dan persoalan aturan hukum terkait kewenangan Aceh malah belum sepenuhnya terpenuhi dan pasangan Tarmizi Karim dan Zaini Djalil merupakan kombinasi yang ideal untuk menjawab berbagai persoalan yang dialami oleh Aceh selama ini.


Sudah waktunya rakyat Aceh bangun dari tidurnya dan melihat dengan mata hati, sampai kapan kita terbelenggu dengan berbagai problematika yang tak terselesaikan di Aceh hanya karena memilih yang bukan ahlinya.
Share:

Catatan Doto Manusia & Pria Brewokan

​Suatu hari ditahun 2012, hampir diseluruh penjuru Aceh, orang orang pergi berkumpul di Banda Aceh, tepatnya disebuah lapangan bola club yang dulunya pernah perkasa di Indonesia. Orang orang yang dominannya berbaju merah putih dan garis hitam itu bersorak gegap gempita bak pulang dan menang dari medan perang, sehingga kepulangannya pun meninggalkan sampah dimana mana dan tak diprotes oleh warga Kota Banda Aceh. Dalam kerumunan sorak-sorakan itu, seorang pria hitam manis, brewokan dan tubuhnya yang tegap terlihat gagah perkasa membuat banyak hati inong-inong Aceh rela dipersunting olehnya untuk yang kesekian.

Suara pria itu dapat menghipnotis 52% masyarakat Aceh dan kata-kata yang paling lantang ia keluarkan dilapangan itu adalah "Kalinyoe harus tapileh doto (dokter) yang dapat menyembuhkan rakyat Aceh, yaitu doto manusia, bek yang lage kana nyan doto hewan". Sindiran pedas itu sangat dipahami oleh masyarakat Aceh, siapa yang ia maksud sebagai doto hewan pun sangat masyarakat Aceh pahami. Maka, sindiran-sindiran itu melekat dan teringat oleh masyarakat Aceh melek politik khususnya.

Pasca kemenangan di 2017 itu, gagap gempita kemeriahan pelan pelan memudar, masyarakat yang mengharapkan untuk segera disembuhkan oleh doto manusia eks luar negeri itu pelan pelan pupus juga, harapan masyarakat mulai sirna. Diam diam, terhembus pula kabar bahwa pria bewokan itu tidak lagi seranjang bersama doto manusia, kabar itu menjadi konsumsi publik pasca pilpres 2014 yang lalu, dimana keduanya mulai memperlihatkan kepada publik bahwa mereka memang sudah pisah ranjang. Pisah ranjang tersebutlah yang kemudian membuat mereka masing masing mencari teman seranjang untuk kembali berbulan madu di 2017 nanti.

Pasangan untuk bulan madu pun sudah mereka dapatkan dan sudah dideklarasikan. Pria brewokan itu untuk 2017 mengisyaratkan perlunya kerjasama partai lokal dan partai nasional, sehingga keputusannya mengambil pasangannya dari parnas menjadi mutlak diperlukan menurut pria brewokan itu. Meski aneh, parnas yang di ambil merupakan parnas yang berada diluar pemerintahan saat ini dan tidak mendapatkan kursi yang dominan di legislatif. Sedangkan doto manusia mengisyaratkan menjaga wasiat Wali Hasan Tiro agar tidak jatuh ketangan yang salah, tapi entah wasiat apa, karena sejak ia berbulan madu dan sampai pisah ranjang, nama Hasan Tiro bisa terhitung jari ia sebutkan dan mulai ia sebutkan ketika kini ingin berbulan madu lagi, memang nama Hasan Tiro itu akan marak terdengar menjelang tahun tahun politik.

Pisah ranjang itu membuat keduanya saling sindir, tak mengherankan dalam setiap ajang wawancara keduanya pasti menyelipkan makna yang harus di terjemahkan sendiri oleh publik buat mantannya itu, yang namanya mantan itu memang tak enak buat di omongin kan ?, hehehe

2017 hampir tiba, doto manusia, pria brewokan, doto hewan dan si anak jakarta dipastikan siap maju dan siap bertarung bersama pasangannya masing masing. Rakyat tinggal menentukan, mana yang benar benar mampu menyembuhkan luka rakyat aceh yang sudah terlalu lama ini, berharap pada doto manusia lagikah ?, pria gagah dan brewokan itu kah ?, doto hewan kah ?, atau si anak jakarta yang pulang untuk menyembuhkan luka rakyat Aceh?.
Share:

Jepang Lebih Islami Dari Aceh

Kalau boleh saya katakan, kita Aceh ini fanatik terhadap Islamnya, tapi bukan fanatik terhadap ajaran yang terkandung dalam Islamnya, buktinya kita sudah biasa melihat dan melakukan hal hal kecil seperti melanggar aturan, arogan, mengumpat, buang sampah sembarangan, mengejek, mau menang sendiri, menghina, tidak sabaran dan banyak lainnya. Belum lagi tentang hal besar seperti Korupsi, Kolusi, Nepotisme, memukul orang, membunuh orang dan lainnya.

Sebagai contoh kecil yang paling sering saya temui, orang kita Aceh, paling anti yang namanya antri, ketika antri berlomba lomba mendahulukan tanpa peduli pada orang yang lebih duluan, alasannya simpel yaitu buru-buru, terus apakah buru-buru menjadi alasan setiap orang untuk mendahulukan orang lain, apakah kemudian yang lain tidak buru-buru?, padahal budaya antri itu adalah budaya melatih kesabaran, sedangkan sabar adalah bagian dari nilai nilai yang terkandung dalam Islam.

Sedangkan mulut kita berbusa-busa membaca ayat-ayat suci didalam berbagai kesempatan. Namun tidak kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dan itu malah tidak kita lihat ada dalam budaya jepang dan negara-negara barat lainnya yang mayoritas kristen. Maka dari itu, karakter mereka sebenarnya lebih Islami dibandingkan kita Negeri Syariat.

Ketika Tsunami di Jepang yang membuat saya terperangah adalah, mereka tetap masih mau mengantri dengan sabar tanpa berlomba lomba mendahulukan, sedangkan kita?, Apa yang diperlihatkan Jepang pada dunia pasca tsunami seharusnya menjadi beban moral pada kita ummat Islam khususnya seperti di Aceh yang menerapkan Syariat Islam.

Bagaimana bisa, Negara yang mayoritasnya penduduk Non Islam dan tidak melebelkan Agama apapun pada tatanan kenegaraannya, tapi masyarakatnya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung dalam Agama khususnya Islam. Sedangkan di Aceh, sebuah daerah yang memperjuangkan mati-matian terhadap symbol Islam, tapi perilaku masyarakatnya sangat tidak mencerminkan nilai-nilai yang terkandung dalam Islam.

Aceh dan Jepang adalah sama-sama pernah merasakan besarnya gelombang tsunami yang menghantam daratan. Ketika Aceh terjadi bencana tsunami, ada ratusan Negara yang kemudian turun membantu, uang melimpah, makanan melimpah, namun apa yang terjadi?. Korupsi menyubur, kerakusan dimana mana yaitu dengan menumpuk bantuan untuk kepentingan pribadi, maka dari itu tidak heran jika kita melihat banyak orang yang mendapatkan bantuan lebih, sedangkan disatu sisi masih banyak yang juga tidak tersentuh bantuan, dengan begitu tidak heran jika kita melihat dan mengistilahkan “kaya karena tsunami”. Contoh kasus adalah penerimaan rumah bantuan, ada yang mendapatkan lebih dari satu, ada pula yang bahkan tidak mendapatkan satupun.

* kalau tidak setuju, no problem

Sekedar catatan
Share:

Tips Menjawab Pertanyaan "Kapan Kawin" Jelang Lebaran

Lebaran Idul Fitri sudah didepan mata, bagi kamu yang diperantauan tentu sudah mulai siap-siap untuk mudik, sedangkan kamu yang tidak diperantauan juga sudah mulai siap-siap menyambut perayaan tersebut. Persiapan mulai baju baru, kue lebaran, cat rumah, bersih bersih dan banyak hal lainnya menjadi ritual rutin yang dilakukan jelang lebaran.

Nah,, jika lebaran itu tiba maka akan ada satu pertanyaan yang membuat para korban ini bakal kegalauan mendengarkan pertanyaan "kapan kawin". Bisa bisa lebaran pun jadi tidak asyik lagi dikarenakan dengan pertanyaan ini disaat lagi bahagia bahagianya menyambut hari kemenangan itu, apalagi pertanyaannya ketika keluarga lagi ramai ngumpul, bisa bisa kamu di bully dengan pertanyaan itu dengan rasa keponya mereka.

Bagi kamu yang sedang kuliah tentu pertanyaan ini tidak menjadi beban, karen pertanyaan tersebut dapat dengan tangkas kamu jawab "selesaikan kuliah dulu" tapi bagi yang sudah selesai kuliah, pertanyaan ini memang agak berat dijawab meski sudah punya pacar, karena pertanyaan kapan kawin tetap menjadi beban yang menakutkan. Apalagi jika kamu sudah selesai kuliah dan jomblo, pertanyaan ini bagaikan hantu yang bukan saja ditakuti tapi juga dihindari, bisa bisa kamu di anggap enggak laku. Bisa juga kamu bakal di jodoh jodohin dengan kenalan keluarga kamu, nah kalau kamu setuju dengan perjodohan, maka berikan kode persetujuan itu, jika ogah dengan perjodohan, maka kamu harus pinter pinter menjawab pertanyaan itu.

Berikut beberapa tips untuk menjawab pertanyaan "kapan kawin" untuk kalian.

Kapan kawin? | “Tunggu tanggal cantik”
Kamu jawab nunggu tanggal cantik dulu, misalnya kamu nunggu tanggal 16-16-2016. Walopun bulan 16 enggak ada kamu jawab aja gitu, hitung hitung buat ngebingungin si penanya yang kepo itu. Setelah itu ia pasti enggak bakal fokus dengan pertanyaan pertamanya lagi karena jawaban kamu yang nyeleneh itu.

Kapan kawin? | "Kalau nggak Sabtu, ya, Minggu"
Jawabnya entar ya Sabtu atau Minggu, menikah memang sebaiknya Sabtu atau Minggu kan. Biar semua yang diundang bisa datang tanpa alasan sedang kerja atau kuliah. Kecuali, kalian ingin menghemat katering dengan meminimalkan jumlah tamu yang bisa datang.

Kapan kawin? | "Fokus dulu dikerjaan"
Jawab Sesuai Hati Nurani Kamu Kalo kamu orangnya santai, kamu bisa jawab sesuai dengan keadaan kamu. misalnya “Fokus dulu di kerjaan” atau kamu bisa jawab “Belum ada yang cocok” dengan begitu kamu ga perlu ragu lagi untuk kumpul keluarga.

Kapan kawin? | “Tunggu jodoh dari Tuhan”
Urusan jodoh memang ditangan Tuhan, jadi kalau kamu ditanya kapan nikah jawab aja gitu, hitung hitung buat ngeringanin beban kamu atas seputar pertanyaan tersebut. Atau bisa juga kamu jawab dengan mengatakan Tuhan belum lahirin jodoh buat kamu.

Kapan kawin? | “Andai takdir ditangan ku”
Nah jawaban andai takdir ditangan ku, itu bisa meringankan beban kamu, dengan jawaban itu pula kamu punya alasan "belum waktunya" dengan pembenaran bahwa Tuhan belum menakdirkan kamu untuk segera menikah.

Kapan kawin? | “Balik kasih pertanyaan”
Kalau pertanyaan kapan kawin muncul, maka kamu segera balik kasih pertanyaan. Kalo jawaban dirasa kurang ampuh, kamu bisa nanya balik ke orang yang nanya, misalnya “kapan nikah?” “Kamu kapan? nunggu yang lain aja dulu” atau kalo om atau tante kamu yang nanya kamu bisa ngeles ngasih pertanyaan, “kapan nambah momongan?”
Share:

Arsip Blog

Tulisan Lainnya