• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

Jalan Jalan Ke Tanjung Pinang

Kota Tanjung Pinang, mendengar nama tersebut, apa yang terlintas dipikiran anda pertama kali?, tetapi bagi saya kota ini adalah kenangan, ada begitu banyak hal yang membuat saya merindukan kota ini, mulai dari pertama kali menginjakkan kaki hingga sekarang. Dalam dunia traveling, kota ini dikenal sebagai kota berburu makanan aneka seafood menikmati pantai, namun yang lebih menonjol disini adalah gong-gong, ya gong-gong, ia adalah sejenis siput, yang telah menjadi ikon bagi kota tua ini.

Jika anda menuju ke Tanjung Pinang menggunakan transportasi laut dari Pelabuhan Punggur Batam dan menuju ke Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjung Pinang, maka begitu anda keluar dari Kapal Ferry langsung akan disuguhkan pemandangan gedung gong-gong raksasa yang terletak tak jauh dari pelabuhan tersebut, gedung gong-gong yang juga menjadi taman berada persis dipinggir laut, yang kini telah menjadi tempat selfie wajib bagi para wisatawan yang berkunjung ke kota ini.

Saya sudah 4 kali berkunjung ke Kota ini, kota tua yang nuasa kehidupan melayu sangat kental sekali. Memang dalam catatan sejarah berdasarkan Sulalatus Salatin, Tanjung Pinang merupakan bagian dari Kerajaan Malaka, bahkan pasca jatuhnya Malaka ketangan Portugal, kawasan ini pernah dijadikan sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Malaka, kemudian menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Johor, hingga kemudian Belanda mengambil alih setelah mampu mematahkan perjuangan Raja Haji Fisabilillah yang kini diabadikan untuk sebuah nama kampus terbesar di kota itu.

Bicara tentang Raja Fisabilillah, maka bicara tentang Pulau Peunyengat, nah di Peunyeungat ini ada sebuah Masjid yang cukup terkenal, Masjid ini tampak jelas terlihat dari Tanjung Pinang yang tepat berada bersebelahan dan dipisahkan oleh laut, jika kita berada digedung Gong-Gong, maka Masjid yang berada di Peunyeungat tampak terlihat dengan warna yang sangat mencolok yaitu kuning.

Pulau Peunyengat ini adalah pulau paling misteri dan segudang cerita mistik, dipulai ini Masjid yang corak kuning tersebut adalah menjadi tujuan utama para wisatawan, selain makam kerajaan, dan sejumlah tempat-tempat lainnya, menurut sejarah, Masjid tersebut dibangun dan direkat dengan putih telur, bukan hanya itu, konon katanya setiap orang yang Shalat lalu berdoa di Masjid tersebut, maka akan terkabul doanya. Jika anda ingin tau sensasi berada di Pulau Peunyengat, saya sarankan silahkan datang dan rasakan sendiri, cerita turun temurun, jika anda berkunjung ke pulau ini, silahkan diawali dengan niat yang baik dan berlaku baik serta sopan ketika tiba di pulau tersebut.

Kita kembali ke Tanjung Pinang, menurut sumber sensus penduduk (2010), disebutkan bahwa Etnis Melayu yang masih mendiami Tanjung Pinang adalah sebesar 30,7%, selebihnya di isi oleh Etnis Jawa 27,9%, Tionghoa 13,5% kemudian di isi oleh berbagai etnis lainnya seperti Minangkabau, Batak, Sunda, Bugis dan lainnya. Untuk etnis Tionghoa, jika anda menginjakkan kaki di Tanjung Pinang, keberadaan Etnis Tionghoa memang sangat tampak sekali, bahkan tampak keberadaan mereka saat anda pertama kali masuk kekapal untuk berangkat ke Tanjung Pinang. Etnis ini memang telah berbaur dengan masyarakat Tanjung Pinang dalam kurun waktu yang cukup lama.

Kemarin, ketika saya ke Tanjung Pinang, saya sudah berniat untuk makan Ikan Pari Bakar, karena Ikan Bakar memang menjadi andalan kuliner kota ini, saya sudah lama menginginkan Ikan Pari bakar ini, karena ikan ini adalah bagian dari masa lalu saya, ketika mengingatkan ikan pari, yang pertama terlintas adalah Kakek dan Nenek saya, diwaktu SMP dulu, ikan ini paling sering dibawa pulang oleh Kakek untuk dibakar dirumah, kami bisa menyantapnya 3-6 kali dalam sebulan, karena Kakek saya juga penyuka Ikan Pari Bakar, namun pasca pindah dan hidup dengan orang tua, saya tidak merasakannya lagi, jika pun ada dalam kurun waktu 8 tahun, saya merasakan Ikan Pari Bakar tidak lebih dari 7 kali (mungkin).

Maka untuk bernostalgia pada masa lalu saya, kemudian saya putuskan untuk makan ikan ini di Tanjung Pinang, yang memang menjadi salah satu andalan kuliner. Bagi anda penyuka kuliner seafood, Tanjung Pinang memang cocok menjadi tujuan wisata anda, oh ya, selain masakan, soal lokasi liburan, seperti pantai, tempat sejarah, soal ini anda tidak perlu bingung, disini anda akan menemukan banyak sekali lokasi-lokasi wisata yang dapat anda nikmati dan selfie-selfie untuk eksis dimedia social, tak percaya, lihat saja para instagramer Tanjung Pinang, dihiasi oleh berbagai foto-foto kece yang membuat anda segera ingin ke Tanjung Pinang.

Adapun tempat-tempat yang disarankan jika anda ke Tanjung Pinang adalah, Pantai Trikora, Danau Biru Bintan, Pulau Peunyengat, Bukit Panglong, Gedung Gong-Gong, White Sand Island, Jembatan Dompak yang tak kalah dari jembatan Barelang Batam, Treasure Bay Lagoi yang menjadi kolam renang terbesar di Asia Tenggara, Vihara Avalokitesvara dan masih banyak lainnya, yang berada diantara Bintan dan Tanjung Pinang.
Share:

Jangan Menjadi Tuhan Medsos


Di era digitalisasi dan perkembangan teknologi informasi seperti saat ini bukan saja menimbulkan dampak positif, tapi menimbulkan dampak negatif yang juga begitu besar, timbulnya dampak negatif itu bukan disebabkan oleh teknologi, melainkan akibat dari perkembangan teknologi yang tidak didasarkan atau dibarengi dengan perkembangan ilmu pengetahuan manusia secara umum, sehingga penggunaan teknologi tidak didasarkan pada kebutuhan positif. Dampak negatif yang paling terasa dalam perkembangan teknologi informasi adalah pesatnya pertumbuhan informasi palsu yang diciptakan dengan sengaja oleh orang-orang yang memiliki kepentingan terhadap hal itu, dampaknya bukan saja kesimpang-siuran informasi, tapi melainkan lebih besar dari itu, misalnya terjadi aksi kriminal, hukum bar-bar, mengumpat, memvonis sepihak, prasangka, dan kerugian-kerugian fisik maupun non fisik lainnya yang diderita oleh orang-orang yang menjadi korban.

Sebut saja persekusi misalnya, aksi seperti ini kerap terjadi di Indonesia, padahal belum tentu orang yang di persekusi salah. Persoalan ini muncul bukan tanpa dasar, di Indonesia pengguna medsos menurut riset APJII di tahun 2016 mencapai angka 132,7 juta orang, akan tetapi budaya literasi di Indonesia berada diangka terendah kedua diseluruh dunia, maka tak heran survei yang dilakukan oleh CIGI-Ipsos pada tahun 2016 menyebutkan bahwa 65% masyarakat Indonesia menelan mentah-mentah informasi yang beredar di Internet. oleh sebab itulah, perkembangan hoax seperti jamur dimusim hujan, bahkan benar-benar dijadikan ladang bisnis oleh orang-orang tertentu untuk meraup keuntungan materi.

Orang-orang dengan mudah menjadi Tuhan di medsos, tuduhan-tuduhan tak berdasar dan secara bar-bar dilakukan dengan mudah dan semena-mena, sehingga menimbulkan beban psikologi bagi yang tidak mampu menerima, tuduhan seperti bibit PKI, liberal, anti agama, radikal, antek asing, yahudi dan lainnya sudah menjadi pemandangan dan kejadian biasa di media social, bahkan tak jarang tuduhan-tuduhan yang lebih berat dari itu pun sering dialami oleh pengguna medsos, yang bahkan merendahkan martabat ia sebagai manusia.

Aksi-aksi tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, sebut saja misalnya yang sedang ngetrend sekarang yaitu, aksi persekusi dilakukan kepada orang-orang tertentu dengan alasan atau embel-embel “membela agama”, padahal jika dikaji, perbuatannya juga tidak sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya, karena pada dasarnya, tidak ada satupun agama yang mengajarkan “kekerasan, penghinaan, prasangka buruk, menyebarkan berita yang diragukan kebenarannya (bohong), atau perbuatan yang berdampak negatif lainnya”, karena semua agama mengajarkan kedamaian dan kebaikan, sekalipun atas nama membela agama.

Setiap hari, di Indonesia ada ribuan berita-berita palsu yang di share dan berkembang kemana-mana kemudian dikonsumsi oleh orang-orang yang memiliki budaya literasi rendah, sehingga terjadi perubahan midset masyarakat, yang kemudian menjadi terbiasa melakukan share informasi-informasi yang diragukan kebenarannya. Maka, pola pikir tersebut berkembang menjadi kepribadian, terjadilah setiap hari orang-orang Indonesia mengkonsumsi berita-berita negatif yang hanya didasarkan asumsi belaka, bukannya fakta. Dampaknya kemudian, orang ramai-ramai menjadi Tuhan, seolah-olah apa yang dipikirkannya adalah sebuah kebenaran yang mutlak dan siapapun yang mencoba berpikir tidak sama dengannya, maka dianggap sebagai bagian dari kelompok yang tersesat.

Jangan menjadi Tuhan, mungkin ini kata yang pantas dialamatkan kepada orang yang selalu mengeluarkan perkataan kepada orang lain, dasar yahudi, anti agama, kaum liberal, manusia laknat, penghuni neraka, dan lainnya, bisa jadi orang tersebut punya sedikit ilmu, sehingga sudah merasa jadi “Tuhan” yang punya hak memberikan vonis kepada orang lain atas nasib dan kesalahannya secara sepihak, padahal Tuhan pun tidak demikian, atau bisa jadi tak berilmu sama sekali, sehingga benar-benar buta akan akibat dari omongannya, atau bisa juga karena memang tabiatnya yang demikian, sudah terbiasa memvonis orang, bahkan sudah menjadi sesuatu yang benar dan lumrah baginya.

Entahlah, kadang mengingatkan sesuatu yang baik pun dianggap “liberal dan yahudi”, sayapun kenyang menikmati tuduhan-tuduhan seperti itu…
Share:

Aceh, Syariat Islam and LGBT


LGBT, banyak orang mengenal istilah LGBT, tapi sangat sedikit yang paham akronim dari LGBT ini, ia adalah akronim dari "lesbian, gay, biseksual, dan transgender". Tapi kali ini saya tidak sedang membahas definisi dan aktivitas dari LGBT ini, melainkan persoalan terkini seputar dunia LGBT yang berkedudukan atau menetap di Provinsi Aceh, sebelumnya saya akan membahas terlebih dahulu terkait kewenangan Aceh dalam kedudukannya sebagai salah satu Provinsi di Indonesia, yang disebut sebagai “Kewenangan Khusus.

Dari banyaknya kewenangan khusus yang diberikan kepada Aceh, salah satunya adalah kewenangan penerapan syariat Islam, ini adalah kewenangan yang kemudian menjadikan Aceh sedikit luluh terhadap Indonesia, bukan tanpa alasan, penerapan syariat Islam adalah memang menjadi tuntutan masyarakat Aceh sejak Indonesia saat itu masih dalam perjuangan, dan pemberlakuan syariat Islam bahkan pernah dimintakan langsung oleh tokoh Aceh Teungku Muhammad Daud Beureueh kepada Soekarno, namun dikemudian hari, Soekarno mengingkarinya yang kemudian membuat Aceh bergejolak karena merasa dikhianati oleh Pemerintah Pusat.

Sejak itulah, pemberontakan demi pemberontakan yang dari generasi ke generasi terus berlanjut di Aceh hingga akhirnya pada tanggal 15 Agustus 2005 terjadinya Perdamaian antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang menjadi keberlanjutan dari perjuangan sebelumnya yang dinamakan MoU Helsinky.


Syariat Islam sendiri dideklarasikan pada tahun 2001, jauh sebelum terjadinya MoU Helsinky, pemberian kekhususan itu sebenarnya ditengarai untuk membendung pergerakan perlawanan yang sedang terjadi di Aceh, saat itu, pro dan kontra terus bermunculan, bahkan dituding sebagai bagian upaya pemerintah Indonesia untuk memblokir dukungan Negara-Negara Non Muslim, yang saat itu semakin mendapatkan tempat untuk pergerakan GAM.

Pasca perdamaian dan lahirnya Undang-Undang Pemerintah Aceh atau disingkat UUPA, pemerintah Aceh semakin punya keleluasaan untuk menerapkan pemberlakuan syariat Islam, maka lahirlah berbagai Qanun yang menyangkut persoalan syariat Islam, hingga terbentuknya Dinas Syariat Islam, Mahkamah Syariah dan Polisi Wilayatul Hisbah (WH) yang mengatur dan mengurusi khusus persoalan syariat.

Sejak pemberlakuan syariat Islam hingga sekarang, setiap proses hukuman, pencegahan maupun penegakannya selalu saja menuai pro dan kontra, misalnya seperti hukuman cambuk, maka akan ada banyak lembaga-lembaga diluar Aceh yang kemudian bersuara, menyuarakan pelanggaran HAM, tidak manusiawi dan sebagainya, begitu pula ketika Walikota Banda Aceh saat itu menangkap anak-anak Punk yang kemudian digunduli dan diberikan pelatihan oleh SPN Seulawah, untuk kemudian dikembalikan kepada orangtuanya, saat itu berbagai lintas komunitas diluar Aceh memprotes atas aksi Walikota, bahkan dibeberapa Negara, Kedubes Indonesia di demo sebagai bentuk protes mereka atas sikap Walikota Banda Aceh, namun di Aceh masyarakatnya melakukan perlawanan dengan memberikan dukungan penuh atas sikap pemerintah untuk memberantas kehadiran anak punk yang semakin menjamur, karena dianggap tidak sesuai dengan syariat Islam.

Begitu pula dengan  kasus baru-baru ini terjadi yang menguras tenaga berbagai pihak, yaitu Polres Aceh Utara melakukan penertiban terhadap salon-salon yang terletak di Wilayah Hukum Aceh Utara, ditemukan banyaknya Waria-Waria yang kemudian di cukur rambutnya dan dibina. Pasca penertiban itu, Kapolres Aceh Utara Untung Sangaji mendapatkan kritikan tajam dari berbagai kalangan diluar Aceh, bahkan Ketua MPR Zulkifli Hasan menganggap sebagai bentuk tidak menghargai kemanusiaan, kemudian Komnas HAM menyebutkan sebagai bentuk persekusi, memang Komnas HAM selalu bersuara keras disetiap kali ada penegakan hukum terkait syariat Islam di Aceh, dan Kapolri pun memerintahkan Untung Sangaji untuk diperiksa, yang kemudian ia dipanggil oleh Propam.

Tapi hal itu berbanding terbalik di Aceh, di Aceh Untung Sangaji mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat, bahkan aksinya dipuja-puji oleh masyarakat Aceh, dukungan bahkan diberikan dalam bentuk aksi yang dilakukan oleh berbagai kalangan di Aceh, bukan hanya masyarakat, Pemerintah baik Legislatif maupun Eksekutif pun mendukung Untung Sangaji, hal tersebut dibuktikan dengan hadirnya Gubernur Aceh dan Ketua DPRA saat massa melakukan aksi solidaritas untuk Untung Sangaji.

Memang begitulah dinamika penegakan syariat Islam di Aceh dari awal masa pendeklarasianya hingga saat ini masa penegakannya, penegakan syariat Islam di Aceh selalu saja menjadi bagian cerita menarik yang disebut-sebut atau dianggap bagian dari pelanggaran HAM, menariknya hal tersebut berbanding terbalik dengan masyarakat Aceh, masyarakat Aceh akan tetap menjadi bagian yang memberikan dukungan solidaritas penuh terhadap pihak-pihak yang menegakkan syariat Islam.


Bahkan saat ini, pasca penertiban yang dilakukan oleh Kapolres Aceh Utara, masyarakat berharap aksi-aksi tersebut dilakukan di seluruh Aceh untuk menertibkan kehadiran Waria-Waria atau LGBT di Aceh, karena Aceh bukanlah “Tanah Bencong” melainkan “Tanah Rencong”. Masyarakat Aceh tidak peduli terhadap reaksi masyarakat di luar Aceh yang memprotes sikap Aceh terhadap pihak-pihak yang dianggap tidak sesuai dengan syariat Islam.
Share:

Indonesia Surga Konten Negatif

Apa yang pernah menjadi viral di negeri ini adalah mayoritas konten konten negatif, hanya sedikit konten konten positif yang mampu viral di negeri ini, entah apa yang menjadi penyebab dasar sehingga negara ini begitu terkotori dengan perilaku seperti itu, apakah masyarakatnya yang tidak mampu memilah ini baik dan itu buruk, atau memang jari jari kita yang terlalu latah untuk menekan tombol share and like, yang kemudian ada sedikit rasa kepuasan karena sudah berbagi, atau bisa juga karena ingin banyak di komentari dan di bicarakan oleh follower sehingga publik hadir melihat media sosial kita.

Apapun alasannya, konten negatif bukan saja telah menyebabkan perubahan struktur sosial di negeri ini, tapi juga telah banyak memakan korban, akibat dari konten konten negatif masyarakat terbelah kedalam berbagai kubu pro dan kontra, masyarakat kita terpecah belah hanya karena pandangan dan provokasi dengan konten konten negatif, setiap konten negatif yang di upload ke media sosial selalu saja mendapat perhatian lebih dibanding konten positif, bahkan konten negatif sebagian telah dijadikan bisnis yang menggiurkan yang mampu menghasilkan pundi pundi rupiah ratusan juta.

Ada banyak artis media sosial yang mampu meraup pundi pundi rupiah melalui konten konten negatif yang di uploadnya, meski namanya dipandang negatif, namun tidak menyurutkannya untuk berhenti, karena cukup nikmat penghasilan yang didapatkan dari hasil konten konten negatif seperti itu, kemudian banyak lagi akun akun media online yang konsen terhadap cerita cerita negatif. Di negara kita, hampir tidak ada media yang mampu booming tanpa konten negatif, media media ternama misalnya, mereka tetap memilih judul berita yang ada sisi negatifnya untuk membuat para pembaca penasaran dan ikut membacanya.

Bukan saja dalam soal politik dan sosial, soal Agama pun konten negatif juga sangat di nikmati, pembicaraan yang terpotong, tulisan tulisan palsu, sampai pendapat yang tidak sama antara ustad A  dan ustad B, kemudian di provokasi dan menjadi viral dan memunculkan perdebatan panjang di media sosial. Memang begitulah fenomena perilaku dalam media sosial, sesuatu hal tanpa perdebatan menjadi tidak seru, sehingga perdebatan itu kerap kali dimanfaatkan untuk memecah belah antara masyarakat, belum lagi masyarakat kita yang masih sangat paranoid dan mudah terprovokasi jika sudah merasa pendapatnya tidak sama dengan orang lain, sikap ingin menang sendiri menjadi laku dan modal bagi para pelaku provokasi.

Para pelaku provokasi melakukan itu bukan tanpa alasan, tentu ada kepentingan terselubung dibaliknya, baik itu kepentingan pribadi, politik maupun kepentingan materi atau bahkan kepentingan yang lebih besar lainnya.

Padahal jika kita kembali pada konteks ajaran agama, maka tidak ada satupun agama yang membenarkan perilaku perilaku negatif, meskipun itu atas alasan "demi agama". Maka pelaku pelaku yang menyebarkan provokasi dengan hasutan, berita palsu, tuduhan, dan konten negatif lainnya yang memunculkan perdebatan dan perpecahan tidak bisa dianggap sebagai pembela agama, melainkan sebagai perusak ajaran agama itu sendiri, sekaligus perusak negara.
Share:

Kota Madani di Indonesia Selain Banda Aceh

Kota Madani, bagi orang Aceh kata madani langsung teringat akan Kota Banda Aceh, yang menjadi julukan penting dalam pogram destinasi wisata bagi kota itu, bahkan di koran-koran ternama di Aceh, julukan kota madani berulang kali ditulis baik dalam bentuk berita maupun opini. Nama kota madani untuk kota Banda Aceh digagas oleh Walikota Illiza Saaduddin Djamal, hingga julukan itu melambung dalam berbagai pemberitaan media massa sebagai istilah lain dari Kota Banda Aceh.

Dalam Wikipedia dijelaskan, bahwa masyarakat madani diartikan sebagai suatu masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani dan memaknai kehidupan. Dijelaskan pula bahwa, istilah masyarakat madani pertama kali muncul adalah dari idenya Anwar Ibrahim yang merupakan Wakil Perdana Menteri Malaysia. Kata madani itu sendiri berasal dari bahasa Arab, sehingga kesannya madani sangat selaras dengan penegakan syariat islam yang merupakan kekhususan di Aceh, meski arti dari madani itu sendiri tidak berhubungan langsung dengan makna penegakan syariat islam, dan arti kata madani dalam bahasa inggrisnya adalah civilized society atau dalam bahasa Indonesia bisa disimpulkan masyarakat yang beradab.

Dalam mesin penelusuran internet, jika kita ketik kata “kota madani”, maka ada banyak tulisan-tulisan yang menyangkut Kota Banda Aceh, sehingga istilah Kota Madani begitu erat hubungannya dengan Banda Aceh, namun ternyata ada kota lain di Indonesia yang menggunakan julukan kota madani sebagai kotanya.

Kota Batam, selain dikenal sebagai kota industri, juga dikenal sebagai “Bandar Madani” yang artinya “Bandar” adalah kota sedangkan “Madani” adalah beradab dan visi Kota Batam itu sendiri adalah “Terwujudnya Kota Batam Sebagai Bandar Dunia Madani Yang Modern”, visi sebagai Kota Batam sebagai Kota Madani bukan hanya sebagai julukan semata, pembangunan social dan keagamaannya di Batam juga cukup baik, meski mereka bukan daerah khusus daerah syariat islam seperti di Aceh, tapi masyarakat melayu yang merupakan penduduk asli di kepulauan ini cukup religius.

Istilah Madani di Batam juga dipakai dalam berbagai kegiatan dan kesempatan, bahkan pemerintah kotanya ada website yang menggunakan kata madani, yaitu madani.batam.go.id yang berhubungan dengan layanan pengaduan dan informasi tentang pemerintah Kota Batam.

Jika kita jalan-jalan ke Batam dan menyempatkan diri untuk menikmati suasana di alun-alun engku putri, yang merupakan lapangan terbuka hijau paling ramai di Batam dan juga pusat pemerintahan Kota Batam, karena berhadapan langsung dengan Kantor Walikota dan bersebelahan dengan Kantor DPR, Mesjid Raya Batam, Kantor BP Batam dan pusat perbelanjaan mall.

Di gedung Walikota bisa kita baca dari lapangan engku putri, terpampang jelas tulisan “Batam Bandar Madani” yang ditulis dalam banner berjalan, meski tak banyak yang mengenal Batam sebagai Bandar Madani, karena kota ini cukup dikenal sebagai kota industri dan kota yang memiliki barang-barang elektronik cukup murah (itu dulu) dan surganya belanja barang-barang KW (mungkin ini sedikit benar).
Share:

Kenapa Anies-Sandi Bakal Dibully Terus

Ya benar, bahwa pendukung Anies-Sandi akan selalu disibukkan dengan klarifikasi dan pembelaan terhadap Gubernur yang telah didukungnya secara mati-matian dan sekalipun Anies-Sandi kedepannya bakal lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengklarifikasi terhadap segala tindakan dan pernyataannya yang menghasilkan blunder ditengah public.

Tapi ingat, faktor utama Anies-Sandi bakal dibully terus adalah karena mereka sendiri yang telah membakar bara api dan memulainya, saat Ahok berkuasa, mereka menghabiskan waktu dengan secara terus menerus membully Ahok dengan berbagai cara dan isu, seperti isu Agama, Ras dan tindakan rasisme serta provokatif yang menjadikan Jakarta terbagi dalam dua kubu besar dan Anies-Sandi dianggap masuk dalam kubu yang membully Ahok kala itu, meski Anies pernah menyentil Prabowo berulang kali ketika pelaksanaan Pilpres, sebab Anies berada dikubu Jokowi. Bahkan bukan hanya untuk Jakarta, tapi untuk seluruh Indonesia, rakyat terbelah dalam dua kubu besar, pendukung Anies-Sandi adalah pendukung Prabowo, begitu pula dengan pendukung Ahok adalah sebagian besar pendukung Jokowi, meski ada sebagian pendukung Jokowi tidak mendukung Ahok dan begitu pula pendukung Prabowo.

Ingat, Ahok dibully bukan hanya soal kelancangan lidahnya mencampuri urusan Agama yang tidak dianutnya, tapi jauh sebelum itu Ahok memang sudah dibully dengan terpaan berbagai macam isu negatif terhadapnya.

Ingatan saya masih segar, ketika Jokowi terpilih sebagai Presiden dan dengan otomatis berdasarkan undang-undang, Ahok bakal dilantik sebagai Gubernur menggantikan Jokowi, saat itu goyangan terhadap Ahok semakin kental, sebagian komunitas yang mengatasnamakan warga Jakarta melakukan penolakan terhadap Ahok, bahkan hingga muncul Gubernur tandingan.

Ingatan saya juga masih segar, Jokowi dan Ahok yang tak mengenal Kota Jakarta. Jokowi yang merupakan Walikota Solo periode kedua, saat itu mendapatkan kemenangan telak dari lawannya, tak berselang lama dari itu, Prabowo meliriknya untuk berangkat ke Jakarta, saat itu pula Ahok yang tak mengenal Jakarta juga dibujuk untuk berangkat ke Jakarta, yang akhirnya mempertemukan dua sosok paling fenomenal dalam kancah politik tanah air, yaitu Jokowi-Ahok yang kemudian diusung oleh partai utama PDIP dan Gerindra.

Hingga kemudian mereka berdua menjadi musuh bebuyutan Gerindra. Jokowi menjadi musuh paling menyakitkan atas kekalahan Prabowo pada pilpres tahun 2014 silam, kekalahan tersebut bukan hanya ia menjadi pecundang, tapi kekalahan yang paling memalukan baginya, karena dikalahkan oleh orang yang pernah ia besarkan, istilahnya ia dikalahkan oleh anak muridnya. Makanya hingga sekarang Jokowi terus diterpa berbagai isu negatif mulai dari PKI,  Chinaisme, Antek Asing dan berbagai isu lainnya yang tidak dapat dibuktikan. Tujuan utama tentu untuk menggagalkan pemerintahan Jokowi, sebab mereka masih memiliki libido yang tinggi untuk merebut kekuasaan tersebut ditahun 2019, karena jika ditahun 2019 juga Prabowo masih kalah dengan anak bauk kencur, maka itu adalah aib yang paling menyakitkan dan memalukan sepanjang sejarah politik Indonesia, karena ia hanya menjadi Capres Abadi.

Lalu apa puncak permasalahan Prabowo (Gerindra) dengan Ahok sehingga ia dijadikan musuh berbuyutan, ya permasalahan mereka adalah saat Ahok memutuskan keluar dari Gerindra, yang membuat Prabowo marah besar, sehingga saat itu pula Ahok mulai di incar dan Pilkada DKI Jakarta 2017 silam adalah ajang pembalasan yang akan menjadi puncak dari kemarahan Gerindra terhadap Ahok. Namun akhirnya Ahok tumbang bukan karena pertarungan politik secara fair, tapi karena kelancangan lidahnya yang kemudian dijadikan sebagai lokomotif politik oleh sebagian orang yang memanfaatkan isu agama untuk meraih kekuasaan, muncul demo berjilid-jilid, aksi tamasya Al-Maidah, Image Gubernur Syariah, dan lain lain, isu agama paling kentara dalam Pilkada DKI Jakarta, sehingga yang dimunculkan bukanlah gagasan melainkan agamanya, namun meredam cepat pasca kekalahan Ahok usai Pilkada, meski ada yang melakukan aksi atas keprihatinannya terhadap pelecehan Agama, tapi para politisi yang punya kepentingan terhadap pilkada mengambil keuntungan untuk memuluskan rencana terhadap kemenangan tim nya.

Maka, aksi bully yang terus dilakukan oleh komunitas bukan pendukung Anies-Sandi saat ini adalah bukan hanya aksi balas dendam, tapi karena bara api itu telah dihidupkan terlebih dahulu yang cukup sulit untuk dipadamkan, dan akan terus berlangsung, belum lagi pogram-pogram nyeleneh Anies-Sandi yang terkesan terlalu mengada-ngada dan sulit untuk di realisasikan, namun jika saja Anies-Sandi mampu merealisasikan janji-janjinya tersebut, maka akan membuat bara api tersebut pelan pelan padam. Tapi melihat geliat politik ini akan terus memanas dan membesar hingga pelaksanaan Pilpres 2019, karena komunitas pendukung telah terpecah kedalam dua kubu besar yang berhubungan erat dengan Pilpres 2019.

Tentu, pihak oposisi yang saat ini tidak mendukung Presiden punya kepentingan besar dalam hal ini, yaitu memuluskan rencana Prabowo melalui pemeliharaan dan menyiram isu-isu negative demi dapat menaiki tangga tahta yang gagal didapatkannya berulang kali, maka patutlah Pilpres 2019 ini menjadi ajang mati-matian untuk meraih kemenangan pihak Prabowo, jika kalah mau ditarok dimana muka ku. Bergitulah kira-kira nasib Prabowo dalam pertarungan politik tanah air.
Share:

Sulitnya Jadi Pribadi Introvert

Perkara kepribadian manusia memang macam macam, namun hal tersebut terbagi dalam tiga istilah yaitu, Introvert, Ekstrovert dan Ambivert. Kepribadian Introvert adalah pribadi yang pendiam dan hobinya menyendiri, susah bergaul dan kurang suka dengan keramaian. Kemudian pribadi ekstrovert adalah pribadi yang hobinya bicara terus, suka ngumpul dan mudah berkawan dalam waktu singkat, sedangkan pribadi Ambivert adalah gabungan dari dua kepribadian itu, yaitu kadang kadang suka kumpul dan ngobrol dengan banyak orang, kadang pula ingin menyendiri dan mengasingkan diri. Dari ketiga kepribadian itu, pribadi yang sempurna adalah Ambivert, ia menjadi sosok yang sempurna dalam hal kepribadian karena mampu beradaptasi dengan hal dan siapa saja.

Menjadi pribadi Introvert adalah yang paling sulit, kerap kali sosok Introvert ini di cap sebagai orang sombong,  kemudian susah sekali beradaptasi dengan lingkungan baru, ia juga menjadi pribadi yang misterius, sulit ditebak, tapi dibalik itu semua, jika orang sudah dekat dengan sosok yang berkepribadian Introvert bakal mengetahui mengapa ia bersikap seperti itu dan dengan perlahan lahan orang yang dekat dengan pribadi Introvert, label sombong akan menghilang sendirinya.

Menjadi sosok Introvert memang tidak mudah, apalagi jika terus harus beradaptasi dengan lingkungan baru, sulit sekali untuk cepat akrab dengan orang yang baru, apalagi sifat pendiam yang kadang membuat orang enggan untuk mengajak bicara. Pribadi Introvert juga pemikir yang terlalu dalam pada suatu hal tindakan, sebelum ia bertindak maka ada banyal hal yang ia pikir dampak positif dan negatifnya, pikirannya terus menerawang yang kadang bagi orang ekstrovert itu gak penting banget untuk dilakuin. Tapi begitulah sifat dan kepribadian dari Introvert.

Dalam dunia politik, orang orang Introvert tentu tak banyak, karena politik adalah seni untuk beradaptasi dengan cepat, sedangkan Introvert adalah orang yang tidak mampu melakukan hal tersebut, bagi Introvert beradaptasi adalah pekerjaan terberat, tapi bukan berarti tidak ada, di Aceh Selatan misalnya ada Bupati yang saat ini menjabat yaitu Teuku Sama Indra yang memiliki kepribadian Introvert, kemudian Muzakir Manaf mantan Wakil Gubernur Aceh, tokoh politik nasional ada Anas Urbaningrum mantan Ketua Umum Partai Demokrat, mereka adalah orang orang beruntung yang berkepribadian Introvert namun berhasil berkarir dalam dunia politik. Sedangkan tokoh tokoh dunia yang berkepribadian Introvert adalah seperti Bill Gates, Albert Einstein, Mahatma Gandhi, Abraham Lincoln dan ada banyak tokoh dunia lainnya yang berkepribadian Introvert. 

Sosok berkepribadian Introvert ini adalah sosok yang lebih banyak menghabiskan waktu menyendiri, sosok ini lebih banyak mengekpresikan diri dengan tulisan dan gagasan gagasan lainnya. Sosok ini adalah pemikir yang dalam dan matang dalam berbagai hal tindakan, ketika ia ingin melakukan hal sesuatu adalah yang ia pikir efek dari itu, maka dari itu karena terlalu dalam pemikirannya, kepribadian Introvert sangat sulit untuk beradaptasi secara cepat, ia butuh waktu dan proses.

Introvert ini kerap kali dihadapkan pada lingkungan yang tidak mengenakan, karena kepribadiannya yang kerap salah diartikan oleh banyak orang, sebagai pendiam dan tidak pandai bergaul menjadi sosok introvert kerap kali terasing dalam dunia keramaian, maka seperti kegiatan pesta, konser, dan kegiatan keramaian lainnya ibarat neraka bagi seorang Introvert, karena tentunya ia tak menikmatinya sama sekali. Ramai tapi kesepian, maka tak jarang orang orang Introvert ini jika dalam kegiatan seperti itu ia terlihat murung dan tak menikmati suasananya.

Bagi sosok introvert, menemukan pasangan Ektrovert adalah harapan, karena pertemuan Introvert dan Ektrovert diharapkan mampu mencairkan suasana hidup, tak selalu dalam kekakuan, dan mampu mengisi kekurangan kepribadian Introvert. Nah,,,, pahitnya lagi, bagi sosok introvert, menemukan pasangan juga perkara yang sangat sulit, apalagi bagi seorang cowok.

Share:

Gubernur Aceh Keren

Pasca dilantik 05 Juli 2017 yang lalu, Irwandi Yusuf resmi menjadi Gubernur Aceh yang kedua kalinya setelah pensiun 5tahun yang lalu karena kalah dalam pertarungan Pilkada 2012, pasca kekalahan tersebut ia menghabiskan waktu untuk berbenah diri, yang artinya ia fokus dalam beberapa hal, diantaranya membangun konsolidasi dan citra dirinya yang kadung jelek bahkan sampai pada label "Penghianat", akhirnya ia berhasil merebut citra dirinya kembali dan dipercayakan kembali oleh masyarakat

Selain itu, 5tahun pensiun ia juga menghabiskan waktu untuk belajar menerbangkan pesawat dan kemudian ia membeli pesawat mini jenis Shark Aero yang muat dua orang dengan harga 50% dari harga asli, ia diberikan diskon karena menjadi agen untuk penjualan pesawat jenis tersebut, Irwandi juga mengklaim bahwa dia adalah orang pertama yang memiliki pesawat tersebut di Asia

Kini setelah menjabat kembali sebagai Gubernur Aceh, ia menjadi satu satunya Gubernur di Indonesia yang mampu menerbangkan pesawat, bahkan ia sudah melakukan perjalanan dinas dengan pesawatnya ke Sabang dan Aceh Utara, perjalanan dinasnya ke Aceh Utara untuk melantik Bupati Aceh Utara dan Walikota Lhokseumawe mendapat perhatian dari berbagai media nasional, bahkan kompas, media indonesia dan media lainnya mengulas hal tersebut

Maka patut lah berbangga, Aceh memiliki Gubernur yang mampu memberikan warna dan perhatian bagi publik, semoga kehadiran kembali Irwandi Yusuf dapat memberikan kesejahteraan bagi kehidupan perekonomian masyarakat Aceh. Ada begitu banyak harapan yang diemban kepada Gubernur terpilih itu

Selamat bekerja Kapten... 
Terbangkan 5juta lebih rakyat Aceh menuju negeri kejayaan 
Share: