• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

Indonesia Surga Konten Negatif

Apa yang pernah menjadi viral di negeri ini adalah mayoritas konten konten negatif, hanya sedikit konten konten positif yang mampu viral di negeri ini, entah apa yang menjadi penyebab dasar sehingga negara ini begitu terkotori dengan perilaku seperti itu, apakah masyarakatnya yang tidak mampu memilah ini baik dan itu buruk, atau memang jari jari kita yang terlalu latah untuk menekan tombol share and like, yang kemudian ada sedikit rasa kepuasan karena sudah berbagi, atau bisa juga karena ingin banyak di komentari dan di bicarakan oleh follower sehingga publik hadir melihat media sosial kita.

Apapun alasannya, konten negatif bukan saja telah menyebabkan perubahan struktur sosial di negeri ini, tapi juga telah banyak memakan korban, akibat dari konten konten negatif masyarakat terbelah kedalam berbagai kubu pro dan kontra, masyarakat kita terpecah belah hanya karena pandangan dan provokasi dengan konten konten negatif, setiap konten negatif yang di upload ke media sosial selalu saja mendapat perhatian lebih dibanding konten positif, bahkan konten negatif sebagian telah dijadikan bisnis yang menggiurkan yang mampu menghasilkan pundi pundi rupiah ratusan juta.

Ada banyak artis media sosial yang mampu meraup pundi pundi rupiah melalui konten konten negatif yang di uploadnya, meski namanya dipandang negatif, namun tidak menyurutkannya untuk berhenti, karena cukup nikmat penghasilan yang didapatkan dari hasil konten konten negatif seperti itu, kemudian banyak lagi akun akun media online yang konsen terhadap cerita cerita negatif. Di negara kita, hampir tidak ada media yang mampu booming tanpa konten negatif, media media ternama misalnya, mereka tetap memilih judul berita yang ada sisi negatifnya untuk membuat para pembaca penasaran dan ikut membacanya.

Bukan saja dalam soal politik dan sosial, soal Agama pun konten negatif juga sangat di nikmati, pembicaraan yang terpotong, tulisan tulisan palsu, sampai pendapat yang tidak sama antara ustad A  dan ustad B, kemudian di provokasi dan menjadi viral dan memunculkan perdebatan panjang di media sosial. Memang begitulah fenomena perilaku dalam media sosial, sesuatu hal tanpa perdebatan menjadi tidak seru, sehingga perdebatan itu kerap kali dimanfaatkan untuk memecah belah antara masyarakat, belum lagi masyarakat kita yang masih sangat paranoid dan mudah terprovokasi jika sudah merasa pendapatnya tidak sama dengan orang lain, sikap ingin menang sendiri menjadi laku dan modal bagi para pelaku provokasi.

Para pelaku provokasi melakukan itu bukan tanpa alasan, tentu ada kepentingan terselubung dibaliknya, baik itu kepentingan pribadi, politik maupun kepentingan materi atau bahkan kepentingan yang lebih besar lainnya.

Padahal jika kita kembali pada konteks ajaran agama, maka tidak ada satupun agama yang membenarkan perilaku perilaku negatif, meskipun itu atas alasan "demi agama". Maka pelaku pelaku yang menyebarkan provokasi dengan hasutan, berita palsu, tuduhan, dan konten negatif lainnya yang memunculkan perdebatan dan perpecahan tidak bisa dianggap sebagai pembela agama, melainkan sebagai perusak ajaran agama itu sendiri, sekaligus perusak negara.
Share:

Kota Madani di Indonesia Selain Banda Aceh

Kota Madani, bagi orang Aceh kata madani langsung teringat akan Kota Banda Aceh, yang menjadi julukan penting dalam pogram destinasi wisata bagi kota itu, bahkan di koran-koran ternama di Aceh, julukan kota madani berulang kali ditulis baik dalam bentuk berita maupun opini. Nama kota madani untuk kota Banda Aceh digagas oleh Walikota Illiza Saaduddin Djamal, hingga julukan itu melambung dalam berbagai pemberitaan media massa sebagai istilah lain dari Kota Banda Aceh.

Dalam Wikipedia dijelaskan, bahwa masyarakat madani diartikan sebagai suatu masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani dan memaknai kehidupan. Dijelaskan pula bahwa, istilah masyarakat madani pertama kali muncul adalah dari idenya Anwar Ibrahim yang merupakan Wakil Perdana Menteri Malaysia. Kata madani itu sendiri berasal dari bahasa Arab, sehingga kesannya madani sangat selaras dengan penegakan syariat islam yang merupakan kekhususan di Aceh, meski arti dari madani itu sendiri tidak berhubungan langsung dengan makna penegakan syariat islam, dan arti kata madani dalam bahasa inggrisnya adalah civilized society atau dalam bahasa Indonesia bisa disimpulkan masyarakat yang beradab.

Dalam mesin penelusuran internet, jika kita ketik kata “kota madani”, maka ada banyak tulisan-tulisan yang menyangkut Kota Banda Aceh, sehingga istilah Kota Madani begitu erat hubungannya dengan Banda Aceh, namun ternyata ada kota lain di Indonesia yang menggunakan julukan kota madani sebagai kotanya.

Kota Batam, selain dikenal sebagai kota industri, juga dikenal sebagai “Bandar Madani” yang artinya “Bandar” adalah kota sedangkan “Madani” adalah beradab dan visi Kota Batam itu sendiri adalah “Terwujudnya Kota Batam Sebagai Bandar Dunia Madani Yang Modern”, visi sebagai Kota Batam sebagai Kota Madani bukan hanya sebagai julukan semata, pembangunan social dan keagamaannya di Batam juga cukup baik, meski mereka bukan daerah khusus daerah syariat islam seperti di Aceh, tapi masyarakat melayu yang merupakan penduduk asli di kepulauan ini cukup religius.

Istilah Madani di Batam juga dipakai dalam berbagai kegiatan dan kesempatan, bahkan pemerintah kotanya ada website yang menggunakan kata madani, yaitu madani.batam.go.id yang berhubungan dengan layanan pengaduan dan informasi tentang pemerintah Kota Batam.

Jika kita jalan-jalan ke Batam dan menyempatkan diri untuk menikmati suasana di alun-alun engku putri, yang merupakan lapangan terbuka hijau paling ramai di Batam dan juga pusat pemerintahan Kota Batam, karena berhadapan langsung dengan Kantor Walikota dan bersebelahan dengan Kantor DPR, Mesjid Raya Batam, Kantor BP Batam dan pusat perbelanjaan mall.

Di gedung Walikota bisa kita baca dari lapangan engku putri, terpampang jelas tulisan “Batam Bandar Madani” yang ditulis dalam banner berjalan, meski tak banyak yang mengenal Batam sebagai Bandar Madani, karena kota ini cukup dikenal sebagai kota industri dan kota yang memiliki barang-barang elektronik cukup murah (itu dulu) dan surganya belanja barang-barang KW (mungkin ini sedikit benar).
Share:

Kenapa Anies-Sandi Bakal Dibully Terus

Ya benar, bahwa pendukung Anies-Sandi akan selalu disibukkan dengan klarifikasi dan pembelaan terhadap Gubernur yang telah didukungnya secara mati-matian dan sekalipun Anies-Sandi kedepannya bakal lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengklarifikasi terhadap segala tindakan dan pernyataannya yang menghasilkan blunder ditengah public.

Tapi ingat, faktor utama Anies-Sandi bakal dibully terus adalah karena mereka sendiri yang telah membakar bara api dan memulainya, saat Ahok berkuasa, mereka menghabiskan waktu dengan secara terus menerus membully Ahok dengan berbagai cara dan isu, seperti isu Agama, Ras dan tindakan rasisme serta provokatif yang menjadikan Jakarta terbagi dalam dua kubu besar dan Anies-Sandi dianggap masuk dalam kubu yang membully Ahok kala itu, meski Anies pernah menyentil Prabowo berulang kali ketika pelaksanaan Pilpres, sebab Anies berada dikubu Jokowi. Bahkan bukan hanya untuk Jakarta, tapi untuk seluruh Indonesia, rakyat terbelah dalam dua kubu besar, pendukung Anies-Sandi adalah pendukung Prabowo, begitu pula dengan pendukung Ahok adalah sebagian besar pendukung Jokowi, meski ada sebagian pendukung Jokowi tidak mendukung Ahok dan begitu pula pendukung Prabowo.

Ingat, Ahok dibully bukan hanya soal kelancangan lidahnya mencampuri urusan Agama yang tidak dianutnya, tapi jauh sebelum itu Ahok memang sudah dibully dengan terpaan berbagai macam isu negatif terhadapnya.

Ingatan saya masih segar, ketika Jokowi terpilih sebagai Presiden dan dengan otomatis berdasarkan undang-undang, Ahok bakal dilantik sebagai Gubernur menggantikan Jokowi, saat itu goyangan terhadap Ahok semakin kental, sebagian komunitas yang mengatasnamakan warga Jakarta melakukan penolakan terhadap Ahok, bahkan hingga muncul Gubernur tandingan.

Ingatan saya juga masih segar, Jokowi dan Ahok yang tak mengenal Kota Jakarta. Jokowi yang merupakan Walikota Solo periode kedua, saat itu mendapatkan kemenangan telak dari lawannya, tak berselang lama dari itu, Prabowo meliriknya untuk berangkat ke Jakarta, saat itu pula Ahok yang tak mengenal Jakarta juga dibujuk untuk berangkat ke Jakarta, yang akhirnya mempertemukan dua sosok paling fenomenal dalam kancah politik tanah air, yaitu Jokowi-Ahok yang kemudian diusung oleh partai utama PDIP dan Gerindra.

Hingga kemudian mereka berdua menjadi musuh bebuyutan Gerindra. Jokowi menjadi musuh paling menyakitkan atas kekalahan Prabowo pada pilpres tahun 2014 silam, kekalahan tersebut bukan hanya ia menjadi pecundang, tapi kekalahan yang paling memalukan baginya, karena dikalahkan oleh orang yang pernah ia besarkan, istilahnya ia dikalahkan oleh anak muridnya. Makanya hingga sekarang Jokowi terus diterpa berbagai isu negatif mulai dari PKI,  Chinaisme, Antek Asing dan berbagai isu lainnya yang tidak dapat dibuktikan. Tujuan utama tentu untuk menggagalkan pemerintahan Jokowi, sebab mereka masih memiliki libido yang tinggi untuk merebut kekuasaan tersebut ditahun 2019, karena jika ditahun 2019 juga Prabowo masih kalah dengan anak bauk kencur, maka itu adalah aib yang paling menyakitkan dan memalukan sepanjang sejarah politik Indonesia, karena ia hanya menjadi Capres Abadi.

Lalu apa puncak permasalahan Prabowo (Gerindra) dengan Ahok sehingga ia dijadikan musuh berbuyutan, ya permasalahan mereka adalah saat Ahok memutuskan keluar dari Gerindra, yang membuat Prabowo marah besar, sehingga saat itu pula Ahok mulai di incar dan Pilkada DKI Jakarta 2017 silam adalah ajang pembalasan yang akan menjadi puncak dari kemarahan Gerindra terhadap Ahok. Namun akhirnya Ahok tumbang bukan karena pertarungan politik secara fair, tapi karena kelancangan lidahnya yang kemudian dijadikan sebagai lokomotif politik oleh sebagian orang yang memanfaatkan isu agama untuk meraih kekuasaan, muncul demo berjilid-jilid, aksi tamasya Al-Maidah, Image Gubernur Syariah, dan lain lain, isu agama paling kentara dalam Pilkada DKI Jakarta, sehingga yang dimunculkan bukanlah gagasan melainkan agamanya, namun meredam cepat pasca kekalahan Ahok usai Pilkada, meski ada yang melakukan aksi atas keprihatinannya terhadap pelecehan Agama, tapi para politisi yang punya kepentingan terhadap pilkada mengambil keuntungan untuk memuluskan rencana terhadap kemenangan tim nya.

Maka, aksi bully yang terus dilakukan oleh komunitas bukan pendukung Anies-Sandi saat ini adalah bukan hanya aksi balas dendam, tapi karena bara api itu telah dihidupkan terlebih dahulu yang cukup sulit untuk dipadamkan, dan akan terus berlangsung, belum lagi pogram-pogram nyeleneh Anies-Sandi yang terkesan terlalu mengada-ngada dan sulit untuk di realisasikan, namun jika saja Anies-Sandi mampu merealisasikan janji-janjinya tersebut, maka akan membuat bara api tersebut pelan pelan padam. Tapi melihat geliat politik ini akan terus memanas dan membesar hingga pelaksanaan Pilpres 2019, karena komunitas pendukung telah terpecah kedalam dua kubu besar yang berhubungan erat dengan Pilpres 2019.

Tentu, pihak oposisi yang saat ini tidak mendukung Presiden punya kepentingan besar dalam hal ini, yaitu memuluskan rencana Prabowo melalui pemeliharaan dan menyiram isu-isu negative demi dapat menaiki tangga tahta yang gagal didapatkannya berulang kali, maka patutlah Pilpres 2019 ini menjadi ajang mati-matian untuk meraih kemenangan pihak Prabowo, jika kalah mau ditarok dimana muka ku. Bergitulah kira-kira nasib Prabowo dalam pertarungan politik tanah air.
Share:

Sulitnya Jadi Pribadi Introvert

Perkara kepribadian manusia memang macam macam, namun hal tersebut terbagi dalam tiga istilah yaitu, Introvert, Ekstrovert dan Ambivert. Kepribadian Introvert adalah pribadi yang pendiam dan hobinya menyendiri, susah bergaul dan kurang suka dengan keramaian. Kemudian pribadi ekstrovert adalah pribadi yang hobinya bicara terus, suka ngumpul dan mudah berkawan dalam waktu singkat, sedangkan pribadi Ambivert adalah gabungan dari dua kepribadian itu, yaitu kadang kadang suka kumpul dan ngobrol dengan banyak orang, kadang pula ingin menyendiri dan mengasingkan diri. Dari ketiga kepribadian itu, pribadi yang sempurna adalah Ambivert, ia menjadi sosok yang sempurna dalam hal kepribadian karena mampu beradaptasi dengan hal dan siapa saja.

Menjadi pribadi Introvert adalah yang paling sulit, kerap kali sosok Introvert ini di cap sebagai orang sombong,  kemudian susah sekali beradaptasi dengan lingkungan baru, ia juga menjadi pribadi yang misterius, sulit ditebak, tapi dibalik itu semua, jika orang sudah dekat dengan sosok yang berkepribadian Introvert bakal mengetahui mengapa ia bersikap seperti itu dan dengan perlahan lahan orang yang dekat dengan pribadi Introvert, label sombong akan menghilang sendirinya.

Menjadi sosok Introvert memang tidak mudah, apalagi jika terus harus beradaptasi dengan lingkungan baru, sulit sekali untuk cepat akrab dengan orang yang baru, apalagi sifat pendiam yang kadang membuat orang enggan untuk mengajak bicara. Pribadi Introvert juga pemikir yang terlalu dalam pada suatu hal tindakan, sebelum ia bertindak maka ada banyal hal yang ia pikir dampak positif dan negatifnya, pikirannya terus menerawang yang kadang bagi orang ekstrovert itu gak penting banget untuk dilakuin. Tapi begitulah sifat dan kepribadian dari Introvert.

Dalam dunia politik, orang orang Introvert tentu tak banyak, karena politik adalah seni untuk beradaptasi dengan cepat, sedangkan Introvert adalah orang yang tidak mampu melakukan hal tersebut, bagi Introvert beradaptasi adalah pekerjaan terberat, tapi bukan berarti tidak ada, di Aceh Selatan misalnya ada Bupati yang saat ini menjabat yaitu Teuku Sama Indra yang memiliki kepribadian Introvert, kemudian Muzakir Manaf mantan Wakil Gubernur Aceh, tokoh politik nasional ada Anas Urbaningrum mantan Ketua Umum Partai Demokrat, mereka adalah orang orang beruntung yang berkepribadian Introvert namun berhasil berkarir dalam dunia politik. Sedangkan tokoh tokoh dunia yang berkepribadian Introvert adalah seperti Bill Gates, Albert Einstein, Mahatma Gandhi, Abraham Lincoln dan ada banyak tokoh dunia lainnya yang berkepribadian Introvert. 

Sosok berkepribadian Introvert ini adalah sosok yang lebih banyak menghabiskan waktu menyendiri, sosok ini lebih banyak mengekpresikan diri dengan tulisan dan gagasan gagasan lainnya. Sosok ini adalah pemikir yang dalam dan matang dalam berbagai hal tindakan, ketika ia ingin melakukan hal sesuatu adalah yang ia pikir efek dari itu, maka dari itu karena terlalu dalam pemikirannya, kepribadian Introvert sangat sulit untuk beradaptasi secara cepat, ia butuh waktu dan proses.

Introvert ini kerap kali dihadapkan pada lingkungan yang tidak mengenakan, karena kepribadiannya yang kerap salah diartikan oleh banyak orang, sebagai pendiam dan tidak pandai bergaul menjadi sosok introvert kerap kali terasing dalam dunia keramaian, maka seperti kegiatan pesta, konser, dan kegiatan keramaian lainnya ibarat neraka bagi seorang Introvert, karena tentunya ia tak menikmatinya sama sekali. Ramai tapi kesepian, maka tak jarang orang orang Introvert ini jika dalam kegiatan seperti itu ia terlihat murung dan tak menikmati suasananya.

Bagi sosok introvert, menemukan pasangan Ektrovert adalah harapan, karena pertemuan Introvert dan Ektrovert diharapkan mampu mencairkan suasana hidup, tak selalu dalam kekakuan, dan mampu mengisi kekurangan kepribadian Introvert. Nah,,,, pahitnya lagi, bagi sosok introvert, menemukan pasangan juga perkara yang sangat sulit, apalagi bagi seorang cowok.

Share:

Gubernur Aceh Keren

Pasca dilantik 05 Juli 2017 yang lalu, Irwandi Yusuf resmi menjadi Gubernur Aceh yang kedua kalinya setelah pensiun 5tahun yang lalu karena kalah dalam pertarungan Pilkada 2012, pasca kekalahan tersebut ia menghabiskan waktu untuk berbenah diri, yang artinya ia fokus dalam beberapa hal, diantaranya membangun konsolidasi dan citra dirinya yang kadung jelek bahkan sampai pada label "Penghianat", akhirnya ia berhasil merebut citra dirinya kembali dan dipercayakan kembali oleh masyarakat

Selain itu, 5tahun pensiun ia juga menghabiskan waktu untuk belajar menerbangkan pesawat dan kemudian ia membeli pesawat mini jenis Shark Aero yang muat dua orang dengan harga 50% dari harga asli, ia diberikan diskon karena menjadi agen untuk penjualan pesawat jenis tersebut, Irwandi juga mengklaim bahwa dia adalah orang pertama yang memiliki pesawat tersebut di Asia

Kini setelah menjabat kembali sebagai Gubernur Aceh, ia menjadi satu satunya Gubernur di Indonesia yang mampu menerbangkan pesawat, bahkan ia sudah melakukan perjalanan dinas dengan pesawatnya ke Sabang dan Aceh Utara, perjalanan dinasnya ke Aceh Utara untuk melantik Bupati Aceh Utara dan Walikota Lhokseumawe mendapat perhatian dari berbagai media nasional, bahkan kompas, media indonesia dan media lainnya mengulas hal tersebut

Maka patut lah berbangga, Aceh memiliki Gubernur yang mampu memberikan warna dan perhatian bagi publik, semoga kehadiran kembali Irwandi Yusuf dapat memberikan kesejahteraan bagi kehidupan perekonomian masyarakat Aceh. Ada begitu banyak harapan yang diemban kepada Gubernur terpilih itu

Selamat bekerja Kapten... 
Terbangkan 5juta lebih rakyat Aceh menuju negeri kejayaan 
Share:

Rusaknya Moral Ureung Aceh

Informasi yang paling cepat berkembang dan trending di Aceh adalah terkait dua hal, pertama tentang mesum, kedua tentang politik dan pemerintahan. Dua hal tersebut kerap kali menjadi perbincangan hangat dalam media online maupun media sosial. Isu negatif yang sering mewarnai dunia internet tersebut memberikan pesan moral yang tak baik pula bagi masyarakat Aceh. Artinya kita masih dihadapkan pada simbolisme keagamaan, tapi minim dalam segala tindakan kehidupan yang mencerminkan nilai nilai Islam itu sendiri. Kita dengan muda melihat orang orang menumpahkan sumpah serapahnya dalam dunia maya misalnya, padahal perilaku tersebut jauh sekali dari peradaban yang seharusnya syariah yang sedang kita galakkan di bumi yang pertama kali datangnya Agama Islam ke Nusantara ini.

Disatu sisi kita begitu bangga dengan sebuah lebel "Serambi Mekkah" kemudian ditambahkan lagi dengan aturan penerapan Syariat Islam, setidaknya dua nama besar yang kita sandang itu menjadi kiblat kehidupan ummat muslim di Indonesia, bahkan di Asia, tapi perilaku perilaku manusianya jauh dari sifat sifat yang Islami, yang juga diajarkan oleh Baginda Nabi Besar Muhammad SAW yang kita sanjungi dan juga menjadi suri tauladan bagi ummat manusia di akhir zaman ini.

Sebagai contoh misalnya, yang paling sering kita temui, jika suatu kasus yang menyangkut dengan pelaku mesum, orang orang kita dengan senang hati dan berbangga melakukan penyebaran informasi yang sangat vulgar keranah media sosial, bahkan aib orang begitu bangga kita sebarkan, menghujat, menghina, memaki sampai pada sumpah serapah dan kata kata tak pantas acap kali keluar dari mulut kita.

Yang kita lakukan adalah mengabaikan bahwa perbuatan riya diatas aib orang adalah perbuatan yang juga tak diperbolehkan dalam agama Islam, kita melupakan perihal itu karena terlalu bereforia pada kesalahan orang, sehingga melupakan kesalahan kita sendiri, kita terlalu sibuk dengan aib orang sehingga melupakan bahwa janji Allah, siapa yang mengumbar aib orang, akan diumbar pula aib nya, menutup aib orang lain, ditutup pula aib kita.

Ada pula sebuah pepatah dalam Islam yang mengatakan “Siapa yang membuka aib orang lain, sama dengan memakan bangkai”. Kita lupa pada hal hal seperti ini. Betapa mengerikannya moral generasi Aceh, jika orang tua dan pemerintah tak bisa mendidik generasi Aceh, maka apa gunanya dua nama besar yang kita sandang di Aceh saat ini, tapi aklak dan moral generasi kita sudah jauh melenceng dari kehidupan sebagaimana layaknya masyarakat Muslim.

Kemudian soal politik dan pemerintahan, acap kali kecurigaan dan sumpah serapah atas ketidakpuasan batin kita diumbar kemedia sosial misalnya, dengan berbagai sumpah serapah yang jauh sekali cerminan sebagai seorang muslim. Kita lebih senang menghujat, menghina dan mengkritik dibandingkan melakukan upaya bantuan terhadap pemerintah agar negeri ini dapat berkembang, nafsu syahwat kita akan sebuah impian yang namanya "perubahan dan kesejahteraan" tidak dibarengi dengan perbuatan kita untuk menuju kearah itu, maka puncak dari itu yang selalu kita salahkan adalah pemimpin. Disamping itu kita melupakan bahwa mencintai pemimpin adalah bagian dari perintah dalam agama Islam, maka tak heran berbagai berita hoax dan kekurangan pemimpin kita umbar dengan berbangga hati, seolah olah kepuasan kita terletak pada menghina orang lain dan merendahkan martabat orang lain.


Bagi yang berpikir jauh, tentu nama besar yang kita sandang dan mencerminkan kehidupan muslim agaknya memalukan, ada ketidakpantasan simbol yang kita sandang jika dibanding dengan perilaku ini, setidaknya akibat dari perilaku moral kita menambah daftar panjang tercorengnya agama yang mulia dan telah benar diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad.

Mudah mudahan orang tua dan pemerintah, sudah mulai serius membangun dan mendidik generasi Aceh untuk beraklak dan bermoral layaknya berperilaku sebagai Muslim yang benar, tidak lagi disibukkan pada simbol simbol besar yang akhirnya akan memberikan dampak negatif kepada Aceh dengan dua status besar yang disandangnya.

Mengerikan...!!!
Share:

Cerita Hidup Dari Sosok Nenek & Kakek

Nenek dan Kakek, kira kira umur mereka sekarang berkisar 88tahun dan sudah melalui kehidupan dengan 4 fase bendera yaitu (Jepang, Belanda, RI, Aceh), mungkin juga ini satu satunya pasangan suami istri yang masih hidup sehat setidaknya untuk dikampung ini, memiliki Cucu berkisar 25 orang dan sudah punya cicit berkisar 5 orang. Beliau juga menjadi saksi sejarah yang melihat langsung kekejaman Jepang yang datang ke Aceh pada tahun 1942, Kakek bercerita dengan baik setiap kejadian atas perlakuan Jepang terhadap rakyat Aceh kala itu, begitu pula nenek pernah saya mendengar langsung beliau berkisah tentang perlakuan tentara Jepang terhadapnya yang kala itu masih anak anak, bahkan Kakek semalam juga bercerita tentang Jepang ketika ada tamu yang menanyakan perihal penjajahan Jepang kala itu. Kondisi Kakek saat ini beliau masih bisa berjalan tapi harus dengan bantuan dipapah.

Berbeda dengan Nenek yang beberapa hari in bicara kadang kadang ngacau, kadang ia kerap bicara hal yang sudah berlalu. Menurut penuturan Cecek (Adik Ibu - Bibi), Nenek sudah mulai bicara ngaur sejak berapa bulan ini, daya ingat beliau melemah, bahkan sering barang yang beliau simpan tidak lagi beliau ingat dimana letak disimpannya, ia juga tak mampu lagi berjalan sama sekali, akibat kakinya yang sudah melemah, jika penglihatan Kakek sekarang sudah mulai rabun jauh, tapi Nenek masih bisa melihat dengan jelas.

Dalam puasa tahun ini, Kakek hanya sanggup berpuasa enam hari, sedangkan Nenek jauh lebih sanggup, Nenek hanya tinggal beberapa hari puasanya. Dan Alhamdulillah pada puasa terakhir ditahun ini bisa berbuka puasa bersama Nenek, menjelang berbuka Nenek berucap "Wahyudi (panggilan akrab keluarga masa kecil), duduk disini, saya dari kemarin ingin berbuka puasa dengan kamu" ujarnya dalam bahasa Aceh. Hampir disetiap kepulangan ku kekampung ia selalu mengucapkan rindu ingin bertemu, maklum saja kedekatan ku dengan Nenek seperti Anak dan Ibu.

***
Saya menghabiskan masa kecil disini, dari kecil diasuh oleh Nenek dan Kakek, bahkan katanya ASI pun dari Nenek, maka tak heran saya memanggil mereka berdua dengan sebutan Mamak dan Bapak. Pernah pula cucu cucu lain protes karena perlakuan Nenek terhadapku berbeda dengan cucu lainnya, Nenek sering menjawab, pantas saja aku memperlakukan ia berbeda karena aku adalah orang yang membesarkannya sejak bayi, dan soal disindir dari cucu serta termasuk anaknya (Abang dan Adik Ibu) sebagai "cucu kesayangan" kerap kali kudapat dan kudengar.

Nenek kerap kali senyum senyum saja jika ada yang menyindir aku sebagai cucu kesayanganya, karena ia pun tak menafikan kenyataan itu, bahkan Kakek juga melakukan hal yang sama.

Saya juga menjadi saksi bagaimana kehidupan dan geliat keramaian rumah ini ketika mereka berdua masih dalam keadaan sehat dan bugar. Rumah yang dikenal pantang sepi ini karena begitu banyak orang yang tinggal dan sekedar singgah dirumah ini. Nenek dikenal dengan orang yang sangat senang menerima tamu dan datang kerumah, banyak saudara juga yang tinggal dan singgah disini.

Jika lebaran tiba, dari lebaran pertama sampai ketiga kala itu tak pernah sepi baik siang dan malam, bahkan keluarga kerap kali kualahan menerima tamu sampai tak bisa bertamu kerumah lain akibat sibuk menerima tamu dirumah, dan juga ketika anak beliau yang laki laki salah satunya meninggal akibat penyakit yang diderita, rumah ini tak sepi orang yang datang baik berkunjung maupun rombongan tahlilan, dari hari pertama sampai ketujuh, dalam sehari bisa ada 3-5 kali rombongan tahlilan datang kerumah ini. Secara pribadi saya sungguh mengagumi sosok beliau berdua ini. 

Kakek seorang yang berkarakter keras tapi penyayang dan memperhatikan hal-hal kecil, bahkan jika barang beliau ada yang memegang tanpa se izin beliau, maka beliau dengan mudah mengetahuinya, karakter yang disiplin dan melakukan aktivitasnya dengan sangat teratur setiap hari, mulai bangun subuh sampai pekerjaan beliau sampai sore hari, dan juga penyayang binatang kucing dan anjing. Jika ada yang mengganggu binatang kesayangan beliau siap-siap saja dimarahinya, bahkan kami tak pernah diizinkan untuk memukulnya, bahkan mengganggunya sekalipun, tak jarang ia memarahi anaknya jika ada yang terlambat kasih makan kucing ketika beliau tak ada dirumah, jika Kakek makan dirumah hal yang pertama ia lakukan sebelum makan adalah memberi makan kucingnya terlebih dahulu baru kemudian ia makan.

Sedangkan Nenek berkarakter lembut dan penyayang, beliau sangat menyukai anak anak, bahkan jika ada keluarga yang jarang mengunjungi beliau, maka beliau pasti menanyakan perihal itu dan beliau juga orang yang sangat menyukai bepergian, tak pernah ia lewatkan undangan sanak familinya, jika ia tak bisa pergi maka pasti ada keluarga yang diutusnya. Begitulah beliau menjaga hubungan baik dengan keluarga besar, termasuk keluarga jauh sekalipun yang kadang saya pun tak mengenal sama sekali, bahkan beliau dengan mudah dan mengenal semua silsilah keluarga yang padahal hubungannya pun kadang sudah sangat jauh.

Tapi, keramaian itu perlahan lahan berubah, saya merasakannya beberapa tahun belakangan termasuk tahun ini, setelah semua anaknya menikah, rumah sudah mulai sepi, suasana rumah ketika lebaran jauh berbeda, bahkan suasana hari hari biasa pun sudah jauh berbeda dan sangat sepi, tidak seramai dulu, jika dulu tak pernah sepi, sekarang lebaran ketiga rumah sudah sepi dan hari hari biasa juga jauh lebih sepi.


Semoga beliau berdua tetap dalam keadaan sehat wal afiat dan masih bisa bertemu pada bulan Ramadhan mendatang... Amiiinnn
Share:

Propagandis Pedang Untuk Islam

Muslim-Muslim di Eropa hingga sekarang masih bekerja keras berkampanye untuk membantah orang-orang skeptis dan non muslim yang mengatakan bahwa "Islam disebarkan dengan Pedang". Sejarawan seperti De Lacy O’Leary di era 40an juga ikut membantu dalam bukunya dengan membuktikan opini yang berkembang tentang "Islam dan Pedang", ia menyebut sebagai "mitos luar biasa fantastis".

Sejarawan terkenal lainnya Thomas Carlyle dalam bukunya “Heroes and Hero Worship” di era 40an juga ikut membantu dengan tegas mengatakan "tentu saja pedang, Itu adalah pedang Intelektual". Ia juga menyebutkan bahwa pada awalnya pastilah sebuah opini minoritas yang ada dalam kepala satu orang saja.

Di era sekarang juga ada dr. Zakir Naik yang selalu berdakwah dan mendapat pertanyaan tentang "Islam dan Pedang" ia selalu berusaha membuktikan bahwa apa yang berkembang dan apa yang dipercayakan orang-orang non muslim terhadap hal tersebut tidak benar adanya, ini hanyalah propaganda media yang dikuasai kapitalis dan non muslim untuk urusan bisnis maupun politik.

Kemudian ada juga gurunya dr. Zakir Naik yaitu Yusuf Estes yang pernah melakukan debat kusir dengan pendeta Amerika yang mengolok dirinya tentang "Islam dan Pedang", akhirnya Yusuf Estes membuktikan dengan gamblang tentang yang disangkakan terhadap Islam selama ini.

Yusuf Estes dan dr. Zakir Naik dalam menyangkal tuduhan-tuduhan dunia barat terhadap Islam yang menyebarkan lewat pedang dengan menjelaskan ayat-ayat Al Quran disamping dengan membuktikan fakta-fakta sejarah yang ditulis dalam buku seperti karya sejarawan terkenal De Lacy O’Leary dan Thomas Carlyle.

Ia juga membuktikan fakta sejarah dengan membuktikan Negara-negara yang pernah dikuasai oleh Muslim seperti Spanyol yang memerintah selama sekitar 800 tahun dan tidak pernah menggunakan pedang untuk memaksa orang berpindah agama. Setelah itu, kaum salibis datang ke Spanyol dan nyaris menyapu bersih kaum muslimin. Tidak ada seorang muslim pun di Spanyol yang bisa terang-terangan mengumandangkan azan.

Kemudian kaum muslimin adalah penguasa tanah Arab selama 1400 tahun. Selama beberapa tahun Inggris berkuasa dan beberapa tahun juga Perancis berkuasa. Secara keseluruhan, kaum muslimin berkuasa di tanah Arab selama 1400 tahun. Namun, saat ini ada 14 juta orang arab yang memeluk Kristen koptik selama ratusan generasi. Apabila orang Islam menggunakan pedang, tentu tidak ada satupun orang Arab yang tetap beragama Kristen.

Kaum muslimin memerintah India selama sekitar 1000 tahun. Dengan waktu yang sekian lama kaum muslim punya kekuatan untuk membuat setiap non muslim India masuk Islam. Kini, lebih dari 80% penduduk India adalah non muslim. Semua orang India non muslim itu adalah saksi bahwa Islam tidak disebarkan dengan pedang.

Sebuah artikel dalam Reader’s Digest ‘Almanac’, tahun 1986, menyampaikan data statistik tentang peningkatan persentase agama-agama di dunia dalam setengah abad, yaitu dari 1934-1984. Artikel ini juga dimuat dalam majalah “The Plain Truth“. dalam artikel tersebut, Islam menduduki tempat teratas dengan peningkatan 235%, sedangkan Kristen hanya meningkat 47%. Peningkatan yang sungguh signifikan itu, tidak ada satupun Negara-negara yang melakukan pemaksaan dan pedang oleh kaum muslim untuk memeluk Islam.

Share: