• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

Pulau Penyengat; Wisata Sejarah dan Religi



Kali ini tanggal 14 April 2018, saya berkesempatan untuk mengunjungi Pulau Penyegat, pulau yang letaknya berseberangan dari Kota Tanjung Pinang, Pulau Penyengat dan Tanjung Pinang hanyalah dipisahkan oleh laut, jika kita melihat dari Kota Tanjung Pinang, Pulau Penyengat terlihat jelas tampaknya, apalagi Mesjid kebanggaan Pulau Penyengat, yaitu Mesjid Raya Sultan Riau, yang memiliki sejarah unik dan berbagai cerita-cerita yang membuat mesjid tersebut banyak dikunjungi dari berbagai daerah. Setiba di Pulau Sri Bintan Pura Tanjung Pinang, tak jauh dari situ terdapat pelabuhan untuk menyeberang ke Pulau Penyengat, letaknnya berseberangan dengan Pelabuhan Sri Bintan Pura, kita hanya perlu keluar dari Pelabuhan tersebut terlebih dahulu kemudian belok kiri dan berjalan kaki, sekitar 100 meter kemudian masuk ke lorong untuk menuju pelabuhan penyeberangan ke Pulau Penyengat.

Pelabuhan untuk penyeberangan ke Pulau Penyengat memang terlihat sempit dan kecil, trasportasi yang digunakan adalah Boad Kecil (orang sini menyebutnya; Pompong), biaya untuk sekali penyeberangan seharga 7.000,-/orang, setelah membayar, kita disuruh tunggu untuk mencapai angka penumpang berjumlah 14 orang, nah setelah cukup 14 orang baru kemudian kita dipersilahkan untuk menaiki Pompong tersebut.

Setelah kami menaiki Pompong, saya sudah merasakan ada yang tidak beres ini Pompong, karena asap mesinnya mengepul sejak di Pelabuhan, tapi sang pemilik Pompong tentang melanjutkan penyeberangannya, lalu Pompong terus berlayar meninggalkan pelabuhan, rasanya jalannya Pompong sangat lambat, dalam hati sempat berpikir, “kapan sampainya kalau jalannya gini”, tiba-tiba sampai ditengah laut, Pompong tersebut mesinnya mati, nah disinilah kegaduhan penumpang yang berjumlah 14 orang mulai, terutama ibu-ibu yang ngomel “udah tau Pompongnya rusak, masih saja maksa jalan” celetuk salah satu ibu, ditengah hayunan Pompong kiri kanan. Mendengar berbagai celotehan ibu-ibu, supir Pompong tersebut hanya bisa berdiam saja, kemudian ia dengan sigap menelpon ke Pelabuhan untuk meminta bantuan Pompong lainnya mengangkut kami, tidak butuh waktu lama, 5 menit kemudian Pompong tersebut tiba ditengah laut, dan kami dipindahkan ke Pompong tersebut.


Setelah sampai dipelabuhan, akan ada becak yang menawarkan kita untuk berkeliling Pulau Penyengat, harga sekali keliling 30.000,-/becak, kemudian menaiki becak berjalan dijalan yang lumayan sempit membawa kami ke Makam Raja, disana ada Makam Raja Abdurrahman dan Makam Raja Ali Haji, tukang becak menawarkan kami untuk turun berfoto, namun kami tidak berniat untuk foto di Makam Raja, becak terus melaju kemudian singgah dirumah adat, sesampai disini kami diturunkan untuk melihat-lihat rumah adat dan tukang becak memberikan kami nomor handphonenya, agar kami menghubunginya jika sudah selesai berkeliling disini.


Memasuki rumah adat, saya jadi teringat kampung halaman; Aceh, ya hampir sama, corak rumah adat dan rumah berbentuk panggung, hampir sama dengan rumah adat kami di Aceh, begitu memasuki rumah adat, terlihat pelaminan, dan itupun terlihat hampir sama dengan pelaminan di Aceh yang corak warnanya dihiasi warna Merah, Kuning, Hijau, mungkin memang adat Masyarakat Pulau Penyengat ini tidak jauh berbeda dari adat masyarakat Aceh, yang juga sama-sama kental kebudayaan Melayu.


Sesampai berkeliling dari rumah adat, kami menghubungi tukang becak, tak berselang lama, tukang becak tiba menjemput kami, dan kamipun meminta diantarkan kembali ke Mesjid kebanggaan Masyarakat Pulau Penyengat, Mesjid ini terletak tepat disamping pelabuhan. Mesjid ini sepertinya tidak pernah sepi, begitu menaiki tangga dan memasuki mesjid kami dipersilahkan untuk membuka alas kaki terlebih dahulu, kemudian begitu memasuki mesjid, didepan pintu terdapat Al-Quran karya tulisan tangan Abdurrahman Stambul.


Menurut sejarah,  mesjid ini dibangun dengan menggunakan campuran putih telur, kapur, pasir dan tanah liat. Mesjid yang berukuran 18 x 20 meter ini cukup dikenal oleh masyarakat Provinsi Kepulaua Riau, dan dianggap salah satu mesjid yang sangat sakral, tak sedikit yang ke pulau ini warganya khusus hanya untuk melaksanakan shalat di mesjid ini. Mesjid yang bercorak warna kuning dan hijau ini begitu menawan dan telah dibangun sejak 1803. Saat saya memasuki mesjid ini, terlihat nuansa yang berbeda, disini orang-orang terlihat lebih serius dan menjaga etikanya, tidak sembarangan dan sesuka hati. Terlihat didalam orang-orang yang sedang menunaikan shalat sunnah. 
Share:

Ngopi Ke Pulau Belakang Padang


Selamat datang di Belakang Padang, Pulau Penawar Rindu, begitulah tulisan besar yang terpampang begitu anda menginjakkan kaki di pelabuhan Belakang Padang, salah satu pulau yang lalu lintas hilir mudik masyarakatnya begitu padat dari Sekupang, Batam ke Pulau Belakang Padang, perjalanan ini membutuhkan setidaknya 15 menit dengan biaya Speed Boad seharga 15.000 rupiah sekali perjalanan. 

Ditengah teriknya matahari, saya mencoba menghilangkan rasa penasaran dari obrolan dan cerita orang-orang terkait pulau ini, hari ini tanggal 01 April 2018, saya menyempatkan waktu untuk menikmati perjalanan ke Pulau Belakang Padang, menempuh perjalanan dari Pelabuhan Sekupang sekitar pukul 10.00 Wib dan 15 menit kemudian tiba di Belakang Padang. Setiba disini, yang pertama saya cari adalah warung kopi, sebenarnya ini juga asalan saya ke pulau ini, karena rasa penasaran cerita tentang kegemaran warga disini terhadap minuman pekat berwarna hitam itu.


Tidak jauh dari pelabuhan, atau disebelah kanannya terletak warung kopi yang cukup ramai warga, namanya warung kopi Botak, cukup terkenal di pulau ini, disinilah saya singgah untuk menikmati kopi dan menyantap makanan. Menikmati suasana warung kopi disini, mengingatkan saya kampung halaman, yaitu Aceh, yang kondisinya hampir sama, dimana kami juga penikmat kopi, dan masyarakatnya hampir 24 jam memenuhi warung-warung kopi. Diwarung ini terdapat berbagai aneka makanan, mulai nasi lemak, lontong, gado gado, prata dan lainnya, layaknya seperti warung-warung kopi kebanyakan di Banda Aceh, tapi yang ini letaknya dipasar, sedangkan untuk minuman ada kopi dan teh tarik yang menjadi andalan disamping berbagai minuman lainnya.

Keluar dari warung kopi Botak, kemudian saya singgah ke Mesjid, yang juga tak jauh dari situ,  disini saya merasakan religiusnya warga Belakang Padang, untuk Shalat Dzuhur mesjid ini dipenuhi hampir 4 shaf. Kemudian saya singgah lagi di warung kopi kedua, yaitu warkop Ameng sebenarnya nama warung kopiny adalah “double peach”, tapi dikenal dengan nama warkop Ameng, salah satu warkop paling terkenal di Pulau Belakang Padang, sesampai disini saya mencoba memesan teh tarik dingin, karena kata orang-orang, teh tarik di pulau ini menjadi andalan minuman paling diminati, setelah mencicipi teh tarik ini, maka kesimpulan saya adalah, bahwa teh tarik yang dijual di pulau ini hampir sama rasanya dengan teh tarik yang dijual di Banda Aceh, saya perkirakan itu adalah bubuk yang sama dengan yang dijual di Aceh, sepertinya ini teh tarik yang bubuknya dari Malaysia.

Untuk kopi, menurut saya memang lumayan enak, tapi terlalu manis, kopi seperti ini pernah saya rasa diperdalaman Aceh Besar, yaitu Indrapuri, dan rasanya hampir sama, kopinya bau-bau asap dan tidak terlalu pahit, biasanya yang menyukai pahit kopi, maka kurang suka dengan rasa seperti kopi ini, dan menurut saya kopinya terlalu ringan, tapi saya sudah menghabiskan dua gelas kopi di pulau ini.


Nah untuk urusan kendaraan, jika anda ingin berkeliling Pulau ini, begitu anda keluar dari pelabuhan, akan ada Ojek dan Becak yang bisa jadikan transportasi untuk berkeliling pulau ini, pulau yang penduduknya berkisar 20.000 jiwa ini tak begitu luas, menurut informasi yang saya dapatkan, waktu 60 menit cukup untuk berkeliling kesemua area pulau ini, tapi saya kesini memang bukan berniat untuk mengelilingi pulau ini, hanya untuk menikmati kopi dan teh tarik, dan selama beberapa jam saya disini, saya belum melihat kendaraan jenis mobil di pulau ini, sepertinya pulau ini memang warganya tidak punya mobil, karena alasan luas pulau yang sempit barangkali (ini hanya asumsi), jadi tidak dibutuhkan transportasi sejenis itu dipulau ini.

Sepertinya saya menemukan suasana salah satu kampung di Aceh disini, suasana masyarakatnya, pasarnya, warung kopinya, seperti Padang Tiji, Kabupaten Pidie, Aceh, tapi tentunya Padang Tiji bukanlah kepulauan, Begitulah kira kira, kesan saya terhadap Pulau Belakang Padang ini, dalam perjalan singkat selama sekitar 5 jam.
Share:

Bioskop; Didesak dan Ditolak



Wacana untuk kembali diizinnya beroperasi bioskop di Banda Aceh adalah perdebatan panjang yang sudah berlangsung lama, jika tidak salah, warga Banda Aceh sudah bersuara terkait ini dari tahun 2012, di Media Sosial warga mengeluh tentang pemerintah yang melarang kehadiran bioskop di Banda Aceh atas alasan melanggar syariat Islam. Ini adalah sebuah logika yang terbalik dan dibolak balik. Karena bioskop adalah fungsinya tempat menyaksikan karya-karya sinema, bukan tempat mesum, seperti pemikiran dan sikap paranoid yang ditunjukkan oleh beberapa kalangan.

Sekitar tahun 2016, saya pernah menanyakan kepada Walikota Banda Aceh Illiza Saadudin Djamal melalui akun twitter pribadinya, saya menanyakan kenapa Bioskop dilarang di Banda Aceh, beliau memberi jawabannya, “harus diskusi dan persetujuan ulama terlebih dahulu”. Stigma Bioskop tempat maksiat adalah stigma yang salah kaprah, saya yakin mayoritas orang-orang yang berargumentasi bioskop tempat maksiat adalah orang yang belum pernah ke bioskop, sehingga mereka menentang hobi menonton dan hak-hak orang lain yang membutuhkan adanya bioskop, atau memang isi kepala mereka melulu soal “selangkangan” sehingga apapun itu akan dikaitkan dengan perbuatan mesum.

Jika alasan bioskop akan menjadi sarana untuk bermesum, maka bukan hanya bioskop, tapi pantai, hotel, hutan, mobil dan banyak lainnya juga jadi sarana bermesum, bagi orang-orang yang memang mentalnya ingin bermesum, larang juga pemakaian mobil di Aceh karena kerap digunakan sebagai hotel berjalan, mari kita bekerja sama dengan Arab untuk mengimport Onta sebagai alternatif transportasi warga Aceh.

Pemerintah, dalam hal ini bukan saja mengabaikan hak-hak warga, tapi melarang warganya dan juga mengumbah stigma dari fungsi bioskop itu sendiri, anehnya saat Mantan Walikota Banda Aceh melarang kembalinya dibuka bioskop di Banda Aceh, ia malah menonton Bioskop di Jakarta tahun 2016 atas undangan pihak produser film Surga Menanti yang juga dia menjadi pemeran didalamnya, bahkan ikut pula Ketua DPRK Banda Aceh kala itu. Mantan Walikota itupun kini juga telah menjadi artis dalam film bioskop, pada 17 Mei 2018 mendatang film 5PM (film kedua Illiza Saadudin Djamal) itu akan diputar dibioskop.

Atas larangan hadirnya bioskop di Banda Aceh bukan saja telah merugikan warga, tapi juga memberikan dampak positif bagi daerah lain, salah satunya adalah Kota Medan, yang menjadi alternatif paling dekat bagi Warga Aceh untuk memuaskan hasratnya pada sarana hiburan yang dilarang di Aceh. Jadilah, setiap akhir pekan dan hari libur Banda Aceh menjadi sepi, karena Warga Aceh memilih menghabiskan waktu ke luar daerah.

Pada Pilkada 2017 silam, salah satu janji Calon Walikota Banda Aceh Aminullah Usman adalah akan membuka kembali bioskop di Banda Aceh, kini setelah ia terpilih muncul kembali wacana membuka bioskop di Banda Aceh, tapi anehnya sang Walikota itu ingin studi banding terlebih dahulu ke Arab Saudi, untuk melihat pengelolaan bioskop disana. Wacana tersebut tentu saja menjadi viral dan menjadi isu nasional, yang menjadi pertanyaan, “separah itukah stigma negatif warga Aceh terhadap bioskop ?”, sehingga wacana pembukaan bioskop pun harus dilakukan studi banding jauh kenegeri orang, dalam hal ini saya yakin, keluarga sang Walikota sudah pernah keluar daerah dan menonton di bioskop, setidaknya tanyakan terlebih dahulu kepada keluarga, apakah ada kesan “bioskop tempat mesum”.

Studi banding jauh-jauh ke Arab hanya untuk melihat bioskop adalah suatu tindakan berlebihan dan menghambur-hamburkan uang rakyat. Dari pada jauh-jauh kesana hanya untuk menghindari warga berbuat mesum, lebih baik warganya di didik agar memiliki iman dan aklak yang baik, sehingga tidak melulu soal “Selangkangan dan Mesum”.
Share:

Batam Dalam Kacamata Saat Ini



Kota Batam, dikenal sebagai kota industri, dijulukinya Batam sebagai kota industri karena diawal terbentuknya Batam tahun 1970an, kota ini memiliki visi sebagai Singapura-nya Indonesia, maka sesuai Keputusan Presiden nomor 41 tahun 1973, Pulau Batam ditetapkan sebagai lingkungan kerja daerah industri dengan didukung oleh Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam atau lebih dikenal dengan Badan Otorita Batam (BOB) sebagai penggerak pembangunan Batam, namun kini telah berganti nama menjadi Badan Pengusahaan (BP Batam).

Kota yang penduduknya berjumlah 1juta lebih ini memang tidak lagi semenarik dulu ketika Batam menjadi daerah yang cukup bebas dalam bidang perdagangan, sehingga banyak barang-barang luar negeri masuk secara bebas ke Batam dan kemudian di incar oleh para masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia, saat ini Batam berstatus sebagai daerah FTZ (Free Trade Zone).

Jika dilihat kondisi factual, julukan sebagai kota industri tidak lagi cocok untuk Batam, saat ini banyak sekali industri-industri besar di Batam gulung tikar, dan sesuai visi misi pemerintahan saat ini, Batam malah ingin dialihkan sebagai kota wisata, dibandingkan kota industri yang memiliki sekelumit permasalahan yang membuat Batam mengalami kemunduran.

Kondisi perekonomian Batam pada tahun 2017 mencapai titik rendah, banyak para pekerja pabrik yang kemudian terpaksa di PHK, pabrik-pabrik besar tutup, yang juga kemudian berpengaruh pada banyak sector, seperti perhotelan, tempat hiburan, mall dan lainnya, karena sepinya Batam.

Jika anda pertama kali ke Batam, sebelum pesawat landing, jika anda saksikan dari jendela pesawat, maka yang paling berbeda di Batam adalah struktur tanahnya, tanah di Batam memiliki warna dominan agar kemerah-merahan, kemudian setelah anda keluar dari Bandara, maka anda akan melihat tanah di Batam tidak merata, jalan yang naik turun dan rumah-rumah warga ada yang dibawah dan ada yang diatas, karena Batam dipenuhi dengan bukit-bukitan yang kemudian digeruk atau digali (cut and fill) oleh pengembang untuk dibangun perumahan maupun gedung-gedung lainnya, yang paling menarik lainnya adalah, di Batam tidak memiliki sungai, tapi memiliki waduk yang cukup banyak, waduk itulah yang kemudian menjadi sumber air untuk dialiri ke rumah-rumah masyarakat.

Selain itu, bagi masyarakat daerah lain, Batam juga dikenal sebagai kota pusat perbelanjaan barang-barang bermerk dan import yang murah, juga dikenal sebagai surga barang KW atau barang tiruan, mungkin dulunya ia, tapi untuk saat ini, julukan tersebut sungguh tidak ditemukan kebenarannya lagi. Barang-barang bermerk dan import yang ada di Batam juga sama dengan daerah lainnya, kecuali barang-barang seken Singapore, yang masih ada di Batam tapi tidak sebanyak dulu, karena barang-barang seperti itu sangat dibatasi untuk saat ini di Batam, sedangkan barang-barang KW juga demikian, tidak ada yang istimewa di Batam terkait belanja, kecuali belanja barang-barang seken Singapore yang masih ada dalam stok terbatas, dan harganya pun tidak murah-murah lagi, lokasi perbelanjaan barang seken Singapore yang terkenal di Batam adalah Pasar Aviari, berada didaerah Batu Aji.

Kemudian barang-barang Seken Singapore yang masih banyak beredar lainnya di Batam adalah berupa Handphone, yang paling laris adalah merk Iphone, untuk ini berada diseputaran Nagoya, untuk Handphone memang lumayan murah dengan daerah lainnya, tapi tidaklah signifikan murahnya.

Nah, yang tidak menarik di Batam adalah, biaya pengiriman barang, jika anda membeli barang berupa Handphone atau barang elektronik lainnya, anda cukup dibuat ribet untuk mengirimnya, pertama anda dipersilahkan untuk membayar pajak terlebih dahulu dan kemudian baru dipersilahkan untuk mengirimkan melalui jasa pengiriman yang ada di Batam dengan memperlihatkan faktur pajak. Sedangkan untuk pengiriman berkas dan barang-barang yang berupa pakaian misalnya, anda diwajibkan mengisi form biodata, ditempat perusahaan jasa pengiriman, form tersebut hampir mirip dengan form yang anda isi jika berkunjung ke Singapura. Maka anda jangan heran, jika anda membeli barang elektronik di Batam melalui online, maka biaya pengiriman dilakukan pukul rata yaitu sebesar 200ribu, tapi saya tidak tahu mereka menggunakan jasa pengiriman apa, mungkin saja tidak resmi.

Batam saat ini, sudah barang tidak lagi murah, proses pengiriman dan pengeluaran barang dari barang cukup ribet, jasa pengiriman sepertinya tidak bisa berkutik atas berbagai aturan yang ditetapkan oleh pihak otorita Batam maupun Bandara. Saya juga pernah mencoba mengirim parfum keluar Batam lewat JNE, tapi pihak JNE menolak karena alasan tidak diterima oleh pihak Maskapai jika barang berupa cairan. Kemudian mencoba mengirim Handphone/barang elektronik, pihak JNE juga mempersilahkan membayar pajak terlebih dahulu ke Bea Cukai baru kemudian fakturnya dibawa ke JNE. Inilah yang tidak menarik di Batam dari sekian persoalan lainnya, sudah harga barang kadang-kadang lebih murah dari daerah lain, proses pengiriman pun dipersulit, yang kemudian berdampak pada perokonomian warga Batam.

Jika anda sudah berpikir untuk hidup di Batam, maka yang perlu ada ketahui terlebih dahulu adalah biaya hidup di Batam, untuk biaya kebutuhan makanan dan minuman sehari-hari, di Batam tergolong tinggi jika di bandingkan dengan daerah Sumatera lainnya, misalnya Aceh, Medan atau Lampung, apalagi jika membandingkannya dengan Pulau Jawa, tentuk cukup berbeda, untuk biaya makan di Batam paling murah kisaran 15.000 untuk sekali makan, minuman botol sekalipun disini harganya tergolong mahal, apalagi jika anda makan ditempat yang bagus sedikit, maka harganya bisa membengkak, untuk buah-buahan apalagi, disini buah-buahan semuanya dihitung dalam jumlah kilogram, jika anda membeli duren, maka duren itupun ditimbang dulu dan dijual dalam harga per kilogram.

Aneh memang, daerah FTZ, tapi biaya kebutuhan pokok cukup tinggi, bukan hanya kebutuhan pokok, bahkan untuk kebutuhan lainnya, seperti pakaian, tas dan lainnya, warga Batam jika keluar kota seperti Pulau Jawa, pasti memilih belanja disana dibandingkan belanja di Batam. Kecuali jika ingin berbelanja barang-barang ber merk, orang Batam cukup mudah menjangkau, yaitu dengan menyebrang ke Singapore atau Johor, yang jarak tempuh cukup terjangkau. Jika sudah demikian, sebenarnya apa yang menarik dari status FTZ, paling hanya menguntungkan pihak pengusaha skala besar, sedangkan harga barang yang beredar dipasar, sama saja dengan daerah lain, bahkan ada yang lebih mahal.

Nah jika hari libur, Kota Batam dipenuhi oleh turis Singapore dan Malaysia, mereka biasanya berbelanja ke Batam dihari-hari libur, selain berbelanja turis-turis ini juga berburu kuliner, karena bagi mereka, Batam cukup murah dan mudah mereka jangkau, ya ialah, jika dibandingkan dengan mata uang mereka.

Share:

Jalan Jalan Ke Tanjung Pinang

Kota Tanjung Pinang, mendengar nama tersebut, apa yang terlintas dipikiran anda pertama kali?, tetapi bagi saya kota ini adalah kenangan, ada begitu banyak hal yang membuat saya merindukan kota ini, mulai dari pertama kali menginjakkan kaki hingga sekarang. Dalam dunia traveling, kota ini dikenal sebagai kota berburu makanan aneka seafood menikmati pantai, namun yang lebih menonjol disini adalah gong-gong, ya gong-gong, ia adalah sejenis siput, yang telah menjadi ikon bagi kota tua ini.

Jika anda menuju ke Tanjung Pinang menggunakan transportasi laut dari Pelabuhan Punggur Batam dan menuju ke Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjung Pinang, maka begitu anda keluar dari Kapal Ferry langsung akan disuguhkan pemandangan gedung gong-gong raksasa yang terletak tak jauh dari pelabuhan tersebut, gedung gong-gong yang juga menjadi taman berada persis dipinggir laut, yang kini telah menjadi tempat selfie wajib bagi para wisatawan yang berkunjung ke kota ini.

Saya sudah 4 kali berkunjung ke Kota ini, kota tua yang nuasa kehidupan melayu sangat kental sekali. Memang dalam catatan sejarah berdasarkan Sulalatus Salatin, Tanjung Pinang merupakan bagian dari Kerajaan Malaka, bahkan pasca jatuhnya Malaka ketangan Portugal, kawasan ini pernah dijadikan sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Malaka, kemudian menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Johor, hingga kemudian Belanda mengambil alih setelah mampu mematahkan perjuangan Raja Haji Fisabilillah yang kini diabadikan untuk sebuah nama kampus terbesar di kota itu.

Bicara tentang Raja Fisabilillah, maka bicara tentang Pulau Peunyengat, nah di Peunyeungat ini ada sebuah Masjid yang cukup terkenal, Masjid ini tampak jelas terlihat dari Tanjung Pinang yang tepat berada bersebelahan dan dipisahkan oleh laut, jika kita berada digedung Gong-Gong, maka Masjid yang berada di Peunyeungat tampak terlihat dengan warna yang sangat mencolok yaitu kuning.

Pulau Peunyengat ini adalah pulau paling misteri dan segudang cerita mistik, dipulai ini Masjid yang corak kuning tersebut adalah menjadi tujuan utama para wisatawan, selain makam kerajaan, dan sejumlah tempat-tempat lainnya, menurut sejarah, Masjid tersebut dibangun dan direkat dengan putih telur, bukan hanya itu, konon katanya setiap orang yang Shalat lalu berdoa di Masjid tersebut, maka akan terkabul doanya. Jika anda ingin tau sensasi berada di Pulau Peunyengat, saya sarankan silahkan datang dan rasakan sendiri, cerita turun temurun, jika anda berkunjung ke pulau ini, silahkan diawali dengan niat yang baik dan berlaku baik serta sopan ketika tiba di pulau tersebut.

Kita kembali ke Tanjung Pinang, menurut sumber sensus penduduk (2010), disebutkan bahwa Etnis Melayu yang masih mendiami Tanjung Pinang adalah sebesar 30,7%, selebihnya di isi oleh Etnis Jawa 27,9%, Tionghoa 13,5% kemudian di isi oleh berbagai etnis lainnya seperti Minangkabau, Batak, Sunda, Bugis dan lainnya. Untuk etnis Tionghoa, jika anda menginjakkan kaki di Tanjung Pinang, keberadaan Etnis Tionghoa memang sangat tampak sekali, bahkan tampak keberadaan mereka saat anda pertama kali masuk kekapal untuk berangkat ke Tanjung Pinang. Etnis ini memang telah berbaur dengan masyarakat Tanjung Pinang dalam kurun waktu yang cukup lama.

Kemarin, ketika saya ke Tanjung Pinang, saya sudah berniat untuk makan Ikan Pari Bakar, karena Ikan Bakar memang menjadi andalan kuliner kota ini, saya sudah lama menginginkan Ikan Pari bakar ini, karena ikan ini adalah bagian dari masa lalu saya, ketika mengingatkan ikan pari, yang pertama terlintas adalah Kakek dan Nenek saya, diwaktu SMP dulu, ikan ini paling sering dibawa pulang oleh Kakek untuk dibakar dirumah, kami bisa menyantapnya 3-6 kali dalam sebulan, karena Kakek saya juga penyuka Ikan Pari Bakar, namun pasca pindah dan hidup dengan orang tua, saya tidak merasakannya lagi, jika pun ada dalam kurun waktu 8 tahun, saya merasakan Ikan Pari Bakar tidak lebih dari 7 kali (mungkin).

Maka untuk bernostalgia pada masa lalu saya, kemudian saya putuskan untuk makan ikan ini di Tanjung Pinang, yang memang menjadi salah satu andalan kuliner. Bagi anda penyuka kuliner seafood, Tanjung Pinang memang cocok menjadi tujuan wisata anda, oh ya, selain masakan, soal lokasi liburan, seperti pantai, tempat sejarah, soal ini anda tidak perlu bingung, disini anda akan menemukan banyak sekali lokasi-lokasi wisata yang dapat anda nikmati dan selfie-selfie untuk eksis dimedia social, tak percaya, lihat saja para instagramer Tanjung Pinang, dihiasi oleh berbagai foto-foto kece yang membuat anda segera ingin ke Tanjung Pinang.

Adapun tempat-tempat yang disarankan jika anda ke Tanjung Pinang adalah, Pantai Trikora, Danau Biru Bintan, Pulau Peunyengat, Bukit Panglong, Gedung Gong-Gong, White Sand Island, Jembatan Dompak yang tak kalah dari jembatan Barelang Batam, Treasure Bay Lagoi yang menjadi kolam renang terbesar di Asia Tenggara, Vihara Avalokitesvara dan masih banyak lainnya, yang berada diantara Bintan dan Tanjung Pinang.
Share:

Jangan Menjadi Tuhan Medsos


Di era digitalisasi dan perkembangan teknologi informasi seperti saat ini bukan saja menimbulkan dampak positif, tapi menimbulkan dampak negatif yang juga begitu besar, timbulnya dampak negatif itu bukan disebabkan oleh teknologi, melainkan akibat dari perkembangan teknologi yang tidak didasarkan atau dibarengi dengan perkembangan ilmu pengetahuan manusia secara umum, sehingga penggunaan teknologi tidak didasarkan pada kebutuhan positif. Dampak negatif yang paling terasa dalam perkembangan teknologi informasi adalah pesatnya pertumbuhan informasi palsu yang diciptakan dengan sengaja oleh orang-orang yang memiliki kepentingan terhadap hal itu, dampaknya bukan saja kesimpang-siuran informasi, tapi melainkan lebih besar dari itu, misalnya terjadi aksi kriminal, hukum bar-bar, mengumpat, memvonis sepihak, prasangka, dan kerugian-kerugian fisik maupun non fisik lainnya yang diderita oleh orang-orang yang menjadi korban.

Sebut saja persekusi misalnya, aksi seperti ini kerap terjadi di Indonesia, padahal belum tentu orang yang di persekusi salah. Persoalan ini muncul bukan tanpa dasar, di Indonesia pengguna medsos menurut riset APJII di tahun 2016 mencapai angka 132,7 juta orang, akan tetapi budaya literasi di Indonesia berada diangka terendah kedua diseluruh dunia, maka tak heran survei yang dilakukan oleh CIGI-Ipsos pada tahun 2016 menyebutkan bahwa 65% masyarakat Indonesia menelan mentah-mentah informasi yang beredar di Internet. oleh sebab itulah, perkembangan hoax seperti jamur dimusim hujan, bahkan benar-benar dijadikan ladang bisnis oleh orang-orang tertentu untuk meraup keuntungan materi.

Orang-orang dengan mudah menjadi Tuhan di medsos, tuduhan-tuduhan tak berdasar dan secara bar-bar dilakukan dengan mudah dan semena-mena, sehingga menimbulkan beban psikologi bagi yang tidak mampu menerima, tuduhan seperti bibit PKI, liberal, anti agama, radikal, antek asing, yahudi dan lainnya sudah menjadi pemandangan dan kejadian biasa di media social, bahkan tak jarang tuduhan-tuduhan yang lebih berat dari itu pun sering dialami oleh pengguna medsos, yang bahkan merendahkan martabat ia sebagai manusia.

Aksi-aksi tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, sebut saja misalnya yang sedang ngetrend sekarang yaitu, aksi persekusi dilakukan kepada orang-orang tertentu dengan alasan atau embel-embel “membela agama”, padahal jika dikaji, perbuatannya juga tidak sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya, karena pada dasarnya, tidak ada satupun agama yang mengajarkan “kekerasan, penghinaan, prasangka buruk, menyebarkan berita yang diragukan kebenarannya (bohong), atau perbuatan yang berdampak negatif lainnya”, karena semua agama mengajarkan kedamaian dan kebaikan, sekalipun atas nama membela agama.

Setiap hari, di Indonesia ada ribuan berita-berita palsu yang di share dan berkembang kemana-mana kemudian dikonsumsi oleh orang-orang yang memiliki budaya literasi rendah, sehingga terjadi perubahan midset masyarakat, yang kemudian menjadi terbiasa melakukan share informasi-informasi yang diragukan kebenarannya. Maka, pola pikir tersebut berkembang menjadi kepribadian, terjadilah setiap hari orang-orang Indonesia mengkonsumsi berita-berita negatif yang hanya didasarkan asumsi belaka, bukannya fakta. Dampaknya kemudian, orang ramai-ramai menjadi Tuhan, seolah-olah apa yang dipikirkannya adalah sebuah kebenaran yang mutlak dan siapapun yang mencoba berpikir tidak sama dengannya, maka dianggap sebagai bagian dari kelompok yang tersesat.

Jangan menjadi Tuhan, mungkin ini kata yang pantas dialamatkan kepada orang yang selalu mengeluarkan perkataan kepada orang lain, dasar yahudi, anti agama, kaum liberal, manusia laknat, penghuni neraka, dan lainnya, bisa jadi orang tersebut punya sedikit ilmu, sehingga sudah merasa jadi “Tuhan” yang punya hak memberikan vonis kepada orang lain atas nasib dan kesalahannya secara sepihak, padahal Tuhan pun tidak demikian, atau bisa jadi tak berilmu sama sekali, sehingga benar-benar buta akan akibat dari omongannya, atau bisa juga karena memang tabiatnya yang demikian, sudah terbiasa memvonis orang, bahkan sudah menjadi sesuatu yang benar dan lumrah baginya.

Entahlah, kadang mengingatkan sesuatu yang baik pun dianggap “liberal dan yahudi”, sayapun kenyang menikmati tuduhan-tuduhan seperti itu…
Share:

Aceh, Syariat Islam and LGBT


LGBT, banyak orang mengenal istilah LGBT, tapi sangat sedikit yang paham akronim dari LGBT ini, ia adalah akronim dari "lesbian, gay, biseksual, dan transgender". Tapi kali ini saya tidak sedang membahas definisi dan aktivitas dari LGBT ini, melainkan persoalan terkini seputar dunia LGBT yang berkedudukan atau menetap di Provinsi Aceh, sebelumnya saya akan membahas terlebih dahulu terkait kewenangan Aceh dalam kedudukannya sebagai salah satu Provinsi di Indonesia, yang disebut sebagai “Kewenangan Khusus.

Dari banyaknya kewenangan khusus yang diberikan kepada Aceh, salah satunya adalah kewenangan penerapan syariat Islam, ini adalah kewenangan yang kemudian menjadikan Aceh sedikit luluh terhadap Indonesia, bukan tanpa alasan, penerapan syariat Islam adalah memang menjadi tuntutan masyarakat Aceh sejak Indonesia saat itu masih dalam perjuangan, dan pemberlakuan syariat Islam bahkan pernah dimintakan langsung oleh tokoh Aceh Teungku Muhammad Daud Beureueh kepada Soekarno, namun dikemudian hari, Soekarno mengingkarinya yang kemudian membuat Aceh bergejolak karena merasa dikhianati oleh Pemerintah Pusat.

Sejak itulah, pemberontakan demi pemberontakan yang dari generasi ke generasi terus berlanjut di Aceh hingga akhirnya pada tanggal 15 Agustus 2005 terjadinya Perdamaian antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang menjadi keberlanjutan dari perjuangan sebelumnya yang dinamakan MoU Helsinky.


Syariat Islam sendiri dideklarasikan pada tahun 2001, jauh sebelum terjadinya MoU Helsinky, pemberian kekhususan itu sebenarnya ditengarai untuk membendung pergerakan perlawanan yang sedang terjadi di Aceh, saat itu, pro dan kontra terus bermunculan, bahkan dituding sebagai bagian upaya pemerintah Indonesia untuk memblokir dukungan Negara-Negara Non Muslim, yang saat itu semakin mendapatkan tempat untuk pergerakan GAM.

Pasca perdamaian dan lahirnya Undang-Undang Pemerintah Aceh atau disingkat UUPA, pemerintah Aceh semakin punya keleluasaan untuk menerapkan pemberlakuan syariat Islam, maka lahirlah berbagai Qanun yang menyangkut persoalan syariat Islam, hingga terbentuknya Dinas Syariat Islam, Mahkamah Syariah dan Polisi Wilayatul Hisbah (WH) yang mengatur dan mengurusi khusus persoalan syariat.

Sejak pemberlakuan syariat Islam hingga sekarang, setiap proses hukuman, pencegahan maupun penegakannya selalu saja menuai pro dan kontra, misalnya seperti hukuman cambuk, maka akan ada banyak lembaga-lembaga diluar Aceh yang kemudian bersuara, menyuarakan pelanggaran HAM, tidak manusiawi dan sebagainya, begitu pula ketika Walikota Banda Aceh saat itu menangkap anak-anak Punk yang kemudian digunduli dan diberikan pelatihan oleh SPN Seulawah, untuk kemudian dikembalikan kepada orangtuanya, saat itu berbagai lintas komunitas diluar Aceh memprotes atas aksi Walikota, bahkan dibeberapa Negara, Kedubes Indonesia di demo sebagai bentuk protes mereka atas sikap Walikota Banda Aceh, namun di Aceh masyarakatnya melakukan perlawanan dengan memberikan dukungan penuh atas sikap pemerintah untuk memberantas kehadiran anak punk yang semakin menjamur, karena dianggap tidak sesuai dengan syariat Islam.

Begitu pula dengan  kasus baru-baru ini terjadi yang menguras tenaga berbagai pihak, yaitu Polres Aceh Utara melakukan penertiban terhadap salon-salon yang terletak di Wilayah Hukum Aceh Utara, ditemukan banyaknya Waria-Waria yang kemudian di cukur rambutnya dan dibina. Pasca penertiban itu, Kapolres Aceh Utara Untung Sangaji mendapatkan kritikan tajam dari berbagai kalangan diluar Aceh, bahkan Ketua MPR Zulkifli Hasan menganggap sebagai bentuk tidak menghargai kemanusiaan, kemudian Komnas HAM menyebutkan sebagai bentuk persekusi, memang Komnas HAM selalu bersuara keras disetiap kali ada penegakan hukum terkait syariat Islam di Aceh, dan Kapolri pun memerintahkan Untung Sangaji untuk diperiksa, yang kemudian ia dipanggil oleh Propam.

Tapi hal itu berbanding terbalik di Aceh, di Aceh Untung Sangaji mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat, bahkan aksinya dipuja-puji oleh masyarakat Aceh, dukungan bahkan diberikan dalam bentuk aksi yang dilakukan oleh berbagai kalangan di Aceh, bukan hanya masyarakat, Pemerintah baik Legislatif maupun Eksekutif pun mendukung Untung Sangaji, hal tersebut dibuktikan dengan hadirnya Gubernur Aceh dan Ketua DPRA saat massa melakukan aksi solidaritas untuk Untung Sangaji.

Memang begitulah dinamika penegakan syariat Islam di Aceh dari awal masa pendeklarasianya hingga saat ini masa penegakannya, penegakan syariat Islam di Aceh selalu saja menjadi bagian cerita menarik yang disebut-sebut atau dianggap bagian dari pelanggaran HAM, menariknya hal tersebut berbanding terbalik dengan masyarakat Aceh, masyarakat Aceh akan tetap menjadi bagian yang memberikan dukungan solidaritas penuh terhadap pihak-pihak yang menegakkan syariat Islam.


Bahkan saat ini, pasca penertiban yang dilakukan oleh Kapolres Aceh Utara, masyarakat berharap aksi-aksi tersebut dilakukan di seluruh Aceh untuk menertibkan kehadiran Waria-Waria atau LGBT di Aceh, karena Aceh bukanlah “Tanah Bencong” melainkan “Tanah Rencong”. Masyarakat Aceh tidak peduli terhadap reaksi masyarakat di luar Aceh yang memprotes sikap Aceh terhadap pihak-pihak yang dianggap tidak sesuai dengan syariat Islam.
Share:

Indonesia Surga Konten Negatif

Apa yang pernah menjadi viral di negeri ini adalah mayoritas konten konten negatif, hanya sedikit konten konten positif yang mampu viral di negeri ini, entah apa yang menjadi penyebab dasar sehingga negara ini begitu terkotori dengan perilaku seperti itu, apakah masyarakatnya yang tidak mampu memilah ini baik dan itu buruk, atau memang jari jari kita yang terlalu latah untuk menekan tombol share and like, yang kemudian ada sedikit rasa kepuasan karena sudah berbagi, atau bisa juga karena ingin banyak di komentari dan di bicarakan oleh follower sehingga publik hadir melihat media sosial kita.

Apapun alasannya, konten negatif bukan saja telah menyebabkan perubahan struktur sosial di negeri ini, tapi juga telah banyak memakan korban, akibat dari konten konten negatif masyarakat terbelah kedalam berbagai kubu pro dan kontra, masyarakat kita terpecah belah hanya karena pandangan dan provokasi dengan konten konten negatif, setiap konten negatif yang di upload ke media sosial selalu saja mendapat perhatian lebih dibanding konten positif, bahkan konten negatif sebagian telah dijadikan bisnis yang menggiurkan yang mampu menghasilkan pundi pundi rupiah ratusan juta.

Ada banyak artis media sosial yang mampu meraup pundi pundi rupiah melalui konten konten negatif yang di uploadnya, meski namanya dipandang negatif, namun tidak menyurutkannya untuk berhenti, karena cukup nikmat penghasilan yang didapatkan dari hasil konten konten negatif seperti itu, kemudian banyak lagi akun akun media online yang konsen terhadap cerita cerita negatif. Di negara kita, hampir tidak ada media yang mampu booming tanpa konten negatif, media media ternama misalnya, mereka tetap memilih judul berita yang ada sisi negatifnya untuk membuat para pembaca penasaran dan ikut membacanya.

Bukan saja dalam soal politik dan sosial, soal Agama pun konten negatif juga sangat di nikmati, pembicaraan yang terpotong, tulisan tulisan palsu, sampai pendapat yang tidak sama antara ustad A  dan ustad B, kemudian di provokasi dan menjadi viral dan memunculkan perdebatan panjang di media sosial. Memang begitulah fenomena perilaku dalam media sosial, sesuatu hal tanpa perdebatan menjadi tidak seru, sehingga perdebatan itu kerap kali dimanfaatkan untuk memecah belah antara masyarakat, belum lagi masyarakat kita yang masih sangat paranoid dan mudah terprovokasi jika sudah merasa pendapatnya tidak sama dengan orang lain, sikap ingin menang sendiri menjadi laku dan modal bagi para pelaku provokasi.

Para pelaku provokasi melakukan itu bukan tanpa alasan, tentu ada kepentingan terselubung dibaliknya, baik itu kepentingan pribadi, politik maupun kepentingan materi atau bahkan kepentingan yang lebih besar lainnya.

Padahal jika kita kembali pada konteks ajaran agama, maka tidak ada satupun agama yang membenarkan perilaku perilaku negatif, meskipun itu atas alasan "demi agama". Maka pelaku pelaku yang menyebarkan provokasi dengan hasutan, berita palsu, tuduhan, dan konten negatif lainnya yang memunculkan perdebatan dan perpecahan tidak bisa dianggap sebagai pembela agama, melainkan sebagai perusak ajaran agama itu sendiri, sekaligus perusak negara.
Share: