Pulau Penyengat; Wisata Sejarah dan Religi



Kali ini tanggal 14 April 2018, saya berkesempatan untuk mengunjungi Pulau Penyegat, pulau yang letaknya berseberangan dari Kota Tanjung Pinang, Pulau Penyengat dan Tanjung Pinang hanyalah dipisahkan oleh laut, jika kita melihat dari Kota Tanjung Pinang, Pulau Penyengat terlihat jelas tampaknya, apalagi Mesjid kebanggaan Pulau Penyengat, yaitu Mesjid Raya Sultan Riau, yang memiliki sejarah unik dan berbagai cerita-cerita yang membuat mesjid tersebut banyak dikunjungi dari berbagai daerah. Setiba di Pulau Sri Bintan Pura Tanjung Pinang, tak jauh dari situ terdapat pelabuhan untuk menyeberang ke Pulau Penyengat, letaknnya berseberangan dengan Pelabuhan Sri Bintan Pura, kita hanya perlu keluar dari Pelabuhan tersebut terlebih dahulu kemudian belok kiri dan berjalan kaki, sekitar 100 meter kemudian masuk ke lorong untuk menuju pelabuhan penyeberangan ke Pulau Penyengat.

Pelabuhan untuk penyeberangan ke Pulau Penyengat memang terlihat sempit dan kecil, trasportasi yang digunakan adalah Boad Kecil (orang sini menyebutnya; Pompong), biaya untuk sekali penyeberangan seharga 7.000,-/orang, setelah membayar, kita disuruh tunggu untuk mencapai angka penumpang berjumlah 14 orang, nah setelah cukup 14 orang baru kemudian kita dipersilahkan untuk menaiki Pompong tersebut.

Setelah kami menaiki Pompong, saya sudah merasakan ada yang tidak beres ini Pompong, karena asap mesinnya mengepul sejak di Pelabuhan, tapi sang pemilik Pompong tentang melanjutkan penyeberangannya, lalu Pompong terus berlayar meninggalkan pelabuhan, rasanya jalannya Pompong sangat lambat, dalam hati sempat berpikir, “kapan sampainya kalau jalannya gini”, tiba-tiba sampai ditengah laut, Pompong tersebut mesinnya mati, nah disinilah kegaduhan penumpang yang berjumlah 14 orang mulai, terutama ibu-ibu yang ngomel “udah tau Pompongnya rusak, masih saja maksa jalan” celetuk salah satu ibu, ditengah hayunan Pompong kiri kanan. Mendengar berbagai celotehan ibu-ibu, supir Pompong tersebut hanya bisa berdiam saja, kemudian ia dengan sigap menelpon ke Pelabuhan untuk meminta bantuan Pompong lainnya mengangkut kami, tidak butuh waktu lama, 5 menit kemudian Pompong tersebut tiba ditengah laut, dan kami dipindahkan ke Pompong tersebut.


Setelah sampai dipelabuhan, akan ada becak yang menawarkan kita untuk berkeliling Pulau Penyengat, harga sekali keliling 30.000,-/becak, kemudian menaiki becak berjalan dijalan yang lumayan sempit membawa kami ke Makam Raja, disana ada Makam Raja Abdurrahman dan Makam Raja Ali Haji, tukang becak menawarkan kami untuk turun berfoto, namun kami tidak berniat untuk foto di Makam Raja, becak terus melaju kemudian singgah dirumah adat, sesampai disini kami diturunkan untuk melihat-lihat rumah adat dan tukang becak memberikan kami nomor handphonenya, agar kami menghubunginya jika sudah selesai berkeliling disini.


Memasuki rumah adat, saya jadi teringat kampung halaman; Aceh, ya hampir sama, corak rumah adat dan rumah berbentuk panggung, hampir sama dengan rumah adat kami di Aceh, begitu memasuki rumah adat, terlihat pelaminan, dan itupun terlihat hampir sama dengan pelaminan di Aceh yang corak warnanya dihiasi warna Merah, Kuning, Hijau, mungkin memang adat Masyarakat Pulau Penyengat ini tidak jauh berbeda dari adat masyarakat Aceh, yang juga sama-sama kental kebudayaan Melayu.


Sesampai berkeliling dari rumah adat, kami menghubungi tukang becak, tak berselang lama, tukang becak tiba menjemput kami, dan kamipun meminta diantarkan kembali ke Mesjid kebanggaan Masyarakat Pulau Penyengat, Mesjid ini terletak tepat disamping pelabuhan. Mesjid ini sepertinya tidak pernah sepi, begitu menaiki tangga dan memasuki mesjid kami dipersilahkan untuk membuka alas kaki terlebih dahulu, kemudian begitu memasuki mesjid, didepan pintu terdapat Al-Quran karya tulisan tangan Abdurrahman Stambul.


Menurut sejarah,  mesjid ini dibangun dengan menggunakan campuran putih telur, kapur, pasir dan tanah liat. Mesjid yang berukuran 18 x 20 meter ini cukup dikenal oleh masyarakat Provinsi Kepulaua Riau, dan dianggap salah satu mesjid yang sangat sakral, tak sedikit yang ke pulau ini warganya khusus hanya untuk melaksanakan shalat di mesjid ini. Mesjid yang bercorak warna kuning dan hijau ini begitu menawan dan telah dibangun sejak 1803. Saat saya memasuki mesjid ini, terlihat nuansa yang berbeda, disini orang-orang terlihat lebih serius dan menjaga etikanya, tidak sembarangan dan sesuka hati. Terlihat didalam orang-orang yang sedang menunaikan shalat sunnah. 
Share: