Ngopi Ke Pulau Belakang Padang


Selamat datang di Belakang Padang, Pulau Penawar Rindu, begitulah tulisan besar yang terpampang begitu anda menginjakkan kaki di pelabuhan Belakang Padang, salah satu pulau yang lalu lintas hilir mudik masyarakatnya begitu padat dari Sekupang, Batam ke Pulau Belakang Padang, perjalanan ini membutuhkan setidaknya 15 menit dengan biaya Speed Boad seharga 15.000 rupiah sekali perjalanan. 

Ditengah teriknya matahari, saya mencoba menghilangkan rasa penasaran dari obrolan dan cerita orang-orang terkait pulau ini, hari ini tanggal 01 April 2018, saya menyempatkan waktu untuk menikmati perjalanan ke Pulau Belakang Padang, menempuh perjalanan dari Pelabuhan Sekupang sekitar pukul 10.00 Wib dan 15 menit kemudian tiba di Belakang Padang. Setiba disini, yang pertama saya cari adalah warung kopi, sebenarnya ini juga asalan saya ke pulau ini, karena rasa penasaran cerita tentang kegemaran warga disini terhadap minuman pekat berwarna hitam itu.


Tidak jauh dari pelabuhan, atau disebelah kanannya terletak warung kopi yang cukup ramai warga, namanya warung kopi Botak, cukup terkenal di pulau ini, disinilah saya singgah untuk menikmati kopi dan menyantap makanan. Menikmati suasana warung kopi disini, mengingatkan saya kampung halaman, yaitu Aceh, yang kondisinya hampir sama, dimana kami juga penikmat kopi, dan masyarakatnya hampir 24 jam memenuhi warung-warung kopi. Diwarung ini terdapat berbagai aneka makanan, mulai nasi lemak, lontong, gado gado, prata dan lainnya, layaknya seperti warung-warung kopi kebanyakan di Banda Aceh, tapi yang ini letaknya dipasar, sedangkan untuk minuman ada kopi dan teh tarik yang menjadi andalan disamping berbagai minuman lainnya.

Keluar dari warung kopi Botak, kemudian saya singgah ke Mesjid, yang juga tak jauh dari situ,  disini saya merasakan religiusnya warga Belakang Padang, untuk Shalat Dzuhur mesjid ini dipenuhi hampir 4 shaf. Kemudian saya singgah lagi di warung kopi kedua, yaitu warkop Ameng sebenarnya nama warung kopiny adalah “double peach”, tapi dikenal dengan nama warkop Ameng, salah satu warkop paling terkenal di Pulau Belakang Padang, sesampai disini saya mencoba memesan teh tarik dingin, karena kata orang-orang, teh tarik di pulau ini menjadi andalan minuman paling diminati, setelah mencicipi teh tarik ini, maka kesimpulan saya adalah, bahwa teh tarik yang dijual di pulau ini hampir sama rasanya dengan teh tarik yang dijual di Banda Aceh, saya perkirakan itu adalah bubuk yang sama dengan yang dijual di Aceh, sepertinya ini teh tarik yang bubuknya dari Malaysia.

Untuk kopi, menurut saya memang lumayan enak, tapi terlalu manis, kopi seperti ini pernah saya rasa diperdalaman Aceh Besar, yaitu Indrapuri, dan rasanya hampir sama, kopinya bau-bau asap dan tidak terlalu pahit, biasanya yang menyukai pahit kopi, maka kurang suka dengan rasa seperti kopi ini, dan menurut saya kopinya terlalu ringan, tapi saya sudah menghabiskan dua gelas kopi di pulau ini.


Nah untuk urusan kendaraan, jika anda ingin berkeliling Pulau ini, begitu anda keluar dari pelabuhan, akan ada Ojek dan Becak yang bisa jadikan transportasi untuk berkeliling pulau ini, pulau yang penduduknya berkisar 20.000 jiwa ini tak begitu luas, menurut informasi yang saya dapatkan, waktu 60 menit cukup untuk berkeliling kesemua area pulau ini, tapi saya kesini memang bukan berniat untuk mengelilingi pulau ini, hanya untuk menikmati kopi dan teh tarik, dan selama beberapa jam saya disini, saya belum melihat kendaraan jenis mobil di pulau ini, sepertinya pulau ini memang warganya tidak punya mobil, karena alasan luas pulau yang sempit barangkali (ini hanya asumsi), jadi tidak dibutuhkan transportasi sejenis itu dipulau ini.

Sepertinya saya menemukan suasana salah satu kampung di Aceh disini, suasana masyarakatnya, pasarnya, warung kopinya, seperti Padang Tiji, Kabupaten Pidie, Aceh, tapi tentunya Padang Tiji bukanlah kepulauan, Begitulah kira kira, kesan saya terhadap Pulau Belakang Padang ini, dalam perjalan singkat selama sekitar 5 jam.
Share: