Rusaknya Moral Ureung Aceh

Informasi yang paling cepat berkembang dan trending di Aceh adalah terkait dua hal, pertama tentang mesum, kedua tentang politik dan pemerintahan. Dua hal tersebut kerap kali menjadi perbincangan hangat dalam media online maupun media sosial. Isu negatif yang sering mewarnai dunia internet tersebut memberikan pesan moral yang tak baik pula bagi masyarakat Aceh. Artinya kita masih dihadapkan pada simbolisme keagamaan, tapi minim dalam segala tindakan kehidupan yang mencerminkan nilai nilai Islam itu sendiri. Kita dengan muda melihat orang orang menumpahkan sumpah serapahnya dalam dunia maya misalnya, padahal perilaku tersebut jauh sekali dari peradaban yang seharusnya syariah yang sedang kita galakkan di bumi yang pertama kali datangnya Agama Islam ke Nusantara ini.

Disatu sisi kita begitu bangga dengan sebuah lebel "Serambi Mekkah" kemudian ditambahkan lagi dengan aturan penerapan Syariat Islam, setidaknya dua nama besar yang kita sandang itu menjadi kiblat kehidupan ummat muslim di Indonesia, bahkan di Asia, tapi perilaku perilaku manusianya jauh dari sifat sifat yang Islami, yang juga diajarkan oleh Baginda Nabi Besar Muhammad SAW yang kita sanjungi dan juga menjadi suri tauladan bagi ummat manusia di akhir zaman ini.

Sebagai contoh misalnya, yang paling sering kita temui, jika suatu kasus yang menyangkut dengan pelaku mesum, orang orang kita dengan senang hati dan berbangga melakukan penyebaran informasi yang sangat vulgar keranah media sosial, bahkan aib orang begitu bangga kita sebarkan, menghujat, menghina, memaki sampai pada sumpah serapah dan kata kata tak pantas acap kali keluar dari mulut kita.

Yang kita lakukan adalah mengabaikan bahwa perbuatan riya diatas aib orang adalah perbuatan yang juga tak diperbolehkan dalam agama Islam, kita melupakan perihal itu karena terlalu bereforia pada kesalahan orang, sehingga melupakan kesalahan kita sendiri, kita terlalu sibuk dengan aib orang sehingga melupakan bahwa janji Allah, siapa yang mengumbar aib orang, akan diumbar pula aib nya, menutup aib orang lain, ditutup pula aib kita.

Ada pula sebuah pepatah dalam Islam yang mengatakan “Siapa yang membuka aib orang lain, sama dengan memakan bangkai”. Kita lupa pada hal hal seperti ini. Betapa mengerikannya moral generasi Aceh, jika orang tua dan pemerintah tak bisa mendidik generasi Aceh, maka apa gunanya dua nama besar yang kita sandang di Aceh saat ini, tapi aklak dan moral generasi kita sudah jauh melenceng dari kehidupan sebagaimana layaknya masyarakat Muslim.

Kemudian soal politik dan pemerintahan, acap kali kecurigaan dan sumpah serapah atas ketidakpuasan batin kita diumbar kemedia sosial misalnya, dengan berbagai sumpah serapah yang jauh sekali cerminan sebagai seorang muslim. Kita lebih senang menghujat, menghina dan mengkritik dibandingkan melakukan upaya bantuan terhadap pemerintah agar negeri ini dapat berkembang, nafsu syahwat kita akan sebuah impian yang namanya "perubahan dan kesejahteraan" tidak dibarengi dengan perbuatan kita untuk menuju kearah itu, maka puncak dari itu yang selalu kita salahkan adalah pemimpin. Disamping itu kita melupakan bahwa mencintai pemimpin adalah bagian dari perintah dalam agama Islam, maka tak heran berbagai berita hoax dan kekurangan pemimpin kita umbar dengan berbangga hati, seolah olah kepuasan kita terletak pada menghina orang lain dan merendahkan martabat orang lain.


Bagi yang berpikir jauh, tentu nama besar yang kita sandang dan mencerminkan kehidupan muslim agaknya memalukan, ada ketidakpantasan simbol yang kita sandang jika dibanding dengan perilaku ini, setidaknya akibat dari perilaku moral kita menambah daftar panjang tercorengnya agama yang mulia dan telah benar diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad.

Mudah mudahan orang tua dan pemerintah, sudah mulai serius membangun dan mendidik generasi Aceh untuk beraklak dan bermoral layaknya berperilaku sebagai Muslim yang benar, tidak lagi disibukkan pada simbol simbol besar yang akhirnya akan memberikan dampak negatif kepada Aceh dengan dua status besar yang disandangnya.

Mengerikan...!!!
Share: