• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Wajah Politik Aceh Pasca Damai

Saat ini, Aceh sudah memasuki angka 11 tahun lebih perdamaian yang dirajut antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Pasca damai yang dilaksakan di Helsinky Firlandia tahun 2005 tersebut telah menghasilkan beberapa kesepakatan penting yang tertuang dalam Undang Undang Pemerintah Aceh (UUPA) diantaranya dapat mendirikan partai politik lokal, pengelolaan sumber daya alam, bendera dan lambang serta banyak kekhususan lainnya yang diberikan untuk Aceh.

Dari banyak kesepakatan penting yang tertuang dalam UUPA tersebut, mendirikan partai politik lokal adalah yang paling cepat dan sukses diaplikasikan baik oleh pemerintah pusat maupun para mantan kombatan GAM. Partai lokal yang kemudian paling sukses dan menguasai parlemen maupun esekutif adalah Partai Aceh dari sejumlah partai local lainnya yang pernah mengikuti pemilihan legislatif.

Pada Pileg 2009, Partai Aceh mampu mengantarkan 33 kadernya dari total 69 total anggota parlemen Aceh, belum lagi di eksekutif yang mayoritas dikuasai oleh kader Partai Aceh, kemudian ditahun 2014 Partai Aceh mengalami penurunan menjadi 29 dari total 81 anggota parlemen Aceh. Sedangkan partai lokal lainnya mendapatkan hasil yang mengecewakan, termasuk Partai Sira.

Partai Sira adalah perubahan wujud dari organisasi pergerakan sipil yang pernah sukses mengumpulkan jutaan rakyat Aceh untuk melakukan aksi ke ibu kota Provinsi Aceh yaitu Banda Aceh, untuk ikut menyuarakan nasib Aceh pada saat sedang bergejolak konflik tahun 2000 silam. Organisasi yang dinaungi oleh intelektual dan pemuda Aceh ini gagal mengumpulkan suara ketika telah berubah wujud menjadi partai politik pada saat pemilihan legislatif tahun 2009, bahkan tidak satupun kadernya mampu meraih kursi untuk tingkat parlemen Aceh. Akhirnya tahun 2014 Partai Sira memutuskan tak ikut lagi dalam pemilihan legislatif 2014. Begitu pula nasib partai lokal lainnya seperti Partai Rakyat Aceh (PRA), Partai Aceh Aman Sejahtera (PAAS) dan Partai Bersatu Aceh (PBA).

Berbeda pula nasibnya dengan Partai PDA, partai yang mengandalkan basis basis pesantren ini mampu mengantarkan satu orang kadernya ke parlemen Aceh pada Pileg 2009, bahkan ditahun 2014 mereka kembali ikut meskipun namanya sedikit berubah, dan kembali mampu mengantarkan satu orang kader yang sama ke parlemen Aceh.

Ditahun 2014, lahir lagi satu partai lokal buah dari perseteruan para mantan kombatan, partai yang diisi oleh mantan kader Partai Aceh ini diberi nama Partai Nasional Aceh (PNA), partai ini lahir dengan mengandalkan sosok Irwandi Yusuf (Gubernur Aceh periode 2007-2012), lahirnya partai ini akhirnya mampu mengantarkan 3 orang kadernya keparlemen Aceh, meski kelahiran partai tersebut telah membuat Aceh sangat tidak stabil kondisi keamanannya dan banyak memakan korban jiwa pada pileg 2014, akibat dari perseteruan para kader baik yang memihak Partai Aceh maupun PNA.

Meski partai lokal merupakan anggota mayoritas di parlemen Aceh, tapi sangat disayangkan kondisi Aceh yang tak mampu mengejar ketertinggalan secara signifikan, ada banyak problem yang tak mampu diselesaikan hingga kini di Aceh, pada saat uang yang tertuang dalam Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) mencapai angka 12 Trilyun lebih, uang tersebut didapatkan dari berbagai sumber maupun bantuan pemerintah pusat termasuk dana otonomi khusus, sedangkan Aceh hanya memiliki Pendapatan Asli Aceh (PAA) berkisar 2 Trilyun.

Urusan kemiskinan, pengangguran, infastruktur, energi listrik, rumah tak layak, dan berbagai problem lainnya menjadi santapan setiap hari yang terekspos media media di Aceh, belum lagi yang tidak terekspos. 

Disaat uang yang melimpah dan kondisi yang pahit bagi rakyat Aceh, para elit politik yang mayoritas dari partai lokal malah bukan menunjukkan simpati dan kerja kerasnya untuk menuntaskan problem yang sedang dialami oleh masyarakat Aceh, selagi uang yang digelontorkan ke Aceh masih tinggi angkanya. Tapi pasca damai, perseteruan antar elit politik paling menonjol ditunjukkan di Aceh ketimbang kerja untuk mensejahterakan masyarakat, dan masyarakat hanya disuguhkan dengan drama drama konyol para politisi yang kerap dipertontonkan itu. 

Perseteruan antara eskekutif dan legislatif seperti tak ada habis episodenya, panjang episode pun mengalahkan sinetron "Cinta Fitri" dan "Tukang Bubur Naik Haji", perseteruan itu dilakukan secara terang terangan, dipertontonkan, bahkan melupakan tugas dasarnya bekerja untuk kepentingan masyarakat. Bisa jadi karena rasa malu yang hilang dan empati kepada masyarakat yang kurang, membuat para politisi politisi ini tak memikirkan apa yang paling penting dan tidak penting bagi masyarakat untuk mereka kerjakan.

Maka tak heran, aksi aksi konyol para politisi kini jadi hiburan yang paling menarik untuk diperbincangkan oleh para masyarakat ketika sedang nongkrong menikmati segelas kopi.

Ya, inilah hiburan kami masyarakat Aceh...!!!


Share:

Suku Mante dan Kesesatan Informasi

Beberapa minggu ini Aceh dihebohkan dengan sebuah video yang di unggah oleh para komunitas trail dengan akun fredography, video yang memperlihatkan orang telanjang lari ketika berhadap secara tidak sengaja dengan komunitas trail, kemudian sosok tersebut berlari kencang kedalam semak rumput panjang yang kemudian menghilang tanpa jejak. Para komunitas trail mengunggah di youtube dengan membuat keterangan “Jangan tanya dimana, akan tetap kami rahasiakan, bisa jadi penduduk primitif, bisa jadi penuntut ilmu hitam

Pasca di upload ke youtube video itu menjadi viral dan dikonsumsi oleh masyarakat Aceh, Nasional bahkan Internasional. Ada jutaan pertanyaan yang kemudian ditanyakan tentang dimana lokasi video tersebut direkam, bahkan tersiar kabar melalui media bahwa pemerintah membentuk tim untuk menelusuri keberadaan yang kemudian disebut sebut sebagai suku mante.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa bahkan berargument dan memerintahkan untuk menelusuri suku mante. Begitu pula dengan pemerintah Aceh yang akan membentuk tim untuk menelusuri keberadaan suku mante tersebut.

Kemudian, sejak beredarnya video itu, banyak media yang mencoba memberitakan para narasumber yang mengaku sebagai saksi mata pernah melihat dan bertemu suku mante diperdalaman hutan, dari sekian banyak para sanksi mata yang diwawancarai mereka mengakui pernah bertemu dan melihat suku mante diperdalaman kabupaten Aceh Timur, Aceh Tengah, Gayo Lues dan Wilayah Leuser, tapi tidak ada yang pernah melihat dikawasan lokasi yang terekam dalam video tersebut.

Lokasi Pengambilan Video
Bungkamnya para saksi yang merekam video terhadap lokasi pengambilan video membuat isu liar, banyak orang yang mengira-ngira atau pun menduga bahwa video diambil dikawasan wilayah tengah Aceh, begitupula para narasumber yang menceritakan tentang pengalamannya bertemu suku mante.

Lintasgayo.co juga memberitakan dengan judul “Mensos Khofifah Perintahkan Penyisiran Mante di Aceh Tengah”, tapi benarkah video tersebut direkam seputaran wilayah tengah Aceh?, dugaan saya sama sekali bukan.

Sejak video itu beredar, pertama kali saya melihat, langsung teringat pada sebuah tempat yang pernah saya kunjungi, lokasi yang ada dalam video terasa sangat tidak asing bagi saya, kemudian perihal tersebut saya tanyakan kebeberapa teman saya, yang juga pernah melintasi daerah itu dan mereka juga mengiakannya, seorang sejarawan Aceh juga menuturkan lokasi yang sama dengan dugaan saya disalah satu media nasional ternama.

Melihat video dan lokasi yang saya duga sebagai tempat kejadian, maka agak sulit dipercaya sosok yang terlihat dalam video adalah “suku mante”, karena lokasi yang ada dalam video bukanlah lokasi yang terlalu terisolir, setiap hari ada mobil yang melewati kawasan tersebut untuk melakukan suatu bisnis yang entah legal atau illegal, kemudian tidak jauh dari situ juga banyak para pekerja, ditambah lagi sudah dibuat jalan yang sangat lebar dan bisa dilewati kendaraan besar serta adanya suatu objek wisata yang cukup indah, walaupun masih jarang dikunjungi karena akses jalan yang belum layak jika dikunjungi dengan mobil pribadi atau kendaraan bermotor ketika musim hujan tiba.

Jika dalam video itu benar merupakan suku mante, maka bisa jadi mante tersebut sedang tersesat atau terpisah dari rombongan lainnya, sehingga ia berada tidak terlalu jauh dengan pemukiman warga, atau bisa jadi penuntut ilmu hitam dan lainnya seperti yang tertera dalam keterangan unggahan video.

Dari berbagai penuturan saksi mata yang mengakui pernah melihat suku mante, mereka semuanya mengatakan bahwa suku mante sangat peka terhadap suara, bahkan jika sedikit ada suara atau bau manusia mereka langsung melarikan diri, kemudian sosok mante dideskripsikan sebagai orang pendek (kerdil), bahkan ada yang menyebutnya memiliki kaki terbalik.

Maka terlihat aneh jika dalam video yang diunggah tersebut merupakan suku mante, melihat posturnya juga tidak terlalu pendek seperti yang dideskripsikan para saksi mata, kemudian suara motor trail juga terdengar lumayan bising, ditambah lagi suara mesin disekitar tersebut dan orang orang yang sedang melakukan aktivitas pekerjaannya. 

Kecuali mante tersebut bermasalah dengan pendengarannya "tuli" atau tersesat.

Share:

Kesejahteraan dan Tradisi Lampu Mati

Dalam setiap ajang kampanye, kata "meningkatkan kesejahteraan" selalu saja menjadi sebuah kata peyakinan dan sebagai simbol utama yang menjadikan alasan masyarakat untuk memilih para calon pemimpinnya. 

Dan disetiap daerah yang sejahtera, selalu saja dibarengi dengan peningkatan investasi. Dengan semakin tingginya angka investasi maka diyakini semakin meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Bagi para investor, jaminan keamanan, infastruktur memadai dan jaminan hukum merupakan syarat mutlak yang menjadi tolak ukur mereka untuk memutuskan berminat atau tidak berinvestasi didaerah tersebut. Selain soal sumber daya dan hitungan hitungan lainnya.

Di Aceh, dari ketiga hal tersebut mungkin soal jaminan hukum bisa lebih di andalkan, karena self goverment nya yang diberikan pemerintah pusat terhadap Aceh, itupun jika legislatif dan eksekutif berjalan akur dalam pemerintahan sehingga mampu bekerja maksimal untuk memberikan dampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat melalui dukungan terhadap investasi, tapi jaminan keamanan serta infastruktur memadai merupakan sebuah keniscayaan untuk di penuhi oleh pemerintah hingga saat ini, sebut saja misalnya soal listrik.

Sejak 71tahun lebih Indonesia sudah merdeka, Aceh masih saja harus menghidupkan lilin sebagai penerangnya, bukan saja diperkampungan dan perdalaman, di Ibukota Provinsi sekalipun mati listrik sudah seperti tradisi. Setiap tahunnya soal listrik yang sering mati menjadi perbincangan hangat publik, namun tetap saja soal listrik ini akan berjalan seperti biasa, tak ada gejolak perubahan dalam menerangi provinsi paling barat di Indonesia ini.

Anehnya, soal sumber arus listrik ini dibangun dimana mana di Aceh, dibeberapa daerah bahkan berdiri perusahaan perusahaan pembangkit tenaga listrik, tapi seiring itu pula tak adanya perubahan soal pasokan listrik keseluruh negeri Aceh, masih saja Medan menjadi andalan utama pasokan listrik ke Aceh. Soal gelap atau terangnya Aceh itu hak nya Medan yang menjadi pemasok bagi lentera cahayanya Aceh.

Meski setiap tahun masyarakat Aceh mengeluh soal listrik yang mati, tapi ini tak menjadi perhatian khusus bagi pemerintah, hingga sekarang dan setiap tahunnya dan mungkin juga tahun tahun kedepannya lagi, tradisi mati lampu tetap menjadi hal yang harus diperingati dan dinikmati oleh masyarakat Aceh dengan suka cita, mau tidak mau dan suka tidak suka.

Padahal pemerintah dan bahkan pemimpin itu sendiri memahami betul, bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat harus terjaminnya infastruktur, termasuk soal jaminan pasokan arus listrik, agar para investor tidak meragukan diri untuk berinvestasi di Aceh.

Berbicara tentang kesejahteraan masyarakat tanpa menyiapkan infastruktur sama seperti ibu ibu yang berbicara "kuah leumak", tapi tak memiliki kelapa sebagai bahan baku utamanya.

Ya,, itu omong kosong...!!!

Share: