Ketika Kehilangan Pilihan

Belum genap memiliki, tapi hati ini seperti dipaksa berhenti mencintai. Harapan sudah mencapai menara tertinggi, tapi terjatuh, terhanyut dalam nestapa duka yang aku cipta, kesalahan ku hanyalah terlalu tinggi menara harapan yang aku letakkan, kemudian terjatuh dengan penuh persakitan. 

Menyesal?, tentu tidak, tidak mungkin aku menyesali sebuah cinta yang tumbuh dan mekar karena ingin ku, jika kemudian aku dipaksa untuk berhenti, maka aku setia menghentikan semuanya, agar mimpi dan kebahagiaan mu menjadi nyata, karena aku mencinta bukan karena harus memiliki, tapi yang terpenting kamu harus kupastikan bahagia, dengan siapa saja.

Meski tadinya sudah pinta bergegas, menyapa pencipta agar lekas menyatukan kita. Tapi doa-doa itu hanyalah sekedar harap, tapi semua itu menyadarkanku bahwa seharusnya angan-angan berhenti disini saja, agar kamu tak lagi tersakiti. 

Soal doa doa ku itu sah sah saja, tapi yang terpenting bukan “aku dan kamu harus menyatu” tapi “kau harus bahagia”, karena diantara puluhan kali ucapan doa doa ku tentang penyatuan kita, terselip ribuan kali doa doa agar kau bahagia, diantara banyak untaian kata kata dalam doa doa ku, yang paling paling sungguh diantara kesungguhan adalah kebahagiaan mu.

Bukan salah hati ini, jika punya cinta kemudian mampu menghadirkan rindu setengah mati, bukan pula salah hati kita, jika cinta kita kemudian mengundang duka dan air mata, tak ada sesiapa yang salah, karena Tuhan ciptakan cinta tanpa memandang sesiapa, syukuri saja bahwa ini bagian dari nikmatnya yang tak mampu kita cipta. Cinta yang hadir adalah anugrah, karena setidaknya kita pernah bahagia karenanya, kita pernah tertawa karenanya.

Sejak aku memutuskan mencintai mu, sejak cinta ini hadir tanpa kusadari entah kapan ia tiba tiba telah ada. Ada begitu banyak pertanyaan dikepalaku, yang hingga kini aku pun tak tahu jawabannya, yang pasti, aku benar benar mencintai mu.

Meski kupahami semua realita yang ada, kupahami pula bahwa ini akan menemukan jalan kerumitan, resiko yang harus ditanggung oleh kau dan aku. Setiap kali aku bertanya tanya, mencari jalan keluar dari segala arah, disaat itu, setiap kali pula aku harus menahan rindu, menenangkannya dan berteriak meski aku tak tahu dimana tuannya. Sejatinya aku tak tau rindu ini akan diaku oleh siapa.

Tapi aku bahagia, karena bahagia ku adalah saat melihat senyummu, saat saat melihat mu tertawa, meski perasaan ini ada banyak air mata, tapi kebahagiaan mu telah menyapu tetesannya. Aku mengikuti semua perasaan ini secara perlahan, biarkan aliran terlihat tanpa kesalahan, karena ini sedari awal adalah pilihan ku, yaitu; “mencintai mu meski tak memiliki”. Walau hati ini begitu mengingini, tapi aku harus paham batas batas yang bisa aku panjati.

Setidaknya, jika kemudian aku tak bisa memiliki mu dalam realita, aku masih bisa menyebut nyebut nama mu dalam doa doa ku, masih pula aku melihat senyum mu, masih pula aku tau bahwa kau bahagia. 


Jika aku dihadapkan pada pilihan, dari pada aku harus kehilangan semua, semua tentang mu, aku lebih memilih kehilangan untuk memiliki mu, tapi masih bisa melihat mu bahagia.
Share: