• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Propagandis Pedang Untuk Islam

Muslim-Muslim di Eropa hingga sekarang masih bekerja keras berkampanye untuk membantah orang-orang skeptis dan non muslim yang mengatakan bahwa "Islam disebarkan dengan Pedang". Sejarawan seperti De Lacy O’Leary di era 40an juga ikut membantu dalam bukunya dengan membuktikan opini yang berkembang tentang "Islam dan Pedang", ia menyebut sebagai "mitos luar biasa fantastis".

Sejarawan terkenal lainnya Thomas Carlyle dalam bukunya “Heroes and Hero Worship” di era 40an juga ikut membantu dengan tegas mengatakan "tentu saja pedang, Itu adalah pedang Intelektual". Ia juga menyebutkan bahwa pada awalnya pastilah sebuah opini minoritas yang ada dalam kepala satu orang saja.

Di era sekarang juga ada dr. Zakir Naik yang selalu berdakwah dan mendapat pertanyaan tentang "Islam dan Pedang" ia selalu berusaha membuktikan bahwa apa yang berkembang dan apa yang dipercayakan orang-orang non muslim terhadap hal tersebut tidak benar adanya, ini hanyalah propaganda media yang dikuasai kapitalis dan non muslim untuk urusan bisnis maupun politik.

Kemudian ada juga gurunya dr. Zakir Naik yaitu Yusuf Estes yang pernah melakukan debat kusir dengan pendeta Amerika yang mengolok dirinya tentang "Islam dan Pedang", akhirnya Yusuf Estes membuktikan dengan gamblang tentang yang disangkakan terhadap Islam selama ini.

Yusuf Estes dan dr. Zakir Naik dalam menyangkal tuduhan-tuduhan dunia barat terhadap Islam yang menyebarkan lewat pedang dengan menjelaskan ayat-ayat Al Quran disamping dengan membuktikan fakta-fakta sejarah yang ditulis dalam buku seperti karya sejarawan terkenal De Lacy O’Leary dan Thomas Carlyle.

Ia juga membuktikan fakta sejarah dengan membuktikan Negara-negara yang pernah dikuasai oleh Muslim seperti Spanyol yang memerintah selama sekitar 800 tahun dan tidak pernah menggunakan pedang untuk memaksa orang berpindah agama. Setelah itu, kaum salibis datang ke Spanyol dan nyaris menyapu bersih kaum muslimin. Tidak ada seorang muslim pun di Spanyol yang bisa terang-terangan mengumandangkan azan.

Kemudian kaum muslimin adalah penguasa tanah Arab selama 1400 tahun. Selama beberapa tahun Inggris berkuasa dan beberapa tahun juga Perancis berkuasa. Secara keseluruhan, kaum muslimin berkuasa di tanah Arab selama 1400 tahun. Namun, saat ini ada 14 juta orang arab yang memeluk Kristen koptik selama ratusan generasi. Apabila orang Islam menggunakan pedang, tentu tidak ada satupun orang Arab yang tetap beragama Kristen.

Kaum muslimin memerintah India selama sekitar 1000 tahun. Dengan waktu yang sekian lama kaum muslim punya kekuatan untuk membuat setiap non muslim India masuk Islam. Kini, lebih dari 80% penduduk India adalah non muslim. Semua orang India non muslim itu adalah saksi bahwa Islam tidak disebarkan dengan pedang.

Sebuah artikel dalam Reader’s Digest ‘Almanac’, tahun 1986, menyampaikan data statistik tentang peningkatan persentase agama-agama di dunia dalam setengah abad, yaitu dari 1934-1984. Artikel ini juga dimuat dalam majalah “The Plain Truth“. dalam artikel tersebut, Islam menduduki tempat teratas dengan peningkatan 235%, sedangkan Kristen hanya meningkat 47%. Peningkatan yang sungguh signifikan itu, tidak ada satupun Negara-negara yang melakukan pemaksaan dan pedang oleh kaum muslim untuk memeluk Islam.

Share:

Habib Rizieq Pulanglah

Saat Ahok melakukan penistaan terhadap Agama Islam (Terpidana 2 tahun) yang kita lakukan adalah melaporkan kepada Kepolisian, mengapa kita melaporkan kepada kepolisian, intinya karena kita percaya melalui proses peradilan Ahok akan diadili, lebih intinya lagi bahwa kita percaya bahwa hakim adalah orang yang berhak memutuskan kesalahan Ahok. Jika kita tidak percaya kepolisian, jika kita tidak percaya pengadilan, jika kita tidak percaya hakim, tidak mungkin kita dalam kondisi yang waras melakukan pelaporan kepada orang yang kita tidak percayai untuk diadili.

Begitu pula dengan kehadiran ummat muslim ke Ibu Kota Jakarta, yang melakukan tuntutan "Adili Ahok", bukan ingin "Mengadili Ahok", artinya secara keseluruhan ummat muslim masih menjadikan Pengadilan sebagai sumber keadilan. (kita tidak sedang bicara keadilan Tuhan). Karena ummat Islam masih menjadikan Indonesia sebagai sebuah negara hukum.

Belum selesai kasus Ahok, kasus baru muncul yaitu Habib Rizieq, sang tokoh fenomenal ini dituduh melakukan dugaan perbuatan asusila, sudah pernah diperiksa dan lawan chatingan ditetapkan sebagai tersangka.

Ada sebuah ketidakwarasan dalam kita menyikapi kasus Habib Rizieq ini, orang orang menuduh Habib Rizieq dikriminalisasi, di fitnah, dan lebih jauh lagi di fitnah dan dikriminalisasi oleh pemerintah yang berkuasa dalam hal ini Jokowi, itulah tuduhan kita atas kasus yang menimpa Habib Rizieq, anehnya orang orang mendukung Habib Rizieq untuk tidak pulang ke Indonesia.

Padahal kasus Habib Rizieq baru sebatas saksi, baru sebatas pemeriksaan, lalu mengapa kita dengan keji menuduh orang lain (Kepolisian, Pengadilan, Pemerintah) melakukan kriminalisasi, melakukan fitnah dan hal lainnya, sedangkan kita tidak tahu dan belum tahu akan seperti apa ujung dari proses pengadilan terhadap kasus Habib Rizieq. Tapi kita telah menjadi Hakim tanpa proses pembuktian dengan yakin menuduh pihak yang berwenang.

Semoga Habib Rizieq pulang dan membuktikan tuduhan atas dirinya dan tetap mempercayai pengadilan seperti percaya ketika ia meminta Ahok untuk diadili seadil adilnya. Jika Habib Rizieq tidak melakukan seperti yang dituduhkan dan tidak melanggar hukum maka saya yakin ia akan bebas. Kita percayakan pada Hakim karena ialah orang yang berhak memutuskan, dan kita percaya bahwa kebenaran pasti menang, begitu pula saya meyakini keyakinan Habib Rizieq.

Jika setiap orang yang merasa dikriminalisasi bisa pergi dari Indonesia untuk menghindari proses hukum, maka akan banyak orang yang terduga koruptor yang nantinya pergi keluar negeri dengan alasan "Kriminalisasi".

Maka, pulang dan buktikan adalah sebuah solusi.


Share:

Awal Perseteruan Ahok vs Habib Rizieq

Firza Husen resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Polisi kemarin dengan berpegang pada 2 alat bukti, terkait kasus Chat Mesum dan foto porno yang diduga bersama Habib Rizieq melalui Watshapp. Habib Rizieq masih berada di Arab hingga saat ini, Pria Heroik ini sudah pernah di periksa dan kemudian ditengah berbelit kasus ia memutuskan untuk Umrah, pasca selesai Umrah ia tak kunjung juga pulang, kemarin tersiar kabar ia terbang dari Arab ke Malaysia untuk menyelesaikan Doktornya, bukannya langsung pulang ke Indonesia, tapi ia kembali terbang ke Arab. Kejadian itu membuat ia kian di tertawakan dan dianggap melarikan diri dari jeratan kasus Hukum yang sedang dihadapinya.

Mari kita tarik kembali memori dari awal peristiwa, yaitu dalam 3 tahun pasca selesai Pilpres 2014, Indonesia mulai dihadapkan pada persoalan serius, pasca Pilpres yang kemudian dimenangkan oleh Jokowi dan secara otomatis dan legal hukum, Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) menjadi Gubernur DKI Jakarta menggantikan Jokowi. Pasca pergantian itu, FPI yang dikomandoi Habib Rizieq berulang kali melakukan penolakan terhadap Ahok, bahkan FPI juga sempat melakukan perlawanan dengan membuat Gubernur tandingan, bahkan FPI menyebut Ahok Gubernur Palsu "Jika ada gubernur palsu datang ke kampung-kampung, kita timpukin telor busuk. Tolak gubernur palsu, gubernur kita itu Bang Rozi. Bikin stiker Bang Rozi gubernur kita bukan Ahok” Sebut Habib Rizieq disalah satu media nasional, Senin (1/12/2014),. Tapi upaya upaya yang dilakukan FPI selalu kandas, Ahok terlalu kuat untuk dipatahkan, begitulah kenyataan yang saya lihat.

Perselisihan Ahok dengan FPI kian panas dengan sikap Ahok yang juga melakukan perlawanan terhadap FPI. Bahkan Ahok berulang kali mengucapkan kata-kata kasar terhadap FPI, diantaranya “Kami sudah bosen (FPI) bikin macet Jakarta saja. Udah teriak-teriak kebencian lagi. Dan pengecut juga kan, cuma bisa hasut-hasut orang untuk nimpuk-nimpuk saya segala macem” Ujar Ahok dalam sebuah media nasional, di Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Senin (10/11/2014).

Kepulauan Seribu adalah malapetaka terhadap Ahok, pasca beredarnya Video Ahok yang sedang berbicara mengenai surat Al Maidah ayat 51, video tersebut menjadi viral dan memancing kemarahan ummat Islam. Ahok dituduh telah menghina Ayat Al Quran dan terlalu jauh masuk kedalam Agama yang tak ia ketahui. Pasca kejadian tersebut, ummat Islam berulang kali melakukan aksi menuntut Ahok untuk dihukum, ummat Islam yang merasa pemerintah pilih kasih dan memperlakukan Ahok istimewa membuat ummat Islam kian berang, jutaan manusia berpakaian putih kerap kali memenuhi Kota Jakarta dengan membawa tuntutan yang sama "Hukum Ahok".

Peristiwa tersebut bukan saja membuat ummat Islam marah, tapi telah membuat ummat Islam bersatu, dimana sebelumnya kita ketahui bahwa ummat Islam di Indonesia kian pecah belah, Peristiwa Ahok lah yang membuat ummat Islam bersatu.

Peristiwa penghinaan Al Quran yang di barengi agenda politik (Pilkada Jakarta 2017) telah membuat pecah dalam 3 kubu besar, yaitu Kubu Pro Ahok-Djarot yang digawangi Pemerintah dan Kubu Pro Anies-Sandi yang digawangi Prabowo serta Kubu Pro Agus-Silvie yang digawangi SBY, tiga kubu besar ini kemudian dipersempit menjadi 2 kubu besar pasca hasil Pilkada Jakarta putaran pertama, Kubu Agus-Silvie mayoritas merapat ke Kubu Anies-Sandi. Terjadilah pertarungan sengit antara Pemerintah dan Oposisi.

Usai Pilkada, situasi tak kunjung kondusif. Ummat Islam terus melakukan tuntutan "Hukum Ahok", disetiap persidangan Ahok yang sekitar 23 kali, massa ummat Islam terus melakukan pengawalan sambil berunjuk rasa didepan pengadilan. Akhirnya Pengadilan memutuskan Ahok dipenjara 2 tahun. 

Pasca putusan tersebut, massa ummat Islam menyambut suka cita, banyak pula yang menyayangkan karena terlalu ringan, sedangkan massa Pro Ahok ada yang menangis histeris, ada pula yang mengkritik dan berbagai macam reaksi lainnya. Akhirnya massa Ahok melakukan perlawanan dengan melakukan unjuk rassa, muncul lah aksi 1000 lilin misalnya. Dari mulanya, Aksi Pro Ahok melakukan tuntutan pembebasan Ahok, akhirnya beralih kepada "Adili Habib Rizieq".

Inilah yang kemudian menjadi menarik diikuti. Kasus yang membelit Habib Rizieq bukan saja memalukan bagi FPI, tapi memalukan ummat Islam Indonesia, jika kemudian putusan hakim membuktikan bahwa Habib Rizieq bersalah maka ini menjadi aib yang sangat memalukan bagi ummat Islam Indonesia, karena Habib Rizieq terkenal sebagai tokoh Agama yang memerangi Nahi Mungkar, tapi ia malah terjerumus dalam perbuatan maksiat itu sendiri.

Jika ditafsir dalam keuntungan politik, dua peristiwa besar ini, yaitu Ahok dan Habib Rizieq maka ini merupakan jalan pragmatis Prabowo the next Presiden Indonesia 2019. Jokowi dianggap tidak mampu menjaga stabilitas keamanan dan kerukunan masyarakat Indonesia, sosok Ahok dan Habib Rizieq telah menguras energi bangsa sekian banyak dan terjadinya tragedi-tragedi yang terus mengancam kesatuan dan persatuan bangsa.

Dan kita ketahui peristiwa pertarungan sengit antara Jokowi dan Prabowo di tahun 2014 akan kembali berlanjut ditahun 2019, dua tokoh besar ini akan diyakini akan kembali bertarung ditahun 2019, dan diprediksi juga hanya akan ada dua sosok yang bertarung di 2019 yaitu orang yang sama tapi dengan pendamping (Wakil Presiden) yang berbeda. 

Kemenangan Anies-Sandi di Jakarta merupakan kekuatan awal dan unjuk kekuatan Pra Pilpres, sedangkan unjuk kekuatan selanjutnya adalah Pilkada Jawa Barat ditahun 2018, kita tunggu saja hasilnya, namun sengitnya gelombang informasi mulai deras mengalir, setidaknya kita ketahui bahwa partai oposisi tak lagi mendukung Ridwan Kamil, pasca Ridwan Kamil menerima pinangan NasDem yang diketahui sebagai partai pemerintah.
  
Share:

Wajah Politik Aceh Pasca Damai

Saat ini, Aceh sudah memasuki angka 11 tahun lebih perdamaian yang dirajut antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Pasca damai yang dilaksakan di Helsinky Firlandia tahun 2005 tersebut telah menghasilkan beberapa kesepakatan penting yang tertuang dalam Undang Undang Pemerintah Aceh (UUPA) diantaranya dapat mendirikan partai politik lokal, pengelolaan sumber daya alam, bendera dan lambang serta banyak kekhususan lainnya yang diberikan untuk Aceh.

Dari banyak kesepakatan penting yang tertuang dalam UUPA tersebut, mendirikan partai politik lokal adalah yang paling cepat dan sukses diaplikasikan baik oleh pemerintah pusat maupun para mantan kombatan GAM. Partai lokal yang kemudian paling sukses dan menguasai parlemen maupun esekutif adalah Partai Aceh dari sejumlah partai local lainnya yang pernah mengikuti pemilihan legislatif.

Pada Pileg 2009, Partai Aceh mampu mengantarkan 33 kadernya dari total 69 total anggota parlemen Aceh, belum lagi di eksekutif yang mayoritas dikuasai oleh kader Partai Aceh, kemudian ditahun 2014 Partai Aceh mengalami penurunan menjadi 29 dari total 81 anggota parlemen Aceh. Sedangkan partai lokal lainnya mendapatkan hasil yang mengecewakan, termasuk Partai Sira.

Partai Sira adalah perubahan wujud dari organisasi pergerakan sipil yang pernah sukses mengumpulkan jutaan rakyat Aceh untuk melakukan aksi ke ibu kota Provinsi Aceh yaitu Banda Aceh, untuk ikut menyuarakan nasib Aceh pada saat sedang bergejolak konflik tahun 2000 silam. Organisasi yang dinaungi oleh intelektual dan pemuda Aceh ini gagal mengumpulkan suara ketika telah berubah wujud menjadi partai politik pada saat pemilihan legislatif tahun 2009, bahkan tidak satupun kadernya mampu meraih kursi untuk tingkat parlemen Aceh. Akhirnya tahun 2014 Partai Sira memutuskan tak ikut lagi dalam pemilihan legislatif 2014. Begitu pula nasib partai lokal lainnya seperti Partai Rakyat Aceh (PRA), Partai Aceh Aman Sejahtera (PAAS) dan Partai Bersatu Aceh (PBA).

Berbeda pula nasibnya dengan Partai PDA, partai yang mengandalkan basis basis pesantren ini mampu mengantarkan satu orang kadernya ke parlemen Aceh pada Pileg 2009, bahkan ditahun 2014 mereka kembali ikut meskipun namanya sedikit berubah, dan kembali mampu mengantarkan satu orang kader yang sama ke parlemen Aceh.

Ditahun 2014, lahir lagi satu partai lokal buah dari perseteruan para mantan kombatan, partai yang diisi oleh mantan kader Partai Aceh ini diberi nama Partai Nasional Aceh (PNA), partai ini lahir dengan mengandalkan sosok Irwandi Yusuf (Gubernur Aceh periode 2007-2012), lahirnya partai ini akhirnya mampu mengantarkan 3 orang kadernya keparlemen Aceh, meski kelahiran partai tersebut telah membuat Aceh sangat tidak stabil kondisi keamanannya dan banyak memakan korban jiwa pada pileg 2014, akibat dari perseteruan para kader baik yang memihak Partai Aceh maupun PNA.

Meski partai lokal merupakan anggota mayoritas di parlemen Aceh, tapi sangat disayangkan kondisi Aceh yang tak mampu mengejar ketertinggalan secara signifikan, ada banyak problem yang tak mampu diselesaikan hingga kini di Aceh, pada saat uang yang tertuang dalam Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) mencapai angka 12 Trilyun lebih, uang tersebut didapatkan dari berbagai sumber maupun bantuan pemerintah pusat termasuk dana otonomi khusus, sedangkan Aceh hanya memiliki Pendapatan Asli Aceh (PAA) berkisar 2 Trilyun.

Urusan kemiskinan, pengangguran, infastruktur, energi listrik, rumah tak layak, dan berbagai problem lainnya menjadi santapan setiap hari yang terekspos media media di Aceh, belum lagi yang tidak terekspos. 

Disaat uang yang melimpah dan kondisi yang pahit bagi rakyat Aceh, para elit politik yang mayoritas dari partai lokal malah bukan menunjukkan simpati dan kerja kerasnya untuk menuntaskan problem yang sedang dialami oleh masyarakat Aceh, selagi uang yang digelontorkan ke Aceh masih tinggi angkanya. Tapi pasca damai, perseteruan antar elit politik paling menonjol ditunjukkan di Aceh ketimbang kerja untuk mensejahterakan masyarakat, dan masyarakat hanya disuguhkan dengan drama drama konyol para politisi yang kerap dipertontonkan itu. 

Perseteruan antara eskekutif dan legislatif seperti tak ada habis episodenya, panjang episode pun mengalahkan sinetron "Cinta Fitri" dan "Tukang Bubur Naik Haji", perseteruan itu dilakukan secara terang terangan, dipertontonkan, bahkan melupakan tugas dasarnya bekerja untuk kepentingan masyarakat. Bisa jadi karena rasa malu yang hilang dan empati kepada masyarakat yang kurang, membuat para politisi politisi ini tak memikirkan apa yang paling penting dan tidak penting bagi masyarakat untuk mereka kerjakan.

Maka tak heran, aksi aksi konyol para politisi kini jadi hiburan yang paling menarik untuk diperbincangkan oleh para masyarakat ketika sedang nongkrong menikmati segelas kopi.

Ya, inilah hiburan kami masyarakat Aceh...!!!


Share:

Suku Mante dan Kesesatan Informasi

Beberapa minggu ini Aceh dihebohkan dengan sebuah video yang di unggah oleh para komunitas trail dengan akun fredography, video yang memperlihatkan orang telanjang lari ketika berhadap secara tidak sengaja dengan komunitas trail, kemudian sosok tersebut berlari kencang kedalam semak rumput panjang yang kemudian menghilang tanpa jejak. Para komunitas trail mengunggah di youtube dengan membuat keterangan “Jangan tanya dimana, akan tetap kami rahasiakan, bisa jadi penduduk primitif, bisa jadi penuntut ilmu hitam

Pasca di upload ke youtube video itu menjadi viral dan dikonsumsi oleh masyarakat Aceh, Nasional bahkan Internasional. Ada jutaan pertanyaan yang kemudian ditanyakan tentang dimana lokasi video tersebut direkam, bahkan tersiar kabar melalui media bahwa pemerintah membentuk tim untuk menelusuri keberadaan yang kemudian disebut sebut sebagai suku mante.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa bahkan berargument dan memerintahkan untuk menelusuri suku mante. Begitu pula dengan pemerintah Aceh yang akan membentuk tim untuk menelusuri keberadaan suku mante tersebut.

Kemudian, sejak beredarnya video itu, banyak media yang mencoba memberitakan para narasumber yang mengaku sebagai saksi mata pernah melihat dan bertemu suku mante diperdalaman hutan, dari sekian banyak para sanksi mata yang diwawancarai mereka mengakui pernah bertemu dan melihat suku mante diperdalaman kabupaten Aceh Timur, Aceh Tengah, Gayo Lues dan Wilayah Leuser, tapi tidak ada yang pernah melihat dikawasan lokasi yang terekam dalam video tersebut.

Lokasi Pengambilan Video
Bungkamnya para saksi yang merekam video terhadap lokasi pengambilan video membuat isu liar, banyak orang yang mengira-ngira atau pun menduga bahwa video diambil dikawasan wilayah tengah Aceh, begitupula para narasumber yang menceritakan tentang pengalamannya bertemu suku mante.

Lintasgayo.co juga memberitakan dengan judul “Mensos Khofifah Perintahkan Penyisiran Mante di Aceh Tengah”, tapi benarkah video tersebut direkam seputaran wilayah tengah Aceh?, dugaan saya sama sekali bukan.

Sejak video itu beredar, pertama kali saya melihat, langsung teringat pada sebuah tempat yang pernah saya kunjungi, lokasi yang ada dalam video terasa sangat tidak asing bagi saya, kemudian perihal tersebut saya tanyakan kebeberapa teman saya, yang juga pernah melintasi daerah itu dan mereka juga mengiakannya, seorang sejarawan Aceh juga menuturkan lokasi yang sama dengan dugaan saya disalah satu media nasional ternama.

Melihat video dan lokasi yang saya duga sebagai tempat kejadian, maka agak sulit dipercaya sosok yang terlihat dalam video adalah “suku mante”, karena lokasi yang ada dalam video bukanlah lokasi yang terlalu terisolir, setiap hari ada mobil yang melewati kawasan tersebut untuk melakukan suatu bisnis yang entah legal atau illegal, kemudian tidak jauh dari situ juga banyak para pekerja, ditambah lagi sudah dibuat jalan yang sangat lebar dan bisa dilewati kendaraan besar serta adanya suatu objek wisata yang cukup indah, walaupun masih jarang dikunjungi karena akses jalan yang belum layak jika dikunjungi dengan mobil pribadi atau kendaraan bermotor ketika musim hujan tiba.

Jika dalam video itu benar merupakan suku mante, maka bisa jadi mante tersebut sedang tersesat atau terpisah dari rombongan lainnya, sehingga ia berada tidak terlalu jauh dengan pemukiman warga, atau bisa jadi penuntut ilmu hitam dan lainnya seperti yang tertera dalam keterangan unggahan video.

Dari berbagai penuturan saksi mata yang mengakui pernah melihat suku mante, mereka semuanya mengatakan bahwa suku mante sangat peka terhadap suara, bahkan jika sedikit ada suara atau bau manusia mereka langsung melarikan diri, kemudian sosok mante dideskripsikan sebagai orang pendek (kerdil), bahkan ada yang menyebutnya memiliki kaki terbalik.

Maka terlihat aneh jika dalam video yang diunggah tersebut merupakan suku mante, melihat posturnya juga tidak terlalu pendek seperti yang dideskripsikan para saksi mata, kemudian suara motor trail juga terdengar lumayan bising, ditambah lagi suara mesin disekitar tersebut dan orang orang yang sedang melakukan aktivitas pekerjaannya. 

Kecuali mante tersebut bermasalah dengan pendengarannya "tuli" atau tersesat.

Share:

Kesejahteraan dan Tradisi Lampu Mati

Dalam setiap ajang kampanye, kata "meningkatkan kesejahteraan" selalu saja menjadi sebuah kata peyakinan dan sebagai simbol utama yang menjadikan alasan masyarakat untuk memilih para calon pemimpinnya. 

Dan disetiap daerah yang sejahtera, selalu saja dibarengi dengan peningkatan investasi. Dengan semakin tingginya angka investasi maka diyakini semakin meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Bagi para investor, jaminan keamanan, infastruktur memadai dan jaminan hukum merupakan syarat mutlak yang menjadi tolak ukur mereka untuk memutuskan berminat atau tidak berinvestasi didaerah tersebut. Selain soal sumber daya dan hitungan hitungan lainnya.

Di Aceh, dari ketiga hal tersebut mungkin soal jaminan hukum bisa lebih di andalkan, karena self goverment nya yang diberikan pemerintah pusat terhadap Aceh, itupun jika legislatif dan eksekutif berjalan akur dalam pemerintahan sehingga mampu bekerja maksimal untuk memberikan dampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat melalui dukungan terhadap investasi, tapi jaminan keamanan serta infastruktur memadai merupakan sebuah keniscayaan untuk di penuhi oleh pemerintah hingga saat ini, sebut saja misalnya soal listrik.

Sejak 71tahun lebih Indonesia sudah merdeka, Aceh masih saja harus menghidupkan lilin sebagai penerangnya, bukan saja diperkampungan dan perdalaman, di Ibukota Provinsi sekalipun mati listrik sudah seperti tradisi. Setiap tahunnya soal listrik yang sering mati menjadi perbincangan hangat publik, namun tetap saja soal listrik ini akan berjalan seperti biasa, tak ada gejolak perubahan dalam menerangi provinsi paling barat di Indonesia ini.

Anehnya, soal sumber arus listrik ini dibangun dimana mana di Aceh, dibeberapa daerah bahkan berdiri perusahaan perusahaan pembangkit tenaga listrik, tapi seiring itu pula tak adanya perubahan soal pasokan listrik keseluruh negeri Aceh, masih saja Medan menjadi andalan utama pasokan listrik ke Aceh. Soal gelap atau terangnya Aceh itu hak nya Medan yang menjadi pemasok bagi lentera cahayanya Aceh.

Meski setiap tahun masyarakat Aceh mengeluh soal listrik yang mati, tapi ini tak menjadi perhatian khusus bagi pemerintah, hingga sekarang dan setiap tahunnya dan mungkin juga tahun tahun kedepannya lagi, tradisi mati lampu tetap menjadi hal yang harus diperingati dan dinikmati oleh masyarakat Aceh dengan suka cita, mau tidak mau dan suka tidak suka.

Padahal pemerintah dan bahkan pemimpin itu sendiri memahami betul, bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat harus terjaminnya infastruktur, termasuk soal jaminan pasokan arus listrik, agar para investor tidak meragukan diri untuk berinvestasi di Aceh.

Berbicara tentang kesejahteraan masyarakat tanpa menyiapkan infastruktur sama seperti ibu ibu yang berbicara "kuah leumak", tapi tak memiliki kelapa sebagai bahan baku utamanya.

Ya,, itu omong kosong...!!!

Share:

Ketika Kehilangan Pilihan

Belum genap memiliki, tapi hati ini seperti dipaksa berhenti mencintai. Harapan sudah mencapai menara tertinggi, tapi terjatuh, terhanyut dalam nestapa duka yang aku cipta, kesalahan ku hanyalah terlalu tinggi menara harapan yang aku letakkan, kemudian terjatuh dengan penuh persakitan. 

Menyesal?, tentu tidak, tidak mungkin aku menyesali sebuah cinta yang tumbuh dan mekar karena ingin ku, jika kemudian aku dipaksa untuk berhenti, maka aku setia menghentikan semuanya, agar mimpi dan kebahagiaan mu menjadi nyata, karena aku mencinta bukan karena harus memiliki, tapi yang terpenting kamu harus kupastikan bahagia, dengan siapa saja.

Meski tadinya sudah pinta bergegas, menyapa pencipta agar lekas menyatukan kita. Tapi doa-doa itu hanyalah sekedar harap, tapi semua itu menyadarkanku bahwa seharusnya angan-angan berhenti disini saja, agar kamu tak lagi tersakiti. 

Soal doa doa ku itu sah sah saja, tapi yang terpenting bukan “aku dan kamu harus menyatu” tapi “kau harus bahagia”, karena diantara puluhan kali ucapan doa doa ku tentang penyatuan kita, terselip ribuan kali doa doa agar kau bahagia, diantara banyak untaian kata kata dalam doa doa ku, yang paling paling sungguh diantara kesungguhan adalah kebahagiaan mu.

Bukan salah hati ini, jika punya cinta kemudian mampu menghadirkan rindu setengah mati, bukan pula salah hati kita, jika cinta kita kemudian mengundang duka dan air mata, tak ada sesiapa yang salah, karena Tuhan ciptakan cinta tanpa memandang sesiapa, syukuri saja bahwa ini bagian dari nikmatnya yang tak mampu kita cipta. Cinta yang hadir adalah anugrah, karena setidaknya kita pernah bahagia karenanya, kita pernah tertawa karenanya.

Sejak aku memutuskan mencintai mu, sejak cinta ini hadir tanpa kusadari entah kapan ia tiba tiba telah ada. Ada begitu banyak pertanyaan dikepalaku, yang hingga kini aku pun tak tahu jawabannya, yang pasti, aku benar benar mencintai mu.

Meski kupahami semua realita yang ada, kupahami pula bahwa ini akan menemukan jalan kerumitan, resiko yang harus ditanggung oleh kau dan aku. Setiap kali aku bertanya tanya, mencari jalan keluar dari segala arah, disaat itu, setiap kali pula aku harus menahan rindu, menenangkannya dan berteriak meski aku tak tahu dimana tuannya. Sejatinya aku tak tau rindu ini akan diaku oleh siapa.

Tapi aku bahagia, karena bahagia ku adalah saat melihat senyummu, saat saat melihat mu tertawa, meski perasaan ini ada banyak air mata, tapi kebahagiaan mu telah menyapu tetesannya. Aku mengikuti semua perasaan ini secara perlahan, biarkan aliran terlihat tanpa kesalahan, karena ini sedari awal adalah pilihan ku, yaitu; “mencintai mu meski tak memiliki”. Walau hati ini begitu mengingini, tapi aku harus paham batas batas yang bisa aku panjati.

Setidaknya, jika kemudian aku tak bisa memiliki mu dalam realita, aku masih bisa menyebut nyebut nama mu dalam doa doa ku, masih pula aku melihat senyum mu, masih pula aku tau bahwa kau bahagia. 


Jika aku dihadapkan pada pilihan, dari pada aku harus kehilangan semua, semua tentang mu, aku lebih memilih kehilangan untuk memiliki mu, tapi masih bisa melihat mu bahagia.
Share:

Para Politisi Yang Sesumbar

Dalam sepekan ini, Aceh dihebohkan dengan berbagai statement para politisi Aceh yang sedang berada dalam kekuasaan, statement mulai dari mereka mengancam akan mundur ramai-ramai dari jabatannya, baik yang di pemerintahan eksekutif maupun legislatif, kemudian statement itu ditanggapi oleh berbagai pihak di Aceh, termasuk ada yang menanggapi bahwa akan berani loncat dari menara Mesjid Baiturrahman Banda Aceh jika para politisi umumnya dari Partai Aceh itu merealisasikan janjinya. Lalu salah satu politisi Partai Aceh kembali menanggapi bahwa ia berjanji potong jari jika janjinya mundur dari DPR Aceh tidak ditepati.

Begitulah statement-statement tidak menyehatkan yang dalam beberapa pekan ini bergulir hangat keranah publik. Sebagian publik malah menjadikan statement tersebut sebagai guyonan dan hiburan semata.

Statement tersebut berawal dari persengketaan pilkada yang sedang berlangsung hangat di Mahkamah Konstitusi (MK). Para politisi Partai Aceh berupaya memberikan tekanan politik terhadap MK untuk menggunakan Undang Undang Nomor 11 Tahun 2006 (UUPA) sebagai acuan dalam menangani sengketa pilkada di Aceh.

Sejak beberapa tahun ini, Aceh memang berada pada kondisi yang tidak menyehatkan, perselisihan dan perbedaan pandangan terus saja terjadi di Aceh tak ada habisnya, sehingga pemerintah baik eksekutif dan legislatif hanya disibukkan pada hal hal mengurusi urusan politik mereka semata, dengan melupakan fungsi dasarnya untuk mensejahterakan rakyat.

Eskekutif disibukkan pada urusan gonta ganti para kepala SKPA, curiga sana sini dan terus melakukan kebijakan controversial yang diluar akal sehat, yang kemudian eksesnya adalah menghambat proses pembangunan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan legislatif disibukkan pada urusan boikot memboikot, urusan politik dan mempolitisir, serta disibukkan dengan kepentingan partainya semata, lalu lupa pada tugas tugas pokok yang sedang mereka emban.

Kembali pada urusan “janji berjanji”, seperti apa yang dilakukan oleh para politisi di Aceh baru baru ini juga pernah trend dan dilakukan oleh para politisi Nasional dulunya, sebut saja Anas Urbaningrum yang pernah sesumbar mengatakan “Satu rupiah saja Anas korupsi Hambalang, gantung Anas di Monas”, tapi faktanya kemudian Anas ditahan dan janji gantung dimonas hingga kini tak juga terpenuhi.

Kemudian lagi, statement nekat pernah juga dilakukan oleh Habiburokhman yang menyebutkan "Saya berani terjun bebas dari Puncak Monas kalau KTP dukung Ahok beneran cukup untuk nyalon”, kemudian diketahui bahwa Ahok mampu mengumpulkan KTP sesuai dengan persyaratan calon independent untuk Gubernur Jakarta, tetapi kemudian Habiburokhman tak juga menepati janjinya.

Bahkan penyanyi terkenal Ahmad Dani juga pernah sesumbar dengan berjanji “potong kelamin jika Jokowi menang sebagai presiden” melalui twitternya, kemudian Jokowi memenangi Pilpres 2014 dan Ahmad Dani tak juga menepati janjinya.

Bukan hanya politisi Nasional, politisi dari Aceh, sebelumnya juga pernah beberapa kali mengumbar janjinya kepada publik yang akhirnya tidak juga ditepati, seperti; Haji Uma alias Sudirman yang pernah berjanji saat kampanye di didepan ribuan masa pada saat acara pengukuhan KPPA sagoe kecamatan Syamtalira Aron Aceh Utara "Perlu diketahui, bahwa saya akan mundur dari calon DPD RI jika bendera Aceh bintang bulan tidak bisa dikibarkan sebelum pemilu 2014 ini", sampai kini bendera bintang bulan belum juga berkibar tapi Haji Uma telah betah diJakarta menikmati kursi DPD RI.

Lalu Iskandar Usman Al Farlaky, politisi Partai Aceh yang pernah berkokok di gedung paripurna DPR Aceh saat rapat kerja Fraksi Partai Aceh se Aceh mengatakan “Jika memang kita sudah sepakat dan siap dengan segala konsekwensi meski harus mendekam di balik jeruji besi, maka sebelum ayam berkokok pada tahun 2016, bendera Bintang Bulan harus berkibar di seluruh Aceh”, sekarang ayam sudah berkokok hingga ditahun 2017, namun bendera tidak juga berkibar dan Iskandar cs masih bebas menikmati kekuasaannya di DPR Aceh, tidak berada dalam balik jeruji besi.

Memang selama ini, para politisi local ini terkenal dengan “sesumbarnya” mereka akan mengatakan apapun untuk kepentingan sesaatnya, tapi pada kenyataan akhirnya, apa yang pernah dijanjikan dengan sesumbar itu tidak juga berani dilakukan dan dipenuhi.  

Lalu bagaimana akhir dari lakon politik yang sedang diperankan oleh para politisi dari Partai Aceh ini, yang beberapa hari ini telah sesumbar dengan berjanji mundur ramai-ramai, bahkan potong jari, apakah akan dipenuhi janjinya, atau juga bernasib sama seperti para politisi-politisi nasional dan local yang dulunya juga pernah sesumbar itu.

Kita tunggu saja. Mundur ramai ramai, potong jari atau loncat dari Mesjid Raya Baiturrahman, setidaknya kita masih memiliki hiburan. Dan jika ada yang bertanya "bagaimana dengan kesejahteraan Aceh", tinggal kita jawab "Gampang, kita salahkan saja Pemeritah Pusat di Jakarta".
Share:

Perang Melawan Muzakir Manaf

Pilkada 2017 membuka mata kita, yang kemudian membuat saya berputar otak untuk melihat sekilas apa yang terjadi ditahun 2012 silam, ketika nama Zaini Abdullah disebut sebagai calon Gubernur dari Partai Aceh. Pertanyaan-pertanyaan siapa Zaini Abdullah menjadi riuh di kampung-kampung, jawaban yang paling dapat diterima oleh masyarakat adalah "Zaini Abdullah Mentro GAM dan orang terdekat Hasan Tiro di Luar Negeri", karena faktanya memang masyarakat Aceh tidak begitu mengenalinya, tapi Partai Aceh punya sosok yang dikenal diseluruh Aceh yaitu Muzakir Manaf, keputusan para tuha peut Partai Aceh menugaskan Muzakir Manaf sebagai calon Wakil Gubernur saya yakini bukan semata mata karena ia ketua Partai Aceh, tapi juga karena dialah yang memiliki pasukan siap kerja dilapangan dan juga orang yang paling dikenal di Aceh.

Akhirnya kerja itu menghasilkan kemenangan, Zaini Abdullah sukses menduduki kekuasaan tertinggi di Aceh. Tak lama setelah berkuasa, desas desus tentang perpecahan senter terdengar, namun tidak ada pernyataan yang membenarkan diantara kedua mereka, kabarnya Zaini Abdullah meninggalkan Muzakir Manaf, ia tidak mendapatkan kekuasaan apa-apa, segala akses ditutup yang membuat Muzakir Manaf tidak bisa berbuat apa-apa. Kabar tersebut berhembus kepublik pasca pemilihan presiden tahun 2014, mereka secara terang-terangan mulai memperlihatkan kepublik jika selama ini tidaklah akur keduanya.

Kemudian berlanjut hingga Pilkada 2017, jika ditahun 2012 mereka pecah menjadi 2 kepingan, kali ini pecah lagi menjadi 4 kepingan besar, yaitu Muzakir Manaf, Zaini Abdullah, Zakaria Saman dan Irwandi Yusuf. Hasilnya menunjukkan bahwa Zaini Abdullah hanya memperoleh suara 6,92℅ sedangkan Zakaria Saman 5,52℅, kemudian Irwandi Yusuf berada pada posisi pertama lalu disusul Muzakir Manaf. Hasil tersebut menunjukkan, pertama; Zaini Abdullah telah gagal merelaisasikan janjinya sehingga ia tidak lagi mendapatkan kepercayaan masyarakat, kedua; bahwa ditahun 2012 Zaini Abdullah mendapatkan kursi Gubernur bukan karena sosoknya yang dikenal masyarakat Aceh, tapi karena ketokohan dan pasukan kerja Muzakir Manaf yang mengantarkannya ke kursi singgasana itu.

Pilkada 2017 tersebut menghasilkan satu pertanyaan besar terhadap saya, yaitu “Perang Melawan Muzakir Manaf”. Mereka Zaini Abdullah, Zakaria Saman dan Irwandi Yusuf adalah terlihat seperti tiga serangkai yang memasang strategi untuk berperang melawan Muzakir Manaf, Zaini Abdullah terlihat sosok yang paling puas terhadap hasil Pilkada, karena tidak dimenangkan oleh Muzakir Manaf dan ia juga sadar bahwa Pilkada 2017 tidak mungkin dimenangkan oleh dirinya, maka ia mencari sosok yang harus menang selain Muzakir Manaf dan ia adalah Irwandi Yusuf.

Maka tidak heran jika kita melihat hasil pilkada, bahwa yang selama ini orang-orang prediksi sebagai basis suara Zaini Abdullah malah dimenangkan dengan suara mayoritas untuk Irwandi Yusuf. Kemudian pernyataan Zaini Abdullah diberbagai media pasca pilkada setidaknya menunjukkan betapa ia bersyukur karena pilkada kali ini tidak dimenangkan oleh Partai dan orang yang pernah mengantarkannya ke singgasana.

Kemenangan Irwandi Yusuf, setidaknya ia tidak perlu was-was dalam mengakhiri masa jabatan dan masa pensiunnya dan tidak perlu pula cemas untuk hadir dalam acara penyerahan jabatan kepada Gubernur selanjutnya seperti apa yang dialami oleh Irwandi Yusuf pada 5 tahun silam ketika penyerahan Jabatan kepada Zaini Abdullah.


Ia, Zaini Abdullah kalah untuk kemenangan
Share:

Muzakir Manaf Tokoh GAM Yang Saya Kagumi

Muzakir Manaf adalah satu satunya tokoh GAM idola saya yang masih hidup, 3 lainnya adalah Hasan Tiro, Abdullah Syafiie & Ishak Daud. Saya telah mengaguminya sejak masih SMP, jauh sebelum wajahnya saya kenali, ketika itu baru mendengar dengar namanya, namun setelah saya melihat wajahnya, kekaguman saya terhadapnya tidaklah berkurang, saya semakin mengagumi Mualem sebagai sosok yang berperawakan khas Aceh, ia sosok yang berwibawa dan memiliki pesona yang tidak dimiliki oleh tokoh GAM lainnya, keras tapi lembut, berwibawa tapi bersahabat.

Kekaguman saya terhadap Mualem itu terlepas dari berbagai image negatif yang kini melekat pada dirinya dan saya menganggap itu hanyalah konsekuensi dari profesi yang ia pilih pasca meletakkan senjata yaitu politisi.

Dari 4 tokoh GAM yang saya kagumi, 3 diantaranya adalah merupakan para pejuang dilapangan dan hanya Hasan Tiro saya kagumi karena telah mampu membangkitkan jiwa nasionalisme di Aceh, mengajak untuk bangkit dari penjajahan modern yang selama itu dilakukan oleh Indonesia melalui pengerukan sumber daya alam dan meninggalkan kemiskinan di Aceh. Kesewenang wenangan pemerintah pusat dan alasan sejarah Aceh lah yang kemudian membuat masyarakat Aceh bergerak melawan penjajahan itu.

Mengapa tidak ada nama seperti Malik Mahmud, Zaini Abdullah, Zakaria Saman, Husaini Hasan dan pentolan-pentolan GAM lainnya, jawabannya karena saya tidak mengenal mereka dan juga tidak tahu apa yang mereka lakukan diluar Negeri. Bagi saya mereka adalah pemikir-pemikir diatas meja, yang kemudian pulang pasca damai, bicara perjuangan diruang ber AC, tapi setidaknya apa yang mereka lakukan selama di luar Negeri ketika Aceh berkonflik, kemudian pulang ke Aceh pasca damai sudah mereka dapatkan manfaat dari itu semua, Malik Mahmud diangkat menjadi Wali Nanggroe, Zaini Abdullah menjadi Gubernur, Zakaria Saman tidak jelas posisinya selain Tuah Peut Partai berkuasa tapi setidaknya ia memiliki istana yang cukup nyaman untuk ia tinggal, kemudian Husaini Hasan memilih tetap di Luar Negeri dan sekali kali menjadi penulis buku.

Tapi bagaimana dengan para pejuang yang ketika itu bertaruh nyawa di hutan, tidak pernah tau bagaimana rasanya berada di ruang AC, ketika terjadi perperangan yang hidup menyaksikan yang mati, bahkan tak jarang didepan mata rekan seperjuangannya tertembus peluru kemudian menghembuskan nafas terakhir, ada pula yang pelurunya bersarang ditubuh, anak-anak yang menjadi yatim, istri-istri yang menjadi janda, gadis gadis yang diperkosa, pemuda-pemuda yang disiksa, rumah-rumah yang dibakar, dan banyak peristiwa mengerikan yang terjadi setiap harinya dengan disaksikan langsung oleh rakyat, jika kita bayangkan betapa pilunya masa itu, jangan kan bicara hidup, harapan pun kadang mati.


Muzakir Manaf menyaksikan itu, setidaknya ia adalah satu satunya Tokoh GAM yang saya kagumi dan saya idolakan dan masih hidup, pernah menjadi saksi sejarah betapa pilunya kehidupan Aceh, setiap harinya ada saja orang tidak berdosa harus meneteskan air mata karena kehilangan orang yang ia saya sayangi.
Share:

Putri Raja Arab Tidak Berjilbab Tampil Fashionable

Sosok ratu dan putri identik dengan paras cantik, anggun, dan pembawaan yang berwibawa tentu membuat para pria sulit untuk mengalihkan perhatian mereka. Jika selama ini, Kate Middleton selalu menjadi pusat perhatian akan sosok putri idaman yang menghipnotis para pria maupun wanita yang melihatnya, namun Kerajaan Arab juga ternyata memiliki para ratu dan putri raja berparas cantik. 

Jika berbicara tentang para putri Raja Arab, pasti umumnya orang orang akan berpikir bahwa penampilannya tidak akan terlihat glamour atau terbuka, pasti penampilannya tertutup dan Islami. Bayangan itu tentu timbul dari pengaruh nama besar Arab yang menjadi kiblat dalam dunia Islam, tapi ternyata sosok ratu dan putri raja ini berbeda dengan bayangan kita. Para ratu dan putri Arab ternyata memiliki perawakan cantik, modis, dan berbusana sesuai tren fashion dunia.

Raja Salman yang berstatus sebagai Raja Arab setelah diangkat pada tanggal 23 Januari 2015 untuk menggantikan saudara tirinya Raja Abdullah dikarenakan meninggal dunia, kemudian setelah itu Raja Salman menunjuk Pangeran Muqrin Bin Abdul Azis sebagai putra mahkota untuk menggantikan posisi dirinya yang telah menjadi putra mahkota sejak tahun 2012, tapi tidak berselang lama Raja Salman mencopot putra mahkota dari Muqrin Bin Abdul Azis tersebut dan memberikannya kepada keponakannya Muhammad bin Nayef.

Raja Salman telah memiliki tiga istri, satu diantaranya telah meninggal dunia dan dari hasil ketiga pernikahannya memiliki 13 anak. dari ke 13 tersebut ia hanya memiliki seorang putri kandung yang bernama Hussa bin Salman, selebihnya merupakan para pangeran yang menjabat dalam pemerintahan Kerajaan Saudi. 

Hussa tak jelas keberadaannya dan sulit diketahui publik tentang anak semata wayang Raja Salman tersebut. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Putri Hussa pernah dituduh terlibat pembunuhan kepada seorang pelukis asal Perancis yang sudah lama bekerja di flat mewah milik Hussa, saat itu disebut sebut Hussa marah karena telah memotret secara diam diam hasil dekorasi Hussa, ia menganggap itu merupakan tidak sopan dan menuduh sang pelukis akan menjual kembali hasil karya tersebut.

Sejak saat itu, keberadaan Hussa tidak terekspos kepublik, bahkan sulit ditebak bagaimana penampilan Hussa sekarang apakah sama seperti beberapa keluarganya yang lain. Tapi dari track recordnya sebagai seorang jutawan, pecinta seni dan terjun di dunia fashion yang sering mondar mandir ke Paris kemungkinan besar penampilan Putri Hussa tak jauh berbeda dengan putri-putri keluarga kerajaan Arab Saudi lainnya, yang selalu tampil modern dan fashionable.

Namun disamping itu, Raja Salman memiliki banyak putri dalam keluarga besarnya, ada Putri Ameera binti Aidan bin Nayef Al-Taweel yang merupakan mantan istri Pangeran Al-Walid bin Talal bin Abdul-Aziz al-Saud juga sekaligus keponakan dari Raja Salman, Ameera ini disebut sebut pernah dinobatkan sebagai wanita paling 'indah' yang pernah mengunjungi Maladewa pada tahun 2009 dan penampilannya sangat fashionable seperti masyarakat atau artis eropa umumnya.

Kemudian, Deena Aljuhani Abdulaziz, ia adalah Wanita yang kini berusia 41 tahun dan telah menikah dengan Pangeran Abdulaziz bin Nasser bin Abdulaziz Al Said yang merupakan keluarga dari kerajaan Arab, juga telah dikaruniai tiga orang anak. Meski punya status seorang putri Arab Saudi namun hal tersebut tak mengekang kebebasannya untuk mengeksplorasi kesenangannya di dunia fashion. Dalam kesehariaannya Deena sering bolak balik New York - Riyadh. Hal ini dilakukannya untuk bertemu para desainer dunia dan menghadiri berbagai fashion show yang kini aktif dia geluguti.

Deena Aljuhani Abdulaziz perempuan berambut pendek ini dikenal sebagai salah satu putri kerajaan Arab yang kerap berpenampilan nyentrik. Profesinya yang juga sebagai seorang editor di majalah Vogue Arabia tentunya tidak heran jika istri dari Pangeran Sultan bin Fahad bin Nasser ini selalu tampil fashionable. Foto-foto yang dipostingnya pada akun Instagramnya menegaskan bahwa Denaa sangatlah mencintai dan menikmati dunia fashion.

Deena selalu pandai dalam memadu padankan pakaiannya, ia bahkan akan selalu tampil menarik dimanapun berada. Mungkin sebagian orang akan tidak menyangka jika Deena merupakan seorang putri Raja. Dalam soal berpakaian, Deena sangat terbuka dengan berbagai gaya fashion dari berbagai Negara dan sangat percaya diri meskipun tanpa mengenakan jilbab. Bukan hanya itu, Deena saat ini juga telah menjadi bagian dari tren fashion yang di ikuti oleh kalangan artis-artis barat, karya karyanya dilirik oleh artis-artis papan atas.


Kemudian ada juga Putri Reem Alwaleed yang disebut sebut sangat mirip dengan Kim Kardashian, ia adalah cucu dari Abdullah bin Abdul Aziz, Raja Arab Saudi sebelumnya. Putri Reem anak hasil perkawinan Pangeran Al-Waleed bin Talal dari Istri pertamanya Dalal binti Saud. Saudara sekandung dari Reem adalah Pangeran Khaled. Sosok Reem ini sangat sulit untuk ditemukan tentangnya.
Share: