• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Kenapa Anies-Sandi Bakal Dibully Terus

Ya benar, bahwa pendukung Anies-Sandi akan selalu disibukkan dengan klarifikasi dan pembelaan terhadap Gubernur yang telah didukungnya secara mati-matian dan sekalipun Anies-Sandi kedepannya bakal lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengklarifikasi terhadap segala tindakan dan pernyataannya yang menghasilkan blunder ditengah public.

Tapi ingat, faktor utama Anies-Sandi bakal dibully terus adalah karena mereka sendiri yang telah membakar bara api dan memulainya, saat Ahok berkuasa, mereka menghabiskan waktu dengan secara terus menerus membully Ahok dengan berbagai cara dan isu, seperti isu Agama, Ras dan tindakan rasisme serta provokatif yang menjadikan Jakarta terbagi dalam dua kubu besar dan Anies-Sandi dianggap masuk dalam kubu yang membully Ahok kala itu, meski Anies pernah menyentil Prabowo berulang kali ketika pelaksanaan Pilpres, sebab Anies berada dikubu Jokowi. Bahkan bukan hanya untuk Jakarta, tapi untuk seluruh Indonesia, rakyat terbelah dalam dua kubu besar, pendukung Anies-Sandi adalah pendukung Prabowo, begitu pula dengan pendukung Ahok adalah sebagian besar pendukung Jokowi, meski ada sebagian pendukung Jokowi tidak mendukung Ahok dan begitu pula pendukung Prabowo.

Ingat, Ahok dibully bukan hanya soal kelancangan lidahnya mencampuri urusan Agama yang tidak dianutnya, tapi jauh sebelum itu Ahok memang sudah dibully dengan terpaan berbagai macam isu negatif terhadapnya.

Ingatan saya masih segar, ketika Jokowi terpilih sebagai Presiden dan dengan otomatis berdasarkan undang-undang, Ahok bakal dilantik sebagai Gubernur menggantikan Jokowi, saat itu goyangan terhadap Ahok semakin kental, sebagian komunitas yang mengatasnamakan warga Jakarta melakukan penolakan terhadap Ahok, bahkan hingga muncul Gubernur tandingan.

Ingatan saya juga masih segar, Jokowi dan Ahok yang tak mengenal Kota Jakarta. Jokowi yang merupakan Walikota Solo periode kedua, saat itu mendapatkan kemenangan telak dari lawannya, tak berselang lama dari itu, Prabowo meliriknya untuk berangkat ke Jakarta, saat itu pula Ahok yang tak mengenal Jakarta juga dibujuk untuk berangkat ke Jakarta, yang akhirnya mempertemukan dua sosok paling fenomenal dalam kancah politik tanah air, yaitu Jokowi-Ahok yang kemudian diusung oleh partai utama PDIP dan Gerindra.

Hingga kemudian mereka berdua menjadi musuh bebuyutan Gerindra. Jokowi menjadi musuh paling menyakitkan atas kekalahan Prabowo pada pilpres tahun 2014 silam, kekalahan tersebut bukan hanya ia menjadi pecundang, tapi kekalahan yang paling memalukan baginya, karena dikalahkan oleh orang yang pernah ia besarkan, istilahnya ia dikalahkan oleh anak muridnya. Makanya hingga sekarang Jokowi terus diterpa berbagai isu negatif mulai dari PKI,  Chinaisme, Antek Asing dan berbagai isu lainnya yang tidak dapat dibuktikan. Tujuan utama tentu untuk menggagalkan pemerintahan Jokowi, sebab mereka masih memiliki libido yang tinggi untuk merebut kekuasaan tersebut ditahun 2019, karena jika ditahun 2019 juga Prabowo masih kalah dengan anak bauk kencur, maka itu adalah aib yang paling menyakitkan dan memalukan sepanjang sejarah politik Indonesia, karena ia hanya menjadi Capres Abadi.

Lalu apa puncak permasalahan Prabowo (Gerindra) dengan Ahok sehingga ia dijadikan musuh berbuyutan, ya permasalahan mereka adalah saat Ahok memutuskan keluar dari Gerindra, yang membuat Prabowo marah besar, sehingga saat itu pula Ahok mulai di incar dan Pilkada DKI Jakarta 2017 silam adalah ajang pembalasan yang akan menjadi puncak dari kemarahan Gerindra terhadap Ahok. Namun akhirnya Ahok tumbang bukan karena pertarungan politik secara fair, tapi karena kelancangan lidahnya yang kemudian dijadikan sebagai lokomotif politik oleh sebagian orang yang memanfaatkan isu agama untuk meraih kekuasaan, muncul demo berjilid-jilid, aksi tamasya Al-Maidah, Image Gubernur Syariah, dan lain lain, isu agama paling kentara dalam Pilkada DKI Jakarta, sehingga yang dimunculkan bukanlah gagasan melainkan agamanya, namun meredam cepat pasca kekalahan Ahok usai Pilkada, meski ada yang melakukan aksi atas keprihatinannya terhadap pelecehan Agama, tapi para politisi yang punya kepentingan terhadap pilkada mengambil keuntungan untuk memuluskan rencana terhadap kemenangan tim nya.

Maka, aksi bully yang terus dilakukan oleh komunitas bukan pendukung Anies-Sandi saat ini adalah bukan hanya aksi balas dendam, tapi karena bara api itu telah dihidupkan terlebih dahulu yang cukup sulit untuk dipadamkan, dan akan terus berlangsung, belum lagi pogram-pogram nyeleneh Anies-Sandi yang terkesan terlalu mengada-ngada dan sulit untuk di realisasikan, namun jika saja Anies-Sandi mampu merealisasikan janji-janjinya tersebut, maka akan membuat bara api tersebut pelan pelan padam. Tapi melihat geliat politik ini akan terus memanas dan membesar hingga pelaksanaan Pilpres 2019, karena komunitas pendukung telah terpecah kedalam dua kubu besar yang berhubungan erat dengan Pilpres 2019.

Tentu, pihak oposisi yang saat ini tidak mendukung Presiden punya kepentingan besar dalam hal ini, yaitu memuluskan rencana Prabowo melalui pemeliharaan dan menyiram isu-isu negative demi dapat menaiki tangga tahta yang gagal didapatkannya berulang kali, maka patutlah Pilpres 2019 ini menjadi ajang mati-matian untuk meraih kemenangan pihak Prabowo, jika kalah mau ditarok dimana muka ku. Bergitulah kira-kira nasib Prabowo dalam pertarungan politik tanah air.
Share:

Sulitnya Jadi Pribadi Introvert

Perkara kepribadian manusia memang macam macam, namun hal tersebut terbagi dalam tiga istilah yaitu, Introvert, Ekstrovert dan Ambivert. Kepribadian Introvert adalah pribadi yang pendiam dan hobinya menyendiri, susah bergaul dan kurang suka dengan keramaian. Kemudian pribadi ekstrovert adalah pribadi yang hobinya bicara terus, suka ngumpul dan mudah berkawan dalam waktu singkat, sedangkan pribadi Ambivert adalah gabungan dari dua kepribadian itu, yaitu kadang kadang suka kumpul dan ngobrol dengan banyak orang, kadang pula ingin menyendiri dan mengasingkan diri. Dari ketiga kepribadian itu, pribadi yang sempurna adalah Ambivert, ia menjadi sosok yang sempurna dalam hal kepribadian karena mampu beradaptasi dengan hal dan siapa saja.

Menjadi pribadi Introvert adalah yang paling sulit, kerap kali sosok Introvert ini di cap sebagai orang sombong,  kemudian susah sekali beradaptasi dengan lingkungan baru, ia juga menjadi pribadi yang misterius, sulit ditebak, tapi dibalik itu semua, jika orang sudah dekat dengan sosok yang berkepribadian Introvert bakal mengetahui mengapa ia bersikap seperti itu dan dengan perlahan lahan orang yang dekat dengan pribadi Introvert, label sombong akan menghilang sendirinya.

Menjadi sosok Introvert memang tidak mudah, apalagi jika terus harus beradaptasi dengan lingkungan baru, sulit sekali untuk cepat akrab dengan orang yang baru, apalagi sifat pendiam yang kadang membuat orang enggan untuk mengajak bicara. Pribadi Introvert juga pemikir yang terlalu dalam pada suatu hal tindakan, sebelum ia bertindak maka ada banyal hal yang ia pikir dampak positif dan negatifnya, pikirannya terus menerawang yang kadang bagi orang ekstrovert itu gak penting banget untuk dilakuin. Tapi begitulah sifat dan kepribadian dari Introvert.

Dalam dunia politik, orang orang Introvert tentu tak banyak, karena politik adalah seni untuk beradaptasi dengan cepat, sedangkan Introvert adalah orang yang tidak mampu melakukan hal tersebut, bagi Introvert beradaptasi adalah pekerjaan terberat, tapi bukan berarti tidak ada, di Aceh Selatan misalnya ada Bupati yang saat ini menjabat yaitu Teuku Sama Indra yang memiliki kepribadian Introvert, kemudian Muzakir Manaf mantan Wakil Gubernur Aceh, tokoh politik nasional ada Anas Urbaningrum mantan Ketua Umum Partai Demokrat, mereka adalah orang orang beruntung yang berkepribadian Introvert namun berhasil berkarir dalam dunia politik. Sedangkan tokoh tokoh dunia yang berkepribadian Introvert adalah seperti Bill Gates, Albert Einstein, Mahatma Gandhi, Abraham Lincoln dan ada banyak tokoh dunia lainnya yang berkepribadian Introvert. 

Sosok berkepribadian Introvert ini adalah sosok yang lebih banyak menghabiskan waktu menyendiri, sosok ini lebih banyak mengekpresikan diri dengan tulisan dan gagasan gagasan lainnya. Sosok ini adalah pemikir yang dalam dan matang dalam berbagai hal tindakan, ketika ia ingin melakukan hal sesuatu adalah yang ia pikir efek dari itu, maka dari itu karena terlalu dalam pemikirannya, kepribadian Introvert sangat sulit untuk beradaptasi secara cepat, ia butuh waktu dan proses.

Introvert ini kerap kali dihadapkan pada lingkungan yang tidak mengenakan, karena kepribadiannya yang kerap salah diartikan oleh banyak orang, sebagai pendiam dan tidak pandai bergaul menjadi sosok introvert kerap kali terasing dalam dunia keramaian, maka seperti kegiatan pesta, konser, dan kegiatan keramaian lainnya ibarat neraka bagi seorang Introvert, karena tentunya ia tak menikmatinya sama sekali. Ramai tapi kesepian, maka tak jarang orang orang Introvert ini jika dalam kegiatan seperti itu ia terlihat murung dan tak menikmati suasananya.

Bagi sosok introvert, menemukan pasangan Ektrovert adalah harapan, karena pertemuan Introvert dan Ektrovert diharapkan mampu mencairkan suasana hidup, tak selalu dalam kekakuan, dan mampu mengisi kekurangan kepribadian Introvert. Nah,,,, pahitnya lagi, bagi sosok introvert, menemukan pasangan juga perkara yang sangat sulit, apalagi bagi seorang cowok.

Share:

Gubernur Aceh Keren

Pasca dilantik 05 Juli 2017 yang lalu, Irwandi Yusuf resmi menjadi Gubernur Aceh yang kedua kalinya setelah pensiun 5tahun yang lalu karena kalah dalam pertarungan Pilkada 2012, pasca kekalahan tersebut ia menghabiskan waktu untuk berbenah diri, yang artinya ia fokus dalam beberapa hal, diantaranya membangun konsolidasi dan citra dirinya yang kadung jelek bahkan sampai pada label "Penghianat", akhirnya ia berhasil merebut citra dirinya kembali dan dipercayakan kembali oleh masyarakat

Selain itu, 5tahun pensiun ia juga menghabiskan waktu untuk belajar menerbangkan pesawat dan kemudian ia membeli pesawat mini jenis Shark Aero yang muat dua orang dengan harga 50% dari harga asli, ia diberikan diskon karena menjadi agen untuk penjualan pesawat jenis tersebut, Irwandi juga mengklaim bahwa dia adalah orang pertama yang memiliki pesawat tersebut di Asia

Kini setelah menjabat kembali sebagai Gubernur Aceh, ia menjadi satu satunya Gubernur di Indonesia yang mampu menerbangkan pesawat, bahkan ia sudah melakukan perjalanan dinas dengan pesawatnya ke Sabang dan Aceh Utara, perjalanan dinasnya ke Aceh Utara untuk melantik Bupati Aceh Utara dan Walikota Lhokseumawe mendapat perhatian dari berbagai media nasional, bahkan kompas, media indonesia dan media lainnya mengulas hal tersebut

Maka patut lah berbangga, Aceh memiliki Gubernur yang mampu memberikan warna dan perhatian bagi publik, semoga kehadiran kembali Irwandi Yusuf dapat memberikan kesejahteraan bagi kehidupan perekonomian masyarakat Aceh. Ada begitu banyak harapan yang diemban kepada Gubernur terpilih itu

Selamat bekerja Kapten... 
Terbangkan 5juta lebih rakyat Aceh menuju negeri kejayaan 
Share:

Rusaknya Moral Ureung Aceh

Informasi yang paling cepat berkembang dan trending di Aceh adalah terkait dua hal, pertama tentang mesum, kedua tentang politik dan pemerintahan. Dua hal tersebut kerap kali menjadi perbincangan hangat dalam media online maupun media sosial. Isu negatif yang sering mewarnai dunia internet tersebut memberikan pesan moral yang tak baik pula bagi masyarakat Aceh. Artinya kita masih dihadapkan pada simbolisme keagamaan, tapi minim dalam segala tindakan kehidupan yang mencerminkan nilai nilai Islam itu sendiri. Kita dengan muda melihat orang orang menumpahkan sumpah serapahnya dalam dunia maya misalnya, padahal perilaku tersebut jauh sekali dari peradaban yang seharusnya syariah yang sedang kita galakkan di bumi yang pertama kali datangnya Agama Islam ke Nusantara ini.

Disatu sisi kita begitu bangga dengan sebuah lebel "Serambi Mekkah" kemudian ditambahkan lagi dengan aturan penerapan Syariat Islam, setidaknya dua nama besar yang kita sandang itu menjadi kiblat kehidupan ummat muslim di Indonesia, bahkan di Asia, tapi perilaku perilaku manusianya jauh dari sifat sifat yang Islami, yang juga diajarkan oleh Baginda Nabi Besar Muhammad SAW yang kita sanjungi dan juga menjadi suri tauladan bagi ummat manusia di akhir zaman ini.

Sebagai contoh misalnya, yang paling sering kita temui, jika suatu kasus yang menyangkut dengan pelaku mesum, orang orang kita dengan senang hati dan berbangga melakukan penyebaran informasi yang sangat vulgar keranah media sosial, bahkan aib orang begitu bangga kita sebarkan, menghujat, menghina, memaki sampai pada sumpah serapah dan kata kata tak pantas acap kali keluar dari mulut kita.

Yang kita lakukan adalah mengabaikan bahwa perbuatan riya diatas aib orang adalah perbuatan yang juga tak diperbolehkan dalam agama Islam, kita melupakan perihal itu karena terlalu bereforia pada kesalahan orang, sehingga melupakan kesalahan kita sendiri, kita terlalu sibuk dengan aib orang sehingga melupakan bahwa janji Allah, siapa yang mengumbar aib orang, akan diumbar pula aib nya, menutup aib orang lain, ditutup pula aib kita.

Ada pula sebuah pepatah dalam Islam yang mengatakan “Siapa yang membuka aib orang lain, sama dengan memakan bangkai”. Kita lupa pada hal hal seperti ini. Betapa mengerikannya moral generasi Aceh, jika orang tua dan pemerintah tak bisa mendidik generasi Aceh, maka apa gunanya dua nama besar yang kita sandang di Aceh saat ini, tapi aklak dan moral generasi kita sudah jauh melenceng dari kehidupan sebagaimana layaknya masyarakat Muslim.

Kemudian soal politik dan pemerintahan, acap kali kecurigaan dan sumpah serapah atas ketidakpuasan batin kita diumbar kemedia sosial misalnya, dengan berbagai sumpah serapah yang jauh sekali cerminan sebagai seorang muslim. Kita lebih senang menghujat, menghina dan mengkritik dibandingkan melakukan upaya bantuan terhadap pemerintah agar negeri ini dapat berkembang, nafsu syahwat kita akan sebuah impian yang namanya "perubahan dan kesejahteraan" tidak dibarengi dengan perbuatan kita untuk menuju kearah itu, maka puncak dari itu yang selalu kita salahkan adalah pemimpin. Disamping itu kita melupakan bahwa mencintai pemimpin adalah bagian dari perintah dalam agama Islam, maka tak heran berbagai berita hoax dan kekurangan pemimpin kita umbar dengan berbangga hati, seolah olah kepuasan kita terletak pada menghina orang lain dan merendahkan martabat orang lain.


Bagi yang berpikir jauh, tentu nama besar yang kita sandang dan mencerminkan kehidupan muslim agaknya memalukan, ada ketidakpantasan simbol yang kita sandang jika dibanding dengan perilaku ini, setidaknya akibat dari perilaku moral kita menambah daftar panjang tercorengnya agama yang mulia dan telah benar diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad.

Mudah mudahan orang tua dan pemerintah, sudah mulai serius membangun dan mendidik generasi Aceh untuk beraklak dan bermoral layaknya berperilaku sebagai Muslim yang benar, tidak lagi disibukkan pada simbol simbol besar yang akhirnya akan memberikan dampak negatif kepada Aceh dengan dua status besar yang disandangnya.

Mengerikan...!!!
Share:

Cerita Hidup Dari Sosok Nenek & Kakek

Nenek dan Kakek, kira kira umur mereka sekarang berkisar 88tahun dan sudah melalui kehidupan dengan 4 fase bendera yaitu (Jepang, Belanda, RI, Aceh), mungkin juga ini satu satunya pasangan suami istri yang masih hidup sehat setidaknya untuk dikampung ini, memiliki Cucu berkisar 25 orang dan sudah punya cicit berkisar 5 orang. Beliau juga menjadi saksi sejarah yang melihat langsung kekejaman Jepang yang datang ke Aceh pada tahun 1942, Kakek bercerita dengan baik setiap kejadian atas perlakuan Jepang terhadap rakyat Aceh kala itu, begitu pula nenek pernah saya mendengar langsung beliau berkisah tentang perlakuan tentara Jepang terhadapnya yang kala itu masih anak anak, bahkan Kakek semalam juga bercerita tentang Jepang ketika ada tamu yang menanyakan perihal penjajahan Jepang kala itu. Kondisi Kakek saat ini beliau masih bisa berjalan tapi harus dengan bantuan dipapah.

Berbeda dengan Nenek yang beberapa hari in bicara kadang kadang ngacau, kadang ia kerap bicara hal yang sudah berlalu. Menurut penuturan Cecek (Adik Ibu - Bibi), Nenek sudah mulai bicara ngaur sejak berapa bulan ini, daya ingat beliau melemah, bahkan sering barang yang beliau simpan tidak lagi beliau ingat dimana letak disimpannya, ia juga tak mampu lagi berjalan sama sekali, akibat kakinya yang sudah melemah, jika penglihatan Kakek sekarang sudah mulai rabun jauh, tapi Nenek masih bisa melihat dengan jelas.

Dalam puasa tahun ini, Kakek hanya sanggup berpuasa enam hari, sedangkan Nenek jauh lebih sanggup, Nenek hanya tinggal beberapa hari puasanya. Dan Alhamdulillah pada puasa terakhir ditahun ini bisa berbuka puasa bersama Nenek, menjelang berbuka Nenek berucap "Wahyudi (panggilan akrab keluarga masa kecil), duduk disini, saya dari kemarin ingin berbuka puasa dengan kamu" ujarnya dalam bahasa Aceh. Hampir disetiap kepulangan ku kekampung ia selalu mengucapkan rindu ingin bertemu, maklum saja kedekatan ku dengan Nenek seperti Anak dan Ibu.

***
Saya menghabiskan masa kecil disini, dari kecil diasuh oleh Nenek dan Kakek, bahkan katanya ASI pun dari Nenek, maka tak heran saya memanggil mereka berdua dengan sebutan Mamak dan Bapak. Pernah pula cucu cucu lain protes karena perlakuan Nenek terhadapku berbeda dengan cucu lainnya, Nenek sering menjawab, pantas saja aku memperlakukan ia berbeda karena aku adalah orang yang membesarkannya sejak bayi, dan soal disindir dari cucu serta termasuk anaknya (Abang dan Adik Ibu) sebagai "cucu kesayangan" kerap kali kudapat dan kudengar.

Nenek kerap kali senyum senyum saja jika ada yang menyindir aku sebagai cucu kesayanganya, karena ia pun tak menafikan kenyataan itu, bahkan Kakek juga melakukan hal yang sama.

Saya juga menjadi saksi bagaimana kehidupan dan geliat keramaian rumah ini ketika mereka berdua masih dalam keadaan sehat dan bugar. Rumah yang dikenal pantang sepi ini karena begitu banyak orang yang tinggal dan sekedar singgah dirumah ini. Nenek dikenal dengan orang yang sangat senang menerima tamu dan datang kerumah, banyak saudara juga yang tinggal dan singgah disini.

Jika lebaran tiba, dari lebaran pertama sampai ketiga kala itu tak pernah sepi baik siang dan malam, bahkan keluarga kerap kali kualahan menerima tamu sampai tak bisa bertamu kerumah lain akibat sibuk menerima tamu dirumah, dan juga ketika anak beliau yang laki laki salah satunya meninggal akibat penyakit yang diderita, rumah ini tak sepi orang yang datang baik berkunjung maupun rombongan tahlilan, dari hari pertama sampai ketujuh, dalam sehari bisa ada 3-5 kali rombongan tahlilan datang kerumah ini. Secara pribadi saya sungguh mengagumi sosok beliau berdua ini. 

Kakek seorang yang berkarakter keras tapi penyayang dan memperhatikan hal-hal kecil, bahkan jika barang beliau ada yang memegang tanpa se izin beliau, maka beliau dengan mudah mengetahuinya, karakter yang disiplin dan melakukan aktivitasnya dengan sangat teratur setiap hari, mulai bangun subuh sampai pekerjaan beliau sampai sore hari, dan juga penyayang binatang kucing dan anjing. Jika ada yang mengganggu binatang kesayangan beliau siap-siap saja dimarahinya, bahkan kami tak pernah diizinkan untuk memukulnya, bahkan mengganggunya sekalipun, tak jarang ia memarahi anaknya jika ada yang terlambat kasih makan kucing ketika beliau tak ada dirumah, jika Kakek makan dirumah hal yang pertama ia lakukan sebelum makan adalah memberi makan kucingnya terlebih dahulu baru kemudian ia makan.

Sedangkan Nenek berkarakter lembut dan penyayang, beliau sangat menyukai anak anak, bahkan jika ada keluarga yang jarang mengunjungi beliau, maka beliau pasti menanyakan perihal itu dan beliau juga orang yang sangat menyukai bepergian, tak pernah ia lewatkan undangan sanak familinya, jika ia tak bisa pergi maka pasti ada keluarga yang diutusnya. Begitulah beliau menjaga hubungan baik dengan keluarga besar, termasuk keluarga jauh sekalipun yang kadang saya pun tak mengenal sama sekali, bahkan beliau dengan mudah dan mengenal semua silsilah keluarga yang padahal hubungannya pun kadang sudah sangat jauh.

Tapi, keramaian itu perlahan lahan berubah, saya merasakannya beberapa tahun belakangan termasuk tahun ini, setelah semua anaknya menikah, rumah sudah mulai sepi, suasana rumah ketika lebaran jauh berbeda, bahkan suasana hari hari biasa pun sudah jauh berbeda dan sangat sepi, tidak seramai dulu, jika dulu tak pernah sepi, sekarang lebaran ketiga rumah sudah sepi dan hari hari biasa juga jauh lebih sepi.


Semoga beliau berdua tetap dalam keadaan sehat wal afiat dan masih bisa bertemu pada bulan Ramadhan mendatang... Amiiinnn
Share:

Propagandis Pedang Untuk Islam

Muslim-Muslim di Eropa hingga sekarang masih bekerja keras berkampanye untuk membantah orang-orang skeptis dan non muslim yang mengatakan bahwa "Islam disebarkan dengan Pedang". Sejarawan seperti De Lacy O’Leary di era 40an juga ikut membantu dalam bukunya dengan membuktikan opini yang berkembang tentang "Islam dan Pedang", ia menyebut sebagai "mitos luar biasa fantastis".

Sejarawan terkenal lainnya Thomas Carlyle dalam bukunya “Heroes and Hero Worship” di era 40an juga ikut membantu dengan tegas mengatakan "tentu saja pedang, Itu adalah pedang Intelektual". Ia juga menyebutkan bahwa pada awalnya pastilah sebuah opini minoritas yang ada dalam kepala satu orang saja.

Di era sekarang juga ada dr. Zakir Naik yang selalu berdakwah dan mendapat pertanyaan tentang "Islam dan Pedang" ia selalu berusaha membuktikan bahwa apa yang berkembang dan apa yang dipercayakan orang-orang non muslim terhadap hal tersebut tidak benar adanya, ini hanyalah propaganda media yang dikuasai kapitalis dan non muslim untuk urusan bisnis maupun politik.

Kemudian ada juga gurunya dr. Zakir Naik yaitu Yusuf Estes yang pernah melakukan debat kusir dengan pendeta Amerika yang mengolok dirinya tentang "Islam dan Pedang", akhirnya Yusuf Estes membuktikan dengan gamblang tentang yang disangkakan terhadap Islam selama ini.

Yusuf Estes dan dr. Zakir Naik dalam menyangkal tuduhan-tuduhan dunia barat terhadap Islam yang menyebarkan lewat pedang dengan menjelaskan ayat-ayat Al Quran disamping dengan membuktikan fakta-fakta sejarah yang ditulis dalam buku seperti karya sejarawan terkenal De Lacy O’Leary dan Thomas Carlyle.

Ia juga membuktikan fakta sejarah dengan membuktikan Negara-negara yang pernah dikuasai oleh Muslim seperti Spanyol yang memerintah selama sekitar 800 tahun dan tidak pernah menggunakan pedang untuk memaksa orang berpindah agama. Setelah itu, kaum salibis datang ke Spanyol dan nyaris menyapu bersih kaum muslimin. Tidak ada seorang muslim pun di Spanyol yang bisa terang-terangan mengumandangkan azan.

Kemudian kaum muslimin adalah penguasa tanah Arab selama 1400 tahun. Selama beberapa tahun Inggris berkuasa dan beberapa tahun juga Perancis berkuasa. Secara keseluruhan, kaum muslimin berkuasa di tanah Arab selama 1400 tahun. Namun, saat ini ada 14 juta orang arab yang memeluk Kristen koptik selama ratusan generasi. Apabila orang Islam menggunakan pedang, tentu tidak ada satupun orang Arab yang tetap beragama Kristen.

Kaum muslimin memerintah India selama sekitar 1000 tahun. Dengan waktu yang sekian lama kaum muslim punya kekuatan untuk membuat setiap non muslim India masuk Islam. Kini, lebih dari 80% penduduk India adalah non muslim. Semua orang India non muslim itu adalah saksi bahwa Islam tidak disebarkan dengan pedang.

Sebuah artikel dalam Reader’s Digest ‘Almanac’, tahun 1986, menyampaikan data statistik tentang peningkatan persentase agama-agama di dunia dalam setengah abad, yaitu dari 1934-1984. Artikel ini juga dimuat dalam majalah “The Plain Truth“. dalam artikel tersebut, Islam menduduki tempat teratas dengan peningkatan 235%, sedangkan Kristen hanya meningkat 47%. Peningkatan yang sungguh signifikan itu, tidak ada satupun Negara-negara yang melakukan pemaksaan dan pedang oleh kaum muslim untuk memeluk Islam.

Share:

Habib Rizieq Pulanglah

Saat Ahok melakukan penistaan terhadap Agama Islam (Terpidana 2 tahun) yang kita lakukan adalah melaporkan kepada Kepolisian, mengapa kita melaporkan kepada kepolisian, intinya karena kita percaya melalui proses peradilan Ahok akan diadili, lebih intinya lagi bahwa kita percaya bahwa hakim adalah orang yang berhak memutuskan kesalahan Ahok. Jika kita tidak percaya kepolisian, jika kita tidak percaya pengadilan, jika kita tidak percaya hakim, tidak mungkin kita dalam kondisi yang waras melakukan pelaporan kepada orang yang kita tidak percayai untuk diadili.

Begitu pula dengan kehadiran ummat muslim ke Ibu Kota Jakarta, yang melakukan tuntutan "Adili Ahok", bukan ingin "Mengadili Ahok", artinya secara keseluruhan ummat muslim masih menjadikan Pengadilan sebagai sumber keadilan. (kita tidak sedang bicara keadilan Tuhan). Karena ummat Islam masih menjadikan Indonesia sebagai sebuah negara hukum.

Belum selesai kasus Ahok, kasus baru muncul yaitu Habib Rizieq, sang tokoh fenomenal ini dituduh melakukan dugaan perbuatan asusila, sudah pernah diperiksa dan lawan chatingan ditetapkan sebagai tersangka.

Ada sebuah ketidakwarasan dalam kita menyikapi kasus Habib Rizieq ini, orang orang menuduh Habib Rizieq dikriminalisasi, di fitnah, dan lebih jauh lagi di fitnah dan dikriminalisasi oleh pemerintah yang berkuasa dalam hal ini Jokowi, itulah tuduhan kita atas kasus yang menimpa Habib Rizieq, anehnya orang orang mendukung Habib Rizieq untuk tidak pulang ke Indonesia.

Padahal kasus Habib Rizieq baru sebatas saksi, baru sebatas pemeriksaan, lalu mengapa kita dengan keji menuduh orang lain (Kepolisian, Pengadilan, Pemerintah) melakukan kriminalisasi, melakukan fitnah dan hal lainnya, sedangkan kita tidak tahu dan belum tahu akan seperti apa ujung dari proses pengadilan terhadap kasus Habib Rizieq. Tapi kita telah menjadi Hakim tanpa proses pembuktian dengan yakin menuduh pihak yang berwenang.

Semoga Habib Rizieq pulang dan membuktikan tuduhan atas dirinya dan tetap mempercayai pengadilan seperti percaya ketika ia meminta Ahok untuk diadili seadil adilnya. Jika Habib Rizieq tidak melakukan seperti yang dituduhkan dan tidak melanggar hukum maka saya yakin ia akan bebas. Kita percayakan pada Hakim karena ialah orang yang berhak memutuskan, dan kita percaya bahwa kebenaran pasti menang, begitu pula saya meyakini keyakinan Habib Rizieq.

Jika setiap orang yang merasa dikriminalisasi bisa pergi dari Indonesia untuk menghindari proses hukum, maka akan banyak orang yang terduga koruptor yang nantinya pergi keluar negeri dengan alasan "Kriminalisasi".

Maka, pulang dan buktikan adalah sebuah solusi.


Share:

Awal Perseteruan Ahok vs Habib Rizieq

Firza Husen resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Polisi kemarin dengan berpegang pada 2 alat bukti, terkait kasus Chat Mesum dan foto porno yang diduga bersama Habib Rizieq melalui Watshapp. Habib Rizieq masih berada di Arab hingga saat ini, Pria Heroik ini sudah pernah di periksa dan kemudian ditengah berbelit kasus ia memutuskan untuk Umrah, pasca selesai Umrah ia tak kunjung juga pulang, kemarin tersiar kabar ia terbang dari Arab ke Malaysia untuk menyelesaikan Doktornya, bukannya langsung pulang ke Indonesia, tapi ia kembali terbang ke Arab. Kejadian itu membuat ia kian di tertawakan dan dianggap melarikan diri dari jeratan kasus Hukum yang sedang dihadapinya.

Mari kita tarik kembali memori dari awal peristiwa, yaitu dalam 3 tahun pasca selesai Pilpres 2014, Indonesia mulai dihadapkan pada persoalan serius, pasca Pilpres yang kemudian dimenangkan oleh Jokowi dan secara otomatis dan legal hukum, Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) menjadi Gubernur DKI Jakarta menggantikan Jokowi. Pasca pergantian itu, FPI yang dikomandoi Habib Rizieq berulang kali melakukan penolakan terhadap Ahok, bahkan FPI juga sempat melakukan perlawanan dengan membuat Gubernur tandingan, bahkan FPI menyebut Ahok Gubernur Palsu "Jika ada gubernur palsu datang ke kampung-kampung, kita timpukin telor busuk. Tolak gubernur palsu, gubernur kita itu Bang Rozi. Bikin stiker Bang Rozi gubernur kita bukan Ahok” Sebut Habib Rizieq disalah satu media nasional, Senin (1/12/2014),. Tapi upaya upaya yang dilakukan FPI selalu kandas, Ahok terlalu kuat untuk dipatahkan, begitulah kenyataan yang saya lihat.

Perselisihan Ahok dengan FPI kian panas dengan sikap Ahok yang juga melakukan perlawanan terhadap FPI. Bahkan Ahok berulang kali mengucapkan kata-kata kasar terhadap FPI, diantaranya “Kami sudah bosen (FPI) bikin macet Jakarta saja. Udah teriak-teriak kebencian lagi. Dan pengecut juga kan, cuma bisa hasut-hasut orang untuk nimpuk-nimpuk saya segala macem” Ujar Ahok dalam sebuah media nasional, di Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Senin (10/11/2014).

Kepulauan Seribu adalah malapetaka terhadap Ahok, pasca beredarnya Video Ahok yang sedang berbicara mengenai surat Al Maidah ayat 51, video tersebut menjadi viral dan memancing kemarahan ummat Islam. Ahok dituduh telah menghina Ayat Al Quran dan terlalu jauh masuk kedalam Agama yang tak ia ketahui. Pasca kejadian tersebut, ummat Islam berulang kali melakukan aksi menuntut Ahok untuk dihukum, ummat Islam yang merasa pemerintah pilih kasih dan memperlakukan Ahok istimewa membuat ummat Islam kian berang, jutaan manusia berpakaian putih kerap kali memenuhi Kota Jakarta dengan membawa tuntutan yang sama "Hukum Ahok".

Peristiwa tersebut bukan saja membuat ummat Islam marah, tapi telah membuat ummat Islam bersatu, dimana sebelumnya kita ketahui bahwa ummat Islam di Indonesia kian pecah belah, Peristiwa Ahok lah yang membuat ummat Islam bersatu.

Peristiwa penghinaan Al Quran yang di barengi agenda politik (Pilkada Jakarta 2017) telah membuat pecah dalam 3 kubu besar, yaitu Kubu Pro Ahok-Djarot yang digawangi Pemerintah dan Kubu Pro Anies-Sandi yang digawangi Prabowo serta Kubu Pro Agus-Silvie yang digawangi SBY, tiga kubu besar ini kemudian dipersempit menjadi 2 kubu besar pasca hasil Pilkada Jakarta putaran pertama, Kubu Agus-Silvie mayoritas merapat ke Kubu Anies-Sandi. Terjadilah pertarungan sengit antara Pemerintah dan Oposisi.

Usai Pilkada, situasi tak kunjung kondusif. Ummat Islam terus melakukan tuntutan "Hukum Ahok", disetiap persidangan Ahok yang sekitar 23 kali, massa ummat Islam terus melakukan pengawalan sambil berunjuk rasa didepan pengadilan. Akhirnya Pengadilan memutuskan Ahok dipenjara 2 tahun. 

Pasca putusan tersebut, massa ummat Islam menyambut suka cita, banyak pula yang menyayangkan karena terlalu ringan, sedangkan massa Pro Ahok ada yang menangis histeris, ada pula yang mengkritik dan berbagai macam reaksi lainnya. Akhirnya massa Ahok melakukan perlawanan dengan melakukan unjuk rassa, muncul lah aksi 1000 lilin misalnya. Dari mulanya, Aksi Pro Ahok melakukan tuntutan pembebasan Ahok, akhirnya beralih kepada "Adili Habib Rizieq".

Inilah yang kemudian menjadi menarik diikuti. Kasus yang membelit Habib Rizieq bukan saja memalukan bagi FPI, tapi memalukan ummat Islam Indonesia, jika kemudian putusan hakim membuktikan bahwa Habib Rizieq bersalah maka ini menjadi aib yang sangat memalukan bagi ummat Islam Indonesia, karena Habib Rizieq terkenal sebagai tokoh Agama yang memerangi Nahi Mungkar, tapi ia malah terjerumus dalam perbuatan maksiat itu sendiri.

Jika ditafsir dalam keuntungan politik, dua peristiwa besar ini, yaitu Ahok dan Habib Rizieq maka ini merupakan jalan pragmatis Prabowo the next Presiden Indonesia 2019. Jokowi dianggap tidak mampu menjaga stabilitas keamanan dan kerukunan masyarakat Indonesia, sosok Ahok dan Habib Rizieq telah menguras energi bangsa sekian banyak dan terjadinya tragedi-tragedi yang terus mengancam kesatuan dan persatuan bangsa.

Dan kita ketahui peristiwa pertarungan sengit antara Jokowi dan Prabowo di tahun 2014 akan kembali berlanjut ditahun 2019, dua tokoh besar ini akan diyakini akan kembali bertarung ditahun 2019, dan diprediksi juga hanya akan ada dua sosok yang bertarung di 2019 yaitu orang yang sama tapi dengan pendamping (Wakil Presiden) yang berbeda. 

Kemenangan Anies-Sandi di Jakarta merupakan kekuatan awal dan unjuk kekuatan Pra Pilpres, sedangkan unjuk kekuatan selanjutnya adalah Pilkada Jawa Barat ditahun 2018, kita tunggu saja hasilnya, namun sengitnya gelombang informasi mulai deras mengalir, setidaknya kita ketahui bahwa partai oposisi tak lagi mendukung Ridwan Kamil, pasca Ridwan Kamil menerima pinangan NasDem yang diketahui sebagai partai pemerintah.
  
Share:

Wajah Politik Aceh Pasca Damai

Saat ini, Aceh sudah memasuki angka 11 tahun lebih perdamaian yang dirajut antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Pasca damai yang dilaksakan di Helsinky Firlandia tahun 2005 tersebut telah menghasilkan beberapa kesepakatan penting yang tertuang dalam Undang Undang Pemerintah Aceh (UUPA) diantaranya dapat mendirikan partai politik lokal, pengelolaan sumber daya alam, bendera dan lambang serta banyak kekhususan lainnya yang diberikan untuk Aceh.

Dari banyak kesepakatan penting yang tertuang dalam UUPA tersebut, mendirikan partai politik lokal adalah yang paling cepat dan sukses diaplikasikan baik oleh pemerintah pusat maupun para mantan kombatan GAM. Partai lokal yang kemudian paling sukses dan menguasai parlemen maupun esekutif adalah Partai Aceh dari sejumlah partai local lainnya yang pernah mengikuti pemilihan legislatif.

Pada Pileg 2009, Partai Aceh mampu mengantarkan 33 kadernya dari total 69 total anggota parlemen Aceh, belum lagi di eksekutif yang mayoritas dikuasai oleh kader Partai Aceh, kemudian ditahun 2014 Partai Aceh mengalami penurunan menjadi 29 dari total 81 anggota parlemen Aceh. Sedangkan partai lokal lainnya mendapatkan hasil yang mengecewakan, termasuk Partai Sira.

Partai Sira adalah perubahan wujud dari organisasi pergerakan sipil yang pernah sukses mengumpulkan jutaan rakyat Aceh untuk melakukan aksi ke ibu kota Provinsi Aceh yaitu Banda Aceh, untuk ikut menyuarakan nasib Aceh pada saat sedang bergejolak konflik tahun 2000 silam. Organisasi yang dinaungi oleh intelektual dan pemuda Aceh ini gagal mengumpulkan suara ketika telah berubah wujud menjadi partai politik pada saat pemilihan legislatif tahun 2009, bahkan tidak satupun kadernya mampu meraih kursi untuk tingkat parlemen Aceh. Akhirnya tahun 2014 Partai Sira memutuskan tak ikut lagi dalam pemilihan legislatif 2014. Begitu pula nasib partai lokal lainnya seperti Partai Rakyat Aceh (PRA), Partai Aceh Aman Sejahtera (PAAS) dan Partai Bersatu Aceh (PBA).

Berbeda pula nasibnya dengan Partai PDA, partai yang mengandalkan basis basis pesantren ini mampu mengantarkan satu orang kadernya ke parlemen Aceh pada Pileg 2009, bahkan ditahun 2014 mereka kembali ikut meskipun namanya sedikit berubah, dan kembali mampu mengantarkan satu orang kader yang sama ke parlemen Aceh.

Ditahun 2014, lahir lagi satu partai lokal buah dari perseteruan para mantan kombatan, partai yang diisi oleh mantan kader Partai Aceh ini diberi nama Partai Nasional Aceh (PNA), partai ini lahir dengan mengandalkan sosok Irwandi Yusuf (Gubernur Aceh periode 2007-2012), lahirnya partai ini akhirnya mampu mengantarkan 3 orang kadernya keparlemen Aceh, meski kelahiran partai tersebut telah membuat Aceh sangat tidak stabil kondisi keamanannya dan banyak memakan korban jiwa pada pileg 2014, akibat dari perseteruan para kader baik yang memihak Partai Aceh maupun PNA.

Meski partai lokal merupakan anggota mayoritas di parlemen Aceh, tapi sangat disayangkan kondisi Aceh yang tak mampu mengejar ketertinggalan secara signifikan, ada banyak problem yang tak mampu diselesaikan hingga kini di Aceh, pada saat uang yang tertuang dalam Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) mencapai angka 12 Trilyun lebih, uang tersebut didapatkan dari berbagai sumber maupun bantuan pemerintah pusat termasuk dana otonomi khusus, sedangkan Aceh hanya memiliki Pendapatan Asli Aceh (PAA) berkisar 2 Trilyun.

Urusan kemiskinan, pengangguran, infastruktur, energi listrik, rumah tak layak, dan berbagai problem lainnya menjadi santapan setiap hari yang terekspos media media di Aceh, belum lagi yang tidak terekspos. 

Disaat uang yang melimpah dan kondisi yang pahit bagi rakyat Aceh, para elit politik yang mayoritas dari partai lokal malah bukan menunjukkan simpati dan kerja kerasnya untuk menuntaskan problem yang sedang dialami oleh masyarakat Aceh, selagi uang yang digelontorkan ke Aceh masih tinggi angkanya. Tapi pasca damai, perseteruan antar elit politik paling menonjol ditunjukkan di Aceh ketimbang kerja untuk mensejahterakan masyarakat, dan masyarakat hanya disuguhkan dengan drama drama konyol para politisi yang kerap dipertontonkan itu. 

Perseteruan antara eskekutif dan legislatif seperti tak ada habis episodenya, panjang episode pun mengalahkan sinetron "Cinta Fitri" dan "Tukang Bubur Naik Haji", perseteruan itu dilakukan secara terang terangan, dipertontonkan, bahkan melupakan tugas dasarnya bekerja untuk kepentingan masyarakat. Bisa jadi karena rasa malu yang hilang dan empati kepada masyarakat yang kurang, membuat para politisi politisi ini tak memikirkan apa yang paling penting dan tidak penting bagi masyarakat untuk mereka kerjakan.

Maka tak heran, aksi aksi konyol para politisi kini jadi hiburan yang paling menarik untuk diperbincangkan oleh para masyarakat ketika sedang nongkrong menikmati segelas kopi.

Ya, inilah hiburan kami masyarakat Aceh...!!!


Share:

Suku Mante dan Kesesatan Informasi

Beberapa minggu ini Aceh dihebohkan dengan sebuah video yang di unggah oleh para komunitas trail dengan akun fredography, video yang memperlihatkan orang telanjang lari ketika berhadap secara tidak sengaja dengan komunitas trail, kemudian sosok tersebut berlari kencang kedalam semak rumput panjang yang kemudian menghilang tanpa jejak. Para komunitas trail mengunggah di youtube dengan membuat keterangan “Jangan tanya dimana, akan tetap kami rahasiakan, bisa jadi penduduk primitif, bisa jadi penuntut ilmu hitam

Pasca di upload ke youtube video itu menjadi viral dan dikonsumsi oleh masyarakat Aceh, Nasional bahkan Internasional. Ada jutaan pertanyaan yang kemudian ditanyakan tentang dimana lokasi video tersebut direkam, bahkan tersiar kabar melalui media bahwa pemerintah membentuk tim untuk menelusuri keberadaan yang kemudian disebut sebut sebagai suku mante.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa bahkan berargument dan memerintahkan untuk menelusuri suku mante. Begitu pula dengan pemerintah Aceh yang akan membentuk tim untuk menelusuri keberadaan suku mante tersebut.

Kemudian, sejak beredarnya video itu, banyak media yang mencoba memberitakan para narasumber yang mengaku sebagai saksi mata pernah melihat dan bertemu suku mante diperdalaman hutan, dari sekian banyak para sanksi mata yang diwawancarai mereka mengakui pernah bertemu dan melihat suku mante diperdalaman kabupaten Aceh Timur, Aceh Tengah, Gayo Lues dan Wilayah Leuser, tapi tidak ada yang pernah melihat dikawasan lokasi yang terekam dalam video tersebut.

Lokasi Pengambilan Video
Bungkamnya para saksi yang merekam video terhadap lokasi pengambilan video membuat isu liar, banyak orang yang mengira-ngira atau pun menduga bahwa video diambil dikawasan wilayah tengah Aceh, begitupula para narasumber yang menceritakan tentang pengalamannya bertemu suku mante.

Lintasgayo.co juga memberitakan dengan judul “Mensos Khofifah Perintahkan Penyisiran Mante di Aceh Tengah”, tapi benarkah video tersebut direkam seputaran wilayah tengah Aceh?, dugaan saya sama sekali bukan.

Sejak video itu beredar, pertama kali saya melihat, langsung teringat pada sebuah tempat yang pernah saya kunjungi, lokasi yang ada dalam video terasa sangat tidak asing bagi saya, kemudian perihal tersebut saya tanyakan kebeberapa teman saya, yang juga pernah melintasi daerah itu dan mereka juga mengiakannya, seorang sejarawan Aceh juga menuturkan lokasi yang sama dengan dugaan saya disalah satu media nasional ternama.

Melihat video dan lokasi yang saya duga sebagai tempat kejadian, maka agak sulit dipercaya sosok yang terlihat dalam video adalah “suku mante”, karena lokasi yang ada dalam video bukanlah lokasi yang terlalu terisolir, setiap hari ada mobil yang melewati kawasan tersebut untuk melakukan suatu bisnis yang entah legal atau illegal, kemudian tidak jauh dari situ juga banyak para pekerja, ditambah lagi sudah dibuat jalan yang sangat lebar dan bisa dilewati kendaraan besar serta adanya suatu objek wisata yang cukup indah, walaupun masih jarang dikunjungi karena akses jalan yang belum layak jika dikunjungi dengan mobil pribadi atau kendaraan bermotor ketika musim hujan tiba.

Jika dalam video itu benar merupakan suku mante, maka bisa jadi mante tersebut sedang tersesat atau terpisah dari rombongan lainnya, sehingga ia berada tidak terlalu jauh dengan pemukiman warga, atau bisa jadi penuntut ilmu hitam dan lainnya seperti yang tertera dalam keterangan unggahan video.

Dari berbagai penuturan saksi mata yang mengakui pernah melihat suku mante, mereka semuanya mengatakan bahwa suku mante sangat peka terhadap suara, bahkan jika sedikit ada suara atau bau manusia mereka langsung melarikan diri, kemudian sosok mante dideskripsikan sebagai orang pendek (kerdil), bahkan ada yang menyebutnya memiliki kaki terbalik.

Maka terlihat aneh jika dalam video yang diunggah tersebut merupakan suku mante, melihat posturnya juga tidak terlalu pendek seperti yang dideskripsikan para saksi mata, kemudian suara motor trail juga terdengar lumayan bising, ditambah lagi suara mesin disekitar tersebut dan orang orang yang sedang melakukan aktivitas pekerjaannya. 

Kecuali mante tersebut bermasalah dengan pendengarannya "tuli" atau tersesat.

Share:

Kesejahteraan dan Tradisi Lampu Mati

Dalam setiap ajang kampanye, kata "meningkatkan kesejahteraan" selalu saja menjadi sebuah kata peyakinan dan sebagai simbol utama yang menjadikan alasan masyarakat untuk memilih para calon pemimpinnya. 

Dan disetiap daerah yang sejahtera, selalu saja dibarengi dengan peningkatan investasi. Dengan semakin tingginya angka investasi maka diyakini semakin meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Bagi para investor, jaminan keamanan, infastruktur memadai dan jaminan hukum merupakan syarat mutlak yang menjadi tolak ukur mereka untuk memutuskan berminat atau tidak berinvestasi didaerah tersebut. Selain soal sumber daya dan hitungan hitungan lainnya.

Di Aceh, dari ketiga hal tersebut mungkin soal jaminan hukum bisa lebih di andalkan, karena self goverment nya yang diberikan pemerintah pusat terhadap Aceh, itupun jika legislatif dan eksekutif berjalan akur dalam pemerintahan sehingga mampu bekerja maksimal untuk memberikan dampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat melalui dukungan terhadap investasi, tapi jaminan keamanan serta infastruktur memadai merupakan sebuah keniscayaan untuk di penuhi oleh pemerintah hingga saat ini, sebut saja misalnya soal listrik.

Sejak 71tahun lebih Indonesia sudah merdeka, Aceh masih saja harus menghidupkan lilin sebagai penerangnya, bukan saja diperkampungan dan perdalaman, di Ibukota Provinsi sekalipun mati listrik sudah seperti tradisi. Setiap tahunnya soal listrik yang sering mati menjadi perbincangan hangat publik, namun tetap saja soal listrik ini akan berjalan seperti biasa, tak ada gejolak perubahan dalam menerangi provinsi paling barat di Indonesia ini.

Anehnya, soal sumber arus listrik ini dibangun dimana mana di Aceh, dibeberapa daerah bahkan berdiri perusahaan perusahaan pembangkit tenaga listrik, tapi seiring itu pula tak adanya perubahan soal pasokan listrik keseluruh negeri Aceh, masih saja Medan menjadi andalan utama pasokan listrik ke Aceh. Soal gelap atau terangnya Aceh itu hak nya Medan yang menjadi pemasok bagi lentera cahayanya Aceh.

Meski setiap tahun masyarakat Aceh mengeluh soal listrik yang mati, tapi ini tak menjadi perhatian khusus bagi pemerintah, hingga sekarang dan setiap tahunnya dan mungkin juga tahun tahun kedepannya lagi, tradisi mati lampu tetap menjadi hal yang harus diperingati dan dinikmati oleh masyarakat Aceh dengan suka cita, mau tidak mau dan suka tidak suka.

Padahal pemerintah dan bahkan pemimpin itu sendiri memahami betul, bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat harus terjaminnya infastruktur, termasuk soal jaminan pasokan arus listrik, agar para investor tidak meragukan diri untuk berinvestasi di Aceh.

Berbicara tentang kesejahteraan masyarakat tanpa menyiapkan infastruktur sama seperti ibu ibu yang berbicara "kuah leumak", tapi tak memiliki kelapa sebagai bahan baku utamanya.

Ya,, itu omong kosong...!!!

Share:

Ketika Kehilangan Pilihan

Belum genap memiliki, tapi hati ini seperti dipaksa berhenti mencintai. Harapan sudah mencapai menara tertinggi, tapi terjatuh, terhanyut dalam nestapa duka yang aku cipta, kesalahan ku hanyalah terlalu tinggi menara harapan yang aku letakkan, kemudian terjatuh dengan penuh persakitan. 

Menyesal?, tentu tidak, tidak mungkin aku menyesali sebuah cinta yang tumbuh dan mekar karena ingin ku, jika kemudian aku dipaksa untuk berhenti, maka aku setia menghentikan semuanya, agar mimpi dan kebahagiaan mu menjadi nyata, karena aku mencinta bukan karena harus memiliki, tapi yang terpenting kamu harus kupastikan bahagia, dengan siapa saja.

Meski tadinya sudah pinta bergegas, menyapa pencipta agar lekas menyatukan kita. Tapi doa-doa itu hanyalah sekedar harap, tapi semua itu menyadarkanku bahwa seharusnya angan-angan berhenti disini saja, agar kamu tak lagi tersakiti. 

Soal doa doa ku itu sah sah saja, tapi yang terpenting bukan “aku dan kamu harus menyatu” tapi “kau harus bahagia”, karena diantara puluhan kali ucapan doa doa ku tentang penyatuan kita, terselip ribuan kali doa doa agar kau bahagia, diantara banyak untaian kata kata dalam doa doa ku, yang paling paling sungguh diantara kesungguhan adalah kebahagiaan mu.

Bukan salah hati ini, jika punya cinta kemudian mampu menghadirkan rindu setengah mati, bukan pula salah hati kita, jika cinta kita kemudian mengundang duka dan air mata, tak ada sesiapa yang salah, karena Tuhan ciptakan cinta tanpa memandang sesiapa, syukuri saja bahwa ini bagian dari nikmatnya yang tak mampu kita cipta. Cinta yang hadir adalah anugrah, karena setidaknya kita pernah bahagia karenanya, kita pernah tertawa karenanya.

Sejak aku memutuskan mencintai mu, sejak cinta ini hadir tanpa kusadari entah kapan ia tiba tiba telah ada. Ada begitu banyak pertanyaan dikepalaku, yang hingga kini aku pun tak tahu jawabannya, yang pasti, aku benar benar mencintai mu.

Meski kupahami semua realita yang ada, kupahami pula bahwa ini akan menemukan jalan kerumitan, resiko yang harus ditanggung oleh kau dan aku. Setiap kali aku bertanya tanya, mencari jalan keluar dari segala arah, disaat itu, setiap kali pula aku harus menahan rindu, menenangkannya dan berteriak meski aku tak tahu dimana tuannya. Sejatinya aku tak tau rindu ini akan diaku oleh siapa.

Tapi aku bahagia, karena bahagia ku adalah saat melihat senyummu, saat saat melihat mu tertawa, meski perasaan ini ada banyak air mata, tapi kebahagiaan mu telah menyapu tetesannya. Aku mengikuti semua perasaan ini secara perlahan, biarkan aliran terlihat tanpa kesalahan, karena ini sedari awal adalah pilihan ku, yaitu; “mencintai mu meski tak memiliki”. Walau hati ini begitu mengingini, tapi aku harus paham batas batas yang bisa aku panjati.

Setidaknya, jika kemudian aku tak bisa memiliki mu dalam realita, aku masih bisa menyebut nyebut nama mu dalam doa doa ku, masih pula aku melihat senyum mu, masih pula aku tau bahwa kau bahagia. 


Jika aku dihadapkan pada pilihan, dari pada aku harus kehilangan semua, semua tentang mu, aku lebih memilih kehilangan untuk memiliki mu, tapi masih bisa melihat mu bahagia.
Share: