Fenomena Medsos Menjelang Pilkada

Ada yang menarik dan luput dari pembahasan hangat tentang fenomena menjelang Pilkada ini, fenomena tersebut adalah banyaknya lahir akun media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Path, dll. Perihal tersebut sepertinya bukan hanya terjadi di Aceh, tapi hampir disemua daerah di Indonesia mengalami hal serupa, artinya kita sudah sangat menyadari tentang pengaruh media sosial terhadap kampanye yang ingin kita lakukan.

Dalam setiap ajang pemilihan, selalu saja muncul akun media sosial baru yang kemudian mempertontonkan pogram pogram yang akan dilakukan oleh si calon tersebut jika terpilih. Kemudian Akun tersebut makin agresif dan aktif berkomunikasi dengan siapa saja yang hadir didalamnya.

Anehnya, Kita menemukan begitu banyak tokoh tokoh politik yang begitu aktif dalam media sosial sebelum berkuasa, bahkan yang sebelumnya tidak menggunakan media sosial, menjelang pilkada menggunakan media sosial dengan sangat aktif dan reaktif, tapi dengan seketika meninggalkan media sosial ketika berkuasa. Padahal mereka sangat menyadari betul, bahwa media sosial merupakan cara paling mudah untuk berinteraksi langsung dengan masyarakatnya. Namun disamping itu, kita perlu mengapresiasi juga kepada politisi yang masih terus aktif dalam media sosial dan menjadikan media sosial sebagai alat untuk berkomunikasi dengan masyarakat.

Suburnya lahir media sosial menjelang pilkada merupakan sebuah bukti, bahwa perkembangan teknologi memberikan ruang yang besar untuk kemudahan kampanye bagi para calon. Kampanye di media sosial sangat berdampak positif terhadap pemilih pemula, disamping kampanye gratis, media sosial juga menjadi alat yang paling jitu menarik perhatian terutama pemilih pemula maupun pemuda.

Ada banyak politisi di Indonesia yang terkenal dan besar berkat media sosial, ada banyak pula politisi yang akhirnya jatuh karena media sosial pula. Begitulah pengaruh media sosial dalam perkembangan zaman saat ini.

Pilkada 2017 ini, meski masih 1 tahun lagi, tapi trend pembicaraan mengenai pilkada tersebut dimedia sosial mulai meninggi, hampir setiap hari kita melihat dalam beranda yang berstatus tentang politik. Memuji, memaki, fitnah, kebohongan dan berbagai hal lain selalu muncul dalam beranda kita. Bagi pendukung tentu memuji sedangkan bagi yang pembenci tentu akan mencaci, begitulah fenomena politik dalam media sosial di indonesia ini.

Namun khusus bagi yang mencaci, biasanya digunakan akun palsu, akun tersebut memang sengaja dibuat untuk menjelekkan calon yang dibencinya, maka lahirnya akun palsu menjelang pilkada seperti berkembang biak nyamuk dimusim hujan. Kita melihat begitu banyak akun akun media sosial palsu yang menggunakan indetitas orang lain, yang tujuan dibuatnya adalah untuk menyerang lawan lawan politik yang tak didukungnya.

Meski undang undang melarang perihal tersebut, tapi hal itu tak memberikan efek jera kepada para haters (pembenci), padahal orang yang ditangkap karena persoalan menghina dimedia sosial sudah banyak, tapi sulitnya diungkapkan pelakunya, menjadikan kejahatan ini digemari oleh banyak orang.

sumber foto : kenyalangnews.com
Share: