• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

1 Juta Telur Medan Untuk Aceh Setiap Harinya

Aceh pernah dikenal ke berbagai manca negara karena pusat perdagangan yang pernah dijulukinya, itu Aceh masa lalu, Aceh masa kini, soal telur yang menjadi kebutuhan pokok pun harus dipasok dari provinsi tetangga. Itulah fakta yang harus diterima oleh Aceh, baik masa konflik maupun pasca perdamaian seperti saat ini.

Kebutuhan telur setiap harinya di Aceh diperkirakan berjumlah 1juta telur, jumlah yang besar itu 70% merupakan telur asal Medan, sedangkan 30% lainnya berasal dari berbagai pengusaha telur di beberapa Kabupaten seperti Aceh Besar, Subulussalam dll.

Prospek usaha yang begitu besar sebenarnya bukanlah tidak dilirik oleh para pemodal, tapi akibat iklim (keamanan, listrik, pakan) Aceh yang tidak terpenuhi dengan baik. Para usaha telur kecil kecilan saat ini selalu mengeluh tentang harga pakan yang terus dimainkan dipasar dan membuat harga pakan terus melonjak tinggi.

Harga pakan, bibit dan obat obatan ayam tersebut yang membuat para pengusaha Aceh tidak mampu bersaing dengan pengusaha Medan, karena persoalan Pakan, bibit dan obat obatan pun harus juga di pasok dari Medan.

Belum lagi persoalan keamanan yang tidak terjamin dan apalagi persoalan listrik yang sering kali hidup mati di Aceh. Banyaknya preman preman pajak ilegal di Aceh menjadi iklim investasi tidak menarik, akibat dari ketidakpastian biaya yang dikeluarkan oleh para investor dan keamanan terhadap keberlangsungan usahanya tersebut.

Persoalan pakan di Aceh padahal dapat di carikan alternatif, yaitu dengan mendirikan pabrik pakan ternak di Aceh, karena persoalan bahan baku pakan seperti jagung dan lain lain juga terpenuhi di Aceh. Namun anehnya di Aceh tidak memiliki pabrik pakan ternak hingga saat ini yang mampu menenuhi kebutuhan untuk Aceh, sehingga persoalan harga pakan pun tergantung pada situasi pasar di Medan.


Akibat dari situasi itu, pengusaha ayam di Aceh sulit berkembang, karena selalu dihadapkan pada persaingan harga perjualan panen dan harga kebutuhan pengeluaran. Dimana, harga harga tersebut sangat tergantung pada situasi pasar di Medan.
Share:

Perketat Calon Independent Bentuk Kegamangan Parpol

Banda Aceh, Menjelang Pilkada DPR Aceh dan eksekutif mulai membahas Qanun Pilkada. Wacana dan isu yang mencuat adalah memperketat persyaratan Calon Independent, karena dalam setiap dukungan KTP harus dibuat surat pernyataan yang dilengkapi dengan tanda tangan dan materai. (14/04/2016)

Direktur Forum Pemantau & Pendidikan Demokrasi (Formandiksi) Srabah Yudi mengatakan “memperberat syarat untuk calon independent adalah bentuk dari kegamangan partai politik yang salah satunya takut bersaing dan kalah”.

“ini adalah bentuk dari kemunduran berdemokrasi kita, seharusnya dalam usia reformasi yang semakin matang, penjegalan hak-hak politik masyarakat tidak boleh dilakukan dengan sistematis seperti ini” ujar Yudi.

Anehnya mereka yang duduk di DPR Aceh sekarang merupakan mantan-mantan aktivis yang dulunya memperjuangkan demokrasi dan hak-hak politik, tapi kenapa disaat mereka berkuasa malah mempersempit ruang demokrasi dan hak-hak politik setiap individu. Ini bentuk kelupaan mereka pada asalnya.

 “mereka-mereka ini harus disadarkan, jangan mentang-mentang menjadi penguasa lalu seenaknya mempersempit hak-hak politik masyarakat” ujar Yudi.

Pemerintah harus bisa menjamin, masyarakat yang tidak memiliki partai politik juga mempunyai hak yang sama untuk dipilih dan memilih, tidak ada korelasinya antara memperketat syarat dengan pilkada berkualitas.

“memangnya yang diusung oleh partai politik sudah ada jaminan berkualitas..?” Tanya Yudi.
Share:

Partai Mantan GAM dan MoU Helsinky

Kita lupa untuk sejahtera hanya karena persoalan bendera yang belum selesai, padahal masih ada persoalan yang paling mendesak terkait butir-butir perdamaian yang tertuang dalam Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki dan turunan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) yang dilupakan oleh para pemerintah saat ini, terutama para Anggota Legislatif se Aceh. Apalagi cara untuk meningkatkan kesejahteraan disaat dana otonomi khusus (otsus) sedang bergelimang di Aceh.

Banyak wewenang Aceh yang manfaatnya menyentuh langsung terhadap kebutuhan masyarakat menjadi tidak menarik bagi anggota legislatif maupun eksekutif. Disaat para anggota DPR se Aceh Fraksi Partai Aceh ribut-ribut soal bendera, wajar saja masyarakat mencemoh terhadap perihal itu, apalagi disaat masyarakat butuh kesejahteraan, wakil rakyat malah butuh bendera dan sibuk terhadap aksi propaganda agar masyarakat ikut bereaksi terhadap syahwat politik mereka.

Masyarakat menganggap, wakil rakyat mengrespon terhadap persoalan bendera yang belum selesai adalah sebagai “dagangan” menjelang pilkada 2017 mendatang, apalagi persoalan bendera tak kunjung selesai disaat 2 periode sudah Aceh dibawah kekuasaan Partai Mantan GAM tersebut, yang kemudian menjadi pertanyaan “pusatkah salah terhadap persoalan ini, atau mereka yang tidak punya kemampuan berdiplomasi”.

Mengapa kemudian, isu bendera tidak menjadi menarik bagi partai politik lainnya, karena partai lain tidak ingin bendera dijadikan lokomotif politik dan itu sepertinya partai lain menganggap bendera sudah dipolitisasi untuk kepentingan Partai tertentu, maka dari itu persoalan bendera tidak selesai hingga saat ini, apalagi faktor diplomasi yang kaku dari para Partai mantan GAM.

Hubungan partai mantan GAM dengan pusat selama ini tidak berjalan mulus, akibat dari selalu beda persepsi tentang perjanjian MoU Helsinky. Pusat menganggap Partai mantan GAM belum sepenuhnya meleburkan diri dalam bineka tunggal ika, sedangkan Partai mantan GAM menganggap pusat belum sepenuhnya rela Aceh mengimplementasikan perjanjian MoU Helsinky. Saling curiga tersebut yang kemudian membuat ketidakpastian terhadap pembangunan Aceh kedepan.

Kondisinya, persepsi publik dan pusat menganggap Partai mantan GAM menjadikan MoU Helsinky kedalam kepentingan politik partai, bukan lagi pada kepentingan Aceh secara bersama sama, sehingga persoalan tidak terimplementasinya MoU Helsinky akibat dari kepentingan kepentingan politik lainnya yang saling tarik ulur dipusat. Hal tersebut terlihat jelas didalam partai politik mantan GAM tersebut, disaat menjelang Pilkada dan Pileg mereka mulai gencar berbicara perjanjian MoU Helsinky yang tidak terimplementasi dengan melakukan propaganda terhadap masyarakat dan mereka seolah olah lupa dan menutup diri tentang kekuasaan mayoritasnya terhadap Aceh sudah 2 periode berlalu, baik di legislatif maupun eksekutif.

Ketidakmampuan mereka mengimplementasikan perjanjian MoU inilah yang kemudian dikambing hitamkan pusat dan selalu didagangkan dalam agenda kampanye politik partai. Partai mantan GAM mengklaim merekalah satu satunya partai yang memperjuangkan untuk terimplementasinya MoU Helsinky dan menuduh partai partai lain tidak peduli terhadap hal ini, padahal mereka pula yang sebagai partai mayoritas di Aceh tidak memberikan kesempatan dan ruang kepada partai lain untuk sama sama memperjuangkan hal itu. Apalagi, MoU Helsinky dijadikan sebagai lokomotif politik partai.

Lalu milik siapakah Aceh ini, milik mantan GAM atau milik kita bersama-sama, sehingga yang menjadi persoalan seluruh masyarakat Aceh pun tidak berhak kita perjuangkan bersama-sama, karena sudah ada yang mengklaim “itu milik kami”. Kemudian mana milik kita “milik masyarakat Aceh”  
Share:

Surat Untuk Sonya Depari

Dear untuk Sonya Depari Sang Gadis Cantik yang sedang dibully oleh Netizen akibat ulahnya memaki maki Polwan serta membawa bawa nama pamannya yang juga seorang Inspektur Jenderal bernama Arman Depari. Arman Depari adalah Deputi Penindakan BNN.

Sonya, semoga batinmu membaik usai membaca sepucuk surat dari abangda ini, yang dengan iklas menuliskan secercah pemikiran dan harapan untukmu, yang sedang melihatmu dilanda duka nestapa nan mendalam.

Yang membuat abangda kasian terhadapmu adalah, sudah jatuh menimpa tangga pula, yang mungkin tak membuat semua orang mampu bertahan dan kuat sepertimu dalam menghadapi cobaan berat seperti itu, apalagi dalam usiamu dan pikiranmu yang masih labil. Abangda ingin menyampaikan pesan “iklaskan kepergian ayahanda mu” yang sudah tenang menghadap sang cipta, iklaskan dengan pikiran yang jernih, anggap begitulah realita tentang sebuah kehidupan, yang karena itu kadang kadang membuat kita semakin sadar bahwa hidup adalah tentang perilaku yang bijaksana dan tentang sebab dan akibat.

Sonya yang cantik nan jelita, tangisanmu tak membuat keadaan menjadi baik tapi malah sebaliknya. Penyesalanmu bukan berarti harus ditangisi, tapi yang paling penting adalah tentang kesadaran diri. Cobaan yang datang padamu adalah akibat dari tidak adanya kemampuan kamu membaca situasi, kamu ngamuk ngamuk pas didepan camera yang sedang mengikuti tugas polisi, polisi yang sedang memantau aksi konvoi para siswa yang baru saja selesai melaksanakan ujian nasional.

Cukuplah tangisanmu, tangisanmu bagi netizen tidak berarti apa apa, tapi mintalah maaf secara bijaksana serta mengakui kekhilafan yang telah kamu buat disaat yang tidak tepat itu. Sonya, abangda mengingatkan mu cukuplah ini menjadi pengalaman pertama terpahit dan terakhir sepanjang hidupmu, jadilah pribadi yang santun dan memiliki aklak dan moral yang disukai oleh masyarakat, sebagaimana budaya kita, budaya nusantara. Semakin kita menyombongkan kekuasaan keluarga kita, maka semakin kita tak mendapatkan tempat dihati masyarakat.

Tapi ini, yang sudah terjadi iklaskan. Hapus air mata mu dan katakan “aku harus lebih baik”, buktikan kamu mampu lebih baik. Karena jika kamu tidak mengiklaskan apa yang sudah terjadi, maka ini hanya akan menjadi kesedihan yang tak menguntungkan apa-apa, sedangkan para netizen tidak lagi menganggap air mata mu sebagai air mata yang harus dikasihani, apalagi perilaku mu pada polisi telah membuat para netizen kudu membencimu.

Musibah yang menimpa mu belakangan ini ubahlah menjadi obat, iklaskan atas cobaan, berterimakasih pada keadaan, karena dengan ini mula kamu menjadi lebih baik yaitu dengan berperilaku lebih baik. Kemudian berterimakasih pula pada orang orang yang sudah menyempatkan diri untuk memperhatikanmu, padahal kamu pun tak mengenal siapa mereka, namun mereka dengan penasaran yang besar dan waktu yang terbuang untuk menghujat kejelekanmu, syukurilah itu.

Sebab faktanya, menurut abangda kamu memang sudah jelas jelas salah, diusiamu yang masih labil kamu belum mampu mengendalikan emosimu, kamu menunjukkan sifat aslimu yang masih labil didepan umum, kemudian memancing pula emosi sebagian besar masyarakat yang memang memiliki sifat aslinya seperti kamu pula, tapi bedanya mereka mereka ini pada umumnya sudah berusia dewasa, tapi pemikirannya diliputi dengan pikiran pikiran negative yang jika dengar nama-nama pejabat seperti yang kamu sebutkan, maka membuat mereka mereka ini tak bisa berdiam diri untuk tenang tanpa menghujat.

Semua manusia ini tak luput dari kesalahan, dengan berbagai macam macam masalah dan situasi, hari ini kamu, esok sudah orang lain. Jadi abangda sarankan, belajarlah dari masalah ini dan jadilah pribadi yang memberikan manfaat positif terhadap orang lain.


Usapkan air matamu yang telah jatuh berderai itu, hadapi semua masalah ini dengan tenang dan bijaksana, berjanjilah pada diri sendiri dan orang tua mu yang telah meninggalkan mu, bahwa kamu akan jadi lebih baik, menjadi Sonya yang akan memberikan dampak positif bagi seluruh lingkunganmu, agar ayahanda mu dapat tersenyum didunia yang telah berbeda itu.
Share:

Kota Madani dan Malam Minggu

Banda Aceh jika sudah malam minggu, wara wiri kendaraan dijalan disesaki oleh para remaja kasmaran. Maklum saja, sebagai kota pelajar yang dipenuhi remaja, tentu berbonceng mesra sudah menjadi pemandangan biasa dimalam minggu. Jalan jalan macet tak karuan, seperti simpang Surabaya, Ulee Lheu, Cafe-cafe dan banyak tempat lainnya dipenuhi oleh pasangan remaja yang sedang memadu kasmaran.

Bagi para cewek jomblo, kamar tentu menjadi tempat paling indah dan nyaman dimalam minggu, maklum jika memaksakan keluar malam minggu, tentu harus mencari teman yang jomblo pula dan jika terlalu memaksakan keluar dengan teman sejenis maka bakal dikira LGBT pula. Wajar saja, LGBT ini lagi trend atau istilah lainnya "naik daun".

Bagi para cowok jomblo bisa sedikit lebih bahagia dibanding cewek, karena masih banyak warung kopi yang menjadi tempat pengalihan ketika malam minggu tiba, cowok yang jomblo ini tentu tak ingin menghabiskan malam minggunya dikamar, takut disangka "anak mami", maka alternatifnya adalah warung kopi yang menjadi tempat andalan untuk menghabiskan malam minggunya bersama teman teman cowok jomblo lainnya.

Meski Banda Aceh ini sedang dipersiapkan untuk menuju sebagai kota madani oleh Bunda "sapaan akrab warga kota untuk Walikota yang cantik itu". Tapi tetap, malam minggu para remaja remaja kasmaran tidak bisa dilarang untuk mengekspresikan cintanya dijalan dan ditempat remang remang, ya sama dengan kota kota lainnya diluar Aceh. Jika pun kemudian Bunda memaksakan itu dengan menurunkan WH nya (Wilayatul Hisbah) paling para remaja lari kocar kacir saja, malam minggu depan tetap jalan lagi dan beraksi lagi, begitulah budaya remaja yang sudah terbangun, sejak era modern ini berkembang pesat di kota madani, kencan dimalam minggu sudah menjadi pemandangan biasa dan dianggap kurang gaul jika malam minggu tidak kencan, jika sang Bunda punya niat untuk menetapkan peraturan Walikota tentang larangan jalan sama pacar malam minggu, tentu sang Bunda bakal kewalahan menghadapinya.

Ini Banda Aceh bung, kota yang para remajanya suntuk tak tau mau kemana, kota yang warganya mau tidak mau menghabiskan waktu santainya diwarung kopi, karena cuma itu yang ada. Lagi pula ini kota madani, tak boleh ada bioskop karena melanggar syariat islam, tak boleh ada hiburan musik karena mengganggu penerapan syariat islam, tak boleh ada apa apa, karena menganggu kenyamanan warga kota. Warga kota mau tidak mau harus nyaman menghabiskan waktu santai malamnya di warung kopi. Ya sekalian membangkitkan perekonomian pengusaha warung kopi seh.

Tapi boleh pacaran asalkan diam diam, boleh ngapain aja, tapi dimobil yang sampai kedapatan sedang goyang goyang, boleh cari hiburan tapi paling dekat kemedan, jadi wajar saja malam minggu mobil para hartawan wara wiri di kota medan. Yang penting di Banda Aceh jangan bung, tapi ditempat orang boleh. Istilahnya itu "buatlah sampah dikebun orang, jangan kotori kebun sendiri".

Begitulah kota madani bung, kota yang warganya punya hasrat tinggi tapi harus mengekspresinya di kota tetangga. Kota yang warganya haus hiburan tapi harus mencarinya ketetangga.

Ah,,, ini Banda Aceh bung, kota madani, kota yang harus menjaga diri

Sumber foto : menatapaceh.com
Share:

Fenomena Medsos Menjelang Pilkada

Ada yang menarik dan luput dari pembahasan hangat tentang fenomena menjelang Pilkada ini, fenomena tersebut adalah banyaknya lahir akun media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Path, dll. Perihal tersebut sepertinya bukan hanya terjadi di Aceh, tapi hampir disemua daerah di Indonesia mengalami hal serupa, artinya kita sudah sangat menyadari tentang pengaruh media sosial terhadap kampanye yang ingin kita lakukan.

Dalam setiap ajang pemilihan, selalu saja muncul akun media sosial baru yang kemudian mempertontonkan pogram pogram yang akan dilakukan oleh si calon tersebut jika terpilih. Kemudian Akun tersebut makin agresif dan aktif berkomunikasi dengan siapa saja yang hadir didalamnya.

Anehnya, Kita menemukan begitu banyak tokoh tokoh politik yang begitu aktif dalam media sosial sebelum berkuasa, bahkan yang sebelumnya tidak menggunakan media sosial, menjelang pilkada menggunakan media sosial dengan sangat aktif dan reaktif, tapi dengan seketika meninggalkan media sosial ketika berkuasa. Padahal mereka sangat menyadari betul, bahwa media sosial merupakan cara paling mudah untuk berinteraksi langsung dengan masyarakatnya. Namun disamping itu, kita perlu mengapresiasi juga kepada politisi yang masih terus aktif dalam media sosial dan menjadikan media sosial sebagai alat untuk berkomunikasi dengan masyarakat.

Suburnya lahir media sosial menjelang pilkada merupakan sebuah bukti, bahwa perkembangan teknologi memberikan ruang yang besar untuk kemudahan kampanye bagi para calon. Kampanye di media sosial sangat berdampak positif terhadap pemilih pemula, disamping kampanye gratis, media sosial juga menjadi alat yang paling jitu menarik perhatian terutama pemilih pemula maupun pemuda.

Ada banyak politisi di Indonesia yang terkenal dan besar berkat media sosial, ada banyak pula politisi yang akhirnya jatuh karena media sosial pula. Begitulah pengaruh media sosial dalam perkembangan zaman saat ini.

Pilkada 2017 ini, meski masih 1 tahun lagi, tapi trend pembicaraan mengenai pilkada tersebut dimedia sosial mulai meninggi, hampir setiap hari kita melihat dalam beranda yang berstatus tentang politik. Memuji, memaki, fitnah, kebohongan dan berbagai hal lain selalu muncul dalam beranda kita. Bagi pendukung tentu memuji sedangkan bagi yang pembenci tentu akan mencaci, begitulah fenomena politik dalam media sosial di indonesia ini.

Namun khusus bagi yang mencaci, biasanya digunakan akun palsu, akun tersebut memang sengaja dibuat untuk menjelekkan calon yang dibencinya, maka lahirnya akun palsu menjelang pilkada seperti berkembang biak nyamuk dimusim hujan. Kita melihat begitu banyak akun akun media sosial palsu yang menggunakan indetitas orang lain, yang tujuan dibuatnya adalah untuk menyerang lawan lawan politik yang tak didukungnya.

Meski undang undang melarang perihal tersebut, tapi hal itu tak memberikan efek jera kepada para haters (pembenci), padahal orang yang ditangkap karena persoalan menghina dimedia sosial sudah banyak, tapi sulitnya diungkapkan pelakunya, menjadikan kejahatan ini digemari oleh banyak orang.

sumber foto : kenyalangnews.com
Share: