• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Pemilihan Model Aceh Bukan Konspirasi

Ribut ribut soal event pemilihan model Aceh di Aula Hotel Grand Nanggroe yang bertema “Indonesian Model Hunt 2016”. Likak likuk diatas catwalk itu diikuti oleh ratusan gadis gadis yang katanya berasal dari seluruh Aceh. Usai di bubarkan secara paksa oleh Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menuai kehebohan terutama dimedia sosial, ada yang menggunjing para penyelenggara dan meminta untuk diusir dari Aceh dan ada pula yang mencoba mengkait-kaitkan dengan menyebut itu bagian dari konspirasi untuk melemahkan penegakan syariat islam di Aceh.

Tapi sangat jarang yang mencoba mendalami akar permasalahan, mengapa kegiatan kegiatan seperti itu menjadi sangat ramai pengikutnya di Aceh. Buktinya, dalam acara pemilihan model yang dilakukan di Hotel Grand Nanggroe tersebut diikuti oleh ratusan gadis gadis Aceh, bahkan banyak pula yang didukung oleh para orang tua mereka.

Seharusnya, jika kita memang memiliki nilai nilai syariat didalam diri masing masing masyarakat Aceh. Maka, kegiatan kegiatan seperti itu tidak akan berkembang di Aceh. Tapi pada kenyataannya, kegiatan seperti itu sangat digandrungi oleh gadis gadis di Aceh, bahkan banyak pula yang memilih untuk mengikutinya diluar Aceh.

Artinya, ada kegagalan baik itu orang tua maupun pemerintah, dalam mendidik generasi Aceh itu untuk hidup dengan karakter berlandaskan syariah dan saat ini pemerintah pun dikalang kabutkan untuk mencegah dengan kebijakan kebijakan, tapi kita melupakan akar dari permasalahan yang ada. Sehingga setiap ada aktivitas yang melanggar syariat kita ramai ramai menuduh itu bagian dari konspirasi. Konspirasi siapa?,

Kenapa kita selalu sibuk menuduh konspirasi, sehingga kata kata “konspirasi” menjadi alasan yang benar dari sebuah kegagalan kita dalam mendidik generasi Aceh, lalu sampai kapan kata kata “konspirasi” itu menjadi dalih, padahal itu jelas merupakan ketidakmampuan kita untuk mendidik generasi Aceh.
Share:

Pria dan Wanita

Pada dasarnya pria dan wanita berbeda dalam cara berpikir, menanggapi, bertindak dll. Perbedaan ini dapat saling melengkapi, tetapi amat sering menimbulkan konflik dalam hubungan. Wanita lebih banyak memakai perasaan, sedangkan pria cenderung berpikir logis. Dalam berbicara, wanita akan mengekspresikan apa yang dirasakan, sedangkan pria menyatakan apa yang dipikirkannya.

Perkataan yang didengar wanita merupakan pengalaman emosional, sedangkan pria menerimanya sebagai informasi. Wanita cenderung melihat segala sesuatu dari sudud pandang pribadi (subjektif), sedangkan pria tidak banyak terpengaruh oleh perasaan pribadinya (objektif). Wanita tertarik pada hal-hal detil, pria lebih tertarik pada hal-hal prinsip, abstrak dan filosofis. Dalam hal materi, wanita cenderung hanya melihat tujuan, tetapi pria ingin tahu lebih detil bagaimana mencapainya.

Dalam hal-hal rohani atau abstrak, yang terjadi adalah sebaliknya. Pria melihat tujuan, sedangkan wanita ingin tahu bagaimana mencapainya. Pria seumpama lemari arsip. Mereka menerima persoalan, memasukkannya ke dalam map dan mengunci lacinya. Wanita seperti komputer, pikiran mereka terus dan terus bekerja sampai persoalan selesai. Bagi wanita, rumah adalah tempat ia mengembangkan kepribadian, bagi pria, dalam pekerjaanlah ia mengembangkan kepribadiannya.

Wanita memiliki kebutuhan besar untuk merasa aman dan berakar, pria lebih berjiwa petualang. Wanita cenderung merasa bersalah, pria cenderung mengungkapkan amarah. Pria lebih stabil dan mantap, wanita lebih mudah berubah. Wanita lebih mudah dan cepat melibatkan diri, pria cenderung berpikir dan menimbang-nimbang. Pria harus diberitahu berulang-ulang, wanita tak mudah lupa.!. Pria cenderung hanya mengingat inti persoalan, wanita cenderung mengingat penjabaran dan pengembangan persoalan.

Tapi Ingat, Wanita membutuhkan perhatian, dan pria membutuhkan kepercayaan. Wanita membutuhkan pengertian, dan pria membutuhkan penerimaan. Wanita membutuhkan rasa hormat, dan pria membutuhkan penghargaan. Wanita membutuhkan kesetiaan, dan pria membutuhkan kekaguman. Wanita membutuhkan penegasan, dan pria membutuhkan persetujuan. Wanita membutuhkan jaminan, dan pria membutuhkan dorongan.

Share:

Wajib Mengumpat di Negeri Syariat

Dalam wilkipedia dijelaskan, bahwa mengumpat adalah salah satu perbuatan tidak bermoral di mana seseorang memberitahu sesuatu keburukan atau aib kepada orang lain. Penjelasan tersebut secara gamblang telah dijelaskan bahwa mengumpat merupakan perbuatan tidak baik, tapi anehnya mengumpat ini sudah menjadi budaya (tidak tahu malu) di Indonesia, termasuk Aceh sebagai daerah yang menerapkan syariat islam.

Dalam islam, mengumpat malah disamakan seperti memakan daging saudara seagama, begitu hinanya dalam pandangan islam untuk orang yang mengumpat. Dosa mengumpat juga dikatakan bukan saja dosa besar, malah antara dosa yang tidak akan diampunkan oleh Allah biarpun pelakunya benar-benar bertaubat.

Lalu mengapa seolah olah kita masyarakat Aceh, yang dengan bangganya menerapkan syariat islam, tapi budaya mengumpat dalam kehidupan bermasyarakat masih sangat kental dan membanggakan. Padahal masyarakat Aceh sangat tahu menahu tentang bagaimana dosa mengumpat itu, namun kita telah dibiasakan dengan pola hidup yang bangga dengan menyebarkan aib aib dan keburukan orang lain. Kita seperti haus akan hiburan, sehingga aib sesama saudara sendiri pun menjadi hiburan dalam bermasyarakat kita.

Bukan itu saja, tentang berita berita yang berkonotasi negatif pun tentang Aceh akan menyebar cepat dalam lingkungan masyarakat Aceh dan dihubung hubungkan dengan berbagai isu isu negatif lainnya yang kemudian ditelan mentah mentah oleh masyarakat Aceh, lalu hadir ramai ramai berjamaah seolah olah sedang memperjuangkan tegaknya syariat Allah dengan mengunjing dan mencela orang orang tersebut. Padahal kebenaranya akan hal tersebut belum dapat dibuktikan.

Media sosial, salah satunya menjadi tempat untuk memperkenalkan karakter asli masyarakat Aceh kepada dunia luar, kita begitu fanatik dalam syariat Islam, sehingga menghalalkan sesuatu yang sudah jelas dilarang oleh Agama demi tegakknya syariat islam, yaitu menggunjing orang, mengumpat, mengumbar aib dan banyak hal sifat negatif yang selama ini seakan akan menjadi budaya bermasyarakat di negeri syariat ini dan bahkan seolah olah sudah dibernarkan.

Malah jika ada diantara tersebut yang menasehati, malah dianggap sebagai bagian dari orang yang tidak pro terhadap tegaknya syariah Allah. Apakah syariat yang sedang kita tegakkan ini telah mewajibkan kita untuk mengumpat...?

Lalu, syariat seperti apa sebenarnya yang sedang kita perjuangkan...?
Share:

Libra 29 September Menurut Astrologi

Libra satu-satunya bintang yang bukan makhluk hidup, yang lain biasanya termasuk manusia atau binatang. Banyak pebintang modern mengatakan Libra mewakili tingkat tertinggi dari semua musim, ketika penuaian dari semua kerja keras yang dilakukan. Librans biasanya paling beradab dibandingkan keduabelas karakter zodiak dan biasanya berpenampilan menarik. Mereka elegan, dan memiliki cita rasa tinggi, biasanya baik, lembut dan pecinta kecantikan, harmonis.

Mereka sangat kritis dan dapat mundur dan melihat suatu masalah yang tidak adil. Namun mereka tidak menoleransi argumen dari siapapun yang bertentangan dengan opini mereka, saat mereka sudah sampai disatu kesimpulan. Karakter mereka biasanya seimbang, diplomatis dan terkadang temperamen.

Librans sangat sensitif terhadap kebutuhan terhadap orang lain, memiliki kebutuhan emosianal yang tinggi dari pasangannya. Pikiran yang dimiliki Libran biasanya artistik dibandingkan kecerdasan, meskipun biasanya mereka moderat dan lebih seimbang dari sisi artistik. 

Dalam relasi personal mereka menunjukan pengertian terhadap pandangan orang lain, mencoba memecahkan semua perbedaan yang ada, dan seringkali mengijinkan kesalahan ditujukan pada dirinya yang menyebabkan kerugian pada dirinya sendiri. 

Karakter negatif Libran adalah mudah dipengaruhi, tidak menyukai rutinitas.

Dalam pekerjaan sering dijuluki si "Libra malas". Librans terkadang dapat secara mengejutkan menjadi energik. Mereka dapat sukses sebagai administrators, pengarcara, dealer barang antik, bankers. Beberapa Librans memiliki bakat dalam desain fashion atau kosmetik; yang lain dapat sukses sebagai artis, penulis lagu, kritikus, penulis, interior design.

Umum
Sebagai seseorang yang manis dan cukup sentimental, Anda memang cocok jadi aktor/ aktris. Bebaskan diri, lakukan sesuatu yang bisa membuat orang lain terkesan... Atau, Anda bisa menjadi seorang profesional dan pejuang sebuah kasus. Yang jelas Anda harus selalu mengekspresikan diri sebab pada dasarnya Anda adalah tipe manusia yang selalu on. Anda memiliki cinta untuk dunia dan banyak dari Anda yang memiliki teman-teman keren, untuk sementara waktu, hingga Anda merasa bisa mendapatkan yang lebih baik. Berenang dengan hiu atau paus tidak menakutkan bagi Anda. Dengan orang yang tepat, Anda bisa membuat kesepakatan yang baik jika Anda mau sedikit merendah dan membuang kesombongan. Melakukan liburan romantis atau yang penuh tantangan petualangan bisa membuat pasangan senang, sekalian Anda bisa prospek bukan?

Cinta
Anda mengungkapkan apa yang Anda suka dan tidak dengan cara yang mudah. Meski Anda kaya akan ide romantis, namun Anda tak pernah buru-buru soal cinta. Anda selalu mengambil waktu mengenal pasangan, dan menikmati setiap momen bersamanya. Anda lebih memilih pasangan yang memiliki gairah besar dan imaginatif, bukan yang kaku atau manja. Penuh kasih, lembut, dan setia, adalah 'obat' yang Anda butuhkan, dan Anda akan melakukan apa saja untuk memperbaiki hari Anda.

Karir dan Keuangan
Meski Anda memiliki penilaian luar biasa dan pengertian, namun Anda kurang dalam hal kepemimpinan dan pengawasan. Anda terkenal di antara rekan kerja karena Anda tak membuat permintaan yang berlebihan, selalu toleran terhadap kelemahan mereka. Anda suka dengan tingkat kehidupan yang layak, barang-barang bagus, lingkungan nyaman dan Feng Shui yang bagus.

Sumber : gemintang dan vemale

Share:

Patologi Sosial, Hantu Blau dan Medsos Aceh

Dalam diskusi tadi malam bersama kawan kawan tentang negatifnya sudut pandang rakyat aceh tentang politik. Di akhir diskusi tersebut kami menarik kesimpulan bahwa masyarakat “Media Sosial” Aceh saat ini mayoritasnya berpikiran negative terhadap status yang di upload mengenai tema politik, banyak status politik yang di upload akan mendapatkan komentar beragam dari para pengikutnya dan mayoritas yang mengomentari adalah bernada negative.

Lihat saja sebagai contoh misalnya Akun Facebook Politisi, ketika ia menulis statusnya, maka ada ratusan pengikutnya yang kemudian mengomentari isi status tersebut bernada negatif, bahkan mengomentari diluar konteks isi status tersebut.

Salah satu penyebab yang muncul adalah, karena masyarakat muak dengan janji janji politik yang selama ini ada di Aceh, masyarakat jenuh dengan janji yang tidak terealisasi. Masyarakat menganggap, Aceh seperti sebuah rumah yang sudah tua dan tidak terurus dengan baik selama ini, padahal dengan uang trilyunan namun dinikmati entah oleh siapa. Kondisi Aceh persis seperti istilah Hantu Blau dalam masyarakat Minangkabau, sehingga muncul kegelisahan, ketakutan dan kekhawatiran bagi masyarakat.

Bagi masyarakat Minangkabau Hantu Blau adalah sebutan yang disematkan untuk makhluk halus atau hantu penghuni rumah tua yang terbengkalai dan tidak terurus.

Hal tersebut lantas mereka luapkan dengan akun media socialnya, karena media social merupakan salah satu jembatan yang paling mudah menghubungkan antara masyarakat dan politisi. segala unek unek dan kekecewaanya dapat mereka luapkan dengan mudah tanpa sungkan sungkan.

Beberapa minggu yang lalu, seorang Calon Gubernur menyebutkan "Mari kita bangun Aceh dengan mengobati patologi sosial, kebodohan dan kemiskinan, karena di Aceh secara nasional tengah dievaluasi IPM-nya (Indek Pembangunan Manusia) yang hasilnya mendekati merah kendati masih kuning".

Patologi sosial adalah tentang penyakit masyarakat yaitu tingkah laku tidak biasa dan bertentangan dengan norma kebaikan. Apakah kemudian apa yang dilakukan oleh masyarakat “media social” Aceh selama ini merupakan bagian dari patologi social, sebab telah secara terus menerus berpikiran negatif dan berpikiran yang bertentangan dengan norma norma kebaikan.

Karena seharusnya sebagai daerah yang menerapkan syariat islam, pemikiran pun harus berlandaskan syariat islam, tidak boleh berburuk sangka terhadap apa yang ingin orang berbuat, sedangkan berburuk sangka merupakan bagian dari pikiran negatif.

Padahal berburuk sangka sesama kaum muslimin merupakan perkara yang terlarang dalam agama Islam Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.” (Al-Hujurat: 12).
Share:

NasDem Berpartai Dengan Harga Diri

Kehadiran Calon Gubernur Aceh Irwandi Yusuf untuk bersilaturrahmi ke DPW Partai NasDem Aceh hari ini mematahkan asumsi publik tentang nasdem yang di anggap sudah menetapkan dukungannya untuk Tarmizi Karim, dikarenakan Tarmizi Karim adalah Calon Gubernur yang satu satunya berkunjung ke Nasdem. Kunjungan Irwandi hari ini tentu menjawab asumsi tersebut. Nasdem berulang kali menyebutkan bahwa nasdem membuka pintu selebar lebarnya kepada calon manapun untuk bersilaturrahmi dengan nasdem.

Karena terkait Usung mengusung, NasDem tetap berkomitment sebagaimana Ketua DPW NasDem Aceh Zaini Djalil katakan berulang kali di media, bahwa nasdem punya mekanisme tersendiri dalam menentukan siapa yang bakal di usung dalam pilkada mendatang, yaitu melalui survei yang dilakukan oleh DPP Partai NasDem dengan menerjukan beberapa lembaga survei ternama untuk mencari tahu calon mana yang menjadi pilihan rakyat aceh.

Pada tanggal 12 Januari 2016, nasdem telah melakukan diskusi publik bertajuk "Aceh Mencari Pemimpin", kegiatan yang bertujuan untuk mencari tahu kriteria seperti apa yang menjadi keinginan masyarakat aceh, kegiatan tersebut adalah kegiatan pertama kali dilakukan oleh partai manapun di aceh dalam menyajikan calon terbaiknya untuk aceh. Kriteria yang dirangkum dalam kegiatan tersebut kemudian dilaporkan ke DPP untuk menjadi rujukan DPP dalam menentukan calon Gubernur aceh dari NasDem.

Komitment Nasdem dalam menentukan calonnya melalui survei bukan sebatas retorika publik, ketika partai partai lain berlomba lomba mendekati calon gubernur yang sudah mendeklerasikan dirinya, nasdem malah santai santai saja dengan tidak ikut ikutan seperti partai lain.

Dan nasdem punya harga diri sebagai partai yang punya ideologi, konsep, gagasan, visi misi, aturan dan mekanisme yang menjadikan nasdem ini bukan sebatas partai ikut ikutan.


Kita tunggu saja pilihan NasDem dalam menyajikan calon gubernur untuk rakyat aceh dan siapa lagi yang kemudian bertandang kekantor nasdem selanjutnya untuk sekedar bersilaturrahmi dan mengenal nasdem dari dekat.
Share:

Menuju “Kota Madani” atau “Kota Pengemis”

Baru beberapa hari ini saya duduk diwarung kopi kawasan Pango Ulee Kareng. Tidak lama kemudian, muncul seorang anak laki-laki yang usianya berkisar sekitar 7-10 tahun dengan membawa satu kantong kresek kosong (kantong plastik) berwarna hitam, ia menadahkan tangannya bersama kantong plastik tersebut dengan tujuan meminta sumbangan pada orang-orang yang sedang nongkrong di warung kopi tersebut, ketika tiba pada kursi yang kami duduki ia juga melakukan hal yang sama, kemudian salah satu teman saya yang duduk didekat ia berdiri bertanya “pat tinggai dek” ia menjawab “kajue bang”, ketika mendengar nama kajue kemudian saya pun menimpali satu pertanyaan lagi “pakoen jioh that kajak keuno, ngon soe kajak”, pertanyaan tersebut tidak ia jawab, ia malah memaling malingkan kepalanya dan bertingkah sedikit mengganggu kawan yang berada didekat dia, si kawan tersebut pun kemudian segera memberikan sedikit sumbangan untuk bocah tersebut dan kemudian si bocah itu pergi ke meja-meja lainnya.

Melihat cara ia menadah dan menjawab pertanyaan yang kami berikan, lantas kami pun berdiskusi sebentar tentang si bocah tersebut, yang caranya menunjukkan sebuah “settingan” atau telah diajarkan oleh oknum tertentu agar ia melakukan hal hal yang oknum tersebut katakan ketika ia melakukan aksinya. Karena bocah yang seusia dia, tidak mungkin berani melakukan pekerjaan mengemis jika tanpa di kordinir oleh seseorang.

Sambil berdiskusi, kami terus memantau gerak gerik si bocah tersebut, sampai akhirnya ia selesai melakukan aksinya diwarung kopi yang sedang kami nongkrong, usai melakukan hal tersebut ia segera keluar kejalan dan pergi berjalan kaki, kira-kira 50 meter disamping warung kopi, lalu adalah sebuah becak yang berhenti sambil memegang sebuah handphone dan berbicara entah dengan siapa, kami pun sempat berpikir bahwa itulah abang becak yang bertugas membawa dia kemana mana, ternyata ia melewati abang becak tersebut, namun pandangan kami tetap melihat ia sejauh mana berjalan, ternyata 30 meter kemudian, berhenti lagi sebuah becak yang didalamnya juga ada seorang ibu-ibu, bocah tersebut kemudian naik becak dan pergi menuju arah lampineung.

Ternyata benar, apa yang kami diskusi sebentar tadi itu nyata adanya, bahwa memang bocah tersebut dikordinir oleh seseorang untuk bertugas mengemis berkeliling kota Banda Aceh. Beberapa bulan sebelumnya, saya juga punya pengalaman serupa tentang bocah bocah yang mengemis dengan usia kira kira sama, anehnya ketika itu, waktu saya mengajukan pertanyaan tentang tempat tinggal mereka kepada kedua bocah tersebut yang melakukan aksi mengemis bersama, mereka menjawab dengan dua tempat yang berbeda beda, yang satu menjawab ajuen, yang satu lagi menjawa seutui, kemudian yang menjawab ajuen tersebut segera menarik tangan temannya yang menjawab seutui, lalu yang menjawab ajuen tersebut berkilah bahwa di seutui mereka hanya tinggal dirumah sewa, lalu mereka segera pergi dari meja tempat kami nongkrong.

Menurut cerita dari seorang kawan, bahwa mereka itu dikordinir disalah satu kawasan di kota Banda Aceh ini, mereka ditugaskan untuk mengemis dan menjawab semua pertanyaan seperti yang telah oknum tersebut ajarkan dan setiap sore mereka selalu berkumpul untuk diberikan arahan oleh oknum tersebut. Entah lah, benar atau tidak kata sikawan tersebut.

Fenomena menjamurnya para pengemis dikota Banda Aceh ini disebabkan oleh tidak adanya ketegasan pemerintah dalam menyikapi fenomena sosial ini, padahal banyak sekali pengemis di Banda Aceh ini adalah mereka mereka yang masih tergolong sangat sehat dan muda. Bahkan para pengemis ini sudah menjadikan aktivitas mengemis sebagai ladang pekerjaan yang menjanjikan dan sekarang ada juga yang sudah menjadikan ladang bisnis dengan memanfaatkan anak anak kecil yang masih polos.

Secara psikologis sosial, pribadi saya sangat malu ketika melihat menjamurnya pengemis di Banda Aceh ini adalah orang orang yang sangat sehat, saya selalu membayangkan, apa yang orang orang luar pikirkan tentang Banda Aceh ketika mereka melihat sebuah kota yang sedang nafsu nafsunya melaksanakan Syariat Islam secara kaffah agar dapat menuju kota madani, tapi para pengemis semakin menjamur dan mereka dipenuhi oleh orang orang yang memiliki fisik sehat.

Apalagi kekayaan Aceh yang digembar gemborkan selama ini, trilyunan rupiah setiap tahun, tapi hasilnya adalah pengemis semakin menjamur di ibukota, seharusnya pemerintah khususnya Dinas Sosial yang menangani masalah ini, harus melihat bahwa fenomena pengemis ini adalah bukan fenomena biasa yang harus ditanggapi secara biasa, ini adalah menjadi tsunami bagi Aceh jika tidak ditanggapi secara serius.

Saya belum mampu membayangkan seandainya ibu kota yang sedang kita perjuangkan agar menjadi model “Kota Madani” suatu saat malah berhasil dengan nama “Kota Pengemis”, akibat para pengemis menjadikan Banda Aceh sebagai ladang yang menjanjikan dan mengemis sebagai profesi yang memberikan hidup lebih layak.

Apa yang kita tunggu dengan fenomena ini, sehingga pemerintah tidak menanggapinya secara serius dan fenomena ini hanya dianggap sebagai fenomena biasa, pernahkah pemerintah Banda Aceh mengkaji perbedaan jumlah pengemis sekarang dibandingkan dengan pengemis 10 tahun sebelumnya.
Share:

Hajril, Si Gadis Malang Yang Harus Menanggung Beban

Para Politisi dan Pengusaha yang selama ini populer akan kepeduliannya, seolah olah menyikapi banyak tabir tersembunyi dibelakangnya. Muncul pertanyaan dibenak saya apakah kepedulian tersebut harus terlebih dahulu populer masalahnya, kemudian baru kita hadir dengan menampilkan kepedulian yang amat besar.

Salah satu kasus baru baru ini adalah kasus Hajril, seorang anak gadis yang ditinggalkan oleh orang tuanya. Seorang wartawan yang selama ini mendampingi Hajril menceritakan kasus Hajril ini kepada saya disebuah warung kopi dalam beberapa hari yang lalu, ketika kami sedang ngopi bersama.

Pemilik nama lengkap Hajril Janni kini ditinggal sebatang kara oleh kedua orang tuanya. Setelah kecelakaan, ayahnya telah bercerai dengan ibunya, ibunya pergi menikah lagi dan menetap di Tangse, sedangkan ayahnya pergi entah kemana akibat depresi karena cacat yang ia alami, kini Hajril hidup terkatung katung, ia hanya memiliki paman yang tinggal di Sare.

Kasus ini diketahui oleh wartawan AJNN, ketika Hajril dikeluarkan oleh pihak pesantren tempat ia sekolah akibat tidak mampu membayar tunggakan iuran sebanyak 6juta (10 bulan). Hajril terpaksa pulang kerumah pamannya di Sare, karena orang tuanya memang tidak memiliki rumah.

Hajril dulu, menurut cerita ia adalah sosok yang pintar dan berbakat, bahkan ia masuk dalam kategori peringkat 10 besar di pesantren tersebut, namun akibat berbagai problem yang ia alami dan ia harus menguras otak memikirkan bagaimana untuk mencari uang untuk membayar iuran sekolah, sampai sampai ia harus mencuci pakaian teman temannya ketika jam istirahat dan menggunakan baju baju bekas kawan kawannya dalam kesehariannya.

Ketika kasus ini diketahui oleh wartawan AJNN, mereka langsung mengadvokasi masalah Hajril, mereka membuat berita yang menceritakan kronoligis tentang Hajril, lalu berita tersebut mereka sebarkan melalui Watshapp kepada banyak politisi dan pengusaha yang mereka miliki contactnya, dengan harapan adanya respon dari mereka untuk dapat segera membantu Hajril, namun dari sekian ratusan yang ia kirim, hanya ada tiga orang yang kemudian meresponnya dengan menelpon wartawan tersebut.

Telepon pertama yang masuk adalah dari YARA, Safaruddin Direktur Yayasan Advokasi Rakyat Aceh tersebut, berjanji untuk melunasi dan menanggung biaya pendidikan Hajril, mereka berjanji akan menjumpai pihak bendahara pesantren.

Kemudian telepon kedua masuk dari Jakarta, Hartono Tanuwidjaja yang berprofesi sebagai pengacara, bahkan ia berjanji jika Hajril memang mampu mempertahankan prestasinya, tidak tertutup kemungkinan Hartono bakal mengangkatnya sebagai anak asuh.

Lalu telepon ketiga masuk dari Anggota DPRA, yaitu Darwati A Gani. Darwati begitu mengetahui kasus ini langsung menelpon wartawan tersebut untuk meminta difasilitasi pertemuannya dengan Hajril, akhirnya Hajril dengan didampingi wartawan tersebut bertandang ke kediaman pribadi Darwati, lalu setelah Hajril menceritakan kondisinya, Darwati menyodorkan amplop berisi uang untuk pembayaran tunggakan iuran pendidikan dan secarik kertas bertuliskan nomor telepon pribadinya. Darwati berpesan agar Hajril segera menghubunginya jika menemui masalah di pesantren itu sebut wartawan tersebut kepada saya.

Kini memang Hajril telah kembali ke pesantren tersebut, bahkan wartawan tersebut berpesan ke pihak pesantren untuk tidak menanyakan tentang biaya pendidikan kepada Hajril dengan sembari memberikan nomor telepon pribadi wartawan tersebut kepada pihak pesantren, agar jika Hajril mengalami masalah biaya pendidikan kedepannya dapat menghubungi wartawan tersebut lagi.

Di Akhir cerita tersebut ia meminta kepada saya untuk dapat mencari dan membantu mengusahakan Hajril sebuah rumah bantuan ataupun beasiswa pendidikannya, wartawan tersebut tahu, bahwa saya memang mengenal banyak politisi selama ini. Saat ini Hajril baru duduk dikelas 2 Madrasah Aliyah dan hanya memiliki tanah orang tuanya di sare menurut cerita wartawan tersebut. Sedangkan pamannya pun orang yang tidak mampu dan tidak sanggup menyekolahkan Hajril, sambil wartawan itu berjanji akan terus mengontrol kondisi Hajril dan memastikan ia tamat sekolahnya.

Namun siapalah saya, hanya mampu merangkai kata kata dengan sederhana, dengan tujuan banyak politisi dan pengusaha yang membacanya serta berkeinginan untuk membantu harapan mulia wartawan tersebut, dan jika pun saya memiliki kesempatan untuk menyampaikan aspirasi kepada para politisi-politisi yang saya kenal selama ini, tentu saya akan menyampaikan harapan itu.

Saya meyakini begitu banyak Hajril-Hajril lainnya di Aceh ini yang belum kita ketahui, bahkan juga begitu banyak kondisinya yang melebihi Hajril ditengah tengah bergelimangan dana otonomi yang selama ini mengalir deras di bumi iskandar muda.
Semoga ada yang membantu dan memastikan Hajril bisa menamatkan pendidikannya sampai sarjana. Agar kelak ia dapat hidup mandiri serta dapat menemukan keberadaan ayah nya juga dan merawat ayahnya yang telah cacat itu secara mandiri.

Saya sendiri tidak mampu membayangkan seorang anak gadis yang baru duduk dikelas 2 Madrasah, harus menanggung beban hidup yang amat besar. Ayah yang cacat dan pergi entah kemana, ibu yang menikah lagi dan tinggal jauh darinya, rumah untuk tempat berteduh pun ia tidak miliki dan kemarin pun ia hampir kehilangan harapannya untuk sekolah ketika uang 6juta tidak tahu ia cari kemana untuk melunasi 10 bulan tunggakan iuran sekolahnya.

Berikut Kliping Media :


Share:

Menariknya Pilkada Banda Aceh, Wakil Menjadi Penentu Kemenangan

Pilkada 2017 di Kota Banda Aceh kali ini sangatlah menarik dibandingkan dengan daerah daerah lain di Aceh, selain Kota Banda Aceh yang merupakan Ibu Kota dari Aceh, juga para figur yang saat ini sudah digadang gadang bakal bertarung di pilkada nantinya. Jika pemilihan Gubernur Aceh banyak partai politik berlomba lomba “mengemis” untuk menjadi wakil dari Muzakir Manaf yang sudah dinyatakan dan ditetapkan maju oleh partainya, di Banda Aceh malah calon wakil menjadi penentu kemenangan, pasalnya calon Walikota yang digadang gadang selama ini seperti Illiza Sa’aduddin Djamal, Teuku Irwan Djohan, Aminullah Usman dan Ibu Rusdi. Mereka memiliki kekuatan, potensi dan kepopuleran yang sama serta dianggap bakal bersaing ketat pada pilkada nantinya.

Jika diantara mereka memilih calon wakil yang tidak mampu mengimbangi calon wakil dari calon lainnya, maka akan menjadi boomerang bagi calon tersebut. Sedangkan dikalangan calon wakil pun kali ini tidak kalah populernya, tentu itu berbanding terbalik dengan pemilihan Gubernur Aceh nantinya yang Gubernurnya menjadi rebutan para wakil.

Para calon wakil yang digadang gadang kuat selama ini adalah Darwati A Gani, Irwansyah, Heri Julius, Zainal Arifin, Farid Nyak Umar dan Sabri Badruddin, Yudi Kurnia dan Jamaluddin. Di antara mereka juga memiliki kepopuleran yang sama dan dianggap menjadi penentu dalam pemilihan nantinya. Mau tidak mau, para calon walikota tentu harus jeli dan sangat hati hati dalam menentukan pendampingnya dengan melihat kemampuannya mengimbangi si calon walikota dan mampu memberikan pengaruh penambahan suara yang signifikan terhadap kemenangan di pilkada nantinya.

Namun diantara para calon wakil tersebut, nama Darwati A Gani tentu sangatlah menarik bagi para calon walikota pesaing Illiza Sa’aduddin Djamal. Karena Darwati A Gani di anggap satu satunya perempuan yang mampu mengimbangi kepopuleran Illiza yang saat ini sebagai Walikota dan bakal bertarung sebagai incumbent nantinya.

Saya meyakini banyak dari calon walikota saat ini sudah mendekati “merayu”  Darwati dan meminangnya untuk dapat mendampingi si calon walikota di pilkada nanti, namun melihat kenyataan politik yang terjadi. Irwandi Yusuf yang merupakan suami Darwati juga menyatakan maju sebagai calon Gubernur Aceh, maka harapan para calon walikota untuk meminang Darwati kandas pula ditengah jalan. Tentu, jika Irwandi maju, akan menjadi persoalan berat bagi Darwati jika maju dalam pilkada Banda Aceh, karena jika suaminya menang ia harus memilih antara menjadi Ibu wakil walikota atau Ibu Gubernur Aceh. Persoalan ini juga menjadi komoditas politik untuk menyerang Irwandi dan Darwati yang dianggap suami istri tapi sama sama maju dalam pilkada dan kenyataan ini tidak lumrah bagi masyarakat Aceh umumnya sehingga merugikan nama besar Irwandi sebagai suami dari Darwati.

Sedangkan Illiza, yang meyakini bahwa Darwati merupakan satu satunya perempuan yang mampu memporak porandakan basis suara perempuannya tentu menjadi gusar dengan kondisi politik tersebut, ia tentu berharap bahwa Darwati tidak ikut bertarung dalam pilkada nantinya, dengan begitu ia masih tetap bisa berkampanye dan mengambil simpatik suara perempuan. Bahkan akibat dari isu Darwati akan bertarung dalam pilkada nantinya, kedekatan kedua tokoh perempuan ini dikabarkan sempat renggang, sehingga membuat Irwandi angkat bicara “Tolong peugah bak Ibu Illiza siat bahwa bu Darwati hana minat - Irwandi”  yang ketika ditanyakan tentang kesediaan Darwati maju dalam pilkada nantinya oleh wartawan harianmerdeka.com. Bahkan Irwandi kembali menegaskan dalam kolom komentar media online tersebut dengan akun facebook pribadinya Pendirian saya jarang jarang jarang sekali berubah – Irwandi”.

Jika Darwati dipastikan tidak maju dalam pilkada nantinya, tentu para calon walikota ini mulai mencari alternative figur lainnya yang di anggap mampu melengkapi dan menentukan kemenangannya. Banda Aceh memiliki banyak figur yang layak di gadang gadangkan untuk ikut dalam pesta demokrasi nantinya, jika Darwati hampir dipastikan tidak maju dalam pilkada nantinya, pertarungan ke empat figur yang selama ini digadang gadang bakal ikut bertarung dalam pilkada nantinya maka semakin menarik, karena mereka harus benar benar mengkalkulasikan dengan sempurna, siapa wakil yang paling mampu memberi pengaruh suara signifikan.

Kita berharap mereka yang tampil dan ikut dalam pesta tersebut, jika sudah terpilih harus mampu menunjukkan keharmonisannya dalam membangun kota Banda Aceh kedepan. Para calon walikota pun jangan hanya memilih wakilnya berdasarkan kepopuleran saja, tapi harus dilihat dari konteks persamaan visi, mampu bekerjasama dan mampu menjaga keharmonisan. Karena persoalan yang paling banyak dalam pemerintahan saat ini adalah tidak harmonisnya antara Walikota, Bupati dan Gubernur dengan wakilnya dan itu terjadi juga di Provinsi dan dibeberapa daerah Aceh lainnya.

Lalu siapa yang akan mendampingi siapa..?

Tulisan ini telah diterbitkan oleh LintasNasional.Com
Share:

Jelang Pilkada, Politisi Jangan Pura-Pura Baik

Banda Aceh - Forum Pemantau dan Pendidikan Demokrasi meminta kepada para politisi untuk tidak berpura-pura baik kepada masyarakat dengan selalu berubah ketika menjelang pesta demokrasi.

"Kami meminta kepada para politisi untuk stop berpura-pura peduli terhadap persoalan sosial masyarakat, terutama dalam mengentaskan masalah kemiskinan,” kata Direktur Formandiksi, Srabah Yudi kepada AJNN, Sabtu (13/2).

Yudi menyebutkan, ada lima sikap kepura-puraan para politisi disetiap ajang pesta demokrasi. Pertama, tiba-tiba sering turun ke desa-desa dan responsive terhadap persoalan masyarakat.

"Kedua mulai aktif mengkomentari persoalan dan kebijakan di media. Ketiga politisi mulai aktif melakukan pertemuan dengan berbagai komunitas dan para leading sector hanya untuk sekedar berbicara tentang pembangunan masa depan," jelasnya

Kemudian, lanjut Yudi, yang berada di legislatif mulai sering mengkritik kebijakan eksekutif dengan memunculkan berbagai persoalan yang tidak tertangani selama ini.

"Kelima yang berada di eksekutif mulai sering melakukan gebrakan sosial dengan turun langsung kelapangan dan memunculkan kesan kepedulian yang amat besar terhadap masyarakat," imbuhnya.

Pasalnya menurut Yudi, faktanya kelima hal tersebut hanya dilakukan menjelang Pilkada maupun Pileg. Namun setelah itu, yang terpilih kembali larut dengan kekuasannya tersebut.

"Kami meminta kepada masyarakat untuk tidak percaya pada politisi yang hanya respon terhadap persoalan masyarakat menjelang Pilkada saja, karena itu adalah jelas kepura-puraan,” sebut Yudi.

Lebih lanjut Yudi meminta, agar masyarakat lebih jeli dalam menentukan pilihannya dalam Pilkada mendatang. Karena ini bukanlah lagi waktunya untuk berpura-pura peduli terhadap masyarakat.

"Masyarakat jangan sampai terbuai dengan janji yang tidak mungkin terealisasi, mari masyarakat Aceh memilih pemimpin yang cerdas secara intelektual dan mampu memberikan rasa aman kepada masyarakat Aceh,”tegas Yudi yang merupakan mantan Sekretaris Pemerintahan Mahasiswa Universitas Serambi Mekkah.

Tulisan ini telah diterbitkan oleh AJNN.Net
Share:

5 Tanda Tanda Politisi Maju Di Pilkada

Pilkada satu tahun lagi, tapi berbagai fenomena sudah muncul ke muka publik dan jika mereka punya keinginan untuk maju dipilkada 2017 ini, maka ada beberapa tanda tanda yang muncul dan mereka lakukan. Meski sebelumnya mereka jauh dari kesan dan bekerja seperti hal tersebut. Berikut tanda tandanya

Politisi tiba tiba menjadi dermawan, sering turun ke gampong gampong dan responsif terhadap persoalan sosial masyarakat

Para politisi mulai aktif mengomentari di berbagai Media Televisi, Media Cetak, Media Online dan Media Sosial terkait dengan berbagai persoalan dan kebijakan yang tidak pro rakyat

Politisi mulai aktif melaksanakan pertemuan dengan berbagai komunitas, tokoh tokoh agama dan berbagai leading sector untuk sekedar berbicara tentang masa depan

Jika politisi tersebut saat ini berada di legislatif, maka mulai sering mengkritik kebijakan eksekutif dan memunculkan berbagai persoalan yang tidak ditangani oleh eksekutif selama ini

Jika politisi tersebut saat ini berada di eksekutif, maka mulai sering melakukan gebrakan gebrakan sosial dengan turun langsung kepalangan dan memunculkan kesan kepedulian yang amat besar terhadap masyarakat
Share:

Akhirnya APBA 2016 Disahkan

AKHIRNYA semua fraksi DPRA melalui sidang paripurna yang digelar Sabtu (30/1/2016) malam, menyetujui nota Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (RAPBA) 2016 senilai Rp 12,874 triliun sebagaimana diajukan Gubernur Aceh dua hari sebelumnya menjadi APBA 2016. Dalam sidang paripurna tersebut, semua fraksi mengharapkan agar APBA 2016 yang telah disetujui itu --setelah dievaluasi dan disetujui oleh Mendagri-- pihak eksekutif (pemerintah Aceh) diminta segera merealisasikan program dan kegiatan yang terdapat dalam APBA 2016 itu.

Sama halnya seperti RAPBA tahun-tahun sebelumnya, maka pembahasan RAPBA Tahun Anggaran 2016 ini pun berlangsung alot, sehingga pengesahannya pun tidak tepat waktu. Pengesahan APBA 2016 yang mestinya sudah dilakukan paling lambat pada 31 Desember 2015 lalu, baru bisa disetujui dan disahkan satu bulan kemudian, yaitu pada 30 Januari 2016. Itu pun setelah melalui proses mediasi dan mendapat peringatan dari kemendagri. Pertanyaannya mengapa proses pembahasan dan pengesahan APBA 2016 ini tidak bisa tepat waktu alias terlambat?

Faktor disharmonisasi?
Pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2012 menandai dimulainya partisipasi partai lokal setelah sebelumnya satu partai lokal, yakni Partai Aceh berhasil mendominasi Pemilu Legislatif 2009 sehingga berhasil meraih kursi terbanyak di semua DPRK dan DPRA. Dengan bekal tersebut tentu saja Partai Aceh berpeluang mendudukkan kadernya di kursi Gubernur-Wakil Gubernur Aceh. Terbukti pasangan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf (Mualem) berhasil memenangkan pilgub dengan meraih suara 55.78%. Pesaing terdekatnya pasangan Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan hanya berhasil meraih suara 29,18%. Sementara tiga pasangan calon lainnya hanya meraih suara di bawah 10%.

Karena Zaini-Mualem merupakan mantan GAM murni, semula diharapkan lebih solid dalam memimpin Aceh. Namun sepertinya harapan itu kembali kandas di tengah jalan. Karena masing-masing merasa mempunyai kekuatan politik yang melegitimasi untuk bertindak tanpa saling memberi pertimbangan. Sebagai Gubernur Aceh, Zaini berkuasa penuh dalam penempatan pejabat di lingkungan pemerintah Aceh, sehingga merasa mempunyai kekuatan birokrasi. Kekuasaannya dibuktikan dengan demikian seringnya melakukan bongkar pasang pejabat di lingkungan Pemerintah Aceh, tanpa alasan yang sulit dipahami publik, bahkan tak jarang malah memunculkan masalah. Setidaknya masalah itu berupa tidak dilibatkannya Mualem dalam pembahasannya.

Ada juga beberapa masalah mutasi yang terasa konyol, seperti diberi jabatannya orang yang sudah meninggal dunia seperti yang terjadi pada saat pertama kali Zaini melakukan perombakan “kabinet”. Adalah Rahmad Hidayat SH MH, PNS yang sudah meninggal pada Januari 2012 ikut dilantik menjadi pejabat eselon IV sebagai Kasubbag Pembinaan Hukum Kabupaten/Kota pada Biro Hukum Setda Aceh, 5 Februari 2012. Yang juga terasa konyol adalah jabatan Kepala Biro Humas yang sudah bergantian diduduki lima orang hanya dalam setengah periode masa pemerintahan Zaini-Mualem. Demikian sulitkah tugas seorang Kepala Biro Humas, sehingga harus berganti berkali-kali?

Di sisi lain Mualem mempunyai dukungan politik karena menjabat sebagai Ketua Umum Partai Aceh, sejak berdiri pada 2007 hingga sekarang. Sejak mengikuti pemilihan legislatif pada 2009, Partai Aceh senantiasa meraih kursi terbanyak. Pada Pemilu 2009 Partai Aceh meraih 33 dari 69 kursi yang tersedia dan Pemilu 2014 meraih 29 dari 81 kursi DPRA. Dengan kekuatan politik di DPRA, seharusnya PA bisa lebih leluasa mewujudkan visi-misi dalam menjalankan Pemerintah Aceh, karena gubernur-wakil gubernur juga berasal dari PA. Namun yang menonjol malah kompetisi terselubung Zaini-Mualem yang menjelma dalam disharmonitas kemitraan eksekutif-legislatif. Zaini mempunyai perpanjangan tangan di eksekutif sementara Mualem perpanjangan tangannya di legislatif. Dampak paling nyata adalah terlambatnya penetapan APBA seperti yang terjadi pada 2015.

Di tengah masa jabatan Zaini-Mualem, UU tentang Pemerintahan Daerah kembali berubah seiring ditetapkannya UU No.23 Tahun 2014. Dalam UU baru ini tugas wakil kepala daerah dijelaskan dalam Pasal 66. Tugas tersebut meliputi empat hal, yakni: (a) membantu kepala daerah; (b) memberikan saran dan pertimbangan kepada kepala daerah dalam pelaksanaan Pemerintahan Daerah; (c) melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah apabila kepala daerah menjalani masa tahanan atau berhalangan sementara; dan (d) melaksanakan tugas lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Selain keempat tugas tersebut, wakil kepala daerah masih memiliki tugas lainnya, yaitu melaksanakan tugas dan kewajiban pemerintahan lainnya yang diberikan oleh kepala daerah yang ditetapkan dengan keputusan kepala daerah.

Tugas membantu kepala daerah diperinci sebagai berikut: (1) memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah; (2) mengoordinasikan kegiatan Perangkat Daerah dan menindaklanjuti laporan dan/atau temuan hasil pengawasan aparat pengawasan; (3) memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dilaksanakan oleh Perangkat Daerah provinsi bagi wakil gubernur; dan (4) memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan yang dilaksanakan oleh perangkat daerah kabupaten/kota, kelurahan, dan/atau desa bagi wakil bupati/wali kota.

Momentum perbaikan
Semestinya perubahan pembagian tugas gubernur-wakil gubernur secara konstitusional bisa menjadi momentum perbaikan hubungan Zaini-Mualem. Namun seperti diketahui, belum terlihat ada upaya harmonisasi hubungan tersebut. Akibatnya, pembahasan RAPBA 2016 menjadi terlantar. Bahkan --meski akhirnya APBA 2016 disetujui dan disahkan-- sampai menjelang akhir Januari 2016 Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA) baru sampai tahap membahas RKA-SKPA.

Salah satu penyebab keterlambatan tersebut adalah tidak adanya titik temu dalam penyusunan RAPBA terkait politik anggaran dan regulasi penganggaran. Selama ini TAPA hanya mengedepankan regulasi penganggaran dan mengesampingkan politik anggaran. Semestinya perebutan anggaran untuk mendukung percepatan program kesejahteraan rakyat, karena RAPBA merupakan akomulasi dari hasil retribusi dan pajak yang diberikan oleh rakyat kepada pemerintah. Sementara regulasi penganggaran terkesan sebagai keraguan pemerintah pusat dalam menerapkan otonomi daerah, yang harus dipatuhi eksekutif di daerah. Akibatnya politik anggaran yang hendak dikedepankan legislatif dalam penyusunan RAPBA menjadi terkendala.

Dengan sama-sama mempunyai dukungan, mestinya Zaini-Mualem bisa menjembatani kedua kepentingan itu agar pembahasan RAPBA bisa tepat waktu. Ketika keterlambatan penyusunan RAPBA yang kemudian terjadi, publik hanya bisa menafsirkan kegagalan pasangan tersebut dalam mengharmoniskan hubungan kemitraan eksekutif-legislatif. Bisa jadi penyebabnya karena hubungan Zaini-Mualem sendiri masih kurang harmonis. Namun, kini setelah APBA 2016 disetujui dan disahkannya, akankah hubungan kedua pemimpin Aceh ini kembali harmonis dan sama-sama bertekad mamajukan Aceh? Wallahu a’lam bishawab.

Ditulis oleh Drs. Yunardi Natsir, MM., Anggota Komisi III DPRA Fraksi Partai NasDem dan dipublikasikan dalam rubric opini media cetak harian serambi Indonesia edisi 01 Februari 2016
Share:

Arsip Blog

Tulisan Lainnya