• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Karena “Jam Malam” Banda Aceh Kian Liar

Berawal dari penggerebekan Galeri Kafe Musik di Simpang Lima Banda Aceh yang berlanjut pada isu penerapan jam malam bagi perempuan kemudian dilanjut dengan pemberitaan Serambi Indonesia yang berjudul "DPRK Minta Pemko Terapkan Jam Malam" yang diterbitkan pada Selasa, 26 Mei 2015 mendapat respon pro kontra dari masyarakat Kota Banda Aceh, meski sebenarnya kejadian tersebut tidak berhubungan, namun isu yang bermunculan seolah olah saling berhubungan antara penerapan Jam Malam dengan hasil penggerebekan Galery Cafe Musik tersebut.

Aturan jam malam membuat anak anak muda kota Banda Aceh membullying Walikota melalui media social Twitter dengan hastag #BandaAcehMasukAkal dan sempat masuk dalam trending topics nasional. Adanya hastag tersebut membuat isu semakin mencuat dan tak kalah berbagai organisasi ikut andil mengeluarkan statmentnya, baik yang mendukung kebijakan tersebut, maupun yang tidak mendukung. Isu yang kian liar tersebut membuat BEM Unsyiah, KAMMI dan LDK Unsyiah ikut nimprung untuk membahasnya dengan menghadirkan Walikota dalam agenda diskusinya.
Share:

Wawancara : Mengapa Haji Bakhry Tak Dicambuk

Polemik eksekusi hukum Haji Bakry Usman, seorang pelaku khalwat, terus bergulir dan masih menuai tanda tanya. Maklum, saat Pemko Banda Aceh secara tegas dan cepat mengeksekusi sejumlah pelanggar syariat di Banda Aceh baru-baru ini, tapi Eyang Bakry masih saja bebas wara-wiri.

Beredar kabar, ada orang kuat di Balai Kota Banda Aceh yang mengintervensi. Berbagai dugaan itu sering dialamatkan pada Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal. Ini sejurus dengan berbagai informasi yang beredar bahwa Illiza berperan aktif paska tertangkapnya Haji Bakry di sebuah salon bersama seorang perempuan, pada November 2012 lalu. Bahkan, Illiza disebut-sebut sempat mengintervensi para awak media agar tak memberitakan peristiwa itu. Sebaliknya, dalam berbagai pertemuan internal Pemko Banda Aceh, Illiza juga meminta jajaran dibawahnya untuk tidak membaca berita yang disajikan media ini. Alasannya, tak layak baca. “Minggu ini wajah saya jadi nenek-nenek di MODUS ACEH. Saya kira, media itu tak layak untuk dibaca,” himbau Illiza dalam sambutannya, saat membuka satu acara, Senin, 20 Oktober 2014 di Balai Kota, Banda Aceh.
Share:

Din Minimi Dan Perlawanannya Terhadap Zikir

"Kalau saya wujudkan keinginan untuk bertemu istri dan anak saya sekarang, lalu bagaimana dengan anak anak yatim yang ada bersama saya disini sekarang" ujar Din Minimi, seperti yang tertulis di halaman pertama harian Serambi Indonesia terbitan 29 Mei 2015.

Din Minimi memang beberapa bulan ini menjadi topic hangat yang terus diperbincangkan, mulai dari pihak keamanan, politisi, aktivis, mahasiswa dan anak anak muda Aceh, karena tindakannya yang saat ini menyatakan perlawanan terhadap kepemimpinan Zikir "Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf" dengan alasan tidak menepati janji, tidak mengurus anak yatim dan tidak mengimplementasikan perjanjian MoU Helsinky yang ditanda tangani tahun 2005 silam.
Share:

Banda Aceh Masuk Akal Dan Rencana Jam Malam

Saya sengaja memilih judul di atas. Sebab ketika saya menulis tulisan ini, judul di atas tengah menjadi salah satu hastaq di twitter yang sempat menjadi trending topic nasional (#BandaAcehMasukAkal). Semuanya berawal dari rencana pemerintah kota tentang pemberlakuan jam malam bagi perempuan. Ide ini dianggap tidak masuk akal di tengah deretan persoalan Banda Aceh yang belum juga berhasil diselesaikan.  Netizenpun meradang.

Dalam kicauannya mereka menyoroti banyak persoalan Banda Aceh yang seharusnya menjadi prioritas utama untuk diselesaikan. Mulai dari krisis air bersih, penerangan jalan, kemacetan, masalah sampah, kemiskinan, parkir liar hingga public transport. Meski harus diakui beberapa kicauan tampaknya tidak lagi relevan. Seperti salah satu netizen yang mempersoalkan letak dua pasar megah yang berada dekat dengan dua mesjid besar. Pemadaman listrik yang jelas-jelas bukan ranahnya pemko atau kicauan yang mempertanyakan mengapa hanya untuk acara zikir, pemko harus mengundang Ustad dari Jakarta, apakah Ustad dari Aceh tidak lagi mumpuni. Untuk masalah terakhir saya tidak tau netizen tersebut mengikuti zikir yang mana.
Share: