7 Alasan Ini Aceh Layak Dikunjungi

Saya bukan staf Dinas Pariwisata Aceh, apalagi Duta Pariwisatanya. Saya asli berdarah Sulawesi yang kebetulan tinggal di Aceh. Tapi entah kenapa, pengalaman tinggal selama 1,5 tahun membuat saya jatuh cinta dengan kota ini. Berada di ujung barat Indonesia, Aceh memiliki pesona tersendiri yang siap memanjakan mata dan hati para pengunjungnya. Berikut 7 alasan, kenapa kamu harus berkunjung ke Aceh :

KOTA SERAMBI MEKKAH
Kota di Indonesia yang memiliki sebutan ini sudah pasti hanya Aceh. Bukan tanpa alasan sehingga Aceh dijuluki Kota Serambi Mekkah. Khasanah keislaman kota ini memang benar-benar terasa layaknya Kota Mekkah. Salah satunya bisa dilihat dari Qanun (aturan) yang dibuat pemerintah Aceh tentang aturan berpakaian yang semestinya untuk wanita maupun pria, aturan menghentikan semua aktivitas ketika waktu shalat tiba, sampai aturan berboncengan sepeda motor juga dibuat. Disinilah perbedaan yang dimiliki Aceh dan membuat Aceh tak pernah sepi wisatawan.

TAK ADA KATA MACET DISINI!
Saat kita berkejaran dengan absen di kantor sebelum jam 8 pagi, dan ingin sampai dirumah tepat waktu namun semua berantakan hanya karena MACET, tentu bukan hal yang menyenangkan bukan. Hal itu tidak akan kamu dapatkan saat di Aceh. Meskipun Aceh bukan kota dengan penduduk yang sedikit, tapi sejauh ini lalu lintas di Aceh masih bisa dibilang lancar kemanapun saya pergi.

KERAMAHAN WARGA LOKAL
Pernah sebelum ke Aceh, seorang teman dari Aceh berkata,’Orang Aceh itu kalau sudah kita ambil hatinya, apapun pasti dikasih.’ Dan itu memang benar. Saat jadup saya harus dirapel, saya tetap bisa hidup seperti biasanya karena warga sekitar yang begitu baik. Seperti ketika musim panen padi tiba, tidak sedikit tetangga yang kerumah untuk mengantarkan beras yang baru saja selesai digiling, atau pada saat saya kehabisan bensin di jalan dan uang di dompet saya kosong, seorang ibu yang tak saya kenal datang membantu.
Si ibu hanya berucap, ‘Besok aja dek bayarnya nggak apa-apa.’ Mungkin ibu tersebut kasihan karena saat itu hampir Maghrib dan atm jaraknya cukup jauh. Mereka sangat baik dan suka menolong. Kuncinya hanya satu, selalu menjaga hubungan baik dengan mereka.

HAMPIR TIDAK ADA KRIMINALITAS
Selain Kota Yogyakarta, Aceh pantas masuk daftar kota dengan tingkat kriminalitas terendah, terlepas dari persoalan Aceh beberapa tahun yang lalu. Dari pendapat teman-teman yang juga pernah ke Aceh, mereka mengakui saat jalan-jalan di pusat keramaian di Aceh mereka tidak harus memeluk tas mereka atau menaruhnya di bagian depan seperti saat berjalan-jalan dikota lain.

KULINERNYA AJAIB!
Berdasar survei yang saya lakukan sendiri, meskipun makanannya cenderung pedas, rata-rata orang yang berkunjung ke Aceh dan mencoba kulinernya, tidak ada yang bilang tidak enak. Salah satu kuliner khas yang bikin ketagihan selain Mie Aceh yang sudah tersohor, adalah Gulai Pliek U. Ini merupakan sayur khas Aceh, rasanya yang agak asam dan pedas, berpadu dengan kuah kental yang berasal dari bumbu khas Aceh dijamin akan membuat keringat mengucur deras. Satu lagi favorit saya, Ayam Tangkap. Ayamnya dipotong kecil-kecil dan tersembunyi dibalik daun Teumuru. Selain itu, hampir semua kuliner di Aceh tidak ada yang porsinya kecil, semua serba jumbo!

KEINDAHAN LUAR BIASA PESISIR PANTAINYA
Pantai yang ada di Aceh benar-benar membuat mata dan hati fresh. Ada pantai Lampuuk di Lhoknga yang pasir putihnya sangat bersih. Lalu di Pulau Weh, Sabang ada pantai Iboih yang airnya begitu jernih bahkan hingga terlihat jelas karangnya, dan membuat yang main di sana rasanya ingin berlama lama. Sebagai seorang pencinta pantai -meskipun saya tidak bisa berenang, Pantai di Aceh itu seperti jarang tersentuh, meskipun selalu ramai pengunjung. Kenapa bisa? Karena orang Aceh menjaganya dengan baik.

SEGUDANG WISATA SEJARAH
Pemerintah setempat membangun berbagai macam lokasi wisata sejarah Aceh yang membuat saya merinding. Merinding dengan luar biasanya sejarah Aceh. Ada Masjid Raya Baiturrahman, saksi bisu bencana tsunami kala itu, meskipun diterjang tsunami tapi ajaibnya masjid tersebut tetap berdiri kokoh. Ada pula Museum Tsunami Aceh yang menyimpan semua seluk beluk bencana tersebut, sukses membuat saya menangis di depan banyak orang, disalah satu ruangan khusus di museum itu. Serta sebuah kapal yang terseret ke darat dan berada tepat diatas rumah warga.

Saat berkunjung kesana saya berkenalan dengan seorang wisatawan asing. Wisatawan tersebut membuat saya terhenyak, dia yang berasal dari negara yang budayanya banyak diadopsi anak-anak muda Indonesia, ternyata sangat mengagumi sejarah Aceh. Sebuah hal yang bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk lebih peduli pada kearifan budaya bangsa sendiri. || sumber : phinemo.com
Share: