• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Perang Cumbok, Fase Kemerdekaan Sejati Rakyat Aceh

GAUNG kemerdekaan Republik Indonesia menggelora dimana-mana. Rakyat Aceh menyambut gembira setelah penantian lama yang dicita-citakan. Pekik Merdeka terdengar hingga ke pelosok perkampungan. Bendera Merah Putih berkibar dengan gagahnya. Sang saka kian mempesona tatkala angin bertiup mengibasnya. Penjajah Jepang hengkang, kolonial Belanda pun telah lama menghilang. Aceh bebas, rakyatnya kini merdeka.

Tapi, kegembiraan rakyat Aceh ini disambut dingin oleh raja-raja kecil aliasUleebalang. Penguasa feodal yang telah lama mendapatkan keistimewaan semasa kolonial Belanda masih mencengkeram. Mereka was-was dengan apa yang sedang terjadi. Khawatir atas kekuasaan absolutnya yang segera akan berakhir. Sikap tidak senang terhadap realita kemerdekaan Indonesia dari Belanda, jelas-jelas diperlihatkan oleh penguasa feodal, yang sebagian besar pro kolonial. Salah satunya datang dari Teuku Muhammad Daud Cumbok atau juga disebut Teuku Daud Cumbok. Rakyat Aceh masa itu menyebutnya sebagai ampon/pon (panggilanuntuk Teuku) Cumbok.
Share:

Hasan Tiro Dan Daulat Aceh

Nama besar pemimpin tertinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Hasan Tiro (1925-2010) bagi masyarakat Aceh adalah seorang “wali”. Semasa hidupnya, Hasan Tori tergolong sebagai intelektual Aceh dan pribadi yang gigih berjuang demi sebuah kesejahteraan. Kemerdekaan bagi Hasan Tiro sebagai upaya untuk membawa rakyat Aceh untuk terlepas dari campur tangan ‘bangsa luar”. Aceh perlu berdaulat untuk menemukan sekaligus menentukan diri sebagai sebuah bangsa yang bermartabat di mata dunia.

Lewat penelitian selama 14 tahun tentang jejak Hasan Tiro dan GAM, penulis muda Murizal Hamzah mampu melahirkan sebuah buku sejarah. Buku ini menjadi penting karena mengupas secara detail tentang kiprah Hasan Tiro. Mulai dari lahir hingga berpulang kepangkuan Illahi.
Share:

Mengungkit Jejak Suku Mante Di Aceh

Keberadaan suku Mante di pedalaman hutan-hutan Aceh memang telah menjadi isu yang sangat-sangat lama. Karena saking begitu lama hingga menjadi mitos atau isapan jempol di masyarakat Aceh saat ini, perbincangan suku ‘mistis’ ini hanya sempat populer di beberapa era baik masa raja-raja Kerajaan Aceh Darussalam dan juga masa penjajahan Belanda.

Ada sebagian orang yang menyebutnya dengan istilah kata Mante. Istilah ini sempat diperkenalkan oleh orientalis Belanda, Snouck Hurgronje. Ada juga yang menyebut dengan nama Bante. Sedangkan sebutan lainnya Aneuk Coh-coh (warga Pidie) seperti yang pernah dimuat dalam Harian Waspada secara berseri pada bulan Oktober 2012 lalu.

Beberapa kliping dari Harian Waspada tentang suku Mante masih saya simpan hingga kini. Dalam tulisan di harian tersebut, keberadaan suku Mante sempat dipertanyakan, namun fakta dari sejumlah temuan warga, baik yang pernah disebutkan di daerah pedalaman hutan belantara Pidie membuktikan bahwa populasi dari suku ini kemungkinan besar sangat tipis.

Selain di Harian Waspada, dua tahun silam ini tentu kita bisa melihat kembali atau kroscek kembali beberapa puluh tahun silam. Pada Harian Kompas (18 Desember 1987) yang pernah menurunkan berita keberadaan suku Mante di daerah pedalaman Aceh.

Jika sebagian masyarakat di Aceh Besar sempat menyebutkan bahwa keberadaan suku Mante ada di pedalaman hutan belantara, hal ini mendasar dari apa yang pernah dituliskan oleh Snouck dalam buku “De Atjehers”, walaupun dia tidak pernah melihat sendiri melainkan hanya dari omongan warga.

Tidak hanya itu, buku “Aceh Sepanjang Abad” dari Mohammad Said juga pernah menyebutkan suku Mante ini sebangsa keturunan dari orang-orang asli di Malaysia.

Hal tersebut diperkuat dari catatan James A. Matisoft yang diketahui bahwa orang asli di Malaysia telah bermigrasi setidaknya sejak 6.000 tahun yang lalu. Sementara, maksud dari orang asli ini menurut Paul Sidewell termasuk dalam bangsa Mon-Khmer. Dan telah terbukti sekarang bahwa banyak kata-kata bahasa Aceh yang termasuk dalam rumpun bahasa Mon-Khmer.

PENGAKUAN WARGA TENTANG SUKU MANTE
Mante dikenal sebagai kelompok masyarakat yang berkelana dari hutan ke hutan daerah pedalaman atau pegunungan di Aceh Tenggara dan Aceh Tengah, jika merunut penuturan lainnya juga berada di daerah Pidie sekitaran Tangse. Masyarakat suku terasing ini nampaknya masih bertahan di kawasan hutan belukar sampai sekarang.

Dari sekian banyak pengakuan tentang keberadaan suku Mante ini sering dituturkan oleh pawang hutan, dan anggota GAM yang pernah tinggal di hutan, tidak sedikit juga para mahasiswa pecinta alam yang melakukan ekspedi ke gunung-gunung di Aceh juga bertemu dengan kelompok orang-orang yang disebut mempunyai postur tubuh kecil tersebut.

“Semula saya masih agak ragu, apa mereka benar-benar orang Mante, maka saya tak berani mengungkapkannya,” kata Gusnar Effendy (72) seperti pernah dimuat Harian Kompas tahun 1987 silam. Tetapi setelah ia beberapa kali berjumpa dengan rombongan suku tersebut, ia semakin yakin bahwa keberadaan suku yang pernah “hilang” ini benar-benar bukan khayalan.

Menurut Gusnar waktu itu, kelompok atau suku Mante yang ditemukannya hidup di belantara pedalaman Lokop, Kabupaten Aceh Timur. Kecuali itu Gusnar juga pernah berjumpa dengan mereka di hutan-hutan Oneng, Pintu Rimba, Rikit Gaib di Kabu¬paten Aceh Tengah dan Aceh Tenggara. “Umumnya, tinggal di gua-gua celah gunung. Kalau siang hari berada di alur-alur sungai dalam lembah,” katanya.

Gua yang dijadikan tempat tinggal kelom¬pok terasing ini dinamakah Gua Beye, Jambur Atang, Jambur Ketibung, Jambur Ratu dan Jambur Simpang.

Sejarawan Aceh, Prof Ibrahim Alfian, pernah menyebutkan dalam Kamus Gayo-Belanda susunan Dr GAJ Hazen, terbit tahun 1907, istilah Mante digunakan untuk sekelompok masyarakat liar yang tinggal di hutan. Sementara pada Kamus Gayo-Indonesia tulisan antropolog Nelalatoa, panggilan Mante juga disebutkan untuk memberi nama kelompok suku terasing setempat.

Ciri suku Mante menurut Abu Dahlan Tanoh Abee yang diceritakan oleh Teuku Anwar Amir, berkulit coklat dengan postur tubuh sekitar 150-an centi meter serta memakai gelang di leher, dan anting pemberat di telinga.

SUKU MANTE DAN KERUSAKAN HUTAN
Kerusakan hutan di Aceh yang merajalela telah membuat banyak bencana hadir, tidak saja berdampak pada rusaknya lingkungan, melainkan juga merusak hubungan antara makhluk hidup di hutan sana. Tidak jarang gajah, harimau, dan sejumlah binatang lain harus mengungsi ke pemukiman warga.

Hal ini pula yang bisa mempengaruhi tentang keberadaan suku Mante, kelompok yang hidup di hutan pedalaman juga akan mengalami krisis yang serupa. Jika sejumlah pemaparan dan temuan telah didapatkan oleh masyarakat setempat, bukan hal aneh jika para peneliti turun ke hutan-hutan pedalaman untuk menemukan mereka dan menjalin kontak atau hubungan.

Kelangsungan hidup suku Mante tentu menjadi tanggung jawab bersama, kalau saja bisa ditemukan seperti suku-suku pedalaman lainnya di Indonesia tentu akan banyak informasi di dapat. “Jika betul ditemukan keberadaan masyarakat Mante, itu sebuah berita besar. Semua pihak harus ikut turun tangan,” kata Prof Dr Ibrahim Alfian.

Penemuan lainnya yang bisa dibilang mirip dengan suku Mante ini, pernah ditemukan di daerah Jambi, Palembang, dan Lampung, dimana masyarakat disana mengenal dengan sebutan ‘orang pendek‘, ditemukan bekas kakinya di daerah pedalaman hutan.

Dari sejumlah paparan yang telah dijelaskan dan berita yang pernah dipublikasi beberapa puluh tahun lalu, maka bisa dilihat penyebaran suku Mante ini sejak dulu ada di pedalaman hutan Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Timur, dan Pidie. Tidak menutup kemungkinan, perpindahan dan tidak menetap (no maden) dari kelompok Mante ini bisa saja sudah menyebar ke daerah-daerah Aceh lainnya.

Namun, pertanyaan sekarang masih adakah mereka ditengah kelestarian hutan Aceh yang tidak lagi kondusif ini. Bagaimana dengan kepedulian kita saat ini untuk memanusiakan sesama manusia? Apakah dengan mengungkit kembali suku Mante ini hanya perkara yang lalu begitu saja dan setelah itu hilang kembali di permukaan.

Tentu saja ini bukan perkara yang mudah untuk kita selesaikan, jika peran masyarakat dan juga instansi serta pihak-pihak terkait belum begitu sadar dan mau ikut sama-sama memberikan andil untuk mencari sosok sekelompok manusia yang pernah disebut-sebut nenek moyang bangsa Aceh. Wallahu’alam. || acehkita.com


Penulis adalah AULIA FITRI atau aulia87.wordpress.com.
Share:

Jejak Sejarah Aceh Di Kota Salem, Amerika Serikat

Terkhusus dalam hal perdagangan lada. Sanking eratnya, hingga logo Kota Salem pun menggunakan simbol-simbol Aceh. Benarlah Aceh punya sejarah gilang gemilang di masa lalu. Berawal dari sebuah tag di Facebook oleh teman saya, Safar Manaf, saya tertarik menelusuri lebih lanjut bagaimana hubungan antara Aceh dengan Salem. Atau lebih layak dikatakan hubungan Aceh dengan Amerika Serikat pada waktu itu, mengingat hal-hal yang terjadi di kemudian hari melibatkan Pemerintah Amerika Serikat dibawah pimpinan Presiden Jackson.

Safar Manaf dalam blognya menulis secara singkat mengenai sejarah Kota Salem. Uraian sejarah tersebut bisa diakses dengan mengklik tab “City Seal” (lambang kota) pada (Website Kota salem) ditulis :
Share:

Di Vietnam, Mustahil Katakan "Aku Cinta Padamu"

Bagi Anda yang tinggal dan mengerti Bahasa Vietnam mungkin tidak akan mendengar warga di negara komunis itu mengucap kalimat "saya cinta kamu" kepada pasangannya. 

Namun bukan berarti mereka tidak mencintai pasangannya, melainkan karena tidak ada padanan untuk kata "saya" atau "kamu" dalam Bahasa Vietnam. Kantor beritaBBC, Kamis 29 Agustus 2013 melansir informasi ini berdasarkan laporan koresponden mereka yang tinggal di Vietnam, Bill Hayton. 
Share:

Cerita Gajah Putih Dari Rakyat Gayo

Pada masa lalu di dataran tinggi Gayo tinggal dua orang kakak beradik yakni, Sengeda dan Bener Meriah bersama ibu mereka. Suatu hari kedua kakak beradik itu menanyakan kepada ibunya siapakah keluarga mereka sebenarnya. Diterangkanlah oleh ibu mereka bahwa ayah mereka bernama Raja Lingga ke XIII, raja yang berkuasa di negeri Lingga. Sedangkan dari pihak ibu mereka adalah keluarga Sultan Malaka. Raja Lingga yang sekarang berkuasa adalah Abang kandung seayah dengan mereka. Sehabis menceritakan asal usul keluarga mereka sang ibu menyerahkan dua pusaka peninggalan almarhun ayahnya Raja Lingga XIII berupa sebilah pedang dan sebentuk cincin permata yang dalam dua benda pusaka tersebut terdapat tulisan yang bertuliskan bahwa kedua benda tersebut milik Raja Lingga yang diwariskan secara turun temurun pada keturunannya. Mendengar cerita tersebut keduanya sepakat untuk pergi ke Lingga untuk menemui Abang dan para kerabatnya.
Share:

7 Alasan Ini Aceh Layak Dikunjungi

Saya bukan staf Dinas Pariwisata Aceh, apalagi Duta Pariwisatanya. Saya asli berdarah Sulawesi yang kebetulan tinggal di Aceh. Tapi entah kenapa, pengalaman tinggal selama 1,5 tahun membuat saya jatuh cinta dengan kota ini. Berada di ujung barat Indonesia, Aceh memiliki pesona tersendiri yang siap memanjakan mata dan hati para pengunjungnya. Berikut 7 alasan, kenapa kamu harus berkunjung ke Aceh :
Share: