• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Kata "I Love You" Tidak Perlu Di Ucapkan

Banyak Perempuan yang mengeluhkan sikap pasangannya yang tidak romantis. Ketika saya tanya, apakah indikasi romantis yang mereka maksudkan? Sebagian besar menjawab, "kata-kata dan tindakan pasangannyan yang menunjukkan perasaan cinta kepada Perempuan ". Nah, disini mulai ada persoalan.

Dimana persoalannya? Pada umumnya, Laki Laki lebih sulit mengucapkan kata-kata cinta. Sementara itu, Perempuan sangat mengharapkan pasangannya mengucapkan kata-kata cinta. Perempuan ingin mendengar pasangannya mengungkapkan perasaan cinta kepada dirinya dengan kata-kata. Menurut Laki Laki, "itu tidak penting". Ketika perbedaan kecenderungan seperti ini tidak dimengerti dan dijembatani, akan memunculkan kekecewaan.
Share:

Siapa Pemilik Kursi Walikota Banda Aceh 2017-2012..?

Banda Aceh sebagai ibu kota Provinsi Aceh tentu paling menarik disetiap perhelatan hajat demokrasi 5 tahunan itu, begitu juga dengan hajatan pemilihan Walikota periode 2017-2022 nantinya, meski pemilihan Walikota masih tergolong lama, tapi desas desus pesta demokrasi itu telah dimulai sejak bulan ini, bahkan bukan hanya pemilihan Walikota/Bupati saja yang sudah hangat, Pemilihan Gubernur pun lebih hangat, mengingat sudah ada beberapa calon yang mulai muncul dan menyatakan kesiapannya bertarung dalam pesta demokrasi 2017 nanti.  Namun kali ini kita tidak akan membahas siapa sosok paling ideal memimpin Aceh kedepan, tapi kali ini kita akan membahas, siapa sebenanya sosok paling ideal untuk memimpin Ibu Kota Provinsi Aceh untuk satu periode kedepan, mengingat Banda Aceh adalah merupakan Ikonnya sebuah Provinsi Aceh.

Bicara ideal, memang sulit untuk kita ukur, seberapa ideal dari tokoh tokoh politik yang muncul selama ini dan mengarah pada kesiapan dirinya untuk maju dalam pilkada pemilihan Walikota Banda Aceh nanti pada tahun 2017, berbeda dengan Pemilihan Gubernur yang sudah beberapa diantaranya para bakal calon sudah menyatakan kesiapannya untuk maju, sedangkan untuk Walikota Banda Aceh sampai saat ini belum ada yang menyatakan kesiapannya secara publik untuk maju pada pemilihan Walikota. Meski begitu, beberapa nama semakin senter dibicarakan oleh masyarakat kota dan diperkirakan akan bertarung nantinya, bahkan ada yang sudah berkonsolidasi meski belum mendeklarasikan diri.

Nama Nama yang saya sebutkan disini merupakan sosok yang tidak asing lagi bagi masyarakat Kota, apalagi mengingat mereka juga pernah bertarung pada pemilihan walikota 2012 silam. Dalam penghematan penulis, panggung politik dalam pemilihan walikota 2017 nantinya hanya dimiliki oleh 3 sosok tersebut yaitu Illiza Sa’aduddin Djamal, Teuku Irwan Djohan dan Aminullah Usman.

Dalam pemilihan Walikota 2012 silam, Alm. Mawardy Nurdin yang berpasangan dengan Illiza Sa’aduddin Djamal memang keluar sebagai pemenang dengan perolehan suara 43,44%, sedangkan Aminullah Usman yang berpasangan dengan Tgk Muhibban memperoleh dukungan sebanyak 32,91% yang kemudian disusul oleh Teuku Irwan Djohan yang berpasangan dengan T. Alamsyah dengan suara 15,39%.

Akhir-Akhir ini, mereka dikabarkan sedang menggalang kekuatan untuk kembali maju dalam pilkada tahun 2017 nantinya, kemungkinan besar tidak lagi berpasangan sebagaimana pada tahun 2012 silam, sehingga pilkada 2017 di Kota Banda Aceh akan menjadi sangat menarik untuk ketiga sosok tersebut, apalagi Illiza Sa’aduddin Djamal yang nantinya diperkirakan kembali maju sebagai incumbent dengan kekuatan politik yang sudah jauh berbeda dibandingkan tahun 2012 setelah ditinggalkan oleh Alm. Mawardy Nurdin.

**
Siapa Illiza Sa’aduddin Djamal..?
Ia adalah sosok Walikota perempuan paling terkenal di Aceh, mengingat sepak terjangnya dalam dunia politik sudah sangat matang. Illiza sudah menjadi Anggota DPR sejak tahun 2004, yang kemudian terpilih menjadi Wakil Walikota pada tahun 2007 berpasangan dengan Alm. Mawardy, kemudian pada tahun 2012 ia kembali maju bersama Alm. Mawardy Nurdin, juga kembali terpilih sebagai Wakil Walikota, namun pada tahun 2014, Mawardy Nurdin meninggal dunia akibat penyakit yang dideritanya sehingga mengantarkan Illiza menjadi Walikota menggantikan Mawardy hingga sekarang.

Illiza adalah sosok Walikota yang dikenal sangat dekat dengan akar rumput masyarakat kota, apalagi ia dikenal konsen terhadap penerapan syariat Islam, meski mendapat kritik tajam dari banyak pihak, tapi selalu saja tokoh masyarakat terutama para tokoh agama berada dibelakangnya untuk terus mengsupport kebijakan-kebijakan walikota tersebut, meski beberapa kali terjadi controversial dan mendapat sorotan dari Negara lain, tapi tetap saja sang Cut Nyak Dhien era modern ini kukuh terhadap sikapnya dalam upaya menerapkan syariat Islam.

Selama ia memimpin Kota Banda Aceh, kebijakannya beberapa kali mengundang controversial diantaranya adalah Pemotongan Rambut anak-anak Punk yang kemudian dibawa ke SPN Seulawah sehingga memunculkan reaksi dibeberapa negara dan baru baru ini tentang Jam malam bagi perempuan serta banyak kebijakan lainnya yang mendapat sorotan tajam dari public. Meski begitu, dibawah kepemimpinannya dan juga ketika ia bersama Alm. Mawardy Nurdin juga tak dapat dipungkiri telah banyak sekali mengumpulkan segudang penghargaan baik dari Negara asing maupun dari pemerintah pusat, yang paling rutin hingga saat ini Kota Banda Aceh dibawah kepemimpinan Illiza maupun Alm. Mawardy Nurdin telah mendapatkan piagam penghargaan keuangan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Kementerian Keuangan RI selama 7 tahun berturut-turut sejak tahun 2007 dan banyak lagi segudang penghargaan yang telah Kota Banda Aceh dapatkan dibawah kepemimpinannya.

Meski begitu sang Bunda panggilan akrab untuk Illiza, dikenal sebagai sosok anti kreatifitas anak muda, entah benar hal tersebut, atau memang hanyalah isu politis yang kemudian dikemas oleh para lawan-lawannya untuk mewujudkan image tersebut, saya belum menemukan kebenarannya terhadap opini tersebut.

Yang saya pahami ialah, sejak ia menjadi Wakil Walikota sampai saat ini ia telah menjadi Walikota, Illiza adalah sebagai sosok yang sangat tegas dan tidak berkompromi terhadap hal hal yang bertentangan dengan syariat, serta ia juga menjadi Wakil Walikota maupun Walikota yang paling konsen menerapkan syariat Islam dibandingkan Walikota/Bupati lainnya di Aceh. Itu terbukti dengan masih berjalannya aktivitas Dinas Syariat Islam dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Aceh.

**
Siapa Teuku Irwan Djohan..?
Bagi kalangan anak muda Kota Banda Aceh, nama Irwan Djohan tidaklah menjadi asing lagi, sang politisi muda ini dikenal sangat santun dan bijak dalam setiap ucapannya, sang politisi yang aktif dalam berbagai media social ini memang dikenal sebagai sosok paling dekat dengan anak muda kota. Ia masih saja aktif di media social sampai hari ini meski telah menyandang status sebagai Wakil Ketua DPR Aceh. Kedekatannya dengan anak muda jelas terlihat jika kita bertandang kekantornya di DPR Aceh, selalu saja hampir setiap hari ia menerima tamu dari kalangan anak muda dengan berbagai komunitas untuk curhat kepadanya sebagai wakil rakyat terhadap berbagai problem social masyarakat yang sedang dan akan anak muda hadapi. Bagi anak muda, Irwan Djohan sebagai inspirator mereka, apalagi berbagai aktivitas anak muda selalu saja didukung dan disupport oleh wakil rakyat tersebut.

Nama Irwan Djohan mulai muncul sejak ia bertarung memperebutkan kursi Walikota pada tahun 2012 silam, dimana saat itu hanyalah pasangan mereka yang menggunakan mesin (tim sukses) anak muda dari berbagai komunitas. Sehingga nama Irwan Djohan melambung tinggi saat itu dan mampu meraih 15,39% suara. Posisi ketiga yang ia dapatkan merupakan posisi yang amat tinggi pada saat itu, mengingat nama Irwan Djohan saat itu belum lah dikenal didalam kalangan warga kota.

Irwan Djohan adalah Putra kedua dari Alm. Mayor Jenderal H. Teuku Djohan dan Hj. Cut Ubit. Almarhum ayahnya pernah menjabat beberapa jabatan penting di Aceh, seperti Kepala Staf Kodam (Kasdam) Iskandar Muda, Wakil Gubernur Aceh, dan Ketua DPR Aceh, hingga anggota MPR-RI mewakili Aceh. Pria lulusan Teknik Arsitektur dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini adalah juga berprofesi sebagai pengusaha media.

Caranya berpolitik dimulai dari pencalonan Walikota 2012 silam, hingga ia menjadi Wakil Ketua DPR Aceh hingga saat ini tidak ada yang berubah darinya, ia masih saja sebagai sosok yang dekat dengan kalangan anak muda dan aktif dalam berbagai media social, juga inspirator bagi kalangan anak muda.

Kehadiran Irwan Djohan dalam pertarungan pemilihan Walikota pada tahun 2017 nantinya akan menarik perhatian berbagai kalangan, terutama anak muda dan juga warga kota yang jenuh terhadap kepemimpinan Walikota sekarang. Sosok Irwan Djohan diperkirakan akan menjadi saingan paling berat bagi kedua calon yang saya sebutkan disini untuk memenangkan kursi Walikota tersebut.

Namun kelemahan dari sosok Irwan Djohan ini adalah, ia tidak memiliki basis akar rumput, sehingga jika Irwan Djohan tidak memperlebar komunikasi politiknya, terutama dengan tokoh masyarakat gampong dan tokoh agama, akan sulit kembali mengalahkan Illiza dan Aminullah pada pilkada 2017 mendatang. Mengingat Illiza dan Aminullah sampai saat ini masih memiliki basis yang pasti dan mampu memenangkan pilkada 2017.

**
Siapa Aminullah Usman..?
Ia adalah sosok yang tidak asing lagi terutama bagi kalangan Karyawan Bank Aceh, Aminullah adalah mantan Direktur Utama Bank BPD Aceh, selama sepuluh tahun (2000-2010), kepemimpinanya dalam mengelola Bank Aceh diakui oleh banyak orang dan meraih berbagai penghargaan di tingkat nasional. Selama ia memimpin Bank BPD yang saat ini menjadi Bank Aceh, ia mampu Meningkatkan total asset PT Bank BPD Aceh dari Rp 660 Miliar menjadi Rp 13 Trilyun, mengembangkan PT Bank Aceh dari 35 Kantor menjadi 101 kantor, Menampung tenaga kerja dari 468 sumberdaya manusia menjadi 1.650 dan Predikat Unqualified Opinion sembilan tahun berturut.

Bang Carlos sapaan akrab Aminullah Usman ini aktif dalam berbagai organisasi terutama sepak bola, ia juga menduduki jabatan penting dalam berbagai organisasi. Aminullah yang tinggal di Punge ini diperkirakan akan kembali maju dalam pesta demokrasi 2017 mendatang, meski mesin politiknya belum jelas, namun gerak gerik dari Aminullah ini sudah terlihat mengarah pada tujuannya untuk kembali mencalonkan diri sebagai Walikota Banda Aceh.

Sosok Aminullah ini memang dikenal oleh berbagai kalangan, baik anak muda maupun tokoh masyarakat, ia dekat dengan berbagai kalangan, sehinga menjadi modal bagi dirinya untuk tidak membuka kran blog-blog komunitas dalam dunia pergaulannya. Ia yang maju pada pilkada 2012 silam mampu meraih  32,91% suara yaitu posisi kedua, menjadikan dirinya peluang yang amat besar untuk terpilih pada pilkada 2017 mendatang. Apalagi saingannya pada 2012 silam adalah Mawardy Nurdin dan Illiza Sa’aduddin Djamal, sedangkan Mawardy Nurdin telah meninggal pada tahun 2014 silam, tentu kepergian Mawardy Nurdin menjadikan kekuatan politik Illiza melemah, image pemerintahannya pun merosot tajam.

Masyarakat lebih melihat keberhasilan Alm. Mawardy Nurdin dibandingkan Illiza, sehingga kondisi tersebut menguntungkan Aminullah untuk memenangkan pilkada 2017 nantinya. Dalam kampanyenya 2017 mendatang, Aminullah punya nilai tawar yang bisa dimanfaatkan untuk kampanye, mengingat ia saat ini bukanlah pejabat public seperti kedua nama yang saya sebutkan yaitu Illiza Sa’aduddin Djamal (Walikota Banda Aceh) dan Teuku Irwan Djohan (Wakil Ketua DPR Aceh). Jika ia mendesain sebuah Visi Misi tentu lebih mudah dibandingkan dengan kedua calon lainnya, ia tidak terikat janji yang belum terpenuhi kepada masyarakat.

***
Pemilihan Walikota Banda Aceh periode mendatang memang masih sangat lama, yaitu April 2017, namun desas desus terhadap siapa-siapa saja yang akan bertarung dalam pesta demokrasi tersebut sudah sangat hangat. Dalam hemat penulis, ketiga nama yang di sebutkan diatas menjadi sosok sosok yang amat diperhitungkan dalam hajatan 5tahunan itu, namun jika kemudian muncul nama nama lainnya, dapat diperkirakan hanya akan menjadi bumbu bumbu demokrasi yang kemudian dianggap sebagai pelengkap dari setiap hiburan rakyat 5tahunan itu.

Lalu muncul pertanyaan, Siapakah pilihan warga kota dari ketiga sosok tersebut?, pertanyaan tersebut hanya akan terjawab usai pesta demokrasi 5tahunan itu dilaksanakan, tidak ada yang mampu menjawab dengan kepastian, karena mengingat semua punya peluang untuk menang.

Dan ketiga sosok tersebut, sama sama memiliki kelemahan dan kelebihan, yang jika disatukan akan memberikan manfaat bagi warga kota untuk membangun sebuah peradaban. Mereka memang sosok sosok ideal untuk dijadikan pemimpin kota pada periode mendatang.

Bicara tentang peradaban, saya teringat kembali debat kandidat Calon Walikota Banda Aceh pada tahun 2012 silam di Hotel Hermes Palace, waktu itu sang Calon Walikota nomor urut 5 TB Herman sempat menyinggung “Bagaimana kita membangun sebuah peradaban, jika perut masih kosong”.

Semoga saja yang terpilih dalam pemilihan Walikota Banda Aceh tahun 2017 mendatang, mampu mengisi perut Warga Kota dan sekaligus membangun sebuah peradaban yang didambakan oleh masyarakatnya.

Tulisan ini telah dipublikasi dalam Media LINTASNASIONAL.COM pada 06 November 2015


Share:

Selamat Jalan Adikku

Udah lama banget enggak nulis, sejak akhir tahun 2014 sampai tahun 2015 ini adalah hari hari yang jarang nulis, inspirasi jarang keluar, otak pun dipenuhi dengan banyak beban yang belum mampu aku control dengan baik. Sehingga menjadi sebuah masalah yang terus aku tanggung dalam pikiran, dengan begitu, inspirasi tentang apapun jadi enggak masuk dikepala dan konsentrasi pun jadi mines, tapi ya mau gimana lagi, padahal banyak banget yang aku lewati dan bisa aku sampaikan dalam bentuk statement menurut sudut pandang aku, meski udah nyoba, tapi ya hasilnya enggak maksimal sehingga membuat blog aku jarang update, apalagi tahun 2015 ini, blog Cuma dipandang doang tanpa update, aku coba belajar lagi mulai dari awal untuk terus menjadikan blog sebagai diare aku, sehingga suatu saat nanti ketika aku udah tua, aku bisa jadikan blog itu sebagai rujukan dan pengalaman ketika aku muda, sehingga tentang apapun yang aku lakukan terabadikan dalam bentuk tulisan.

Entah kenapa, akhir akhir ini aku enggak bisa memulai menulis dari mana, padahal disekitar aku banyak banget peristiwa yang bisa aku curahkan kedalam blog ini, seperti masalah social, politik sampai pada masalah pribadi aku, tapi tetap aja aku enggak bisa memulainnya lagi dengan baik. Apalagi baru baru ini aku kembali diterpa musibah yang menggoncang pikiran dan menjadi beban dikepala aku, aku belum mampu menerima setiap cobaan yang diberikan oleh Tuhan terhadap aku, tepatnya 1 Muharram atau tanggal 13 Oktober 2015.

Adikku yang baru saja menikah 7 bulan yang lalu harus pergi selama lamanya akibat penyakit yang ia derita, kepergiannya bukan hanya sendiri, tapi ia pergi bersama anaknya yang sudah 7 bulan didalam kandungannya, menurut dokter, anaknya perempuan, artinya aku kehilangan dua perempuan sekaligus pada hari itu, musibah itu membuat aku terpukul, bukan hanya aku saja sebagai anak pertama dalam keluarga ku, tapi semua keluarga ku sangat terpukul menerima kenyataan pahit ini, apalagi ibuku, yang sampai saat ini masih terisak tangis ketika ia mengingat almarhum.

Perjuangan panjang sakitnya yang sudah mencapai 3 bulan tak kunjung membaik, keluarga kami saja heran mengapa ia bisa menderita penyakit itu, padahal dalam sejarah keluarga, tidak ada yang menderita penyakit tersebut sebelumnya, tapi adik ku itu tiba tiba menderita penyakit tersebut, yaitu penyakit sesak, yang membuat ia tidak bisa melepaskan tabung oksigen selama 3 bulan belakangan itu sebelum ia pergi menghadap sang pencipta. Suaminya pun, tak mampu menahan air mata, karena istrinya pergi begitu cepat bersama anaknya meninggalkan ia, tapi mau gimana lagi, itu adalah garis yang sudah ditentukan oleh yang maha kuasa. Sebagai manusia hanya bisa bersabar.

Dibalik kesedihan yang mendalam ini, tapi aku menyimpan kebahagiaan, karena adikku pergi dengan sebuah senyuman yang melekat dibibirnya. Aku sampai saat ini tak mampu membayangkan senyuman terakhir yang ia berikan kepada kami semua, saat aku mengingat senyuman itu, air mataku pasti akan menetes dan juga saat aku menulis cerita ini, air mata ini tak dapat ku bendungi saat saat aku memandang adikku yang terakhir kali. Aku juga bahagia, banyak sekali orang bilang, ia pergi dengan baik, apalagi kepergiannya bukan seorang diri, tapi bersama anaknya yang masih dalam kandungan, apalagi ia pergi dihari baik pula, yaitu pada 1 muharram tepatnya pukul 13.30 Wib dirumah sakit Umum Daerah Zainal Abidin.

Jika aku merindukan adikku, yang aku ingat adalah senyuman terakhir yang ia berikan kepada kami semua. Sebenarnya aku juga sangat merindukan ia, ketika ia sehat, dia adalah tempat aku curhat, meski aku abangnya, tapi ia selalu menasehati aku jika bicara tentang perempuan, ia selalu menjadi tempat aku mengetahui segala persoalan perempuan, yang paling aku ingat nasehat dia adalah “Bang, Jangan pernah mainin Cewek, karena adik abang juga Cewek, Hukum karma itu berlaku” nasehat itu sudah ia berikan ketika aku masih kuliah disemester awal dan masih tersimpan dibenak aku hingga kini, nasehat tersebut sebenarnya yang membuat aku selalu serius jika memulai hubungan dengan perempuan.

Dia adalah adik perempuan yang amat sempurna bagi aku, meski abangnya memiliki sifat cuek, tapi ia selalu perhatian terhadap abangnya, ia mengerti betul tentang karakter abangnya, sehingga selama ia masih hidup kami tidak pernah bertengkar.

Sudahlah aku tak mampu lagi menceritakannya, karena jika aku mengingatnya, selalu saja air mataku berceceran dan tak mampu ku bendung, meski dimana saja dan kapan saja. Semoga ia tenang disana bersama anaknya dan ditempatkan disurga yang terindah oleh yang maha kuasa.

Selamat jalan adikku “Sri Wahyuni MN”
Engkau tak akan pernah tergantikan
Share:

Saat Karnaval Kemerdekaan Melanggar Syariat

Arak-arakan dengan berbagai kostum dan berbagai peragaan dilaksanakan oleh Pemerintah Aceh tepatnya 18 Agustus kemarin, hasilnya usai karnaval tersebut dilaksanakan, maka yang tersisa adalah menuai pro dan kontra terhadap pesta tersebut, salah satu yang paling di sorot oleh masyarakat adalah, waktu pelaksanaan karnaval yang menyebabkan peserta karnaval harus meninggalkan shalat wajibnya 3 waktu yaitu Zuhur, Ashar dan Magrib. Pasalnya pelaksanaan karnaval dimulai siang hari menjelang shalat Zuhur dan selesai pada saat magrib. Padahal didaerah daerah lain ada yang melaksanakannya di pagi hari dan selesai siang hari dengan begitu peserta karnaval masih dapat dan memiliki waktu untuk shalat Zuhurnya.

Yang kedua disorot adalah, kostum peserta karnaval yang mencolok dan adegan tontonan pura pura menjadi pengantin dengan drama berpegang tangan, sehingga disebut sebut sebagai adegan melanggar syariat. Seseorang di Akun media social Facebook bahkan mengomentari “Meski Adegannya Pura Pura, Tapi Dosanya Tidak Pura Pura”.

Dalam acara karnaval tersebut, masyarakat bahkan menyaksikan pakaian maupun aksesoris yang digunakan oleh peserta karnaval banyak yang tidak sesuai dengan kaidah kaidah syariat islam, tontonan yang diperagakan oleh peserta karnaval tersebut, setidaknya memberikan gambaran nyata, bahwa syariat islam bisa dilanggar dengan persetujuan atau pada kegiatan kegiatan seremoni pemerintah.

Kritikan masyarakat terhadap penyelenggaraan karnaval tersebut, jelas terlihat bahwa ini bukan yang pertama kali, dalam berbagai komentar yang bergulir dimedia social, menyatakan, bahwa tahun lalu juga para netizen mengkritik keras terhadap penyelenggaraan karnaval yang di anggap oleh masyarakat melanggar syariat, namun tahun ini masyarakat menilai, bahwa apa yang dikritik pada tahun lalu, malah terulang kembali ditahun ini. 
Share:

Pemandangan Umum Anggota DPRA Fraksi Nasdem

Dengan mengharapkan rahmat dan karunia dari Allah SWT, sudah sepatutnya kita kita bersyukur pada malam ini, masih diberi kesehatan, kekuatan, dan kesempatan serta petunjuk sehingga dapat hadir di gedung yang terhormat ini, dalam Paripurna I Masa Persidangan II DPR Aceh tahun 2015 dengan agenda Penyampaian Pemandangan Umum Anggota DPR Aceh terhadap Rancangan Qanun Aceh tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh Tahun Anggaran 2014.

Shalawat dan Salam senantiasa kita sampaikan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah memberikan ketauladanan kepada seluruh umat manusia, serta salam sejahtera pula kita sampaikan kepada para keluarga dan sahabat-sahabat Baginda Rasulullah sekalian.

Penghormatan kami sampaikan kepada (disesuaikan)
Sdr. Gubernur Aceh dan Wakil Gubernur Aceh
Sdr. Ketua, Para Wakil Ketua dan Anggota DPR Aceh
Para Unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah
Sekretaris Daerah
Para Asisten dan Kepala SKPA Lingkup Pemerintah Aceh
Seluruh Hadirin dan Hadirat Yang Berbahagia.

Sidang dewan yang terhormat,
Sidang Paripurna I Masa Persidangan II DPR Aceh tahun 2015 dengan agenda Penyampaian Pemandangan Umum Anggota DPR Aceh terhadap Rancangan Qanun Aceh tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh Tahun Anggaran 2014 ini, merupakan moment penting untuk kembali membenah sistem perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan di Aceh. Karena pada kesempatan ini kita akan mengkoreksi dengan benar – benar apa yang keliru dalam periode anggaran terdahulu (2014) untuk perbaikan kedepan. 

Kita semua, eksekutif dan legislatif haruslah serius menindaklanjuti seluruh temuan dan rekomendasi BPK – RI Perwakilan Aceh dan juga temuan Pansus setiap Daerah Pemilihan (10 Dapil). Jangan sampai seluruh temuan dan rekomendasi ini hanya menjadi agenda rutinitas dan tidak bermakna apapun untuk perubahan sistem perencanaan dan pengelolaan pembangunan kedepan.

Sidang dewan yang terhormat,
Berujuk dari Pidato sambutan gubernur pada pembukaan masa sidang ini, Provinsi Aceh untuk anggaran tahun 2014, melalui qanun Nomor 5 tahun 2014 mengelola anggaran sebesar 12,94 Trilyun, dengan anggaran pendapatan sebesar 11,54 T. Serapan anggaran Pemerintahan Aceh pada tahun 2014 adalah 11,61 T. Jumlah anggaran besar itu, juga sebenarnya sudah berlangsung dari tahun – tahun anggaran sebelumnya dari pasca Damai dan Bencana Tsunami di Aceh, dan setiap tahunnya terus meningkat. Namunpun demikian, jumlah anggaran besar ini tidak signifikan mendukung pertumbuhan perekonomian Aceh dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Aceh.

Aspek Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan yang dikoordinasikan oleh Sekdaprov dan Bappeda Aceh, kami pandang belumlah mengacu penuh kepada regulasi keharusan alokasi seperti yang ditentukan dari perundang – undangan yang ada. 30% anggaran belanja modal untuk infrastruktur, 20% untuk pendidikan, 10% untuk kesehatan,  5% untuk syariat islam, 1% untuk pemberdayaan perempuan dan anak, UKM 1%, dan 1% untuk lingkungan hidup, belum tegas menjadi landasan dalam penyusunan perencanaan dan anggaran Aceh.

Bappeda Aceh sebagai institusi penanggung jawab koordinasi untuk perencanaan pembangunan terkesan hanya melakukan kompilasi usulan dari SKPA saja, dan seakan meninggalkan tugasnya untuk mengawal seluruh usulan pembangunan agar sesuai dengan visi – misi  yang telah diterjemahkan dalam RPJM Aceh. Bahkan 10 Program prioritas pemerintah Aceh yang sudah disepakati, juga tidak pernah tergambarkan tegas menjadi kegiatan detail setiap tahun anggaran, sehingga tingkat pencapaiannya sulit diukur.

Sidang dewan yang terhormat,
Bappeda Aceh, kami pandang juga belumlah optimal melaksanakan peran untuk membangun Sinkronisasi dan Integrasi program antar SKPA. Lazimnya suatu kegiatan pembangunan (apalagi kegiatan baru) dari satu SKPA, agar bisa fungsional haruslah ditopang oleh kegiatan pendukung lainnya yang menjadi ranah kerja dari SKPA lainnya. Faktanya, hal ini seringlah luput dari perhatian perencanaan, sehingga proyek atau kegiatan tersebut sering terbengkalai dan tidak berfungsi.

Sinergisasi program dengan Pemerintahan Kabupaten/Kota kami pandang juga masih belum pada titik saling mendukung. Masih banyak kegiatan yang direncanakan oleh instansi di tingkatan provinsi tidak diketahui oleh Kabupaten/Kota dan begitu juga sebaliknya. Sehingga menjadi wajar proyek pembangunan menjadi jauh dari harapan dalam aspek daya gunanya.

Berdasarkan Fakta diatas, kami mempertanyakan atas dasar apa penghargaan Pangripta Pratama sebagai instansi yang melakukan perencanaan yang baik diberikan oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Bappenas kepada Bappeda Aceh pada tahun 2013 dan 2014. Padahal Praktek Perencanaan yang dilakukan oleh Bappeda Aceh masih perlu pembenahan dengan cukup serius. 

Sidang Dewan yang Terhormat,
Persoalan Aset dan pendapatan Aceh kami pandang merupakan hal sangat serius yang harus dicermati. Berdasarkan laporan hasil pemeriksaan BPK sistem inventarisir dan pelaporan Aset Aceh belum tertib, sehingga Pemerintah Aceh belum mendapat WTP. Pemisahan DPKKA (Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Aceh – sebelumnya - ) menjadi DPKA (Dinas Pendapatan dan Kekayaan Aceh) dan DKA (Dinas Keuangan Aceh) – saat ini – ,  ternyata belum membuat pengelolaan keuangan dan Aset Aceh menjadi lebih tertib.

Dalam aspek infrastruktur, masih banyak ditemukan kegiatan – kegiatan yang dilakukan tidaklah bermuara dari kebutuhan terkini dan menopang pertumbuhan perekonomian. Bahkan tidak sedikit perencanaan teknis dilakukan tanpa memperhatikan kesediaan lahan, kesesuaian lokasi, dan juga kebutuhan anggaran untuk penuntasan kegiatan agar berdaya guna dan tidak berulang. Terlalu sering kita melakukan kegiatan asal ada saja dan tidak tuntas, sehingga pekerjaan serupa diulang kembali pada tahun anggaran berikutnya.

Hal senada juga terjadi pada instansi – instansi yang mengurusi urusan pangan masyarakat. Sudah terlalu banyak kegiatan – kegiatan yang pada awalnya bertujuan untuk pengembangan perekonomian masyarakat dan Aceh, ternyata tidak berkelanjutan dan juga tidak menjadikan sasaran program menjadi mandiri dan berkembang. Hampir sebagian besar lahan yang sudah dibuka tidak berfungsi, bibit yang dibagikan tidak tertanam dan hanya untuk sekali panen saja, boat yang dibagikan tidak berlayar dan karam ditepian, dan masih banyak lagi kegiatan pengembangan perekonomian ini tidak berfungsi sebagaimana tujuannya.
Untuk itu, kami merekomendasikan pembenahan serius diseluruh instansi yang mengurusi pangan masyarakat ini agar lebih tertib dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan penerima manfaatnya, serta pedampingan untuk menjamin keberhasilan programnya.

Sidang Dewan yang Terhormat,
Dari segi pelayanan kesehatan Aceh, jumlah anggaran 10% untuk kesehatan  masih belum bisa menekan tingkat kematian ibu dan anak di Aceh. Dalam catatan kami jumlah angkat kematian ibu dan anak masih cukup tinggi dan diatas angka rata – rata nasional. Berarti ada persoalan dalam aspek prioritas alokasi dan penggunaan anggaran pada aspek kesehatan. Sehingga anggaran yang tersedia tidak signifikan berpengaruh terhadap peningkatan pelayanan.
Begitu juga dari aspek pendidikan, jumlah anggaran 20% dari APBA seharusnya bisa lebih meningkatkan prestasi pendidikan Aceh. Alokasi dana  yang masih banyak untuk pembangunan fisik dari peningkatan mutu adalah penyebab utama kemunduran pendidikan Aceh.

Untuk itu, kami merekomendasikan pembenahan serius untuk kedua instansi pelayanan masyarakat ini. Pelayanan kesehatan tidak harus untuk membangun fasilitas kesehatan sampai kepelosok, namun penyediaan tenaga medis, peralatan dan obat – obatan keseluruh instansi pelayanan kesehatan sampai ke pustu – pustu haruslah lebih diutamakan. Sehingga masyarakat bawah lebih terlayani dengan baik. Begitu juga dengan pelayanan pendidikan, tidak hanya menyediakan sekolah sampai kepelosok, namun menyediakan tenaga pengajar yang cukup dan berkualitas merupakan tugas lebih penting yang harus menjadi fokus instansi pendidikan kedepan.

Sidang dewan yang terhormat,
Berdasarkan fakta dan temuan diatas, kami juga menegaskan agar semuanya ini harus menjadi pembelajaran pemerintahan Aceh kedepan. Seluruh kegiatan tahun 2015 yang sudah terdeteksi tidak sesuai sasaran, salah nomenklatur anggaran, tidak ada lokasi dan mungkin ada yang tumpang tindih, dan belum menjadi urutan untuk implimentasi RPJM dan 10 program prioritas pemerintah Aceh, serta memang tidak ada manfaatnya untuk pertumbuhan perekonomian dan pendapatan Aceh, untuk segera dibenahi. Gubernur harus lebih tegas untuk mengevaluasi kinerja SKPA – SKPA agar lebih fokus mengejar ouput instansinya dalam mendukung pencapaian Visi – Misi Pemerintahan Aceh dari pada laporan asal bapak senang dan alasan – alasan kendala saja. Sehingga evaluasi kita kedepan tidaklah lagi terlalu banyak berulang hanya pada urusan teknis kegiatan, namun lebih pada indikator pencapaian tujuan.

Dibacakan Oleh Ir. H. Saifuddin Muhammad dalam rapat paripurna masa persidangan II Pemandangan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh Fraksi NasDem Terhadap Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBA Tahun Anggaran 2014 Pada Tanggal 11 Agustus 2015

Disusun Oleh Fraksi NasDem DPR ACEH
1. Ramadhana Lubis (Ketua)
2. Ir. Hj. Fatimah (Sekretaris)
3. Ir. H. Saifuddin Muhammad (Wakil Ketua) 
4. Zulfikar ZB Lidan (Bendahara)
5. Drs. H. Djasmi Has, MM (Anggota)
6. Drs. Yunardi Natsir, MM (Anggota)
7. T. Rudi Fatahul Hadi, S.HI (Anggota)
8. T. Irwan Djohan, ST (Anggota)
9. Darwati A. Gani (Anggota)
10. Samsul Bahri Bin Amiren (Anggota)
11. Dedi Safrizal (Anggota)
Share:

Karena “Jam Malam” Banda Aceh Kian Liar

Berawal dari penggerebekan Galeri Kafe Musik di Simpang Lima Banda Aceh yang berlanjut pada isu penerapan jam malam bagi perempuan kemudian dilanjut dengan pemberitaan Serambi Indonesia yang berjudul "DPRK Minta Pemko Terapkan Jam Malam" yang diterbitkan pada Selasa, 26 Mei 2015 mendapat respon pro kontra dari masyarakat Kota Banda Aceh, meski sebenarnya kejadian tersebut tidak berhubungan, namun isu yang bermunculan seolah olah saling berhubungan antara penerapan Jam Malam dengan hasil penggerebekan Galery Cafe Musik tersebut.

Aturan jam malam membuat anak anak muda kota Banda Aceh membullying Walikota melalui media social Twitter dengan hastag #BandaAcehMasukAkal dan sempat masuk dalam trending topics nasional. Adanya hastag tersebut membuat isu semakin mencuat dan tak kalah berbagai organisasi ikut andil mengeluarkan statmentnya, baik yang mendukung kebijakan tersebut, maupun yang tidak mendukung. Isu yang kian liar tersebut membuat BEM Unsyiah, KAMMI dan LDK Unsyiah ikut nimprung untuk membahasnya dengan menghadirkan Walikota dalam agenda diskusinya.
Share:

Wawancara : Mengapa Haji Bakhry Tak Dicambuk

Polemik eksekusi hukum Haji Bakry Usman, seorang pelaku khalwat, terus bergulir dan masih menuai tanda tanya. Maklum, saat Pemko Banda Aceh secara tegas dan cepat mengeksekusi sejumlah pelanggar syariat di Banda Aceh baru-baru ini, tapi Eyang Bakry masih saja bebas wara-wiri.

Beredar kabar, ada orang kuat di Balai Kota Banda Aceh yang mengintervensi. Berbagai dugaan itu sering dialamatkan pada Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal. Ini sejurus dengan berbagai informasi yang beredar bahwa Illiza berperan aktif paska tertangkapnya Haji Bakry di sebuah salon bersama seorang perempuan, pada November 2012 lalu. Bahkan, Illiza disebut-sebut sempat mengintervensi para awak media agar tak memberitakan peristiwa itu. Sebaliknya, dalam berbagai pertemuan internal Pemko Banda Aceh, Illiza juga meminta jajaran dibawahnya untuk tidak membaca berita yang disajikan media ini. Alasannya, tak layak baca. “Minggu ini wajah saya jadi nenek-nenek di MODUS ACEH. Saya kira, media itu tak layak untuk dibaca,” himbau Illiza dalam sambutannya, saat membuka satu acara, Senin, 20 Oktober 2014 di Balai Kota, Banda Aceh.
Share:

Din Minimi Dan Perlawanannya Terhadap Zikir

"Kalau saya wujudkan keinginan untuk bertemu istri dan anak saya sekarang, lalu bagaimana dengan anak anak yatim yang ada bersama saya disini sekarang" ujar Din Minimi, seperti yang tertulis di halaman pertama harian Serambi Indonesia terbitan 29 Mei 2015.

Din Minimi memang beberapa bulan ini menjadi topic hangat yang terus diperbincangkan, mulai dari pihak keamanan, politisi, aktivis, mahasiswa dan anak anak muda Aceh, karena tindakannya yang saat ini menyatakan perlawanan terhadap kepemimpinan Zikir "Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf" dengan alasan tidak menepati janji, tidak mengurus anak yatim dan tidak mengimplementasikan perjanjian MoU Helsinky yang ditanda tangani tahun 2005 silam.
Share:

Banda Aceh Masuk Akal Dan Rencana Jam Malam

Saya sengaja memilih judul di atas. Sebab ketika saya menulis tulisan ini, judul di atas tengah menjadi salah satu hastaq di twitter yang sempat menjadi trending topic nasional (#BandaAcehMasukAkal). Semuanya berawal dari rencana pemerintah kota tentang pemberlakuan jam malam bagi perempuan. Ide ini dianggap tidak masuk akal di tengah deretan persoalan Banda Aceh yang belum juga berhasil diselesaikan.  Netizenpun meradang.

Dalam kicauannya mereka menyoroti banyak persoalan Banda Aceh yang seharusnya menjadi prioritas utama untuk diselesaikan. Mulai dari krisis air bersih, penerangan jalan, kemacetan, masalah sampah, kemiskinan, parkir liar hingga public transport. Meski harus diakui beberapa kicauan tampaknya tidak lagi relevan. Seperti salah satu netizen yang mempersoalkan letak dua pasar megah yang berada dekat dengan dua mesjid besar. Pemadaman listrik yang jelas-jelas bukan ranahnya pemko atau kicauan yang mempertanyakan mengapa hanya untuk acara zikir, pemko harus mengundang Ustad dari Jakarta, apakah Ustad dari Aceh tidak lagi mumpuni. Untuk masalah terakhir saya tidak tau netizen tersebut mengikuti zikir yang mana.
Share:

Penggerebekan & Jam Malam Bagi Putri Banda Aceh

Baru baru ini Kota Banda Aceh dihebohkan dengan aksi Walikota Banda Aceh Illiza Sa’adudin Djamal yang melakukan penggerebekan kebeberapa tempat hiburan malam didalam kawasan Banda Aceh, dalam sederetan aksinya malam itu, yang cukup mengejutkan dan menghebohkan adalah penggerebekan salah satu Toko Galeri Kafe dan Musik di kawasan Simpang Lima, Banda Aceh Sabtu Malam sekitar pukul 23. 30 Wib.

Penggerebekan yang dipimpin langsung oleh Walikota tersebut menghebohkan masyarakat, dalam waktu singkat masyarakat tumpah ribuan orang menyaksikan penggerebakan tersebut, (Lihat Video Penggerebekan) usai penggerebekan, media social juga kembali dihebohkan dengan berbagai statement atau argumentasi menyuarakan aspirasinya atas aksi yang dilakukan oleh Walikota tersebut.
Share:

Apakabar Syariat Islam ?

Kita boleh saja bangga, bahwa sebuah Negeri Aceh, yang kehidupannya di atur secara khusus dan tertuang dalam Undang Undang Pemerintah Aceh Nomor 11 tahun 2006, meski Aceh hanya sebuah provinsi, tapi kekhususannya membuat Provinsi ini berbeda dari pada provinsi lain, ada banyak perbedaan yang provinsi lain merasa iri hati untuk dapat menjadi seperti provinsi Aceh. Dalam UUPA Nomor 11 tahun 2006, ada banyak kekhususan yang mengatur tentang Aceh diantaranya masalah Lambang, Bendera, Pengelolaan Migas, Pemerintahan, Syariat Islam dan banyak lainnya, dimana provinsi lainnya tidak memiliki hal akan itu.
Share:

Sejarah Pembantaian Etnis Muslim Rohingya

Masyarakat dunia dibuat terperangah, di jaman modern ini masih terjadi pembunuhan besar-besaran terhadap sebuah etnis untuk dimusnahkan dari sebuah bangsa. Etnis yang paling teraniaya di dunia saat ini adalah Etnis Muslim Rohingya. Pembakaran perkampungan dan pengusiran mereka yang terjadi di Provinsi Rokhine, Burma, merupakan aksi yang tidak bisa dibiarkan oleh dunia internasional. Pembantaian terhadap 10 warga etnik Rohingya baru baru ini merupakan puncak perlakuan diskriminatif yang sudah lama berlangsung terhadap etnik Rohingya, yang beragama Islam.
Share:

Bom Atom Tak Mampu Meruntuhkan Mesjid Ini

Masjid Kobe, juga dikenal sebagai Masjid Muslim Kobe, didirikan pada bulan Oktober 1935 di Kobe dan merupakan masjid pertama di Jepang. Pembangunannya didanai oleh sumbangan dari Komite Islam Kobe dan dimulai sejak tahun 1928 hingga dibuka pada tahun 1935. Masjid ini sempat ditutup oleh Angkatan Laut Kekaisaran Jepang pada tahun 1943, tetapi sekarang sudah aktif dipakai kembali sebagai masjid. Karena memiliki ruang bawah tanah dan struktur bangunan yang kuat, masjid ini selamat dari bencana gempa bumi besar Hanshin pada tahun 1995.

Masjid ini terletak di distrik Kitano di Kobe. Arsitekturnya dibangun dalam gaya Turki tradisional oleh arsitek Ceko Jan Josef Švagr (1885-1969), seorang arsitek yang juga membangun sejumlah bangunan peribadatan Barat di seluruh Jepang.
Share:

Bentuk Provinsi Inong Aceh Dan Provinsi Agam Aceh

Baru baru ini tepatnya pada tanggal 02 Mei 2015 pada koran Harian Serambi Indonesia halaman pertama kita dihebohkan dengan sebuah Qanun yang baru saja disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Aceh Utara (DPRK Aceh Utara), munculnya Qanun tersebut menuai pro kontra dikalangan masyarakat, baik yang mendukung dan baik yang kurang setuju dengan Qanun tersebut, kedua pihak tersebut memiliki pendapat dan argumentasinya tersendiri. Qanun yang membahas tentang kemaslahatan dan ketertiban umum yang salah satu isinya mengatur pemisahan ruang belajar laki-laki dan perempuan mulai tingkat SMP sederajat hingga bangku kuliah. Pemisahan juga berlaku untuk pengunjung wanita dan pria pada objek-objek wisata yang ada di Aceh Utara.

Terlintas dibenak saya, jika hal itu benar benar dilakukan, maka tentu saja gedung gedung sekolah harus ditambah pembangunannya, tapi jika kemudian nanti penerapannya berkembang kekantor pemerintahan, maka tentu saja kantor kantor pemerintahan juga harus ditambah pembangunannya. Mengapa tidak Aceh kita pisahkan saja menjadi 2, ada Provinsi Inong Aceh dan ada Provinsi Agam Aceh. Jangan ada lagi perkembangan isu Provinsi Ala dan Provinsi Abas. Cukup dua Provinsi Saja yaitu Inong Aceh dan Agam Aceh, biar kita benar benar bersyariat secara fisik (cover), bukan isinya (manusianya).
Share:

Ulee Lheue Saksi Bisu Perjuangan Teuku Hasan

INI adalah cerita pahlawan Aceh yang namanya tidak seharum Teuku Umar, Panglima Polem, Cut Nyak Meutia, atau Cut Nyak Dhien. Namun perjuangannya di pesisir Aceh, tepatnya di Banda Aceh, cukup merepotkan Belanda. Namanya Teuku Hasan. Dia merupakan putra Teuku Paya, pejuang Aceh lainnya yang mengambil bagian memimpin pasukan di Pidie.

Teuku Hasan yang mendapat restu ayahnya mengambil bagian di Banda Aceh. Dia dipercaya mampu melakukan sabotase terhadap tangsi atau bivak Belanda di Ulee Lheue.
Share:

Legenda Gua Aulia 7 Yang Tembus Ke Mekkah

Pada suatu masa di tanah Aceh, tersebutlah tujuh pemuda yang berniat menunaikan ibadah haji ke Makkah. Tapi mereka sama sekali tak punya uang untuk mengongkosi perjalanan itu. Ketujuh pemuda itu pun kemudian berembuk.

“Wahai saudaraku, apa kalian punya ide bagaimana caranya agar kita bisa sampai ke Makkah?” tanya salah satu dari pemuda itu kepada rekan-rekannya. Lama tak ada yang menjawab. Semua diam seribu bahasa. Dan, pada akhirnya pemuda tadipun mengusulkan, “Bagaimana kalau kita pergi ke bandar, tempat berlabuhnya kapal yang akan mengangkut jamaah haji.”
Share:

Perang Cumbok, Fase Kemerdekaan Sejati Rakyat Aceh

GAUNG kemerdekaan Republik Indonesia menggelora dimana-mana. Rakyat Aceh menyambut gembira setelah penantian lama yang dicita-citakan. Pekik Merdeka terdengar hingga ke pelosok perkampungan. Bendera Merah Putih berkibar dengan gagahnya. Sang saka kian mempesona tatkala angin bertiup mengibasnya. Penjajah Jepang hengkang, kolonial Belanda pun telah lama menghilang. Aceh bebas, rakyatnya kini merdeka.

Tapi, kegembiraan rakyat Aceh ini disambut dingin oleh raja-raja kecil aliasUleebalang. Penguasa feodal yang telah lama mendapatkan keistimewaan semasa kolonial Belanda masih mencengkeram. Mereka was-was dengan apa yang sedang terjadi. Khawatir atas kekuasaan absolutnya yang segera akan berakhir. Sikap tidak senang terhadap realita kemerdekaan Indonesia dari Belanda, jelas-jelas diperlihatkan oleh penguasa feodal, yang sebagian besar pro kolonial. Salah satunya datang dari Teuku Muhammad Daud Cumbok atau juga disebut Teuku Daud Cumbok. Rakyat Aceh masa itu menyebutnya sebagai ampon/pon (panggilanuntuk Teuku) Cumbok.
Share:

Hasan Tiro Dan Daulat Aceh

Nama besar pemimpin tertinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Hasan Tiro (1925-2010) bagi masyarakat Aceh adalah seorang “wali”. Semasa hidupnya, Hasan Tori tergolong sebagai intelektual Aceh dan pribadi yang gigih berjuang demi sebuah kesejahteraan. Kemerdekaan bagi Hasan Tiro sebagai upaya untuk membawa rakyat Aceh untuk terlepas dari campur tangan ‘bangsa luar”. Aceh perlu berdaulat untuk menemukan sekaligus menentukan diri sebagai sebuah bangsa yang bermartabat di mata dunia.

Lewat penelitian selama 14 tahun tentang jejak Hasan Tiro dan GAM, penulis muda Murizal Hamzah mampu melahirkan sebuah buku sejarah. Buku ini menjadi penting karena mengupas secara detail tentang kiprah Hasan Tiro. Mulai dari lahir hingga berpulang kepangkuan Illahi.
Share:

Mengungkit Jejak Suku Mante Di Aceh

Keberadaan suku Mante di pedalaman hutan-hutan Aceh memang telah menjadi isu yang sangat-sangat lama. Karena saking begitu lama hingga menjadi mitos atau isapan jempol di masyarakat Aceh saat ini, perbincangan suku ‘mistis’ ini hanya sempat populer di beberapa era baik masa raja-raja Kerajaan Aceh Darussalam dan juga masa penjajahan Belanda.

Ada sebagian orang yang menyebutnya dengan istilah kata Mante. Istilah ini sempat diperkenalkan oleh orientalis Belanda, Snouck Hurgronje. Ada juga yang menyebut dengan nama Bante. Sedangkan sebutan lainnya Aneuk Coh-coh (warga Pidie) seperti yang pernah dimuat dalam Harian Waspada secara berseri pada bulan Oktober 2012 lalu.

Beberapa kliping dari Harian Waspada tentang suku Mante masih saya simpan hingga kini. Dalam tulisan di harian tersebut, keberadaan suku Mante sempat dipertanyakan, namun fakta dari sejumlah temuan warga, baik yang pernah disebutkan di daerah pedalaman hutan belantara Pidie membuktikan bahwa populasi dari suku ini kemungkinan besar sangat tipis.

Selain di Harian Waspada, dua tahun silam ini tentu kita bisa melihat kembali atau kroscek kembali beberapa puluh tahun silam. Pada Harian Kompas (18 Desember 1987) yang pernah menurunkan berita keberadaan suku Mante di daerah pedalaman Aceh.

Jika sebagian masyarakat di Aceh Besar sempat menyebutkan bahwa keberadaan suku Mante ada di pedalaman hutan belantara, hal ini mendasar dari apa yang pernah dituliskan oleh Snouck dalam buku “De Atjehers”, walaupun dia tidak pernah melihat sendiri melainkan hanya dari omongan warga.

Tidak hanya itu, buku “Aceh Sepanjang Abad” dari Mohammad Said juga pernah menyebutkan suku Mante ini sebangsa keturunan dari orang-orang asli di Malaysia.

Hal tersebut diperkuat dari catatan James A. Matisoft yang diketahui bahwa orang asli di Malaysia telah bermigrasi setidaknya sejak 6.000 tahun yang lalu. Sementara, maksud dari orang asli ini menurut Paul Sidewell termasuk dalam bangsa Mon-Khmer. Dan telah terbukti sekarang bahwa banyak kata-kata bahasa Aceh yang termasuk dalam rumpun bahasa Mon-Khmer.

PENGAKUAN WARGA TENTANG SUKU MANTE
Mante dikenal sebagai kelompok masyarakat yang berkelana dari hutan ke hutan daerah pedalaman atau pegunungan di Aceh Tenggara dan Aceh Tengah, jika merunut penuturan lainnya juga berada di daerah Pidie sekitaran Tangse. Masyarakat suku terasing ini nampaknya masih bertahan di kawasan hutan belukar sampai sekarang.

Dari sekian banyak pengakuan tentang keberadaan suku Mante ini sering dituturkan oleh pawang hutan, dan anggota GAM yang pernah tinggal di hutan, tidak sedikit juga para mahasiswa pecinta alam yang melakukan ekspedi ke gunung-gunung di Aceh juga bertemu dengan kelompok orang-orang yang disebut mempunyai postur tubuh kecil tersebut.

“Semula saya masih agak ragu, apa mereka benar-benar orang Mante, maka saya tak berani mengungkapkannya,” kata Gusnar Effendy (72) seperti pernah dimuat Harian Kompas tahun 1987 silam. Tetapi setelah ia beberapa kali berjumpa dengan rombongan suku tersebut, ia semakin yakin bahwa keberadaan suku yang pernah “hilang” ini benar-benar bukan khayalan.

Menurut Gusnar waktu itu, kelompok atau suku Mante yang ditemukannya hidup di belantara pedalaman Lokop, Kabupaten Aceh Timur. Kecuali itu Gusnar juga pernah berjumpa dengan mereka di hutan-hutan Oneng, Pintu Rimba, Rikit Gaib di Kabu¬paten Aceh Tengah dan Aceh Tenggara. “Umumnya, tinggal di gua-gua celah gunung. Kalau siang hari berada di alur-alur sungai dalam lembah,” katanya.

Gua yang dijadikan tempat tinggal kelom¬pok terasing ini dinamakah Gua Beye, Jambur Atang, Jambur Ketibung, Jambur Ratu dan Jambur Simpang.

Sejarawan Aceh, Prof Ibrahim Alfian, pernah menyebutkan dalam Kamus Gayo-Belanda susunan Dr GAJ Hazen, terbit tahun 1907, istilah Mante digunakan untuk sekelompok masyarakat liar yang tinggal di hutan. Sementara pada Kamus Gayo-Indonesia tulisan antropolog Nelalatoa, panggilan Mante juga disebutkan untuk memberi nama kelompok suku terasing setempat.

Ciri suku Mante menurut Abu Dahlan Tanoh Abee yang diceritakan oleh Teuku Anwar Amir, berkulit coklat dengan postur tubuh sekitar 150-an centi meter serta memakai gelang di leher, dan anting pemberat di telinga.

SUKU MANTE DAN KERUSAKAN HUTAN
Kerusakan hutan di Aceh yang merajalela telah membuat banyak bencana hadir, tidak saja berdampak pada rusaknya lingkungan, melainkan juga merusak hubungan antara makhluk hidup di hutan sana. Tidak jarang gajah, harimau, dan sejumlah binatang lain harus mengungsi ke pemukiman warga.

Hal ini pula yang bisa mempengaruhi tentang keberadaan suku Mante, kelompok yang hidup di hutan pedalaman juga akan mengalami krisis yang serupa. Jika sejumlah pemaparan dan temuan telah didapatkan oleh masyarakat setempat, bukan hal aneh jika para peneliti turun ke hutan-hutan pedalaman untuk menemukan mereka dan menjalin kontak atau hubungan.

Kelangsungan hidup suku Mante tentu menjadi tanggung jawab bersama, kalau saja bisa ditemukan seperti suku-suku pedalaman lainnya di Indonesia tentu akan banyak informasi di dapat. “Jika betul ditemukan keberadaan masyarakat Mante, itu sebuah berita besar. Semua pihak harus ikut turun tangan,” kata Prof Dr Ibrahim Alfian.

Penemuan lainnya yang bisa dibilang mirip dengan suku Mante ini, pernah ditemukan di daerah Jambi, Palembang, dan Lampung, dimana masyarakat disana mengenal dengan sebutan ‘orang pendek‘, ditemukan bekas kakinya di daerah pedalaman hutan.

Dari sejumlah paparan yang telah dijelaskan dan berita yang pernah dipublikasi beberapa puluh tahun lalu, maka bisa dilihat penyebaran suku Mante ini sejak dulu ada di pedalaman hutan Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Timur, dan Pidie. Tidak menutup kemungkinan, perpindahan dan tidak menetap (no maden) dari kelompok Mante ini bisa saja sudah menyebar ke daerah-daerah Aceh lainnya.

Namun, pertanyaan sekarang masih adakah mereka ditengah kelestarian hutan Aceh yang tidak lagi kondusif ini. Bagaimana dengan kepedulian kita saat ini untuk memanusiakan sesama manusia? Apakah dengan mengungkit kembali suku Mante ini hanya perkara yang lalu begitu saja dan setelah itu hilang kembali di permukaan.

Tentu saja ini bukan perkara yang mudah untuk kita selesaikan, jika peran masyarakat dan juga instansi serta pihak-pihak terkait belum begitu sadar dan mau ikut sama-sama memberikan andil untuk mencari sosok sekelompok manusia yang pernah disebut-sebut nenek moyang bangsa Aceh. Wallahu’alam. || acehkita.com


Penulis adalah AULIA FITRI atau aulia87.wordpress.com.
Share:

Arsip Blog

Tulisan Lainnya