Kehidupan Dan Perjuangan Hasan Tiro

Suatu hari pada September 1998, di pertengahan musim gugur, seorang lelaki muda keluar dari lambung pesawat yang baru mendarat di bandara Arlanda, Stockholm, Swedia. Lelaki berperawakan kecil dan berkulit putih itu baru saja tiba dari Malaysia. Muzakir Abdul Hamid, lelaki itu, adalah salah satu pemuda Aceh yang mendapat suaka politik ke Swedia dari UNHCR, lembaga PBB yang menangani urusan pengungsi.

Mereka dikejar-kejar pemerintah Malaysia karena menjadikan negara itu sebagai basis gerakan baru setelah diburu tentara di Aceh. Sempat menetap di luar kota Stockholm, pada tahun 2000 ia pindah ke pusat kota. Tinggal di sebuah rumah yang berjarak 15 kilometer dari rumah Hasan Tiro, sejak itu Muzakir menghabiskan hari-harinya bersama wali nanggroe.

Sebelas tahun menemani Hasan Tiro sebagai staf khusus, ia merekam banyak hal tentang keseharian Wali. Setiap hari, Hasan Tiro memulai hari dengan menganyuh sepeda fitness di apartemennya. Usai mandi, Wali memulai sarapan sambil membaca koran Internasional Herald Tribune langganannya dan berlanjut dengan menonton saluran televisi berita internasional seperti CNN dan BBC.

Setelah itu, dengan berpakaian rapi setelan lengkap, barulah ia menuju meja kerjanya. Di waktu senggang, Hasan Tiro menikmati lantunan musik klasik semisal gubahan Johann Sebastian Bach, Beethoven. Muzakir mengenangnya sebagai pribadi yang bersahaja. Saking bersahajanya, seluruh perabotan di apartemennya, termasuk sebuah televisi tua, tak pernah berganti.

Pernah Muzakir dan Dokter Zaini pernah mencoba menawarkan untuk menggantinya dengan perabotan baru. “Tapi beliau diam saja, tidak menjawab. Kalau sudah begitu, kita pasti tidak berani bertanya lagi,” ujar Muzakir.

Di mata Muzakir, Hasan Tiro tak hanya teguh pendirian, namun juga memperhatikan sesuatu sedetail mungkin. Sampai-sampai, dekorasi rumahnya pun ditata sendiri. “Beliau memperhatikan sesuatu secara detail. Bahkan terkadang lebih halus dari perempuan,” ujar Muzakir.

Hasan Tiro adalah seorang lelaki yang perfeksionis hingga akhir hayatnya. Muzakir ingat benar ketika suatu hari ia diminta mengetik surat untuk dikirimkan kepada beberapa lembaga asing untuk mengkampanyekan perjuangan Aceh. Ternyata, dari sejumlah kalimat yang disusun, ada satu kata yang kelebihan huruf. “Saya lupa kata-kata persisnya, tapi karena satu huruf yang salah itu, saya harus mengetik ulang surat itu,” ujar Muzakir.

Begitu pula soal kerapian. Di lain waktu, Muzakir kebagian tugas menjilid kumpulan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan Aceh. Usai dijilid, Muzakir lantas menyerahkan dokumen itu kepada Wali. Usai membolak-balik, Hasan Tiro mengembalikannya sambil berujar,”jilid ulang, ini tidak benar.” Selidik punya selidik, rupanya salah satu halaman kumpulan dokumen itu dijilid dengan posisi agak miring. Akhirnya, dokumen itu pun dibongkar dan jilid ulang.

Masih ada cerita lain soal kerapian. Ketika perundingan Jenewa tahun 2002 lalu, Hasan Tiro datang ke sana memantau jalannya perundingan. Salah seorang delegasi yang datang dari Aceh membuatnya naik darah. Gara-garanya, sang anggota delegasi tidak memakai dasi dalam pertemuan formal di meja perundingan. Wali pun langsung menarik kerah baju si anggota delegasi itu.

“Nyoe han jeuet lagee nyoe, tanyoe ureueng Aceh harus ta kalon pakiban adat berhubungan dengan ureueng luwa (ini tidak boleh begini, kita orang Aceh harus melihat dan mengetahui bagaimana adat berhubungan dengan orang luar),” hardik Hasan Tiro kepada delegasi dari Aceh itu.

Hubungan dengan dunia luar memang mendapat perhatian khusus dari Hasan Tiro. Itu sebabnya, kepada setiap tamu yang datang dari Aceh, ia selalu menekankan pentingnya menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Logikanya, tak mungkin membangun hubungan dengan dunia luar jika soal bahasa saja tak dikuasai. Tak heran, kalau ada tamu yang datang biasanya dites dulu untuk membaca tulisan dalam Bahasa Inggris.

Pernah suatu ketika datang orang dari Aceh dan mengaku bisa bahasa Inggris. Tapi, ternyata, setelah dites, dia membaca dengan tersendat-sendat. “Wali langsung mengangkat kacamata dan menatapnya lekat-lekat sebagai bentuk protes,” kenang Muzakir.

Hasan Tiro juga dikenal tegas dan punya disiplin tinggi. Untuk memompa semangat pengikutnya, terkadang Wali harus menunjukkan sikap tak pilih kasih. Ada satu kejadian yang masih dikenang Muzakir saat ikut pelatihan militer di Libya pada 1990.

Ketika itu, rupanya peserta pelatihan tidak tahan dengan kerasnya didikan di kamp Tajura. Lalu, beredarlah desas-desus sebagian peserta pelatihan berniat pulang kampung. Kabar itu sampai ke telinga Hasan Tiro, maka murkalah dia.

Malamnya, seluruh peserta pelatihan dikumpulkan. Beliau lalu berpidato sambil menjatuhkan sebilah rencong di tangannya

“Lon deungo na yang meuneuk woe gampong. Boh manok kom mandum gata nyoe. Soe kirem boh manok kom keunoe (saya dengar ada yang mau pulang kampung. Telur busuk anda semua. Siapa yang mengirim telur busuk ke sini),” ujar Hasan Tiro dengan nada tinggi. Hening. Semua terdiam sambil menundukkan kepala. Rencana pulang pun batal.

Soal kebiasaannya membawa rencong, menurut Muzakir, adalah cara Hasan Tiro menjaga semangat. Di lain waktu, jika sedang meradang, Tengku Hasan akan mengambil rencong lalu menaruhnya di meja. “Tujuannya untuk menaikkan semangat. Karena semangatlah yang menentukan maju mundurnya sebuah bangsa”

Hasan Tiro juga kerap meradang jika kerjaan stafnya tak sesuai harapan. Namun, hm... rupanya Muzakir dan sejumlah keluarga Aceh di Swedia menyimpan kiat untuk menjinakkan amarah Wali. Caranya, ketika melihat wajah Wali sedang tegang, mereka buru-buru pulang ke rumah. Sesaat kemudian sudah balik lagi sambil menggendong anak kecil. Dan, ketika melihat bocah wajah Wali yang masam menjadu manis.

Lalu Hasan Tiro larut dalam candaan bersama anak kecil. “Mungkin beliau teringat anak dan cucunya yang berpisah sejak kecil,” ujar Muzakir sambil tersenyum.

Kita tahu, ketika memutuskan pulang ke Aceh untuk angkat senjata pada Oktober 1976, Hasan Tiro meninggalkan istri dan anak semata wayangnya Karim Tiro yang masih berusia enam tahun di Amerika Serikat. Ia memilih naik gunung dan mendeklarasikan Aceh Merdeka pada 4 Desember 1976.

Keluar masuk hutan sejak kurun 30 Oktober 1976, dia hengkang ke Malaysia pada 29 Maret 1979. Sempat singgah di sejumlah negara, ia mendapat suaka politik di Swedia. Di negara Skandinavia ini juga dia mengantong kewarganegaraan.

Pengalaman tiga tahun di belantara Aceh dituangkannya dalam buku catatan harian berjudul The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Hasan Tiro. Sejak itu, Hasan Tiro membentuk pemerintahan di pengasingan.

Sebagai Presiden ASNLF (Aceh Sumatra National Liberation Front), dia melanjutkan perjuangan dari Norsborg, Stockholm, hingga akhirnya memutuskan berdamai dengan pemerintah Indonesia pada 15 Agustus 2005.

Banyak pihak yang tak percaya dengan keputusan itu. Tak sedikit pula yang menduga keputusan berdamai bukan datang dari Hasan Tiro melainkan dari Mentroe Malik dan Dokter Zaini.

Kecurigaan itu terbantahkan ketika Wali Nanggroe akhirnya memutuskan pulang ke Aceh pada 11 Oktober 2008. Di halaman masjid Raya Banda Aceh, Hasan Tiro meminta masyarakat Aceh menjaga perdamaian yang telah dicapai demi masa depan rakyat Aceh.

Pada 3 Juni 2011, Tengku Hasan Tiro meninggal dunia. Ia ikon perlawanan sekaligus perdamaian Aceh. Terlepas dari benar tidaknya yang diperjuangkan, ia adalah putra Aceh yang melegenda. Meninggal dalam usia 84 tahun, ia tidak hanya dikenal kalangan tua, tapi juga generasi muda.

Jangan lupakan sejarah. Itulah pesan Tengku Hasan Tiro ketika pulang ke Aceh pada Oktober 2008. Jauh sebelumnya, pesan serupa juga bergema dalam dinginnya musim salju di Stockholm, juga dalam terik matahari di kamp pelatihan militer Tajura, Tripoli, Libya. Di kedua tempat itu, Hasan pernah menghabiskan sebagian usianya.

Bagi Hasan Tiro, sejarah adalah warisan pendahulu yang wajib dipelajari dan diamalkan. Tak heran, gemilang Aceh masa silam pula yang merasuki dirinya sehingga mempelopori sebuah gerakan pembebasan.

“Sejarah kita seperti buku bank. Dari sana kita tahu berapa harga pusaka yang ditinggalkan nenek moyang kita,” ujarnya saat membahani sejumlah anak muda Aceh di Libya dalam satu sesi yang disebutnya Pendidikan Aceh.

Bagi Aceh, Hasan Tiro adalah sejarah itu sendiri. Ia melalui, bahkan menciptakan tahapan-tahapan sejarah Aceh paska Indonesia merdeka: dari zaman Presiden Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono.

Gerakan pembebasan yang dipeloporinya membawa pengaruh besar bagi Aceh. Menggelorakan semangat perlawanan di usia muda, ia memutuskan berdamai di usia senja. Dalam rentang 30 tahun perjuangan, ia keliling dunia dengan membawa bendera pembebasan Aceh. Sampai pada suatu ketika, mata dunia pun tertuju ke Aceh.

Hasilnya, Aceh kini menikmati masa-masa pelimpahan wewenang yang cukup besar untuk mengatur diri sendiri lewat Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani di Helsinki pada 2005 lalu. Dari perjanjian inilah lahir Undang-Undang Pemerintahan Aceh yang menyepakati pembagian hasil migas 70 : 30 persen bagi Aceh.

Memang, seperti ditulis dalam Price of Freedom, salah satu bukunya yang termasyur itu, selalu ada harga yang harus dibayar untuk mencapai sebuah tujuan. Lelaki yang teguh hati itu mengorbankan diri dan keluarganya untuk membentuk apa yang disebutnya nasionalisme Aceh. Bahkan, ketika menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh, ia pergi dalam sunyi: tanpa didampingi istri dan anak satu-satunya Karim Tiro. Hampir dalam setiap kesempatan, ia menanamkan rasa cinta mendalam kepada Aceh lewat sejarah-sejarah perjuangan masa lalu. Dari sanalah, ia memperkenalkan jati diri Aceh

Cornelis Van Dijk, sejarawan asal Rotterdam, Belanda menyebut Hasan Tiro disebut sebagai seorang yang memiliki inteligen tinggi, berpendidikan baik, yang diberkahi dengan kombinasi yang jarang terdapat pada orang kebanyakan, yakni pesona dan keteguhan hati (Burham: 1961).

Hasan Tiro adalah pahlawan Aceh kontemporer. Muncul dari keluarga pejuang Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman, Hasan mengenyam pendidikan tinggi hingga ke Amerika Serikat, berkecukupan secara ekonomi dan memiliki relasi luas di luar negeri. | Aceh Dalam Sejarah dan Iqbal Jafar Aneuk Pasee
Share: