Tri Juanda Dan Isu Lembagaisme

Usai ditangkap oleh Polres Lhokseumawe nama Tri Juanda mendadak terkenal di kalangan aktivis dan para organisatoris terutama dikalangan mahasiswa, dukungan dan aksi simpatik terus dilakukan melalui broadcast blackberry masengger, namun dukungan demi dukungan yang terus mengalir dan adanya aksi (kecil) yang diberi nama “Save Tri Juanda” “Gerakan Menjemput Tri Juanda” tidak mampu membuat Tri Juanda berhasil untuk menghirup udara segar dan keluar dari balik jeruji besi tersebut. Tri Juanda ditangkap usai melakukan Unjuk rasa menuntut pemerintah dan PT Pertamina merealisasikan resettlement (pemukiman baru) untuk 542 KK warga eks Blang Lancang dan Rancong, Lhokseumawe, yang digusur ketika pembangunan Kilang LNG Arun tahun 1974 dengan sangkaan menghasut dan merusak pagar kompleks perumahan PT Arun saat unjuk rasa pada 27 Oktober lalu dan dijerat pasal 160 KUHP dan pasal 170 KUHP.

Berbagai kecaman dilakukan oleh aktivis mahasiswa terutama dari kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang dimana Tri Juanda merupakan salah satu kader HMI. Jadilah kasus tersebut seolah olah terlihat sebagai kasus kader HMI, sedangkan dari lembaga lembaga lain mulai enggan untuk merespon penangkapan Tri Juanda yang dilakukan oleh Polres Lhokseumawe, banyaknya kecaman yang dilakukan oleh para kader HMI seluruh Aceh melalui media juga merupakan salah satu alasan ke engganannya para lembaga lain untuk ikut campur dalam mendukung aksi pembebasan Tri Juanda.

Seandainya isu itu dibuat lain tentu saya berpendapat akan lain ceritanya, kita dapat melihat bagaimana respon para mahasiswa terhadap penangkapan Tri Juanda oleh Polres Lhokseumawe, dari berbagai aksi yang dilakukan menuntut pembebasan Tri Juanda hanya direspon oleh segelintir mahasiswa, tidak ada gerakan mahasiswa yang massif untuk merespon permasalahan tersebut.

Tentunya penangkapan Tri Juanda oleh pihak kepolisian menandakan bahwa gerakan mahasiswa dalam menuntut keadilan terancam dikangkangi oleh kepolisian, apalagi jika penangkapan tersebut tidak mampu membuat mahasiswa bersatu (massif) memperlihatkan kekuatan gerakan solidnya, bahwa mahasiswa masih ada dan bersatu untuk menuntut keadilan dari kesewenang-wenangan kepolisian.

Penangkapan Tri Juanda oleh pihak kepolisian tidak boleh dijadikan masalah HMI, tapi harus dijadikan masalah mahasiswa secara menyeluruh, atribut hitam, kuning, merah, hijau, biru semuanya harus ditinggalkan dan buktikan bahwa mahasiswa masih bersatu dalam mengawal proses demokrasi yang sudah berlangsung lama di Negeri tercinta ini.

Kemudian kecaman yang dilakukan melalui media juga tidak boleh didominasi oleh salah satu lembaga, apalagi jika kita membaca beritanya yang menyimpulkan bahwa ini persoalan kader HMI yang ditangkap, maka masalah yang muncul adalah keengganan lembaga lain untuk ikut campur terhadap gerakan tersebut.

Sepanjang sejarah gerakan mahasiswa, mahasiswa tidak pernah akan solid dan bersatu melakukan gerakan sosialnya jika permasalahan yang muncul bukanlah sebagai permasalahan bersama, kekuatan lembaga yang sering ditonjolkan merupakan factor utama tidak solidnya mahasiswa dalam melakukan gerakan social, apalagi adanya persaingan antar lembaga. Tapi jika kemudian isu yang terjadi adalah isu bersama, maka mahasiswa akan kembali solid dan bersatu untuk melakukan gerakan socialnya.

Ini sudah menjadi tradisi, disamping aksi social, mahasiswa yang terdiri dari berbagai organisasi, kelompok dan warna bendera saling menonjolkan kekuatannya masing masing serta berlomba lomba untuk menjadikan organisasinya sebagai organisasi terbaik. Maka dari itu, kasus Tri Juanda harus terlepas dari atribut organisasi dan harus menjadi kasus bersama agar proses demokrasi yang sudah berjalan tidak dikangkangi.

Maaf…!!!
Ini adalah pendapat pribadi dan tidak bermaksud untuk menjelekkan lembaga manapun, yang saya dianalisa dan pahami dari berbagai bacaan, baik melalui berita, blackberry masengger dan pesan singkat. Jika ada yang tidak setuju itu adalah hak para pembaca.

Mari berkarya…
Salam demokrasi….
Share: