Belajar Politik Pada SBY

SBY sukses menjadi king maker strategi politik pencitraan, dalam sejarah kepemimpinannya selama 10 tahun SBY dikenal sebagai presiden bijak, meskipun akhirnya kebijakannya tercium sebagai gaya abu abu, dia selalu mengandalkan gaya politiknya seperti itu, keputusan yang lambat dan ragu ragu dan memposisikan diri pada posisi aman ketika kebijakan dilanda kontroversi dan dilanda konflik di masyarakat. Sosok SBY yang selalu bermain pada posisi aman, membuat elektabilitasnya susah merosot, gaya cantik strategi bermain dua kaki SBY tidak mampu dibaca oleh masyarakat awam, seolah olah SBY lah yang paling mengerti persoalan masyarakat. Meskipun gaya kepeminpinannya ini mulai dikritik keras oleh masyarakat yang mulai mencium strategi politik SBY.

SBY memang tergolong sebagai presiden yang tidak tahan dikritik, sehingga jika ada timbul gejolak di masyarakat yang menghujat SBY, dia selalu mengeluarkan keputusan yang akhirnya masyarakat kembali memujinya, mungkin bisa disebut inilah kelebihan SBY dibandingkan politikus lainnya. Kehebohan terbaru adalah pasca keputusan DPR yang mayoritas dikuasai oleh koalisi merah putih (Prabowo) mengesahkan UU tentang Pilkada melalui DPRD melawan koalisi Indonesia Hebat (Jokowi) yang mendukung Pilkada langsung, padahal keputusan pilkada langsung atau pilkada melalui DPRD adalah berada ditangan Fraksi Demokrat, karena jumlah kursi Fraksi Demokrat yang mayoritas DPR periode 2009-2014. Jika Demokrat memutuskan mendukung pilkada langsung maka dipastikan akan menang, meskipun koalisi Indonesia hebat telah menyetujui 10 syarat yang diajukan secara tiba tiba oleh Demorkat, tapi faktanya Demokrat mengambil keputuaan Walk Out dari voting yang sedang dilakukan, hingga akhirnya koalisi Merah putih menang telak terhadap keputusan UU pilkada melalui DPRD.

Anehnya, pasca keputusan walk out, SBY yang lagi lagi sedang berada di luar negeri mengeluarkan pernyataan bahwa ia kecewa dan tidak mengetahui keputusan Fraksi demokrat yang memilih walk out dan berjanji akan menggugat UU tersebut dan mengeluarkan Perpu. Pernyataan aneh itu, menjadi tanda Tanya dimasyarakat, benarkah SBY tidak mengetahui rencana walk out dari fraksi Demokrat, masyarakat awam pasti bisa saja percaya, tapi jika kita mempelajari system partai politik, maka sulit dipercayai keputusan walk out fraksi Demokrat tanpa sepengetahuan SBY, apalagi melihat jabatan SBY di Demokrat sebagai ketua umum sekaligus orang yang paling dihargai oleh kader Demokrat.  Akhirnya SBY kembali bermain scenario cantiknya, yaitu memberi harapan baru kepada masyarakat dengan mengeluarkan perpu, memang seperti itulah scenario politik SBY yang dimainkan selama 10 tahun belakangan ini.

Akhirnya masyarakat saat ini mulai menyalahkan Megawati sebagai ketua umum PDIP, Megawati memang dikenal berkonflik dengan SBY, akibat konfliknya dengan SBY 10 tahun yang lalu, Megawati saat ini dikenal bermain kaku dan pendedam akibat tidak mau berkomunikasi dengan SBY, apakah ini scenario yang dimainkan SBY untuk membalas dendamnya pada Megawati atau memang Megawati yang dendam terhadap SBY, sehingga memang benar Megawati tidak akan menjalin komunikasi atau islah dengan SBY. Hanya mereka berdua yang tahu kejadian dan scenario yang sebenarnya.

Politikus wajib belajar marketing politik SBY yang selalu bermain cantik ini, berkat kesuksesannya menjaga publisitas dirinya SBY masih dikenal sebagai presiden idaman masayarakat, bahkan banyak masyarakat yang tidak tahu bahwa SBY pandai dalam membuat scenario politik pencitraan untuk dirinya. Kita tidak pernah lupa bagaimana kisah SBY bisa terpilih sebagai presiden pada 10 tahun yang lalu, dia tampil secara tiba tiba dan menjadi perbicangan hangat masyarakat dengan scenario “orang tertindas”. Sehingga masyarakat bersimpati terhadap dirinya.

Sampai kapan, karir politik SBY akan bertahan dengan scenario seperti itu, waktu akan menjawab semuanya.
Share: