• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Politik Bunglon Prabowo Dan Gagasan Jokowi

Pemilihan Presiden telah usai pada 09 Juli 2014 yang lalu, ketegangan politik pelan pelan mulai mencair, dari yang sebelumnya kita ketahui bahwa suhu politik yang tinggi telah mencemaskan banyak masyarakat untuk beraktifitas, sebelum pilpres digelar berbagai isu negatif beredar marak di masyarakat, mulai dari black campaign dan negatif campaign terhadap kedua pasangan capres dan cawapres ini sampai terhadap isu kerusuhan yang akan terjadi. Namun meski banjir terhadap isu black campaign dan negatif campaign, masyarakat telah menentukan pilihannya untuk menjadi Presiden Republik Indonesia untuk 5 tahun mendatang, pertarungan tersebut dimenangkan oleh Jokowi Jusuf Kalla yang mengalahkan rivalnya dengan selisih sedikit suara yaitu berkisar 8juta suara.
Share:

Aceh Dengan Indetitas Syariat Buta


Masyarakat Aceh telah krisis identitas, orang tua kita zaman dulu menyebutnya bèh-bèh kada, membuang identitas keasliannya untuk sesuatu yang palsu. Aceh hari ini adalah Aceh sunôh kada, berprilaku bukan pada kadar dirinya, begitulah sebut Murthalamuddin Kepala Biro Humas Pemerintah Aceh dan mantan jurnalis yang saya kutip dalam website acehindependent.com, melihat fenomena nyata dalam kehidupan bersosial di masyarakat Aceh memang harus kita akui bahwa benar adanya Aceh telah kehilangan indetitasnya oleh sebab perilaku yang telah melenceng dari sejarah kehidupan masyarakat Aceh itu sendiri.


Lebih lanjut sebut Murthalamuddin Pada masa lalu orang Aceh sangat mandiri. Mengemis atau meminta sesuatu kepada orang lain adalah sesuatu yang dianggap hina. Sebuah penghinaan bagi diri sendiri bila itu dilakukan, karena itu pula, masyarakat Aceh zaman dahulu merupakan para pekerja keras, yang dengan itu ia hidup dan menghidupi keluarganya. Masyarakat Aceh masa lalu adalah masyarakat yang berdiri di atas kakinya sendiri, tidak bersandar pada pijakan orang lain. Masyarakat yang benar-benar mandiri.

Bandingkan dengan saat ini, tak usah jauh jauh untuk membandingkan bahwa fenomena saat ini masyarakat Aceh telah melenceng jauh dari apa yang Murthalamuddin sebutkan di atas, silahkan anda meluangkan waktu sekitar 2 jam di warung kopi, lalu kemudian hitunglah berapa jumlah para pengemis yang datang ke anda untuk meminta sumbangan, sungguh sebuah fenomena yang sebenarnya sangat memalukan bagi jati diri bangsa Aceh, apalagi melihat bahwa banyak pengemis yang kelihatan dalam keadaan baik dan berbadan sehat tanpa kekurangan fisik, tapi mereka dengan percaya diri melakukan aksi mengemis.

Kemudian lebih lanjutnya lagi adalah kehidupan sosial dimasyarakat, budaya gotong royong dan saling membantu yang kian terkikis, budaya mengumpat dan arogansi kelompok yang makin mengkhawatirkan, sehingga menghalalkan segala cara baik itu dengan mengatasnamakan agama. Fenomena ini sadar atau tidak sadar telah mencoreng indetitas ke Acehan kita sendiri di hadapan masyarakat luar yang mengenal Aceh sebagai bangsa yang santun dan bersyariat.

Masyarakat Aceh mengecam siapapun yang melakukan penghambatan terhadap penegakan syariat islam di Aceh, tapi masyarakat Aceh sendiri jauh berperilaku dan menyimpang dari aturan syariat islam itu sendiri, kekerasan atas nama agama begitu marak terjadi di Aceh, bahkan sebagian masyarakat dengan bangga melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan agama, kemudian budaya mengumpat, fitnah, penghakiman masa dan berbagai hal lainnya juga semakin marak dan berkembang di Aceh dengan subur, padahal hal hal seperti itu tidak dibenarkan dalam agama yang mayoritas masyarakat Aceh anut.

Dalam pertarungan politik masyarakat Aceh juga begitu mudah menuduh orang lain dengan kata “kafir”  atau orang sesat, padahal dalam islam hal seperti itu dilarang keras “Barangsiapa memanggil atau menyebut seorang itu kafir atau musuh Allah padahal sebenarnya bukan demikian, maka ucapannya itu akan kembali kepada orang yang mengatakan [menuduh] itu.” (H.R. Bukhari) 

Fenomena fenomena karakter jauh dari konteks ke Acehan begitu mudah kita temukan dalam kehidupan bermasyarakat di Aceh, bahkan fenomena seperti itu semakin tumbuh menjamur menjadi kehidupan dan karakter masyarakat Aceh masa kini.

Generasi lama telah hilang, kini tumbuh generasi baru, dengan indetitas baru pula. Aceh modern bersyariat, tapi syariat buta
Share: