• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Politik : Dia Kafir

Kalau melihat politikus yang bernaung dibawah Partai yang ngakunya ber ideologi Islam itu miris sekali, mereka hanya Politikus Agama bukan Politikus Agamais. Miris seh se akan akan Agama itu hanyalah barang yang harus dijual kepada masyarakat ketika menjelang pemilu saja, kelakuan politikus Agama memang tidak dilarang dalam konsitusi kita di Indonesia, tapi sayangnya mereka hanya menjual Agama untuk memuaskan hasrat mereka dalam menduduki tahta di pemerintahan, setelah itu habislah jualan itu untuk masyarakat.
Share:

Politik Peu Broek Gop

Pemilihan Legislatif pada 09 April bulan lalu baru saja kita lalui, masyarakat masih ingat bagaimana ucapan ucapan dan janji para Caleg jika mereka menang mewakili daerah pemilihannya masing masing, tidak lupa pula ketika orasi terbuka para petinggi partai mengumbar janji di atas mimbar bak hero yang akan menyulap semua keadaan jika mereka dipercaya kelak mewakili rakyat di parlemen. Janji telah usai, sebagaian dari mereka dari berbagai partai telah terpilih dan sebagian besarnya lagi menjadi caleg gagal "gagal terpilih". Kita masih mengingat bagaimana isu isu dimainkan secara sistemik, Partai A menjelekkan partai B, dan seterusnya.
Share:

Ayo Lah Lupakan Perbedaan

Pemilihan Presiden Indonesia untuk periode mendatang yang akan dilaksanakan pada 09 Juli mendatang adalah sama dengan pemilihan pemilihan Presiden sebelumnya, masyarakat sebagai konsituen atau orang yang memiliki 1 hak suara dalam menentukan arah masa depan bangsa digiring dalam berbagai isu untuk mempengaruhi pilihannya kepada calon calon tertentu. Yang terjadi adalah perdebatan di antara masyarakat baik itu dilakukan di forum forum diskusi maupun perkumpulan perkumpulan, media sosial dan tempat lainnya. Tidak sedikit perdebatan dan perbedaan persepsi akhirnya merenggangkan tali silaturrahmi di antara masyarakat oleh persoalan beda pilihan.

Apa yang meski masyarakat perdebatkan mengenai sosok 2 pasangan Capres dan Cawapres saat ini, padahal kita mengetahui dan mengakui bahwa Tuhan sekalipun menciptakan kita atas perbedaan bukan atas kesamaan, perbedaan itu indah dan biasa dalam berbagai pendapat dan pandangan asal kita satu tujuan untuk yang terbaik bagi kita, negara dan bangsa ini. Meski buruk bagi kita belum tentu buruk menurut orang lain, apakah dengan begitu kita salahkan semua orang yang tidak sependapat dengan kita, apakah kita kemudian menghakimi mereka.

Ayoo lah lupakan perbedaan itu, biarkan kita berbeda dan yakinilah semua capres bertujuan untuk memajukan Indonesia, meski dengan cara cara yang berbeda, tidak mungkin kita harus sama, berbeda itu indah, bahkan lebih indah dari pada tujuh keindahan didunia, tanpa perbedaan hidup kita akan terasa hambar, tidak ada yang namanya persaingan apalagi warna warni kehidupan.

Demokrasi mengajarkan kita untuk menerima perbedaan bukan menghakimi perbedaan
Share:

Angin Surga Calon Presiden

Masa masa kampanye pemilihan presiden memang tidak seberapa meriah dibandingkan pemilihan legislatif pada 09 April yang lalu, persoalannya adalah karena hanya ada dua calon yang bertarung memperebutkan kursi RI 1. Pertarungan yang paling marak hanya pada pertarungan media cetak, media Televisi dan media sosial serta pada kampanye kampanye terbuka yang dilakukan di kota kota besar oleh para calon presiden. Singkatnya masa waktu kampanye adalah salah satu jawaban bahwa kampanye terbuka tidak dilakukan disetiap kabupaten kota di Indonesia oleh para Capres.

Masa masa kampanye seperti ini kita selalu di beri angin surga oleh para kandidat yang bertarung, tidak saja pada pemilihan presiden, pemilihan legislatif dan pemilihan gubernur, bupati juga demikian. Kita selalu disuguhkan dengan janji surga mulai dari kesejahteraan, keadilan dan banyak hal lainnya. Pertanyaannya apakah dari sekian banyaknya pemimpin pemimpin yang sudah duduk di tahta tersebut telah membuat kita sejahtera?.

Kemudian cerdaskan kita dalam mencerna setiap angin surga yang diberikan oleh para elit politik yang sedang memperebutkan kursi tahta tersebut, kadang kadang kita terlalu buta dan melupakan nalar kita bahwa angin surga itu merupakan suatu bentuk ucapan dusta. Bahkan dengan bangga kita mengatakan bahwa dialah pemimpin yang layak di pilih, hanya karena janji janji bagaikan angin surga itu.

Berikut angin surga para Capres yang saya kutip di Berbagai media

- Berkomitmen akan bekerja keras untuk menciptakan pemerintahan yang bersih guna mencapai kesejahteraan.

- Berjanji menegaskan demokrasi harus mencerminkan untuk seluruh warga bangsa tanpa ada diskriminasi apapun. Demokrasi merupakan hak politik, tanpa ada diskriminasi.

- Berkomitmen untuk menyediakan lapangan kerja baru sebanyak 2 juta per tahun.

- Berjanji akan mengucurkan subsidi sebesar Rp150 juta per tahun kepada setiap sekolah di seluruh Indonesia.

- Menaikkan tunjangan profesi guru menjadi rata-rata Rp 4 juta per bulan.

- Tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jika terpilih menduduki pemerintahan mendatang.

- Berusaha untuk meningkatkan pendapatan rakyat paling tidak dua kali lipat dari sekarang.

- Janjikan Utang Luar Negeri Nol Persen pada 2019.

- dan masih banyak janji lainnya yang sedang ditebarkan oleh para capres.

  
Pertanyaannya, mengapa begitu mudah dan banyak menebarkan janji ? 
Apa yang sudah diperbuat selama ini ?
Share:

Misi Terselubung Adik Prabowo Hashim Djojohadikusumo

Hashim Djojohadikusumo adalah adik Prabowo Subianto calon presiden Indonesia, dia adalah Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Gerindra dan juga ketua Bappilu. Selain itu ia juga menjadi Ketua Dewan Pembina Kristen Gerindra (Baca : Adik Prabowo Jadi Pembina Kristen Gerindra), Hashim yang beragama Kristen Protestan sama seperti ibunya Dora Marie Sigar (Baca : Kata Adik: Ibunda Prabowo Subianto Lahir dan Meninggal sebagai Kristen Protestan). Adik Prabowo tersebut adalah aktor dibalik pencapresan Prabowo Subianto,  Hashim menyokong penuh pencalonan sang kakak untuk maju sebagai calon presiden pada pemilu 2014 ini, bahkan Hashim menyatakan menyiapkan dana dalam jumlah tak terbatas.

Hashim Djojohadikusumo juga adalah seorang wiraswasta dan pemilik perusahaan Arsari Group yang bergerak dalam bidang pertambangan, program bio-ethanol, perkebunan karet dan lain-lain. Pada tahun 2002 Hashim ditahan karena terlibat pelanggaran Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dimana kredit yang seharusnya dikucurkan ke kreditor ternyata dikucurkan ke grupnya sendiri. Hashim Djojohadikusumo juga berhasil menguasai konsesi lahan hutan sebesar 97 hektare yang tersebar di Aceh Tengah, yang kemudian mendorongnya untuk terus memperluas jaringan bisnisnya hingga memiliki 3 juta hektare perkebunan, konsesi hutan, tambang Batubara, dan ladang migas di Aceh hingga ke Papua. Menurut laporan Forbes 2012 mengklaim bahwa Hashim Djojohadikusumo sebagai salah satu pria terkaya di Asia dengan kekayaan mencapai US$ 850 juta atau bila dikurs kan bisa mencapai sebesar Rp 8.5 Triliun.

"Saya akan dukung dana banyak dan cukup untuk menang," ujar Hasyim menjawab pertanyaan Tempo saat berkunjung ke Museum Diponegoro di Jalan HOS Cokroaminoto, Yogyakarta. Hasyim berada di Yogyakarta menghadiri peluncuran buku Peter Carey Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855.

Ketika Tempo menyebutkan angka Rp 9 triliun untuk dana pemenangan pencalonan Prabowo, Hasyim tertawa lebar. Dengan nada bercanda ia menyebutkan dana pemenangan Prabowo bisa lebih dari Rp 9 triliun. "Kalau Tuhan kucurkan Rp 100 triliun, ya Rp 100 triliun. Pokoknya banyak dan cukup untuk menang," kata Hasyim. (Baca : Demi Prabowo, Hasyim Siapkan Rp 100 Triliun)



Prabowo yang juga di gadang gadang sebagai calon yang tidak akan tunduk pada asing ternyata tidak demikian, Hashim adik Prabowo yang aktif menggalang dana dan dukungan dari pihak asing termasuk Amerika dalam pertemuan di acara USINDO Washington Special Open Forum Luncheon pada 17 Juli 2013  telah menyatakan bahwa jika Prabowo menang menjadi Presiden, Amerika akan mendapatkan perlakuan khusus Partai Gerindra bahkan secara terang terangan juga Hashim menyebutkan bahwa Prabowo sangat Pro Amerika (Lihat : Youtube)

Juga kemudian Hashim dalam video tersebut menyebutkan bahwa ada 73 pegawai di Menteri Pertanian, yang kemarin dikoreksinya menjadi 76 orang, yang dipecat karena beragama tertentu (Baca : Mentan Sayangkan Pernyataan Adik Prabowo)

Baru baru ini juga lagi lagi muncul pemberitaan mengenai peran Hashim dalam menyetujui PKS dapat berkoalisi dengan Gerindra, agar Gerindra mampu mengatur gerakan PKS.

 "Saya yang beri izin Prabowo untuk berkoalisi dengan PKS. Karena saya ingat Matius 10:16, yang intinya kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Karena bila Prabowo presiden, dia mampu kendalikan itu," ucap Hashim saat menghadiri Diskusi Publik Gereja Mendengar Visi Misi Capres 2014, yang diselenggarakan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), di aula Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, Senin (2/6).

"Perihal GKI Yasmin, di depan puluhan pendeta, Prabowo pernah katakan, bila nanti dia jadi presiden, dia akan perintahkan Kapolri (Kepala Kepolisian Republik Indonesia) untuk membuka kembali GKI Yasmin," Hashim menambahkan. (Baca : Hashim: Prabowo Bisa Kendalikan PKS dan Buka Yasmin)



Share:

Benarkah Jokowi Sebagai Pemimpin Gagal

Benarkan Jokowi sebagai pemimpin gagal disolo, jika benar betapa bodohnya masyarakat solo mau memilih Jokowi pada periode kedua dengan perolehan suara sebanyak 90,09%. Jika benar juga betapa bodohnya World Mayor yang menempatkan Jokowi sebagai Walikota Terbaik ke 3 didunia ditahun 2012.

“Posisi ketiga World Mayor Project diraih Joko Widodo, Walikota Surakarta, Indonesia, yang pada Juli 2005 menjadi walikota pertama yang dipilih secara langsung. Pada 2012 ia terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, ibukota Indonesia,”demikian pengumuman yang dimuat di situsworldmayor.com, pada 8 Januari 2012.

“Joko Widodo mengubah kota yang sarat kriminalitas menjadi pusat seni dan budaya, yang mulai menarik perhatian turis dunia. Kampanyenya melawan korupsi membuatnya memiliki reputasi sebagai politisi paling jujur di Indonesia. Joko Widodo juga menolak menerima gaji selama menjabat sebagai Walikota Solo.”

Ya tentunya kita menaruh gembira dan bangga ya. Sebagai seorang putra bangsa terbaik yang kita miliki, terlebih beliau adalah seorang kepala daerah dengan berbagai gagasan dan pemikiran yang mampu memberikan terobosan. Bahkan merubah bentuk-bentuk penyelenggaraan pemerintahan daerah menjadi lebih mengedepankan fungsi-fungsi pelayanan dan tentunya keberpihakan kepada rakyat ya. Itu adalah sesuatu yang kita apresiasi dan kita bangga dengan itu,” kata Kepala Pusat Penerangan Kemendagri Reydonnyzar Moenek.

Di Jakarta baru 1,5 tahun kepemimpinan Jokowi, selama 1,5 tahun itu banyak yang memberi apresiasi kepada Jokowi dan banyak juga yang memberikan kritikan kepada Jokowi. Apalagi menjelang pilpres banyak sekali yang mengatakan bahwa Jokowi gagal memberikan perubahan pada Jakarta selama 1,5 tahun. Tapi benarkan Jokowi gagal memberikan perubahan kepada Jakarta selama 1,5 tahun. Bagaimana dengan kinerjanya memberikan kartu Jakarta pintar, Jakarta sehat, menata pedagang kaki lima (PKL), Relokasi PKL tanah abang ke blok G yang selama ini dikuasai swasta dan dijual dengan harga yang tinggi sekarang dikelola oleh Pemprov, Pengerukan Kali Penertiban bangunan liar, Dibukanya akses pelaporan warga, Normalisasi Kali Ciliwung, Relokasi warga waduk pluit yang sekian puluh tahun tidak mampu dilakukan oleh gubernur-gubernur sebelumnya, penghapusan rumah dinas untuk lurah & camat yang akan dialih fungsikan untuk kantong-kantong PKL, Berani menentang World Bank yang dengan pinjamannya, ingin terlalu mengintervensi program Jakarta Baru, Menaikkan Upah Buruh Propinsi DKI hingga 30%, Memberlakukan system pajak online, Mereformasi SATPOL PP dengan menanggalkan pentungan dan menginstruksikan untuk tidak lagi menggunakan cara-cara kekerasan tanpa kehilangan ketegasan, dan masih banyak lainnya.

Mari mengkaji dengan hati, bukan dengan kaki.
Maafkan tulisan saya yang mungkin terlihat emosi, meski sudah berusaha untuk tetap menulis dengan hati. Tapi sungguh naif jika kita katakan Bahwa Jokowi gagal di Solo dan DKI Jakarta, sesungguhnya semut pun tahu bahwa Solo dan Jakarta lebih baik sebelumnya, banyak hal yang berubah meski banyak hal pula yang belum berubah, waktu 1,5 tahun memang tidaklah mudah merubah Jakarta, tapi apakah kemudian prestasinya kita sebut gagal karena pada kepentingan politik kita yang tidak memihak padanya. Saya tidak melihat pesta demokrasi sebelumnya begitu antusias masyarakat memberikan sumbangannya kepada capres untuk kebutuhan biaya kampanye, tapi kali ini saya melihat ada perubahan yang dilakukan oleh Jokowi ketika mencapreskan diri, Jokowi lebih memilih bersama rakyat kecil ketimbang berada disisi elit politik yang sibuk dengan jatah kursi menteri.

Jokowi ya dia akan tetap menjadi Jokowi, sosok sederhana yang terlihat cengar cengir tapi dia cukup membuat masyarakat senang ketika berada didekatnya

Jokowi ya dia akan tetap menjadi Jokowi yang tetap akan menghormati orang orang yang berjasa kepadanya, meski dikatakan boneka, tapi hatinya tetap memiliki rasa hormat pada orang orang yang membesarkannya, dia tidak akan pernah malu untuk mencium tangan orang orang yang dia anggap berjasa untuk dirinya.

Jokowi ya dia akan tetap menjadi Jokowi yang suka blusukan kemana mana, meninjau pasar, tempat tempat kumuh dengan kemudian dia berusaha untuk menatanya, meski dia dikatakan pencitraan oleh banyak orang. Tapi blusukan ini tetap dia laksanakan bertahun tahun lamanya.

Jokowi ya dia akan tetap menjadi Jokowi yang kerempeng karena kerja kerasnya, mengabdi, bahkan tak mengenal lelah, siang malam dia bersama rakyat yang mencintainya.

Jokowi ya dia akan tetap menjadi Jokowi apa adanya, dia tidak pernah berusaha untuk mengharapkan semua orang mencintainya, tapi dia cukup berusaha untuk memberikan pengabdian terbaiknya kepada masyarakat yang membutuhkan kepemimpinannya.


Karena dia adalah Jokowi, yang dididik oleh orang tua untuk hidup sederhana dan memberikan hal terbaik untuk orang orang yang membutuhkan bantuannya.
Share:

Pemimpin Yang Sebenarnya

Menurut Wilkipedia Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Pemimpin yang baik adalah akan memberi contoh atau mempengaruhi orang orang yang di pimpinnya untuk menjadi baik pula, maka dari itu masyarakat Indonesia yang berjumlah sekitar 250 juta jiwa ini akan tergantung kepada pemimpinnya dalam bersikap dan menjalani kehidupan dari ke waktu, jika pemimpin Indonesia baik maka baik pula masyarakat dan bangsa Indonesia ini, begitu pula sebaliknya, jika kemudian pemimpin buruk maka buruk pula nasib rakyat dan bangsa Indonesia ini.

Ditengah tengah pesta demokrasi Indonesia yang dilaksanakan 5 tahun sekali ini, kita disuguhkan pada 2 pasangan calon pemimpin yang akan memimpin masyarakat Indonesia sebanyak 250 juta jiwa selama 5 tahun mendatang, ada banyak perbedaan di antara kedua calon ini, kemudian pun karir mereka dari berbeda beda.

Pertama Prabowo Subianto, dia adalah mantan militer yang pernah diberhentikan tanpa sebab yang jelas sampai saat ini, meski di gadang gadang sebagai pelanggar Hak Asasi Manusia namun sampai sekarang dia masih bebas melenggang, bahkan bisa mencalonkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia, Prabowo juga merupakan keluarga Cendana yaitu Soeharto yang sudah ditumbangkan oleh Mahasiswa pada tahun 1998 melalui Reformasi. Dia adalah menantu Soeharto yang menikah dengan Siti Hediati Haryadi atau yang dikenal dengan Titiek Soeharto dan dikaruniai seorang anak bernama Didit Hadiprasetyo. Setelah cerai dengan Titiek Soeharto, sampai sekarang Prabowo tidak menikah lagi, meski hidup mapan dan memiliki rumah mewah di bogor. Perceraiannya pun di isukan akibat tumbangnya Soeharto dan persoalan politik, namun sampai sekarang tidak ada yang tau kapan tepatnya mereka bercerai.

Kedua Jokowi atau Nama lengkapnya Joko Widodo, dia adalah mantan walikota solo yang menjabat sebanyak 2 periode. Jokowi kemudian dicalonkan sebagai Gubernur DKI oleh PDIP dan termasuk Prabowo yaitu Gerindra, hingga akhirnya memenangkan pemilihan Gubernur pada putaran kedua melawan Foke yang incumbent, Jokowi yang fenomenal dengan aksi blusukannya kemudian memikat hati masyarakat Indonesia bahkan karena blusukannya Jokowi dikenal sebagai pemimpin yang benar benar mengerti dan melayani masyarakat, bahkan sejak menjabat walikota pertama di solo Jokowi sudah blusukan sehingga masyarakat Solo begitu mencintainya hingga dipilih sebanyak 90% masyarakat Solo ketika mencalonkan diri periode kedua, kemudian berkat terobosannya itu, Jokowi mendapat penghargaan sebagai Walikota terbaik ke tiga didunia, sebuah prestasi pemimpin yang belum pernah didapatkan oleh kepala daerah lain di Indonesia. Sejak ziarah ke Jakarta sebagai Gubernur DKI, Jokowi bersama Ahok lansung melakukan terobosan terobosan barunya yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh pemimpin pemimpin lainnya. Lelang lurah dan lelang camat adalah pertama dan belum pernah dilakukan oleh pemimpin lainnya di Indonesia sehingga proses administratif masyarakat dapat dilayani secara baik karena di isi oleh orang orang berkompeten. Kemudian normalisasi waduk, kampung deret, penataan pasar dan lainnya yang belum pernah dilakukan oleh kepemimpinan sebelumnya, Jokowi berhadapan dengan Prema preman pasar di Jakarta yang dikenal keras, meski begitu Jokowi selalu mampu memikat hati masyarakat, bahkan preman preman sekalipun sehingga terobosan terobosan yang dilakukan oleh Jokowi tidak pernah memunculkan konflik antar masyarakat itu sendiri.

Kemudiaan saat ini kita dihadapkan pada dua pilihan Pasangan Capres dan Cawapres, masyarakat Indonesia harus jeli dalam menentukan pilihannya, karena para calon mulai dekat dengan masyarakat dengan alih alih merakyat padahal sebelumnya kita tidak melihat hal itu, bantuan media juga menjadikan capres dan cawapres seolah olah milik rakyat padahal penuh dengan pemikat dan sinetron wayang yang dimainkan penuh drama kepura puraan.

Kemudian kita disuguhkan seolah olah pertarungan antara si tegas dan si mencla mencle, koalisi pejabat dan koalisi rakyat, capres pejabat dan capres rakyat, capres banyak bicara dan capres banyak bekerja bahkan juga di bandingkan antara capres ganteng dan capres ndeso.

Kita tahu bahwa gaya pidato Prabowo memang tegas, tapi kita tidak boleh dipengaruhi dengan retorika tanpa kerja nyata, kita tahu bahwa janji Prabowo akan menjadikan masyarakat Indonesia kaya raya tapi kita tidak boleh terbuai dengan janji pepesan kosong tanpa bukti yang telah diperlihatkan.

Kita tahu bahwa gaya Pidato Jokowi masih apa adanya, tanpa berusaha menjadi terkesima siapapun yang mendengarnya. Tapi dia sudah membuktikan dengan kerja kerasnya pada saat menjadi walikota Solo dan Gubernur DKI. Jokowi hadir dengan gaya Pemimpin baru, tidak meniru niru, dia juga bukan bagian dari orde baru, yang penuh dengan lumuran darah mahasiswa, sehingga reformasi sudah tercipta.

Kita butuh presiden bukan hanya pintar bicara tapi pintar bekerja, karena presiden pintar bicara banyak stok yang tersedia di Indonesia. Kita harus jeli melihat dan mencari tau mana pemimpin yang sebenarnya.


Menurut (Thoha, 1983:123) Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar supaya mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi pemimpin harus kita pastikan bahwa perilakunya dapat diikuti oleh orang orang yang dipimpinnya, dalam hal ini adalah masyarakat Indonesia. Jika perilaku pemimpin tidak baik maka dipastikan masyarakat Indonesia akan tidak baik pula.


Maaf.....!!!!!
Jangan paksakan saya untuk memilih yang lain, karena setelah menimbang dan memutuskan pasangan #‎JokowiJK nomor urut 2 bagi saya pilihan tepat untuk pemimpin Indonesia 5 tahun mendatang. Karena Indonesia butuh sosok pintar bekerja, bukan pintar retorika. Kita masih banyak stok para politisi pintar beretorika tapi kita kehilangan stok pemimpin yang mampu bekerja. 
Share:

Indonesia Raya Atau Indonesia Hebat : Saya Pilih


Ya sudahlah, akui saja mereka pasangan Capres dan Cawapres ini merupakan putra putra terbaik bangsa, yang tak mungkin bisa besar begitu saja tanpa kerja keras mereka. Jangan ada lagi Black Campaign kecuali Black Flores, jangan ada lagi isu sara kecuali lagu sahara. Terlepas dari kekurangan dan pro kontra terhadap mereka yang tak mungkin sama dimata kita semua masyarakat Indonesia, untuk apa kita perdebatkan jika akhirnya hanya melahirkan kejenuhan masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi dalam politik, berapa banyak sudah yang golput setiap pemilu di akibatkan kejenuhan masyarakat terhadap lakon para pejabat publik, apakah kita akan terus memperkeruh suasana terus, dengan dalih mencari yang terbaik, belum tentu, baik dikita baik di orang. Biarkan masyarakat memilih sesuai dengan apa yang diyakininya baik.

Akui saja capres yang satu adalah orator ulung dan capres kedua pekerja hebat, apakah hari ini kita ingin memaksa masyarakat memilih orator ulung atau pekerja hebat. Biarkan masyarakat memilih sesuai apa yang diyakininya paling dibutuhkan oleh bangsa ini, tidak perlu kita melemparkan isu sara apalagi black campaign yang berujung pada fitnah, apa untungnya bagi kita kecuali dosa penyebar fitnah akhirat kita terima. Belum lagi para media masa paling suka keluarkan berita tentang negatif, bahkan ada yang sengaja membuat judul profokatif. Walah walah demokrasi apaan ini, jika akhirnya memecah belah persatuan, apakah kita terlalu dini untuk berbeda, ohhh tidak 63 tahun kita sudah hidup dalam satu negara yang berbeda Agama dan suku bangsa. 

Ya sudahlah, mereka ini para capres dan cawapres adalah putra terbaik bangsa yang harus kita ucapkan terimakasih atas jasanya terhadap Indonesia. Apa salahnya mereka sehingga kita menggunjing mereka dengan segala cara, kita caci mereka dengan berbagai argumentasi yang menurut kita benar, tapi kita hanya mampu duduk tanpa membuat terbaik kepada bangsa, salahkan mereka yang hanya berusaha mengabdi kepada Negara, salahkan mereka yang hanya ingin memperbaiki keadaan bangsa, salahkan mereka yang hanya ingin memberikan karya terbaik kepada negara. Ingat buruk untuk kita belum tentu buruk bagi orang lain. jadi serahkan saja kepada semua rakyat Indonesia yang berjumlah 250juta jiwa untuk menentukan yang terbaik bagi bangsa Indonesia, untuk apa kita sendiri menghakiminya sedangkan orang lain memujinya.

Tidak kah kita berpikir terlalu egois, karena kita hanya disibukkan untuk mencaci maki, sedangkan mereka Putra terbaik bangsa setiap hari berusaha untuk mengabdi kepada negara. Biarkan rakyat indonesia memilihnya, jangan ada lagi Black Campaign, isu sara, jelekin sini sana. Apakah mereka membutuhkan seorang pemimpin yang orator ulung atau pekerja hebat.

Namun secara pribadi bagi saya yang hanya memiliki satu hak suara, pada tanggal 09 Juli mendatang, akan memilih pekerja hebat, yaitu Jokowi-Jusuf Kalla. Dengan pertimbangan sederhana yaitu, Indonesia bertahun tahun sudah memiliki pemimpin yang orator hebat tapi belum mampu menyentuh persoalan rakyat, belum mampu mendekati rakyat, belum mampu bekerja hebat. Akan tetapi Indonesia baru tahun ini ada pasangan Capres dan Cawapres pekerja hebat, yang mengerti persoalan dasar rakyat dan mampu bekerja hebat. Saya yakin dengan kepemimpinan mereka Indonesia akan Hebat.

Jangan ada lagi yang mengkritik, apalagi mencaci maki, biarkan saya dan seluruh rakyat Indonesia memilih apa yang diyakininya kriteria apa yang paling dibutuhkan oleh bangsa Indonesia.
Share:

Mengulas Fakta Dibalik Pencapresan Jokowi

Sebagian orang kecewa terhadap Jokowi karena mau menerima mandat PDIP untuk ditetapkan sebagai Bakal Calon Presiden pada tahun 2014 ini, karena mereka mengharapkan Jokowi menyelesaikan permasalahan Jakarta terlebih dahulu, yang baru dipimpinnya 1,5 tahun. Namun sebagian lagi merasa senang Jokowi mau menerima mandat Capres, karena alasan bahwa Bangsa ini butuh dan merindukan sosok pemimpin yang sederhana dan mengerti kebutuhan Rakyat serta mau terjun lansung untuk menuntaskan segala permasalahan Bangsa yang telah kronis ini.

Disaat para elit politik menyibukkan diri dengan penampilan, Jokowi malah tampil sebagai sosok yang sederhana, disaat elit politik lain menyelesaikan masalah di atas meja kerjanya, Jokowi malah memilih lansung untuk terjun dan menyelesaikan permasalahan rakyat. Banyak yang kemudian aksinya ini menuai kritik dari pejabat politik, mereka menganggap bahwa aksi aksi Jokowi ini tidak layak dilakukan oleh Pemimpin apalagi sekelas Gubernur, meski di tingkat elit banyak menuai kritik, Jokowi malah panen pujian oleh masyarakat yang menerima dampak dari kinerjanya ini. Aksi Jokowi ini malah mendekatkan dirinya dengan masyarakat, meski disebut sebut sebagai pencitraan tapi faktanya Jokowi telah melakoni blusukannya mulai dari menjabat Walikota Solo periode pertama, sehingga berkat kepemimpinannya yang sederhana, kinerjanya yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, akhirnya Jokowi terpilih sebagai Walikota Solo periode kedua dengan perolehan suara berkisar 90,09%. 

Menurut survei beberapa lembaga pada saat sebelum pileg, elektabilitas Jokowi mengalahkan semua tokoh tokoh lama, bahkan elektabilitasnya mengalahkan Megawati Ketua Umum PDIP tempat partai nya Jokowi berpolitik, mulai dari itu kita melihat hampir semua partai berniat mendekati Jokowi, baik untuk di Capreskan maupun di Wapreskan, dengan begitu, PDIP sebagai partai yang membesarkan Jokowi mulai khawatir dengan pendekatan para elit partai lain kepada Jokowi, tapi Jokowi menampakkan kesetiaannya dengan tidak menanggapi keinginan para partai lain itu. Seharusnya publik bangga terhadap konsistensinya Jokowi untuk terus berada dalam rumah PDIP meski elektabilitasnya jauh dari Ketua Umumnya, tentu ini berbanding terbalik dengan berbagai elit politik saat ini yang sering pindah pindah partai.


Para kader PDIP mulai khawatir dengan gerak gerik nya para partai lain yang mengincar Jokowi dan Publik tahu bahwa PDIP memberikan mandat penuh kepada Megawati untuk menentukan Capresnya. Dengan mandat itu para kader PDIP, Relawan Jokowi dan berbagai element mendesak Megawati untuk segera memberi mandat pencapresan kepada Jokowi, desakan itu mulai deras hampir disetiap pertemuan Partai. Megawati sebagai pemegang tentu memiliki kekhawatiran terhadap desakan desakan ini yang kian berkembang di internal maupun eksternal. Pertama yang dikhawatirkan Megawati adalah perpecahan di internal PDIP jika Megawati tidak memberikan mandat pencapresan Jokowi, kedua Megawati sangat khawatir jika dirinya tidak memberi mandat kepada Jokowi maka partai lain akan segera menarik Jokowi untuk dicapreskan, tentu Megawati tidak mau kader terbaiknya hilang begitu saja. | Baca : 

Megawati setelah proses yang panjang itu, kemudian mengambil langkah cepat dengan memberikan mandat kepada Jokowi sebagai Bakal Capres dari PDIP. Pasca penetapan Jokowi sebagai bakal Capres dari PDIP pada tanggal 14 Maret 2014, berbagai sambutan baik itu negatif maupun positif bermunculan, ada yang mendukung ada yang tidak mendukung itu biasa dalam politik dan negara demokrasi di Indonesia. | Baca Kritikan:

dan Baca dukungan :

Melihat dinamika yang terjadi di internal dan eksternal pada pencapresan Jokowi memang sulit untuk kita berspekulasi secara independent, jika pun hari ini kita memuji Jokowi maka orang akan menganggap kita sebagai pendukung Jokowi, jikapun kemudian kita mengkritik Jokowi itu akan di anggap pendukung Prabowo. Biarkanlah hal ini bergulir dan menjadi isu publik, tapi sayangnya banyak spekulasi muncul yang hanya karena kepentingan politik semata, yang dulu mendekati Jokowi dan PDIP sekarang mengkritik keras Jokowi dan PDIP, kemudian yang dulu memuji Jokowi dan PDIP sekarang mengkritik keras Jokowi dan PDIP.




Dari sebagian isu publik yang bergulir seperti bola liar, ada beberapa pertanyaan yang patut kita pertanyakan kebenarannya, apakah itu adalah memang isu yang sengaja dilontarkan untuk menjatuhkan Jokowi atau memang itu adalah kenyataannya, isu isu tersebut saya melihat tidak fair disudutkan kepada Jokowi, adapun isu yang menjadi pertanyaan adalah Blusukan Sebagai Pencitraan, Capres Boneka, Pemimpin Gagal di Solo dan Jakarta.


BLUSUKAN SEBAGAI PENCITRAAN
Jokowi kejakarta adalah berangkat dari Walikota Solo yang masa jabatannya baru 2 tahun setelah sukses memenangkan periode kedua yang dipilih oleh masyarakat solo sebanyak 90,09% suara. Satu satunya pemimpin yang dipilih oleh rakyatnya dalam sejarah demokrasi di Indonesia mampu menang telak sebanyak 90,09% suara. Siapa yang tahu bahwa Jokowi blusukan bukan lah dimulai ketika dia menjabat sebagai Gubernur DKI, akan tetapi blusukan itu telah dia jalankan ketika dia menjabat sebagai Walikota Solo, yang ketika itu masyarakat Indonesia tidak mengenal sosok maupun namanya, hal itu di iakan oleh salah satu Anggota Kopassus yang sudah 6 tahun menemani Jokowi Blusukan Hal ini dialami oleh Devid A yunanto sebagai asisten Pribadi Jokowi, Pria Kelahiran Boyolali, Jawa Tengah ini mengatakan banyak belajar dari Jokowi berbagai pengalaman dalam bekerja. Misalnya, cara berkomunikasi dengan orang dari berbagai lapisan "Saya senang ke lapangan dan banyak belajar, belajar dari bapak cara berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda, dan yang sebelumnya tidak tahu jadi tahu kan tiap orang memiliki beda-beda masalah"  Ayah dari seorang putri ini menilai Jokowi adalah sosok yang sederhana dan tidak ribet dalam melakukan pekerjaan. Sebab, setiap ada aduan dari masyarakat maupun berita di media massa mengenai permasalahan, menurut Devid, Jokowi langsung cepat tanggap. (Baca : Cerita anggota Kopassus 6 tahun temani Jokowi blusukan) bagaimana kita bisa menuduh Jokowi yang sudah blusukan dan bekerja bertahun tahun yang lalu dengan mengatakan sebagai pencitraan jika blusukannya ternyata membuat dia dicintai oleh rakyat bahkan dipilih pada periode kedua di solo dengan suara 90,09%. Sedangkan yang iklan bertahun tahun kita tidak pernah menuduh bahwa itu pencitraan.


CAPRES BONEKA
Banyak yang mengatakan bahwa Jokowi adalah capres boneka karena rasa hormatnya dia terhadap megawati di anggap berlebihan, apalagi ketika dia selalu mencium tangan Megawati didepan publik, namun saya malah memandang terbalik, saya mengagumi Jokowi karena dia tidak menyombongkan diri meski Jokowi lebih terkenal dibandingkan Megawati yang ketua umumnya, dia tetap merasa hormat kepada Megawati sebagai orang yang telah membesarkannya didalam dunia politik, tentu sikap ini berbanding terbalik dengan para politisi lain yang lebih memilih sombong dan merasa hebat ketika dirinya mulai besar sebagai sosok yang dikenal publik. Kesederhanaannya dan rasa hormatnya malah digunjing oleh berbagai pihak dengan menuduh capres boneka. Tapi ada beberapa pertanyaan saya kepada orang orang yang mengatakan bahwa Jokowi capres boneka. Pertama Pernah kah kita melihat Jokowi di dikte oleh Megawati selama masa kepemimpinannya di Solo dan Jakarta, Kedua pernah kah kita melihat Jokowi mengambil keputusannya sebagai Walikota Solo dan Gubernur DKI yang lebih menguntungkan Megawati dibandingkan Masyarakat,  Ketiga salahkan kita mencium tangan orang yang kita anggap sebagai orang yang telah berjasa dan membesarkan kita sehingga kita dikenal luas oleh masyarakat. Tidak kah kita berpikir bahwa ini adalah bentuk pemimpin yang penuh kesederhanaan dalam memberikan rasa hormatnya kepada orang orang yang telah berjasa kepadanya. Kemudian orang orang menuduh bahwa Jokowi menerima mandat dari Megawati adalah bentuk remotnya Megawati terhadap Jokowi. Sesederhana itukah pemikiran kita sehingga kita lansung mengklaim bahwa dia adalah boneka Megawati, tidak kah kita melihat bagaimana desakan internal partai dan lirikan partai lain terhadap Jokowi. Saya malah melihat disini adanya ketidak berdayaan Megawati dalam membendung Jokowi effek sehingga trah soekarno terpaksa dimandatkan kepada Jokowi dari pada Megawati harus menelan perpecahan di Internal PDIP.

PEMIMPIN GAGAL DI SOLO DAN JAKARTA.
Benarkan Jokowi sebagai pemimpin gagal disolo, jika benar betapa bodohnya masyarakat solo mau memilih Jokowi pada periode kedua dengan perolehan suara sebanyak 90,09%. Jika benar betapa bodohnya World Mayor yang menempatkan Jokowi sebagai Walikota Terbaik ke 3 didunia ditahun 2012.

“Posisi ketiga World Mayor Project diraih Joko Widodo, Walikota Surakarta, Indonesia, yang pada Juli 2005 menjadi walikota pertama yang dipilih secara langsung. Pada 2012 ia terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, ibukota Indonesia,” demikian pengumuman yang dimuat di situs worldmayor.com, pada 8 Januari 2012.

“Joko Widodo mengubah kota yang sarat kriminalitas menjadi pusat seni dan budaya, yang mulai menarik perhatian turis dunia. Kampanyenya melawan korupsi membuatnya memiliki reputasi sebagai politisi paling jujur di Indonesia. Joko Widodo juga menolak menerima gaji selama menjabat sebagai Walikota Solo.” 

Ya tentunya kita menaruh gembira dan bangga ya. Sebagai seorang putra bangsa terbaik yang kita miliki, terlebih beliau adalah seorang kepala daerah dengan berbagai gagasan dan pemikiran yang mampu memberikan terobosan. Bahkan merubah bentuk-bentuk penyelenggaraan pemerintahan daerah menjadi lebih mengedepankan fungsi-fungsi pelayanan dan tentunya keberpihakan kepada rakyat ya. Itu adalah sesuatu yang kita apresiasi dan kita bangga dengan itu,” kata Kepala Pusat Penerangan Kemendagri Reydonnyzar Moenek.

Di Jakarta baru 1,5 tahun kepemimpinan Jokowi, selama 1,5 tahun itu banyak yang memberi apresiasi kepada Jokowi dan banyak juga yang memberikan kritikan kepada Jokowi. Apalagi menjelang pilpres banyak sekali yang mengatakan bahwa Jokowi gagal memberikan perubahan pada Jakarta selama 1,5 tahun. Tapi benarkan Jokowi gagal memberikan perubahan kepada Jakarta selama 1,5 tahun. Bagaimana dengan kinerjanya memberikan kartu Jakarta pintar, Jakarta sehat,  menata pedagang kaki lima (PKL), Relokasi PKL tanah abang ke blok G yang selama ini dikuasai swasta dan dijual dengan harga yang tinggi sekarang dikelola oleh Pemprov, Pengerukan Kali Penertiban bangunan liar, Dibukanya akses pelaporan warga, Normalisasi Kali Ciliwung, Relokasi warga waduk pluit yang sekian puluh tahun tidak mampu dilakukan oleh gubernur-gubernur sebelumnya, penghapusan rumah dinas untuk lurah & camat yang akan dialih fungsikan untuk kantong-kantong PKL, Berani menentang World Bank yang dengan pinjamannya, ingin terlalu mengintervensi program Jakarta Baru, Menaikkan Upah Buruh Propinsi DKI hingga 30%, Memberlakukan system pajak online, Mereformasi SATPOL PP dengan menanggalkan pentungan dan menginstruksikan untuk tidak lagi menggunakan cara-cara kekerasan tanpa kehilangan ketegasan, dan masih banyak lainnya.

Mari mengkaji dengan hati, bukan dengan kaki.
Maafkan tulisan saya yang mungkin terlihat emosi, meski sudah berusaha untuk tetap menulis dengan hati. Tapi sungguh naif jika kita katakan Bahwa Jokowi gagal di Solo dan DKI Jakarta, sesungguhnya semut pun tahu bahwa Solo dan Jakarta lebih baik sebelumnya, banyak hal yang berubah meski banyak hal pula yang belum berubah, waktu 1,5 tahun memang tidaklah mudah merubah Jakarta, tapi apakah kemudian prestasinya kita sebut gagal karena pada kepentingan politik kita yang tidak memihak padanya. Saya tidak melihat pesta demokrasi sebelumnya begitu antusias masyarakat memberikan sumbangannya kepada capres untuk kebutuhan biaya kampanye, tapi kali ini saya melihat ada perubahan yang dilakukan oleh Jokowi ketika mencapreskan diri, Jokowi lebih memilih bersama rakyat kecil ketimbang berada disisi elit politik yang sibuk dengan jatah kursi menteri.

Jokowi ya dia akan tetap menjadi Jokowi, sosok sederhana yang terlihat cengar cengir tapi dia cukup membuat masyarakat senang ketika berada didekatnya

Jokowi ya dia akan tetap menjadi Jokowi yang tetap akan menghormati orang orang yang berjasa kepadanya, meski dikatakan boneka, tapi hatinya tetap memiliki rasa hormat pada orang orang yang membesarkannya, dia tidak akan pernah malu untuk mencium tangan orang orang yang dia anggap berjasa untuk dirinya.

Jokowi ya dia akan tetap menjadi Jokowi yang suka blusukan kemana mana, meninjau pasar, tempat tempat kumuh dengan kemudian dia berusaha untuk menatanya, meski dia dikatakan pencitraan oleh banyak orang. Tapi blusukan ini tetap dia laksanakan bertahun tahun lamanya.

Jokowi ya dia akan tetap menjadi Jokowi yang kerempeng karena kerja kerasnya, mengabdi, bahkan tak mengenal lelah, siang malam dia bersama rakyat yang mencintainya.

Jokowi ya dia akan tetap menjadi Jokowi apa adanya, dia tidak pernah berusaha untuk mengharapkan semua orang mencintainya, tapi dia cukup berusaha untuk memberikan pengabdian terbaiknya kepada masyarakat yang membutuhkan kepemimpinannya.


Karena dia adalah Jokowi, yang dididik oleh orang tua untuk hidup sederhana dan memberikan hal terbaik untuk orang orang yang membutuhkan bantuannya.
Share:

Jokowi Dan Jusuf Kalla Paling Aceh

Dari dua pasangan yang bertarung dalam pilpres kali ini (Prabowo Subianto – Hatta Rajasa vs Joko Widodo – Jusuf Kalla) hanya Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang punya nilai historis (mengenal) dengan Aceh (paling Aceh). Joko Widodo misalnya beliau pernah tinggal di Aceh kurang lebih selama 2 tahun dengan bekerja di salah satu BUMN di Aceh bahkan Jokowi dapat berbahasa Aceh.

Sedangkan Jusuf Kalla dikenal sebagai tokoh perdamaian di Aceh, yang kini telah dirasakan oleh masyarakat Aceh. Bahkan Jusuf Kalla dikenal publik dekat dengan Almarhum Hasan Tiro kemudian juga jika Pemerintah Aceh memiliki masalah dengan Pemerintah Pusat, salah satu tokoh yang akan ditemui untuk menyelesaikan permasalahan Aceh yaitu Jusuf Kalla.

Jikapun hari ini masyarakat lebih memilih orang yang tidak punya nilai histori dengan Aceh, berarti itu pilihan. Artinya Masyarakat Aceh lupa terhadap jasa seseorang.

Kemudian jika ada hari ini isu yang dikembangkan, bahwa Joko Widodo sebagai capres yang dikendalikan oleh Megawati, saya rasa sebuah isu yang tidak perspektif. Karena kita dapat melihat bagaimana kepemimpinannya di Solo dan DKI Jakarta tidak ada suatu kebijakan yang bersifat pesanan Megawati. Semua perannya sebagai Walikota maupun Gubernur diperankan secara tegas dan sesuai dengan visi dan misinya ketika menjabat.

Kenapa tidak ada yang mencari tau siapa Hasyim Djojohadikusumo, bukankah dia adiknya Prabowo yang mondar mandir Indonesia-Amerika, memiliki segudang perusahaan di Aceh, bukankah dia actor utama dalam Pencapresan Prabowo ?  biar public yang menilai dengan cermat.

Prabowo kala Jokowi masih menjabat sebagai Walikota solo, Prabowo lah yang memaksa Jokowi untuk ke Jakarta mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI, bahkan kala itu tahun 2012 Prabowo secara tegas mengatakan

“Jokowi Pemimpin yang membela kepentingan rakyat, bersih dan transparan”  (Prabowo)

yang kemudian juga di ia kan oleh Fadli Zon
“Kita butuh pemimpin bersih, jujur dan melayani. Dari pilihan yang ada hanya Jokowi yang terbaik” (Fadli Zon)

Jika hari ini Prabowo dan Fadli Zon mengatakan Jokowi tidak bersih, tidak jujur dan lain lain itu karena kepentingan politik yang berbeda, tidak lagi pada satu koalisi sehingga hal hal yang jelek mereka katakan, public juga tidak lupa bahwa sebelum pileg Gerindra telah berusaha mendekati Jokowi untuk di Cawapreskan bersama Prabowo.

Masyarakat Aceh tidak boleh latah hanya melihat dari sikap Partai Aceh yang lebih memilih berafiliasi dengan Prabowo ketimbang dengan Jusuf Kalla, tentunya afiliasi ini ada, karena kepentingan antar Partai Politik yang sampai saat ini belum dijelaskan secara terbuka, mengapa partai Aceh berkoalisi dengan Gerindra maupun Prabowo.

Kemudian partai Aceh tidak bisa menjustifikasi bahwa jika Joko Widodo dan Jusuf Kalla menang sebagai Presiden tidak akan mempertahankan MoU Helsinky, melihat Wakil Presiden adalah Jusuf Kalla yang merupakan tokoh central dalam melakukan proses perdamaian di Aceh, jika kemudian Partai Aceh melakukan hal itu berarti itu merupakan strategi politik untuk menjatuhkan lawan.

Selama ini publik tahu, bahwa baik Gerindra maupun Prabowo tidak terlibat maupun mempertahankan proses perdamaian dan MoU hesilnky, tapi Jusuf Kalla berperan central dalam proses perdamaian yang tidak mungkin dia hancurkan.

Publik juga tahu bagaimana Jusuf Kalla memperhatikan Aceh ketika gejolak konflik muncul antara Aceh dan Pusat pasca penetapan bendera Aceh, kala itu pejabat public Aceh yang merupakan tokoh tokoh GAM datang menemui Jusuf Kalla meskipun kala itu Jusuf Kalla bukan bagian dari pemerintahan.
Share: