• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Mengkristenkan Jokowi Dan Mengislamkan Prabowo

Menjelang pemilihan Presiden pada tanggal 09 Juli 2014 mendatang, ada ada saja tingkah laku mulai dari para politisi, pengamat, relawan fanatik dan masyarakat masyarakat dari kalangan lainnya bahkan wartawan sekalipun. Media sosial seperti twitter, facebook, Blackberry Messenger, blogger dan media media lainnya perang terbuka dalam mengiring opini sisi negatif para calon presiden Indonesia. Masyarakat Indonesia yang masih mines dalam pendidikan politik tentu saja akan menelan mentah mentah berbagai isu negatif yang berkembang di masyarakat tersebut tanpa berusaha mencari kebenarannya, apalagi masyarakat yang masih melek terhadap teknologi informasi, yang hanya mengandalkan isu isu yang berkembang untuk kemudian menjadi penentu siapa yang akan dipilih. Dengan begitu pengiringan opini negatif terhadap calon presiden menjadi strategi utama yang dilakukan oleh tim maupun relawan calon presiden tersebut.







Mengkristenkan Jokowi dan Mengislamkan Prabowo adalah pengiringan opini publik yang paling gencar dilakukan terutama oleh partai partai yang berbasis islami. Koalisi dalam kubu Jokowi ada Partai PDIP, NasDem, PKB, Hanura dan PKPI. Dalam kubu Jokowi hanya ada PKB yang partai berbasis Islam atau NU. Kubu Prabowo ada Partai Gerindra, PKS, PPP, Golkar dan PAN. Dalam kubu Prabowo ada PKS, PPP dan PAN yang partai berbasis islam. Mengkristenkan Jokowi paling gencar dilakukan oleh kubu koalisi Prabowo, sebut saja misalnya PKS, partai yang paling gencar mengkampanyekan sisi negatif terhadap Jokowi dengan berbagai isu permasalahan Agama yang dilakukan pada blog www.pkspiyungan.org dominan berisi tentang hal hal negatif tentang Jokowi. PKS tidak satu pun kita melihat berita yang menceritakan siapa sebenarnya Prabowo dan keluarganya.

Ibu Jokowi
Jokowi Bersama Istri
Jokowi Bersama Istri dan Anaknya


Isu yang kemudian hangat juga permasalahan pasangan Jokowi ketika menjadi Walikota Solo dan Gubernur DKI adalah dari non Islam, padahal yang memperkenalkan Ahok kepada Jokowi adalah Prabowo itu sendiri, meski sebelumnya Jokowi tidak setuju dengan Cawagubnya adalah Ahok, tapi kemudian Prabowo meyakinkan Jokowi untuk setuju terhadap pencalonan Ahok mendampingi Jokowi.
Ibu Prabowo Bersama Anaknya
(Cowok) Anak Prabowo
Adik Prabowo
Mantan Istri Prabowo
Ayah Prabowo


Tapi siapa sebenarnya Jokowi dan Prabowo, berikut profil dan latar belakangnya yang saya cari dari sumber terpercaya, dimana publikasinya dilakukan jauh hari sebelum pemilihan presiden ini.
_______________________________________________________________
Nama           : H. Ir. Joko Widodo (Jokowi)
Suku            : Jawa
Pendidikan    :
  - SD Negeri 111 Tirtoyoso
 - SMP Negeri 1 Surakarta
 - SMA Negeri 6 Surakarta
 - Ir. Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Agama          : Islam, Naik Haji tahun 2003.
Profesi           :
 - Gubernur DKI Jakarta.
 - Pengusaha meubel (kebanyakan untuk ekspor ke luar negeri).
Keluarga Jokowi:
 - Istri: Hj. Iriana (Jawa & Islam)
 - Ayah: Notomihardjo, pengusaha meubel (Jawa & Islam)
 - Ibu: Hj. Sujiatmi Notomiharjo (Jawa & Islam) 
Adik Adik      :
-      Iit Sriyantini (Jawa & Islam)
-      Ida Yati (Jawa & Islam)
-      Titik Relawati (Jawa & Islam)
 _______________________________________________________________ 
Nama            : Prabowo Subianto
Pendidikan    :
-      American School In London, Inggris
-      Akabri (Angkatan Darat)
-      Jabatan Tertinggi Pangkostrad
-      Dipecat dari TNI tahun 1998
Agama          :  Islam (belum naik haji)
Profesi                   :
-      Ketua Dewan Pembina Gerindra
-      Pengusaha Tambang batu bara.
Keluarga       :
-      Mantan Istri: Hj. Siti Hediati Hariyadi (Jawa & Islam), cerai tahun 1998.
-      Ayah: Soemitro Djojohadikoesoemo (campuran Cina & Jawa, Islam & Kristen)
-      Ibu: Dora Marie Sigar (Manado-Jerman, Kristen) 
Adik Adik      :
1.    Hashim Djojohadikusumo (Kristen), pengusaha, dibaptis di GKJW, Surabaya, Jawa Timur.
Jabatan        :
-      Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra
-      Ketua Pembina Gerakan Sayap Kristen Indonesia Raya
-      Ketua Dewan Penyantun Universitas Kristen Duta Wacana
2.    Bintianingsih (Katholik), istri dari Prof. Dr. Sudradjad Djiwandono.
3.    Mayrani Ekowati (Kristen)

 _______________________________________________________________ 
MAAF INI DATA DAN FOTO TIDAK DI AMBIL MENJELANG PILPRES, JIKAPUN ADA CALON PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN YANG KEMUDIAN ADA FOTO SHALAT BERJAMAAH DALAM WAKTU MENJELANG PILPRES INI, MAKA TIDAK DITAMPILKAN, KARENA SHALATNYA BERMUATAN POLITIS.


 _______________________________________________________________ 
Berbagai Sumber :

  1. Kata Adik Prabowo
  2. Jusuf Kalla Bilang Jokowi
  3. JK Tantang Prabowo Adu Fasih Baca Al Quran
  4. Capres Nya Dituduh Abangan
  5. Prabowo Subianto
  6. Siti Hediati Hariyadi
  7. Ayah Prabowo : Soemitro Djojohadikoesoemo
  8. Ibunda Prabowo
  9. Kekayaan Prabowo Meningkat 150 Kali Lipat Dalam 6 Tahun
  10. Adik Prabowo : Hashim Djojohadikusumo
  11. Bebet Prabowo
  12. Pacarnya Anak Prabowo
  13. Jokowi
  14. Istri Jokowi
  15. Jokowi : Saya, Istri, Ibu, Anak Saya Haji
  16. Tahajud dan Dhua Ibu Jokowi
  17. Gerindra Gaet Ahok untuk Cawagub DKI
  18. Insya Allah Dikawal PKS, PAN, PPP Prabowo Akan Jadi Orang Soleh
  19. Kursi menteri & janji manis Prabowo-Hatta untuk Hary Tanoe
  20. Ibunda Prabowo Subianto Lahir dan Meninggal sebagai Kristen Protestan
Share:

Siapa Prabowo

Prabowo Subianto Djojohadikusumo lahir di Jakarta 17 Oktober 1951 beragama Islam adalah seorang tokoh militer dan politik Indonesia. Seorang mantan perwira tinggi TNI Angkatan Darat, ia pernah menjabat sebagai Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus dengan pangkat Mayor Jenderal, dari bulan Desember 1995 hingga Maret 1998, dan kemudian dipromosikan menjadi Panglima Kostrad dengan pangkat Letnan Jenderal. Namun, baru dua bulan menjabat, ia diberhentikan pada bulan Mei 1998 oleh Presiden BJ Habibie.

Setelah tak aktif lagi dalam dinas militer, ia menjadi pengusaha, dan kemudian mulai aktif dalam politik dengan mendirikan Partai Gerindra.

Kehidupan Pribadi
Prabowo adalah putra dari pasangan Soemitro Djojohadikusumo (yang merupakan begawan ekonomi Indonesia) dan Dora Marie Sigar, atau lebih dikenal dengan nama Dora Soemitro. Ia juga merupakan cucu dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo, anggota BPUPKI, pendiri Bank Negara Indonesia dan Ketua DPA pertama. Ia memiliki dua kakak perempuan, Bintianingsih dan Mayrani Ekowati, dan satu orang adik, Hashim Djojohadikusumo. Saat ini, Hashim dikenal sebagai seorang pengusaha handal, dengan bisnis di puluhan negara termasuk Kanada, Rusia dan Indonesia.

Prabowo adalah keturunan dari Panglima Laskar Diponegoro untuk wilayah Gowong (Kedu), yang bernama Raden Tumenggung Kertanegara III. Prabowo juga terhitung sebagai salah seorang keturunan dari Adipati Mrapat, Bupati Kadipaten Banyumas Pertama. Selain itu, garis keturunannya dapat ditilik kembali ke sultan-sultan Mataram.

Prabowo menikah dengan Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto pada bulan Mei 1983 dan berpisah pada tahun 1998, tidak lama setelah Soeharto mundur dari jabatan Presiden Republik Indonesia. Dari pernikahan ini, Prabowo dikaruniai seorang anak, Didiet Prabowo. Didiet tumbuh besar di Boston AS dan sekarang tinggal di Paris, Perancis sebagai seorang desainer.

Ayah Prabowo
Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 29 Mei 1917  beragama Islam, meninggal di Jakarta, 9 Maret 2001 pada umur 83 tahun adalah salah seorang Begawan Ekonomi Indonesia yang terkenal. Murid-muridnya banyak yang berhasil menjadi menteri pada era Suharto seperti JB Sumarlin, Ali Wardhana dan Widjojo Nitisastro.

Ibu Prabowo
Dora Marie Sigar Sumitro Djojohadikusumo lahir di Manado Sulawesi Utara 21 September 1921 meninggal di Singapura 23 Desember 2008 pada umur 87 tahun. Dora Marie menikah dengan Profesor Sumitro Djojohadikusumo pada 7 Januari 1946 di Jerman. Dora Marie Sigar bertemu pertama kali dengan Profesor Sumitro Djojohadikusumo tahun 1945 di sebuah acara mahasiswa Kristen Indonesia di Rotterdam Belanda. Saat itu ia belajar di sekolah ilmu keperawatan bedah di kota Utrecht Belanda.

Selama hidupnya, Dora Marie Sigar penganut agama Kristen yang berdarah Manado-Jerman itu setia mendampingi Profesor Sumitro Djojohadikusumo dalam pengasingan maupun dalam perjuangan membangun Republik Indonesia. Dora dikenang anak-anaknya sebagai ibu yang penyayang. Dora dikenal sahabat-sahabatnya sebagai pemain Bridge yang tangguh dan sebagai pengurus Persatuan Bridge Indonesia. | berbagai sumber

| Baca : Siapa Jokowi

Share:

Siapa Jokowi


Joko Widodo atau lebih dikenal Jokowi, lahir di Surakarta, Jawa Tengah 21 Juni 1961 beragama Islam adalah politikus Indonesia dan Gubernur DKI Jakarta, ia adalah mantan walikota Solo dari tahun 2005 sampai 2012. Dua tahun sementara menjalani periodenya keduanya di Solo, Jokowi ditunjuk oleh partainya PDIP untuk memasuki pemilihan Gubernur DKI Jakarta bersama dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Walaupun pada masa kecilnya pernah tergusur sebanyak tiga kali, ia mampu diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada dan setelah lulus berhasil menjadi pengusaha furniture Setelah itu, karier politiknya dimulai dengan menjadi Wali Kota Surakarta pada tahun 2005. Namanya mulai dikenal setelah dianggap berhasil mengubah wajah kota Surakarta menjadi kota pariwisata, budaya, dan batik. Di bawah kepemimpinannya, bus Batik Solo Trans diperkenalkan, berbagai kawasan seperti Jalan Slamet Riyadi dan Ngarsopuro diremajakan, dan Solo menjadi tuan rumah berbagai acara internasional. Selain itu, Jokowi juga dikenal akan pendekatannya dalam merelokasi pedagang kaki lima yang "memanusiakan manusia". Berkat pencapaiannya ini, pada tahun 2010 ia terpilih lagi dengan suara melebihi 90%. Kemudian, pada tahun 2012, ia dicalonkan oleh PDI-P sebagai calon Gubernur DKI Jakarta.

Masa Kecil
Joko Widodo lahir dari pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi Notomiharjo Sebelum berganti nama, Joko Widodo memiliki nama kecil Mulyono. Pendidikannya diawali dengan masuk SD Negeri 111 Tirtoyoso yang dikenal sebagai sekolah untuk kalangan menengah ke bawah. Di mata guru SDnya, Sutarti Wardojo, ia telah memiliki jiwa kepemimpinan semenjak SD. Dengan kesulitan hidup yang dialami, ia terpaksa berdagang, mengojek payung, dan jadi kuli panggul untuk mencari sendiri keperluan sekolah dan uang jajan. Saat anak-anak lain ke sekolah dengan sepeda, ia memilih untuk tetap berjalan kaki. Mewarisi keahlian bertukang kayu dari ayahnya, ia mulai pekerjaan menggergaji di umur 12 tahun.Penggusuran yang dialaminya sebanyak tiga kali di masa kecil memengaruhi cara berpikirnya dan kepemimpinannya kelak setelah menjadi Wali Kota Surakarta saat harus menertibkan permukiman warga.

Setelah lulus SD, ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Surakarta. Ketika ia lulus SMP, ia sempat ingin masuk ke SMA Negeri 1, namun gagal sehingga pada akhirnya ia masuk ke SMA Negeri 6 Surakarta.

Masa Kuliah dan Wirausaha
Dengan performa akademis yang dimiliki, ia diterima di Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. Kesempatan ini dimanfaatkannya untuk belajar struktur kayu, pemanfaatan, dan teknologinya.

Selepas kuliah pada 1985, ia bekerja di BUMN PT Kertas Kraft Aceh, dan ditempatkan di area Hutan Pinus Merkusii di Dataran Tinggi Gayo Aceh Tengah. Namun ia merasa tidak betah dan pulang menyusul istrinya yang sedang hamil tujuh bulan. Ia bertekad berbisnis di bidang kayu dan bekerja di usaha milik Pakdenya, Miyono, di bawah bendera CV Roda Jati. Pada tahun 1988, ia memberanikan diri membuka usaha sendiri dengan nama CV Rakabu, yang diambil dari nama anak pertamanya. Usahanya sempat berjaya dan juga naik turun karena tertipu pesanan yang akhirnya tidak dibayar. Namun pada tahun 1990 ia bangkit kembali dengan pinjaman modal Rp 30 juta dari Ibunya

Usaha ini membawanya bertemu Micl Romaknan, yang akhirnya memberinya panggilan yang populer hingga kini, Jokowi. Dengan kejujuran dan kerja kerasnya, ia mendapat kepercayaan dan bisa berkeliling Eropa yang membuka matanya. Pengaturan kota yang baik di Eropa menjadi inspirasinya untuk diterapkan di Solo dan menginspirasinya untuk memasuki dunia politik. Ia ingin menerapkan kepemimpinan manusiawi dan mewujudkan kota yang bersahabat untuk penghuninya.
  
Orang Tua Jokowi
Ibu Jokowi
Kedua orang tua Jokowi bukanlah tokoh maupun pejabat publik, ayahnya yang bernama Noto Mihardjo dan ibunya Sujiatmi Notomiharjo tidak dikenal oleh masyarakat, sangat sedikit informasi mengenai orang tua Jokowi, tapi meski Roma Irama sempat memunculkan isu bahwa ayah Jokowi Kristen namun kabar itu dibantah, Ibu Jokowi yang bernama Sujiatmi Notomiharjo adalah Haji dan suaminya juga Haji, kemudian istri Jokowi yang bernama Iriana Joko Widodo juga Haji, termasuk Jokowi sendiri adalah Haji. | berbagai sumber

| Baca : Siapa Prabowo

Share:

Jokowi Dihancukran Oleh Media Sosial

Pemilihan presiden Indonesia pada tahun 2014 akan segera berlansung, pemilihan yang telah di jadwalkan oleh Komisi Pemilihan Umum pada tanggal 09 Juli mendatang tersebut telah mencuat beberapa nama Capres yang di usung oleh berbagai partai yang suaranya pada Pileg lalu berada pada peringkat atas, sebut saja dari PDIP yang saat ini menurut hasil quick qount berada pada posisi pertama mengusung Capres Jokowi, kemudian disusul Golkar yang berada pada posisi kedua mengusung Abu Rizal Bakrie dan kemudian Gerindra yang berada pada posisi ketiga mengusung Prabowo Subianto. Sedangkan partai peringkat ke 4 sampai seterusnya mulai mengundurkan diri sebagai pengusung Capres, seperti Demokrat yang berada pada posisi ke 4, meski sedang melakukan Konvensi Capres namun diprediksi tidak akan mampu mengusung capres sendiri dengan membentuk poros lain, meski sempat di isukan beberapa hari lalu bahwa akan ada pembentukan koalisi Partai Islam, itupun diprediksi sulit terbentuk, apalagi melihat saat ini beberapa partai islam mulai merapat ke Partai yang sudah mengusung Capresnya sendiri seperti PKB yang merapat ke PDIP dan PKS yang merapat ke Gerindra.

Sedangkan SBY yang di andalkan untuk membentuk poros baru atau disebut poros ke 4 ini juga tidak banyak melakukan langkah manuver untuk mengajak partai partai lain agar segera membentuk poros tersebut, sikap SBY yang masih diam juga masih sulit diprediksi akan menjadi partai oposisi, membentuk poros baru atau bergabung dengan partai yang sudah mengusung capres.

Jokowi sebagai Capres yang diusung oleh PDIP, memang seorang Capres yang paling fenomenal dibandingkan Capres Capres lainnya, banyak tokoh tokoh politik yang memberi perhatian khusus buat capres ini. Mulai sebelum di usung secara resmi oleh PDIP maupun setelah di usung dan dideklarasi secara resmi oleh PDIP merupakan capres yang paling banyak diperbincangkan oleh berbagai kalangan, mulai dari para politisi, masyarakat, media sosial maupun media massa.

Kemudian setelah hasil pileg pada tanggal 09 April lalu suara PDIP tidak sesuai dengan target partai maupun hasil hasil survei para lembaga survei yang menyatakan jika Jokowi di usung sebagai Capres maka mampu mendongkrak suara PDIP mencapai 30%, ternyata setelah pileg suara PDIP hanya mampu mencapai 19,77%  menurut hasil quick qount Lembaga Survei Indonesia (LSI). Hasil yang didapatkan oleh PDIP tentu menjadi bahan tertawaan bagi para lawan politiknya, karena di anggap Jokowi hanya dibesar besarkan oleh media.

Saat ini yang telah mendekati pemilihan presiden pada 09 Juli mendatang membuat isu semakin memanas, apalagi Capres yang paling mencuat saat ini adalah Jokowi yang diusung oleh PDIP berkoalisi dengan NasDem dan PKB, sedangkan Prabowo yang diusung oleh Gerindra berkoalisi dengan PKS dan diprediksi juga bakal menggandeng Golkar.

Elektabilitas Jokowi sebagai Capres semakin hari semakin menurun, sedangkan Elektabilitas Prabowo semakin hari semakin meningkat. Fenomena yang kita lihat saat ini adalah gerakan media sosial yang dilakukan oleh kader kader Gerindra dan PKS secara masif mengupdate pemberitaan negatif terhadap Jokowi, misalnya ada pihak gereja pun yang tidak mendukung pencapresan Prabowo juga dihubung hubungkan dengan Jokowi. Bahkan pemberitaan tentang Jokowi Antek Asing, Jokowi Boneka Megawati, Jokowi Tidak Bisa Shalat, Jokowi Tidak Bisa Wudhu, Jokowi Tidak Jadi Imam Shalat, Jokowi Bakal Jual Aset Negara seperti yang dilakukan Megawati dulu. Semua pemberitaan itu di upload secara masif oleh kader kader partai yang mendukung Prabowo sebagai Capres, bahkan jika ada salah satu orang yang menghujat prabowo itu di anggap sebagai tim Jasmev (Jokowi Advanced Social Media Volunteers) salah satu tim Jokowi yang melakukan publikasi tentang sosok Jokowi, padahal jika kita mau berpikir secara realistis dan akal sehat itu belum tentu dilakukan oleh Jasmev, karena siapapun bisa melakukan itu.

Sejak media sosial secara masif di upload pemberitaan negatif tentang Jokowi oleh kader kader partai yang mendukung pencapresan Prabowo, elektabilitas Prabowo makin meningkat dan hampir menyamai elektabilitas Jokowi, padahal hasil survei yang dilakukan jauh hari sebelum pileg, elektabilitas Prabowo jauh rendah dibanding elektabilitas Jokowi. Sedangkan elektabilitas Prabowo masih terganjal pada masa lalunya sebagai Mantan Jenderal Kopasus yang di anggap Jenderal pelanggaran HAM oleh para aktivis. Meski para kader kader Gerindra membatan keras terhadap isu tersebut, tapi para aktivis penggiat HAM tetap saja berada pada argumennya.

Tapi siapakah yang akan keluar sebagai pemenang yang akan menjadi Presiden Indonesia selanjutnya, Jokowi atau Prabowo, tentu yang itu adalah pilihan rakyat, rakyat lah yang menentukan siapa yang terbaik memimpin Indonesia, saya meyakini kedua duanya punya kelebihan dan kekurangan, juga punya niat baik untuk merubah dan menjadikan masa depan Indonesia lebih baik.

Sebagai masyarakat cerdas yang akan memberikan hak politiknya untuk memilih pemimpin Indonesia tentunya kita tidak boleh hanya mengandalkan pemberitaan demi pemberitaan yang dilakukan secara politis oleh para orang orang yang punya kepentingan, kita harus pintar membaca segala situasi dan tujuan para capres sebelum menentukan pilihan kita, karena ini adalah masa depan kita dan masa depan bangsa kita.

Kita tidak boleh hanya mengandalkan pemberitaan bahwa Jokowi Antek Asing, Jokowi Boneka Megawati, Jokowi Tidak Bisa Shalat, Jokowi Tidak Bisa Wudhu, Jokowi Tidak Jadi Imam Shalat, Jokowi Bakal Jual Aset Negara seperti yang dilakukan Megawati dulu

Sedangkan Prabowo Jenderal pelanggaran HAM, Jenderal arogan, Sombong.


Pemberitaan itu tidak bisa kita telan mentah mentah yang kemudian kita jadikan sebagai referensi untuk kemudian kita tentukan pilihan kita, karena yang melakukan itu juga punya tujuan politis masing masing, kita sebagai pemilih mari kita lihat dengan bijaksana. Kemudian dengan mengucap Bismillah tentukankan pilihan kita sesuai hati 
Share:

Caleg Siluman Melenggang Ke Senayan


Pemilu pada tanggal 9 april telah usai, pesta demokrasi yang kemudian menjadi penentu adalah rakyat tidaklah begitu lagi, rakyat adalah kekuasaan terbesar pada bangsa ini meski akhirnya siluman siluman yang punya kekuasaan itu menjadi penentu, melalui tangan dan pilihan silumanlah akhirnya perwakilan yang terdiri dari DPR RI, DPD RI, DPRD dan DPRK bisa duduk manis dikursi empuk yang dibeli oleh uang rakyat dan segala fasilitas mewahnya. Pasca reformasi memang bangsa indonesia sudah berkali kali melaksanakan pemilu 5 tahunan itu, setiap periode dan pelaksanaan pemilu selalu saja muncul berbagai persoalan yang ada, dimana persoalan tersebut adalah pelanggaran yang dilakukan tidak sesuai dengan prinsip prinsip demokrasi yang ada di Indonesia dalam menciptakan pemilu yanng adil, jujur, terbuka dan demokratis.

Di Aceh pemilu tahun 2014 adalah pemilu yang kedua kali pasca terjadinya perjanjian MoU Helsinky pada tahun 2005 silam yang kemudian melahirkan partai lokal, pada tahun 2009 lalu satu satunya partai lokal yang mampu merebut hati rakyat adalah Partai Aceh dari 6 Partai lokal yang bersaing, partai Aceh mampu mengirim 33 orang perwakilannya ke DPRA, yang kemudian mendominasi parlemen di Aceh.

Pada tahun 2014 akhirnya lahir satu partai lokal baru, yaitu Partai Nasional Aceh, partai besutan Irwandi Yusuf itu menjadi satu satunya partai yang kemudian menjadi musuh bebuyutan Partai Aceh, dikatakan musuh bebuyutan dikarenakan sepanjang menjelang pemilu kedua partai ini paling banyak memakan korban dan kekerasan yang dilakukan kedua partai ini juga semakin terbuka dimata umum.

Pada hari pemilu atau tepatnya tanggal 9 april yang lalu, proses pemilihan sampai dengan proses perhitungan yang dilakukan oleh KPPS, PPS, PPK dan Kabupaten terjadi berbagai permasalahan, permasalahan yang paling menonjol adalah penggunaan kertas suara golput yang kemudian dicoblos secara massal untuk partai tertentu dan penggelembungan suara yang dimainkan dan diperankan oleh caleg bekerjasama dengan penyelenggara pemilu. Proses penggelembungan suara adalah proses yang paling mudah dilakukan dan aman, apalagi banyak KPPS, PPS, PPK di daerah merupakan titipan dari partai partai tertentu.

Di Pidie misalnya, dari data yang penulis dapatkan, salah satu partai dan beserta calegnya di salah satu kecamatan , menurut form C1 yang kita temukan dan kita jumlahkan suara untuk partai tersebut beserta calegnya hanya berkisaran 100 suara, namun yang terjadi ketika sampai pada rekapitulasi suara di kecamatan kita menemukan bahwa untuk partai tersebut beserta calegnya telah mendapat suara 1100 lebih, artinya ada penggelembungan suara secara signifikan yang terjadi, tentunya penggelembungan suara ini dimainkan oleh caleg siluman bekerja sama dengan penyelenggara.

Kemudian juga penulis menemukan bahwa di kabupaten tertentu, bahwa masyarakat memilih 80% untuk caleg tertentu dari total suara yang didapatkan oleh partai tersebut, akhirnya hanya bermodalkan satu kabupaten, caleg tersebut dengan mudah melenggang ke senayan, secara logika saya belum mampu menelan kebenarannya, bahwa masyarakat akan memilih caleg tersebut dengan persentase 80% dari total suara partai tersebut di kabupaten itu. Padahal melihat sepak terjangnya, caleg tersebut tidak lah dikenal oleh masyarakat yang mendiami kabupaten itu, lalu dari mana suaranya, tentu siluman bermain, hanya bermodalkan kekuasaan yang mampu menjadikan penyelenggara pemilu berada dibawah ketiaknya, akhirnya suara siluman itu dengan mudah didapatkan.

Di Banda Aceh, sebagai pusat ibu kota Aceh, menurut data yang kami analisa bahwa jumlah pemilih hanya 59,75%, keadaan ini berbanding terbalik dengan kondisi didaerah, di daerah pemilih rata rata mencapai di atas 80%.

Dalam kondisi pemilu yang begitu banyak persoalan, penyelenggara pemilu menutup mata terhadap berbagai pelanggaran, padahal di beberapa daerah penyelenggara terbukti melakukan pelanggaran, akan tetapi rekapitulasi di provinsi meski ditolak oleh berbagai partai namun tetap dilanjutkan dengan mengabaikan segala persoalan yang terjadi di kabupaten/kota. Kemudian yang terjadi adalah KIP Aceh disemprot habis habisan oleh Bawaslu Pusat dan KPU Pusat, karena persoalan persoalan yang terjadi di daerah tidak diselesaikan sebelum dibawa ke pusat yang akhirnya KPU pusat menunda pengesahan pleno untuk Provinsi Aceh.

Selamat datang dewan siluman, selamat menikmati jabatan dan segala fasilitas yang didapatkan selama 5 tahun kedepan.

Semoga tidaklah menjadi siluman liar, yang harus di jeruji kan karena merugikan banyak orang.

Share: