Siluman Ikut Memilih Caleg


Pasca selesainya pemilihan umum yang dilaksanakan beberapa hari lalu atau tepatnya tanggal 09 April membuka serangkaian peristiwa tidak baik terhadap keberlansungan demokrasi yang ada di Indonesia, mulai dari kriminalitas, penyuapan, kecurangan sampai kepada pemilih siluman atau penggelembungan suara melalui kertas suara yang golput. Terjadinya penggelembungan menjadi sesuatu yang menarik dan dilirik oleh para caleg caleg yang suaranya tidak termasuk dalam kategori mendapatkan kursi.

Di Aceh khususnya, mulai hari pencoblosan sudah ditemukan beberapa pelanggaran yang dilakukan secara tersistematis oleh pihak penyelenggara pemilu, di Pidie misalnya, polisi menemukan kertas suara yang sudah tercoblos untuk partai tertentu. Kemudian penguluran waktu perhitungan suara yang hingga tengah malam bahkan sampai menjelang pagi membuat para saksi tidak sanggup menunggu sampai selesainya perhitungan, kemudian form C1 yang seharusnya dibagi bagikan kepada para saksi setelah di isi oleh panitia juga tidak dibagi, bahkan ada yang dibagi form C1 nya kosong, sehingga membuat data yang ada pada saksi menjadi tidak jelas. Tidak ditempelnya hasil perhitungan suara ditempat umum menjadi suatu indikasi bahwa memang kecurangan pemilu ini dilakukan secara terstruktur, padahal penempelan pengumuman perhitungan suara wajib dilakukan oleh panitia ditempat umum.

Kemudian pemilih tahun ini juga terjadi peningkatan yang luar biasa dibeberapa daerah, yang kemudian kita ketahui bahwa tingkat pemilih mencapai 75%, bahkan jika kita melihat pada hari H nya, tingkat partisipasi pemilih tidak mungkin mencapai 75%, sebut saja misalnya Banda Aceh, pemilih di Kota Banda Aceh saja partisipasinya tidak sampai pada angka 70%. Bahkan ada suatu TPS yang kita temukan pemilihnya mencapai 100% tanpa ada yang golput, secara nilai demokrasi memang ini menunjukkan sesuatu yang bagus, semakin meningkatknya partisipasi pemilih semakin berkualitasnya pemilu, tapi jika kemudian peningkatan partisipasi pemilih tersebut dilakukan oleh orang yang tidak berhak, atau kecurangan melalui penggelembungan suara, maka demokrasi yang dilaksanakan melalui pemilu menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan, sebab nilai nilai demokrasi tidak lagi menjadi dasar suara rakyat, melainkan suara siluman yang diperankan secara terstruktur dan sistematis melalui penyelenggara pemilu.

Disinyalir memang dibeberapa daerah ada terjadinya penggelembungan suara yang dilakukan secara sistematis oleh penyelenggara pemilu dengan parpol tertentu dan itu dilakukan secara terstruktur, kecurangan kecurangan seperti itu memang sulit di ungkapkan. Kekurangan saksi, telatnya perhitungan suara yang sampai tengah malam bahkan pagi dan banyaknya form C1 yang tidak dibagi kepada saksi menjadi kecurangan melalui penggelembungan suara sulit di ungkapkan.

Akhirnya pemilu tahun 2014 ini dimenangkan oleh para tuan nya siluman melalui penggelembungan suara yang dilakukan oleh siluman siluman bayaran dan rakyat tidaklah lagi menjadi penentu kemenangan dalam menentukan pilihan wakil rakyat dambaan mereka.

Selamat kepada tuannya siluman, yang telah membawa pemilu ini menjadi pemilunya para siluman.
Share: