Cerita Pendidikan Dan Pekerjaan Di Aceh

Pendidikan dan pekerjaan adalah dasar kebutuhan hidup manusia, pendidikan untuk memiliki ilmu pengetahuan bagi masyarakat agar dapat bersaing dengan masyarakat lainnya sedangkan pekerjaan adalah kebutuhan manusia untuk mencari sumber penghidupannya, sebagaimana yang kita ketahui bahwa dunia saat ini adalah dunia “no free” mulai dari makan, minum, tidur, jalan, parkir, bahkan sampai membuang hajat (buat air besar) saja harus membayar dengan tarif yang tidak tergolong murah bagi kalangan yang sumber pendapatnya tidak menentu.

Bagi kalangan mahasiswa atau kalangan terdidik atau bahasa kerennya intelektual, hampir setiap pertemuan bahkan tongkrongan membahas cerita cerita itu saja yaitu kualitas pendidikan dikampusnya sendiri, rata rata dari mereka mahasiswa merasakan ketidak puasannya terhadap kualitas pendidikan yang diberikan atau diterapkan dikampusnya. Tidak berkualitasnya pendidikan di Aceh bukan hanya saja cerita di warung kopi, tapi dalam daya saing mahasiswa aceh dengan mahasiswa diluar aceh dapat dibuktikan bahwa tingkat kualitas intelektual mahasiswa aceh masih berada dibawah. Belum lagi tingkat siswa yang mendapat predikat terendah kedua pada Ujian Nasional tahun lalu.

Bukankah di Aceh sudah banyak yang bergelar Prof, DR, dan Master luar negeri yang setiap tahunnya di biayai oleh pemerintah, bahkan mereka tersebar keseluruh dunia seperti Amerika, Mesir, Turki, China, Malaysia, Jepang, Jerman, dll..?
Muncul sebuah pertanyaan dari kita semua, jika sampai saat ini kualitas pendidikan di Aceh belum mampu meningkat secara signifikan sedangkan jika dilihat dari grafik bantuan pemerintah untuk rakyat aceh yang ingin kuliah diluar negeri setiap tahunnya bertambah, padahal ilmu yang mereka dapatkan diluar negeri yang merupakan negara negara maju seharusnya mampu memberikan peningkatan kualitas pendidikan di aceh melalui mereka penerima beasiswa tersebut. Lalu kapan pendidikan di aceh berkualitas.

Disisi lain bagi mereka yang sudah menamatkan dirinya dari mahasiswa beralih kepada sarjana, akan ada cerita baru yang muncul, tidak lagi bercerita tentang kualitas pendidikan, akan tetapi ceritanya “lapangan pekerjaan yang sempit dan dukungan insfastruktur yang tidak memadai”. Bagi para sarjana untuk mendapatkan pekerjaan tidak lah mudah, bahkan lebih susah dari pada persaingannya ketika melamar jadi mahasiswa disuatu kampus. Melamar pekerjaan didalam kondisi yang tidak menentu seperti ini di aceh butuh segala macam hal mulai dari koneksi/jaringan, cakapan, keterampilan, pengetahuan luas, dan berbagai macam hal lainnya. Persaingannya pun amat berat, jika ada suatu perusahaan yang membutuhkan karyawan baru sebanyak 10 orang maka orang yang melamar pada perusahaan tersebut tidak lah sedikit yaitu berkisar 700-1000 orang, bisa dibandingkan bagaimana daya saing untuk mendapatkan pekerjaan.

Lapangan pekerjaan yang hampir tidak ada, membuat semua para sarjana berlomba lomba untuk melamar, biaya yang harus dikeluarkan oleh para sarjana untuk melamar pekerjaan pun tidak lah berjumlah sedikit, mulai dari mengurus keperluan administrasi sampai dengan berangkat kelokasi dilakukan tes yang bahkan sampai kemedan. Pengeluaran tersebut tentunya amatlah berat bagi para pengangguran. Aceh yang masih tunduk pada medan tentu sangat merugikan, karena jika ada suatu perusahaan besar yang membuka lowongan kerja di Aceh seperti Perusahaan Keuangan, BUMN, dll maka tesnya akan dilakukan di medan dengan segala biaya ditanggung oleh peserta. Ini tentu sebuah kelemahan bagi pemerintah aceh karena masih saja tunduk dan berada dibawah kekuasaan medan.

Kemudian bagi mereka yang memiliki koneksi dipemerintahan maka akan memilih lobi lobi agar bisa masuk dan menjadi tenaga honor ataupun kontrak di dinas dinas walaupun gaji yang diterima tidak cukup untuk kehidupan sehari hari, tapi bagi mereka asalkan sudah menggunakan baju seragam dinas itu sudah keren dan sukses, jika anda tidak percaya bisa anda lakukan penelitian pada dinas dinas yang memiliki banyak tenaga honor, siapa mereka, dan apa hubungan mereka.

Bagi mereka yang mempunyai keterampilan tapi tidak memiliki koneksi/jaringan, ini juga tidak mampu berkembang dan bersaing, selain tidak adanya dukungan pemerintah bagi para usaha kecil kemudian ditambah dengan infastruktur yang di aceh tidak memadai.

Akhirnya Pendidikan, Sarjana dan Pengangguran akan menjadi cerita menarik di Aceh yang jika dibahas tidak akan membawa suasa bosan, bahkan sewaktu waktu masalah ini dapat dipolitisi untuk kepentingan politik kelompok kelompok tertentu.

Pendidikan berkualitas dan Sarjana tidak menganggur akan menjadi janji janji manis para politisi untuk dapat memuluskan niatnya. Lalu apa cerita anda,,,?
Share: