• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Cerita Pendidikan Dan Pekerjaan Di Aceh

Pendidikan dan pekerjaan adalah dasar kebutuhan hidup manusia, pendidikan untuk memiliki ilmu pengetahuan bagi masyarakat agar dapat bersaing dengan masyarakat lainnya sedangkan pekerjaan adalah kebutuhan manusia untuk mencari sumber penghidupannya, sebagaimana yang kita ketahui bahwa dunia saat ini adalah dunia “no free” mulai dari makan, minum, tidur, jalan, parkir, bahkan sampai membuang hajat (buat air besar) saja harus membayar dengan tarif yang tidak tergolong murah bagi kalangan yang sumber pendapatnya tidak menentu.

Bagi kalangan mahasiswa atau kalangan terdidik atau bahasa kerennya intelektual, hampir setiap pertemuan bahkan tongkrongan membahas cerita cerita itu saja yaitu kualitas pendidikan dikampusnya sendiri, rata rata dari mereka mahasiswa merasakan ketidak puasannya terhadap kualitas pendidikan yang diberikan atau diterapkan dikampusnya. Tidak berkualitasnya pendidikan di Aceh bukan hanya saja cerita di warung kopi, tapi dalam daya saing mahasiswa aceh dengan mahasiswa diluar aceh dapat dibuktikan bahwa tingkat kualitas intelektual mahasiswa aceh masih berada dibawah. Belum lagi tingkat siswa yang mendapat predikat terendah kedua pada Ujian Nasional tahun lalu.

Bukankah di Aceh sudah banyak yang bergelar Prof, DR, dan Master luar negeri yang setiap tahunnya di biayai oleh pemerintah, bahkan mereka tersebar keseluruh dunia seperti Amerika, Mesir, Turki, China, Malaysia, Jepang, Jerman, dll..?
Muncul sebuah pertanyaan dari kita semua, jika sampai saat ini kualitas pendidikan di Aceh belum mampu meningkat secara signifikan sedangkan jika dilihat dari grafik bantuan pemerintah untuk rakyat aceh yang ingin kuliah diluar negeri setiap tahunnya bertambah, padahal ilmu yang mereka dapatkan diluar negeri yang merupakan negara negara maju seharusnya mampu memberikan peningkatan kualitas pendidikan di aceh melalui mereka penerima beasiswa tersebut. Lalu kapan pendidikan di aceh berkualitas.

Disisi lain bagi mereka yang sudah menamatkan dirinya dari mahasiswa beralih kepada sarjana, akan ada cerita baru yang muncul, tidak lagi bercerita tentang kualitas pendidikan, akan tetapi ceritanya “lapangan pekerjaan yang sempit dan dukungan insfastruktur yang tidak memadai”. Bagi para sarjana untuk mendapatkan pekerjaan tidak lah mudah, bahkan lebih susah dari pada persaingannya ketika melamar jadi mahasiswa disuatu kampus. Melamar pekerjaan didalam kondisi yang tidak menentu seperti ini di aceh butuh segala macam hal mulai dari koneksi/jaringan, cakapan, keterampilan, pengetahuan luas, dan berbagai macam hal lainnya. Persaingannya pun amat berat, jika ada suatu perusahaan yang membutuhkan karyawan baru sebanyak 10 orang maka orang yang melamar pada perusahaan tersebut tidak lah sedikit yaitu berkisar 700-1000 orang, bisa dibandingkan bagaimana daya saing untuk mendapatkan pekerjaan.

Lapangan pekerjaan yang hampir tidak ada, membuat semua para sarjana berlomba lomba untuk melamar, biaya yang harus dikeluarkan oleh para sarjana untuk melamar pekerjaan pun tidak lah berjumlah sedikit, mulai dari mengurus keperluan administrasi sampai dengan berangkat kelokasi dilakukan tes yang bahkan sampai kemedan. Pengeluaran tersebut tentunya amatlah berat bagi para pengangguran. Aceh yang masih tunduk pada medan tentu sangat merugikan, karena jika ada suatu perusahaan besar yang membuka lowongan kerja di Aceh seperti Perusahaan Keuangan, BUMN, dll maka tesnya akan dilakukan di medan dengan segala biaya ditanggung oleh peserta. Ini tentu sebuah kelemahan bagi pemerintah aceh karena masih saja tunduk dan berada dibawah kekuasaan medan.

Kemudian bagi mereka yang memiliki koneksi dipemerintahan maka akan memilih lobi lobi agar bisa masuk dan menjadi tenaga honor ataupun kontrak di dinas dinas walaupun gaji yang diterima tidak cukup untuk kehidupan sehari hari, tapi bagi mereka asalkan sudah menggunakan baju seragam dinas itu sudah keren dan sukses, jika anda tidak percaya bisa anda lakukan penelitian pada dinas dinas yang memiliki banyak tenaga honor, siapa mereka, dan apa hubungan mereka.

Bagi mereka yang mempunyai keterampilan tapi tidak memiliki koneksi/jaringan, ini juga tidak mampu berkembang dan bersaing, selain tidak adanya dukungan pemerintah bagi para usaha kecil kemudian ditambah dengan infastruktur yang di aceh tidak memadai.

Akhirnya Pendidikan, Sarjana dan Pengangguran akan menjadi cerita menarik di Aceh yang jika dibahas tidak akan membawa suasa bosan, bahkan sewaktu waktu masalah ini dapat dipolitisi untuk kepentingan politik kelompok kelompok tertentu.

Pendidikan berkualitas dan Sarjana tidak menganggur akan menjadi janji janji manis para politisi untuk dapat memuluskan niatnya. Lalu apa cerita anda,,,?
Share:

2014 Akan Jadi Apa

Tahun 2014 memang baru saja dimulai, 1 bulan pun belum genap memasuki tahun 2014 tersebut. Tahun 2013 telah kita lalui dengan berbagai macam tragedi manis dan pahit telah kita rasakan. Meninggalkan tahun 2013 memang tidak menjadi sebuah hal yang mendramatisir akan hostori atau kenangan yang pernah kita rasakan pada tahun tersebut, tapi setidaknya kita punya harapan baru ditahun yang baru akan kita rasakan.

Tahun 2014 ada sejuta harapan yang ingin kita capai, harapan harapan tersebut juga tidak akan jauh berbeda dari pada harapan harapan yang pernah kita harapkan ditahun tahun sebelumnya, namun yang berbeda tingkat harapan dan objek harapan tersebut. Tapi apakah harapan tersebut akan kembali pupus pada menjelang tahun baru selanjutnya nanti.

Entah lah tentunya semua itu butuh waktu untuk membuktikan kenyataan tersebut, kita sebagai insan manusia yang pastinya hanya dapat berusaha untuk dapat mencapai sejuta impian yang telah kita wacanakan dalam proses kehidupan ini, sedangkan hasilnya adalah kita serahkan kepada sang maha kuasa untuk menentukan layak tidaknya kita mencapai impian impian tersebut.

Menanti sebuah kepastian impian memang begitu melelahkan, banyak hal yang harus kita korban kan untuk mencapai kepuncak impian tersebut, kadang kala hidup ini memang butuh banyak pengorbanan untuk mendapatkan sebuah impian yang sedang kita kejar, tapi kadang kala pengorbanan tersebut akan menghancurkan segala harapan kita. Kekuatan  dan doa adalah kunci menuju kehidupan yang pantang menyerah dan tidak putus asa di saat saat kita mengalami keterpurukan karena harapan tadi pupus kembali.

Semoga apa yang kita harapkan di tahun 2014 ini tidak menjadi sebuah harapan yang pupus, harapan harapan yang telah kita wacanakan setidaknya mampu memberikan kita warna hidup untuk terus semangat dan optimis bahwa itu akan terwujud dengan kerja keras, doa dan konsisten.

Tidak ada hal yang tidak mampu kita kejar,
Jika mereka bisa kenapa kita tidak,
Jika mereka telah membuktikannya,
Kenapa kita tidak membuktikannya,
Kita bisa, kita mampu, waktu akan menjawabnya,
Bahwa kita bisa, bahkan lebih dari apa yang mereka mampu. 
Share:

7 Fenomena Unik Para Caleg

Tahun politik seperti ini banyak hal yang kita temui, khususnya yang menyangkut sistem ataupun roda perputaran politik, mulai dari model dan taktik yang dilaksanakan oleh berbagai calon maupun partai, kemudian  metode perebutan konstituen pun dijalankan dengan berbagai trik. Namun kali ini mengenai 7 fenomena unik para caleg akan kita bahas adalah tentang berbagai hal yang dilakukan oleh para caleg di Facebook menjelang tahun politik seperti ini baik itu dilakukan pada awal tahun 2013 sampai dengan awal tahun 2014. Karena pasti akan berbeda ketika nantinya anda para facebooker membuka facebook akhir akhir tahun 2014. Fenomena fenomena yang sering kita temui dalam tahun tahun seperti ini adalah ada 7 macam menurut hemat saya dan jika pun anda menemui fenomena fenomena lain silahkan anda tulis sendiri untuk menambahkannya.

1.     Akun Facebook Mendadak Aktif
Nah ini para pembaca saya temui juga dalam pertemanan akun facebook saya, dimana salah seorang anggota dewan yang saat ini masih aktif dan masih menjabat memiliki sebuah akun facebooknya namun sudah lama tidak beliau aktifkan (tidak aktif dalam menulis status) karena kesibukannya, bahkan mengirim pesan untuk sebuah pertanyaan pun tidak ditanggapinya. Tapi menjelang tahun tahun politik seperti ini terjadi sebaliknya. Akunnya mendadak eksis dan aktif dalam melakukan like kepada semua status orang, mengomentari status orang dan aktif dalam meng update status terutama mengenai status kinerjanya.

2.     Update Ketimpangan Sosial
Kalau ini pemainnya adalah pemain baru, terutama para caleg muda, biasanya mantan aktifis yang kemudian memilih jalur politik untuk menyalurkan hasratnya. Tapi anehnya para pembaca, dari tahun 1998 dimana kita ketahui bahwa telah terjadinya reformasi sampai saat ini yang sudah mencapai 15 tahun, dalam parlemen tersebut nyatanya yang mewakili rakyat itu adalah para mantan mantan aktifis yang dulunya sering meneriakkan tentang ketimpangan sosial dan kesejahteraan, akan tetapi setelah mendapatkan kursi empuk tersebut suara atau pun mengenai status di facebook tentang ketimpangan sosial pun hilang bagaikan ditelan badai.

3.     Share Photo
Fenomena ini sering kita temui pada akun facebook caleg, dengan maksud agar para facebook yang berteman dengan facebook si caleg dapat bersimpati terhadap kepedulian si caleg. Para si caleg tersebut selalu meng upload foto foto tentang kemiskinan, bahkan foto foto yang didapat dari internet juga kemudian di upload dengan sedikit keterangan gambar tentang tidak adanya pehatian pemerintah kepada rakyat yang miskin.

4.     Auto Like
Nah jika ini entah apa maksud si caleg meng like status semua orang yang berteman dengannya, apakah si caleg tersebut membaca atau tidak terhadap isi status facebooker sebelum melakukan like. Yang pasti setiap ada status terbaru dari facebooker pasti lansung dilike. Entah si caleg membentuk tim untuk melakukan like like status para facebooker.

5.     Fanpage atau Facebook Baru
Kalau ini para si caleg biasanya akan banyak akun akun facebook baru atau pun fanpage yang baru dibuat untuk kepentingan kampanye pastinya. Bahkan ada juga kemudian setelah di buat akun dikelola oleh tim suksenya agar grafik pertemanan dapat segera meningkat.

6.     Status Religius
Para caleg ada yang tiba tiba terkesan jadi religius, mulai dari sering ke mesjid, dan shalat dari mesjid ke mesjid lainnya setiap hari sampai status status di facebook mengenai hadist hadist yang statusnya panjang panjang membahas mengenai keagamaan. Ada yang berbunyi seruan untuk berbuat kebaikan sampai kepada hadist hadist yang menjelaskan tentang pemimpin.

7.     Chatting & Coment Mengomentari
Para caleg menjelang pemilu 2014 mendadak menjadi sok akrab dengan masyarakat sebagai konstituen, baik itu secara pertemuan maupun di jejaring sosial yang dominan oleh pemilih pemula dan pemuda. Para caleg aktif melakukan chatingan dengan para facebooker dan juga aktif mengomentari status para facebooker, tentunya tidak lain adalah tujuannya untuk mengakrabkan diri dengan para facebooker yang juga konstituen mereka.

Memang fenomena ini sebenarnya bukanlah masalah bagi masyarakat, bahkan menjadi lebih baik jika para caleg mau mendekatkan diri dengan masyarakat agar tau atas kebutuhan masyarakat jika nantinya dia terpilih sebagai anggota dewan, tapi fenomena ini malah menjadi tidak baik jika para caleg hanya memanfaatkan media sosial ini hanya untuk kebutuhan kampanye dan jika mereka sudah terpilih nantinya, akun facebook, chatingan, coment mengomentari, status religius, auto like, share foto, status ketimpangan sosial hilang seiring dengan eforianya menjadi dewan dikursi empuk itu.


Semoga para caleg tidak memanfaatkan facebook hanya untuk ajang kampanye, melainkan juga untuk mendekatkan diri dengan masyarakat ketika sudah terpilih nantinya, agar mereka tau apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan masyarakat.
Share: