• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Refleksi 9tahun Tsunami (Kita Patut Bersyukur)

9 tahun sudah berlalu bencana besar yang pernah terjadi di Aceh yang kemudian dikenal dengan nama bencana Tsunami atau gelombang laut, sebuah bencana yang maha dasyat terjadi sepanjang abad ini telah menewaskan 250ribu lebih jiwa di Aceh dan puluhan ribu lainnya di setiap tiap Negara yang wilayahnya bertetangga dengan Provinsi Aceh.

Akibat dari bencana tersebut Aceh telah menjadi Provinsi yang paling dikenal didunia dan menjadi pembicaraan publik seluruh dunia tentang kondisi kebencanaan yang maha dasyat terjadi di Aceh. Bencana tersebut juga telah menggunggah mata masyarakat dunia untuk menyalurkan bantuan ke Aceh dengan berbagai macam hal bantuan.

Uang bantuan juga mengalir di Aceh dengan jumlah yang tidak sedikit, sehingga perekonomian di Aceh lansung melonjak naik secara drastis, harga bahan pokok menjadi naik, harga sewa rumah menjadi naik karena banyak rumah mewah disewakan oleh NGO Asing, harga sewa toko juga naik karena banyaknya para pengusaha yang mencari toko untuk menyewa dan juga harga upah pekerja naik melonjak drastis karena banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan. Akibatnya perekonomian di Aceh meningkat tajam.

Namun sepulangnya para NGO dan warga asing ke daerahnya Aceh kembali menjadi miskin bahkan tidak mampu mengontrol perekonomian yang terlampau naik secara tidak relefan tersebut. Toko toko yang disewa mahal harus terpaksa diturunkan kembali karena minimnya penyewa akibat banyak yang tutup, sebab banyak pedagang yang kembali sepi akibat kembali krisis lapangan kerja.

9 tahun sudah berlalu terjangan bencana tsunami tersebut, banyak hal yang telah berubah di Aceh, mulai dari cultural, sosial, perekonomian, politik, budaya dan karakter masyarakat, semuanya sudah jauh berbeda.

Beruntung, tidak lama setelah bencana tsunami terjadi, Aceh berdamai dengan pemerintah indonesia, sebagaimana kita ketahui bahwa Aceh telah konflik lebih kurang 30tahun akibat dari permintaan Aceh untuk pisah dari Negara Indonesia.

Entah apa yang terjadi di Aceh saat ini jika kedua belah pihak antara GAM dan Pemerintah Indonesia masih berperang usai terjadi bencana tsunami tersebut.

Tapi kita patut bersyukur, bencana tersebut telah membuka mata dunia untuk memperhatikan Aceh yang mengalami penderitaan panjang. Perang sebelum indonesia merdeka, kemudian Aceh berperang lagi dengan Pemerintah Indonesia setelah kemerdekaan yang akhirnya gelombang tsunami menghentikan perang tersebut di Aceh dengan berujung pada Perdamaian kedua belah pihak antara Pemerintah Pusat dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebagai organisasi yang menuntut Aceh untuk merdeka.

Mudah mudahan generasi Aceh mendatang tidak lagi merasakan bagaimana pahitnya hidup dalam lingkungan perperangan.
Semoga ini adalah menjadi perdamaian Abadi.
Share:

Partai Otak Dengkul

Menyikapi tahun 2013 sebagai tahun politik berbagai fenomena aneh terjadi pada dinamika perpolitikan khususnya di Aceh, dari mulai ancam mengancam, pengrusakan, jelek menjelekkan sampai pada kekerasan seperti perkelahian antar partai lain bahkan sesama partai maupun pengurus. Perebuatan kekuasaan dan merasa diri paling benar menjadi dasar terjadi hal seperti di atas. Etika dan kesantunan tidak lagi menjadi dasar sebagai bagian dari cara berpolitik sebagaimana negara negara demokrasi lainnya melaksanakannya. Mengeluarkan pendapat atau membela diri dengan kekerasan jauh lebih terdengar dibandingkan dengan menyuarakan pendapat melalui jalur jalur musyawarah dan ketika perkelahian sudah terjadi, barulah ada perangkulan pihak pihak yang merasa dirugikan atau pihak yang berkelahi tadi, hal ini selalu terjadi berulang ulang dan media pun hanya bisa memberitakan “pihak adu jotos sudah berdamai”. Berita seperti itu telah menjadi kebiasaan sebagai konsumsi publik dan masyarakat pun hanya mampu menghujat atau mengatakan alhamdulillah mereka damai.

Apa sebenarnya yang menjadi dasar mereka melakukan perkelahian antar sesama, yang bahkan dulunya merupakan seperjuangan dengan mati-matian membela bangsanya untuk tidak ditindas oleh mereka yang tidak sebudaya dengan kita. Bahkan hal ini bukan saja terjadi satu dua kali, akan tetapi telah terjadi berulang ulang kali dan telah menjadi konsumsi masyarakat Aceh.

Apakah dasar mereka melakukan perkelahian karena merasa dirinya paling benar atau karena alasan kekuasaan yang tidak memihak kepada mereka atau karena kekuasaan membutakan hati mereka. Jika begitu alasannya dalam perspektif saya tentu tidak benar, karena banyak partai yang juga saling memperebutkan keuasaan namun jarang terdengar perkelahian antar sesama pengurus partai.

Dalam perspektif saya, dasar mereka melakukan perkelahian adalah karena kurangnya intelektual para anggota atau kader partai sehingga arogansi para anggota lebih dikedepankan dari pada solusi atau musyawarah dalam setiap masalah yang dihadapi partai. Otak dengkul atau mengutamakan fisik dalam setiap penyelesaian masalah adalah menjadi kebiasaan para partai yang kadernya tidak memiliki pendidikan atau intelektual. Sudah saatnya para partai memperhatikan pendidikan kadernya, agar kekerasan dan kontak fisik semakin dapat dihindarkan.
Share:

Siapa Sagoe Itu

Suatu hari saya berangkat kesuatu kabupaten untuk mengurus kebutuhan sebuah kegiatan di kecamatan, sebagai bentuk penghargaan dan mennghargai pemerintah setempat dalam hal ini adalah camat, maka saya menjumpai camat untuk memberikan 2 buah surat, yang pertama adalah surat pemberitahuan kegiatan dengan maksud agar kegiatan yang kami laksanakan diketahui oleh sang camat dan yang kedua adalah surat mohon membuka acara dengan maksud sang camat mau membuka acara tersebut. Kemudian kami menuju kantor camat setempat dan akhirnya berjumpa dengan sang camat, setelah proses pembicaran untuk mohon sang camat bersedia membuka acara tersebut,

Sang camat berkata "loen han loen teujeut buka acaranyo, menyo hana rekom dari bupati, tapi menyo awak droe keuh na rekom bupati nyan pasti loen buka acara"

Kemudian kami mengelak dengan mengatakan bahwa ini adalah acara tingkat kecamatan dan kami ingin camat membuka acara tersebut, tanpa harus ada rekom bupati karena ini adalah acara kecil dan dibawah kewenangan camat.

Sang camat mengatakan "menyoe han meuno mantong, bah loen musyawarah dile ngon sagoe jeut, bek sampe loen gara gara kubuka acaranyoe, ka dimutasi loem, nyoe pih tingoeh musem mutasi"

Tentu saja kami tidak menjawab, karena kami tidak mengerti apa yang dimaksud sang camat "sagoe".

Kemudian kami segera membanting setir menuju kantor bupati untuk mengurusi keinginan sang camat, tapi karena sang bupati, wakil bupati, sekda, dan asisten I yang membidangi hal tersebut tidak berada ditempat. akhirnya kami pulang kembali kebanda dengan hasil yang nihil.


Ada yang terbesit dalam hati saya sepanjang perjalanan pulang saya kebanda aceh yaitu perkataan camat "bah loen musyawarah dengan sagoe dile jeut" kata kata sagoe Tentu saja menjadi misteri buat saya, siapa sih sagoe itu, karena di banda aceh ketika saya menjumpai camat tidak pernah sang camat mengatakan musyawarah dengan sagoe, apakah sagoe itu bagian dari perangkat pemerintahan, apakah sagoe adalah sebuah jabatan pemerintah yang levelnya lebih tinggi dari camat, tentu saja kata kata "sagoe" itu masih menjadi tanda tanya di hati saya sampai saat ini.
Share: