Pesta Rakyat Atau Pesta Politisi

Pesta rakyat atau pesta politisi menjadi sebuah pertanyaan menjelang pemilu yang akan segera dilaksanakan tepatnya 09 April 2014 diseluruh Indonesia, pemerintah melalui lembaga resminya Komisi Pemilihan Umum atau disingkat KPU dan untuk khusus daerah Aceh disebut Komisi Independen Pemilihan atau disingkat KIP gencar mempromosikan atau mengiklankan pemilihan umum tersebut dengan menghadirkan pemeran-pemeran iklan dari rakyat.

Menjelang pemilihan umum yang merupakan pesta 5 tahunan tersebut gencar disebut sebut sebagai “pesta rakyat”, tapi benarkah rakyat merasa sedang melaksanakan pesta ketika pemilihan 5tahun tersebut berlansung. Benarkah rakyat di untungkan dalam pesta tersebut. Tentu ketika pesta 5tahunan tersebut rakyat tidak perlu lagi membeli kain sarung untuk keperluan dirumah, karena pasti akan banyak para tokoh politisi yang mencalonkan diri sebagai calon legislative menyumbang kain kain sarung kedesa sebagai cara untuk menarik simpati masyarakat agar memilihnya.

Jika hari meugang datang, yang merupakan pesta makan daging rakyat Aceh yang kerap dilaksanakan menjelang hari hari perayaan seperti menjelang puasa,menjelang lebaran. Rakyat tidak perlu susah susah memikirkan kemana harus mencari uang untuk dapat membeli daging agar bisa melaksanakan hari meugang. Sebab akan banyak para calon calon legislative yang akan menyumbang daging ataupun uang dengan maksud juga menarik simpati masyarakat agar memilihnya. Terlebih para calon incumbent yang sedang duduk di kursi dewan namun kembali mencalonkan diri sebagai calon legislative pasti akan kembali menjadi sosok dermawan dengan sering sering melakukan kunjungan dan membagi bagikan bantuan kepada gampong gampong dengan dalih reses dan merakyat satu tahun menjelang masa jabatannya berakhir.

Tapi kemana mereka 4 tahun yang lalu, tidak usah ditanya karena pasti mereka sibuk memikirkan bagaimana mengembalikan modal yang sudah dihabiskan ketika mencalonkan diri sebagai calon legislative, bagaimana memberdayakan partainya, bagaimana mereka harus dapat mengumpul uang agar dapat kaya sebelum masa jabatannya berakhir.

Dewan yang sebelumnya duduk diam dan adem adem saja di kursi empuk, mereka pasti akan terlihat mulai sering sering berada ditengah tengah masyarakat ketika masa jabatan tinggal 1 tahun lagi dan kembali mencalonkan diri. Mereka menjadi dewan yang peduli bahkan menjadi dewan yang merakyat dengan selalu mengunjungi rakyat setiap harinya dari kampung A kekampung B. bantuan bantuan paling gencar mengalir kekampung kampong ketika dewan menjelang masa jabatan berakhir, spanduk spanduk dewan bertebaran di gampong gampong dengan tulisan berbagai macam promosi untuk menarik perhatian masyarakat.

Begitulah pesta rakyat, pesta 5tahunan yang menghabiskan dana trilyunan rupiah, pesta yang rakyat dapatkan selembar kain sarung dari para calon legislative, pesta yang rakyat dapatkan setumpuk tulang daging dari para calon legislative yang mendadak dermawan, selembar uang dari para calon legislative yang tiba tiba menjadi peduli dengan keadaan rakyat.

Apakah ini pesta rakyat atau pesta politisi, karena sebelum terpilih rakyat berpesta dengan berbagai macam bantuan yang berjumlah puluhan ribu rupiah dari para calon legislative dan ketika terpilih para legislative akan berpesta dengan uang ratusan juta dan milyaran rupiah dikursi empuk yang disebut Dewan Perwakilan Rakyat.

Sekarang rakyat lah yang menentukan, apakah mau berpesta hanya dengan selembar kain sarung dan setempuk tulang daging yang akhirnya akan melahirkan anggota dewan pestaphoria  di kursi empuknya. Semoga di tahun mendatang tidak lagi kita mendengar “semua dewan sama saja” karena yang memilih dan menentukan kita lah sebagai rakyat. Jadi bobroknya kinerja dewan adalah kesalahan kita yang telah memilihnya.

Mari sekarang kita renungkan, ini pesta siapa..?
Share: