• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Pesta Rakyat Atau Pesta Politisi

Pesta rakyat atau pesta politisi menjadi sebuah pertanyaan menjelang pemilu yang akan segera dilaksanakan tepatnya 09 April 2014 diseluruh Indonesia, pemerintah melalui lembaga resminya Komisi Pemilihan Umum atau disingkat KPU dan untuk khusus daerah Aceh disebut Komisi Independen Pemilihan atau disingkat KIP gencar mempromosikan atau mengiklankan pemilihan umum tersebut dengan menghadirkan pemeran-pemeran iklan dari rakyat.

Menjelang pemilihan umum yang merupakan pesta 5 tahunan tersebut gencar disebut sebut sebagai “pesta rakyat”, tapi benarkah rakyat merasa sedang melaksanakan pesta ketika pemilihan 5tahun tersebut berlansung. Benarkah rakyat di untungkan dalam pesta tersebut. Tentu ketika pesta 5tahunan tersebut rakyat tidak perlu lagi membeli kain sarung untuk keperluan dirumah, karena pasti akan banyak para tokoh politisi yang mencalonkan diri sebagai calon legislative menyumbang kain kain sarung kedesa sebagai cara untuk menarik simpati masyarakat agar memilihnya.

Jika hari meugang datang, yang merupakan pesta makan daging rakyat Aceh yang kerap dilaksanakan menjelang hari hari perayaan seperti menjelang puasa,menjelang lebaran. Rakyat tidak perlu susah susah memikirkan kemana harus mencari uang untuk dapat membeli daging agar bisa melaksanakan hari meugang. Sebab akan banyak para calon calon legislative yang akan menyumbang daging ataupun uang dengan maksud juga menarik simpati masyarakat agar memilihnya. Terlebih para calon incumbent yang sedang duduk di kursi dewan namun kembali mencalonkan diri sebagai calon legislative pasti akan kembali menjadi sosok dermawan dengan sering sering melakukan kunjungan dan membagi bagikan bantuan kepada gampong gampong dengan dalih reses dan merakyat satu tahun menjelang masa jabatannya berakhir.

Tapi kemana mereka 4 tahun yang lalu, tidak usah ditanya karena pasti mereka sibuk memikirkan bagaimana mengembalikan modal yang sudah dihabiskan ketika mencalonkan diri sebagai calon legislative, bagaimana memberdayakan partainya, bagaimana mereka harus dapat mengumpul uang agar dapat kaya sebelum masa jabatannya berakhir.

Dewan yang sebelumnya duduk diam dan adem adem saja di kursi empuk, mereka pasti akan terlihat mulai sering sering berada ditengah tengah masyarakat ketika masa jabatan tinggal 1 tahun lagi dan kembali mencalonkan diri. Mereka menjadi dewan yang peduli bahkan menjadi dewan yang merakyat dengan selalu mengunjungi rakyat setiap harinya dari kampung A kekampung B. bantuan bantuan paling gencar mengalir kekampung kampong ketika dewan menjelang masa jabatan berakhir, spanduk spanduk dewan bertebaran di gampong gampong dengan tulisan berbagai macam promosi untuk menarik perhatian masyarakat.

Begitulah pesta rakyat, pesta 5tahunan yang menghabiskan dana trilyunan rupiah, pesta yang rakyat dapatkan selembar kain sarung dari para calon legislative, pesta yang rakyat dapatkan setumpuk tulang daging dari para calon legislative yang mendadak dermawan, selembar uang dari para calon legislative yang tiba tiba menjadi peduli dengan keadaan rakyat.

Apakah ini pesta rakyat atau pesta politisi, karena sebelum terpilih rakyat berpesta dengan berbagai macam bantuan yang berjumlah puluhan ribu rupiah dari para calon legislative dan ketika terpilih para legislative akan berpesta dengan uang ratusan juta dan milyaran rupiah dikursi empuk yang disebut Dewan Perwakilan Rakyat.

Sekarang rakyat lah yang menentukan, apakah mau berpesta hanya dengan selembar kain sarung dan setempuk tulang daging yang akhirnya akan melahirkan anggota dewan pestaphoria  di kursi empuknya. Semoga di tahun mendatang tidak lagi kita mendengar “semua dewan sama saja” karena yang memilih dan menentukan kita lah sebagai rakyat. Jadi bobroknya kinerja dewan adalah kesalahan kita yang telah memilihnya.

Mari sekarang kita renungkan, ini pesta siapa..?
Share:

Dana Aspirasi Milik Siapa

Dana aspirasi memang tidak semua masyarakat mengetahuinya, apalagi masyarakat yang pasif terhadap informasi sedang berkembang di Aceh. Dana aspirasi yang mencapai milyaran setiap anggota dewan Aceh tersebut sepertinya memang menarik untuk di bahas, apalagi media media lokal di Aceh, selalu mencari cari celah untuk dapat menemukan informasi mengenai kuncuran kemana dan siapa yang menikmati dana aspirasi dewan tersebut.

Jika kita mencari di google dengan keyword “dana aspirasi” maka akan muncul segudang pemberitaan tentang dinamika yang terjadi pada kuncuran dan pengesahan jumlah dana aspirasi di dewan. Penolakan yang dilakukan oleh LSM, aktivis mahasiswa, dan masyarakat memang selalu saja terjadi setiap tahun, tapi dana aspirasi tersebut selalu saja berjalan mulus setiap tahun.


Meski ditingkat pusat ada partai yang menolak dana aspirasi yang berjumlah milyaran tersebut, tapi faktanya mereka juga menikmati dana aspirasi tersebut yang setiap tahunnya di kuncurkan dan dinikmati bersama konsituen mereka.


Di Aceh pada pertengahan bulan 2013, dana aspirasi mendapat penolakan keras oleh berbagai aktivis dan LSM yang ada di Aceh. Argumen para aktivis dan LSM tersebut adalah bahwa dana aspirasi rentan terhadap penyelewengan, rentan terhadap kepentingan kelompok atau partai dan dana aspirasi rentan digunakan untuk kampanye menjelang pemilu 2014. Tapi dana aspirasi juga mulus berjalan tanpa hambatan dan dapat berjalan sebagaimana tujuan para dewan tersebut.


Pada tahun 2013 seperti ini yang merupakan tahunnya politik, dimana april 2014 akan menjadi tahun pergantian anggota dewan terpilih. Pada masa kampanye seperti ini banyak sekali para calon legislatif yang menjanjikan kuncuran dana aspirasi kedesa-desa dengan syarat masyarakat desa tersebut harus memilihnya pada april 2014 mendatang.


Para dewan yang tahun ini kembali bertarung memperebutkan kursi dewan 5 tahunan tersebut atau sering disebut dengan istilah calon incumbent, memanfaatkan kesempatan dana aspirasi untuk mengkampanyekan dirinya dengan berbagai kedok seperti reses dan lain lain. Banyak anggota dewan yang juga merasa bahwa dana aspirasi tersebut adalah dana dewan yang berhak dewan kasih kemana mereka suka dan kemana mereka merasakan ada manfaatnya.


Sepertinya dana aspirasi memang telah benar benar menjadi dana dewan yang bisa digunakan untuk kepentingan menjaga konsituen agar tidak memilih calon lain pada pemilihan april 2014 nantinya, dan dana aspirasi juga dapat diklaim oleh dewan bahwa itu dananya yang dikuncurkan keberbagai tempat dengan tujuan masyarakat mengetahui bahwa dewan tersebut telah membantunya sehingga masyarakat akan memilihnya kembali pada periode mendatang.


Lalu yang sebenarnya dana aspirasi itu milik siapa.?


Share:

Jalan Di Aceh Sedang Dibangun Dengan Emas

Jalan jalan di Aceh sedang dibangun dengan emas, bangunan dibangun dengan marmer buatan luar negeri, rumah rumah di aceh tidak ada lagi yang mereng akibat pondasi kayu yang mulai lapuh, pengangguran di Aceh hanya para pendatang, lapangan kerja di Aceh melimpah, karena Aceh telah dipimpin oleh "AWAK TANYO" sebagaimana kata kata yang paling terdengar ditelingaku ketika Aceh masih dilanda konflik antara GAM dan TNI, juga sebelum adanya penandatangan MoU Helsinky di Firlandia itu datang "ACEH NYOE NAH MENYO KALAMJARO DROE TEUH JALAN JALAN TABANGUN NGOEN IE MEUH (emas)". tapi sayang ternyata itu hanyalah mimpi ku ketika sedang tidur siang.

Semangat untuk memberikan Aceh ini untuk dipimpin oleh orang orang yang punya nilai perjuangan didalam didirinya (GAM) memang tersemat dan melekat pada benak hati masyarakat, terutama masyarakat yang dulunya ketika konflik berbaur dengan para prajurit GAM di perdalaman Aceh, masyarakat menaruh harapan besar pada tokoh tokoh GAM untuk menjadi nahkodanya Aceh. Pemilihan umum yang dilaksanakan pada tahun 2009 terbukti bahwa rakyat Aceh menginginkan tokoh GAM untuk memimpin Aceh sehingga Partai Aceh yang tempatnya bernaung tokoh tokoh GAM menguasai dominan parlemen legislator Aceh.

Sebelum pemilihan legislatif, pemilihan Eksekutif atau Gubernur pada tahun 2007 juga dikuasai oleh tokoh GAM meski sekarang mereka telah pecah kongsi (mungken hana sabe bagi) yang kemudian Partai didalamnya di isi oleh dominan tokoh tokoh GAM di Aceh menjadi dua partai yaitu Partai Aceh (PA) dan Partai Nasional Aceh (PNA).

Tahun 2007 sampai saat ini yang merupakan pemimpin pemimpin di Aceh di dominasi oleh tokoh tokoh GAM mulai dari Provinsi, Kabupaten, Kecamatan bahkan gampong di kuasai oleh tokoh tokoh GAM belum juga satu meter pun terbangun sebuah jalan sebagaimana yang pernah di ucap ucapkan  sebagai penyemangat perjuangan rakyat Aceh ketika konflik “ACEH NYOE NAH MENYO KALAMJARO DROE TEUH JALAN JALAN TABANGUN NGOEN IE MEUH (emas)".

Yang ada selama ini di Aceh di dominasi oleh kekerasan, nepotisme, primodialisme dan korupsi yang semakin merajalela tumbuh liar bagaikan jamur dimusim hujan. Proyek lelang gedung gedung dibangun se adanya, jalan jalan dibangun dengan kualitas rendah yang kemudian tidak membutuhkan waktu lama antara 1-2 tahun lagi lagi harus di anggarkan kembali untuk perbaikan.

Belum lagi anggaran pendidikan yang melimpah tapi kualitas pendidikan di Aceh masuk dalam kategori terburuk di indonesia, dana otsus yang trilyunan tidak kita ketahui entah kemana, yang kaya semakin kaya, yang melarat semakin melarat, janda janda miskin harus sabar dengan linangan air mata, dulu memang kita satu perjuangan “Hudep Beu Sare Mate Syahid” tapi sekarang “Neu Pileh Awak Kamoe, Menyo Na Kamoe, Di Droe Neuh Keupu Loem” 
Share:

Otsus Aceh Sampai Kapan Dinimkati Oleh Medan

Aceh dalam konteks ke ekonomian tidak akan habis jika dibahas meski harus mendatangkan pakar pakar ekonomi nasional maupun local. Aceh secara ekonomi memang tidak mampu bersaing dengan medan. Aceh punya barang Medan punya nama, mungkin analogi ini memang pantas dan layak untuk aceh terima. Sebab dalam kenyataannya memang seperti itu.

Uang aceh setiap tahun berkisar 3 trilyun mengalir dan berputar dimedan, jika begitu bagaimana perekonomian aceh akan berputar jika uang di aceh selalu dihabiskan didaerah lain.

Rata rata masyarakat ekonomi menengah ke atas lebih memilih berbelanja dimedan dibandingkan di Aceh, kemudian sumber daya alam yang didapatkan di aceh dijual kemedan untuk selanjutnya di ekspor. Perekonomian aceh tidak akan jadi tumbuh maksimal jika roda perputaran ekonomi terus seperti itu.

Pusat pusat penjualan dan usaha usaha besar di aceh rata rata dikuasai oleh medan seperti shorom, perhotelan, mall dan lain lain. Kemudian penempatan tenaga kerja pada bidang strategis pun dikuasai oleh orang orang medan. “Buya krueng teu dong dong buaya tamoeng meuraseki” pepatah ini merupakan kondisi Aceh yang sebenarnya,

Sentra perekonomian aceh yang terletak dimedan telah menghambat pertumbuhan ekonomi aceh secara menyeluruh, kondisi ini tentu berbanding terbalik dengan semangat otonomi khusus yang diberikan untuk aceh. Otonomi khusus yang diberikan untuk aceh melalui UUPA tidak berdampak pada perubahan yang signifikan kepada perekonomian rakyat Aceh, uang yang melimpah seharusnya sudah dapat meningkatkan perekonomian rakyat aceh.

Namun kondisi otonomi khusus itu tidaklah bermanfaat jika Sentra perekonomian rakyat aceh masih berpusat dimedan. Aceh jangan hanya memiliki pelabuhan bebas, tapi sumber daya alam yang ada di aceh masih saja terus di ekspor melalui medan sedangkan pelabuhan pelabuhan di aceh sepi aktifitas.

Harga kebutuhan pokok yang juga masih bergantungan pada medan membuat ekonomi aceh juga terhambat, permainan harga bahan pokok dimedan untuk aceh membuat harga harga bahan pokok di aceh tidak menentu, sedangkan pemerintah aceh tidak mampu mengstabilkan kondisi tersebut.

Jika kondisi aceh berlansung secara terus menerus seperti ini maka otonomi khusus yang diberikan kepada aceh tentu tidak dapat meningkatkan perekonomian rakyat aceh secara signifikan.

Sampai kapan ekonomi rakyat aceh harus berada dibawah kekuasaan medan. Mungkin pertanyaan ini tidak akan mampu terjawab secara pasti, apalagi jika komitment pemerintah dalam meningkatkan perekonomian aceh masih di pertanyakan.

Menggerakkan ekonomi aceh, pemerintah harus mampu merebut Sentra perekonomian aceh. Hasil hasil panen oleh petani di aceh harus di ekspor melalui pelabuhan pelabuhan yang ada di aceh. Dan kemudian pengolahan bahan baku juga harus dilaksanakan di Aceh untuk kemudian di jual kedaerah daerah lain sebagai produk.
Share: