• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Stop PKA "Pekan Kemaksiatan Aceh"

Ironis melihat dinamika yang terjadi pada pelaksanaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) IV ini. Maksud dan tujuan yang sebenarnya untuk melestarikan adat dan budaya pada generasi berikutnya agaknya telah dikubur secara dalam dalam. Pelaksanaan PKA yang bertujuan sebagai ajang promosi adat dan budaya aceh kepada dunia luar ternyata malah terjadi pengrusakan adat dan budaya aceh dimata dunia yang dikenal sebagai budaya yang mengandung dan melebur dengan unsur unsur syariah.

Tragis ketika mengunjungi area PKA jika kita melihat panggung panggung dipenuhi dengan area joget pinggul dengan lagu trendinya “goyang senggol”. Pemuda pemudi yang ditemani sang biduati agaknya sangat menikmati budaya tersebut. Area PKA yang seharusnya menjadi tempat untuk bernostalgia pada masa masa dimana adat dan budaya menjadi suatu keharusan untuk diketahui oleh generasi muda, sepertinya sudah di suap dengan goyang senggol.

Goyang senggol lebih memikat hati generasi muda dibandingkan pada penyuguhan adat dan budaya Aceh. Hal ini kita lihat dimana perbedaan penampilan budaya dengan penampilan keyboard. Penampilan keyboard akan dikunjungi secara membludak sedangkan penampilan budaya sepi pengunjung. Mungkin ini yang dimaksud “haus hiburan”

Panitia pelaksana dan Wilayatul Hisbah (WH) juga ikut menikmati goyang senggol sehingga tidak ada kata teguran pada panggung panggung yang menyajikan biduan biduan seksi tersebut. Tidak adanya teguran dapat kita lihat bahwa pergelaran keyboard masih saja terjadi setiap malam meski beberapa media mulai memberitakan tentang hiburan tersebut. Bahkan semakin hari pergelaran keyboard semakin parah dan melunjak. Panitia dan WH agaknya melupakan tujuan dan dasar dari pelaksanaan PKA tersebut.

Jika PKA telah menjadi “Pekan Kemaksiatan Aceh” untuk apa pemerintah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit hanya untuk menyajikan sebuah surga dunia bagi rakyatnya di negeri syariah ini.

Penyebutan Pekan Kemaksiatan Aceh baru baru ini telah menjadi trending topic di media sosial masyarakat Aceh, plesetan tersebut di lakukan sebagai bentuk dan rasa kekecewaan masyarakat yang menganggap pelaksanaan PKA tahun ini jauh dari tujuan dan maksud kegiatan. Belum lagi rasa tidak peka nya WH dan panitia dalam meninjau layak tidaknya penampilan yang dilaksanakan di area PKA tersebut oleh setiap anjungan kabupaten/kota.

Jika pelaksanaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) tidak lagi bermaksud pada pelestarian adat dan budaya, sudah saatnya PKA di stop untuk tidak lagi menimbulkan kekecewaan di masyarakat. Dan pelaksanaan PKA pada periode berikutnya pemerintah sudah saatnya memikirkan mekanisme pelaksaannya. Jangan jadikan ajang PKA sebagai ajang untuk meraup keuntungan dengan mengorbankan adat dan budaya yang telah diwariskan oleh pendahulu.


Pergeseran budaya yang terjadi di Aceh juga terlihat semakin parah. Keyboard telah menjadi budaya baru bagi masyarakat Aceh, kehadiran keyboard begitu mudah diterima dan di ingat oleh masyarakat Aceh. Sedangkan budaya yang telah ada ditinggalkan begitu saja. Bahkan ada yang berpendapat bahwa budaya keyboard mau tidak mau rakyat Aceh lambat laun akan menerimanya. padahal keyboard telah merusak semangat pelaksanaan syariah di negeri Aceh ini.
Share:

Pekan Kebudayaan Aceh Ternodai

Pekan Kebudayaan Aceh yang dilaksanakan selama 9 hari kedepan yang dimulai pada hari Jumat tanggal 20 September 2013 dan dibuka lansung oleh Presiden Republik Indonesia “SBY”. Namun baru hari hari pelaksanaannya mulai mendapat keluhan dari para pengunjung, kebanyakan masyarakat banyak yang kecewa pada pelaksanaan PKA tersebut.

Kekecewaan masyarakat terjadi pada berbagai hal, ada yang mengeluh terhadap jalan macet, kemudian jalan masuk dan jalan keluar yang disamakan sehingga membuat para pengunjung berdesak desakan. Tapi ada yang lebih parah adalah atraksi hiburan yang ditampilkan pada arena PKA tidak sesuai dengan semangat syariat dan adat budaya yang ada di Aceh. Misalnya dibeberapa panggung terlihat menampilkan keyboard yang sebenarnya bukanlah merupakan adat dan budaya Aceh.

Salah satu yang mengeluh terhadap pelaksanaan PKA adalah Hardian. Hardian melalui akun facebooknya mengungkapkan
Nyesal habis ke PKA, jalan macet, pintu gerbang berdesakan, sendal ku hilang. PKA aneh,di beberapa anjungan2 kabupaten kok malah ada acara musik Keyboard dan berjoget ria. Itukah yg dinamakan Pekan Kebudayaan Aceh”

Keluhan Hardian adalah salah satu dari banyak keluhan yang disuarakan melalui akun facebook dan twitter yang telah berkunjung ke arena PKA. Tapi dari sekian banyak keluhan, yang membuat saya tertarik adalah masalah penampilan hiburan panggung yang tidak sesuai dengan semangat syariat dan semangat pekan kebudayaan.

Ketika malam minggu sabtu tanggal 21 saya mengunjungi area PKA dengan teman teman, ketika saya melewati salah satu stand saya melihat seorang gadis dan pria sedang berjoget ria diatas panggung dengan menampilkan likak likuk gerakan punggung yang membuat para penonton diderai tawa, kecentilan si gadis dalam berjoget mampu menghipnotis penonton untuk berdesak desakan menyaksikan jogetan sigadis tersebut.

Kemudian teman sebelah saya bercanda “itu WH (Wilayatul Hisbah) disebelah, disini malah jogged ria” kemudian di ikuti tawa sindiran oleh semua teman teman saya.

30 meter kedepan saya berjalan saya menemukan panggung yang sedang menampilkan nyanyian Qasidah pada anjungan kabupaten lain. Dalam hati ku lagi lagi berpikir “Wah Kasian, Yang Qasidah enggak ada yang nonton karena penontonnya sedang berdesakan di panggung yang menampilkan penyanyi eksotis dengan segala kecentilannya”


Sehari kemudian saya membuka berita berita online, lagi lagi saya melihat berita tentang penyanyi eksotis yang menghipnotis pengunjung di arena PKA sedang berlikak likuk menyaingi panggung sebelah yang sedang menampilkan hiburan kebudayaan.


Pikirku Wah dimana semarak Pekan Kebudayaan Aceh jika arena PKA sudah dipenuhi dengan Pekan Kehiburan Aceh. 
Share:

Gelar HC Dan PKA Antara Budaya Atau Hiburan

Penghargaan Untuk SBY
Pekan Kebudayaan Aceh ke VI baru saja dibuka lansung oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Kunjungan SBY ke Aceh selama 2 hari selain untuk membuka Pekan Kebudayaan Aceh juga untuk menerima penghargaan Doktor Honoris Causa (HC) yang diberikan oleh Universitas Syiah Kuala. Tapi entah apa yang melatarbelakangi Unsyiah memberikan penghargaan HC kepada Presiden SBY tersebut. Namun kabar yang saya ketahui gelar tersebut diberikan kepada SBY mengingat atas jasa-jasanya dalam mewujudkan perdamaian dan perhatian penuh memajukan pembangunan Aceh dan Unsyiah menilai bahwa SBY banyak terlibat dalam setiap proses perdamaian baik didalam maupun diluar negeri.

Atas kabar yang saya dengar tersebut timbul sebuah pertanyaan apakah kita lupa atas peran Jusuf Kala dalam mencari solusi atas perdamaian di Aceh. Banyak orang yang mengakui bahwa peran Jusuf Kala lebih banyak dibandingkan peran SBY dalam menciptakan perdamaian di Aceh.

Jusuf Kalla yang ketika itu menjadi Wakil Presiden mendampingi SBY berperan secara lansung dan menyentuh akar persoalan sehingga tercipta sebuah perdamaian antara Aceh dan Indonesia. Ketika saat ini Jusuf Kala tidak lagi menjabat Wakil Presiden mendampingi SBY, peran Jusuf Kalla pun masih sangat dibutuhkan oleh Indonesia dan Aceh dalam setiap penyelesaian konflik yang terjadi.

Ketika permasalahan bendera yang kembali membuka benih-benih konflik antara Aceh dan Indonesia. Jusuf Kalla lagi lagi dibutuhkan untuk menengahi konflik antara Aceh dan Pusat.

Kini Unsyiah telah memberikan gelar HC kepada SBY, sedangkan Jusuf Kalla hanya menerima penghargaan dari hati rakyat Aceh yang menilai lebih berjasa atas terciptanya pedamaian antara Aceh dan Indonesia.

Pekan Kebudayaan Aceh
Pekan kebudayaan Aceh yang menjadi ajang 4 tahunan tersebut kembali berpesta, acara yang dilaksanakan selama 9 hari tersebut menyeguhkan berbagai macam perhelatan seni dan budaya. Para pengunjung juga tidak mau ketinggalan dibeberapa ruas jalan menuju tempat PKA disesaki oleh berbagai macam kendaraan. Macet pun tidak terhindari terjadi dimana mana diseputaran tempat PKA.

Antusiasme pengunjung dalam menyemarakkan PKA memang selalu terjadi pada setiap periode PKA dilaksanakan.

Pada setiap stand kabupaten/kota terlihat memiliki panggung hiburan masing masing. Penyanyi yang ditampilkan pun berbeda beda menurut adat dan kebudayaan di kabupaten/kota setempat. Panggung hiburan tersebut dimaksudkan untuk menarik pengunjung pada stand kabupaten/kota setempat.

Tapi dari setiap hiburan yang disuguhkan dalam arena PKA tersebut apakah memang telah memenuhi maksud dan tujuan dari penyelenggaraan PKA. Penyelenggaraan PKA yang pastinya tidak bermaksud pada tujuan hiburan semata melainkan tujuan pada pelestarian budaya dan adat yang ada di Aceh untuk melawan arus globalisasi yang semakin mengikis adat dan budaya Aceh.

Namun pada kenyataannya dibeberapa Stand kabupaten/kota terlihat penyuguhan hiburan yang jauh dari semarak syariat islam, adat dan budaya, apalagi melihat semarak Pekan Kebudayaan Aceh. Hiburan hiburan yang ditampilkan sama sekali tidak menyangkut dengan adat dan budaya yang ada di Aceh bahkan ada yang terlihat panggung panggung yang menyuguhkan penyanyi penyayi eksotis.

Apakah Pekan Kebudayaan Aceh hanya bertujuan untuk memperlihatkan hiburan semata. Jika tidak tentunya hiburan hiburan yang tidak berhubungan dengan adat dan budaya Aceh harus segera disingkirkan dari arena PKA.

Karena PKA bukanlah Pekan Kehiburan Aceh akan tetapi PKA adalah Pekan Kebudayaan Aceh.


Share: