• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Sarjana, Riwayatmu Kini

Di era reformasi ini menjadi sarjana bukanlah sesuatu hal yang mustahil dilakukan oleh generasi saat ini banyaknya hadir perguruan tinggi menjadi faktor generasi untuk dapat dengan mudah meraih gelar sarjana, gelar sarjana tersebut telah menjadi sebuah kebutuhan social yang secara tidak lansung telah menambahkan peningkatan pandangan social di masyarakat, tentu gelar sarjana yang di raih oleh generasi reformasi jauh berbeda dengan para sarjana yang diraih oleh generasi orde baru, apalagi pada masa orde lama, ketika dimana perguruan tinggi hanya di isi oleh orang orang tertentu dan kebanyakan yang mempunyai nilai ekonomi keluarga menengah.

Namun perbedaan sarjana Pada masa Orde lama maupun orde baru, bukan saja dari sisi ekonomi namun juga dari sisi kualitas para sarjana, pada masa itu gelar sarjana merupakan sebuah gelar yang masih yang begitu di agung agungkan oleh banyak masyarakat, bahkan ketika masih menjadi mahasiswa, masyarakat menjadikan mahasiswa sebagai leader yang patut di contoh dan dihormati karena intelektualitasnya, baik dari sisi pengabdiannya maupun dari sisi perubahan yang dilakukan oleh mahasiswa mahasiswa tersebut diwaktu itu.

Minimnya yang meraih gelar sarjana waktu itu menjdi faktor gelar tersebut sebagai sebuah gelar yang di agung agungkan oleh banyak masyarakat dan masyarakat pun ketika itu mempercayakan dengan kehadiran sarjana akan dapat membuat banyak perubahan untuk masa depan bangsa ini. Namun seiring berjalannya waktu, gelar tersebut telah dipandang sebagai sebuah gelar yang harus diraih untuk mengangkat derajat social oleh banyak orang tua bukan lagi sebuah gelar yang mampu merubah bangsa.

Iwan Fals dalam lagu nya Sarjana Muda yang diciptakan tahun 1981 sepertinya paham betul tentang kondisi para sarjana sarjana di Indonesia, mengapa tidak, dari tahun ketahun para lulusan yang meraih gelar sarjana terus bertambah namun bertambahnya para sarjana tersebut tidak disertai dengan kesiapan untuk memperbaiki keadaan perkonomian bangsa melalui aplikasi ilmu ilmu yang telah didapatkannya semasa bangku kuliah.

Dinamika dinamika yang di alami oleh para sarjana tersebut adalah merupakan dinamika yang sama dari tahun ketahun, namun belum juga terselesaikan hingga saat ini, kualitas pendidikan dalam mendidik mahasiswa untuk meraih gelar sarjana agar dapat keluar dari ketergantungannya dengan pemerintah belum dilakasanakan dengan baik hingga saat ini, bahkan hanya dibicarakan melalui teori teori, sehingga lulusan para sarjana hanya mampu mengharapkan sebuah lowongan kerja, harapan untuk adanya pembukaan lapangan kerja bukan dilakukan tanpa alasan, factor utama para lulusan sarjana menjadi seperti itu adalah disebabkan pendidikan yang diterapkan saat ini bukan untuk menjadi sarjana siap bersaing, namun melainkan sarjana siap pakai. dan hal itu lumrah terjadi pada para sarjana.

Salah satu lirik lagu sarjana muda “Engkau sarjana muda, Resah mencari kerja, Tak berguna ijasahmu, Empat tahun lamanya, Bergelut dengan buku” merupakan sebuah potret nyata pendidikan di negeri ini, mahasiswa sebelum meraih gelar sarjana dihadapkan pada banyaknya buku buku pelajaran yang wajib harus dipelajari oleh mahasiswa, jika tidak maka dipastikan nilai kelulusannya jelek atau bahkan tidak lulus. Namun dibalik bergelut dengan buku para mahasiswa tersebut minim sekali di ajarkan oleh dosennya bagaimana terhadap apliklasinya ketika menjadi sarjana, aplikasi inilah yang banyak dilupakan oleh para dosen dosen,  dosen yang menjadi penentu kualitas para sarjana hanya memberikan teori teori tanpa memberikan praktek  untuk di aplikasikan kepada dunia nyata oleh mahasiswa.

Dinamika yang terjadi dari tahun ke tahun pada para mahasiswa yang telah meraih gelar sarjananya yang selalu sama tersebut entah apa yang akan terjadi kedepannya jika sistem pendidikan yang diterapkan saat ini akan terus berlanjut, yaitu sistem pendidikan yang hanya bergelut pada teori teori yang ada dengan tidak mencoba mendidiknya bagaimana untuk bisa meng aplikasikan teori tersebut kedunia nyata.

Saling lempar tanggung jawab pun terjadi antara pemerintah dengan para sarjana, para sarjana mengharapkan pemerintah untuk bertanggung jawab dalam melakukan pembukaan lapangan kerja bagi para sarjana, begitupun sebaliknya, pemerintah mengharapkan para sarjana tidak hanya mengharapkan menjadi pegawai negeri, dan tidak mengharapkan lapangan kerja dari pemerintah, tapi bagaimana menciptakan lapangan kerja yang mampu menciptakan pertumbuhan perekonomian.

Jika sudah seperti ini siapa yang harus kita salahkan,,,,,?
Sudah saatnya pemerintah dan perguruan tinggi untuk memikirkan model pendidikan yang mampu menciptakan sarjana siap bersaing, agar permasalahan saling lempar tanggung jawab tidak terjadi antara pemerintah dengan sarjana dan para dosen pun tidak hanya mendidik mahasiswa untuk berfokus pada teori teori yang ada namun juga mendidik bagaimana meng aplikasikan teori teori yang sudah dipelajari oleh para sarjana.

Jika tidak, tahun demi tahun perguruan tinggi hanya akan menciptakan sarjana sarjana siap pakai, bukan sarjana siap bersaing.
Share:

Mengenal Yudi

Nama lengkap Srabah Yudi atau dipanggil Yudi dan nama lainnya adalah Yudi Kita.  Ia dikenal sebagai laki laki berkepribadian Introvert Yudi merupakan lulusan Teknik Industri Universitas Serambi Mekkah dan kemudian melanjutkan kosentrasi di Pascarsarjana Teknik Industri Universitas Syiah Kuala. Pria kelahiran Idi 29 September 1988 ini masa kecilnya diasuh oleh Nenek dan Kakeknya di Aceh Timur atau tepatnya Idi Rayeuk. Alasan di asuh oleh Nenek dan Kakek adalah karena masa kecil ketika umur 2 tahun sering sakit-sakitan, karena rasa sayang dan kasian akhirnya Nenek memutuskan untuk membawa pulang kekampung halamannya, bukan hanya itu nama yang pertama Awalidaini diganti menjadi Sra Wahyudi, pergantian nama tersebut menurut kepercayaan orang tua terdahulu adalah untuk menghindari penyakit yang terus diderita oleh seorang bayi, setelah itu pasca masuk SD, sang guru salah menuliskan nama yang akhirnya malah menjadi Srabah Yudi. Nama tersebut sekarang menjadi nama satu-satunya di dunia yang dimiliki olehnya. Usia beranjak 15 tahun kemudian ia melanjutkan sekolahnya ke SMK Negeri 2 di Banda Aceh dan tinggal bersama kedua orangtuanya yang memang sudah menetap di Banda Aceh sejak menikah.

Belum sampai 2 tahun di Banda Aceh, tsunami yang mahadasyat meluluh lantakkan sekolahnya dan kemudian memutuskan untuk pindah sekolah ke SMK Negeri 2 di Langsa, 2 tahun dilangsa ngekost kemudian balik lagi ke Banda Aceh.

Yudi kecil cita-citanya adalah menjadi seorang polisi, namun cita cita itu kandas pasca musibah dialaminya ketika pergi sekolah yang kemudian membuat kakinya patah, akibat itulah ia mengurungkan niatnya dan kemudian memutuskan untuk kembali melanjutkan pendidikannya sebagai sarjana (S1) yang pada awalnya tidak memiliki niat untuk itu dan sekarang sedang melanjutkan Pascasarjana (S2).

Yudi besar, kini hobinya adalah menulis, membaca, photography dan berorganisasi. Hobinya dalam berorganisasi tumbuh ketika kuliah, berkat semangat dan kerja kerasnya ia telah menduduki berbagai jabatan penting dan level di kampusnya.

Ia bahkan dikenal sebagai mahasiswa garis keras yang banyak menentang kesewenang-wenangan dikampusnya. Ia pernah melakukan aksi bersama kawan kawan seperjuangannya dan aksi itu disebut-sebut sebagai aksi ke tiga terbesar sepanjang sejarah kampus itu berdiri. Akibat ulahnya itu, ia dan kawan kawannya bahkan pernah mendapat ancaman dari berbagai pihak, dipantau oleh suruhan kampus dan bahkan diancam dikeluarkan dari kampus ketika itu.

BIOGRAFI LENGKAP
Nama Lengkap      : Srabah Yudi
Panggilan              : Yudi
Nama Lain             : Yudi Kita
Tempat Lahir         : Idi / Aceh Timur
Tanggal Lahir        : 29 September 1988
Zodiak                  : Libra

MEDIA SOSIAL
Instagram             : yudi_kita
Twitter                  : yudi_kita
Facebook              : srabahyudi
BBM                     : D4EBA100
Email                    : srabahyudi@gmail.com

PENDIDIKAN
SD Negeri 1 Kp. Jalan Idi Rayeuk
MTs Negeri Model Kp. Jalan Idi Rayeuk
SMK Negeri 2 Kota Banda Aceh
SMK Negeri 2 Kota Langsa
Sarjana Teknik Industri Universitas Serambi Mekkah
Pascasarjana Teknik Industri Universitas Syiah Kuala

ORGANISASI KAMPUS
Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Industri
Ketua Komisi C Majelis Permusyawaratan Mahasiswa
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik
Sekretaris Jendral Pemerintahan Mahasiswa
Pendiri dan Pimpinan Redaksi Lembaga Pers Kampus

ORGANISASI NON KAMPUS
Anggota Sahabat Wahana Lingkungan Hidup Aceh
Anggota Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat
Ketua Ketahanan Nasional Pemuda Provinsi Aceh
Jaringan Basis Seknas Jokowi Provinsi Aceh
Sekretaris Rumah Kreasi Indonesia Hebat
Wakil Sekretaris I Garda Pemuda NasDem Aceh
Share:

Bencana Lagi, Galang Dana Lagi


Belum lama kita mendengar dan merasakan betapa pahitnya bencana yang di alami oleh warga Tangse, bencana tersebut bukan merupakan bencana pertama yang di alami oleh warga Tangse melainkan bencana kedua yang di alami dengan bencana yang sama yaitu banjir bandang.

Banjir bandang yang di alami oleh warga Tangse, pemerintah belum pun banyak mengembalikan pembangunan infrastruktur yang rusak diterpa bencana banjir bandang tersebut, namun kali ini datang lagi, datangnya bukan lagi di Tangse, kali ini banjir di kabupaten  Aceh Utara, Aceh Jaya dan Aceh Barat, bajir yang terparah di Aceh Barat. Begitulah Aceh sebuah provinsi yang terkenal dengan penghijauannya, hutan lebat tapi gunung gundul dan program Aceh Green yang ditelan tsunami.

Sebelumnya tulisan saya yang berjudul “BENCANA: MAHASISWA MENGEMIS BUKAN JAMANNYA LAGI” merupakan sebuah tulisan yang dikritik berbagai macam ragam oleh mahasiswa, ada yang mengkritik dengan nada negative namun ada juga yang positif yang mengambil sebuah bahan refleksi bagaimana meningkatkan kreatifitas mahasiswa di era reformasi ini.

Penggalangan dana yang dilakukan oleh mahasiswa bukan saja dilakukan pada era era reformasi ini, penggalangan dana yang dilakukan oleh mahasiswa sudah ada sejak orde lama hingga berlanjut ke orde baru bahkan hingga saat ini, model dan cara yang dilakukan pun tidak jauh berbeda dengan cara cara yang pernah dilakukan pada orde lama dan orde baru, istilahnya “Model Lama”.

Lalu timbul sebuah pertanyaan, apakah mahasiswa tidak mampu menciptakan sebuah ide dan gagasan baru yang dipandang lebih menarik untuk mampu meningkatkan tingkat penyumbang, karena apapun cerita, penggalangan dana yang dilakukan oleh mahasiswa adalah harapannya untuk mampu menggalang dana sebanyak banyaknya. Jika cara cara yang dilakukan oleh mahasiswa dalam penggalangan dana tidak berubah ubah “Model Lama” apakah mahasiswa dapat di anggap sebagai Agent of Change, yang merupakan orasi orasi yang sering terdengar di mulut mahasiswa ketika berargumen dengan orang orang yang memberi pendapat yang berbeda.

Melirik mahasiswa tingkat nasional non Aceh.
Penggalangan dana yang sering dilakukan oleh mahasiswa bukan saja hanya dilakukan oleh mahasiswa Aceh, ketika terjadi bencana, harapan mahasiswa diprovinsi lain juga tidak jauh berbeda dengan harapan mahasiswa Aceh, yaitu dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi rakyat yang merupakan hak dan kewajiban kaum intelektual.

Tapi, cara yang dilakukan oleh mahasiswa Aceh dalam melakukan penggalangan dana, mulai jarang dipakai oleh mahasiswa di provinsi lain, dan pertanyaannya kenapa?. Seharusnya ini yang harus dipahami oleh mahasiswa Aceh, “mengapa mereka mulai jarang melakukan penggalangan dana kepersimpangan jalan ketika terjadi bencana”. Bukan berarti di provinsi lain tidak ada penyumbang. Tetapi cara yang mereka lakukan saat ini mulai beralih ke cara cara yang lebih elegan dan mampu menciptakan kesadaran masyarakat dalam memberikan sumbangan kepada orang yang terkena musibah,

Jadi, yang harus kita sadari bahwa, mahasiswa provinsi lain mempunya kreatifitas lebih dan mempunyai ide, inovasi dan inovatif dibandingkan dengan mahasiswa mahasiswa Aceh yang hanya mampu melakukan cara cara lama dalam hal penggalangan dana. 

Share:

Andai Aceh Merdeka "Trending Topics"


Sebuah fakta yang terlihat sederhana namun mempunyai makna yang dalam atas apa yang menjadi pusat perhatian masyarakat Aceh, sebuah tulisan yang saya kutip dari sebuah situs di internet dengan judul tulisan yang sangat menarik dan menjadi pusat perhatian rakyat Aceh, “ANDAI ACEH MERDEKA”.

Tulisan ini adalah tanggapan Sekjen MB GAM Eropa atas tulisan Prof Hermawan Sulistyo yang di posting pada tanggal 25 Desember tahun 1999 , tulisan tersebut isinya merupakan klarifikasi atas pernyataan Hermawan Sulistyo.

Banyaknya pengunjung untuk membaca apa yang sebenarnya tersirat dalam tulisan Andai Aceh Merdeka membuktikan bahwa rakyat Aceh masih merasa sangat antusias terhadap kata-kata merdeka.

Tulisan yang saya posting bersamaan pada saat gejolak politik antara Pemerintah Aceh dengan Pemerintah Pusat mengenai controversial terhadap pengesahan Qanun Bendera dan Lambang Aceh. kontroversial nya pengesahan Qanun dan Lambang Aceh telah membuka kisah lama yang kembali menjadi pembicaraan rakyat Aceh. kata-kata yang sering terdengar baik dimedia social maupun warung kopi yang menjadi tempat berkumpulnya rakyat Aceh “apakah pemerintah pusat akan kembali menghianati Aceh”.

Melonjaknya grafik pengunjung pada tulisan “Andai Aceh Merdeka” yang berjumlah 111 orang pada tanggal 03 Appril 2013 pukul 03.23 disusul dengan “Mudahnya Menghancurkan Aceh” yang berjumlah 47 orang, secara kajian sederhana membuktikan bahwa fanatisme masyarakat Aceh dalam mendengar kata kata merdeka tidak dapat diragukan oleh  pemerintah pusat.

Maka dari itu ada baiknya pemerintah pusat untuk tidak lagi bermain api jika tidak mau terbakar dengan api, karena sesungguhnya masyarakat Aceh sudah merasa bahagia dengan adanya perjanjian MoU Helsinky pada tahun 2005, rakyat Aceh hanya menuntut apa yang telah menjadi hak nya dan apa yang telah disepakati oleh pemerintah Pusat dengan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinky dengan disaksikan oleh dunia.

Rakyat Aceh hanya meminta apa yang telah menjadi haknya, dan rakyat Aceh hanya menjaga harkat dan martabat untuk tidak lagi kembali dirampas oleh pemerintah pusat. Karena jika itu terjadi maka dapat dipastikan jalan damai benar-benar tertutup untuk selamanya, jika MoU Helsinky tidak lagi menjadi pedoman bagi kedua belah pihak antara Pemerintah Aceh dengan Pemerintah Pusat, maka hanya akan ada dua pilihan setelah ini “Aceh Merdeka Atau Aceh Hilang”

Baca "Andai Aceh Merdeka"
Share: