• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Mahasiswa Kotak Kotakan


DALAM psikologi, hati digerakkan oleh jiwa. Sedang dalam antropologi, perilaku digerakkan atau diremotkan oleh kebudayaan. Demikian surah Pak Dosen pada mahasiswanya. “Sehingga,” lanjut peneliti masalah sosial itu, “nantinya seseorang akan mengalami culture shock (gegar budaya) ketika tinggal di lingkungan baru.” Misal, “ada orang kampung datang ke kota. Tinggal di kota barang dua hari. Pulang dari kota sudah bawa embel-embel kota: Alah, male teuh. Malas tat lon. Wo dari Lok. ih.., jorok….

Kita Ia langsung teringat pada banyak mahasiswa dari pelosok-pelosok Aceh yang kuliah ke Banda Aceh. weueh hate (terenyuh) melihat mahasiswa Aceh ketika sesama Aceh pun ngomong bahasa Indonesia dengan lebay di luar lingkungan formal. Atau berbicara dalam bahasa Aceh dengan membawa embel-embel kota. Ya seperti Pak Dosen contohkan.

“Tak perlu jauh-jauh,” pada saat ini kita melihat mahasiswa yang merantau ke Banda Aceh dan kuliah  dibanda aceh, lihatlah ketika ia ngomong.Pakai bahasa indonesia’ itu diucapkan terbata-bata. Meubalok-balok itubiet logat aceh. Hahahhahahahhahaha. Sok pakek bahasa Indones.”

Maka wajar ketika ada orang Aceh yang sudah berpuluhan tahun tinggal di luar Aceh, lalu ia pulang ke Aceh dan ia merasa kasihan pada generasi Aceh, seperti terpublis pada SMS salah satu media. Berikut cuplikannya.

Meuploh thon lon dilua. Yang paleeng teukeujot bin lucu that ate lon woe u Aceh, teristimewa Banda Aceh, taeu ureung sabee Aceh meututo ngen bahasa Indonesia. Tuha muda sa sit. Hana daerah laen latah lagee nyan. Alah hai syeedara lon meutuah bahagia, peukeuh maleei neuh jeut bansa Aceh? Pakon, pakon, pakon?

Bila diindonesiakan, kira-kira begini: Puluhan tahun saya di luar. Yang paling terkejut bin lucu sekali ketika saya pulang ke Aceh, teristimewa Banda Aceh, kita lihat orang Aceh sesama Aceh bertutur dengan bahasa Indonesia. Tua muda sama juga. Tak ada daerah lain latah seperti itu. Alah hai saudara saya yang bertuah bahagia, apakah malu Anda jadi orang (bangsa) Aceh? Kenapa, kenapa, kenapa?

Jelas sekali kekecewaan yang dirasakan si pengirim sms ini. Dari kalimat “Hana daerah laen latah lagee nyan”, itu menunjukkan betapa lebaynya generasi Aceh. Ini bisa ditarik kesimpulan, generasi Aceh yang datang dari kampung ke kota dan lalu hidup di kota, bahwa mudah sekali mengalami latah budaya (culture shock).


Lalu maksud dari tulisan ini akankah suatu saat nantinya para generasi aceh akan melupakan bahasa daerahnya dan beralih kepada bahasa indonesia. Suatu bahasa nenek moyang yang akan kita bayar mahal apabila kita meninggalkannya dan kehilangan indetitas bahasa daerah akan semakin didepan mata.


Share:

Kampus Menjadi Pembunuh Gerakan Mahasiswa


Dunia pendidikan adalah dunia ethic yang harus selalu berada di depan menghela dunia emic pragmatis di lapangan. Oleh karena itu, seharusnyalah semua orang yang berada dalam dunia akademik menyadari raison d ‘etre – nya ini. 

Parahnya birokrasi kampus ternyata sangat jauh dari apa yang seharusnya terjadi. Mulai dari menteri pendidikan, rektor, dekan hingga staff di jurusan/program studi tak sedikitpun memiliki respect terhadap gerakan mahasiswa. Segelintir mahasiswa yang masih mau meluangkan waktu untuk menjadi aktifis mendapat cemoohan dari banyak pihak. Teman-teman kulaihnya yang tak memilih jalur hidup itu, para dosen dan birokrasi kampus memandang remeh terhadap mereka. Bahkan keluarga mereka sendiri tak banyak yang men-supportanaknya untuk menjadi seorang aktifis gerakan mahasiswa.

Sekian banyak aktor yang meminggirkan posisi strategis aktifis gerakan mahasiswa itu sebenarnya terbingkai dalam sebuah sistem. Dan inti dari sistem ini adalah terletak pada birokrasi kampus (pejabat-pejabat struktural yang ada di perguruan tinggi). Apabila mereka memiliki sensitifitas yang cukup terhadap arti strategis gerakan mahasiswa sesungguhnya mereka dapat memberikan regulasi yang bersifat memberi ruang ekspresi pada para aktifis. Namun kenyataannya justru regulasi kampus mempersempit ruang ekspresi gerakan mahasiswa. Buktinya adalah tidak adanya apresiasi akademis yang cukup dari birokrasi kampus terhadap para aktifis yang terbukti cukup gigih dalam memperjuangkan demokrasi dan hak-hak kaum marginal. Atau bahkan ruang-ruang diskusi kritis yang dilakukan secara independen oleh para mahasiswa dipandang remeh dan membuang-buang waktu oleh birokrasi kampus.

Dunia pendidikan tinggi yang mengemban Tri Dharma hanya dimaknai secara formal prosedural, tidak substansial. Sehingga fasilitasi yang diberikan hanya kepada lomba-lomba penelitian, lomba pidato dan perlombaan lainnya yang banjir hadiah dan pengahargaan dari para menteri maupun presiden. Tapi prestasi yang dicapai oleh para aktifis yang memperoleh penghargaan dari rakyat tak pernah dianggap penting. Ini sama halnya bahwa para birokrat kampus tak memandang penting posisi rakyat. Mereka lebih berpihak dan menghormati menteri-menteri dari pada para marginal kota, buruh, nelayan maupun petani yang terpinggirkan. Sungguh merupakan sikap akademis yang memalukan.

Prioritas yang ada pada para birokrat kampus juga para dosennya adalah mengeruk sekarung proyek yang berimplikasi langsung terhadap makin bertambahnya pendapatan sampingan (yang hampir pasti jumlah berlipat-lipat kali gaji mereka). Bukan haram untuk melakukan itu, tapi bila hanya uang yang dikejar dari sekian banyak proyek itu maka itulah tanda-tanda akhir dunia. Sibuknya para dosen dan birokrat kampus akan berbagai proyek itu seringkali mengabaikan tugas utama mereka dalam pendidikan itu sendiri. Waktu untuk melayani mahasiswa manjadi makin sempit. Bahkan masih sangat sering ditemui wajah-wajah masam dan tak menyenangkan ketika mereka berhadapan dengan mahasiswa, terlebih penampilan kumal para katifis. Alih-alih proyek-proyek itu dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan di kampus, yang terjadi justru kampus seperti kereta trolley yang menampung segala jenis barang secara serampangan dan campur aduk. Yang penting komoditas tersebut laku dijual dan segera mendapatkan untung.

Inilah wajah muram birokrasi kampus yang ada saat ini. Sehingga tak berlebihan kalau dikatakan ia merupakan agen utama yang turut serta membuat gerakan mahasiswa yang ada di Indonesia saat ini collaps. Jangankan untuk serius memberi ruang apresiasi terhadap gerakan mahasiswa, memikirkan dan berempati saja tidak. Padahal sikap tak peduli terhadap gerakan mahasiswa adalah juga sikap tak peduli terhadap tegaknya demokrasi dan hak-hak rakyat tertindas. Kalau sudah begitu, dimanakah idealisme akademik para birokrat kampus akan dialamatkan

Share:

Mahasiswa Bukan Butuh Gangnam Style


Kehidupan terus berputar, detak waktu tak pernah berhenti inilah kehidupan, tak ada yang mampu membendung dan menghentikannya meski hanya satu detik. Perputaran kehidupan bukan saja berlaku pada usia seseorang, namun dari seluruh lini kehidupan perputaran disebut sebut merupakan hal yang lumrah, misalnya dalam sebuah organisasi biasa disebut regenerasi.

Proses terciptanya regenerasi di kampus merupakan proses yang lumrah dan tak akan mungkin dibendung oleh siapapun, seperti misalnya mahasiswa lama menghilang, mahasiswa baru bermunculan. Proses itu disebut hal yang lumrah karena dalam setiap kehidupan adanya perputaran yang harus di ikuti oleh setiap manusia.

Mengingat menghilangnya mahasiswa mahasiswa lama dari dunia ke organisasian kampus dan bermunculan mahasiswa mahasiswa baru dalam dunia keorganisasian merupakan ibarat artis Gangnam Style yang secara tiba tiba mendunia dan di ikuti oleh banyak penggemar dan itu lumrah terjadi. Dipandang dari sudut kehidupan tentu ada perbedaan dimana antara dunia organisasi dengan hiburan.

Dunia hiburan memang membutuhkan sosok sosok seperti penyanyi PSY yang terkenal denga lagunya Gangnam Style, karena dunia hiburan merupakan dunia eforia yang siapa saja tidak mampu menciptakan eforia di tengah tengah masyarakat, maka akan di tinggalkan oleh penggemar.

Tapi, dunia organisasi berbeda jauh dengan dunia hiburan, dimana dunia organisasi yang mengarah pada social (bakti) tentu tidak membutuhkan sosok seperti artis yang hanya mampu menjadi penghibur, tapi dibutuhkan sosok sosok pemimpin yang mampu menjadikan rakyatnya sejahtera. Sejahtera dalam artian disini adalah mampu menciptakan dan menuntaskan visi misi yang sudah dijanjikan kepada rakyatnya. Karena dengan visi misi tersebutlah rakyat menentukan pilihannya dengan harapan mampu memenuhi janjinya seperti apa yang telah dijanjikan kepada rakyat.

Lahirnya kader kader baru diharapkan bukan hanya mampu menjadi seperti Gangnam Style yang bisa menghibur penggemar, tetapi mampu menciptakan kreatifitas yang inovatif sehingga bisa dirasakan oleh mahasiswa manfaatnya dan merealisasikan atas apa yang sudah pernah di ucapkannya.
Share:

Bencana : Mahasiswa Mengemis, Bukan Jamannya Lagi


Bencana datang silih berganti, belum pulih disatu tempat, tempat lain sudah merasakan bencana lainnya. Begitulah kondisi alam di Negeri ini, bencana yang tiada berhenti belum juga mampu menyadarkan manusia untuk terus merawat dan menjaganya agar terhindar dari kemarahan alam.

Ada banyak hal yang menarik dan dapat kita pelajari setelah terjadinya bencana, obrolan masyarakat dalam menceritakan setiap kondisi secara detail  dari mulut mulut masyarakat. Apalagi kondisi aceh akan kental dengan budaya Jeep Kupi, (minum kopi dan nongkrong diwarung kopi) membuat suasana semakin cepat dan menjarah kesetiap telinga masyarakat. Disatu sisi mahasiswa yang disebut sebagai kaum intelektual pun punya cara tersendiri dalam menanggapi bencana bencana yang terjadi.

Konsisi social masyarakat yang masih tinggi membuat suatu kelebihan tersendiri dalam kehidupan masyarakat aceh, dimana jika tetangga mengalami musibah maka yang lainnya ikut merasakan kesedihan dan membantu tetangga tersebut.

Dalam hal bencana yang terjadi silih berganti di Aceh, membuat masyarakat tidak lelah dalam membantu saudaranya yang sedang mengalami musiban bencana tersebut. Dalam hal ini mahasiswa sebagai kaum intelektual pun bergerak cepat dengan caranya sendiri untuk berlomba lomba tampil dalam melakukan penggalangan dana sebagai bukti bahwa duka masyarakat aceh duka mahasiswa juga.

Namun cara yang dilakukan oleh mahasiswa saat ini, dalam hal penggalangan dana mulai tersontar mahasiswa bagaikan pengemis, disetiap terjadinya bencana disuatu daerah maka mahasiswa turun kejalan mengemis. Mungkin dalam hal ini, bukan disalahkan pada suatu niat mahasiswa yang melakukan penggalangan dana, namun jika kita melihat dalam perspektif lain maka dapat kita simpulkan bahwa mekanisme atau cara mahasiswa melakukan penggalangan dana yang di anggap cara-cara tak elegan sebagai kaum intelektual.

Secara moral ataupun gelar sebagai mahasiswa maka masyarakat memandang sebagai kaum yang lebih, yang seharusnya setiap perilaku dan etika harus mencerminkan diri sebagai kaum intelektual. Memang di era beberapa tahun yang lalu banyak mahasiswa yang melakukan penggalangan dana dengan turun kejalan. Namun saat ini banyak organisasi yang sudah menemukan mekanisme mekanisme yang lebih terhormat dan kreatif dalam melakukan penggalangan dana untuk bencana. Disamping itu sudah mulai terlihat banyak event-event yang dilakukan oleh berbagai organisasi dengan mengangkat tema penggalangan dana untuk bencana, sebagian lagi ada yang melakukan penjualan produk dengan mengangkat tema bencana seperti penjualan pin, baju dan lain lain yang mengangkat tema bencana. 

Sehingga masyarakat pun menilai itu merupakan cara yang lebih elegan dibandingkan dengan cara-cara mengemis. Karena adanya timbal balik yang diberikan antara masyarakat dengan para organisasi penggalangan dana. Dan masyarakat pun dapat menerima hal hal seperti itu pula, meski produk yang dijual oleh organisasi tersebut lebih mahal dibandingkan produk yang dijualkan dipasaran. Disebabkan masyarakat bukan melihat dari kualitas produknya tapi melainkan tema yang di angkat oleh para organisasi tersebut adalah bencana.  Yang mana kesemua dari keuntungan yang didapatkan oleh organisasi tersebut akan diserahkan kepada masyarakat yang sedang mengalami musibah.

Sayangnya cara-cara yang dilakukan oleh organisasi non mahasiswa tersebut belum mampu dicerna oleh mahasiswa untuk mengikuti jejak-jejak tersebut. Dimana setiap penggalangan dana setidaknya ada timbal balik yang diberikan kepada pihak penyumbang agar tidak terlihat seperti pengemis. Lalu apa bedanya mahasiswa dengan pengemis.

Hal ini bukan dalam artian setiap penyumbang menginginkan adanya timbal balik setelah menyumbang, namun cara cara seperti itu dipandang oleh masyarakat merupakan cara cara yang lebih terhormat dan elegan yang harus dilakukan oleh mahasiswa dalam memberi kontribusi kepada masayarakat.
Share:

Sejarah Pemilu Indonesia

Pemilihan Umum Indonesia 1955 adalah pemilihan umum pertama di Indonesia dan diadakan pada tahun 1955. Pemilu ini sering dikatakan sebagai pemilu Indonesia yangpaling demokratis. Pemilu tahun 1955 ini dilaksanakan saat keamanan negara masih kurang kondusif; beberapa daerah dirundung kekacauan oleh DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) khususnya pimpinan Kartosuwiryo. Dalam keadaan seperti ini, anggota angkatan bersenjata dan polisi juga memilih. Mereka yang bertugas di daerah rawan digilir datang ke tempat pemilihan. Pemilu akhirnya pun berlangsung aman.
Share:

Latar Belakang Lahirnya Sosialisme

Sosialisme seperti telah dikemukakan, mula mula muncul sebagai reaksi terhadap kondisi buruk yang dialami rakyat dibawah sisitem kapitalisme liberal yang tamak dan murtad. Kondisi buruk terutama dialamai kaum pekerja atau buruh yang bekerja di pabrikpabrik dan pusat pusat sarana produksi dan transportasi. Sejumlah kaum cendikiawan muncul untuk membela hak hak kaum buruh dan menyerukan persamaan hak bagi semua lapisan, golongan, dan kelas masyarakat dalam menikmati kesejahteraan, kekayaan dan kemakmuran. Mereka menginginkan pembagian keadilan dalam ekonomi. Diantara tokoh tokoh awal penganjur sosialisme dapat disebut antara lain: St. Simon (17691873), Fourie (17701837), Robert Owen (17711858) dan Louise Blanc (18131882). Setelah itu baru muncul tokoh tokoh seperti Proudhon, Marx, Engels, Bakunin dan lain sebagainya.

St. Simon dipandang sebagai bapak sosialisme karena dialah orang pertama yang menyerukan perlunya sarana sarana produksi dimiliki sepenuhnya oleh pemerintah/negara. Gagasannya merupakan benih awal lahirnya sistem kapitalisme negara (state capitalism).

Fourie, tokoh sosialis berikutnya, adalah orang pertama di Eropa yang merasa prihatin melihat pertarungan tersembunyi antara kaum kapitalis dan buruh. Dia mengusulkan kepada pemerintah Prancis agar membangun kompleks perumahan yang memisahkan kelompok kelompok politik dan ekonomi, yang dapat menampung empat hingga lima ratus kepala keluarga. Ia menganjurkan hal ini untuk menghentikan pertarungan dan pertentangan ekonomi antara kaum kapitalis dan buruh. Pandangan ini tidak mendapat tanggapan positif, sednagkan ajaran St. Simon banyak mendapat pengikut serta mendorong lahirnya Marxisme di kemudian hari.

Robert Owen, seorang ahli ekonomi yang berpandangan sam adengan Fouriee. Tetapi pandangan kurang bulat dibanding pandangan para pendahulunya. Ia mengajarkan pentingnya perbaikan ekonomi seluruh lapisan masyarakat dan penyelesaian masalah yang timbul antara kaum kapitalis dan buruh. Caranya melalui berbagai kebijakan yang dapat mengendalikan timbulnya kesenjangan ekonomi dan kecemburuan sosial. Ia sendiri pernah menjadi manajer sebuah pabrik. Pengalamannya sebagai manajer sangat mempengaruhi pemikiran ekonominya. Sekali pun demikian ide idenya dianut banyak orang di Inggris.

Louis Blanc adalah tokoh yang revolusioner dan ikut membidangi meletusnya revolusi Prancis. Manurutnya salah satu kewajiban negara ialah mendirikan pabrikpabrik yang dilengkapi dengan segala sarana dan bahan produksi , termasuk peraturan peraturan yang mengikat. Elanjutnya jika pabrik itu telah berjalan dengan baik diserahkan kepengurusannya kepada buruh dan pegawainya untuk mengatur dan mengembangkan secara bebas. Organisasi dan manajemen pabrik sepenuhnya dibebankan kepada buruh, begitu pula kewenangan memajukan produksi, mencari pasar dan pembagian keuntungan. Sosialisme yang diajurkan Louis Blanc disebut sosialisme kooperatif. Manurutnya kapitalisme akan hilang dengan sendirinya apabila gagasangagasannya itu diwujudkan. Sayang, seruannya itu kurang mendapat tanggapan khalayak. Bahkan ia ditentang keras oleh para politisi dan ekonom. Pada tahun 1882 di Inggris berdiri kelompok Fabian Society yang menganjurkan sosialisme berdasarkan gilde.

Tetapi pada akhir abad ke19 sosialisme dan berbagai alirannya yang berbeda beda mulai mendapat penerimaan luas di Eropa. Ini disebabkan karena mereka tidak hanya melontarkan ide ide dan mengembangkan wacana di kalangan intelektual dan kelas menengah, tetapi juga terutama karena mengorganisir gerakan gerakan bawah tanah yang radikal dan bahkan revolusioner.

Pierre J. Proudhon (18091865) adalah penganjur sosialisme generasi kedua di Prancis setelah generasi St. Simon dan louis Blanc. Tetapi berbeda dengan para penganjur sosialisme lain yang cenderung menghapuskan hak hak individual atas sarana sarana produksi, termasuk hak petani untuk memiliki tanah garapan. Proudhon justru bersikeras memperjuangkan dipertahankan hakhak individual secara terbatas, termasuk hak petani untuk mengembangkan usahanya. Jadi ia menolak ide kolektivisme penuh dari kaum sosialis radikal seperti Marx. Bagi Marx hak individual harus dihapus, termasuk hak kepemilikan tanah. Di samping itu kaum tani bukan golongan yang penting dalam masyarakat yang bergerak menuju masyarakat sosialis sejati.

Marx berpendapat demikian karena faham dialekti materialismenya, yang menganggap bahwa sejarah bisa berubah hanya disebabkan oleh factor faktor produksi dan penguasaan sarana produksi oleh kaum proletar yang selama ini diperas oleh kaum kapitalis. Perbedaan pandangan antara Proudhon dan Marx inilah yang membuat gerakan sosialis internasional mengalami perpecahan pada akhir abad ke19, dan sosialisme pun pecah kedalam berbagai aliran seperti sosialisme demokrat, komunisme ala Marx, sosialisme anarkis ala Bakunin, Marxisme Leninisme, sosialisme ala Kautsky, sosialisme Kristen, dan lain lain.

Kecuali itu ketidak berhasilan sosialisme memperoleh pengikut yang signifikan pada masa awal, tidak pula berhasil melakukan perubahan mendasar dalam kehidupan masyarakat terutama disebabkan karena para penganjurnya berkampanye dikalangan elite dan intelektual. Khususnya dengan cara mengubah sentimen moral mereka, padahal mereka khususnya kaum borjuis kapitalis dengan semangat individualismenya yang tinggi tidak mengacuhkan masalah masalah moral dan implikasi moral bagi tindakan tindakan mereka. Rasa keadilan jauh dari pandangan hidup mereka. Yang penting menimbun kekayaan sebanyak banyaknya dengan “menghalalkan segala cara”.

Karl Marx berbeda dengan penganjur sosialisme lain sebelumnya. Ia tidak membangun gerakan. Ia tidak memberi ampun sama sekali terhadap hak hak individual dalam pemilikan sarana produksi. Ia berpendapat bahwa kekayaan individual bukan sesuatu yang terhormat dan dapat mengangkat martabat atau harkat seseorang. Karena dalam kenyataannya ia diperoleh dengan cara memeas habis tenaga dan menindas hakhak kolektif rakyat, terutama kaum yang merupakan lapisan terbesar dalam masyarakat industrial. Kekayaan individual itu justru membuat jatuhnya martabat dan kehormatan seseorang. Karena ia diperoleh dengan jalan tidak bermoral, tanpa rasa malu dan rasa bersalah. Melalui korupsi, penipuan dan berbagai penyelewengan terhadap hukum.

Dehumanisasi yang dilakukan oleh kaum borjuis dan kapitalisme mencapai puncaknya pada akhir abad ke19. Marx lantas menulis bukunya Manifesto Komunis, Das Kapital, dan lainlain. Dia menyerukan agar kaum buruh sedunia bersatu dibawah panjipanji perjuangan 'menghapus kelas'. Ia yakin bahwa kedudukan seorang buruh sebenarnya jauh lebih mulia dibanding seorang kapitalis. Alasannya karena buruhlah yang secara langsung memproduksi kekayaan bagi semua orang.

Melalui seruannya Karl Marx berhasil membangkitkan semangat kaum buruh untuk berjuang. Kini mereka sadar bahwa upah yang mereka terima sebagai imbalan jerih payahnya itu lebih mulia dibanding penghasilan kaum kapitalis yang diperoleh dengan cara cara yang jahat dan tidak berperikemanusiaan. Di tangan Marx, sosialisme menjadi semacam 'kepastian sejarah' dan pisau kritik yang tajam terhadap perkembangan masyarakat industrial dan kapitalisme liberal yang menghalalkan segala cara. Kemunculan gagasannya yang sangat tepat waktu, yaitu ketika wabah kapitalisme sedang merajalela di Eropa dan imperialisme Eropa menguasai negeri negeri Asia dan Afrika. Wabah ini menimbulkan penyakit dimana mana berupa tatanan sosial, kehidupan moral dan keagamaan, kezaliman, dan kedurjanaan. Dengan demikian sosialisme revolusioner dan komunisme yang lahir dari ajaran Karl Marx adalah buah simalakama dari perkembangan kapitalisme sendiri.

Tetapi ada pula bentuk sosialisme lain yang sangat radikal. Seandainya saja tidak muncul ajaran sosialisme yang dikemukakan oleh Karl Marx dan para pengikutnya, tentulah sosialisme yang lain inilah yang merajalela. Sosialisme yang terakhir ini berasal dari ajaran Bakunin, tokoh sosialis yang pernah bersahabat dengan Karl Marx dan sama sama berguru kepada Proudhon. Bakunin (18141876) mengajarkan faham sosialisme yang tidak kalah radikal dengan berasaskan pengacauan dan anarkisme. Dia menyerukan kepada rakyat yang tertindas melakukan tindakkan apa saja untuk membuat perubahan. Baginya setiap orang memiliki kebebasan untuk berbuat seperti itu. Manusia tidak perlu tunduk pada norma norma sosial, undang undan serta hokum positif yang berlaku dalam masyarakat.

Gerakan anarkis terutama berkembang di Rusia pada abad ke19, tanah kelahiran pencetusnya. Dari faham ini tumbuh berbagai gerakan radikal dan atheis revolusioner yang menghalalkan segala cara. Novel novel Dostoyevski seperti Notes from the Underground, Devil atau The Possessed, Maramasov Brothers, dll banyak memberikan gambaran tentang gerakan dan kejiwaan kaum anarkis dan sosialis revolusioner Rusia abad ke19.


Share:

Matahari Telah Pergi


mencoba berdiri tegak di atas tanah yang retak 
mencoba berjalan lurus di atas tanah yang licin

terlalu lama hilang arah
terlalu lama tak berdaya
terlalu lama terpenjara
melihat diri di kaca

matamu kosong dan hampa
wajahku terasa asing
hidupku terasa kering
aku dilingkari api
sia sia menghindari

aku terbakar, aku teriak dianggap gila
aku mengaku dianggap dusta
oh, aku letih, sudah terlalu letih

aku pergi
matahari telah pergi
di saat aku sedang menyanyi
hari hari telah pergi
membawaku ke yang abadi

selamat jalan ...

kubakar diriku untukmu
kuserahkan diriku untukmu
kuberikan semua yang kumiliki
terbakar aku terbakar

selamat jalan ...

Share:

Esok Air Mata Akan Keluar


Masii berpijak pada tanah yang basah, masii bergoyah

Namun ku coba, kucoba berikan sedikit udara
Secercah asa, yang selalu terasa
Aku masih disini, sendiri
Mendengar angin berbisik, merasa terusik
Menanti pagi yang tak pernah mati
Terlelap di bawah bintang semu
Aku tak tahu harus bagaimana
Tanpa terasa aku telelap dalam kelelahan
Yang tiada berhenti mengiringi kisah di hati
Dalam kesendirian dan kesepian
Lantas adakah aku teringat
Hari esok aku mau kemana
Aku takut untuk bermimpi dalam membuka mata
Karena aku tau esok hari air mata akan keluar
Mendengar kah kisah tubuh yang tak berdaya
Berikan aku waktu untuk sanggup melihat yang nyata

Share:

Hentikan Rengekanmu


Terkadang susah untuk menyebrangi jembatan itu.
 Cobalah sesuatu yg baru atau buatlah perubahan.
 Tetapi sekali kamu lakukan, kamu akan menyadari
 Bahwa hal tersebut biasanya tak pernah seburuk yg kita bayangkan.

Disuatu tempat ada seseorang yg memimpikan senyummu
Dan merasakan kehadiranmu,
 yg mana kehidupannya sebenarnya sangat sangat berharga.
 Jadi ketika kamu sendirian, ingatlah bahwa itu benar.
 Seseorang di suatu tempat sedang memikirkanmu.

atau….
Diantara kita terpaksa berjalan sendiri
Setelah menidurkan yang satu…. karena terpaksa
Jalan itu masih panjang s
obat….
Hentikan rengekanmu
Pacu semangatmu….
Share:

Mengepakkan Ego

Tutur ucap apa yang layak
Untuk ku lukiskan warna mu dan dirinya
Kendati miris tergambar pandangan
Bagiku, keduanya tetap sama


Bicara tak semudah menjalaninya
Kadang diperparah dengan rancunya hati
Tuk berpeluhpun aku tak mampu
Tak cukup ruang untukku menempatkan keduanya


Ku tak ingin mengepakkan ego
Dengan menuai, tanpa harus menanam
Namun, Ku tak kan pernah punya daya
Untuk memeluk satu diantaranya ...

Share: