• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Refleksi 9tahun Tsunami (Kita Patut Bersyukur)

9 tahun sudah berlalu bencana besar yang pernah terjadi di Aceh yang kemudian dikenal dengan nama bencana Tsunami atau gelombang laut, sebuah bencana yang maha dasyat terjadi sepanjang abad ini telah menewaskan 250ribu lebih jiwa di Aceh dan puluhan ribu lainnya di setiap tiap Negara yang wilayahnya bertetangga dengan Provinsi Aceh.

Akibat dari bencana tersebut Aceh telah menjadi Provinsi yang paling dikenal didunia dan menjadi pembicaraan publik seluruh dunia tentang kondisi kebencanaan yang maha dasyat terjadi di Aceh. Bencana tersebut juga telah menggunggah mata masyarakat dunia untuk menyalurkan bantuan ke Aceh dengan berbagai macam hal bantuan.

Uang bantuan juga mengalir di Aceh dengan jumlah yang tidak sedikit, sehingga perekonomian di Aceh lansung melonjak naik secara drastis, harga bahan pokok menjadi naik, harga sewa rumah menjadi naik karena banyak rumah mewah disewakan oleh NGO Asing, harga sewa toko juga naik karena banyaknya para pengusaha yang mencari toko untuk menyewa dan juga harga upah pekerja naik melonjak drastis karena banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan. Akibatnya perekonomian di Aceh meningkat tajam.

Namun sepulangnya para NGO dan warga asing ke daerahnya Aceh kembali menjadi miskin bahkan tidak mampu mengontrol perekonomian yang terlampau naik secara tidak relefan tersebut. Toko toko yang disewa mahal harus terpaksa diturunkan kembali karena minimnya penyewa akibat banyak yang tutup, sebab banyak pedagang yang kembali sepi akibat kembali krisis lapangan kerja.

9 tahun sudah berlalu terjangan bencana tsunami tersebut, banyak hal yang telah berubah di Aceh, mulai dari cultural, sosial, perekonomian, politik, budaya dan karakter masyarakat, semuanya sudah jauh berbeda.

Beruntung, tidak lama setelah bencana tsunami terjadi, Aceh berdamai dengan pemerintah indonesia, sebagaimana kita ketahui bahwa Aceh telah konflik lebih kurang 30tahun akibat dari permintaan Aceh untuk pisah dari Negara Indonesia.

Entah apa yang terjadi di Aceh saat ini jika kedua belah pihak antara GAM dan Pemerintah Indonesia masih berperang usai terjadi bencana tsunami tersebut.

Tapi kita patut bersyukur, bencana tersebut telah membuka mata dunia untuk memperhatikan Aceh yang mengalami penderitaan panjang. Perang sebelum indonesia merdeka, kemudian Aceh berperang lagi dengan Pemerintah Indonesia setelah kemerdekaan yang akhirnya gelombang tsunami menghentikan perang tersebut di Aceh dengan berujung pada Perdamaian kedua belah pihak antara Pemerintah Pusat dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebagai organisasi yang menuntut Aceh untuk merdeka.

Mudah mudahan generasi Aceh mendatang tidak lagi merasakan bagaimana pahitnya hidup dalam lingkungan perperangan.
Semoga ini adalah menjadi perdamaian Abadi.
Share:

Partai Otak Dengkul

Menyikapi tahun 2013 sebagai tahun politik berbagai fenomena aneh terjadi pada dinamika perpolitikan khususnya di Aceh, dari mulai ancam mengancam, pengrusakan, jelek menjelekkan sampai pada kekerasan seperti perkelahian antar partai lain bahkan sesama partai maupun pengurus. Perebuatan kekuasaan dan merasa diri paling benar menjadi dasar terjadi hal seperti di atas. Etika dan kesantunan tidak lagi menjadi dasar sebagai bagian dari cara berpolitik sebagaimana negara negara demokrasi lainnya melaksanakannya. Mengeluarkan pendapat atau membela diri dengan kekerasan jauh lebih terdengar dibandingkan dengan menyuarakan pendapat melalui jalur jalur musyawarah dan ketika perkelahian sudah terjadi, barulah ada perangkulan pihak pihak yang merasa dirugikan atau pihak yang berkelahi tadi, hal ini selalu terjadi berulang ulang dan media pun hanya bisa memberitakan “pihak adu jotos sudah berdamai”. Berita seperti itu telah menjadi kebiasaan sebagai konsumsi publik dan masyarakat pun hanya mampu menghujat atau mengatakan alhamdulillah mereka damai.

Apa sebenarnya yang menjadi dasar mereka melakukan perkelahian antar sesama, yang bahkan dulunya merupakan seperjuangan dengan mati-matian membela bangsanya untuk tidak ditindas oleh mereka yang tidak sebudaya dengan kita. Bahkan hal ini bukan saja terjadi satu dua kali, akan tetapi telah terjadi berulang ulang kali dan telah menjadi konsumsi masyarakat Aceh.

Apakah dasar mereka melakukan perkelahian karena merasa dirinya paling benar atau karena alasan kekuasaan yang tidak memihak kepada mereka atau karena kekuasaan membutakan hati mereka. Jika begitu alasannya dalam perspektif saya tentu tidak benar, karena banyak partai yang juga saling memperebutkan keuasaan namun jarang terdengar perkelahian antar sesama pengurus partai.

Dalam perspektif saya, dasar mereka melakukan perkelahian adalah karena kurangnya intelektual para anggota atau kader partai sehingga arogansi para anggota lebih dikedepankan dari pada solusi atau musyawarah dalam setiap masalah yang dihadapi partai. Otak dengkul atau mengutamakan fisik dalam setiap penyelesaian masalah adalah menjadi kebiasaan para partai yang kadernya tidak memiliki pendidikan atau intelektual. Sudah saatnya para partai memperhatikan pendidikan kadernya, agar kekerasan dan kontak fisik semakin dapat dihindarkan.
Share:

Siapa Sagoe Itu

Suatu hari saya berangkat kesuatu kabupaten untuk mengurus kebutuhan sebuah kegiatan di kecamatan, sebagai bentuk penghargaan dan mennghargai pemerintah setempat dalam hal ini adalah camat, maka saya menjumpai camat untuk memberikan 2 buah surat, yang pertama adalah surat pemberitahuan kegiatan dengan maksud agar kegiatan yang kami laksanakan diketahui oleh sang camat dan yang kedua adalah surat mohon membuka acara dengan maksud sang camat mau membuka acara tersebut. Kemudian kami menuju kantor camat setempat dan akhirnya berjumpa dengan sang camat, setelah proses pembicaran untuk mohon sang camat bersedia membuka acara tersebut,

Sang camat berkata "loen han loen teujeut buka acaranyo, menyo hana rekom dari bupati, tapi menyo awak droe keuh na rekom bupati nyan pasti loen buka acara"

Kemudian kami mengelak dengan mengatakan bahwa ini adalah acara tingkat kecamatan dan kami ingin camat membuka acara tersebut, tanpa harus ada rekom bupati karena ini adalah acara kecil dan dibawah kewenangan camat.

Sang camat mengatakan "menyoe han meuno mantong, bah loen musyawarah dile ngon sagoe jeut, bek sampe loen gara gara kubuka acaranyoe, ka dimutasi loem, nyoe pih tingoeh musem mutasi"

Tentu saja kami tidak menjawab, karena kami tidak mengerti apa yang dimaksud sang camat "sagoe".

Kemudian kami segera membanting setir menuju kantor bupati untuk mengurusi keinginan sang camat, tapi karena sang bupati, wakil bupati, sekda, dan asisten I yang membidangi hal tersebut tidak berada ditempat. akhirnya kami pulang kembali kebanda dengan hasil yang nihil.


Ada yang terbesit dalam hati saya sepanjang perjalanan pulang saya kebanda aceh yaitu perkataan camat "bah loen musyawarah dengan sagoe dile jeut" kata kata sagoe Tentu saja menjadi misteri buat saya, siapa sih sagoe itu, karena di banda aceh ketika saya menjumpai camat tidak pernah sang camat mengatakan musyawarah dengan sagoe, apakah sagoe itu bagian dari perangkat pemerintahan, apakah sagoe adalah sebuah jabatan pemerintah yang levelnya lebih tinggi dari camat, tentu saja kata kata "sagoe" itu masih menjadi tanda tanya di hati saya sampai saat ini.
Share:

Pesta Rakyat Atau Pesta Politisi

Pesta rakyat atau pesta politisi menjadi sebuah pertanyaan menjelang pemilu yang akan segera dilaksanakan tepatnya 09 April 2014 diseluruh Indonesia, pemerintah melalui lembaga resminya Komisi Pemilihan Umum atau disingkat KPU dan untuk khusus daerah Aceh disebut Komisi Independen Pemilihan atau disingkat KIP gencar mempromosikan atau mengiklankan pemilihan umum tersebut dengan menghadirkan pemeran-pemeran iklan dari rakyat.

Menjelang pemilihan umum yang merupakan pesta 5 tahunan tersebut gencar disebut sebut sebagai “pesta rakyat”, tapi benarkah rakyat merasa sedang melaksanakan pesta ketika pemilihan 5tahun tersebut berlansung. Benarkah rakyat di untungkan dalam pesta tersebut. Tentu ketika pesta 5tahunan tersebut rakyat tidak perlu lagi membeli kain sarung untuk keperluan dirumah, karena pasti akan banyak para tokoh politisi yang mencalonkan diri sebagai calon legislative menyumbang kain kain sarung kedesa sebagai cara untuk menarik simpati masyarakat agar memilihnya.

Jika hari meugang datang, yang merupakan pesta makan daging rakyat Aceh yang kerap dilaksanakan menjelang hari hari perayaan seperti menjelang puasa,menjelang lebaran. Rakyat tidak perlu susah susah memikirkan kemana harus mencari uang untuk dapat membeli daging agar bisa melaksanakan hari meugang. Sebab akan banyak para calon calon legislative yang akan menyumbang daging ataupun uang dengan maksud juga menarik simpati masyarakat agar memilihnya. Terlebih para calon incumbent yang sedang duduk di kursi dewan namun kembali mencalonkan diri sebagai calon legislative pasti akan kembali menjadi sosok dermawan dengan sering sering melakukan kunjungan dan membagi bagikan bantuan kepada gampong gampong dengan dalih reses dan merakyat satu tahun menjelang masa jabatannya berakhir.

Tapi kemana mereka 4 tahun yang lalu, tidak usah ditanya karena pasti mereka sibuk memikirkan bagaimana mengembalikan modal yang sudah dihabiskan ketika mencalonkan diri sebagai calon legislative, bagaimana memberdayakan partainya, bagaimana mereka harus dapat mengumpul uang agar dapat kaya sebelum masa jabatannya berakhir.

Dewan yang sebelumnya duduk diam dan adem adem saja di kursi empuk, mereka pasti akan terlihat mulai sering sering berada ditengah tengah masyarakat ketika masa jabatan tinggal 1 tahun lagi dan kembali mencalonkan diri. Mereka menjadi dewan yang peduli bahkan menjadi dewan yang merakyat dengan selalu mengunjungi rakyat setiap harinya dari kampung A kekampung B. bantuan bantuan paling gencar mengalir kekampung kampong ketika dewan menjelang masa jabatan berakhir, spanduk spanduk dewan bertebaran di gampong gampong dengan tulisan berbagai macam promosi untuk menarik perhatian masyarakat.

Begitulah pesta rakyat, pesta 5tahunan yang menghabiskan dana trilyunan rupiah, pesta yang rakyat dapatkan selembar kain sarung dari para calon legislative, pesta yang rakyat dapatkan setumpuk tulang daging dari para calon legislative yang mendadak dermawan, selembar uang dari para calon legislative yang tiba tiba menjadi peduli dengan keadaan rakyat.

Apakah ini pesta rakyat atau pesta politisi, karena sebelum terpilih rakyat berpesta dengan berbagai macam bantuan yang berjumlah puluhan ribu rupiah dari para calon legislative dan ketika terpilih para legislative akan berpesta dengan uang ratusan juta dan milyaran rupiah dikursi empuk yang disebut Dewan Perwakilan Rakyat.

Sekarang rakyat lah yang menentukan, apakah mau berpesta hanya dengan selembar kain sarung dan setempuk tulang daging yang akhirnya akan melahirkan anggota dewan pestaphoria  di kursi empuknya. Semoga di tahun mendatang tidak lagi kita mendengar “semua dewan sama saja” karena yang memilih dan menentukan kita lah sebagai rakyat. Jadi bobroknya kinerja dewan adalah kesalahan kita yang telah memilihnya.

Mari sekarang kita renungkan, ini pesta siapa..?
Share:

Dana Aspirasi Milik Siapa

Dana aspirasi memang tidak semua masyarakat mengetahuinya, apalagi masyarakat yang pasif terhadap informasi sedang berkembang di Aceh. Dana aspirasi yang mencapai milyaran setiap anggota dewan Aceh tersebut sepertinya memang menarik untuk di bahas, apalagi media media lokal di Aceh, selalu mencari cari celah untuk dapat menemukan informasi mengenai kuncuran kemana dan siapa yang menikmati dana aspirasi dewan tersebut.

Jika kita mencari di google dengan keyword “dana aspirasi” maka akan muncul segudang pemberitaan tentang dinamika yang terjadi pada kuncuran dan pengesahan jumlah dana aspirasi di dewan. Penolakan yang dilakukan oleh LSM, aktivis mahasiswa, dan masyarakat memang selalu saja terjadi setiap tahun, tapi dana aspirasi tersebut selalu saja berjalan mulus setiap tahun.


Meski ditingkat pusat ada partai yang menolak dana aspirasi yang berjumlah milyaran tersebut, tapi faktanya mereka juga menikmati dana aspirasi tersebut yang setiap tahunnya di kuncurkan dan dinikmati bersama konsituen mereka.


Di Aceh pada pertengahan bulan 2013, dana aspirasi mendapat penolakan keras oleh berbagai aktivis dan LSM yang ada di Aceh. Argumen para aktivis dan LSM tersebut adalah bahwa dana aspirasi rentan terhadap penyelewengan, rentan terhadap kepentingan kelompok atau partai dan dana aspirasi rentan digunakan untuk kampanye menjelang pemilu 2014. Tapi dana aspirasi juga mulus berjalan tanpa hambatan dan dapat berjalan sebagaimana tujuan para dewan tersebut.


Pada tahun 2013 seperti ini yang merupakan tahunnya politik, dimana april 2014 akan menjadi tahun pergantian anggota dewan terpilih. Pada masa kampanye seperti ini banyak sekali para calon legislatif yang menjanjikan kuncuran dana aspirasi kedesa-desa dengan syarat masyarakat desa tersebut harus memilihnya pada april 2014 mendatang.


Para dewan yang tahun ini kembali bertarung memperebutkan kursi dewan 5 tahunan tersebut atau sering disebut dengan istilah calon incumbent, memanfaatkan kesempatan dana aspirasi untuk mengkampanyekan dirinya dengan berbagai kedok seperti reses dan lain lain. Banyak anggota dewan yang juga merasa bahwa dana aspirasi tersebut adalah dana dewan yang berhak dewan kasih kemana mereka suka dan kemana mereka merasakan ada manfaatnya.


Sepertinya dana aspirasi memang telah benar benar menjadi dana dewan yang bisa digunakan untuk kepentingan menjaga konsituen agar tidak memilih calon lain pada pemilihan april 2014 nantinya, dan dana aspirasi juga dapat diklaim oleh dewan bahwa itu dananya yang dikuncurkan keberbagai tempat dengan tujuan masyarakat mengetahui bahwa dewan tersebut telah membantunya sehingga masyarakat akan memilihnya kembali pada periode mendatang.


Lalu yang sebenarnya dana aspirasi itu milik siapa.?


Share:

Jalan Di Aceh Sedang Dibangun Dengan Emas

Jalan jalan di Aceh sedang dibangun dengan emas, bangunan dibangun dengan marmer buatan luar negeri, rumah rumah di aceh tidak ada lagi yang mereng akibat pondasi kayu yang mulai lapuh, pengangguran di Aceh hanya para pendatang, lapangan kerja di Aceh melimpah, karena Aceh telah dipimpin oleh "AWAK TANYO" sebagaimana kata kata yang paling terdengar ditelingaku ketika Aceh masih dilanda konflik antara GAM dan TNI, juga sebelum adanya penandatangan MoU Helsinky di Firlandia itu datang "ACEH NYOE NAH MENYO KALAMJARO DROE TEUH JALAN JALAN TABANGUN NGOEN IE MEUH (emas)". tapi sayang ternyata itu hanyalah mimpi ku ketika sedang tidur siang.

Semangat untuk memberikan Aceh ini untuk dipimpin oleh orang orang yang punya nilai perjuangan didalam didirinya (GAM) memang tersemat dan melekat pada benak hati masyarakat, terutama masyarakat yang dulunya ketika konflik berbaur dengan para prajurit GAM di perdalaman Aceh, masyarakat menaruh harapan besar pada tokoh tokoh GAM untuk menjadi nahkodanya Aceh. Pemilihan umum yang dilaksanakan pada tahun 2009 terbukti bahwa rakyat Aceh menginginkan tokoh GAM untuk memimpin Aceh sehingga Partai Aceh yang tempatnya bernaung tokoh tokoh GAM menguasai dominan parlemen legislator Aceh.

Sebelum pemilihan legislatif, pemilihan Eksekutif atau Gubernur pada tahun 2007 juga dikuasai oleh tokoh GAM meski sekarang mereka telah pecah kongsi (mungken hana sabe bagi) yang kemudian Partai didalamnya di isi oleh dominan tokoh tokoh GAM di Aceh menjadi dua partai yaitu Partai Aceh (PA) dan Partai Nasional Aceh (PNA).

Tahun 2007 sampai saat ini yang merupakan pemimpin pemimpin di Aceh di dominasi oleh tokoh tokoh GAM mulai dari Provinsi, Kabupaten, Kecamatan bahkan gampong di kuasai oleh tokoh tokoh GAM belum juga satu meter pun terbangun sebuah jalan sebagaimana yang pernah di ucap ucapkan  sebagai penyemangat perjuangan rakyat Aceh ketika konflik “ACEH NYOE NAH MENYO KALAMJARO DROE TEUH JALAN JALAN TABANGUN NGOEN IE MEUH (emas)".

Yang ada selama ini di Aceh di dominasi oleh kekerasan, nepotisme, primodialisme dan korupsi yang semakin merajalela tumbuh liar bagaikan jamur dimusim hujan. Proyek lelang gedung gedung dibangun se adanya, jalan jalan dibangun dengan kualitas rendah yang kemudian tidak membutuhkan waktu lama antara 1-2 tahun lagi lagi harus di anggarkan kembali untuk perbaikan.

Belum lagi anggaran pendidikan yang melimpah tapi kualitas pendidikan di Aceh masuk dalam kategori terburuk di indonesia, dana otsus yang trilyunan tidak kita ketahui entah kemana, yang kaya semakin kaya, yang melarat semakin melarat, janda janda miskin harus sabar dengan linangan air mata, dulu memang kita satu perjuangan “Hudep Beu Sare Mate Syahid” tapi sekarang “Neu Pileh Awak Kamoe, Menyo Na Kamoe, Di Droe Neuh Keupu Loem” 
Share:

Otsus Aceh Sampai Kapan Dinimkati Oleh Medan

Aceh dalam konteks ke ekonomian tidak akan habis jika dibahas meski harus mendatangkan pakar pakar ekonomi nasional maupun local. Aceh secara ekonomi memang tidak mampu bersaing dengan medan. Aceh punya barang Medan punya nama, mungkin analogi ini memang pantas dan layak untuk aceh terima. Sebab dalam kenyataannya memang seperti itu.

Uang aceh setiap tahun berkisar 3 trilyun mengalir dan berputar dimedan, jika begitu bagaimana perekonomian aceh akan berputar jika uang di aceh selalu dihabiskan didaerah lain.

Rata rata masyarakat ekonomi menengah ke atas lebih memilih berbelanja dimedan dibandingkan di Aceh, kemudian sumber daya alam yang didapatkan di aceh dijual kemedan untuk selanjutnya di ekspor. Perekonomian aceh tidak akan jadi tumbuh maksimal jika roda perputaran ekonomi terus seperti itu.

Pusat pusat penjualan dan usaha usaha besar di aceh rata rata dikuasai oleh medan seperti shorom, perhotelan, mall dan lain lain. Kemudian penempatan tenaga kerja pada bidang strategis pun dikuasai oleh orang orang medan. “Buya krueng teu dong dong buaya tamoeng meuraseki” pepatah ini merupakan kondisi Aceh yang sebenarnya,

Sentra perekonomian aceh yang terletak dimedan telah menghambat pertumbuhan ekonomi aceh secara menyeluruh, kondisi ini tentu berbanding terbalik dengan semangat otonomi khusus yang diberikan untuk aceh. Otonomi khusus yang diberikan untuk aceh melalui UUPA tidak berdampak pada perubahan yang signifikan kepada perekonomian rakyat Aceh, uang yang melimpah seharusnya sudah dapat meningkatkan perekonomian rakyat aceh.

Namun kondisi otonomi khusus itu tidaklah bermanfaat jika Sentra perekonomian rakyat aceh masih berpusat dimedan. Aceh jangan hanya memiliki pelabuhan bebas, tapi sumber daya alam yang ada di aceh masih saja terus di ekspor melalui medan sedangkan pelabuhan pelabuhan di aceh sepi aktifitas.

Harga kebutuhan pokok yang juga masih bergantungan pada medan membuat ekonomi aceh juga terhambat, permainan harga bahan pokok dimedan untuk aceh membuat harga harga bahan pokok di aceh tidak menentu, sedangkan pemerintah aceh tidak mampu mengstabilkan kondisi tersebut.

Jika kondisi aceh berlansung secara terus menerus seperti ini maka otonomi khusus yang diberikan kepada aceh tentu tidak dapat meningkatkan perekonomian rakyat aceh secara signifikan.

Sampai kapan ekonomi rakyat aceh harus berada dibawah kekuasaan medan. Mungkin pertanyaan ini tidak akan mampu terjawab secara pasti, apalagi jika komitment pemerintah dalam meningkatkan perekonomian aceh masih di pertanyakan.

Menggerakkan ekonomi aceh, pemerintah harus mampu merebut Sentra perekonomian aceh. Hasil hasil panen oleh petani di aceh harus di ekspor melalui pelabuhan pelabuhan yang ada di aceh. Dan kemudian pengolahan bahan baku juga harus dilaksanakan di Aceh untuk kemudian di jual kedaerah daerah lain sebagai produk.
Share:

Janji Caleg Dan Mendadak Dermawan

Pemilu sebentar lagi akan tiba waktunya, tepatnya tanggal 9 april 2014, janji demi janji telah mengumbar dimana mana, para caleg telah menebar janji di seantero daerah pemilihannya, murah senyum dan bersahaja telah menjadi kesehari harian para caleg. Pemuda pemuda gampong telah pintar memanfaatkan situasi dan kondisi dengan memanfaatkan para caleg agar dapat mengeluarkan uangnya untuk kegiatan kepemudaaan. Para geuchik, teuku imum, ketua pemuda, tokoh gampong tidak usah takut jika pergi ke warung kopi tanpa membawa uang sepeser pun, karena setelah minum kopi sudah ada orang yang dermawan untuk membayar segelas kopi untuk para geuchik, teuku imum, ketua pemuda, tokoh gampong.

Inilah kondisi sebenarnya, para caleg harus mempersiapkan diri mereka dengan semaksimal mungkin untuk dapat menarik simpati para pemilih (rakyat). Untuk dapat menarik simpati para pemilih agar memberikan hak suaranya kepada caleg memang tidak mudah, butuh perjuangan, wibawa, sosok dan dermawan terhadap konsituen.

Jadi, tidak salah jika para caleg yang sudah siap bertarung untuk mendapatkan kursi diparlemen harus berbenah diri dan keluar dari kebiasaan buruknya agar terlihat sebagai sosok yang pantas untuk duduk diparlemen mewakili rakyat daerah pemilihannya.

Bahkan ada yang tidak segan segan mengeluarkan biaya yang besar agar dapat menarik simpati para pemilih, tapi biasanya pemilih lebih cenderung memanfaatkan finansial para caleg ketimbang memberikan hak suaranya kepada si caleg tersebut.

Dibalik sikap perubahan para caleg yang tergolong pragmatis tersebut tidak serta merta menjadi caleg tersebut terpilih dan mewakili rakyatnya di parlemen. Karena pada kenyataannya para pemilih telah jauh melihat dan menerawang siapa yang sebenarnya  sedang bermain sinetron dan tidak sedang bermain sinetron.

Janji seribu janji, yang bahkan si caleg tersebut tidak mengerti apa yang sedang dijanjikannya kepada rakyat. Karena pada intinya si caleg sedang berusaha sekuat tenaga agar dapat menghipnotis pemilih untuk memberi hak suara kepada dirinya. Banyak caleg yang memberikan janjinya namun melupakan begitu saja.

Sebagai pemilih kita harus cerdas dalam menganalisa setiap ucapan para caleg, apakah si caleg sedang bermain sinetron atau tidak, apakah si caleg menyampaikan janjinya secara objektiv atau tidak. Karena dapat kita pastikan, semakin banyak caleg memberikan janjinya maka semakin besar pula peluang si caleg untuk melupakan janjinya.


“Jangan pilih caleg yang terlalu banyak mengumbar janji”
Share:

Pemuda Sebagai Estafet Pembangunan

Pada tanggal 28 Oktober 2013 kita kembali memperingati hari sumpah pemuda untuk usia ke 85. Selama 85 tahun kita sudah memperingati hari sumpah pemuda sebagai refleksi bahwa pemuda dilahirkan untuk membangkitkan harkat dan martabat bangsa. Pemuda di anggap sebagai orang yang masih memunyai jiwa, semangat, dan ide yang masih segar dan dapat menjadikan Negara ini lebih baik, orang-orang yang mempunyai pemikiran yang visioner dan semangat juang.

Sumpah pemuda yang diperingati pada setiap tanggal 28 oktober sebagai bukti bahwa pemuda telah menjadi bagian dari pencapaian kemerdekaan Indonesia. Bersatunya para pemuda juga merupakan langkah yang tepat sebagai fondasi dasar dalam mencapai kemerdekaan.

Pemuda sebagai generasi yang diharapkan untuk meneruskan generasi sebelumnya. Tapi terkadang pemuda di zaman seperti saat ini tidak menyadari bahwa di diri mereka terbebani menjadi sebagai pengganti generasi sebelumnya. Pemuda seharusnya menyadari bahwa dipundaknya dibebani berbagai macam harapan dan cita cita kemerdekaan, estafet pembangunan harus dilanjutkan sebagaimana cita cita kemerdekaan.

Kondisi pemuda saat ini yang telah mengalami degradasi moral, lupa akan tanggung jawabnya. Pemuda tidak lagi menjadi contoh sebagai kaum perubahan, sikap yang berorientasi pada hedonisme lebih cenderung menjadi karakter pemuda masa kini.

Problematika yang terjadi saat ini juga kian komplek, masalah pengangguran, krisis moral, narkoba, tawuran, budaya pragmatisme kian merebak terbentang dihadapan kita sehingga membuat pemuda terjebak pada lingkungan hedonisme dan anti social.

Peran pemerintah dalam pemberdayaan pemuda harus bersifat konstruktif, melihat problematika pemuda yang kian komplek sudah saatnya pemerintah memberi perhatian lebih serius dalam pemberdayaan pemuda mulai dari daerah sampai tingkat nasional. Memberikan kesadaran kepada pemuda atas pentingnya peran pemuda dalam pembangunan persatuan dan kesatuan bangsa harus menjadi prioritas pemerintah, karena semangat persatuan dan kesatuan akan menglahirkan generasi muda yang mencintai bangsa serta membawa bangsa ini ke gerbang kejayaan.

Peringatan sumpah pemuda yang ke 85 tahun ini harus mampu menjadi momentum sebagai refleksi bahwa sumpah pemuda dilahirkan untuk mengikat persatuan dan kesatuan pemuda Indonesia. Nada pesimis dan sikap pragmatisme yang telah menguasai pemuda saat ini harus segera disingkirkan agar estafet pembangunan bangsa dapat berjalan maksimal.


MUNZIR, S.Pd.I
Sekretaris Umum DPD KNPI Kota Banda Aceh
Dipublikasikan oleh Media Cetak Warta Kota 
Media Pemerintah Kota Banda Aceh
Share:

Rakyat Makin Melarat, Elit GAM Kaya Mendadak

Aceh setelah adanya MOU perdamaian antara GAM dan RI pada tahun 2005 di Helsinki Firlandia telah  memasuki angka 8 tahundua periode telah dipimpin oleh sosok yang mengaku pejuang Aceh, pejuang yang secara gamblang meneriak memperjuangkan harkat dan martabat rakyat Aceh dari perampasan dan ketidak adilan pemberlakuan oleh pemerintah pusat dijakarta.

Kepemimpinan pemerintahan eksekutif, periode pertama dan kedua berasal dari mantan para pejuang aceh merdeka. Kata “sibak rukok teuk aceh merdeka” mungkin selama ini sudah tidak terdengar lagi, namun di era konflik kata-kata tersebut menjadi makna semangat perjuangan para pejuang aceh merdeka.

Memaknai kata merdeka bukan berarti bebas dari suara dentuman senjata dan tidak adanya korban berjatuhan, namun makna merdeka juga bagian dari kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat di Negara tersebut. Semangat era konflik dan era perdamaian para tokoh pejuang aceh merdeka sudah mulai dipertanyakan, di era konflik para pejuang aceh merdeka memperjuangkan keadilan bagi rakyat aceh, tapi di era perdamaian para GAM telah sibuk memperjuangkan kekuasaan dan kekayaan bagi dirinya masing masing. Ada GAM yang saat ini masih hidup dibawah kemiskinan karena masih memperjuangkan idealismenya dan tetap konsisten pada maksud dan tujuan kehadiran GAM, sedangkan banyak GAM yang kaya mendadak karena rakus dengan uang dan jabatan sehingga melupakan dasar perjuangan dan maksud keberadaan GAM sebenarnya.

Selama dua dekade para pejuang aceh merdeka memimpin pemerintahan aceh, apa yang sudah diterima oleh rakyat aceh terhadap perubahan pembangunan kesejahteraan rakyat aceh, toh pada kenyataannya masih banyak terlihat rakyat aceh sampai saat ini yang hidup terpuruk dibawah kemiskinan, tidak sebanding dengan kenyataan ketika kita melihat banyak para mantan pejuang aceh merdeka yang hidup dalam kemewahan serba mendadak.

Eforia kemewahan yang diperlihatkan oleh para mantan pejuang aceh merdeka telah melukai rakyat Aceh yang telah mempercayakan mereka sebagai wakil dan pemimpin rakyat. disaat aceh dilanda krisis lapangan kerja, disaat aceh dilanda korupsi berjamaah dikalangan pemerintah sehingga membuat aceh menjadi peringkat pertama terkorup di Indonesia tapi disaat aceh pula menerima dana otsus yang berjumlah trilyunan. Mantan pejuang aceh merdeka malah memperlihatkan kemewahannya didepan rakyat aceh yang masih hidup dibawah kemiskinan.

Ditahun 2012 dan 2013 dibawah kepemimpinan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf kondisi Aceh semakin parah. Kondisi perekonomian rakyat Aceh seperti mati, pengangguran semakin meningkat. Konflik antar rakyat Aceh semakin terbuka lebar dan rasanya dibiarkan begitu saja. Penolakan dan pengecaman terhadap pemimpin terjadi dimana mana. Perubahan terhadap kesejahteraan rakyat Aceh sepertinya lagi lagi hanya menjadi mimpi mimpi manis bagi rakyat Aceh. Korban korban konflik seperti janda, anak yatim terlantar begitu saja. Tapi disisi lain banyak para tokoh GAM yang menjadi orang kaya mendadak. Rumah rumah mewah dan mobil mobil mewah didapatkan secara mendadak ibarat pemenang lontre dan ada pula yang kembali menjadi miskin mendadak. Miskin mendadak biasanya dari kelompok kelompok yang tidak sepaham dengan penguasa saat ini.

Kita akan menyaksikan pada siapa rakyat Aceh menaruh harapan besar setelah April 2014. Jika para mantan pejuang aceh merdeka yang pada umumnya bergabung dalam Partai Aceh tidak lagi menjadi harapan rakyat aceh. Lalu partai politik makanakah yang akan menjadi idaman rakyat aceh pada tahun 2014 atau kembali menaruh harapan pada partai politik yang sama dengan niat semoga periode mendatang mereka taubat.
Share:

Stop PKA "Pekan Kemaksiatan Aceh"

Ironis melihat dinamika yang terjadi pada pelaksanaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) IV ini. Maksud dan tujuan yang sebenarnya untuk melestarikan adat dan budaya pada generasi berikutnya agaknya telah dikubur secara dalam dalam. Pelaksanaan PKA yang bertujuan sebagai ajang promosi adat dan budaya aceh kepada dunia luar ternyata malah terjadi pengrusakan adat dan budaya aceh dimata dunia yang dikenal sebagai budaya yang mengandung dan melebur dengan unsur unsur syariah.

Tragis ketika mengunjungi area PKA jika kita melihat panggung panggung dipenuhi dengan area joget pinggul dengan lagu trendinya “goyang senggol”. Pemuda pemudi yang ditemani sang biduati agaknya sangat menikmati budaya tersebut. Area PKA yang seharusnya menjadi tempat untuk bernostalgia pada masa masa dimana adat dan budaya menjadi suatu keharusan untuk diketahui oleh generasi muda, sepertinya sudah di suap dengan goyang senggol.

Goyang senggol lebih memikat hati generasi muda dibandingkan pada penyuguhan adat dan budaya Aceh. Hal ini kita lihat dimana perbedaan penampilan budaya dengan penampilan keyboard. Penampilan keyboard akan dikunjungi secara membludak sedangkan penampilan budaya sepi pengunjung. Mungkin ini yang dimaksud “haus hiburan”

Panitia pelaksana dan Wilayatul Hisbah (WH) juga ikut menikmati goyang senggol sehingga tidak ada kata teguran pada panggung panggung yang menyajikan biduan biduan seksi tersebut. Tidak adanya teguran dapat kita lihat bahwa pergelaran keyboard masih saja terjadi setiap malam meski beberapa media mulai memberitakan tentang hiburan tersebut. Bahkan semakin hari pergelaran keyboard semakin parah dan melunjak. Panitia dan WH agaknya melupakan tujuan dan dasar dari pelaksanaan PKA tersebut.

Jika PKA telah menjadi “Pekan Kemaksiatan Aceh” untuk apa pemerintah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit hanya untuk menyajikan sebuah surga dunia bagi rakyatnya di negeri syariah ini.

Penyebutan Pekan Kemaksiatan Aceh baru baru ini telah menjadi trending topic di media sosial masyarakat Aceh, plesetan tersebut di lakukan sebagai bentuk dan rasa kekecewaan masyarakat yang menganggap pelaksanaan PKA tahun ini jauh dari tujuan dan maksud kegiatan. Belum lagi rasa tidak peka nya WH dan panitia dalam meninjau layak tidaknya penampilan yang dilaksanakan di area PKA tersebut oleh setiap anjungan kabupaten/kota.

Jika pelaksanaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) tidak lagi bermaksud pada pelestarian adat dan budaya, sudah saatnya PKA di stop untuk tidak lagi menimbulkan kekecewaan di masyarakat. Dan pelaksanaan PKA pada periode berikutnya pemerintah sudah saatnya memikirkan mekanisme pelaksaannya. Jangan jadikan ajang PKA sebagai ajang untuk meraup keuntungan dengan mengorbankan adat dan budaya yang telah diwariskan oleh pendahulu.


Pergeseran budaya yang terjadi di Aceh juga terlihat semakin parah. Keyboard telah menjadi budaya baru bagi masyarakat Aceh, kehadiran keyboard begitu mudah diterima dan di ingat oleh masyarakat Aceh. Sedangkan budaya yang telah ada ditinggalkan begitu saja. Bahkan ada yang berpendapat bahwa budaya keyboard mau tidak mau rakyat Aceh lambat laun akan menerimanya. padahal keyboard telah merusak semangat pelaksanaan syariah di negeri Aceh ini.
Share:

Pekan Kebudayaan Aceh Ternodai

Pekan Kebudayaan Aceh yang dilaksanakan selama 9 hari kedepan yang dimulai pada hari Jumat tanggal 20 September 2013 dan dibuka lansung oleh Presiden Republik Indonesia “SBY”. Namun baru hari hari pelaksanaannya mulai mendapat keluhan dari para pengunjung, kebanyakan masyarakat banyak yang kecewa pada pelaksanaan PKA tersebut.

Kekecewaan masyarakat terjadi pada berbagai hal, ada yang mengeluh terhadap jalan macet, kemudian jalan masuk dan jalan keluar yang disamakan sehingga membuat para pengunjung berdesak desakan. Tapi ada yang lebih parah adalah atraksi hiburan yang ditampilkan pada arena PKA tidak sesuai dengan semangat syariat dan adat budaya yang ada di Aceh. Misalnya dibeberapa panggung terlihat menampilkan keyboard yang sebenarnya bukanlah merupakan adat dan budaya Aceh.

Salah satu yang mengeluh terhadap pelaksanaan PKA adalah Hardian. Hardian melalui akun facebooknya mengungkapkan
Nyesal habis ke PKA, jalan macet, pintu gerbang berdesakan, sendal ku hilang. PKA aneh,di beberapa anjungan2 kabupaten kok malah ada acara musik Keyboard dan berjoget ria. Itukah yg dinamakan Pekan Kebudayaan Aceh”

Keluhan Hardian adalah salah satu dari banyak keluhan yang disuarakan melalui akun facebook dan twitter yang telah berkunjung ke arena PKA. Tapi dari sekian banyak keluhan, yang membuat saya tertarik adalah masalah penampilan hiburan panggung yang tidak sesuai dengan semangat syariat dan semangat pekan kebudayaan.

Ketika malam minggu sabtu tanggal 21 saya mengunjungi area PKA dengan teman teman, ketika saya melewati salah satu stand saya melihat seorang gadis dan pria sedang berjoget ria diatas panggung dengan menampilkan likak likuk gerakan punggung yang membuat para penonton diderai tawa, kecentilan si gadis dalam berjoget mampu menghipnotis penonton untuk berdesak desakan menyaksikan jogetan sigadis tersebut.

Kemudian teman sebelah saya bercanda “itu WH (Wilayatul Hisbah) disebelah, disini malah jogged ria” kemudian di ikuti tawa sindiran oleh semua teman teman saya.

30 meter kedepan saya berjalan saya menemukan panggung yang sedang menampilkan nyanyian Qasidah pada anjungan kabupaten lain. Dalam hati ku lagi lagi berpikir “Wah Kasian, Yang Qasidah enggak ada yang nonton karena penontonnya sedang berdesakan di panggung yang menampilkan penyanyi eksotis dengan segala kecentilannya”


Sehari kemudian saya membuka berita berita online, lagi lagi saya melihat berita tentang penyanyi eksotis yang menghipnotis pengunjung di arena PKA sedang berlikak likuk menyaingi panggung sebelah yang sedang menampilkan hiburan kebudayaan.


Pikirku Wah dimana semarak Pekan Kebudayaan Aceh jika arena PKA sudah dipenuhi dengan Pekan Kehiburan Aceh. 
Share:

Gelar HC Dan PKA Antara Budaya Atau Hiburan

Penghargaan Untuk SBY
Pekan Kebudayaan Aceh ke VI baru saja dibuka lansung oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Kunjungan SBY ke Aceh selama 2 hari selain untuk membuka Pekan Kebudayaan Aceh juga untuk menerima penghargaan Doktor Honoris Causa (HC) yang diberikan oleh Universitas Syiah Kuala. Tapi entah apa yang melatarbelakangi Unsyiah memberikan penghargaan HC kepada Presiden SBY tersebut. Namun kabar yang saya ketahui gelar tersebut diberikan kepada SBY mengingat atas jasa-jasanya dalam mewujudkan perdamaian dan perhatian penuh memajukan pembangunan Aceh dan Unsyiah menilai bahwa SBY banyak terlibat dalam setiap proses perdamaian baik didalam maupun diluar negeri.

Atas kabar yang saya dengar tersebut timbul sebuah pertanyaan apakah kita lupa atas peran Jusuf Kala dalam mencari solusi atas perdamaian di Aceh. Banyak orang yang mengakui bahwa peran Jusuf Kala lebih banyak dibandingkan peran SBY dalam menciptakan perdamaian di Aceh.

Jusuf Kalla yang ketika itu menjadi Wakil Presiden mendampingi SBY berperan secara lansung dan menyentuh akar persoalan sehingga tercipta sebuah perdamaian antara Aceh dan Indonesia. Ketika saat ini Jusuf Kala tidak lagi menjabat Wakil Presiden mendampingi SBY, peran Jusuf Kalla pun masih sangat dibutuhkan oleh Indonesia dan Aceh dalam setiap penyelesaian konflik yang terjadi.

Ketika permasalahan bendera yang kembali membuka benih-benih konflik antara Aceh dan Indonesia. Jusuf Kalla lagi lagi dibutuhkan untuk menengahi konflik antara Aceh dan Pusat.

Kini Unsyiah telah memberikan gelar HC kepada SBY, sedangkan Jusuf Kalla hanya menerima penghargaan dari hati rakyat Aceh yang menilai lebih berjasa atas terciptanya pedamaian antara Aceh dan Indonesia.

Pekan Kebudayaan Aceh
Pekan kebudayaan Aceh yang menjadi ajang 4 tahunan tersebut kembali berpesta, acara yang dilaksanakan selama 9 hari tersebut menyeguhkan berbagai macam perhelatan seni dan budaya. Para pengunjung juga tidak mau ketinggalan dibeberapa ruas jalan menuju tempat PKA disesaki oleh berbagai macam kendaraan. Macet pun tidak terhindari terjadi dimana mana diseputaran tempat PKA.

Antusiasme pengunjung dalam menyemarakkan PKA memang selalu terjadi pada setiap periode PKA dilaksanakan.

Pada setiap stand kabupaten/kota terlihat memiliki panggung hiburan masing masing. Penyanyi yang ditampilkan pun berbeda beda menurut adat dan kebudayaan di kabupaten/kota setempat. Panggung hiburan tersebut dimaksudkan untuk menarik pengunjung pada stand kabupaten/kota setempat.

Tapi dari setiap hiburan yang disuguhkan dalam arena PKA tersebut apakah memang telah memenuhi maksud dan tujuan dari penyelenggaraan PKA. Penyelenggaraan PKA yang pastinya tidak bermaksud pada tujuan hiburan semata melainkan tujuan pada pelestarian budaya dan adat yang ada di Aceh untuk melawan arus globalisasi yang semakin mengikis adat dan budaya Aceh.

Namun pada kenyataannya dibeberapa Stand kabupaten/kota terlihat penyuguhan hiburan yang jauh dari semarak syariat islam, adat dan budaya, apalagi melihat semarak Pekan Kebudayaan Aceh. Hiburan hiburan yang ditampilkan sama sekali tidak menyangkut dengan adat dan budaya yang ada di Aceh bahkan ada yang terlihat panggung panggung yang menyuguhkan penyanyi penyayi eksotis.

Apakah Pekan Kebudayaan Aceh hanya bertujuan untuk memperlihatkan hiburan semata. Jika tidak tentunya hiburan hiburan yang tidak berhubungan dengan adat dan budaya Aceh harus segera disingkirkan dari arena PKA.

Karena PKA bukanlah Pekan Kehiburan Aceh akan tetapi PKA adalah Pekan Kebudayaan Aceh.


Share:

Bendera Merah Putih Di Ubah Lebih Rocker

Merah putih merupakan bendera yang disegani oleh masyarakat Indonesia pada umummnya, masyarakat yang nasionalismenya tinggi akan menghargai dan memperlakukan bendera merah putih dengan baik. Bahkan bendera merah putih di atur dalam undang undang yang mempunyai kekuatan hokum yang tak bisa di ubah ubah secara sembarangan oleh masyarakat tanpa kecuali.

Bagi masyarakat Indonesia yang memperlakukan bendera merah putih dengan sesuka hati mereka, misalnya merubah merah putih dengan menempelkan tulisan ataupun gambar lainnya makan akan dijerat dengan hokum yang berlaku di Indonesia.

Mari Kita Simak Baik-Baik, UU Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara dan Lagu Kebangsaan adalah bertentangan dengan Pasal 24 huruf d yang berbunyi setiap orang dilarang mencetak, menyulam, dan menulis huruf, angka, gambar atau tanda lain dan memasang lencana atau benda apapun pada Bendera Negara.



Kasus pelecehan terhadap bendera merah putih bukan saja terjadi satu atau dua kali, banyak sudah terjadi kasus pelecehan atau melanggar ketentuan undang undang pada pemberlakuan merah putih oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab, seperti Bos PT Kreasijaya Adhikarya yang berujung pada aksi mahasiswa. Bahkan Dewa 19 pernah di anggap melecehkan bendera merah putih pada tahun 2008 lalu.

Kali ini giliran personel Band Metalica yang melakukan pelecehan terhadap bendera merah putih. Band Metalica yang konser di stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta dengan leluasa dan tanpa bersalah bahkan tak adapun terjadi teguran kepada personel Band Metalica tersebut setelah melakukan pelecehan terhadap bendera merah putih tersebut.

Pihak kepolisian pun diam, ibarat penggemar yang lagi dicium oleh artis yang menjadi penggemarnya. Lupa terhadap tugas dan tanggungjawabnya dalam melaksanakan penegakan hokum. Band Metalica yang membentangkan bendera merah putih dengan bertulisan Metalica Solo-Indonesia tentu telah menyalahi undang undang nomor 24 tahun 2009 yang diberlakukan oleh Indonesia terhadap pelindungan bendera merah putih yang di anggap sebagai kebanggaan rakyat Indonesia.


Euforia terhadap Metalica dan juga dihadiri mantan Wali Kota Solo Joko Widodo nampaknya tidak lepas dari pengibaran bendera ini “Metallica dan Solo-Indonesia”. Sepertinya mereka hendak menyampaikan pesan dukungan terhadap Jokowi yang malam itu juga hadir dalam konser tersebut untuk menjadi calon presiden. Padahal, tindakan menulis dan menggambar dalam bendera merah putih bertentangan dengan Undang-undang.

Jokowi beserta pejabat lainnya yang hadir pada malam konser tersebut pun tampaknya lupa terhadap pelecehan yang dilakukan oleh Band Metalica terhadap Indonesia. Entah lupa ataupun pura pura lupa, yang pasti pelecehan tersebut terjadi dihadapan para pejabat pejabat dan masyarakat yang menonton konser tersebut.


Rasanya begitu tidak adil jika ada yang punya materi atau orang terkenal yang melecehkan bendera merah putih meski dihadapan public tidak terjadi penindakan hokum sebagaimana di atur dalam undang undang nomor 24 tahun 2009.
Share:

Korupsi Dan Artis Dadakan

Korupsi di Indonesia telah menjadi trending topics sebagai pembahasan dan diskusi dimana mana, baik itu ketika masyarakat sedang berkumpul maupun di media online, cetak dan social. Sepertinya isu seputar korupsi tidak akan habis habisnya dibahas di Nusantara ini. Belum habis hebohnya kasus hambalang dengan artis dadakannya Nazaruddin sang Bendahara Umum Demokrat terjadi lagi kasus korupsi suap impor daging dengan actor terbarunya Ketua Umum PKS Luthfi Hasan Ishaq. Kasus suap impor daging mengalahkan isu Nazaruddin sehingga membuat Nazaruddin ditinggalkan oleh penggemarnya seketika. Tidak ada lagi pembahasan tentang Nazaruddin di media media. Padahal pemulangan Nazaruddin dari luar negeri menghabiskan anggaran milyaran rupiah, dengan penyewaan sebuah jet. Nazaruddin pulang ibarat artis dunia yang segera melakukan konser di Indonesia.

Meredamnya isu kasus daging impor kini tampil lagi artis baru yang melibatkan seorang professor. Professor Rudi Rubiandini ini dikenal sebagai orang yang idealis, idealis tentu merupakan kata kata yang sempurna bagi seorang intelektual. Apalagi seorang yang sudah bertitle professor. Dia akan di anggap sebagai orang yang akan memberikan dedikasinya kepada bangsa dan Negara tanpa akan melakukan hal hal yang merugikan Negara. Apalagi korupsi, karena korupsi bagi orang idealis adalah hina.

Tidak ada yang menyangka seorang professor yang dikenal idealis tersebut akhirnya harus juga berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi karena licinnya minyak sehingga membuat dia terpleset korupsi. Ada juga yang mengatakan jika sang professor yang idealis saja dapat terpleset dengan kasus korupsi apalagi yang lainnya.

Begitulah ternyata, idealis atau tidak seseorang. Dia akan dapat berubah haluan dalam sekejap jika sudah berurusan dengan nilai rupiah. Nilai rupiah (milyaran) dapat membuat orang lupa akan kepercayaan yang diberikan kepadanya oleh rakyat maupun atasannya.

Hebohnya isu SKK migas yang melipatkan Prof. Rudi Rubiandini lagi lagi mengalahkan isu Luthfi Hasan Ishaq, kasus korupsi daging impor itu kini lagi lagi ditinggalkan oleh penggemarnya seketika. Bahkan media tidak lagi menarik untuk membahas sejauh mana perkembangan proses hokum yang dilakukan kepada Nazaruddin dan Luthfi Hasan Ishaq.

Jikapun media mengeluarkan pemberitaan mengenai Nazaruddin dan Luthfi Hasan Ishaq, pemberitaan tersebut tidak lagi menjadi trending topic pembaca, bahkan isinya minim orang yang berkomentar bahkan minim pula orang orang membaca. Tentu berbeda dengan ketika kasus Nazaruddin dan Luthfi Hasan Ishaq baru muncul, semua orang yang membaca panas, rasanya ingin segera di adili oleh penegak hokum bahkan, orang orang tidak sabar dan tidak ingin menunggu hari esok terhadap pemberitaan yang melibatkan mereka.

Lalu bagaimana dengan kasus korupsi yang melibatkan Professor Rudi ini, pasti akan bernasib sama dengan kasus korupsi yang melibatkan Nazaruddin dan Luthfi Hasan Ishaq, jika nanti muncul artis baru yang menghebohkan, maka kasus Profesor Rudi juga akan segera ditinggalkan oleh penggemarnya. Bahkan juga sepi pembaca dan komentator terhadap pemberitaan Prof. Rudi.

Banyak kasus kasus korupsi besar yang terjadi di Indonesia tidak diselesaikan secara tuntas. Bagi actor koruptor sebenarnya akan merasa menang jika dirinya nanti tidak lagi menjadi pembahasan public. Memanasnya isu koruptor di masyarakat tentu mempersulit actor koruptor dalam bergerak untuk melawan hokum melalui kekuasannya, baik kekuasaan materi maupun kekuasaan jabatan yang dimiliki oleh orang orang disekelilingnnya.

Ketika koruptor tersebut tidak lagi menjadi perbicangan di publik tentu sang koruptor tersebut dapat maju selangkah dalam melakukan penyelewengan terhadap penegakan hokum. Karena rakyat sebagai komentator tidak lagi memusatkan perhatiannya pada actor tersebut.

Rasanya menjadi koruptor itu tidak jauh berbeda dengan menjadi artis dadakan yang sering muncul melalui youtube, akan di idolakan seketika dan ditinggalkan juga seketika. Briptu Norman yang menjadi artis dadakan melalui youtube setelah di unggah videonya sedang memperagakan nyanyian salah satu lagu hindia membuat Briptu Norman diidolakan secara seketika oleh masyarakat Indonesia. Namun tidak lama setelah meninggalkan profesi nya sebagai Polisi Briptu Norman harus menerima kenyataan bahwa dia ditinggalkan oleh penggemarnya seketika. Bahkan pembahasan seputar Briptu Norman tidak lagi menjadi menarik bagi rakyat Indonesia.

Lalu apakah rakyat Indonesia harus terus bersikap seperti ini dalam melihat seputar permasalahan korupsi yang menjerat pejabat Negara. Begitu mudah rakyat Indonesia melupakan kejadian kejadian besar yang merugikan Negara dan berdampak terhadap pertumbuhan serta perkembangan Indonesia. Sikap cepat lupa rakyat Indonesia terhadap koruptor salah satu penyebab actor actor koruptor tidak jera. Sebab mereka dengan mudah setelah keluar dari masa tahanan kembali menjalani kehidupan normal layaknya bukan koruptor.

Bahkan mantan mantan koruptor dapat pula hidup berkembang kembali dan dengan mudah menjalani kehidupan sebagai orang yang tidak pernah terlibat dalam kasus kasus memalukan. Berbeda dengan orang orang yang tersandung kasus curi ayam dan pencurian kecil lainnya. Mereka yang paling sulit dilupakan oleh masyarakat, masyarakat akan terus melebelkal dirinya sebagai mantan pencuri.
Share:

Arsip Blog

Tulisan Lainnya