• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Kenapa Aku Begitu Jenuh Hari Ini


Tuhan, aku jenuh. bukan karena tidak mensyukuri nikmatmu yang luar biasa ini. sama sekali bukan.

Tetapi, rutinitas dan rutinitas ini semakin kujalani, semakin hatiku menuntut untuk ingin lari sejenak, tidak, aku tidak akan melarikan diri untuk saat ini. karena aku akan belajar kuat.

Terkadang hidup tak selalu dalam garis lurus bersama dengan kegembiraan, kadang tak jua selalu dalam kegundahan. Kadang naik kadang pula turun, kadang kekiri kadang kekanan. Namun itulah yang membuat hidup seakan berirama, berwarna, dan tak menjemukan.

Kenapa aku? Aku tak tahu apa yang kurasakan. Dadaku terasa sesak, nafasku memburu, namun jantungku enggan berdenyut. Bagai bom atom yang mau meledak, tapi tertahan oleh waktu meskipun partikel-partikel didalamnya sudah saling mendesak, bahkan berlomba untuk bisa bebas. Bebas berhamburan bersama hembusan angin dingin di siang yang panas. Menangis? Tidak. Aku bukan seorang yang akan menangis dalam kejenuhan.

Aku benar-benar ingin sendiri, meratapi setiap kata demi kata yang muncul dikeheningan malam. Setiap ajakan dan dengungan yang sering kali tak kumengerti. Apa yang kau inginkan.

Aku benar-benar tak mengerti Kenapa Aku Begitu Jenuh dengan kehidupan ini.

Share:

Sarjana Copy Paste


Copy paste, mahasiswa mana yang tidak pernah mendengarnya, ketika dunia browsing (internet) sudah menjalar di Indonesia, bahasa copy paste merupakan bahasa yang tidak asing lagi dikalangan mahasiswa atau istilah kerennya yang sering disebut dengan “Aspal” alias asli tapi palsu, beginilah dinamika Sarjana intelektual yang sudah merupakan budaya mahasiswa untuk merebut gelar Sarjana meski harus dengan cara-cara yang tidak intelektual pula.
Praktek copy paste tersebut bukan lagi hal yang baru dikalangan mahasiswa, hal ini sudah menjadi rahasia umum bahkan sang dosen pun tidak meragukan lagi tentang hasil copy paste sang mahasiswa baik itu tugas, laporan bahkan skripsi yang merupakan tugas final mahasiswa untuk meraih gelar sarjana.
Alasan yang kuat membuat mahasiswa banyak yang copy paste pasti di dasari pada tidak adanya pengetahuan mahasiswa tentang materi maupun konsep yang akan ditulis, belum lagi mahasiswa yang tidak terbiasa dengan menulis karya-karya ilmiah dan tidak adanya pengetahuan teknis-teknis menulis, sehingga mahasiswa mengambil langkah pragmatis yaitu copy paste dan didukung pula oleh teknologi browsing yang membuat mahasiswa semakin menjadi jadi untuk menjadi seorang plagiat intelektual, plagiat ini bukan saja terjadi pada mahasiswa S1 bahkan S2 pun banyak yang ambil bagian dengan mengambil tulisan orang dengan menghilangkan hak cipta si penulis.
Celakanya saat ini istilah copy paste tidak lagi menjadi dosa bagi mahasiswa untuk melakukannya, belum lagi mengenai langkah-langkah strategis untuk menghilangkan budaya copy paste yang marak dilakukan oleh mahasiswa, sehingga budaya copy paste itupun terus terjadi dari generasi ke generasi berikutnya. Dosen merupakan orang yang pertama yang seharusnya bergerak untuk menghilangkan budaya copy paste tersebut, dimana ketika saat ini kita melihat realitas dosen mengajar dan memberikan tugas hanya didasari pada prinsip formalitas saja, tentunya cara-cara seperti itu harus di ubah agar generasi kedepannya dapat menghilangkan budaya copy paste secara bertahap.
Sudah saatnya dosen harus kreatif dalam memberikan tugas yang membuat mahasiswa tidak bisa melakukan copy paste, baik itu dengan memeriksa tugas mahasiswa secara detail dan memberikan hukuman terhadap mahasiswa yang melakukan copy paste maupun dengan cara-cara lainnya.  Agar mahasiswa pada saat mengambil tugas akhir (skripsi) tidak lagi melakukan copy paste.
Surat edaran Dirjen Dikti disebutkan bahwa kelulusan mahasiswa S-1 harus setelah karya ilmiahnya dipublikasikan di jurnal ilmiah tidak juga akan membuat budaya menulis mahasiswa akan timbul jika tidak dimulai perubahan mekanisme mengajar dilakukan pada tingkat dosen. Apalagi kewajiban penerbitan karya ilmiah itu tidak ada sanksinya yang membuat mahasiswa akan dicabut gelarnya jika ketahuan bukan merupakan karya ilmiah mahasiswa itu sendiri.
Saat ini kita sadari bahwa mahasiswa hanya mempelajari mata kuliah metodologi penelitian pada saat sebelum mengambil tugas laporan ataupun skripsi, sehingga teknis-teknis penulisan belum begitu dikuasai oleh mahassiwa secara sempurna, sedangkan mengenai dasar-dasar menulis tidak menjadi pengetahuan mahasiswa dalam dunia pendidikan kecuali mahasiswa belajar sendiri secara otodidak, tidak sedikit mahasiswa yang tidak bisa menulis namun sudah meraih gelar sarjana sehingga lulusannya pun hanya merupakan lulusan copy paste.
Rendahnya tingkat budaya menulis dikalangan mahasiswa bisa kita lihat pada tingkat penulisan-penulisan opini yang jarang sekali dilakukan oleh mahasiswa pada media-media masa, bahkan sering kita melihat opini-opini yang dikeluarkan oleh media sering merupakan tulisan-tulisan penggiat sosial, hal ini tentunya permasalahannya adalah pemahaman mahasiswa pada teknis menulis itu sendiri sangat minim, sehingga jika pun ada tulisan yang di kirimkan oleh mahasiswa sangat sedikit dan jika pun ada penulisan dari mahasiswa tidak dikeluarkan, itu merupakan tingkat cara penulisan yang belum layak untuk dipublikasikan oleh media tersebut. Lalu bagaimana agar budaya menulis itu dapat timbul oleh mahasiswa, pasti dengan kerja keras semua pihak terutama dosen bagaimana meningkatkan budaya menulis mahasiswa dengan cara-cara yang kreatif dan inovatif dengan menghindari mahasiswa untuk melakukan copy paste.

Semoga budaya menulis pada mahasiswa nantinya akan meningkat dan hilang dari budaya copy paste yang mana saat ini merupakan budaya yang dilakukan oleh kaum intelektual.
Share:

Pidato Marzuki Alie Banyak Pihak Yang Kebakaran Jenggot


Menarik untuk kita simak, tentang pernyataan Ketua DPR, Marzuki Alie yang menunai protes banyak pihak, "Koruptor adalah orang-orang pintar. Mereka juga bisa dari anggota ICMI, anggota HMI, lulusan UI, UGM, dan lainnya. Tidak ada orang bodoh,".
Banyak orang yang menanggapi pernyataan marzuki tersebut, ada yang menanggapinya biasa-biasa saja, ada yang menuntut, dan ada juga yang mengatakan seharusnya pernyataan seperti itu tidak dikatakan oleh seorang pejabat publik.
Dengana adanya pernyataan Marzuki Alie banyak pihak yang kebakaran jenggot, ada yang merasa tersinggung dan ada juga yang mengecam. Ketika kita kembali menyimak pernyataan Marzuki Alie memang ada benarnya, dimana selama ini korupsi itu dilakukan oleh orang-orang yang lulusan perguruan tinggi ternama, toh kebanyakan yang menjadi anggota DPR juga kebanyakan lulusan dari Universitas ternama di indonesia.
Anehnya ketika ada pernyataan seperti itu maka banyak pihak yang mengecam pernyataan-pernyataan kontroversi tersebut, seharusnya ketika ada pernyataan seperti itu, kita harus kembali merenungkan, apakah benar jika selama ini banyak lulusan perguruan tinggi ternama terlibat kasus korupsi, jika benar..? sudah saat nya untuk membenah diri, agar kedepannya para lulusan perguruan tinggi ternama ini dapat menjadi lebih baik dan meluluskan sebagai alumni yang ber aklak mulia dan menjadi contoh teladan bagi masyarakat indonesia, bukan malah kebakaran jenggot ketika ada pernyataan yang kritis seperti ini.
Pernyataan Marzuki Alie yang semakin menuai protes dari berbagai pihak membuat Wakil Ketua DPR angkat bicara “Wakil Ketua DPR Pramono Anung menilai reaksi sejumlah orang atas pidato Ketua DPR Marzuki Alie bahwa koruptor berasal dari perguruan tinggi ternama terlalu berlebihan atau lebay. Ia pun heran dengan aksi David Tobing, mahasiswa doktoral Universitas Indonesia menggugat Marzuki ke Pengadilan Jakarta Pusat.
"Tetapi saya lihat reaksi beberapa orang lebay banget. Terlalu berlebihan, ngapain sampai harus menuntut Pak Marzuki. Apa yang harus dituntut, kalau bicara korupsi kan di semua sektor di DPR, pemerintahan, dan itu tidak memandang alumni," kata Pramono di kompleks Parlemen, (Metrotvnews.comJakarta, Rabu ,9/5”).
Reaksi berlebihan dari David Tobing ini jelas memperlihatkan bahwa dia sebagai seorang yang anti kritik, seharusnya perguruan tinggi yang sudah ternama di indonesia ini tidak menjadi anti kritik. Bila saja Marzuki Alie berpidato seperti itu sudah banyak yang protes, yang kebanyakan dari alumni yang termasuk dari perguruan tinggi yang disebutkan oleh Marzuki Alie, nantinya tidak akan ada yang berani mengkritik perguruan-perguruan tinggi tersebut. Karena masyarakat akan menganggap bahwa perguruan tinggi tersebut merupakan perguruan tinggi yang anti kritik.
Pejabat publik yang melakukan pernyataan seperti itu saja bisa di tuntut, bagaimana jika nantinya ada masyarakat biasa yang melakukan kritik terhadap perguruan tinggi ternama, pasti akan berpikir panjang, karena takut akan ada tuntutan dari alumni perguruan tinggi tersebut.
Tidak seharusnya kita melihat ada yang akan mengecam dan menuntut tentang pernyataan-pernyataan kritis seperti, karena dengan pernyataan seperti itu kita dapat lebih bisa menyiapkan untuk berbenah, agar kedepannya pendidikan di indonesia ini menjadi lebih baik dan bangsa ini juga akan menjadi lebih baik dengan menghasilkan lulusan-lulusan perguruan tinggi yang bukan saja berkualitas akan tetapi juga mempunyai aklak yang mulia serta terhindar dari perbuatan-perbuatan yang merugikan negara.


Share: