Sarjana Prematur

Menjadi mahasiswa adalah suatu kebanggaan bagi setiap orang, dimana mahasiswa adalah sebagai bagian yang strategis disetiap perjalanan bangsa, tidak heran mahasiswa adalah sebagai pioneer pada sebuah perubahan bangsa yang saat ini masih dipercayakan oleh kalangan masyarakat, mesti  tidak seperti era melawan kolonial belanda ataupun sampai dengan tahun era reformasi 1998, dimana mahasiswa menjadi contoh teladan bagi masyarakat Indonesia dalam setiap pergerakan perubahan.
Tingkah laku mahasiswa saat ini yang banyak tercoreng, tidak seperti kaum terdidik, membuat mahasiswa semakin hilang kepercayaan dihati rakyat yang dulunya di anggap sebagai contoh teladan.
Menjadi mahasiswa saat ini tidak susah seperti masa-masa orde lama maupun orde baru, hanya orang orang tertentu yang bisa menyandang gelar “Mahasiswa”, namun saat ini menjadi mahasiswa sudah terbuka lebar, baik banyaknya kampus yang ada di negeri ini dan murahnya penawaran biaya kuliah, sehingga membuat setiap orang tua yang ingin mengkuliahkan anaknya semakin terbuka lebar. Terbukti setiap tahun ajaran baru perguruan tinggi  swasta maupun negeri selalu dibanjiri dengan peserta yang ingin mendaftar.
Namun setelah mudahnya menjadi mahasiswa, ternyata tidak juga menjadi keadaan negeri ini menjadi lebih baik seperti apa yang diharapkan oleh rakyat Indonesia. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa menjadi mahasiswa ternyata tidak sesederhana apa yang kita pikirkan saat ini. Salah satu pilihan yang salah mahasiswa saat ini adalah memutuskan menjadi sarjana sebelum matang atau bahasa yang kerennya saat ini adalah Sarjana Prematur, ini fakta yang terjadi di negeri ini bahkan termasuk di Aceh era dimana konflik telah berakhir setelah adanya kesepakatan Mou Helsinky Firlandia antara Pemerintah RI dan GAM, hampir semua rakyat Aceh masih mengingat dimana tahun 1999, mahasiswa mampu mengambil jutaan hati rakyat Aceh untuk berkumpul di Mesjid Raya Banda Aceh, menuntut Referendum, sebuah gerakan yang amat besar dilakukan oleh mahasiswa ketika itu, dan akan tercatat dalam sejarah Republik Indonesia namun mampukah Mahasiswa saat ini melakukan hal yang sama lagi. 

Lahirnya sarjana prematur ini adalah ada beberapa faktor diantaranya, desakan orang tua, takut di anggap bodoh oleh kawan, melihat peluang pembukaan lowongan Pegawai Negeri Sipil dan tidak dewasanya berpikir.

Banyaknya pengangguran di negeri ini juga faktor lahirnya sarjana prematur yang menumpuk, sehingga yang terpikirkan oleh orang-orang tersebut adalah mencari kerja, kerja yang menjadi target utama adalah pemerintah yaitu menjadi pegawai negeri sipil, meski harus mengeluarkan kocek puluhan juta rupiah untuk lewat menjadi pegawai negeri sipil.
Menjadi mahasiswa prematur bukan saja didorong oleh sikap mahasiswa, Perguruan Tinggi juga merupakan faktor utama yang mendorong lahirnya sarjana prematur dengan dibantu oleh sistem pendidikan yang diberlakukan oleh pemerintah, Termasuk Dosen yang mendorong mahasiswa mahasiswa untuk berpikir apatis dengan cara mengurung mahasiswa dengan aktifitas dan tugas sebagai yang menumpuk, sehingga mahasiswa terkesan apatis dalam aktifitas sosial, padahal semua mengakuinya bahwa asupan kemandirian mahasiswa tidak disebabkan oleh faktor dosen semata, namun di sebabkan beberapa faktor lain diluar bangku kuliah, baik dengan pengalaman, organisasi, diskusi, dan factor lainnya.
Saat ini banyak kita temui mahasiswa yang menjadikan dosen sebagai dewa, sehingga untuk menemuinya sekedar berdiskusi saja mahasiswa rada-rada canggung dan takut, kemampuan mahasiswa berkomunikasi juga semakin dibawah rata-rata, dimana banyak mahasiswa saat ini yang tidak mampu menjadi pemimpin ataupun tokoh teladan bagi masyarakat, padahal bagian tugas mahasiswa juga harus mampu menjadi sebagai pemimpin masyarakat untuk meneruskan perjuangan bangsa kedepan.
Mahasiswa berlomba lomba menjadi sarjana saat ini juga banyak hanya untuk mengangkat status sosialnya, padahal menurut Gramsci disebut intelektual organik, idelanya mampu memahami ruang proses kampus sebagai penempaan ilmu dan kedewasaan berpikir, bukan pada pemenuhan gelar saja.
Efek yang terjadi saat ini adalah membludaknya pengangguran intelektual, dikarenakan hanya mengharapkan lapangan kerja,  bukan bergerak membuka lapangan kerja sebagaimana masyarakat mengharapkannya kepada mahasiswa,.

Memang tidak salah ketika sang seniman indonesia yang bernama Iwan Fals menciptakan lirik yang menggugah para pendengar dan penulis rasa wajib didengarkan oleh setiap mahasiswa, lagu tersebut berjudul “Sarjana Muda” berikut beberapa kutipan liriknya “Engkau sarjana muda, resah mencari kerja mengandalkan ijazahmu, empat tahun lamanya bergelut dengan buku, sia-sia semuanya, setengah putus asa dia berucap “maaf ibu”.
Lirik lagu tersebut sebenarnya menjadi tamparan keras bagi mahasiswa yang saat ini berlomba-lomba mencari gelar sarjana hanya untuk mengangkat status sosial maupun hanya untuk mencari kerja, karena ketika kita berpikir bahwa tamat kuliah kita hanya mengandalkan ijazah untuk mencari kerja, kenapa tidak uang untuk perkuliahan kita kumpul untuk membuka usaha, mungkin usaha tersebut sudah berkembang 4-5 tahun kedepan, sesuai dengan mahasiswa menargetkan tamat kuliah, lalu saat ini kita harus berpikir, sebenarnya untuk apa gelar sarjana tersebut “Mencari Kerja atau Membuka Lapangan Kerja”.

Ini menjadi PR buat kita semua untuk merenungi, apa sebenarnya arti dari gelar sarjana tersebut.
Share: