• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Pragmatisme Mahasiswa Aceh

Pesta demokrasi di Aceh kali ini begitu menarik, sehingga saking menariknya dunia internasional pun menyorotinya. Kondisi Aceh yang terancam karena banyaknya kasus kekerasan dan ketidakstabilan keamanan, namun itu sudah menjadi kebiasaan menjelang pesta demokrasi berlangsung, bukan hanya Aceh, di daerah lain pun itu sudah menjadi suatu kebiasaan pesta demokrasi di Indonesia.
Namun lebih menariknya pesta demokrasi di Aceh kali ini adalah dibarengi dengan kebijakan pemerintah pusat untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), namun bedanya Aceh, kenaikan BBM bukan menjadi isu yang strategis dikalangan mahasiswa untuk menolak kebijakan pemerintah pusat tersebut.
Beda dengan daerah-daerah lain yang gencar-gencarnya turun kejalan mengecam kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.

Ketika daerah lain mengerahkan masa puluhan ribu seperti yang terjadi di Jakarta dan Medan, namun Aceh hanya mampu mengerahkan masa ratusan orang untuk menolak kenaikan BBM. Ternyata mahasiswa Aceh lebih tertarik menjadi tim sukses kandidat-kandidat tertentu dari pada mengkaji isu-isu sosial.
Ada sesuatu yang berbeda antara mahasiswa Aceh dengan mahasiswa diluar Aceh, dimana ketika mahasiswa diluar Aceh menjauhkan diri untuk dukung mendukung kandidat yang bertarung pada pesta demokrasi 5 tahunan tersebut, Mahasiswa Aceh malah terang-terangan menamakan diri dari Aliansi Mahasiswa untuk mendukung kandidat-kandidat tertentu.
Kita bisa melihat realitas politik di Aceh saat ini, yang sudah terkontaminasi pada tingkat kaum intelektual, mahasiswa juga sudah menjadi bagian yang terjerumus pada politik pragmatis. Ketika Pemilukada di Aceh berlangsung banyak orang yang membentuk organisasi yang menamakan mahasiswa lalu mendukung kandidat-kandidat tertentu. Entah apa yang akan terjadi pada organisasi tersebut ketika calon yang didukungnya kalah.
Tidak seharusnya mahasiswa melibatkan diri pada Pemilukada ini dengan dukung mendukung salah satu kandidat, dimana ketika rakyat Aceh semakin tertekan pada kondisi keamanan dan sosial, kaum intelektual sebagai control of social dapat memposisikan diri sebagai pihak yang mengawal berjalannya pesta demokrasi di Aceh ini berlansung secara jujur, adil dan damai. Sehingga rakyat Aceh dapat menentukan pilihannya sesuai dengan hati nuraninya.
Tidak salah ketika rakyat Aceh tidak dapat lagi mengandalkan mahasiswa untuk menjadi control of sosial, dikarenakan mahasiswa lebih menarik gerakan pragmatis ketimbang pada gerakan sosial, sehingga isu-isu sosial tidak lagi menjadi bahan kajian mahasiswa.
“Aceh Beda Bung” itulah kata-kata yang sering kita dengar dari orang yang bahkan telah menjadi trend dikalangan masyarakat Aceh. Memang benar, Aceh beda, ketika mahasiswa diluar Aceh masih menjadi prioritas kajian isu-isu sosial, malahan Aceh lebih memprioritaskan dukung mendukung calon kandidat yang akan bertarung pada pemikulada. Kepada siapa rakyat Aceh menaruh harapan perubahan ketika mahasiswa yang di anggap sebagai bagian dari control sosial ternyata telah terkontaminasi pada gerakan pragmatis.

Disadari atau tidak, pada kenyataannya mahasiswa berada pada fase kesucian yang ilmu pengetahuannya harus dikerahkan untuk perubahan bangsa, sudah sepantasnya mahasiswa berorientasi pada gerakan sosial, yang mampu menjadikan pelerai elit politik yang bertikai dan mampu mencari solusi dengan memecahkan akar permasalahan, bukan malah dengan membela salah satu pihak. Karena hal inilah mahasiswa tetap dibutuhkan pada sikap yang netral dalam mengawal proses pesta demokrasi tersebut.

Gejala pragmatisme mahasiswa Aceh ini jika terus berlanjut akan berdampak pada pembangunan Aceh kedepannya, jika mahasiswa tidak lagi menjadi bagian kontrol sosial, siapa yang akan kita harapkan untuk terus mengawal berjalannya pemerintahan yang bersih dan adil.
Semoga saja mahasiswa tidak lupa pada perannya sebagai kaum intelektual yang mempunyai peran besar dan mampu membawa perubahan bangsa ini menjadi lebih baik.

Share:

Rakyat Cerdas Memilih Pemimpin Berkualitas

(review)
Masyarakat Aceh tidak lama lagi akan melakukan pesta demokrasi yang disebut dengan Pemilukada/pilkada (dalam UUPA), hari H pencoblosan sudah tidak akan lama lagi yaitu tanggal 09 April 2012, tentunya tanggal 09 April tersebut akan menjadi  hari bersejarah bagi masyarakat Aceh, dimana tanggal tersebut akan dilakukan Pemilihan Gubernur Aceh/Wakil Gubernur, Walikota/Wakil Walikota, Bupati/Wakil Bupati dihampir seluruh Aceh yang ke-2 setelah perjanjian perdamaian MOU Helsinki antara Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah Indonesia.
Setelah perjalanan panjang pihak KIP mempersiapkan pesta demokrasi itu berlansung, dimana beberapa bulan yang lalu kondisi Aceh memanas seiring dengan banyaknya kasus penembakan dan konflik regulasi antar elit politik serta ditambah tidak ikutnya Partai Aceh pada pemilukada yang merupakan Partai Pemenang pilkada yang lalu, membuat kondisi Aceh semakin tidak kondusif. Tapi seiring perjalanan konflik-konflik tersebut mulai meredam, dimana ketika Partai Aceh memutuskan untuk ikut bertarung memperebutkan kursi Aceh -1, tentu semakin memperindah suasana pesta demokrasi di Aceh.

Saat ini semua nya semakin terkendali, suasana demokarsi juga terasa semakin indah dan lengkap, tidak ada pihak yang gugat menggugat lagi kepada MK, baik calon independen maupun calon dari Partai.
Namun kali ini apa yang kita dapatkan setelah terjadinya konflik regulasi tersebut?, itu semua telah menjadi masa lalu, biarkan menjadi pembelajaran buat rakyat Aceh, dimana kondisi politik di Aceh yang masih labil dan masih butuh banyak pembelajaran.

Lalu sadarkah masyarakat Aceh saat ini, kondisi Aceh yang masih labil tentu masih sangat mudah untuk timbul benih-benih konflik, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan politik sepertinya masih membutuhkan kerja ektra pihak Kip dengan dibantu oleh pihak lain untuk terus mensosialisasikan pentingnya mengggunakan hak pilih sesuai hati nurani tanpa takut pada ancaman-ancaman dan intimidasi yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab, agar siapa yang dipilih oleh Rakyat Aceh akan dapat Adil dan Mensejahterkan Aceh kedepannya.

Pilkada diAceh kali ini bukan saja mendapat sorotan Nasional, Internasional pun ambil bagian saat ini untuk memastikan pilkada di Aceh tetap dapat berjalan aman dan damai, rakyat Aceh yang mendapatkan hak suara, diharapkan untuk tidak terpengaruhi pada intimidasi dan money politic yang dilakukan oleh calon mana pun,  karena ini sungguh suatu cara demokrasi yang sangat memalukan.

Untuk membangun Aceh kita perlu memiliki pemimpin-pemimpin yang berkualitas, maka dari itu rakyatlah yang menentukan siapa yang berkualitas dan layak menjadi pemimpin Aceh kedepannya “Pemimpin yang berkualitas adalah pemimpin yang dipilih oleh orang orang cerdas”.  Tapi apalah arti kandidat yang cerdas jika pendidikan poltik masyarakat masih dibawah rata-rata. Dimana banyak masyarakat yang tidak mengerti tentang politik, bahkan banyak masyarakat yang tidak ingin tahu menahu soal politik, padahal itu menyangkut kondisi Pembangunan Aceh 5 tahun kedepan.
Sudah saatnya rakyat Aceh harus cerdas, bukan memilih bedasarkan pemberian oleh financial yang marak dilakukan kandidat melainkan memilih karena kandidat tersebut memang layak untuk dipilih dan bisa membawa perubahan untuk Aceh kedepannya.
Sudah saatnya masyarakat Aceh untuk tidak tergiur dan tertipu dengan rayuan-rayuan materi, apalagi memilih hanya karena diintimidasi, sudah saatnya rakyat bersatu melawan kekerasan dan penindasan, kalau bukan saat ini kapan lagi.
Kesejahteraan rakyat Aceh ada ditangan rakyat Aceh sendiri, rakyat Acehlah yang menentukan Aceh mau dibawa kemana Aceh untuk lima tahun kedepan, 
Sudah saatnya, marilah kita memilih pemimpin yang berkualitas yang mampu mebawa aceh pada kehidupan yang adil dan sejahtera. Kecerdasan rakyat berpolitik akan ditentukan ketika pemimpin yang dipilih oleh rakyat adalah seorang pemimpin yang berkualitas.

“Bersatulah rakyat Aceh melawan pembodohan dan  intimidasi”
Share:

Sarjana Prematur

Menjadi mahasiswa adalah suatu kebanggaan bagi setiap orang, dimana mahasiswa adalah sebagai bagian yang strategis disetiap perjalanan bangsa, tidak heran mahasiswa adalah sebagai pioneer pada sebuah perubahan bangsa yang saat ini masih dipercayakan oleh kalangan masyarakat, mesti  tidak seperti era melawan kolonial belanda ataupun sampai dengan tahun era reformasi 1998, dimana mahasiswa menjadi contoh teladan bagi masyarakat Indonesia dalam setiap pergerakan perubahan.
Tingkah laku mahasiswa saat ini yang banyak tercoreng, tidak seperti kaum terdidik, membuat mahasiswa semakin hilang kepercayaan dihati rakyat yang dulunya di anggap sebagai contoh teladan.
Menjadi mahasiswa saat ini tidak susah seperti masa-masa orde lama maupun orde baru, hanya orang orang tertentu yang bisa menyandang gelar “Mahasiswa”, namun saat ini menjadi mahasiswa sudah terbuka lebar, baik banyaknya kampus yang ada di negeri ini dan murahnya penawaran biaya kuliah, sehingga membuat setiap orang tua yang ingin mengkuliahkan anaknya semakin terbuka lebar. Terbukti setiap tahun ajaran baru perguruan tinggi  swasta maupun negeri selalu dibanjiri dengan peserta yang ingin mendaftar.
Namun setelah mudahnya menjadi mahasiswa, ternyata tidak juga menjadi keadaan negeri ini menjadi lebih baik seperti apa yang diharapkan oleh rakyat Indonesia. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa menjadi mahasiswa ternyata tidak sesederhana apa yang kita pikirkan saat ini. Salah satu pilihan yang salah mahasiswa saat ini adalah memutuskan menjadi sarjana sebelum matang atau bahasa yang kerennya saat ini adalah Sarjana Prematur, ini fakta yang terjadi di negeri ini bahkan termasuk di Aceh era dimana konflik telah berakhir setelah adanya kesepakatan Mou Helsinky Firlandia antara Pemerintah RI dan GAM, hampir semua rakyat Aceh masih mengingat dimana tahun 1999, mahasiswa mampu mengambil jutaan hati rakyat Aceh untuk berkumpul di Mesjid Raya Banda Aceh, menuntut Referendum, sebuah gerakan yang amat besar dilakukan oleh mahasiswa ketika itu, dan akan tercatat dalam sejarah Republik Indonesia namun mampukah Mahasiswa saat ini melakukan hal yang sama lagi. 

Lahirnya sarjana prematur ini adalah ada beberapa faktor diantaranya, desakan orang tua, takut di anggap bodoh oleh kawan, melihat peluang pembukaan lowongan Pegawai Negeri Sipil dan tidak dewasanya berpikir.

Banyaknya pengangguran di negeri ini juga faktor lahirnya sarjana prematur yang menumpuk, sehingga yang terpikirkan oleh orang-orang tersebut adalah mencari kerja, kerja yang menjadi target utama adalah pemerintah yaitu menjadi pegawai negeri sipil, meski harus mengeluarkan kocek puluhan juta rupiah untuk lewat menjadi pegawai negeri sipil.
Menjadi mahasiswa prematur bukan saja didorong oleh sikap mahasiswa, Perguruan Tinggi juga merupakan faktor utama yang mendorong lahirnya sarjana prematur dengan dibantu oleh sistem pendidikan yang diberlakukan oleh pemerintah, Termasuk Dosen yang mendorong mahasiswa mahasiswa untuk berpikir apatis dengan cara mengurung mahasiswa dengan aktifitas dan tugas sebagai yang menumpuk, sehingga mahasiswa terkesan apatis dalam aktifitas sosial, padahal semua mengakuinya bahwa asupan kemandirian mahasiswa tidak disebabkan oleh faktor dosen semata, namun di sebabkan beberapa faktor lain diluar bangku kuliah, baik dengan pengalaman, organisasi, diskusi, dan factor lainnya.
Saat ini banyak kita temui mahasiswa yang menjadikan dosen sebagai dewa, sehingga untuk menemuinya sekedar berdiskusi saja mahasiswa rada-rada canggung dan takut, kemampuan mahasiswa berkomunikasi juga semakin dibawah rata-rata, dimana banyak mahasiswa saat ini yang tidak mampu menjadi pemimpin ataupun tokoh teladan bagi masyarakat, padahal bagian tugas mahasiswa juga harus mampu menjadi sebagai pemimpin masyarakat untuk meneruskan perjuangan bangsa kedepan.
Mahasiswa berlomba lomba menjadi sarjana saat ini juga banyak hanya untuk mengangkat status sosialnya, padahal menurut Gramsci disebut intelektual organik, idelanya mampu memahami ruang proses kampus sebagai penempaan ilmu dan kedewasaan berpikir, bukan pada pemenuhan gelar saja.
Efek yang terjadi saat ini adalah membludaknya pengangguran intelektual, dikarenakan hanya mengharapkan lapangan kerja,  bukan bergerak membuka lapangan kerja sebagaimana masyarakat mengharapkannya kepada mahasiswa,.

Memang tidak salah ketika sang seniman indonesia yang bernama Iwan Fals menciptakan lirik yang menggugah para pendengar dan penulis rasa wajib didengarkan oleh setiap mahasiswa, lagu tersebut berjudul “Sarjana Muda” berikut beberapa kutipan liriknya “Engkau sarjana muda, resah mencari kerja mengandalkan ijazahmu, empat tahun lamanya bergelut dengan buku, sia-sia semuanya, setengah putus asa dia berucap “maaf ibu”.
Lirik lagu tersebut sebenarnya menjadi tamparan keras bagi mahasiswa yang saat ini berlomba-lomba mencari gelar sarjana hanya untuk mengangkat status sosial maupun hanya untuk mencari kerja, karena ketika kita berpikir bahwa tamat kuliah kita hanya mengandalkan ijazah untuk mencari kerja, kenapa tidak uang untuk perkuliahan kita kumpul untuk membuka usaha, mungkin usaha tersebut sudah berkembang 4-5 tahun kedepan, sesuai dengan mahasiswa menargetkan tamat kuliah, lalu saat ini kita harus berpikir, sebenarnya untuk apa gelar sarjana tersebut “Mencari Kerja atau Membuka Lapangan Kerja”.

Ini menjadi PR buat kita semua untuk merenungi, apa sebenarnya arti dari gelar sarjana tersebut.
Share: