Pendidikan dan Hegemoni Politik

Melihat kondisi pendidikan di indonesia saat ini jauh dari harapan kita semua, seperti yang kita ketahui bersama dimana sebuah bangsa yang memiliki kemajuan adalah sebuah bangsa yang mempunyai sistem pendidikan yang relevan dan peka terhadap sikap perubahan. Artinya sistem pendidikan yang dikelola oleh pemerintah tidak berdasarkan kondisi politik yang terjadi pada bangsa tersebut, namun lain halnya dengan kondisi di Indonesia, sistem pendidikan sangat berkaitan dengan kondisi politik yang terjadi di indonesia.

Seiring pergantian penguasa maka sistem pendidikan juga terganti dengan berjalannya waktu sehingga sistem pendidikan yang ada tidak selalu berjalan dengan maksimal sesuai dengan kondisi kebutuhan akan tetapi berjalan sesuai dengan kebutuhan penguasa, seperti kepala Dinas Dan Menteri Pendidikan yang harus menjadi boneka penguasa.

Pencekalan pada generasi yang sedang menempuh pendidikan menjadi sebuah yang lazim terjadi dinegara kita, misalnya mahasiswa dihindari dari sikap berpikir kritis, karena ketika mahasiswa pro aktif dalam berpikir kritis hal ini dapat menyebabkan ancaman bagi para penguasa negeri ini. Seperti aksi Mahasiswa yang masif. Keberhasilan orde baru terhadap pencekalan pemberlakuan sistem pendidikan berdampak pada kondisi negara pada saat ini, seperti apatisnya mahasiswa terhadap mengkritisi penguasa yang zalim terhadap rakyatnya.

Tentunya saat ini kita telah mengetahui semuanya bahwa tingkat berpikir kritis mahasiswa tidak lagi menjadi sebuah hal yang lazim kita dengar, dikarenakan pada saat ini mahasiswa juga telah ikut terjebak dalam sikap hedonisme dan apatis.

Kondisi ini diperparah dengan paradigma mahasiswa dan masyarakat yang berpikir bahwa politik itu adalah sesuatu hal yang kotor dan harus dihindari, tentunya ini menjadi sebuah persoalan serius untuk di ubah pada cara yang berpikir seperti itu, ketika rakyat indonesia telah berpikir bahwa politik menjadi sesuatu hal yang kotor seharusnya kaum intelektual yaitu mahasiswa harus peka terhadap kondisi ini dengan bagaimana berupaya untuk mensucikan hal yang kotor tersebut, bukan malah menghindarinya, mahasiswa sebagai iron stock harus mampu menjadi agent of change pada kondisi yang memprihatinkan ini.

Larangan politik dalam dunia pendidikan semakin terlihat jelas pada esensi dari tujuan tersebut, akan tetapi mahasiswa sendiri pada saat ini juga menerima saja hal ini tanpa coba menelusuri who and why ? Dalam perspektif penulis kenapa politik diharamkan dalam dunia pendidikan. Ini sangat berkaitan dengan penghindaran mahasiswa untuk berpikir kritis terhadap kondisi sosial. Mengapa politik itu tidak di perbolehkan didunia pendidikan tentunya ketika mahasiswa telah mulai berpikir kritis ini dapat mengakibatkan ancaman terhadap penguasa untuk terus mempertahankan kekuasaannya yang tidak pro rakyat.

Kondisi ini semakin di perparah pada kondisi akademik yang seharusnya menjadi mitra dengan mahasiswa yang berpikir kritis, akan tetapi malah menghindari atau tidak respect pada mahasiswa yang berpikir kritis. Segelintir mahasiswa yang saat ini masih meluangkan waktunya untuk berpikir kritis malah dipandang remeh oleh para birokrasi dan malahan mahasiswa yang berpikir kritis ini di anggap sebagai ancaman terhadap kelangsungan pada birokrasi yang memperlakukan mahasiswa semena-mena tersebut. Sehingga pembunuhan bawah tanah terhadap mahasiswa yang berpikir kritis ini pun dilakukan.

Pencekalan mahasiswa yang berpikir kritis ini pun dilakukan dengan berbagai cara baik dengan menyibukkan mahasiswa dengan aktifitas seperti tugas yang menumpuk, menyindir mahasiswa dan perlombaan yang mengguyurkan hadiah. Para mahasiswa yang berpikir kritis ini tidak pernah mendapat penghargaan akan tetapi mereka mendapatnya dari rakyat yang merasa terbantu oleh sikap kritisnya. Tentunya ini suatu sikap birokrasi yang sangat memalukan dikarenakan perguruan tinggi yang mengemban Tri Dharma tidak memprioritaskan pada kepentingan rakyat.

Sampai saat ini terlihat jelas mahasiswa sebagai kaum intelektual pun tak mampu berbuat apa-apa untuk dirinya dan masyarakat, bahkan saat ini “mahasiswa terlihat seperti badut-badut kecil yang ikut bergoyang ketika irama dimainkan, meski irama tersebut tidak disukainya, ini sungguh suatu sikap seorang intelektual yang memalukan”.

telah diterbitkan di
http://www.theglobejournal.com/kategori/opini/pendidikan--hegemoni-politik.php

Share:

Arsip Blog

Tulisan Lainnya