Dehidrasi Politik

Kondisi politik saat ini bisa dikatakan dehidrasi dimana kelompok-kelompok yang dulunya berseteru kini mulai lelah dan telah kekurangan tenaga, apa yang didapatkan setelah proses perseteruan panjang tersebut, apa yang telah merugikan setelah perseteruan panjang tersebut meredam, tidak ada sampai saat ini yang mengkajinya secara detail, lalu kenapa perseteruan hebat ini tidak menjadi kisah yang berujung pada kekalahan dan kemenangan, lalu apa sebenarnya di carikan oleh para perseteru ini yang beberapa bulan lalu kita lihat dengan seksama tidak ada yang mau mengalah dalam mempertahankan keinginannya masing-masing.
Perseteruan para elit politik yang panjang tersebut ternyata telah menyebabkan Aceh kembali menjadi pusat perhatian Nasioanal maupun Asing, tapi kita menyadari atau tidak perseteruan yang pernah terjadi mengingatkan pada satu kisah bayi yang terlahir kembar ketika mereka beranjak pada masa kanak-kanak, lalu orang tuanya memberikan mereka mainan yang berbeda-beda tapi apa yang terjadi pada mereka, mereka memperebutkan satu mainan dan tidak ada yang mau mengalah baik Abang ataupun Adiknya untuk mengambil mainan selain mainan yang diperebutkan tersebut..
Begitu juga halnya perseteruan yang terjadi antar elit politik Aceh, sudah menjadi rahasia umum bahwa yang berseteru adalah kubu Partai Aceh dengan kubu Irwandi Yusuf, mereka lahir dari GAM yang setelah perdamaian MOU Helsinki, dari perjuangan bersenjata beralih pada perjuangan dunia politik, tentunya mereka lahir dari rahim yang sama yaitu GAM, tapi saat ini apa yang terjadi ketika mereka telah tumbuh dewasa malah berseteru hebat.

Setelah proses panjang perseteruan tersebut akhirnya apa yang mereka persoalkan :
  1. Partai Aceh menuntut dicabutnya calon independent
  2. Irwandi Yusuf meminta pilkada tidak ditunda dan tetap dilakukan pemilihan sesuai jadwal penetapan KIP

Namun apa yang terjadi setelah perseteruan panjang tersebut :
  1. MK memutuskan calon independen tetap berlaku di Aceh sedangkan Partai Aceh akan memutuskan mendaftar setelah menentang keras untuk tidak adanya calon independen.    
  2. Pilkada Aceh telah ditunda beberapa kali sehingga di akhir perseteruan pencoblosan telah ditetapkan oleh KIP pada 09 April meski Irwandi Yusuf bersikeras untuk tidak ditunda pilkada.;

Share:

Arsip Blog

Tulisan Lainnya