• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Aceh Budaya Bar-Bar dan Mengumpat

Ketika melihat kehidupan masyarakat Aceh ada sesuatu hal yang patut dipertanyakan, benarkah karakter dan budaya orang Aceh seperti sekarang ini yang diwariskan oleh para endatu, memang karakter dan budaya masyarakat Aceh saat ini ada sisi positifnya juga, ketika kita melihat dari satu sisi dimana dengan karakter dan budaya masyarakat Aceh seperti ini, setidaknya dapat meminimalisirkan pelanggaran Syariat Islam di Aceh, tapi ada sesuatu yang patut kita pertanyakan dimana budaya kheun keugop “mengumpat” seperti apa yang Rasulullah S.A.W. bersabda yang bermaksud "Mengumpat itu ialah apabila kamu menyebut perihal saudaramu dengan sesuatu perkara yang dibencinya." (Hadis Riwayat Muslim).
Budaya mengumpat yang terjadi di Negeri Syariat Islam ini bukan hanya dalam bentuk mulut kemulut, banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat Aceh yang telah menjadi budaya membanggakan masyarakat Aceh ini, seperti maraknya penemuan kasus Video dan Foto pelanggaran Syariat Islam di Aceh yang dipublikasikan oleh masyarakat Aceh sendiri.
Padahal Sabda Rasulullah S.A.W. mengatakan : Awaslah daripada mengumpat kerana mengumpat itu lebih berdosa daripada zina. Sesungguhnya orang melakukan zina, apabila dia bertaubat, Allah akan menerima taubatnya. Dan sesungguhnya orang yang melakukan umpat tidak akan diampunkan dosanya sebelum diampun oleh orang yang diumpat" (Hadis riwayat Ibnu Abib Dunya dan Ibnu Hibbad). Jelas Nabi bersabda bahwa orang yang mengumpat lebih besar dosanya dari pada orang yang melakukan zina dan sesungguhnya orang yang mengumpat akan mendapatkan kerugian besar di hari Akhirat.


Melihat dari sabda Rasulullah S.A.W jelas, dimana karakter dan budaya masyarakat Aceh yang membanggakan mengumpat ternyata tidak sesuai dengan Syariat Islam yang di agung agungkan oleh masyarakat Aceh saat ini, padahal orang yang yang sering mengumpat orang lain tersebut perilakunya lebih buruk dari pada orang yang di umpat tersebut, ini sudah menjadi kondisi yang lazim di Aceh ketika ada sesuatu kejadian pelanggaran Syariat Islam di Aceh lalu orang yang mengetahuinya akan menceritakan kepada orang lain dengan panjang lebar dan secara detail.
Bila kita merujuk pada sabda Rasulullah S.A.W ini suatu kondisi yang memprihatikan dan tidak sesuai dengan budaya masyarakat islam secara keseluruhan, bahkan lebih hina dari pada orang yang melakukan pelanggaran syariat islam tersebut.
Budaya mengumpat tersebut saat ini semakin lazin dilakukan oleh masyarakat Aceh, apalagi ketika Syariat Islam diberlakukan pada Provinsi ini, padahal pemberlakuan Syariat Islam di Aceh seharusnya mengurangi perilaku yang menyimpang dari ajaran Islam, tapi kenyataannya budaya dan karakter masyarakat Aceh semakin jauh dari ajaran Islam.
Kondisi budaya masyarakat Aceh mengingatkan saya pada sebuah Film Drama Indonesia berjudul “Perempuan Berkalung Sorban” yang diperankan oleh Revalisa S Temat (Annisa), namun saya tidak menceritakan keseluruhan dari cerita film tersebut, saya ingin mencontohkan ketika pada cerita film tersebut Annisa dituduhkan melakukan zina oleh suaminya disebuah gubuk, sehingga sang suami meminta istirnya untuk dihukum secara bar-bar, hampir saja hukuman bar-bar itu terjadi, lalu apa yang terjadi, seorang ibu yang merawat Annisa sejak kecil menyelamatkannya dengan mengambil satu batu lalu menanyakan kepada semua orang yang berada pada lingkaran Annisa “Siapa Yang Tidak Pernah Berdosa” ambil batu ini lemparkan kepada dia, ternyata tidak ada satupun yang mengambil batu pada ibu tersebut untuk melemparinya.
Singkat cerita Annisa pun di usir dari pesantren tersebut, sehingga dia menjadi lebih terbuka dengan kehidupan barunya, dia bersama pemuda tersebut menjadi lebih baik dari pada suami yang pernah menuduhnya melakukan zina.
Cerita singkat Film Perempuan Berkalung Sorban tersebut menginspirasikan kita untuk tidak menjadi orang yang selalu menuduh, memfitnah bahkan mengumpat orang lain, karena pada kenyataannya kita tidak lebih baik dari pada orang lain. Islam tidak mengajarkan kita untuk saling fitnah, islam tidak mengajarkan kita untuk saling menghormati, menghargai dan Islam juga mengajarkan kita untuk menegur seseorang itu dengan perkataan lembut ketika apa yang dilakukan salah dan tidak sesuai dengan syariat islam, bukan dengan cara penegakan Syariat Islam secara kasar, seperti yang terjadi di Aceh saat ini, karena kekerasan tidak pernah menyelesaikan permasalahan.
Share:

Hujan Datang Membasahi Tanah Tandus Ini

Hari ini Senin, 27 Februari 2012 Hujan telah turun membasahi tanah tanah yang mulai mengering, ketika sang sinar cahaya mulai menampakan tanda tanda pergi meninggalkan siang, hujan pun menyapu mengikuti irama mentari yang sinarnya mulai meredup untuk pergi meninggalkan bulan yang akan segera tiba, tubuh yang awalnya terasa panas tiba tiba berubah menjadi dingin dalam balutan hujan dibawah atap yang menahan turunnya hujan sampai mengguyur tubuh ini.
Jam menunjukkan pada pukul 15.49 Wib, angin sepoi-sepoi melengkapi derasnya hujan yang turun membasahi bumi-bumi yang telanjang tanpa balutan atap-atap buatan manusia, semuanya terasa hening di dalam kenikmatan tuhan ketika menyaksikan turunnya hujan yang “katanya” membawa berkah ini.
Lagu-lagu sendu membawa kelengkapan tersendiri para penikmat hawa dingin, apalagi ketika sebatang rokok terbakar menghatkan raga manusia pecandu ini, sungguh terasa nikmat ketika kekuasaan sang pemilik alam dinampakkan pada manusia, mungkin saja rasa syukur terucap pada mulut manusia dan tidak dapat kita pungkiri ada ucapan kekesalan pada mulut manusia ketika hujan mendera bumi ini, kenapa?, dikarenakan menghambat aktifitas manusia yang sedang dijalankan, hujan membawa berkah namun menghambat juga aktifitas manusia sebagai penikmat tubuh bumi ini.

Semakin lama irama sang hujan semakin deras membasahi tubuh bumi ini, membasahi setiap sudut-sudut telanjang yang akan menyejukkan siapa saja yang terkenanya, ingin rasanya ketika hujan turun berada pada sebuah kamar dengan balutan kain sarung, menikmati dengan santai sambil mendengarkan lagu-lagu sendu dalam hayalan yang akhirnya membawa ku untuk tertidur lelap di atas tempat tidur sehingga membangunkan ku disaat hujan mulai meninggalkan bumi ini.
Ahhhhhh betapa nikmatnya kuasa Tuhan ketika terbayang sesuatu hal yang begitu sempurna, tak ada yang bisa kita ciptakan dengan senikmat ini. Kecuali ciptaan Tuhan sang pemilik jagad raya.
Semua orang berlindung dibawah atap yang diciptakan oleh manusia agar tak terkena air hujan yang turun ini, semuanya meratapi alam ketika sang hujan terus mengguyurkan tanah tandus ini, ada yang merasakan kenikmatan akibat turunnya sang hujan, ada yang meratapi kekesalan akibat sengsara dengan turunnya hujan ini, semua serba ada ketika hujan turun, inilah derita dan kenikmatan yang mestinya manusia wajib mensyukurinya.
Share:

Benarkah Orang Aceh Malas

Siapa yang tidak pernah dengan kata-kata “orang aceh malas” karena ini yang sering dilontarkan oleh orang orang non Aceh, bahkan saat ini kata kata tersebut semakin sering terdengar ketika Aceh telah menjadi daerah yang mulai ramai pendatang, media-media juga tidak mau kalah membahas permasalahan budaya orang Aceh yang pemalas ini, hampir rata rata ketika kita mendengar orang non aceh yang sudah berkunjung ke Aceh mengatakan bahwa orang orang aceh itu pemalas, dan lebih memilih duduk di warung kopi ketimbang bekerja, tapi benarkah orang Aceh malas?.

Muhammad Nazar (Wakil Gubernur Aceh Periode 2006-2011) pernah mengatakan Konflik berkepanjangan masa lalu di Provinsi  Aceh, kini masih menyisakan empat persoalan buruk. Empat persoalan itu adalah kemiskinan, kebodohan, cepat marah, malas bekerja, dan sikap saling curiga yang berlebihan. 

Padahal, sifat buruk itu bukanlan karakter asli masyarakat Serambi Mekah. Itu terbentuk secara tidak sengaja selama koflik berkepanjangan sehingga menumbuhkan harapan-harapan yang tidak pasti.



Dan menurut catatan Muhammad Nazar Aceh telah berperang selama 115 tahun dan baru hidup dalam damai 13 tahun itupun termasuk setelah adanya Mou Helsinky. Menurut ilmu teoristis untuk mengembalikan karakter masyarakat kepada mulanya, dibutuhkan waktu sama dengan seberapa lama daerah tersebut berperang.

Dalam catatan sejarah pada masa kerajaan saya tidak pernah membaca dimana dikatakan bahwa Bangsa Aceh adalah sebagai bangsa pemalas, dimana mereka lebih memilih duduk dirumah ketimbang pergi bekerja ke ladangnya, hal ini tidak ada sedikitpun catatan yang menyatakan bahwa bangsa aceh sebagai bangsa yang pemalas, bila kita kembali menelusuri sejarah Aceh, baik pada masa sultan iskandar muda yaitu puncak kejayaan aceh terlihat jelas disitu berbagai peran dimainkan baik rakyatnya maupun pemimpin negeri aceh, dimana terlihat semua giat bekerja memakmurkan negeri aceh, setelah itu ketika perang melawan penjajahan kolonial belanda, rakyat aceh jugalah yang paling gigih bertempur mengusir kolonial belanda sehingga indonesia mendapatkan kemerdekaan.

Dari sudut pandang manapun terlihat tidak ada yang mengatakan bahwa bangsa aceh sebagai sebuah negeri yang dihuni oleh orang orang malas, namun kenapa saat ini banyak masyarakat non aceh yang mengatakan bahwa orang aceh malas malas, melihat dari kisah perjalanan aceh perlu kita telusuri dimana bahwa perubahan karakter telah terjadi selama ratusan tahun, yaitu aceh tidak pada kondisi yang aman dan damai, konflik berkepanjangan telah mengubah karakter rakyat aceh jauh dari wujud aslinya.

Ada perubahan karakter dan budaya yang besar di alami oleh rakyat aceh ketika konflik yang bekepanjangan tersebut, bukankah ketika masa kesultanan aceh dikenal dengan bangsa yang hebat dan gigih dalam aspek apapun.

Sangat tidak adil ketika saat ini aceh diklaim sebagai daerah yang dihuni oleh penduduk malas, karena konfliklah yang telah mengubah segalanya, hal ini akan dialami oleh setiap individu manusia, misalnya ketika seseorang libur dari aktifitasnya seperti biasa selama satu bulan, nah ketika pada hari pertama dia melakukan pekerjaannya kembali pasti rasa malas ada dibenak orang tersebut, padahal itu baru satu bulan.

Lalu bagaimana dengan aceh yang telah mengalami konflik selama 115 tahun, tentunya telah mengubah semuanya, disaat konflik rakyat aceh tidak bisa melakukan pekerjaan, lalu ketika damai seperti ini tentunya rasa malas dan perubahan karakter negatif pasti akan terjadi pada masyarakat aceh seperti cepat marah, malas bekerja, dan sikap saling curiga yang berlebihan.
Hal ini merupakan hal yang wajar di alami oleh masyarakat yang hidup dalam konflik, apalagi konflik yang di alami oleh masyarakat aceh sangat berkepanjangan, sehingga butuh waktu yang panjang pula untuk mengembalikan karakter dan budaya masyarakat aceh.

Lalu beranjak dari hal ini, masih pantaskah orang aceh dikatakan malas, tanpa menelusuri dan memahami aceh seutuhnya, ada benarnya seperti apa yang dikatakan oleh Arif Ramdan pengarang buku ACEH di Mata Urang Sunda “Memahami Aceh Tidak Mudah Tapi Mencintai Aceh Sangatlah Mudah”, pendatang yang telah menetap di Aceh belum tentu memahami karakter dan budaya masyarakat Aceh namun orang yang baru menginjak kaki ke Aceh sangat mudah dan cepat mencintai Aceh.
Share:

Ada Apa Dengan Negeriku

Pertanyaan yang mengemuka di kepala dan bayangan saya ketika  menyaksikan sejumlah rentetan-rentetan kejadian yang menguras air mata, dan membuat kita seakan tidak percaya adegan kekerasan dan ketidak adilan ini benar-benar nyata terjadi di negeri ini bukan suatu rekayasaku apalagi rekayasa media informasi yang menyajikannya akan tetapi ini adalah realitas yang terjadi dinegeriku yang kaya akan berbagai sumber.

Saya seperti terbawa di alam mimpi ketika menyaksikan bahwa ini semua terjadi di negeri yang rimpah ruah akan semua hal disini ada dari orang pintar sampai orang bodoh, dari sumber daya alam sampai luasnya daratan dan lautan, sungguh menakjubkan akan kekayaan negeriku sehingga negeri negeri seberang menginginkan negeriku ini untuk menjadi miliknya.

Tapi kenyataannya itu berbicara lain kawan.. negeri ini beserta penduduknya emang sudah banyak berubah..Ada sesuatu yang begitu mudah diekspresikan..Rakyat seakan mudah untuk bisa mengeskpresikan kemarahan mereka dengan cara mereka sendiri, dari mulai penguasa negeri ini mulai melakukan perampasan, pencurian, sampai sampai rakyat negeri ini pun mulai meniru niru adegan ini kawan.

Tidak ada lagi ruang untuk hukum dan pemerintah..Apakah sudah separah itu kepercayaan rakyat ini kepada hukum dan pemerintah. semoga ini bukanlah pertanda bahwa rakyat negeri ini sudah terbiasa dan bersahabat dengan kekerasan dan mengatasi segala masalah dengan kekerasan..

Oh negeriku aku tak sanggup menulis sederet kekesalan ku terhadapmu karena sampai esok hari dan lusa pun aku masih punya sejuta unek unek yang terus kudengungkan untukmu, ada apa dengan negeriku ini tuhan, apakah aku salah bermimpi suatu saat tidak ada lagi sejuta masalah dalam negeriku tuhan, tidak ada lagi pencuri pencuri yang perutnya buncit, tidak ada lagi kekerasan kekerasan terhadap kami rakyat yang tidak berdaya, tidak ada lagi air mata rakyat yang keluar karena ketidak adilan, tidak adalagi rakyat yang mati kelaparan, tidak adalagi rakyat yang tidur dibawah jembatan.

Ohh tuhan aku benar benar tak sanggup menulis ini, bermimpi pun rasanya kesal, karena apa yang terjadi saat ini sunggu menyakitkan, negeriku yang kaya akan berbagai sumber tapi rakyatnya melarat dan mati kelaparan, aku tak sanggup tuhan.

Ingin kupergi saja dari negeri ini dan tak meihat lagi singa singa rakus yang tertawa atas penderitaan rakyat pemilik negeri ini.
Share:

Seberkah Permohonan Maaf

Sepatah kata yang tak sanggup
Ku ucapakan lewat BIBIR GERSANG
Akan terik jahat yang pernah mekar
Bahwa pernah KU GORESKAN

Di hati yang masih sangat tenang
TENTANG KHILAF yang sempat singgah dalam peraduan
MAAFKAN ku atas semua
Kesalahan YANG MENYAKITKAN
Tak Kusangka Kala ini kita telah TUMBUH DEWASA

Tak kurasa kala AIR MATA ini MENETES DI PIPI
Karena mengingat KESALAHAN
Yang telah banyak KUSAKITI
Berharap ada seberkah MAAF yang kuterima

Untaian demi untaian terus kupersembahkan
Hanya kata MAAF  yang mampu ku ucapkan
Dan berharap kata MAAF ku diterima
Andai saja aku pada ke adaan yang berbeda
Mungkin saja aku tak pernah MENYAKITI siapapun

Anda saja aku tidak berada pada dunia
Mungkin kata MAAF ini tak pernah ada kepada siapapun
Tapi saat ini aku hanyalah menjadi sosok MANUSIA BIASA
Perkataan, perbuatan, tingkah laku, janji, semuanya penuh kekhilafan

Aku hanya berharap MAAF ini diterima
Ribuan asa, Ribuan Rasa, Ribuan Harap, Dan Ribuan Kata
MAAF Ku Ucap
MAAF...............MAAF......................MAAF.........................
Share:

Kampus Warna Warni Benarkah Sponsornya Bank Aceh

Indetitas adalah suatu tanda sekelompok yang menjadi ciri khas dalam kehidupan sehari hari, indetitas juga sering dikatakan sebagai jati diri dimana kelompok-kelompok tersebut dikenal melalui indetitas selain dari nama nama kelompoknya, kampus Universitas Serambi Mekkah adalah sebuah kampus swasta yang terkenal dengan kampus biru di Aceh, tapi apa yang terjadi pada perjalanan waktu dari sebuah indetitas kebiruan tersebut, bisakah kampus Universitas Serambi Mekkah ini disebut dengan kampus biru, lalu diliat dari mana, kampus yang hampir semua segi bangunan di cat dengan warna hijau kuning, lalu dimana birunya?.

Almamater yang sering berubah ubah menjadi indetitas biru semakin tidak jelas apa maksudnya, ketika kita melihat warna almamater pada Fakultas Kesehatan Masyarakat berwarna hijau, entah apa maksud dari Fakultas Kesehatan Masyarakat itu berbeda dengan Fakultas Fakultas lainnya yang dominan disamakan satu warna yaitu abu-abu,  namun pada tahun 2010 telah berubah menjadi warna biru, tapi Fakultas Kesehatan Masyarakat tidak juga berubah mereka tetap berwarna hijau, ketika mahasiswa melakukan suatu kegiatan baik di dalam kampus maupun diluar kampus sering kali mahasiswa harus menyesuaikan warna dengan kesepakatan dikarenakan beda periode beda warna, membuat mahasiswa merasa malu ketika melakukan kegiatan diluar menggunakan almamater, satu kampus tapi beda warna almamater.

Kita patut mempertanyakan indetitas kebiruan kampus Universitas Serambi Mekkah dimana, ketika kita melihat dari bangunan tidak ada yang biru, indetitas biru semakin menghilang seiring perjalanan waktu, warna logo yang sering berubah ubah membuat kita semakin bingung misalnya, warna logo yang dipakai pada baju kaos penjaskes berwarna hijau, logo yang biasa dipakai mahasiswa pada pembuatan tugas berwarna abu-abu sedangkan ketika kita melihat di pamplet akademik maupun lab itu berwarna biru, aneh memang ketika kita melihat suatu indetitas berbeda beda warna, padahal masih berada dalam lingkup institusi yang sama, lalu kenapa ada perbedaan dalam hal yang urgen ini, apakah kita tidak menyadari bahwa filosofi dari indetitas tersebut adalah menunjukkan jati diri dari sebuah intitusi maupun kepribadian.

Banyak mahasiswa yang saat ini mempertanyakan tentang indetitas warna pada kampus ini, namun sampai saat ini penulis juga tidak melihat ataupun mendengar ada penegasan dari pihak yang bertanggung jawab tentang penetapan warna logo dan warna indetitas kampus, karena beda fakultas kebanyakan berbeda warna, penulis rasa ini suatu indetitas yang memalukan dalam sebuah institusi yang sudah besar seperti ini, karena indetitas warna saja masih warna-warni, serba berbeda,

Dari segi almamater jauh berbeda dengan kampus kampus lainnya seperti Unsyiah yang berwarna hijau, IAIN berwarna biru, Unmuha berwarna hijau, Unimus berwarna Hijau, mereka semuanya keliatan jelas dari segi warna yang tidak berubah ubah dari tahun ketahun, namun kampus Universitas yang sering berganti ganti warna almamater kita harapkan kedepan akan disatukan warna yaitu biru, sesuai dengan warna almamater yang saat ini banyak digunakan oleh mahasiswa angkatan 2010-2011, kita juga berharap tidak ada perubahan warna lagi ketika periode mendatang.

Begitu juga halnya dengan logo yang masih gado-gado seharusnya ada kejelasan dari pihak yang berwenang untuk segera menetapkan warna logo yang bisa digunakan oleh semua fakultas maupun jurusan, tidak ada lagi ketika kita melihat beda fakultas beda warna yang digunakan.

Lalu dalam hal bangunan, apakah pihak yang berwenang mau mengubah warna gedung sesuai dengan warna indetitas kampus, yaitu biru, atau benarkah perubahan warna kampus menjadi warna hijau seperti isu yang beredar pada banyak mahasiswa, bahwa kampus Universitas Serambi Mekkah disponsori oleh Bank Aceh, maka dari itu semua bangunan kampus berwarna sama dengan warna Bank Aceh.

Hanya pihak yang berwenang yang lebih tau dalam hal ini, mengapa warna di ubah menjadi warna hijau dan kuning sesuai dengan warna gedung Bank Aceh.

Share:

Mahasiswa Teknik Industri USM Ke PT. Arun


Dua Puluh Satu Himpunan Mahasiswa Teknik Industri Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh melalukan Kunjungan Industri ke PT. Arun NGL Lhokseumawe, pada Rabu, (15/02/2012).
Rombongan mahasiswa Teknik Industri USM yang diterima pada pukul 09.00 Wib di PT.Arun NGL tersebut setelah memperkenalkan profile PT. Arun juga di ajak mengelilingi seluruh area kawasan PT. Arun.
Kegiatan yang berlansung sampai dengan jam 13.00 Wib tersebut telah memberikan kesempatan penuh kepada Mahasiswa untuk mengenal PT.Arun dan memperdalam pengetahuan Mahasiswa terhadap Produksi LNG yang dilakukan PT. Arun serta banyak pengetahuan lainnya yang belum pernah didapatkan oleh Mahasiswa selama di bangku kuliah.
Edy Fradinata, ST. MT sebagai Dosen Pembimbing Kunjungan Industri Mahasiswa Teknik Industri USM mengharapkan kerjasama kegiatan seperti ini bukan hanya berlansung sampai disini saja, akan tetapi,”harapnya” adanya kerja sama PT.Arun kedepannya dengan Teknik Industri USM baik di bidang Kerja Praktek, Training dan Kerjasama lainnya.
Apalagi Teknik Industri USM selama ini belum pernah bekerjasama dengan PT.Arun, dengan adanya kegiatan seperti ini, dapat membuat Teknik Industri USM dan PT.Arun kedepan dapat menjalin komunikasi dengan baik dalam bentuk kerjasama.

Share:

Generasi Aceh Malas Membaca

“Mahalnya harga buku, dulu menjadi persoalan rendah minat membaca di Aceh, akan tetapi seiring perkembangan Kota Banda Aceh, internet menjadi alternatif bagi generasi Aceh untuk memperkaya ilmu pengetahuan”

Rendahnya minat membaca generasi Indonesia tidak bisa dipandang sebagai persoalan biasa-biasa saja, ternyata hal ini akan membuat banyak masalah kedepan, untuk saat ini minat membaca tingkat dunia Indonesia berada pada rangking 110, ini suatu peringkat yang mengecewakan sebagai Negara yang sedang berkembang, tentunya perlu perhatian serius untuk mengoptimalkan generasi dewasa hobi membaca ini. Indonesia masih kalah dari negara tetangga kita seperti malaysia sedangkan Jepang berada pada peringkat pertama minat membaca.

Di Aceh sendiri minat membaca generasi muda tentunya jauh dari harapan pemerintah, pada saat ini remaja Aceh lebih memilih untuk bermain facebook ketimbang membaca sesuatu yang dapat memperkaya ilmu pengetahuan, padahal kita lihat dari perkembangan Aceh khususnya Banda Aceh saat ini dipenuhi dengan jaringan internet seperti wifi, seharusnya  dengan perkembangan jaringan internet tersebut dapat dipergunakan dengan maksimal untuk memperkaya ilmu pengetahuan, namun hal itu tidak berpengaruh dengan maksimal minat membaca generasi muda Aceh.

Rendahnya pengetahuan generasi Aceh tentunya berhubungan dengan kurangnya minat pembaca di Aceh, pada saat ini meski Pemerintah Kota Banda Aceh berupaya meningkatkan minat pembaca di Aceh dengan berbagai macam cara, baik dengan memasang jaringan internet di taman-taman kota maupun yang lainnya, tapi hal itu juga tidak dapat memaksimalkan hasil seperti yang diharapkan pihak Pemkot, karena kebanyakan dari para remaja yang menggunakan jaringan internet bukan untuk memperkaya ilmu pengetahuan akan tetapi hanya untuk bermain facebook, twitter dan game.

Mahalnya harga buku, dulu menjadi persoalan rendah minat membaca di Aceh, akan tetapi seiring perkembangan Kota Banda Aceh, harga buku bukan menjadi persoalan utama untuk mempersoalkan tentang peningkatan minat membaca di Aceh, internet menjadi alternatif bagi generasi Aceh untuk memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi hal itu juga tidak memaksimalkan pengaruh minat membaca.

Nah ini menjadi pertanyaan dan persoalan serius yang perlu di carikan solusi bersama, apa yang menyebabkan generasi Aceh malas membaca,,? Itu menjadi persoalan kita bersama untuk terus memberi pemahaman kepada generasi Aceh tentang pentingnya membaca.

Kurangnya minat membaca di Aceh mempengaruhi kondisi pendidikan di Aceh pada yang akan mendatang, banyak remaja saat ini yang menyibukkan diri dengan suatu hal yang kurang bermanfaat, apalagi jarang sekali ketika kita lihat remaja Aceh yang meluangkan waktunya sehari untuk membaca meski itu hanya untuk membaca 10 menit  saja perhari.

Remaja Aceh saat ini lebih memilih melakukan sesuatu aktifitas yang lain ketimbang meluangkan waktu untuk membaca, kondisi ini tentunya tidak dapat di biarkan, seiring dengan pesatnya perkembangan globalisasi, ketika remaja aceh tidak suka membaca tentunya Aceh akan terus ketinggalan informasi dan perkembangan yang ada, apalagi ketika kita berhadapan dengan Negara ataupun Provinsi lain tentunya kita jauh ketinggalan perkembangan.

Satu kasus yang ingin saya contohkan adalah dikampus kampus, banyak sekali mahasiswa yang menghabiskan waktunya dikantin, di parkiran, dan nongkrong dengan teman teman tanpa ada hasil yang bermanfaat setelah itu dan jarang sekali kita melihat mahasiswa yang menghabiskan waktu untuk membaca di waktunya yang luang sibuk dengan jam kuliah

Share:

Saatnya Rakyat Cerdas & Memilih Pemimpin Cerdas

Masyarakat Aceh tidak lama lagi akan melakukan pesta demokrasi yang disebut dengan Pemilukada, hari H pencoblosan sudah tidak akan lama lagi yaitu tanggal 09 April 2012, tentunya tanggal 09 April tersebut akan menjadi  hari bersejarah bagi masyarakat Aceh, dimana tanggal tersebut akan dilakukan Pemilihan Gubernur Aceh yang ke-2 setelah perjanjian perdamaian MOU Helsinki antara Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah Indonesia.
Setelah perjalanan panjang pihak KIP mempersiapkan pesta demokrasi itu berlansung, dimana beberapa bulan yang lalu kondisi Aceh memanas seiring dengan banyaknya kasus penembakan dan konflik regulasi antar elit politik serta ditambah tidak ikutnya Partai Aceh pada pemilukada yang merupakan Partai Pemenang pemilukada yang lalu, membuat kondisi Aceh semakin tidak kondusif. Tapi seiring perjalanan konflik-konflik tersebut mulai meredam, dimana ketika Partai Aceh memutuskan untuk ikut bertarung memperebutkan kursi Aceh -1, tentu semakin memperindah suasana pesta demokrasi di Aceh.

Saat ini semua nya semakin terkendali, suasana demokarsi juga terasa semakin indah dan lengkap, tidak ada pihak yang gugat menggugat lagi kepada MK, baik calon independen maupun calon dari Partai.
Namun kali ini penulis tidak mencoba membahas tentang yang telah menjadi masa lalu, biarkan itu semua menjadi pembelajaran buat rakyat Aceh, dimana kondisi politik di Aceh yang masih labil dan masih butuh banyak pembelajaran. Kita akan mencoba membahas tentang kodisi masyarakat Aceh tentang kesadaran dan pendidikan politik agar siapa yang dipilih oleh Rakyat Aceh akan dapat Adil dan Mensejahterkan Aceh kedepannya.
Saat ini untuk menjadi pemimpin sangatlah muda, syaratnya seorang calon pemimpin harus memiliki uang banyak, itu sudah menjadi rahasia umum, ketika banyak kandidat yang membagi bagikan uang kepada masyarakat, agar masyarakat memilihnya, dan banyak cara yang dilakukan oleh kandidat untuk merebut hati pemilih. Yang menjadi pertanyaan apakah demokrasi semacam ini yang terjadi di Negeri kita, sungguh suatu cara demokrasi yang sangat memalukan.
Lalu beranjak dari fenomena tersebut penulis berpikir bahwa Pemimpin yang cerdas adalah pemimpin yang dipilih oleh orang orang cerdas, bukan pemimpin yang dipilih oleh orang orang banyak. Tapi apalah arti kandidat yang cerdas ketika kandidat tersebut tidak dapat menarik simpati  rakyat sebagi pemilih, melihat kondisi kecerdasan masyarakat Aceh jauh dari harapan bangsa ini, dimana banyak masyarakat yang tidak mengerti tentang politik, bahkan banyak masyarakat yang tidak ingin tahu menahu soal politik, padahal itu menyangkut kondisinya 5 tahun kedepan.
Sudah saatnya rakyat Aceh harus cerdas, bukan memilih bedasarkan pemberian oleh financial yang marak dilakukan kandidat melainkan memilih karena kandidat tersebut memang layak untuk dipilih dan bisa membawa perubahan untuk Aceh kedepannya.
Sudah saatnya masyarakat Aceh untuk tidak tergiur dan tertipu dengan rayuan-rayuan materi, karena ketika hal itu dilakukan oleh kandidat, secara logika kita akan bisa memastikan bahwa kandidat tersebut ketika nantinya terpilih dia akan melupakan rakyatnya, karena sudah banyak dana yang dia habiskan ketika dia mencalonkan dirinya, serta dia akan berpikir bagaimana untuk mengembalikan modalnya selama dia menjadi penguasa.
Tentunya kita tidak menginginkan seorang pemimpin  yang terpilih nantinya seperti sosok Bupati Bima yang keras kepala mengorbankan rakyatnya hanya untuk mempertahankan surat izin pertambangan hingga akhirnya rakyat dan gedung pemerintahan yang menjadi korban, kita tidak menginginkan sosok pemimpin yang terpilih nantinya seperti mantan gubernur Aceh beberapa periode lalu, yang akhirnya harus mendekam di penjara dikarenakan kasus korupsi, dan pastinya rakyat Aceh tidak menginginkan pemimpin yang tidak bisa membahawa kesejahteraan bagi Rakyat Aceh, maka dari itu masa depan Aceh ada pada tangan pemilih, yaitu rakyat.
Sudah saatnya, marilah kita memilih pemimpin yang cerdas yang mampu mebawa aceh pada kehidupan yang adil dan sejahtera. Kecerdasan rakyat berpolitik akan ditentukan ketika pemimpin yang dipilih oleh rakyat adalah seorang pemimpin yang cerdas.

Share:

Apa Kabar Gunung Seulawah

Saat kita berada di jalan Banda Aceh – Medan melintasi Aceh Besar yang menjadi sorotan mata kita adalah pergunungan yang begitu megah dan sudah terkenal puluhan tahun lalu bahkan era soekarno sebuah pesawat pertama di indonesia yang di sumbangkan oleh rakyat aceh diberi nama “seulawah”, ketika itu pergunungan tersebut dibaluti dengan hutan hutan belantara, yang setiap orang melintasi gunung tersebut, sebuah kekaguman yang diperlihatkan pada raut wajah para pelintas, tapi saat ini apa kabar, kemegahan gunung yang di baluti hutan hutan belantara saat ini mulai dipenuhi dengan bangunan-bangunan komplek perumahan dan perkantoran, nah setelah semuanya dipenuhi dengan bangunan-bangunan disepinggir jalan pergunungan selawah, apa yang akan terjadi pada gunung tersebut dimasa yang akan datang.

Penebangan hutan yang tidak terkontrol menyebabkan gunung selawah menghilang dari rasa kekaguman mata para pelintas, ketika kendaraan melintasi gunung selawah hawa sejuk pun mulai menghilang dari rasa tubuh para pelintas.
Hutan belantara yang dulunya menjadi pemandangan indah gunung selawah saat ini telah digantikan dengan pemandangan bangunan-bangunan dan perkebunan masyarakat serta lahan hampa yang pohonnya yang telah ditebang oleh manusia, tidak terlihat lagi ada hutan lebat disepanjang gunung selawah, bahkan seperti monyet yang dulunya menjadi hiburan para pelintas disepanjang jalan gunung selawah saat ini mulai menghilang, tidak banyak lagi kita temui monyet-monyet yang bermain dipinggir jalan gunung selawah seperti dahulunya yang merupakan hiburan bagi para pelintas.
Apakah gunung selawah yang merupakan sebuah gunung kebanggaan rakyat Aceh suatu saat akan hilang dari kebanggan tersebut..?
Perlu kita pertanyakan kepada semua pihak yang mengatakan peduli lingkungan, sebuah kawasan hutan lindung saja bisa begitu parah penebangannya, apalagi selain hutan lindung..

Share:

Pendidikan dan Hegemoni Politik

Melihat kondisi pendidikan di indonesia saat ini jauh dari harapan kita semua, seperti yang kita ketahui bersama dimana sebuah bangsa yang memiliki kemajuan adalah sebuah bangsa yang mempunyai sistem pendidikan yang relevan dan peka terhadap sikap perubahan. Artinya sistem pendidikan yang dikelola oleh pemerintah tidak berdasarkan kondisi politik yang terjadi pada bangsa tersebut, namun lain halnya dengan kondisi di Indonesia, sistem pendidikan sangat berkaitan dengan kondisi politik yang terjadi di indonesia.

Seiring pergantian penguasa maka sistem pendidikan juga terganti dengan berjalannya waktu sehingga sistem pendidikan yang ada tidak selalu berjalan dengan maksimal sesuai dengan kondisi kebutuhan akan tetapi berjalan sesuai dengan kebutuhan penguasa, seperti kepala Dinas Dan Menteri Pendidikan yang harus menjadi boneka penguasa.

Pencekalan pada generasi yang sedang menempuh pendidikan menjadi sebuah yang lazim terjadi dinegara kita, misalnya mahasiswa dihindari dari sikap berpikir kritis, karena ketika mahasiswa pro aktif dalam berpikir kritis hal ini dapat menyebabkan ancaman bagi para penguasa negeri ini. Seperti aksi Mahasiswa yang masif. Keberhasilan orde baru terhadap pencekalan pemberlakuan sistem pendidikan berdampak pada kondisi negara pada saat ini, seperti apatisnya mahasiswa terhadap mengkritisi penguasa yang zalim terhadap rakyatnya.

Tentunya saat ini kita telah mengetahui semuanya bahwa tingkat berpikir kritis mahasiswa tidak lagi menjadi sebuah hal yang lazim kita dengar, dikarenakan pada saat ini mahasiswa juga telah ikut terjebak dalam sikap hedonisme dan apatis.

Kondisi ini diperparah dengan paradigma mahasiswa dan masyarakat yang berpikir bahwa politik itu adalah sesuatu hal yang kotor dan harus dihindari, tentunya ini menjadi sebuah persoalan serius untuk di ubah pada cara yang berpikir seperti itu, ketika rakyat indonesia telah berpikir bahwa politik menjadi sesuatu hal yang kotor seharusnya kaum intelektual yaitu mahasiswa harus peka terhadap kondisi ini dengan bagaimana berupaya untuk mensucikan hal yang kotor tersebut, bukan malah menghindarinya, mahasiswa sebagai iron stock harus mampu menjadi agent of change pada kondisi yang memprihatinkan ini.

Larangan politik dalam dunia pendidikan semakin terlihat jelas pada esensi dari tujuan tersebut, akan tetapi mahasiswa sendiri pada saat ini juga menerima saja hal ini tanpa coba menelusuri who and why ? Dalam perspektif penulis kenapa politik diharamkan dalam dunia pendidikan. Ini sangat berkaitan dengan penghindaran mahasiswa untuk berpikir kritis terhadap kondisi sosial. Mengapa politik itu tidak di perbolehkan didunia pendidikan tentunya ketika mahasiswa telah mulai berpikir kritis ini dapat mengakibatkan ancaman terhadap penguasa untuk terus mempertahankan kekuasaannya yang tidak pro rakyat.

Kondisi ini semakin di perparah pada kondisi akademik yang seharusnya menjadi mitra dengan mahasiswa yang berpikir kritis, akan tetapi malah menghindari atau tidak respect pada mahasiswa yang berpikir kritis. Segelintir mahasiswa yang saat ini masih meluangkan waktunya untuk berpikir kritis malah dipandang remeh oleh para birokrasi dan malahan mahasiswa yang berpikir kritis ini di anggap sebagai ancaman terhadap kelangsungan pada birokrasi yang memperlakukan mahasiswa semena-mena tersebut. Sehingga pembunuhan bawah tanah terhadap mahasiswa yang berpikir kritis ini pun dilakukan.

Pencekalan mahasiswa yang berpikir kritis ini pun dilakukan dengan berbagai cara baik dengan menyibukkan mahasiswa dengan aktifitas seperti tugas yang menumpuk, menyindir mahasiswa dan perlombaan yang mengguyurkan hadiah. Para mahasiswa yang berpikir kritis ini tidak pernah mendapat penghargaan akan tetapi mereka mendapatnya dari rakyat yang merasa terbantu oleh sikap kritisnya. Tentunya ini suatu sikap birokrasi yang sangat memalukan dikarenakan perguruan tinggi yang mengemban Tri Dharma tidak memprioritaskan pada kepentingan rakyat.

Sampai saat ini terlihat jelas mahasiswa sebagai kaum intelektual pun tak mampu berbuat apa-apa untuk dirinya dan masyarakat, bahkan saat ini “mahasiswa terlihat seperti badut-badut kecil yang ikut bergoyang ketika irama dimainkan, meski irama tersebut tidak disukainya, ini sungguh suatu sikap seorang intelektual yang memalukan”.

telah diterbitkan di
http://www.theglobejournal.com/kategori/opini/pendidikan--hegemoni-politik.php

Share:

Misteri Penembakan Di Aceh

Penembakan penembakan terus terjadi di aceh beberapa bulan ini, penembakan misterius ini menyebabkan keresahan kembali terjadi pada rakyat aceh, banyaknya kasus penembakan yang belum mampu di ungkap oleh kepolisian menyebabkan masyarakat aceh menjadi tanda tanya besar dengan kasus tersebut.

Ada apa sebenarnya dengan kasus tersebut, kenapa pihak kepolisian seolah olah tidak mampu mengungkapkan kasus tersebut, padahal kita ketahui bersama bahwa kepolisian mampu mengungkapkan kasus kasus yang lebih besar lagi ketimbang kasus penembakan penembakan di aceh, tapi polisi seolah olah tidak mampu dan tidak berdaya dalam mengungkap kasus kasus ini.

Penembakan yang selama ini marak memunculkan banyak spekulasi baik elit politik pusat, elit politik aceh, lsm, maupun rakyat aceh sendiri, banyak yang mempertanyakan kenapa penembakan yang terjadi selama ini hanya terjadi pada etnis tertentu.

Pernyataan Menko Polhukam yang menyatakan bahwa penembakan yang terjadi di aceh karena kecemburuan sosial sangat tidak masuk akal karena bila kita melihat yang menjadi korban penembakan mereka orang orang pekerja kasar (buruh) sedangkan kita melihat budaya masyarakat aceh sendiri agak sukar melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh etnis tersebut dan ketika Menko Polhukam mengatakan bahwa kecemburuan sosial kenapa yang terjadi hanya pada buruh kasar ini sungguh tidak masuk akal dan ini merupakan suatu pernyataan yang bodoh dan tidak logis, sedangkan mereka dari luar yang bekerja di aceh pada pekerjaan yang level atas tidak pernah menjadi korban penembakan.

Bahkan muncul spekulasi tentang penembakan di aceh adalah diciptakan oleh pihak pihak tertentu, bila kita menganalisa ada benarnya juga, tapi kasus ini ada banyak kemungkinan yang terjadi dan ada banyak faktor sehingga kasus ini diciptakan, tentunya masyarakat aceh jangan terjebak dengan permainan ini, karena apabila terjebak maka kita sendiri yang akan rugi terhadap nasib aceh kedepan.

Pernyataan-pernyataan yang menyoroti kelompok tertentu juga semakin gencar dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu, ini bisa kita simak dari media media yang mencoba meminta pernyataan tentang kondisi aceh, seolah olah mereka sudah tau bahwa kelompok tertentu yang melakukannya, tapi seolah olah kepolisian sendiri tidak mampu melakukan penangkapan terhadap kasus tersebut, ini sangat aneh, adanya saling curiga terhadap kondisi ini, semoga saja kita semua bisa lebih jeli dalam melihat setiap sisi kasus ini, jangan kita asal nuduh dan memvonis kepada kelompok kelompok yang belum tentu mereka lakukan.

Share:

Problematika Pendidikan Aceh

Pernyataan menteri pendidikan dimedia masa terkait perguruan tinggi yang tidak terakreditasi pada koran tempo selasa 17/8/2010 dan kompas com kamis, 24 december 2009 yang mana menurut PP nomor 19, tahun 2005 tentang sdandart pendidikan nasional apabila 7 tahun setelah UU ini dikeluarkan setiap program studi yang tidak terakreditasi akan ditutup karena pemerintah sudah cukup memberi waktu selama 7 tahun untuk berusaha mendapatkan akreditasi bagi setiap program studi yang ada dimasing masing perguruan tinggi, berarti pada 2012 akan ada perguran tinggi yang terancam ditutup karena tidak memiliki standart pendidikan nasional namun pada kenyataannya di indonesia masih ada sekitar 5000 program studi yang belum mendapatkan sertifikat akreditasi tentunya di aceh juga tak kalah banyak nya Perguruan Tinggi yang program studinya belum mendapatkan akreditasi ini akan terjadi kecemasan dimahasiswa generasi aceh tentunya dan media publik juga menjadikan ini sebagai perbincangan hangat disetiap kalangan pendidikan terutama di aceh

Yang kita sayangkan menjelang detik detik 2012 yang hanya tinggal 1tahun lagi permasalahan akreditasi belum juga tuntas dan masih sangat banyak perguruan tinggi yang program studinya hanya mengantongi surat izin operasional terutama bagi perguruan tinggi swasta, ini akan menjadi hal yang sangat menarik pada 2012 untuk kita tonton tentunya bukan tontonan yang menggembirakan baik bagi masyarakat maupun pemerintah karena akan ada ribuan mahasiswa di aceh yang terkatung katung untuk mencari perguruan tinggi lain yang dapat menerima mereka

Pemerintah aceh khususnya selama ini belum menanggapi hal ini maupun mengeluarkan pernyataan tentang PP nomor 19, tahun 2005 untuk mendesak seluruh perguran tinggi di aceh setiap program studinya harus mengantongi akreditasi pada akhir 2011 karena ini juga menyangkut tentang masa depan generasi aceh se akan pemerintah tidak tau apa apa tentang peraturan tersebut “Bagaimana Nasib Mahasiswa Aceh Yang Program Studinya Tidak Terakreditasi”

Aceh khusunya dijadikan pendidikan sebagai ajang lahan bisnis dimana para pendiri perguruan tinggi di aceh lebih mementingkan ke untungan yang berlipat ketimbang memikirkan bagaimana memajukan pendidikan bagi generasi aceh itu terbukti dengan banyaknya perguruan tinggi yang tidak terakreditasi padahal begitu banyak perguruan tinggi yang sudah mampu mempunyai nilai standarisasi pendidikan nasional di aceh akan tetapi mereka lebih memilih membuka kelas jauh ketimbang harus mengoptimalkan perguruan tinggi yang sudah dibangun menurut surat edaran dikti tahun 2007 tentang kelas jauh tidak di izinkan tetapi ada beberapa perguruan tinggi yang sampai saat ini masih membuka kelas jauh hingga keplosok aceh seperti pernyataan Koordinator Kopertis Wilayah I Sumut-NAD, Prof Moehammad Nawawiy Lubis, di Medan tentang penertiban kelas jauh di aceh karena itu jelas melanggar hukum.

Hingga sekarang belum ada tanggapan yang pasti baik dari pemerintah aceh maupun dari pihak yang terkait tentang  PP nomor 19, tahun 2005 tentang sdandart pendidikan nasional dan kelas jauh yang ada di aceh karena menunggu 2012 tidak begitu lama lagi sedangkan masalah akreditasi masih menjadi permasalahan yang utama di perguruan tinggi yang ada di aceh terutama bagi perguruan tinggi swasta dan hal yang kita  sayangkan kinerja pemerintah yang sangat kurang terhadap pemantaun perguruan tinggi swasta di aceh sehingga mereka dengan leluasa membuka kelas jauh tanpa ada yang mencegahnya dengan mengabaikan peraturan peraturan yang ada dan Dalam hal ini bukan hanya Perguruan Tinggi Swasta  saja yang akan diberikan tindakan, tapi pemakai ijazahnya juga akan  dikenakan hukuman.

Berdasarkan UU Nomor 20/2003 tentang Sisdiknas dinyatakan, bagi PTS yang belum memiliki izin dapat dikenakan hukuman tindak pidana penjara paling lama 10 tahun atau denda Rp 1 miliar. Sementara bagi pengguna ijazahnya juga dikenakan penjara 5 tahun atau denda Rp 500 juta. Ini jelas merugikan banyak mahasiswa yang tidak mengerti tentang peraturan kelas jauh maupun PP nomor 19, tahun 2005 tentang sdandart pendidikan nasional.

“Apa yang harus kita banggakan dengan ke adaan pendidikan di aceh seperti ini”

Share:

Adat dan Budaya Aceh Yang Memprihatinkan

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat.

Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural.

Budaya atau kebudayaan sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.

Adat dan Budaya Aceh sangat banyak namun pada saat ini masyarakat Aceh telah mulai meninggalkan Adat dan Budayanya sendiri itu bisa kita lihat maraknya pengikut pengikut Budaya luar dan telah mulai meninggalkan Adat Adat Aceh seperti ; Peusijuk, Petron Aneuk, Kenduri Blang, Kenduri Laot, Resepsi Pernikahan dan lain lain yang mulai dilakukan dengan gaya dan model model dari luar Belum lagi dengan cara bepakaian.

Pola kehidupan masyakarat Aceh yang mulai mengikuti arus perkembangan trend dunia barat pun mulai melupakan sisi adat dan budaya aceh sendiri, masyarakat aceh sudah mulai terjebak dalam arus budaya barat, pesatnya perkembangan informasi telah membawa masyarakat aceh mengikuti pola pikir dunia barat sehingga banyak generasi yang terjebak dengan pola pikir dan hidup dengan budaya barat.

Perubahan ini dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat aceh, organisasi organisasi islam pun saat ini mulai marak mengampanyekan anti budaya barat dan mengecam budaya barat, akan tetapi perubahan pemikiran generasi muda tidak mampu dibendung oleh organisasi organisasi islam tersebut sehingga budaya barat terus mengalir pada generasi muda aceh.
Adat dan Budaya Aceh sendiri pada saat ini telah dianggap sebagai budaya kampungan oleh generasi, sehingga ketika mereka berbondong bondong mengikuti budaya barat yang telah terlanjur menjadi trend dalam pada generasi muda aceh. Pada saat ini tidak sedikit budaya kita yang mulai ditinggalkan oleh generasi Aceh, hal ini tentunya sangat berkaiatan dengan pengaruh budaya luar seperti contohnya cara berpakaian dan sampai jenis jenis makanan pun sudah mulai kita tinggalkan yang berbentuk khas aceh maupun yang lainnya.

Tanpa kita sadari suatu saat kita akan menjadi generasi yang lupa pada adat dan budaya kita sendiri sehingga kita lupa pada kehidupan bersyariat yang merupakan kehidupan masyarakat aceh saat ini. Provinsi aceh yang terkenal pada sebuah provinsi dengan penegakan syariat islam juga tidak sanggup menahan masuknya budaya luar ke daerah ini, sehingga penegakan syariat islam selalu disangkut pautkan dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia oleh beberapa orang, tapi sebenarnya apa peduli kita terhadap mereka, bukankah kita masyarakat aceh telah menyetujui tentang kehidupan yang berlandasan pada syariat islam di provinsi aceh, jadi segala bentuk kehidupan yang bertolak belakang dengan syariat islam harus di basmi oleh pemerintah maupun masyarakat aceh yang harus ikut andil dalam menjaga provinsi aceh untuk tetap menjadi sebuah negeri yang berlandaskan syariat islam.

Akhir akhir ini setelah perdamaian akibat konflik bersenjata di aceh, budaya luar telah mulai mengakar dan menguasai generasi aceh dan generasi aceh seakan akan menerimanya dengan senang hati dengan kondisi ini, padahal mereka telah lupa bahwa budaya tersebut sangat bertolak belakang dengan agama yang mereka anut yaitu “Islam” dan sangat bertolak belakang dengan syariat islam yang telah di berlakukan di aceh pada saat ini.

Apakah kita akan kehilangan Adat dan Budaya Aceh yang sudah diwariskan oleh nenek nenek moyang kita terdahulu, yang merupakan sebuah Adat dan Budaya sesuai dengan kondisi Aceh yaitu “Syariat Islam”.

Hanya kita para generasi aceh yang mampu menjawab kondisi yang sangat memprihatinkan ini, karena tentunya kaum muda punya peran penting untuk tetap menjaga Adat dan Budaya aceh agar tidak hilang pada generasi mendatang dan tetap menjadi pegangan dalam kehidupan para generasi Aceh.

Share:

Dehidrasi Politik

Kondisi politik saat ini bisa dikatakan dehidrasi dimana kelompok-kelompok yang dulunya berseteru kini mulai lelah dan telah kekurangan tenaga, apa yang didapatkan setelah proses perseteruan panjang tersebut, apa yang telah merugikan setelah perseteruan panjang tersebut meredam, tidak ada sampai saat ini yang mengkajinya secara detail, lalu kenapa perseteruan hebat ini tidak menjadi kisah yang berujung pada kekalahan dan kemenangan, lalu apa sebenarnya di carikan oleh para perseteru ini yang beberapa bulan lalu kita lihat dengan seksama tidak ada yang mau mengalah dalam mempertahankan keinginannya masing-masing.
Perseteruan para elit politik yang panjang tersebut ternyata telah menyebabkan Aceh kembali menjadi pusat perhatian Nasioanal maupun Asing, tapi kita menyadari atau tidak perseteruan yang pernah terjadi mengingatkan pada satu kisah bayi yang terlahir kembar ketika mereka beranjak pada masa kanak-kanak, lalu orang tuanya memberikan mereka mainan yang berbeda-beda tapi apa yang terjadi pada mereka, mereka memperebutkan satu mainan dan tidak ada yang mau mengalah baik Abang ataupun Adiknya untuk mengambil mainan selain mainan yang diperebutkan tersebut..
Begitu juga halnya perseteruan yang terjadi antar elit politik Aceh, sudah menjadi rahasia umum bahwa yang berseteru adalah kubu Partai Aceh dengan kubu Irwandi Yusuf, mereka lahir dari GAM yang setelah perdamaian MOU Helsinki, dari perjuangan bersenjata beralih pada perjuangan dunia politik, tentunya mereka lahir dari rahim yang sama yaitu GAM, tapi saat ini apa yang terjadi ketika mereka telah tumbuh dewasa malah berseteru hebat.

Setelah proses panjang perseteruan tersebut akhirnya apa yang mereka persoalkan :
  1. Partai Aceh menuntut dicabutnya calon independent
  2. Irwandi Yusuf meminta pilkada tidak ditunda dan tetap dilakukan pemilihan sesuai jadwal penetapan KIP

Namun apa yang terjadi setelah perseteruan panjang tersebut :
  1. MK memutuskan calon independen tetap berlaku di Aceh sedangkan Partai Aceh akan memutuskan mendaftar setelah menentang keras untuk tidak adanya calon independen.    
  2. Pilkada Aceh telah ditunda beberapa kali sehingga di akhir perseteruan pencoblosan telah ditetapkan oleh KIP pada 09 April meski Irwandi Yusuf bersikeras untuk tidak ditunda pilkada.;

Share:

Arsip Blog

Tulisan Lainnya