• I am an introvert who like to read books and also writing, interest in politics and photography a master student of Industrial Engineering of Syiah Kuala University

  • Do not give up just because it failed at the first opportunity. Something precious you will not have it easily. Keep trying

  • Happiness is a choice. You can choose to be happy. There’s going to be stress in life, but it’s your choice whether you let it affect you or not

  • Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan kepercayaan diri, Kebaikan dalam berpikir menghasilkan kebesaran, Kebaikan dalam memberi menghasilkan cinta – Lao Tzu

  • Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup terjadi dalam kesempatan untuk cinta, bukanlah ketakutan - Oprah Winfrey

Eforia Kemewahan Pejuang Aceh


Aceh setelah adanya MOU perdamaian antara GAM dan RI pada tahun 2005 di Helsinki Firlandia tahun ini memasuki tujuh tahun, dua periode telah berganti kepemimpinan pemerintahan eksekutif, periode pertama dan kedua berasal dari mantan para pejuang aceh merdeka. Kata “sibak rukok teuk aceh merdeka” mungkin selama ini sudah tidak terdengar lagi, namun di era konflik kata-kata tersebut menjadi makna semangat perjuangan para pejuang aceh merdeka.
Memaknai kata merdeka bukan berarti bebas dari suara dentuman senjata dan tidak adanya korban berjatuhan, namun makna merdeka juga bagian dari kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat di Negara tersebut. Semangat era konflik dan era perdamaian para tokoh pejuang aceh merdeka sudah mulai dipertanyakan, di era konflik para pejuang aceh merdeka memperjuangkan keadilan bagi rakyat aceh, tapi di era perdamaian apakah masih memperjuangkan nilai-nilai keadilan tersebut untuk rakyat aceh.
Selama dua dekade para pejuang aceh merdeka memimpin pemerintahan aceh, apa yang sudah diterima oleh rakyat aceh terhadap perubahan pembangunan kesejahteraan rakyat aceh, toh pada kenyataannya masih banyak terlihat rakyat aceh sampai saat ini yang hidup terpuruk dibawah kemiskinan, tidak sebanding dengan kenyataan ketika kita melihat banyak para mantan pejuang aceh merdeka yang hidup dalam kemewahan serba mendadak.
Eforia kemewahan yang diperlihatkan oleh para mantan pejuang aceh merdeka telah membuat rakyat menaruh rasa curiga terhadap para mantan pejuang aceh merdeka tersebut, kenapa tidak, disaat aceh dilanda krisis lapangan kerja, disaat aceh dilanda korupsi berjamaah dikalangan pemerintah sehingga membuat aceh menjadi peringkat pertama terkorup di Indonesia tapi disaat aceh pula menerima dana otsus yang berjumlah trilyunan. Mantan pejuang aceh merdeka malah memperlihatkan kemewahannya didepan rakyat aceh yang masih hidup dibawah kemiskinan.
Lalu pada siapa nantinya rakyat aceh akan menaruh harapan kesejahteraan, jika para mantan pejuang aceh merdeka tidak lagi menjadi harapan rakyat aceh. 2014 hampir tiba, pemilihan legislatif kedua setelah perdamaian pun akan dimulai. Partai politik makanakah yang akan menjadi idaman rakyat aceh. 2014 baru akan terjawab.

Share:

Aku Pendusta

aku dan kalbu
seperti indah mawar itu
di batang hijau pot hitamku
subur digemburi cacing di lahan dustaku
yang kau lihat dari indahku
yang kau dengar dari indahku
yang kau rasa dari indahku
itu karena keindahanmu
sedangkan aku karena cacing cacing itu

aku dan langkah kaki
seperti tapak pasir pantai ini
tercetak tak abadi
membekas tapi sekali
bukan injakan mengering pasti

aku dan kamu
aku
yang dusta dengan wangiku
yang dusta dengan kekar batangku
yang dusta dengan cacing di pot hitamku
kamu
yang bijak petik wangi itu
sobek mawar itu dimata agar kutau
yang bijak patahkan batang itu
agar remuknya hijau menyadarkanku
yang bijak menusuk cacing itu
mengubur di indah fenomena sebelum gelapku
yang bijak inginkan yang baru
seperti rumah sang raja yang dirindu
yang tulus kupun rindukan itu

aku dan waktu
dalam kerugianku
ingin sepertimu
banyak mengingat satu
menang dengan diammu
karena kau tunjukan satu
yang kau tangisi karena dosaku

aku dan takdir ini
aku dan sandiwara ini
aku dan misteri hati

dosa pujangga muda
hidup penuh dusta
walau sadar semua kan kembali padanya


Share:

Barat Dan Syariat Aceh


Negara barat mengenal Aceh bukan hanya saja daerah tsunami melainkan sebagai daerah yang menerapkan syariat islam setelah adanya perjanjian MoU Helsinky antara GAM dan Pemerintah Indonesia dan syariat islam merupakan salah satu  poin istimewa dari hasil kesepakatan tersebut. Dibalik penerapan syariat Islam di Aceh saat ini mata Negara barat secara terus menerus tertuju pada daerah syariat ini, pandangan negatif baik itu kritikan maupun kekhawatiran semakin banyak dilontarkan oleh Negara barat dengan dalih hak asasi manusia.

Negara barat selalu saja mengkritik setiap kebijakan tentang syariat islam jika dimata Negara barat terlihat sebagai proses yang menyalahi hak asasi manusia. Tidak tanggung-tanggung PBB pun ikut menaruh perhatian serius terhadap penerapan syariat Islam di Aceh. Perhatian tersebut tentunya menjadi suatu momok yang terus menghantui setiap pemberlakuan aturan syariat Islam di Aceh, liat saja beberapa kejadian yang telah berlalu dan menjadi pusat perhatian Negara barat terhadap Aceh seperti penangkapan anak Punk, hukum cambuk, dll. 

Jika ditelaah lebih dalam tentang permasalahan hak asasi manusia seharusnya kita tidak lupa dengan pemberlakuan ummat muslim yang terjadi di Negara barat. Ummat muslim di Negara barat selalu didiskriminasikan oleh aturan-aturan Negara tersebut seperti melarang penggunaan jilbab ditempat umum, sedangkan dalam agama islam menutup orang merupakan syarat mutlak bagi kaum hawa. Bahkan palestina merasakan betapa kejamnya Negara Israel memporak porandakan palestina dan didukung oleh Amerika sebagai Negara sahabatnya.

Negara barat seperti Amerika memang selalu menjadi Negara fenomenal yang selalu mengatasnamakan kebebasan dan hak asasi manusia, namun dibalik kebebasan dan hak asasi manusia Amerika selalu saja melupakan hak hak asasi ummat muslim. Yang paling fenomenal baru-baru ini amerika mendukung Israel untuk memporak-porandakan palestina padahal dukungan itu telah memakan korban puluhan jiwa manusia yang tidak berdosa seperti anak-anak dan perempuan-perempuan yang tidak berdosa.

Yang terjadi di Aceh ketika pemerintah menertibkan rumah-rumah ibadah non muslim seperti di Banda Aceh maka Negara barat mengkritik Aceh sebagai daerah yang merupakan ummat muslim ekstrem. Bahkan anggota DPR RI pun ambil bagian mengkritik kebijakan pemerintah kota Banda Aceh tersebut, tapi sebaliknya ketika ummat muslim dibarat terjadi diskriminasi oleh Negara barat maka anggota DPR RI diam-diam saja seperti yang terjadi di palestina dan bukan hanya itu berbagai media cetak pun sepertinya senantiasa bergembira terhadap penyebarluaskan berita tersebut namun berbeda sekali terhadap pemberitaan pembelakuan Negara barat terhadap ummat muslim yang terkesan ditutup-tutupi, sepertinya Negara barat memang telah sukses menguasai media massa sebagai strategi untuk melemahkan gerakan Negara muslim.

Persatuan ummat muslim yang semakin rapuh membuat Negara barat lebih maju selangkah dalam menghadapi ummat muslim, Negara barat sadar bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat untuk memporak porandakan Negara muslim. Kekompakan yang di perlihatkan oleh Negara barat pada saat menghancurkan kekuasaan pemimpin Negara Libya dan Mesir seharusnya sudah harus dirasakan oleh Negara-Negara muslim, dimana Negara muslim saat ini harus waspada terhadap gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Negara barat.

Indonesia yang merupakan Negara yang mencari titik aman terhadap konflik-konflik ummat muslim dengan Negara barat selalu saja tidak ada yang berarti  dilakukan oleh pemerintah untuk menghentikan langkah-langkah yang dilakukan oleh Negara barat terhadap diskriminasi ummat muslim padahal secara kepentingan seperti Amerika sangat berpengaruh pada Negara Indonesia dan Indonesia juga merupakan Negara yang berpenduduk ummat muslim terbesar didunia.

Semoga saja perhatian dan kritikan Negara barat terhadap penerapan syariat Islam di Aceh tidak dijadikan sebuah beban yang akhirnya menyulutkan pemerintah Aceh untuk tidak meneruskan perjuangan penerapan syariat Islam di Aceh secara kaffah sebagaimana di atur dalam UUPA dan berdasarkan ajaran ALLAH SWT. Amiennn
Share:

Pilih Cara Yang Mulia


Dunia keorganisasian sering kali dihadapi pada persaingan antara pro dan kontra serta mengakibatkan persaingan pada argumentasi bahkan berujung pada saling adu kekuatan masa masing-masing dari kelompok itu sendiri. Fenomena ini merupakan sesuatu yang wajar di anggap oleh banyak kalangan, baik itu organisatoris, akademis, bahkan orang yang pasif. Namun dibalik persaingan itu sering sekali terjadi perdebatan sengit bahkan berujung pada arogansi kelompok yang disebabkan karena tingkah laku, pola pikir yang tidak dewasa bahkan seringnya mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas oleh kelompok organisatoris yang mayoritas kaum-kaum intelektual tersebut.
Padahal dibalik lebel organisatoris tersebut tersimpan jiwa-jiwa intelektualitas yang seharusnya menjadi contoh teladan bagi orang-orang yang tidak bergelut dalam dunia organisasi. Seorang organisatoris biasanya memiliki intelektualitas yang lebih dibandingkan orang-orang yang tidak mengenal organisasi, disebabkan biasanya orang-orang organisasi dihadapkan pada banyaknya diskusi-diskusi sosial yang dapat menyebabkan bertumbuh kembangnya cara berpikir bahkan cara pandang seseorang hingga cara menganalisa sesuatu permasalahan sosial. Cikal bakal tersebut seharusnya dijadikan sebagai landasan untuk mempertonton yang baik kepada orang-orang yang tidak bergelut dalam organisasi, agar mereka pun tertarik dalam dunia ke organisasian. Karena jika saja yang di perlihatkan adalah sesuatu yang bersifat negatif bagaimana mungkin, organisasi akan dipandang sesuatu yang perlu untuk di ikuti.
Tidak ada yang salah dalam dunia persaingan yang kerap terjadi dalam dunia organisatoris untuk memperebutkan kekuasaan asalkan atas nama perubahan dan keinginan yang lebih untuk dapat memperbaiki tatanan kehidupan ataupun pendidikan untuk menjadi yang lebih baik. Kita harus mampu menjadi orang yang berpikir positif terhadap orang lain, karena hanya dengan berpikir positif kita menjadi orang yang dapat dihormati oleh orang.
Jangan menghalakan segala hanya untuk memperebutkan kekuasaan, karena masih banyak cara-cara yang baik yang mampu membawa kita pada tampuk kekuasaan,  masih banyak cara-cara yang mulia yang mampu mengantarkan kita pada kursi kemuliaan.

Jangan perebutkan kursi kemuliaan dengan cara-cara yang tidak mulia.
Karena akan mengantarkan kita pada kemunafikan.

Share:

Benarkah Masalah Adalah Langkah Menuju Kederajat Selanjutnya


Disaat dunia sedang dalam terang menerangi wajah baru dari sang penakluk derajat kehidupan aku masih disibukkan dengan masalah kehidupan. Menanti sang derajat hadir menerangiku bagaikan menanti ombak berhenti menerjang tepi pantai.

Masalah….ya, masalah…

Kehidupan yang terjamak pada eksistensi masalah membuat ku berpikir berulang ulang kali tentang kata-kata bijak yang sering dilontarkan oleh para pembijaksana, “masalah adalah salah satu langkah tahap menuju derajat kehidupan”.

Ketika terduduk diam dalam bisu, merenungkan sang pujangga yang berhati bijak, benarkah..?. benarkah kata kata itu nyata, jika ya.!. kenapa hari ini aku merasakan bagaikan berada pada satu lembah hitam yang tiada cahaya terang meski sudah berlari begitu jauh, memerangi rintangan demi rintangan, tahap demi tahap, waktu demi waktu, dan hari kehari. Se akan akan bagaikan ombak yang tidak terhenti setia menerjang bibir pantai, begitu juga dengan ku ketika satu belum selesai timbul lagi masalah-masalah baru yang membuat otak dan pikiranku terkuras bagaikan memeras kain yang sedang basah.

Suasana kelam yang sering ku alami sampai saat ini memang masih membuat ku tegar dalam mengisi canda tawa kehidupan, tapi apakah aku masih akan bertahan, lalu sampai kapan.?, kadang terlalu berambisi untuk keluar dari semua jeratan perlakuan dunia yang banyak orang mengatakan “kadan-kadang hidup ini memang tidak adil”.

Bagiku keadilan itu merupakan sebuah hal yang relative, tapi aku tidak berbicara tentang keadilan, aku berbicara tentang “masalah adalah langkah menuju kederajat selanjutnya”. Kondisi yang membuatku menjadi sebuah tanda Tanya yang mencurigakan akan kebenaran dari kata kata itu, benar atau tidaknya kata kata itu.

Lagi-lagi aku mendapat jawaban yang tak terselesaikan “hanya waktu yang bisa menjawabnya”
Share:

Catatan Terakhir PEMA USM Periode 2011-2012


Pelantikan Pemerintahan Mahasiswa Univ. Serambi Mekkah
Periode 2011-2012

Puji syukur marilah kita sanjungkan kepada sang Khaliq Allah SWT, karena atas segala nikmat dan karunia-Nya, kita masih dapat menjalankan seluruh aktivitas dan seluruh amanah yang kita emban, serta masih dipilihnya kita untuk senantiasa berjuang dalam lingkaran kekuasaan Allah SWT.

Shalawat dan salam, marilah senantiasa kita hadiahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, sosok yang telah memberikan contoh teladan yang baik kepada seluruh ummat manusia, pembawa risalah Ilahiyah dan menyampaikannya kepada seluruh ummat manusia, dan dengan jasanyalah kebenaran dan kebesaran islam tegak sebagai satu-satunya Din yang haq dimuka Bumi ini.

Tanpa terasa, sesuai dengan berjalannya sang waktu, Periodeisasi Pengurus Pemerintahan Mahasiswa Universitas Serambi Mekkah periode 2011-2012, akhirnya sampai juga di penghujung periode. Dan seiring dengan hal itu pula, maka inilah saatnya bagi kami untuk pamit, atas seluruh amanah yang telah kami emban selama 1 tahun. Di penghujung periode ini, masa kepemimpinan kami. Dan oleh karena itu, kita harus memilih pemimpin baru yang nantinya mampu memimpin Pemerintahan Mahasiswa Universitas Serambi mekkah untuk periode selanjutnya dan tentunya menjadi lebih baik lagi.

Bagi kami, dalam menjalankan amanah selama 1 tahun, adalah merupakan masa transisi dan penuh ujian. Dikatakan transisi, karena kami berada pada masa kekosongan Pemerintahan Mahasiswa dalam waktu yang sangat lama dan ditambahkan tidak adannya peninggalan pertanggung jawaban pada periode sebelumnya, sehingga Pemerintahan Mahasiswa Universitas Serambi Mekkah periode 2011-2012 harus memulai pada tahap awal dan ditambah dengan kurangnya kaderisasi mahasiswa dilingkungan Universitas Serambi Mekkah yang siap di orbit untuk mengisi pemerintahan yang berkualitas.

Selama 1 tahun mejalankan kepengurusan, merupakan momen dimana kami harus menjadikan hal ini sebagai sebuah wadah pembelajaran diri secara menyeluruh dan menjadikannya sebagai wadah partisipatif terhadap peran Mahasiswa di Pemerintahan Mahasiswa Universitas Serambi Mekkah dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Berarti kami harus mampu menyerap segala apa yang kami lakukan dan apa yang kami laksananakan sebagai suatu latihan menempah dan mengabdi diri, dan sebagai suatu amanah yang harus kami laksanakan.

Semoga setelah kepengurusan Pemerintahan Mahasiswa Universitas Serambi Mekkah periode 2011-2012 berakhir, kedepannya kondisi ini akan menjadi lebih baik dalam melaksanakan tanggung jawab bagi siapapun yang akan menggantikan posisi kepengurusan yang berlangsung saat ini.


Kami sadar, bahwa masih banyak kekurangan-kekurangan kami, masih banyak program yang belum terealisasikan, banyak kekhilafan yang kami lakukan. Namun dengan segala kerendahan hati, bahwa kami adalah manusia yang lemah, banyak melakukan kesalahan dan khilaf, yang tidak bisa melakukan apa-apa terkecuali atas kehendak dan Ridho dari Allah SWT.

Terima kasih kami atas kepercayaan dan kesempatan yang diberikan kepada kami untuk memimpin serta menjalankan roda Pemerintahan Mahasiswa Universitas Serambi Mekkah periode 2011-2012.

Mohon maaf kami atas seluruh kesalahan dan kekhilafan yang kami lakukan.
Kepada Pj. Presiden Mahasiswa terpilih kami ucapkan selamat, semoga bisa menjalankan amanah dan melaksanakan Pemilihan Raya secepatnya agar dapat segera mengisi struktural pemerintahan mahasiswa periode 2012-2013.

Ucapan yang spesial kami ucapkan kepada semua Pengurus PEMA USM periode 2011-2012 yang telah bekerja keras menyukseskan Pemerintahan selama satu periode.
Semoga kita masih tetap bersama dalam duka maupun duka. Persahabatan yang selama ini telah kita jalin akan tetap kita jalankan meski kita tidak berada dalam satu lembaga. 

Dan semoga kedepan Pemerintahan Mahasiswa Universitas Serambi Mekkah dapat lebih baik, lebih maju, selalu dalam lindungan dan rahmat Allah SWT.


Billahitaufiq walhidayah

Banda Aceh, 03 Juli 2012
TTD.
ALFAJAR (Presiden Mahasiswa) 
SRABAH YUDI (Sekretaris Jendral)

Share:

Kenapa Aku Begitu Jenuh Hari Ini


Tuhan, aku jenuh. bukan karena tidak mensyukuri nikmatmu yang luar biasa ini. sama sekali bukan.

Tetapi, rutinitas dan rutinitas ini semakin kujalani, semakin hatiku menuntut untuk ingin lari sejenak, tidak, aku tidak akan melarikan diri untuk saat ini. karena aku akan belajar kuat.

Terkadang hidup tak selalu dalam garis lurus bersama dengan kegembiraan, kadang tak jua selalu dalam kegundahan. Kadang naik kadang pula turun, kadang kekiri kadang kekanan. Namun itulah yang membuat hidup seakan berirama, berwarna, dan tak menjemukan.

Kenapa aku? Aku tak tahu apa yang kurasakan. Dadaku terasa sesak, nafasku memburu, namun jantungku enggan berdenyut. Bagai bom atom yang mau meledak, tapi tertahan oleh waktu meskipun partikel-partikel didalamnya sudah saling mendesak, bahkan berlomba untuk bisa bebas. Bebas berhamburan bersama hembusan angin dingin di siang yang panas. Menangis? Tidak. Aku bukan seorang yang akan menangis dalam kejenuhan.

Aku benar-benar ingin sendiri, meratapi setiap kata demi kata yang muncul dikeheningan malam. Setiap ajakan dan dengungan yang sering kali tak kumengerti. Apa yang kau inginkan.

Aku benar-benar tak mengerti Kenapa Aku Begitu Jenuh dengan kehidupan ini.

Share:

Sarjana Copy Paste


Copy paste, mahasiswa mana yang tidak pernah mendengarnya, ketika dunia browsing (internet) sudah menjalar di Indonesia, bahasa copy paste merupakan bahasa yang tidak asing lagi dikalangan mahasiswa atau istilah kerennya yang sering disebut dengan “Aspal” alias asli tapi palsu, beginilah dinamika Sarjana intelektual yang sudah merupakan budaya mahasiswa untuk merebut gelar Sarjana meski harus dengan cara-cara yang tidak intelektual pula.
Praktek copy paste tersebut bukan lagi hal yang baru dikalangan mahasiswa, hal ini sudah menjadi rahasia umum bahkan sang dosen pun tidak meragukan lagi tentang hasil copy paste sang mahasiswa baik itu tugas, laporan bahkan skripsi yang merupakan tugas final mahasiswa untuk meraih gelar sarjana.
Alasan yang kuat membuat mahasiswa banyak yang copy paste pasti di dasari pada tidak adanya pengetahuan mahasiswa tentang materi maupun konsep yang akan ditulis, belum lagi mahasiswa yang tidak terbiasa dengan menulis karya-karya ilmiah dan tidak adanya pengetahuan teknis-teknis menulis, sehingga mahasiswa mengambil langkah pragmatis yaitu copy paste dan didukung pula oleh teknologi browsing yang membuat mahasiswa semakin menjadi jadi untuk menjadi seorang plagiat intelektual, plagiat ini bukan saja terjadi pada mahasiswa S1 bahkan S2 pun banyak yang ambil bagian dengan mengambil tulisan orang dengan menghilangkan hak cipta si penulis.
Celakanya saat ini istilah copy paste tidak lagi menjadi dosa bagi mahasiswa untuk melakukannya, belum lagi mengenai langkah-langkah strategis untuk menghilangkan budaya copy paste yang marak dilakukan oleh mahasiswa, sehingga budaya copy paste itupun terus terjadi dari generasi ke generasi berikutnya. Dosen merupakan orang yang pertama yang seharusnya bergerak untuk menghilangkan budaya copy paste tersebut, dimana ketika saat ini kita melihat realitas dosen mengajar dan memberikan tugas hanya didasari pada prinsip formalitas saja, tentunya cara-cara seperti itu harus di ubah agar generasi kedepannya dapat menghilangkan budaya copy paste secara bertahap.
Sudah saatnya dosen harus kreatif dalam memberikan tugas yang membuat mahasiswa tidak bisa melakukan copy paste, baik itu dengan memeriksa tugas mahasiswa secara detail dan memberikan hukuman terhadap mahasiswa yang melakukan copy paste maupun dengan cara-cara lainnya.  Agar mahasiswa pada saat mengambil tugas akhir (skripsi) tidak lagi melakukan copy paste.
Surat edaran Dirjen Dikti disebutkan bahwa kelulusan mahasiswa S-1 harus setelah karya ilmiahnya dipublikasikan di jurnal ilmiah tidak juga akan membuat budaya menulis mahasiswa akan timbul jika tidak dimulai perubahan mekanisme mengajar dilakukan pada tingkat dosen. Apalagi kewajiban penerbitan karya ilmiah itu tidak ada sanksinya yang membuat mahasiswa akan dicabut gelarnya jika ketahuan bukan merupakan karya ilmiah mahasiswa itu sendiri.
Saat ini kita sadari bahwa mahasiswa hanya mempelajari mata kuliah metodologi penelitian pada saat sebelum mengambil tugas laporan ataupun skripsi, sehingga teknis-teknis penulisan belum begitu dikuasai oleh mahassiwa secara sempurna, sedangkan mengenai dasar-dasar menulis tidak menjadi pengetahuan mahasiswa dalam dunia pendidikan kecuali mahasiswa belajar sendiri secara otodidak, tidak sedikit mahasiswa yang tidak bisa menulis namun sudah meraih gelar sarjana sehingga lulusannya pun hanya merupakan lulusan copy paste.
Rendahnya tingkat budaya menulis dikalangan mahasiswa bisa kita lihat pada tingkat penulisan-penulisan opini yang jarang sekali dilakukan oleh mahasiswa pada media-media masa, bahkan sering kita melihat opini-opini yang dikeluarkan oleh media sering merupakan tulisan-tulisan penggiat sosial, hal ini tentunya permasalahannya adalah pemahaman mahasiswa pada teknis menulis itu sendiri sangat minim, sehingga jika pun ada tulisan yang di kirimkan oleh mahasiswa sangat sedikit dan jika pun ada penulisan dari mahasiswa tidak dikeluarkan, itu merupakan tingkat cara penulisan yang belum layak untuk dipublikasikan oleh media tersebut. Lalu bagaimana agar budaya menulis itu dapat timbul oleh mahasiswa, pasti dengan kerja keras semua pihak terutama dosen bagaimana meningkatkan budaya menulis mahasiswa dengan cara-cara yang kreatif dan inovatif dengan menghindari mahasiswa untuk melakukan copy paste.

Semoga budaya menulis pada mahasiswa nantinya akan meningkat dan hilang dari budaya copy paste yang mana saat ini merupakan budaya yang dilakukan oleh kaum intelektual.
Share:

Pidato Marzuki Alie Banyak Pihak Yang Kebakaran Jenggot


Menarik untuk kita simak, tentang pernyataan Ketua DPR, Marzuki Alie yang menunai protes banyak pihak, "Koruptor adalah orang-orang pintar. Mereka juga bisa dari anggota ICMI, anggota HMI, lulusan UI, UGM, dan lainnya. Tidak ada orang bodoh,".
Banyak orang yang menanggapi pernyataan marzuki tersebut, ada yang menanggapinya biasa-biasa saja, ada yang menuntut, dan ada juga yang mengatakan seharusnya pernyataan seperti itu tidak dikatakan oleh seorang pejabat publik.
Dengana adanya pernyataan Marzuki Alie banyak pihak yang kebakaran jenggot, ada yang merasa tersinggung dan ada juga yang mengecam. Ketika kita kembali menyimak pernyataan Marzuki Alie memang ada benarnya, dimana selama ini korupsi itu dilakukan oleh orang-orang yang lulusan perguruan tinggi ternama, toh kebanyakan yang menjadi anggota DPR juga kebanyakan lulusan dari Universitas ternama di indonesia.
Anehnya ketika ada pernyataan seperti itu maka banyak pihak yang mengecam pernyataan-pernyataan kontroversi tersebut, seharusnya ketika ada pernyataan seperti itu, kita harus kembali merenungkan, apakah benar jika selama ini banyak lulusan perguruan tinggi ternama terlibat kasus korupsi, jika benar..? sudah saat nya untuk membenah diri, agar kedepannya para lulusan perguruan tinggi ternama ini dapat menjadi lebih baik dan meluluskan sebagai alumni yang ber aklak mulia dan menjadi contoh teladan bagi masyarakat indonesia, bukan malah kebakaran jenggot ketika ada pernyataan yang kritis seperti ini.
Pernyataan Marzuki Alie yang semakin menuai protes dari berbagai pihak membuat Wakil Ketua DPR angkat bicara “Wakil Ketua DPR Pramono Anung menilai reaksi sejumlah orang atas pidato Ketua DPR Marzuki Alie bahwa koruptor berasal dari perguruan tinggi ternama terlalu berlebihan atau lebay. Ia pun heran dengan aksi David Tobing, mahasiswa doktoral Universitas Indonesia menggugat Marzuki ke Pengadilan Jakarta Pusat.
"Tetapi saya lihat reaksi beberapa orang lebay banget. Terlalu berlebihan, ngapain sampai harus menuntut Pak Marzuki. Apa yang harus dituntut, kalau bicara korupsi kan di semua sektor di DPR, pemerintahan, dan itu tidak memandang alumni," kata Pramono di kompleks Parlemen, (Metrotvnews.comJakarta, Rabu ,9/5”).
Reaksi berlebihan dari David Tobing ini jelas memperlihatkan bahwa dia sebagai seorang yang anti kritik, seharusnya perguruan tinggi yang sudah ternama di indonesia ini tidak menjadi anti kritik. Bila saja Marzuki Alie berpidato seperti itu sudah banyak yang protes, yang kebanyakan dari alumni yang termasuk dari perguruan tinggi yang disebutkan oleh Marzuki Alie, nantinya tidak akan ada yang berani mengkritik perguruan-perguruan tinggi tersebut. Karena masyarakat akan menganggap bahwa perguruan tinggi tersebut merupakan perguruan tinggi yang anti kritik.
Pejabat publik yang melakukan pernyataan seperti itu saja bisa di tuntut, bagaimana jika nantinya ada masyarakat biasa yang melakukan kritik terhadap perguruan tinggi ternama, pasti akan berpikir panjang, karena takut akan ada tuntutan dari alumni perguruan tinggi tersebut.
Tidak seharusnya kita melihat ada yang akan mengecam dan menuntut tentang pernyataan-pernyataan kritis seperti, karena dengan pernyataan seperti itu kita dapat lebih bisa menyiapkan untuk berbenah, agar kedepannya pendidikan di indonesia ini menjadi lebih baik dan bangsa ini juga akan menjadi lebih baik dengan menghasilkan lulusan-lulusan perguruan tinggi yang bukan saja berkualitas akan tetapi juga mempunyai aklak yang mulia serta terhindar dari perbuatan-perbuatan yang merugikan negara.


Share:

Pragmatisme Mahasiswa Aceh

Pesta demokrasi di Aceh kali ini begitu menarik, sehingga saking menariknya dunia internasional pun menyorotinya. Kondisi Aceh yang terancam karena banyaknya kasus kekerasan dan ketidakstabilan keamanan, namun itu sudah menjadi kebiasaan menjelang pesta demokrasi berlangsung, bukan hanya Aceh, di daerah lain pun itu sudah menjadi suatu kebiasaan pesta demokrasi di Indonesia.
Namun lebih menariknya pesta demokrasi di Aceh kali ini adalah dibarengi dengan kebijakan pemerintah pusat untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), namun bedanya Aceh, kenaikan BBM bukan menjadi isu yang strategis dikalangan mahasiswa untuk menolak kebijakan pemerintah pusat tersebut.
Beda dengan daerah-daerah lain yang gencar-gencarnya turun kejalan mengecam kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.

Ketika daerah lain mengerahkan masa puluhan ribu seperti yang terjadi di Jakarta dan Medan, namun Aceh hanya mampu mengerahkan masa ratusan orang untuk menolak kenaikan BBM. Ternyata mahasiswa Aceh lebih tertarik menjadi tim sukses kandidat-kandidat tertentu dari pada mengkaji isu-isu sosial.
Ada sesuatu yang berbeda antara mahasiswa Aceh dengan mahasiswa diluar Aceh, dimana ketika mahasiswa diluar Aceh menjauhkan diri untuk dukung mendukung kandidat yang bertarung pada pesta demokrasi 5 tahunan tersebut, Mahasiswa Aceh malah terang-terangan menamakan diri dari Aliansi Mahasiswa untuk mendukung kandidat-kandidat tertentu.
Kita bisa melihat realitas politik di Aceh saat ini, yang sudah terkontaminasi pada tingkat kaum intelektual, mahasiswa juga sudah menjadi bagian yang terjerumus pada politik pragmatis. Ketika Pemilukada di Aceh berlangsung banyak orang yang membentuk organisasi yang menamakan mahasiswa lalu mendukung kandidat-kandidat tertentu. Entah apa yang akan terjadi pada organisasi tersebut ketika calon yang didukungnya kalah.
Tidak seharusnya mahasiswa melibatkan diri pada Pemilukada ini dengan dukung mendukung salah satu kandidat, dimana ketika rakyat Aceh semakin tertekan pada kondisi keamanan dan sosial, kaum intelektual sebagai control of social dapat memposisikan diri sebagai pihak yang mengawal berjalannya pesta demokrasi di Aceh ini berlansung secara jujur, adil dan damai. Sehingga rakyat Aceh dapat menentukan pilihannya sesuai dengan hati nuraninya.
Tidak salah ketika rakyat Aceh tidak dapat lagi mengandalkan mahasiswa untuk menjadi control of sosial, dikarenakan mahasiswa lebih menarik gerakan pragmatis ketimbang pada gerakan sosial, sehingga isu-isu sosial tidak lagi menjadi bahan kajian mahasiswa.
“Aceh Beda Bung” itulah kata-kata yang sering kita dengar dari orang yang bahkan telah menjadi trend dikalangan masyarakat Aceh. Memang benar, Aceh beda, ketika mahasiswa diluar Aceh masih menjadi prioritas kajian isu-isu sosial, malahan Aceh lebih memprioritaskan dukung mendukung calon kandidat yang akan bertarung pada pemikulada. Kepada siapa rakyat Aceh menaruh harapan perubahan ketika mahasiswa yang di anggap sebagai bagian dari control sosial ternyata telah terkontaminasi pada gerakan pragmatis.

Disadari atau tidak, pada kenyataannya mahasiswa berada pada fase kesucian yang ilmu pengetahuannya harus dikerahkan untuk perubahan bangsa, sudah sepantasnya mahasiswa berorientasi pada gerakan sosial, yang mampu menjadikan pelerai elit politik yang bertikai dan mampu mencari solusi dengan memecahkan akar permasalahan, bukan malah dengan membela salah satu pihak. Karena hal inilah mahasiswa tetap dibutuhkan pada sikap yang netral dalam mengawal proses pesta demokrasi tersebut.

Gejala pragmatisme mahasiswa Aceh ini jika terus berlanjut akan berdampak pada pembangunan Aceh kedepannya, jika mahasiswa tidak lagi menjadi bagian kontrol sosial, siapa yang akan kita harapkan untuk terus mengawal berjalannya pemerintahan yang bersih dan adil.
Semoga saja mahasiswa tidak lupa pada perannya sebagai kaum intelektual yang mempunyai peran besar dan mampu membawa perubahan bangsa ini menjadi lebih baik.

Share:

Rakyat Cerdas Memilih Pemimpin Berkualitas

(review)
Masyarakat Aceh tidak lama lagi akan melakukan pesta demokrasi yang disebut dengan Pemilukada/pilkada (dalam UUPA), hari H pencoblosan sudah tidak akan lama lagi yaitu tanggal 09 April 2012, tentunya tanggal 09 April tersebut akan menjadi  hari bersejarah bagi masyarakat Aceh, dimana tanggal tersebut akan dilakukan Pemilihan Gubernur Aceh/Wakil Gubernur, Walikota/Wakil Walikota, Bupati/Wakil Bupati dihampir seluruh Aceh yang ke-2 setelah perjanjian perdamaian MOU Helsinki antara Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah Indonesia.
Setelah perjalanan panjang pihak KIP mempersiapkan pesta demokrasi itu berlansung, dimana beberapa bulan yang lalu kondisi Aceh memanas seiring dengan banyaknya kasus penembakan dan konflik regulasi antar elit politik serta ditambah tidak ikutnya Partai Aceh pada pemilukada yang merupakan Partai Pemenang pilkada yang lalu, membuat kondisi Aceh semakin tidak kondusif. Tapi seiring perjalanan konflik-konflik tersebut mulai meredam, dimana ketika Partai Aceh memutuskan untuk ikut bertarung memperebutkan kursi Aceh -1, tentu semakin memperindah suasana pesta demokrasi di Aceh.

Saat ini semua nya semakin terkendali, suasana demokarsi juga terasa semakin indah dan lengkap, tidak ada pihak yang gugat menggugat lagi kepada MK, baik calon independen maupun calon dari Partai.
Namun kali ini apa yang kita dapatkan setelah terjadinya konflik regulasi tersebut?, itu semua telah menjadi masa lalu, biarkan menjadi pembelajaran buat rakyat Aceh, dimana kondisi politik di Aceh yang masih labil dan masih butuh banyak pembelajaran.

Lalu sadarkah masyarakat Aceh saat ini, kondisi Aceh yang masih labil tentu masih sangat mudah untuk timbul benih-benih konflik, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan politik sepertinya masih membutuhkan kerja ektra pihak Kip dengan dibantu oleh pihak lain untuk terus mensosialisasikan pentingnya mengggunakan hak pilih sesuai hati nurani tanpa takut pada ancaman-ancaman dan intimidasi yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab, agar siapa yang dipilih oleh Rakyat Aceh akan dapat Adil dan Mensejahterkan Aceh kedepannya.

Pilkada diAceh kali ini bukan saja mendapat sorotan Nasional, Internasional pun ambil bagian saat ini untuk memastikan pilkada di Aceh tetap dapat berjalan aman dan damai, rakyat Aceh yang mendapatkan hak suara, diharapkan untuk tidak terpengaruhi pada intimidasi dan money politic yang dilakukan oleh calon mana pun,  karena ini sungguh suatu cara demokrasi yang sangat memalukan.

Untuk membangun Aceh kita perlu memiliki pemimpin-pemimpin yang berkualitas, maka dari itu rakyatlah yang menentukan siapa yang berkualitas dan layak menjadi pemimpin Aceh kedepannya “Pemimpin yang berkualitas adalah pemimpin yang dipilih oleh orang orang cerdas”.  Tapi apalah arti kandidat yang cerdas jika pendidikan poltik masyarakat masih dibawah rata-rata. Dimana banyak masyarakat yang tidak mengerti tentang politik, bahkan banyak masyarakat yang tidak ingin tahu menahu soal politik, padahal itu menyangkut kondisi Pembangunan Aceh 5 tahun kedepan.
Sudah saatnya rakyat Aceh harus cerdas, bukan memilih bedasarkan pemberian oleh financial yang marak dilakukan kandidat melainkan memilih karena kandidat tersebut memang layak untuk dipilih dan bisa membawa perubahan untuk Aceh kedepannya.
Sudah saatnya masyarakat Aceh untuk tidak tergiur dan tertipu dengan rayuan-rayuan materi, apalagi memilih hanya karena diintimidasi, sudah saatnya rakyat bersatu melawan kekerasan dan penindasan, kalau bukan saat ini kapan lagi.
Kesejahteraan rakyat Aceh ada ditangan rakyat Aceh sendiri, rakyat Acehlah yang menentukan Aceh mau dibawa kemana Aceh untuk lima tahun kedepan, 
Sudah saatnya, marilah kita memilih pemimpin yang berkualitas yang mampu mebawa aceh pada kehidupan yang adil dan sejahtera. Kecerdasan rakyat berpolitik akan ditentukan ketika pemimpin yang dipilih oleh rakyat adalah seorang pemimpin yang berkualitas.

“Bersatulah rakyat Aceh melawan pembodohan dan  intimidasi”
Share:

Sarjana Prematur

Menjadi mahasiswa adalah suatu kebanggaan bagi setiap orang, dimana mahasiswa adalah sebagai bagian yang strategis disetiap perjalanan bangsa, tidak heran mahasiswa adalah sebagai pioneer pada sebuah perubahan bangsa yang saat ini masih dipercayakan oleh kalangan masyarakat, mesti  tidak seperti era melawan kolonial belanda ataupun sampai dengan tahun era reformasi 1998, dimana mahasiswa menjadi contoh teladan bagi masyarakat Indonesia dalam setiap pergerakan perubahan.
Tingkah laku mahasiswa saat ini yang banyak tercoreng, tidak seperti kaum terdidik, membuat mahasiswa semakin hilang kepercayaan dihati rakyat yang dulunya di anggap sebagai contoh teladan.
Menjadi mahasiswa saat ini tidak susah seperti masa-masa orde lama maupun orde baru, hanya orang orang tertentu yang bisa menyandang gelar “Mahasiswa”, namun saat ini menjadi mahasiswa sudah terbuka lebar, baik banyaknya kampus yang ada di negeri ini dan murahnya penawaran biaya kuliah, sehingga membuat setiap orang tua yang ingin mengkuliahkan anaknya semakin terbuka lebar. Terbukti setiap tahun ajaran baru perguruan tinggi  swasta maupun negeri selalu dibanjiri dengan peserta yang ingin mendaftar.
Namun setelah mudahnya menjadi mahasiswa, ternyata tidak juga menjadi keadaan negeri ini menjadi lebih baik seperti apa yang diharapkan oleh rakyat Indonesia. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa menjadi mahasiswa ternyata tidak sesederhana apa yang kita pikirkan saat ini. Salah satu pilihan yang salah mahasiswa saat ini adalah memutuskan menjadi sarjana sebelum matang atau bahasa yang kerennya saat ini adalah Sarjana Prematur, ini fakta yang terjadi di negeri ini bahkan termasuk di Aceh era dimana konflik telah berakhir setelah adanya kesepakatan Mou Helsinky Firlandia antara Pemerintah RI dan GAM, hampir semua rakyat Aceh masih mengingat dimana tahun 1999, mahasiswa mampu mengambil jutaan hati rakyat Aceh untuk berkumpul di Mesjid Raya Banda Aceh, menuntut Referendum, sebuah gerakan yang amat besar dilakukan oleh mahasiswa ketika itu, dan akan tercatat dalam sejarah Republik Indonesia namun mampukah Mahasiswa saat ini melakukan hal yang sama lagi. 

Lahirnya sarjana prematur ini adalah ada beberapa faktor diantaranya, desakan orang tua, takut di anggap bodoh oleh kawan, melihat peluang pembukaan lowongan Pegawai Negeri Sipil dan tidak dewasanya berpikir.

Banyaknya pengangguran di negeri ini juga faktor lahirnya sarjana prematur yang menumpuk, sehingga yang terpikirkan oleh orang-orang tersebut adalah mencari kerja, kerja yang menjadi target utama adalah pemerintah yaitu menjadi pegawai negeri sipil, meski harus mengeluarkan kocek puluhan juta rupiah untuk lewat menjadi pegawai negeri sipil.
Menjadi mahasiswa prematur bukan saja didorong oleh sikap mahasiswa, Perguruan Tinggi juga merupakan faktor utama yang mendorong lahirnya sarjana prematur dengan dibantu oleh sistem pendidikan yang diberlakukan oleh pemerintah, Termasuk Dosen yang mendorong mahasiswa mahasiswa untuk berpikir apatis dengan cara mengurung mahasiswa dengan aktifitas dan tugas sebagai yang menumpuk, sehingga mahasiswa terkesan apatis dalam aktifitas sosial, padahal semua mengakuinya bahwa asupan kemandirian mahasiswa tidak disebabkan oleh faktor dosen semata, namun di sebabkan beberapa faktor lain diluar bangku kuliah, baik dengan pengalaman, organisasi, diskusi, dan factor lainnya.
Saat ini banyak kita temui mahasiswa yang menjadikan dosen sebagai dewa, sehingga untuk menemuinya sekedar berdiskusi saja mahasiswa rada-rada canggung dan takut, kemampuan mahasiswa berkomunikasi juga semakin dibawah rata-rata, dimana banyak mahasiswa saat ini yang tidak mampu menjadi pemimpin ataupun tokoh teladan bagi masyarakat, padahal bagian tugas mahasiswa juga harus mampu menjadi sebagai pemimpin masyarakat untuk meneruskan perjuangan bangsa kedepan.
Mahasiswa berlomba lomba menjadi sarjana saat ini juga banyak hanya untuk mengangkat status sosialnya, padahal menurut Gramsci disebut intelektual organik, idelanya mampu memahami ruang proses kampus sebagai penempaan ilmu dan kedewasaan berpikir, bukan pada pemenuhan gelar saja.
Efek yang terjadi saat ini adalah membludaknya pengangguran intelektual, dikarenakan hanya mengharapkan lapangan kerja,  bukan bergerak membuka lapangan kerja sebagaimana masyarakat mengharapkannya kepada mahasiswa,.

Memang tidak salah ketika sang seniman indonesia yang bernama Iwan Fals menciptakan lirik yang menggugah para pendengar dan penulis rasa wajib didengarkan oleh setiap mahasiswa, lagu tersebut berjudul “Sarjana Muda” berikut beberapa kutipan liriknya “Engkau sarjana muda, resah mencari kerja mengandalkan ijazahmu, empat tahun lamanya bergelut dengan buku, sia-sia semuanya, setengah putus asa dia berucap “maaf ibu”.
Lirik lagu tersebut sebenarnya menjadi tamparan keras bagi mahasiswa yang saat ini berlomba-lomba mencari gelar sarjana hanya untuk mengangkat status sosial maupun hanya untuk mencari kerja, karena ketika kita berpikir bahwa tamat kuliah kita hanya mengandalkan ijazah untuk mencari kerja, kenapa tidak uang untuk perkuliahan kita kumpul untuk membuka usaha, mungkin usaha tersebut sudah berkembang 4-5 tahun kedepan, sesuai dengan mahasiswa menargetkan tamat kuliah, lalu saat ini kita harus berpikir, sebenarnya untuk apa gelar sarjana tersebut “Mencari Kerja atau Membuka Lapangan Kerja”.

Ini menjadi PR buat kita semua untuk merenungi, apa sebenarnya arti dari gelar sarjana tersebut.
Share:

Aceh Budaya Bar-Bar dan Mengumpat

Ketika melihat kehidupan masyarakat Aceh ada sesuatu hal yang patut dipertanyakan, benarkah karakter dan budaya orang Aceh seperti sekarang ini yang diwariskan oleh para endatu, memang karakter dan budaya masyarakat Aceh saat ini ada sisi positifnya juga, ketika kita melihat dari satu sisi dimana dengan karakter dan budaya masyarakat Aceh seperti ini, setidaknya dapat meminimalisirkan pelanggaran Syariat Islam di Aceh, tapi ada sesuatu yang patut kita pertanyakan dimana budaya kheun keugop “mengumpat” seperti apa yang Rasulullah S.A.W. bersabda yang bermaksud "Mengumpat itu ialah apabila kamu menyebut perihal saudaramu dengan sesuatu perkara yang dibencinya." (Hadis Riwayat Muslim).
Budaya mengumpat yang terjadi di Negeri Syariat Islam ini bukan hanya dalam bentuk mulut kemulut, banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat Aceh yang telah menjadi budaya membanggakan masyarakat Aceh ini, seperti maraknya penemuan kasus Video dan Foto pelanggaran Syariat Islam di Aceh yang dipublikasikan oleh masyarakat Aceh sendiri.
Padahal Sabda Rasulullah S.A.W. mengatakan : Awaslah daripada mengumpat kerana mengumpat itu lebih berdosa daripada zina. Sesungguhnya orang melakukan zina, apabila dia bertaubat, Allah akan menerima taubatnya. Dan sesungguhnya orang yang melakukan umpat tidak akan diampunkan dosanya sebelum diampun oleh orang yang diumpat" (Hadis riwayat Ibnu Abib Dunya dan Ibnu Hibbad). Jelas Nabi bersabda bahwa orang yang mengumpat lebih besar dosanya dari pada orang yang melakukan zina dan sesungguhnya orang yang mengumpat akan mendapatkan kerugian besar di hari Akhirat.


Melihat dari sabda Rasulullah S.A.W jelas, dimana karakter dan budaya masyarakat Aceh yang membanggakan mengumpat ternyata tidak sesuai dengan Syariat Islam yang di agung agungkan oleh masyarakat Aceh saat ini, padahal orang yang yang sering mengumpat orang lain tersebut perilakunya lebih buruk dari pada orang yang di umpat tersebut, ini sudah menjadi kondisi yang lazim di Aceh ketika ada sesuatu kejadian pelanggaran Syariat Islam di Aceh lalu orang yang mengetahuinya akan menceritakan kepada orang lain dengan panjang lebar dan secara detail.
Bila kita merujuk pada sabda Rasulullah S.A.W ini suatu kondisi yang memprihatikan dan tidak sesuai dengan budaya masyarakat islam secara keseluruhan, bahkan lebih hina dari pada orang yang melakukan pelanggaran syariat islam tersebut.
Budaya mengumpat tersebut saat ini semakin lazin dilakukan oleh masyarakat Aceh, apalagi ketika Syariat Islam diberlakukan pada Provinsi ini, padahal pemberlakuan Syariat Islam di Aceh seharusnya mengurangi perilaku yang menyimpang dari ajaran Islam, tapi kenyataannya budaya dan karakter masyarakat Aceh semakin jauh dari ajaran Islam.
Kondisi budaya masyarakat Aceh mengingatkan saya pada sebuah Film Drama Indonesia berjudul “Perempuan Berkalung Sorban” yang diperankan oleh Revalisa S Temat (Annisa), namun saya tidak menceritakan keseluruhan dari cerita film tersebut, saya ingin mencontohkan ketika pada cerita film tersebut Annisa dituduhkan melakukan zina oleh suaminya disebuah gubuk, sehingga sang suami meminta istirnya untuk dihukum secara bar-bar, hampir saja hukuman bar-bar itu terjadi, lalu apa yang terjadi, seorang ibu yang merawat Annisa sejak kecil menyelamatkannya dengan mengambil satu batu lalu menanyakan kepada semua orang yang berada pada lingkaran Annisa “Siapa Yang Tidak Pernah Berdosa” ambil batu ini lemparkan kepada dia, ternyata tidak ada satupun yang mengambil batu pada ibu tersebut untuk melemparinya.
Singkat cerita Annisa pun di usir dari pesantren tersebut, sehingga dia menjadi lebih terbuka dengan kehidupan barunya, dia bersama pemuda tersebut menjadi lebih baik dari pada suami yang pernah menuduhnya melakukan zina.
Cerita singkat Film Perempuan Berkalung Sorban tersebut menginspirasikan kita untuk tidak menjadi orang yang selalu menuduh, memfitnah bahkan mengumpat orang lain, karena pada kenyataannya kita tidak lebih baik dari pada orang lain. Islam tidak mengajarkan kita untuk saling fitnah, islam tidak mengajarkan kita untuk saling menghormati, menghargai dan Islam juga mengajarkan kita untuk menegur seseorang itu dengan perkataan lembut ketika apa yang dilakukan salah dan tidak sesuai dengan syariat islam, bukan dengan cara penegakan Syariat Islam secara kasar, seperti yang terjadi di Aceh saat ini, karena kekerasan tidak pernah menyelesaikan permasalahan.
Share:

Hujan Datang Membasahi Tanah Tandus Ini

Hari ini Senin, 27 Februari 2012 Hujan telah turun membasahi tanah tanah yang mulai mengering, ketika sang sinar cahaya mulai menampakan tanda tanda pergi meninggalkan siang, hujan pun menyapu mengikuti irama mentari yang sinarnya mulai meredup untuk pergi meninggalkan bulan yang akan segera tiba, tubuh yang awalnya terasa panas tiba tiba berubah menjadi dingin dalam balutan hujan dibawah atap yang menahan turunnya hujan sampai mengguyur tubuh ini.
Jam menunjukkan pada pukul 15.49 Wib, angin sepoi-sepoi melengkapi derasnya hujan yang turun membasahi bumi-bumi yang telanjang tanpa balutan atap-atap buatan manusia, semuanya terasa hening di dalam kenikmatan tuhan ketika menyaksikan turunnya hujan yang “katanya” membawa berkah ini.
Lagu-lagu sendu membawa kelengkapan tersendiri para penikmat hawa dingin, apalagi ketika sebatang rokok terbakar menghatkan raga manusia pecandu ini, sungguh terasa nikmat ketika kekuasaan sang pemilik alam dinampakkan pada manusia, mungkin saja rasa syukur terucap pada mulut manusia dan tidak dapat kita pungkiri ada ucapan kekesalan pada mulut manusia ketika hujan mendera bumi ini, kenapa?, dikarenakan menghambat aktifitas manusia yang sedang dijalankan, hujan membawa berkah namun menghambat juga aktifitas manusia sebagai penikmat tubuh bumi ini.

Semakin lama irama sang hujan semakin deras membasahi tubuh bumi ini, membasahi setiap sudut-sudut telanjang yang akan menyejukkan siapa saja yang terkenanya, ingin rasanya ketika hujan turun berada pada sebuah kamar dengan balutan kain sarung, menikmati dengan santai sambil mendengarkan lagu-lagu sendu dalam hayalan yang akhirnya membawa ku untuk tertidur lelap di atas tempat tidur sehingga membangunkan ku disaat hujan mulai meninggalkan bumi ini.
Ahhhhhh betapa nikmatnya kuasa Tuhan ketika terbayang sesuatu hal yang begitu sempurna, tak ada yang bisa kita ciptakan dengan senikmat ini. Kecuali ciptaan Tuhan sang pemilik jagad raya.
Semua orang berlindung dibawah atap yang diciptakan oleh manusia agar tak terkena air hujan yang turun ini, semuanya meratapi alam ketika sang hujan terus mengguyurkan tanah tandus ini, ada yang merasakan kenikmatan akibat turunnya sang hujan, ada yang meratapi kekesalan akibat sengsara dengan turunnya hujan ini, semua serba ada ketika hujan turun, inilah derita dan kenikmatan yang mestinya manusia wajib mensyukurinya.
Share:

Benarkah Orang Aceh Malas

Siapa yang tidak pernah dengan kata-kata “orang aceh malas” karena ini yang sering dilontarkan oleh orang orang non Aceh, bahkan saat ini kata kata tersebut semakin sering terdengar ketika Aceh telah menjadi daerah yang mulai ramai pendatang, media-media juga tidak mau kalah membahas permasalahan budaya orang Aceh yang pemalas ini, hampir rata rata ketika kita mendengar orang non aceh yang sudah berkunjung ke Aceh mengatakan bahwa orang orang aceh itu pemalas, dan lebih memilih duduk di warung kopi ketimbang bekerja, tapi benarkah orang Aceh malas?.

Muhammad Nazar (Wakil Gubernur Aceh Periode 2006-2011) pernah mengatakan Konflik berkepanjangan masa lalu di Provinsi  Aceh, kini masih menyisakan empat persoalan buruk. Empat persoalan itu adalah kemiskinan, kebodohan, cepat marah, malas bekerja, dan sikap saling curiga yang berlebihan. 

Padahal, sifat buruk itu bukanlan karakter asli masyarakat Serambi Mekah. Itu terbentuk secara tidak sengaja selama koflik berkepanjangan sehingga menumbuhkan harapan-harapan yang tidak pasti.



Dan menurut catatan Muhammad Nazar Aceh telah berperang selama 115 tahun dan baru hidup dalam damai 13 tahun itupun termasuk setelah adanya Mou Helsinky. Menurut ilmu teoristis untuk mengembalikan karakter masyarakat kepada mulanya, dibutuhkan waktu sama dengan seberapa lama daerah tersebut berperang.

Dalam catatan sejarah pada masa kerajaan saya tidak pernah membaca dimana dikatakan bahwa Bangsa Aceh adalah sebagai bangsa pemalas, dimana mereka lebih memilih duduk dirumah ketimbang pergi bekerja ke ladangnya, hal ini tidak ada sedikitpun catatan yang menyatakan bahwa bangsa aceh sebagai bangsa yang pemalas, bila kita kembali menelusuri sejarah Aceh, baik pada masa sultan iskandar muda yaitu puncak kejayaan aceh terlihat jelas disitu berbagai peran dimainkan baik rakyatnya maupun pemimpin negeri aceh, dimana terlihat semua giat bekerja memakmurkan negeri aceh, setelah itu ketika perang melawan penjajahan kolonial belanda, rakyat aceh jugalah yang paling gigih bertempur mengusir kolonial belanda sehingga indonesia mendapatkan kemerdekaan.

Dari sudut pandang manapun terlihat tidak ada yang mengatakan bahwa bangsa aceh sebagai sebuah negeri yang dihuni oleh orang orang malas, namun kenapa saat ini banyak masyarakat non aceh yang mengatakan bahwa orang aceh malas malas, melihat dari kisah perjalanan aceh perlu kita telusuri dimana bahwa perubahan karakter telah terjadi selama ratusan tahun, yaitu aceh tidak pada kondisi yang aman dan damai, konflik berkepanjangan telah mengubah karakter rakyat aceh jauh dari wujud aslinya.

Ada perubahan karakter dan budaya yang besar di alami oleh rakyat aceh ketika konflik yang bekepanjangan tersebut, bukankah ketika masa kesultanan aceh dikenal dengan bangsa yang hebat dan gigih dalam aspek apapun.

Sangat tidak adil ketika saat ini aceh diklaim sebagai daerah yang dihuni oleh penduduk malas, karena konfliklah yang telah mengubah segalanya, hal ini akan dialami oleh setiap individu manusia, misalnya ketika seseorang libur dari aktifitasnya seperti biasa selama satu bulan, nah ketika pada hari pertama dia melakukan pekerjaannya kembali pasti rasa malas ada dibenak orang tersebut, padahal itu baru satu bulan.

Lalu bagaimana dengan aceh yang telah mengalami konflik selama 115 tahun, tentunya telah mengubah semuanya, disaat konflik rakyat aceh tidak bisa melakukan pekerjaan, lalu ketika damai seperti ini tentunya rasa malas dan perubahan karakter negatif pasti akan terjadi pada masyarakat aceh seperti cepat marah, malas bekerja, dan sikap saling curiga yang berlebihan.
Hal ini merupakan hal yang wajar di alami oleh masyarakat yang hidup dalam konflik, apalagi konflik yang di alami oleh masyarakat aceh sangat berkepanjangan, sehingga butuh waktu yang panjang pula untuk mengembalikan karakter dan budaya masyarakat aceh.

Lalu beranjak dari hal ini, masih pantaskah orang aceh dikatakan malas, tanpa menelusuri dan memahami aceh seutuhnya, ada benarnya seperti apa yang dikatakan oleh Arif Ramdan pengarang buku ACEH di Mata Urang Sunda “Memahami Aceh Tidak Mudah Tapi Mencintai Aceh Sangatlah Mudah”, pendatang yang telah menetap di Aceh belum tentu memahami karakter dan budaya masyarakat Aceh namun orang yang baru menginjak kaki ke Aceh sangat mudah dan cepat mencintai Aceh.
Share:

Ada Apa Dengan Negeriku

Pertanyaan yang mengemuka di kepala dan bayangan saya ketika  menyaksikan sejumlah rentetan-rentetan kejadian yang menguras air mata, dan membuat kita seakan tidak percaya adegan kekerasan dan ketidak adilan ini benar-benar nyata terjadi di negeri ini bukan suatu rekayasaku apalagi rekayasa media informasi yang menyajikannya akan tetapi ini adalah realitas yang terjadi dinegeriku yang kaya akan berbagai sumber.

Saya seperti terbawa di alam mimpi ketika menyaksikan bahwa ini semua terjadi di negeri yang rimpah ruah akan semua hal disini ada dari orang pintar sampai orang bodoh, dari sumber daya alam sampai luasnya daratan dan lautan, sungguh menakjubkan akan kekayaan negeriku sehingga negeri negeri seberang menginginkan negeriku ini untuk menjadi miliknya.

Tapi kenyataannya itu berbicara lain kawan.. negeri ini beserta penduduknya emang sudah banyak berubah..Ada sesuatu yang begitu mudah diekspresikan..Rakyat seakan mudah untuk bisa mengeskpresikan kemarahan mereka dengan cara mereka sendiri, dari mulai penguasa negeri ini mulai melakukan perampasan, pencurian, sampai sampai rakyat negeri ini pun mulai meniru niru adegan ini kawan.

Tidak ada lagi ruang untuk hukum dan pemerintah..Apakah sudah separah itu kepercayaan rakyat ini kepada hukum dan pemerintah. semoga ini bukanlah pertanda bahwa rakyat negeri ini sudah terbiasa dan bersahabat dengan kekerasan dan mengatasi segala masalah dengan kekerasan..

Oh negeriku aku tak sanggup menulis sederet kekesalan ku terhadapmu karena sampai esok hari dan lusa pun aku masih punya sejuta unek unek yang terus kudengungkan untukmu, ada apa dengan negeriku ini tuhan, apakah aku salah bermimpi suatu saat tidak ada lagi sejuta masalah dalam negeriku tuhan, tidak ada lagi pencuri pencuri yang perutnya buncit, tidak ada lagi kekerasan kekerasan terhadap kami rakyat yang tidak berdaya, tidak ada lagi air mata rakyat yang keluar karena ketidak adilan, tidak adalagi rakyat yang mati kelaparan, tidak adalagi rakyat yang tidur dibawah jembatan.

Ohh tuhan aku benar benar tak sanggup menulis ini, bermimpi pun rasanya kesal, karena apa yang terjadi saat ini sunggu menyakitkan, negeriku yang kaya akan berbagai sumber tapi rakyatnya melarat dan mati kelaparan, aku tak sanggup tuhan.

Ingin kupergi saja dari negeri ini dan tak meihat lagi singa singa rakus yang tertawa atas penderitaan rakyat pemilik negeri ini.
Share:

Arsip Blog

Tulisan Lainnya